Internasional
Iran Syaratkan Penghentian Agresi AS-Israel untuk Akhiri Konflik Regional
Iran Tegaskan Perang Berakhir Jika Agresi AS-Israel Dihentikan
Pihak berwenang di Tehran menyatakan bahwa konflik berkelanjutan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel hanya akan mereda jika apa yang mereka sebut sebagai “agresi” dihentikan. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang memuncak di Timur Tengah, menandai posisi tegas Iran dalam menyikapi dinamika geopolitik kawasan tersebut.
Seorang pejabat Iran membuat pernyataan tersebut kepada para wartawan, dari sebuah lokasi di sekolah dasar yang sebelumnya menjadi sasaran serangan. Meskipun rincian spesifik mengenai lokasi tersebut tidak diungkapkan, konteks ini menggarisbawahi dampak kemanusiaan dari konflik yang Iran tuding berasal dari tindakan AS dan Israel. Pernyataan ini secara langsung menantang narasi Barat mengenai peran Iran dalam ketidakstabilan regional dan menggeser fokus pada tindakan kekuatan eksternal sebagai akar masalah.
Latar Belakang Tuntutan Iran
Tuntutan Iran untuk menghentikan “agresi” AS dan Israel memiliki latar belakang yang kompleks, berakar pada puluhan tahun ketegangan dan konflik proksi. Dari sudut pandang Tehran, “agresi” ini mencakup beberapa aspek krusial:
- Sanksi Ekonomi: Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi ekonomi yang berat terhadap Iran, khususnya setelah penarikan diri dari kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2018. Iran memandang sanksi ini sebagai bentuk agresi ekonomi yang merugikan rakyatnya.
- Kehadiran Militer AS: Kehadiran militer Amerika Serikat yang signifikan di Teluk Persia dan wilayah sekitar dianggap Iran sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatannya dan upaya untuk mengepung pengaruh regionalnya.
- Dukungan Terhadap Israel: Dukungan penuh Washington terhadap Israel, termasuk bantuan militer dan diplomatik, secara konsisten menjadi titik pertentangan. Iran menganggap tindakan militer Israel di wilayah Palestina, Suriah, dan Lebanon sebagai bentuk agresi yang didukung AS.
- Operasi Rahasia dan Serangan Siber: Iran sering menuduh AS dan Israel melakukan operasi rahasia, serangan siber, dan bahkan pembunuhan ilmuwan nuklirnya, yang semuanya dikategorikan sebagai tindakan agresif.
Pernyataan ini sejalan dengan retorika Iran sebelumnya yang menempatkan diri sebagai korban dari kebijakan luar negeri AS dan Israel. Tehran seringkali menekankan haknya untuk membela diri dan mendukung kelompok-kelompok regional yang bersekutu sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan.
Implikasi Konflik Regional yang Meluas
Pernyataan Iran ini muncul di tengah eskalasi konflik di berbagai titik panas di Timur Tengah, termasuk perang yang sedang berlangsung di Gaza antara Israel dan Hamas, serta serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Laut Merah. Iran secara terbuka mendukung Hamas dan kelompok perlawanan lainnya di kawasan itu, memandang konflik Gaza sebagai manifestasi paling nyata dari agresi Israel. Tehran berpendapat bahwa selama akar permasalahan, yaitu pendudukan dan agresi, tidak diatasi, stabilitas regional akan tetap menjadi ilusi.
Dalam pandangan Iran, gencatan senjata permanen dan solusi yang adil di Palestina merupakan prasyarat utama untuk meredakan ketegangan yang lebih luas. Namun, Israel dan Amerika Serikat memiliki pandangan yang sangat berbeda, mereka menuduh Iran sebagai dalang di balik ketidakstabilan regional dan pendukung terorisme. Washington dan Tel Aviv menegaskan bahwa tindakan mereka bersifat defensif, bertujuan untuk melindungi kepentingan keamanan mereka dari ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan proksinya.
