Connect with us

Pemerintah

DPRD Surabaya Dorong Penataan PKL Berkelanjutan dan Humanis

Published

on

SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menggarisbawahi urgensi pendekatan yang berpihak kepada masyarakat dalam penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Wakil Ketua DPRD, Laila Mufidah, secara tegas menyatakan dukungan terhadap strategi humanis yang tidak hanya bertujuan merapikan kota tetapi juga memastikan keberlangsungan mata pencaharian para pedagang. Penekanan ini merefleksikan komitmen lembaga legislatif untuk mencari solusi komprehensif, sehingga PKL dapat terus berkontribusi pada dinamika ekonomi lokal tanpa terpinggirkan.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan dorongan konkret agar pemerintah daerah merumuskan kebijakan yang mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi secara mendalam. Dalam konteks perkotaan yang terus berkembang pesat, manajemen sektor informal seperti PKL menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang penting. Pendekatan humanis berarti dialog yang konstruktif, pemberdayaan, serta penyediaan fasilitas dan skema yang mendukung, alih-alih hanya melakukan penggusuran atau pelarangan semata.

Mendesain Kebijakan yang Berpihak pada Ekonomi Informal

Prinsip humanisme dalam penataan PKL menuntut adanya solusi yang adil dan berkelanjutan. DPRD berupaya mendorong Pemerintah Kota untuk melihat PKL bukan sebagai masalah, melainkan bagian integral dari ekosistem ekonomi urban. Berbagai opsi dapat dieksplorasi untuk menciptakan situasi ‘win-win’ bagi semua pihak. Beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan meliputi:

  • Zonasi dan Relokasi Strategis: Penentuan area khusus bagi PKL yang mudah diakses konsumen namun tidak mengganggu ketertiban umum atau lalu lintas. Relokasi harus mempertimbangkan akses pasar dan fasilitas dasar bagi pedagang.
  • Pemberdayaan dan Pelatihan: Program peningkatan kapasitas bagi pedagang, seperti manajemen usaha, pemasaran digital, higienitas produk, hingga layanan pelanggan.
  • Akses Permodalan: Fasilitasi kemitraan dengan lembaga keuangan mikro atau koperasi untuk memberikan akses modal usaha dengan bunga rendah.
  • Legalitas dan Registrasi: Memberikan identitas legal kepada PKL melalui pendaftaran, yang dapat memudahkan mereka mendapatkan akses fasilitas dan perlindungan.

Pendekatan ini akan memastikan bahwa kebijakan penataan bukan sekadar upaya penertiban, tetapi juga investasi jangka panjang terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah. Ini sejalan dengan semangat otonomi daerah untuk menciptakan kemandirian ekonomi warganya.

Tantangan dalam Penataan PKL Perkotaan

Meskipun dorongan untuk pendekatan humanis mendapat apresiasi, implementasinya tentu menghadapi berbagai tantangan. Kompleksitas penataan PKL melibatkan banyak aspek, termasuk menjaga ketertiban umum, kebersihan lingkungan, kelancaran lalu lintas, hingga persaingan dengan sektor formal. Tidak jarang, kebijakan populis dikorbankan demi efisiensi penataan yang cenderung represif. Namun, pengalaman di berbagai kota menunjukkan bahwa penataan yang tidak melibatkan partisipasi PKL dan tanpa solusi konkret cenderung gagal dalam jangka panjang dan menimbulkan konflik sosial.

Pemerintah daerah perlu menyeimbangkan kepentingan beragam pihak: hak pedagang untuk mencari nafkah, hak warga untuk kenyamanan dan kebersihan, serta hak pengusaha formal untuk persaingan yang sehat. Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan pemerintah untuk menjadi mediator dan fasilitator, bukan sekadar regulator.

