Daerah
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Mereda, Penerbangan Bandara Syamsudin Noor Kembali Normal
Kualitas udara di sebagian besar wilayah Kalimantan kini menunjukkan perbaikan signifikan setelah periode panjang terdampak kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seiring dengan meredanya indeks polusi udara, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, berangsur pulih dan kembali normal.
Situasi ini membawa angin segar bagi mobilitas masyarakat dan kelancaran logistik di Bumi Borneo. Sebelumnya, jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara Syamsudin Noor kerap mengalami gangguan serius, mulai dari penundaan hingga pembatalan, demi menjamin aspek keselamatan penumpang dan kru. Jarak pandang yang sangat terbatas akibat partikel asap di udara menjadi penyebab utama terhentinya banyak rute penerbangan penting.
Pemulihan Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor
Setelah berminggu-minggu berhadapan dengan tantangan kabut asap, kondisi operasional di Bandara Syamsudin Noor kini telah menunjukkan grafik positif. Petugas bandara melaporkan bahwa jarak pandang telah meningkat secara drastis, memungkinkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat sesuai jadwal. Maskapai penerbangan yang sebelumnya membatalkan atau menunda rute ke Kalimantan Selatan kini mulai mengaktifkan kembali layanannya.
Peningkatan ini bukan hanya berdampak pada kelancaran transportasi orang, tetapi juga krusial bagi distribusi kargo yang vital untuk perekonomian daerah. Normalisasi ini menunjukkan efektivitas upaya mitigasi karhutla dan juga peran angin serta hujan yang membantu membersihkan atmosfer. Penumpang diimbau untuk tetap memantau informasi terkini dari maskapai masing-masing, meskipun tren positif ini diperkirakan akan berlanjut.
Stabilitas Transportasi Darat dan Laut
Selain sektor udara, operasional transportasi darat dan laut di seluruh Kalimantan secara umum dilaporkan tetap berjalan normal selama periode karhutla, meskipun dengan kewaspadaan ekstra. Dampak kabut asap terhadap transportasi darat memang tidak sefatal penerbangan, namun beberapa ruas jalan yang melintasi area kebakaran hutan parah sempat mengalami penurunan jarak pandang yang membahayakan. Aparat kepolisian lalu lintas dan Dinas Perhubungan secara aktif melakukan patroli dan memberikan peringatan kepada pengguna jalan untuk meningkatkan kehati-hatian.
Sektor maritim juga menghadapi tantangan serupa, terutama di perairan pesisir dan jalur sungai yang padat. Kabut asap dapat mengurangi visibilitas bagi kapal, meningkatkan risiko kecelakaan. Namun, dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang ketat, termasuk penggunaan radar dan sistem navigasi canggih, serta koordinasi intensif antarpihak terkait, layanan transportasi laut dan sungai berhasil dipertahankan tanpa gangguan besar. Prioritas utama tetap pada aspek keamanan dan keselamatan semua moda transportasi, baik untuk penumpang maupun awak kapal.
Upaya Penanganan dan Mitigasi Karhutla Berkelanjutan
Meredanya kabut asap adalah hasil kerja keras berbagai pihak, mulai dari tim pemadam gabungan darat dan udara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, hingga masyarakat lokal. Hujan yang turun di beberapa wilayah juga turut membantu mempercepat pemulihan kondisi udara. Namun, pemerintah daerah dan pusat terus menekankan pentingnya kewaspadaan dini dan tindakan pencegahan.
Pemerintah bertekad untuk terus memperkuat sistem pemantauan titik panas (hotspot), melakukan patroli pencegahan, serta gencar menyosialisasikan bahaya pembakaran lahan kepada masyarakat. Pengalaman pahit di masa lalu, termasuk musim karhutla sebelumnya, menjadi pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri lebih baik menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang. “Situasi ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak lengah. Pencegahan adalah kunci utama,” ungkap seorang pejabat BPBD setempat.
- Kualitas Udara Membaik: Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di banyak daerah kini berada pada kategori “baik” hingga “sedang”.