Prospek Gencatan Senjata dan Negosiasi
Pernyataan Iran secara jelas menunjukkan bahwa prospek gencatan senjata atau negosiasi yang komprehensif di Timur Tengah tetap sangat menantang. Tuntutan Iran menuntut perubahan fundamental dalam kebijakan luar negeri AS dan Israel, sesuatu yang kedua negara tersebut tampaknya tidak bersedia untuk kabulkan. Perbedaan mendasar dalam definisi “agresi” dan “perdamaian” antarpihak menjadi hambatan besar.
Analisis situasi menunjukkan bahwa selama narasi yang saling bertentangan ini mendominasi, konflik proksi dan ketegangan langsung kemungkinan besar akan terus berlanjut. Komunitas internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencari jalur diplomatik untuk de-eskalasi, namun pernyataan dari Tehran ini memperlihatkan betapa jauhnya para aktor kunci dari kesepahaman bersama mengenai langkah menuju perdamaian abadi.
Internasional
Penyintas Banjir Nepal Berjuang di Tengah Reruntuhan, Kenangan Jadi Penawar Luka
DHUNGE – Beberapa hari setelah gelombang air dan puing-puing mematikan melibas Nepal, Shanti Lamichhane duduk di atas sebuah peti buah di tanah berlumpur. Di sinilah, tak lama berselang, desanya berdiri kokoh. Kini, hanya reruntuhan yang tersisa dari rumahnya, saksi bisu keganasan banjir bandang yang menyapu segalanya. Tatapannya kosong, namun tangannya terus menyisir sisa-sisa material, mencari sehelai benang merah dari kehidupannya yang telah musnah.
Kisah Shanti adalah cerminan pilu ribuan warga Nepal yang kehilangan segalanya akibat bencana alam yang menghantam. Musim hujan monsun yang intens secara rutin membawa banjir dan tanah longsor ke wilayah pegunungan dan dataran rendah Nepal, menghancurkan permukiman, lahan pertanian, dan infrastruktur vital. Kali ini, Dhunge dan desa-desa sekitarnya menanggung beban berat, mengubah lanskap kehidupan menjadi hamparan kehancuran.
Menyisir Puing, Mencari Jejak Kehidupan
Bagi Shanti dan banyak penyintas lainnya, kembali ke lokasi yang dulunya adalah rumah mereka bukan sekadar mencari harta benda. Ini adalah ritual pahit untuk menemukan fragmen-fragmen kenangan: foto keluarga yang basah dan robek, sepotong pakaian kesayangan, atau sebuah perkakas dapur yang selamat dari amukan air. Barang-barang ini, meski tak bernilai materi, memiliki nilai emosional yang tak terhingga. Mereka adalah jembatan menuju masa lalu, pengingat identitas yang terancam hilang bersama arus deras.
Setiap puing yang digali, setiap gumpalan lumpur yang disisihkan, membawa harapan dan kepedihan secara bersamaan. Harapan untuk menemukan sesuatu yang familiar, dan kepedihan atas kenyataan bahwa sebagian besar kehidupan mereka telah direnggut paksa. Desa-desa yang dulunya ramai kini senyap, hanya diisi suara angin dan isak tangis yang tertahan.
Skala Bencana dan Dampak Luas
Banjir bandang di Nepal tidak hanya merenggut rumah, tetapi juga memutus akses vital dan mengancam kehidupan ribuan orang. Laporan awal menunjukkan skala kerusakan yang masif:
- Korban Jiwa dan Hilang: Meskipun jumlah pastinya masih dalam tahap identifikasi, banyak keluarga melaporkan anggota mereka hilang, menambah daftar panjang tragedi.
- Kerusakan Infrastruktur: Jalan raya, jembatan, dan jalur komunikasi banyak yang terputus, menghambat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan.
- Dampak Ekonomi: Lahan pertanian, sumber penghidupan utama banyak warga, terendam lumpur atau tersapu habis. Ternak hanyut, gudang pangan hancur, memicu kekhawatiran krisis pangan jangka panjang.
- Krisis Kemanusiaan: Ribuan warga mengungsi, kehilangan tempat berteduh, akses air bersih, dan layanan sanitasi. Risiko penyebaran penyakit meningkat drastis.