Sinergi dan Inovasi untuk Keberlanjutan

Untuk mewujudkan penataan PKL yang humanis dan berkelanjutan, diperlukan sinergi lintas sektor dan inovasi kebijakan. Bukan hanya Dinas Perdagangan atau Satpol PP yang terlibat, melainkan juga Dinas Sosial, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perhubungan, bahkan komunitas akademisi dan masyarakat sipil. Kolaborasi ini dapat menghasilkan ide-ide baru, seperti pengembangan platform digital untuk PKL, pembuatan desain kios yang estetis dan fungsional, atau bahkan festival kuliner PKL temporer yang menjadi daya tarik wisata.

Sinergi juga penting dalam pengawasan dan evaluasi kebijakan. Dengan melibatkan perwakilan PKL dalam forum diskusi dan pengambilan keputusan, kebijakan yang dirumuskan akan lebih relevan dan dapat diterima oleh pihak yang terkena dampak langsung. Inovasi dapat lahir dari kebutuhan riil di lapangan, sehingga solusi yang ditemukan bersifat adaptif dan fleksibel.

Peran DPRD sebagai Katalisator Perubahan

Pernyataan dukungan dari DPRD, khususnya melalui Laila Mufidah, menjadi katalisator penting dalam mengarahkan kebijakan Pemkot Surabaya. Sebagai lembaga legislatif, DPRD memiliki peran strategis dalam:

  • Pembentukan Peraturan Daerah: Mengawal lahirnya perda yang lebih komprehensif dan berpihak kepada PKL.
  • Pengawasan Anggaran: Memastikan alokasi anggaran yang memadai untuk program-program pemberdayaan dan penataan PKL.
  • Mediasi dan Advokasi: Menjadi jembatan komunikasi antara aspirasi PKL dengan eksekutif, serta advokasi hak-hak mereka.
  • Evaluasi Kebijakan: Memantau implementasi kebijakan dan memberikan rekomendasi perbaikan.

Dukungan berkelanjutan dari DPRD diharapkan dapat mendorong Pemkot Surabaya untuk terus mengembangkan pendekatan yang seimbang, mengutamakan dialog, dan berorientasi pada solusi jangka panjang demi kesejahteraan PKL dan penataan kota yang lebih teratur serta manusiawi. Upaya ini merupakan bagian dari visi pembangunan kota yang inklusif, di mana setiap elemen masyarakat, termasuk sektor informal, memiliki tempat dan peluang yang setara untuk berkembang. Hal ini juga menjadi bagian integral dari upaya pemerintah daerah untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan sosial yang berkelanjutan di tengah dinamika perkotaan.

Pemerintah

Akhir Era Angkot Tua di Bogor, Ratusan Kendaraan Ditarik dan Modernisasi Transportasi Dimulai

Published

on

Akhir Era Angkot Tua di Bogor, Ratusan Kendaraan Ditarik dan Modernisasi Transportasi Dimulai

Pemerintah daerah mengambil langkah signifikan dalam upaya penataan ulang sistem transportasi publik. Sekitar 300 unit angkutan kota (angkot) yang telah beroperasi lebih dari dua dekade dan tidak lagi memenuhi standar kelayakan jalan, kini menghadapi penarikan dokumen operasionalnya. Kebijakan tegas ini menjadi penanda dimulainya babak baru dalam sejarah transportasi di salah satu kota penyangga Ibu Kota, sekaligus menjawab tantangan modernisasi yang tak terhindarkan.

Selama bertahun-tahun, julukan "kota seribu angkot" melekat pada identitas kota ini. Ribuan armada angkutan publik berwarna hijau telah menjadi tulang punggung mobilitas warga, sekaligus pemandangan khas yang menghiasi jalanan. Namun, seiring waktu dan perkembangan kota, jumlah angkot yang masif justru memicu berbagai permasalahan, mulai dari kemacetan, polusi udara, hingga isu keselamatan penumpang akibat kondisi kendaraan yang kurang terawat. Inilah yang melatarbelakangi keputusan pemerintah daerah untuk melakukan penataan ulang secara komprehensif.