- Penerbangan Stabil: Maskapai secara bertahap mengembalikan jadwal normal, mengurangi penumpukan penumpang dan kargo.
- Kewaspadaan Tetap Tinggi: Meskipun kondisi membaik, upaya pemantauan dan pencegahan karhutla terus digencarkan.
- Dukungan Masyarakat: Peran serta masyarakat dalam tidak membakar lahan sangat krusial untuk menjaga lingkungan.
Meskipun kondisi kembali normal, ancaman karhutla adalah masalah yang bersifat musiman dan kompleks di Kalimantan. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor dan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas udara dan kelancaran transportasi di masa mendatang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya pencegahan karhutla, pembaca dapat mengunjungi portal resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Daerah
Kebakaran Lahan Dua Hektare Landa Balikpapan, Polisi Selidiki Penyebab Awal
BALIKPAPAN – Lahan seluas sekitar dua hektare hangus terbakar di wilayah Balikpapan pada Rabu sore. Insiden kebakaran yang terjadi sekitar pukul 13.30 WITA ini memicu kepulan asap tebal yang membumbung tinggi, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan petugas pemadam kebakaran. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab pasti munculnya titik api yang menghanguskan vegetasi di area tersebut.
Petugas pemadam kebakaran dari berbagai unsur, termasuk BPBD Balikpapan dan relawan, segera bergerak menuju lokasi setelah menerima laporan. Mereka berjibaku memadamkan api yang dengan cepat meluas, terutama karena kondisi lahan yang kering dan angin yang cukup kencang. Proses pemadaman menghadapi tantangan tersendiri mengingat lokasi dan ketersediaan sumber air yang terbatas di sekitar area kebakaran. Upaya keras terus dilakukan untuk melokalisasi api dan mencegahnya merambat ke area lain yang lebih padat penduduk atau vegetasi.
Penyelidikan Intensif Ungkap Sumber Api
Kepolisian Resor Balikpapan telah memulai penyelidikan intensif untuk mengidentifikasi penyebab awal kebakaran lahan ini. Tim identifikasi lapangan dikerahkan untuk mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan dari saksi mata di sekitar lokasi kejadian. Penyelidikan ini penting untuk menentukan apakah kebakaran ini murni insiden alam atau melibatkan faktor kesengajaan maupun kelalaian manusia.
Beberapa dugaan awal muncul, termasuk kemungkinan puntung rokok yang dibuang sembarangan, aktivitas pembakaran sampah yang tidak terkontrol, atau bahkan faktor gesekan akibat kondisi vegetasi yang sangat kering. Polisi mengharapkan partisipasi aktif dari masyarakat yang mungkin memiliki informasi relevan untuk membantu percepatan proses penyelidikan. Proses hukum akan segera ditempuh jika terbukti ada unsur kesengajaan dalam peristiwa kebakaran ini, mengingat dampak yang ditimbulkannya tidaklah kecil.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Kebakaran lahan seluas dua hektare ini bukan hanya merugikan secara materiil, namun juga membawa dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar. Asap tebal yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi berpotensi menyebabkan penurunan kualitas udara secara signifikan. Partikel-partikel halus dalam asap dapat memicu berbagai masalah pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma.
Tidak hanya itu, hilangnya dua hektare vegetasi juga berarti kehilangan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna kecil yang mungkin hidup di area tersebut. Ekosistem lokal terganggu, dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk pemulihan alami. Peningkatan suhu mikro di sekitar area terbakar juga menjadi konsekuensi langsung, yang dapat memperburuk kondisi kekeringan di sekitarnya. Kejadian seperti ini juga seringkali menyumbang pada masalah kabut asap regional yang pernah menjadi isu krusial di Kalimantan.