Pemerintah Nepal bersama organisasi kemanusiaan internasional berupaya keras memberikan bantuan darurat, namun skala bencana seringkali melebihi kapasitas respons yang ada. Monsun di Nepal memang sering memicu banjir dan tanah longsor mematikan, namun intensitas tahun ini menimbulkan kekhawatiran khusus.
Harapan di Tengah Keputusasaan: Peran Komunitas dan Bantuan
Di tengah kehancuran, semangat gotong royong dan ketahanan komunitas menjadi cahaya harapan. Warga yang selamat saling membantu, berbagi sedikit yang mereka miliki, dan memulai upaya pembersihan secara swadaya. Organisasi bantuan, baik lokal maupun internasional, mulai berdatangan dengan pasokan makanan, terpal, obat-obatan, dan tim medis. Mereka mendirikan posko pengungsian sementara dan berkoordinasi untuk menjangkau area-area terpencil yang terisolasi.
Upaya pemulihan akan menjadi perjalanan panjang dan berat, membutuhkan dukungan berkelanjutan dari seluruh pihak. Namun, setiap uluran tangan, setiap donasi, dan setiap doa adalah langkah menuju pembangunan kembali, bukan hanya rumah, tetapi juga harapan dan masa depan.
Pelajaran dari Bencana: Kesiapsiagaan dan Mitigasi
Tragedi ini juga mengingatkan kita pada kerentanan struktural Nepal terhadap bencana alam, sebuah isu yang telah berulang kali disoroti. Ini termasuk dalam ulasan kami tentang rekonstruksi pasca-gempa dahsyat 2015, ‘Bangkit dari Reruntuhan: Kisah Inspiratif Nepal Pasca-Gempa‘, yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan infrastruktur tahan bencana dan sistem peringatan dini yang efektif.
Untuk ke depannya, Nepal memerlukan strategi mitigasi bencana yang lebih komprehensif, melibatkan pembangunan tanggul yang kuat, reboisasi untuk mencegah erosi, serta edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hanya dengan pendekatan holistik ini, Nepal dapat meminimalkan dampak buruk dari bencana alam yang tak terhindarkan dan melindungi warganya dari kehancuran yang berulang.
Internasional
Solidaritas Kanada di Balik Sikap PM dalam Perang Dagang AS: Tantangan Negosiasi Mendatang
Perdana Menteri Kanada berhasil menggalang dukungan kuat dari warganya setelah mengambil sikap tegas, bahkan memilih untuk menarik diri dari meja perundingan, di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat. Respons publik yang solid ini menandakan gelombang nasionalisme ekonomi yang membara di Tanah Maple, mempersenjatai sang pemimpin dengan modal politik yang signifikan. Namun, ketika gema solidaritas mereda, dan waktu menuntut perundingan kembali dimulai, Kanada akan menghadapi bagian tersulit: menerjemahkan dukungan tersebut menjadi hasil nyata di meja diplomasi yang licin.
Langkah berani Perdana Menteri untuk tidak gentar menghadapi tekanan dari Washington telah menyatukan warga Kanada. Narasi perlindungan kepentingan nasional, kedaulatan ekonomi, dan pertahanan martabat bangsa resonan kuat di seluruh spektrum politik. Dari pekerja industri yang khawatir akan hilangnya lapangan kerja akibat tarif, hingga eksportir yang menghadapi hambatan pasar, sentimen bahwa Kanada tidak boleh menyerah pada intimidasi asing telah mengakar. Ini memberikan Perdana Menteri mandat yang jelas dan kuat untuk bernegosiasi dari posisi yang tidak kompromis, setidaknya untuk saat ini.
Namun, euforia dukungan publik memiliki batas waktu. Negosiasi perdagangan adalah maraton, bukan sprint. Tuntutan domestik akan hasil konkret akan meningkat seiring berjalannya waktu. Bagian “sulit” yang disebutkan bukan hanya tentang menghadapi negosiator AS yang gigih, melainkan juga tentang mengelola ekspektasi dalam negeri dan menemukan keseimbangan antara prinsip dan pragmatisme. Setiap kompromi akan diawasi ketat, dan setiap konsesi berpotensi mengikis kepercayaan yang telah susah payah dibangun.