Menata Ulang Wajah Transportasi Publik

Pemerintah daerah tidak mengambil keputusan penarikan ratusan angkot ini secara tiba-tiba. Ini merupakan bagian dari visi jangka panjang pemerintah untuk mewujudkan sistem transportasi yang lebih modern, efisien, dan aman. Kendaraan-kendaraan yang ditarik ini sebagian besar adalah angkot dengan usia di atas 20 tahun, sebuah batasan yang secara regulasi kerap menjadi acuan kelayakan operasional angkutan umum. Pencabutan dokumen operasional memastikan angkot-angkot tersebut tidak lagi dapat beroperasi secara legal di jalanan.

Program ini tidak hanya berfokus pada penarikan angkot tua. Pemerintah juga mengiringi program ini dengan rencana restrukturisasi rute dan peremajaan armada. Pemerintah tengah menyiapkan skema subsidi atau insentif bagi para operator dan pemilik angkot yang bersedia beralih ke moda transportasi yang lebih baru dan ramah lingkungan, seperti bus kota berukuran sedang atau mikrolet modern. Pemerintah berharap transisi ini dapat meminimalisir dampak sosial ekonomi terhadap para pengemudi dan pemilik angkot yang terdampak kebijakan ini.

Tantangan dan Harapan Modernisasi

Transformasi ini tentu saja membawa tantangan besar. Para pengemudi angkot dan operator yang terbiasa dengan sistem lama mungkin merasa keberatan atau kehilangan mata pencarian. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan solusi yang komprehensif, termasuk program alih profesi atau pelatihan keterampilan baru, menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa perubahan ini tidak hanya menguntungkan publik secara keseluruhan, tetapi juga memberikan jalan keluar yang adil bagi mereka yang terkena dampak langsung.

Masyarakat pengguna transportasi publik juga memiliki harapan besar terhadap program ini. Masyarakat berharap penarikan angkot-angkot tua akan meningkatkan kualitas pelayanan, waktu tempuh menjadi lebih efisien, dan tingkat kenyamanan serta keamanan perjalanan dapat terjamin. Pemerintah berharap pengurangan jumlah angkot juga mampu mengurai kemacetan kronis di beberapa titik ruas jalan kota.

Mengintegrasikan Jaringan Transportasi

Langkah penarikan angkot tua ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah daerah untuk menciptakan jaringan transportasi terpadu. Beberapa tahun terakhir, diskusi mengenai integrasi moda transportasi, pengembangan bus Trans Pakuan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung lainnya telah menjadi topik hangat. Publik dapat melihat kebijakan penarikan angkot ini sebagai katalisator untuk mempercepat realisasi visi tersebut.

  • Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan: Angkot tua seringkali tidak memiliki fitur keamanan modern dan kondisi interior yang kurang nyaman. Armada baru diharapkan pemerintah akan menawarkan standar yang lebih baik.
  • Efisiensi Rute: Dengan penataan ulang, pemerintah berharap rute-rute angkot akan lebih efisien, mengurangi tumpang tindih, dan menjangkau area yang selama ini kurang terlayani.
  • Pengurangan Polusi: Kendaraan tua umumnya memiliki emisi gas buang yang lebih tinggi. Peremajaan armada akan berkontribusi pada kualitas udara kota.
  • Dukungan Ekonomi Lokal: Program peremajaan dapat mendorong pertumbuhan industri karoseri dan penyedia suku cadang lokal.

Belajar dari Pengalaman Lalu dan Menatap Masa Depan

Sebelumnya, pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk menata ulang transportasi publik, namun dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Pengalaman di kota-kota lain yang berhasil melakukan modernisasi transportasi publik, seperti Jakarta dengan TransJakarta atau Surabaya dengan Suroboyo Bus, dapat menjadi inspirasi dan pembelajaran berharga. Konsistensi dalam implementasi kebijakan, partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, serta dukungan penuh dari masyarakat adalah pilar utama keberhasilan.