Solidaritas di Tengah Ketegangan Dagang
Ketegangan antara Kanada dan Amerika Serikat bukanlah hal baru, tetapi perang dagang yang memanas telah membawa dinamika hubungan bilateral ini ke titik didih. Ancaman tarif, khususnya pada baja dan aluminium, serta tuntutan perubahan substansial pada perjanjian perdagangan yang sudah ada, telah memicu kemarahan di Kanada. Respons tegas pemerintah, termasuk pemberlakuan tarif balasan dan penolakan untuk berkompromi pada isu-isu kunci, telah dipandang sebagai tindakan membela diri yang sah oleh sebagian besar warga Kanada.
* Sentimen Nasionalis: Tindakan AS sering kali dipandang sebagai upaya perundungan ekonomi, yang memicu sentimen nasionalis dan keinginan untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi Kanada.
* Dukungan Lintas Partai: Isu perdagangan kerap melampaui batas politik partisan, menyatukan berbagai faksi di bawah bendera perlindungan kepentingan nasional.
* Citra Pemimpin Kuat: Sikap Perdana Menteri yang pantang menyerah telah memperkuat citranya sebagai pemimpin yang mampu membela negaranya di panggung internasional, meskipun menghadapi tekanan dari tetangga adidaya.
Latar Belakang Konflik Dagang AS-Kanada
Sejarah perdagangan antara AS dan Kanada telah lama diatur oleh perjanjian-perjanjian seperti NAFTA, yang menjadi tulang punggung ekonomi kedua negara selama puluhan tahun. Namun, di bawah pemerintahan tertentu di AS, kritik terhadap perjanjian ini memuncak, menuduhnya tidak adil dan merugikan pekerja Amerika. Hal ini memicu upaya renegosiasi agresif yang menempatkan Kanada dalam posisi sulit, menghadapi tuntutan untuk membuka lebih banyak sektor ekonominya dan membuat konsesi yang signifikan. Artikel kami sebelumnya mengenai dampak hubungan AS-Kanada telah menggarisbawahi kompleksitas dinamika ini.
Perang dagang ini bukan hanya sekadar angka-angka ekspor dan impor. Ini adalah pertarungan narasi dan politik. Bagi Kanada, ini adalah ujian identitasnya sebagai negara yang berdaulat, mampu berdiri tegak di hadapan tekanan. Bagi AS, ini adalah bagian dari strategi “America First” yang lebih luas, berupaya mengubah tatanan perdagangan global untuk apa yang mereka anggap sebagai keuntungan nasional.
Menyongsong Meja Perundingan yang Penuh Tantangan
Ketika lampu sorot politik meredup dan tugas-tugas negosiasi kembali ke meja para ahli, tantangannya akan sangat besar. Para negosiator Kanada harus mempertahankan dukungan publik yang telah diberikan, sementara secara bersamaan mencari jalan keluar yang realistis dan menguntungkan. Berikut adalah beberapa poin penting yang akan dihadapi:
* Ekspektasi Publik yang Tinggi: Perdana Menteri akan menghadapi tekanan untuk tidak “menyerah” pada tuntutan AS, yang berarti harus kembali dengan kesepakatan yang jelas menguntungkan Kanada.
* Prioritas Ekonomi: Mengidentifikasi sektor-sektor kunci yang harus dilindungi (misalnya, industri susu, industri otomotif) dan mana yang mungkin dapat dikompromikan tanpa merusak kepentingan nasional.
* Hubungan Bilateral Jangka Panjang: Menyeimbangkan tujuan jangka pendek dalam negosiasi dengan kebutuhan untuk menjaga hubungan kerja yang stabil dengan mitra dagang terbesar mereka.
* Tekanan Internasional: Perjanjian dagang ini akan diamati oleh negara-negara lain, menetapkan preseden tentang bagaimana negara-negara kecil/menengah dapat menghadapi tekanan dari kekuatan ekonomi besar.
Implikasi Ekonomi dan Politik Jangka Panjang
Kegagalan mencapai kesepakatan yang menguntungkan atau berkepanjangan akan memiliki konsekuensi ekonomi dan politik yang serius bagi Kanada. Industri-industri vital seperti otomotif, energi, dan pertanian sangat bergantung pada akses pasar AS. Pembatasan akses atau tarif yang berkelanjutan dapat mengakibatkan hilangnya pekerjaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan ketidakpastian investasi.
Secara politik, keberhasilan atau kegagalan Perdana Menteri dalam negosiasi ini akan sangat memengaruhi masa depan politiknya. Jika ia dapat mengamankan kesepakatan yang dianggap adil dan bermanfaat oleh warga Kanada, mandatnya akan semakin kuat. Sebaliknya, jika kesepakatan itu dipandang sebagai konsesi yang tidak perlu atau jika prosesnya berlarut-larut tanpa hasil, dukungan publik dapat berbalik dan memengaruhi prospek pemilu berikutnya.
Keberhasilan Kanada dalam mengamankan dukungan warganya di tengah perang dagang dengan AS adalah sebuah kemenangan awal dalam pertempuran narasi. Namun, kemenangan sejati akan ditentukan di meja perundingan, di mana strategi, ketahanan, dan kemampuan untuk menavigasi kompleksitas diplomasi akan diuji secara fundamental. “Bagian yang sulit” bukan hanya tentang menghadapi lawan, tetapi juga tentang memenuhi janji kepada rakyat dan membangun masa depan ekonomi yang aman bagi negara.
Internasional
Islandia Gelar Referendum Krusial Penentuan Negosiasi Keanggotaan Uni Eropa
REYKJAVIK – Warga Islandia hari ini mulai memberikan suara dalam sebuah referendum yang sangat krusial, menentukan apakah negara pulau tersebut akan melanjutkan negosiasi keanggotaan penuh dengan Uni Eropa. Proses pemungutan suara ini terjadi dalam persaingan yang ketat, dan hasilnya menjadi perhatian serius di Brussels, pusat kekuasaan Uni Eropa. Keputusan yang diambil oleh rakyat Islandia akan memiliki implikasi jangka panjang terhadap arah kebijakan luar negeri, ekonomi, serta identitas nasional negara tersebut di panggung global.
Latar Belakang dan Dilema Keanggotaan EU
Perdebatan mengenai keanggotaan Uni Eropa telah mendominasi lanskap politik Islandia selama lebih dari satu dekade. Awalnya, Islandia mengajukan permohonan keanggotaan Uni Eropa pada tahun 2009, sebuah langkah yang dipicu oleh krisis keuangan global yang melumpuhkan perekonomian negara tersebut setahun sebelumnya. Banyak pihak melihat integrasi dengan Uni Eropa sebagai jalur menuju stabilitas ekonomi dan perlindungan dari guncangan serupa di masa depan. Namun, antusiasme awal tersebut meredup seiring pemulihan ekonomi Islandia dan munculnya kekhawatiran yang mendalam dari berbagai kalangan.
Pemerintah Islandia secara unilateral menangguhkan perundingan keanggotaan pada tahun 2013, dan kemudian menarik permohonan tersebut secara resmi pada tahun 2015, mengklaim bahwa negosiasi tidak lagi relevan dengan kepentingan nasional. Keputusan ini memicu protes besar dan gelombang ketidakpuasan dari kelompok-kelompok pro-EU. Referendum kali ini muncul sebagai respons terhadap tuntutan publik untuk memberikan suara langsung mengenai isu fundamental ini, mencoba mencari kejelasan atas arah masa depan Islandia.
Dilema utama yang dihadapi warga Islandia adalah menimbang potensi keuntungan ekonomi dari akses penuh ke pasar tunggal Uni Eropa melawan kekhawatiran tentang hilangnya kedaulatan, khususnya terkait kebijakan perikanan. Sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi Islandia, dan banyak warga khawatir bahwa bergabung dengan Uni Eropa akan berarti harus tunduk pada Kebijakan Perikanan Bersama (Common Fisheries Policy/CFP) Uni Eropa, yang berpotensi mengancam kontrol mereka atas sumber daya laut yang vital.