Pemerintah daerah optimis bahwa langkah ini akan membawa kota menuju era transportasi yang lebih baik, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Pemerintah berharap babak baru ini akan mengubah citra kota dari "seribu angkot" menjadi "kota dengan transportasi publik modern dan terintegrasi." Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan memastikan mobilitas yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sumber referensi lebih lanjut mengenai regulasi transportasi publik dapat diakses melalui situs resmi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Continue Reading

Pemerintah

Thailand Perpanjang Izin Kerja Pekerja Migran Asing, Stabilkan Ekonomi Nasional

Published

on

BANGKOK – Pemerintah Thailand telah mengumumkan perpanjangan izin kerja bagi ratusan ribu pekerja migran dari Laos, Myanmar, dan Vietnam. Kebijakan ini, yang mencakup sekitar 770.000 pekerja asing per 30 Juni lalu, dirancang untuk memudahkan mereka menyelesaikan prosedur hukum yang diperlukan sekaligus memastikan ketersediaan tenaga kerja yang stabil bagi berbagai sektor ekonomi Thailand yang sangat mengandalkan kontribusi pekerja dari luar negeri.

Data pemerintah Thailand secara konsisten menunjukkan bahwa sekitar 770.000 pekerja migran telah memenuhi syarat di bawah kebijakan ini pada akhir Juni. Mereka adalah bagian integral dari tulang punggung ekonomi Thailand, mengisi kekosongan tenaga kerja di berbagai industri mulai dari pertanian, konstruksi, manufaktur, hingga sektor jasa yang berkembang pesat seperti pariwisata dan perhotelan. Tanpa kontribusi mereka, banyak bisnis akan menghadapi kesulitan serius dalam mempertahankan operasi dan memenuhi permintaan pasar.

Situasi ini bukan hal baru; Thailand telah lama berjuang dengan kelangkaan tenaga kerja domestik untuk pekerjaan tertentu, membuat pekerja migran menjadi aset tak tergantikan. Perpanjangan izin ini menggarisbawahi pengakuan pemerintah atas peran vital mereka dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar, terutama di tengah upaya pemulihan pascapandemi yang masih berlanjut.

Dampak Ekonomi dan Sektor Krusial

Keputusan perpanjangan izin kerja ini memiliki resonansi ekonomi yang mendalam. Sektor pertanian, misalnya, sangat bergantung pada pekerja migran untuk panen dan pengolahan produk, yang merupakan bagian signifikan dari ekspor negara. Demikian pula, industri konstruksi akan lumpuh tanpa tenaga kerja asing yang banyak terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan properti. Sektor manufaktur, tulang punggung ekspor Thailand, juga sangat mengandalkan pekerja migran untuk lini produksi dan operasional harian.

Ketergantungan ini bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah realitas struktural. Tingkat kelahiran yang rendah dan preferensi masyarakat Thailand terhadap pekerjaan di sektor perkotaan atau pendidikan yang lebih tinggi telah menciptakan defisit tenaga kerja kronis di sektor-sektor yang dianggap ‘kotor, sulit, dan berbahaya’ (3D – dirty, difficult, dangerous). Dengan demikian, kebijakan ini bukan hanya langkah administratif, melainkan sebuah intervensi ekonomi yang krusial untuk mencegah disrupsi pasar tenaga kerja dan mempertahankan momentum pertumbuhan.

  • Memastikan kelangsungan operasional bisnis di sektor pertanian, konstruksi, dan manufaktur.
  • Mencegah inflasi upah yang drastis akibat kelangkaan tenaga kerja.
  • Menjaga daya saing ekspor Thailand di pasar global.
  • Mendukung pemulihan pariwisata dan perhotelan yang membutuhkan banyak staf.

Prosedur Hukum dan Perlindungan Pekerja

Perpanjangan izin kerja memberikan kesempatan bagi para pekerja migran untuk menuntaskan berbagai prosedur hukum yang seringkali kompleks dan memakan waktu. Proses ini meliputi pembaruan visa, izin tinggal, pemeriksaan kesehatan, dan registrasi ulang yang sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan Thailand. Dengan demikian, pekerja dapat beroperasi secara legal, mengurangi risiko eksploitasi dan deportasi, serta mendapatkan akses yang lebih baik terhadap hak-hak dasar seperti upah minimum dan kondisi kerja yang layak.