- Argumen Pendukung Keanggotaan Uni Eropa:
- Akses tanpa batas ke pasar tunggal yang besar.
- Stabilitas ekonomi dan perlindungan dari krisis.
- Penguatan posisi diplomatik di tingkat global.
- Peningkatan investasi asing dan diversifikasi ekonomi.
- Argumen Penentang Keanggotaan Uni Eropa:
- Hilangnya kedaulatan atas sumber daya perikanan.
- Kekhawatiran tentang birokrasi Uni Eropa dan regulasi yang ketat.
- Dampak terhadap sektor pertanian Islandia.
- Kehilangan identitas dan kemandirian nasional.
Taruhan Tinggi bagi Islandia dan Uni Eropa
Bagi Islandia, hasil referendum akan menentukan apakah negara ini akan kembali ke meja perundingan dengan Brussels atau memperkuat statusnya sebagai negara non-anggota Uni Eropa yang tetap menjalin hubungan erat melalui Kawasan Ekonomi Eropa (European Economic Area/EEA) dan Perjanjian Schengen. Keputusan ini secara langsung memengaruhi kebijakan luar negeri dan perdagangan Islandia. Jika mayoritas memilih untuk melanjutkan perundingan, pemerintah akan menghadapi tugas berat untuk merundingkan ketentuan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, terutama dalam isu perikanan dan pertanian. Jika mereka memilih menolak, Islandia kemungkinan akan melanjutkan jalur otonomnya, memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara tertentu dan fokus pada keuntungan dari keanggotaan EEA.
Sementara itu, di Brussels, hasil referendum ini diamati dengan cermat karena beberapa alasan penting. Pertama, Uni Eropa selalu tertarik untuk memperluas pengaruhnya dan menyambut negara-negara Eropa yang demokratis. Bergabungnya Islandia, dengan lokasi geostrategisnya di Atlantik Utara, akan menjadi dorongan simbolis dan praktis bagi Uni Eropa. Kedua, hasil ini akan menjadi indikator sentimen publik terhadap Uni Eropa di negara-negara non-anggota, terutama di tengah perdebatan yang sedang berlangsung tentang perluasan blok tersebut. Kekalahan dalam referendum dapat dianggap sebagai pukulan bagi visi ekspansi Uni Eropa di masa depan. [Baca lebih lanjut tentang kebijakan perluasan Uni Eropa di situs resmi mereka.]
Proses dan Dampak Pasca-Referendum
Pemungutan suara berlangsung sepanjang hari, dan hasilnya diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat setelah penutupan tempat pemungutan suara. Dengan persaingan yang begitu ketat, setiap suara memiliki arti penting. Analis politik memprediksi bahwa partisipasi pemilih akan sangat tinggi, mencerminkan besarnya kepentingan isu ini bagi seluruh lapisan masyarakat Islandia.
Terlepas dari hasilnya, referendum ini akan memicu pergeseran signifikan dalam lanskap politik domestik Islandia. Jika suara mayoritas mendukung kelanjutan negosiasi, kemungkinan akan ada tekanan kuat bagi pemerintah untuk segera membentuk tim perunding yang kuat dan menetapkan target yang jelas. Sebaliknya, jika hasil referendum menolak kelanjutan negosiasi, hal itu akan memperkuat posisi partai-partai euroskeptis dan mungkin memicu perombakan kabinet atau bahkan pemilihan umum dini. Penting untuk diingat bahwa Islandia memiliki sejarah panjang dalam mengambil keputusan besar melalui partisipasi demokratis langsung, dan referendum ini melanjutkan tradisi tersebut.
Referendum ini tidak hanya tentang keanggotaan Uni Eropa, tetapi juga tentang identitas dan arah masa depan Islandia sebagai negara berdaulat. Keputusan ini akan mengukir babak baru dalam sejarah hubungan Islandia dengan Eropa dan dunia. Apapun hasilnya, perdebatan yang telah berlangsung lama ini akan mencapai puncaknya hari ini, dengan jutaan warga Islandia menentukan takdir mereka sendiri.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