Meskipun demikian, sejarah menunjukkan bahwa pekerja migran seringkali rentan terhadap berbagai masalah, mulai dari biaya rekrutmen yang tinggi, praktik penipuan, hingga pelanggaran hak asasi manusia. Kebijakan perpanjangan ini diharapkan dapat meminimalkan celah bagi praktik ilegal tersebut, memberikan kepastian hukum, dan memperkuat perlindungan bagi individu-individu yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Thailand. Langkah ini juga sejalan dengan upaya regional dan internasional untuk memastikan migrasi tenaga kerja yang aman, teratur, dan bermartabat.

Tantangan dan Implikasi Kebijakan Jangka Panjang

Meskipun perpanjangan izin kerja adalah solusi jangka pendek yang efektif, Thailand masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola ketergantungan pada tenaga kerja migran. Pertanyaan fundamental yang muncul adalah bagaimana Thailand akan mengembangkan strategi jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Apakah akan ada upaya untuk meningkatkan otomatisasi di sektor-sektor tertentu, ataukah pemerintah akan lebih fokus pada pelatihan ulang tenaga kerja domestik untuk mengisi kekosongan yang ada?

Selain itu, hubungan diplomatik dengan negara-negara asal pekerja migran—Laos, Myanmar, dan Vietnam—juga memegang peranan penting. Gejolak politik atau perubahan kebijakan di negara-negara tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan tenaga kerja ke Thailand. Oleh karena itu, diplomasi tenaga kerja yang kuat dan kerangka kerja yang jelas untuk rekrutmen serta perlindungan adalah esensial untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Kebijakan perpanjangan ini mencerminkan pragmatisme pemerintah Thailand dalam menghadapi realitas ekonomi. Ini adalah pengakuan bahwa pekerja migran bukan sekadar angka statistik, melainkan motor penggerak vital yang mendukung kehidupan jutaan orang dan kelangsungan bisnis di seluruh negeri. Ke depan, perhatian akan beralih pada bagaimana pemerintah akan menindaklanjuti dengan reformasi kebijakan yang lebih komprehensif untuk memastikan sistem yang adil dan efisien bagi semua pihak.

Continue Reading

Pemerintah

Menteri PUPR Dody Hanggodo Tegaskan Mutasi Pegawai Hal Lumrah, Bantah Keras Isu Nepotisme

Published

on

Menteri Dody Hanggodo Tegaskan Mutasi Bagian Pengembangan Karier ASN

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, merespons tegas isu mutasi pegawai dan dugaan adanya surat internal yang bocor di lingkungan kementeriannya. Dody menegaskan bahwa rotasi dan promosi jabatan merupakan hal yang lumrah dan esensial dalam tata kelola birokrasi, seraya membantah tudingan nepotisme yang santer beredar. Pernyataan ini disampaikan Dody menyikapi dinamika internal serta sorotan publik terkait kebijakan penempatan pejabat di KemenPUPR.

Dalam keterangannya, Menteri Dody menjelaskan bahwa mutasi adalah mekanisme rutin untuk penyegaran organisasi, pengembangan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN), serta optimalisasi kinerja. Proses ini, menurutnya, didasarkan pada kebutuhan organisasi dan rekam jejak profesionalisme pegawai. “Mutasi itu biasa saja, masa tidak boleh? Ini adalah bagian dari pengembangan karier dan penyesuaian kebutuhan organisasi,” ujarnya, menekankan bahwa setiap keputusan diambil dengan pertimbangan matang demi kemajuan kementerian dan pelayanan publik.

Isu mutasi dan dugaan kebocoran surat internal belakangan ini memang menjadi perbincangan, memicu spekulasi tentang potensi ketidakberesan dalam proses penempatan pejabat. Namun, Dody dengan lugas menepis narasi tersebut, menegaskan komitmen KemenPUPR terhadap prinsip meritokrasi dan transparansi. Isu yang beredar ini menuntut klarifikasi segera dari pimpinan kementerian untuk menjaga kepercayaan publik dan stabilitas internal.

Bantahan Keras Isu Nepotisme dan Pentingnya Meritokrasi

Menanggapi tudingan nepotisme yang turut menyertai isu mutasi, Menteri Dody Hanggodo menyatakan keberatan dan membantah keras tuduhan tersebut. Ia menekankan bahwa seluruh proses mutasi dan promosi di KemenPUPR telah mengikuti prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, mengedepankan kompetensi dan kinerja. tudingan nepotisme adalah hal serius yang dapat merusak integritas birokrasi dan kepercayaan publik. Oleh karena itu, bantahan tegas ini merupakan upaya untuk melindungi reputasi kementerian dan para pegawainya.

Berikut adalah poin-poin penting terkait penegasan Menteri Dody:

  • Mutasi adalah Proses Normal: Bagian dari manajemen SDM untuk pengembangan karier ASN dan penyesuaian kebutuhan strategis organisasi.
  • Berbasis Kinerja dan Kompetensi: Setiap penempatan posisi dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja, kapabilitas, dan relevansi pengalaman.
  • Tegakkan Meritokrasi: Kementerian PUPR berkomitmen penuh pada sistem meritokrasi, di mana promosi dan mutasi didasarkan pada prestasi, bukan hubungan pribadi.
  • Transparansi Proses: Meskipun tidak semua detail proses mutasi bersifat terbuka, prinsip-prinsip akuntabilitas dan objektivitas selalu dijaga.

Dody juga menambahkan bahwa setiap pegawai memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. “Tidak ada tempat bagi praktik-praktik nepotisme di KemenPUPR. Kami memastikan bahwa setiap keputusan didasari oleh kepentingan terbaik organisasi dan kapasitas individu,” tegasnya, menggarisbawahi pentingnya profesionalisme dalam setiap lini kementerian. Komitmen ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.

Transparansi dan Akuntabilitas dalam Tata Kelola Birokrasi

Klarifikasi dari Menteri Dody Hanggodo ini datang di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola birokrasi. Isu mutasi yang dibarengi dugaan surat bocor mengindikasikan adanya celah komunikasi atau kekhawatiran internal yang perlu ditangani secara serius. Kejadian ini mengingatkan kembali pentingnya saluran komunikasi yang jelas dan terbuka di dalam lembaga pemerintahan, terutama terkait kebijakan kepegawaian yang sensitif.

Pemerintah melalui berbagai regulasi selalu mendorong instansi untuk menjaga integritas dan profesionalisme ASN. Proses mutasi, yang mestinya menjadi instrumen positif untuk peningkatan kinerja, rentan disalahgunakan jika tidak diawasi dengan ketat. Oleh karena itu, penegasan Menteri Dody diharapkan dapat meredakan spekulasi dan memastikan bahwa KemenPUPR terus beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip good governance. Informasi lebih lanjut mengenai kebijakan kepegawaian dan transparansi dapat diakses melalui portal resmi KemenPUPR.

Kondisi ini juga berkaitan dengan diskusi luas mengenai reformasi birokrasi yang berkelanjutan. Insiden serupa di masa lalu, baik di KemenPUPR maupun kementerian lainnya, seringkali memicu perdebatan tentang sejauh mana transparansi diterapkan dalam manajemen sumber daya manusia di sektor publik. Dengan demikian, pernyataan Menteri Dody bukan hanya sekadar bantahan, melainkan juga penegasan ulang komitmen terhadap nilai-nilai integritas yang harus dipegang teguh oleh setiap pejabat publik. Ke depan, penguatan mekanisme pengawasan internal dan eksternal akan menjadi krusial untuk mencegah terulangnya isu serupa dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.

Continue Reading

Trending