Urgensi Pencegahan Karhutla di Musim Kemarau
Insiden kebakaran lahan ini kembali mengingatkan pada serangkaian kebakaran lahan yang kerap melanda Balikpapan, terutama saat puncak musim kemarau, seperti yang pernah kami ulas dalam artikel ‘Waspada Karhutla: Balikpapan Hadapi Ancaman Kebakaran Lahan Setiap Musim Kemarau’ beberapa waktu lalu. Kondisi cuaca yang panas dan kering, diperparah oleh fenomena El Nino di beberapa tahun terakhir, membuat wilayah Kalimantan Timur, termasuk Balikpapan, sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi sangat krusial. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan meliputi:
- Peningkatan Patroli dan Pengawasan: Petugas harus lebih intensif memantau area-area rawan kebakaran, terutama pada musim kemarau.
- Edukasi Masyarakat: Sosialisasi mengenai bahaya membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan perlu terus digalakkan.
- Sistem Peringatan Dini: Mengaktifkan dan meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini berbasis teknologi untuk mendeteksi titik api sekecil mungkin.
- Ketersediaan Sarana Pemadaman: Memastikan alat dan personel pemadam kebakaran selalu siaga dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.
- Penegakan Hukum Tegas: Memberikan sanksi berat bagi pelaku pembakaran lahan, baik yang disengaja maupun karena kelalaian.
Pemerintah kota dan pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan berperan aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan. Kerjasama antara semua elemen masyarakat dan pemerintah adalah kunci utama dalam menanggulangi ancaman Karhutla di masa depan. Informasi lebih lanjut mengenai kondisi iklim dan potensi dampak kekeringan dapat diakses melalui situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sini.
Daerah
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir di Landasan Pacu Lanud Sultan Hasanuddin
MAKASSAR – Sebuah insiden menghebohkan terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin pada Senin (24/8/2026), ketika sebuah jet tempur jenis Sukhoi milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) tergelincir dan keluar dari landasan pacu. Peristiwa yang terekam dalam video amatir ini dengan cepat menyebar dan menjadi viral di berbagai platform media sosial, memicu kekhawatiran publik mengenai keselamatan operasional penerbangan di pangkalan udara tersebut. Meskipun pesawat dilaporkan keluar jalur, pihak TNI AU memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam insiden ini. Investigasi mendalam langsung diluncurkan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian.
Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan badan pesawat Sukhoi yang sebagian besar masih berada di area hijau pinggir landasan pacu, dengan beberapa bagian diduga masuk ke area rumput. Respons cepat dari petugas di lapangan terlihat dalam video tersebut, menunjukkan kesigapan dalam menangani situasi darurat. Kejadian ini sontak menarik perhatian warganet, yang ramai-ramai mendiskusikan kemungkinan penyebabnya, mulai dari faktor teknis hingga kondisi cuaca. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang mengenai detail kerusakan atau kronologi lengkap insiden.
Kronologi Awal dan Respon Cepat di Lapangan
Informasi awal menyebutkan bahwa jet tempur Sukhoi tersebut mengalami kejadian tergelincir sesaat setelah mendarat atau mungkin hendak lepas landas di salah satu landasan pacu Bandara Sultan Hasanuddin, yang juga berfungsi sebagai Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin. Sumber anonim di lapangan mengindikasikan bahwa pesawat gagal mengerem secara optimal atau kehilangan kendali saat beroperasi di landasan. Tim penyelamat dan pemadam kebakaran dari TNI AU segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan awal, memastikan area aman, dan memulai proses evakuasi pesawat. Kecepatan respons ini menjadi kunci untuk mencegah potensi insiden lebih lanjut dan meminimalkan risiko terhadap aset militer maupun lingkungan sekitar.
Tanggapan Resmi TNI AU dan Langkah Investigasi
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Agung Sasongko Jati, dalam keterangan persnya mengonfirmasi insiden tersebut. “Benar, pada Senin (24/8/2026) siang, telah terjadi insiden tergelincirnya pesawat tempur Sukhoi kami di Lanud Sultan Hasanuddin. Pilot yang bertugas dipastikan dalam kondisi selamat dan tidak mengalami luka-luka,” ujar Agung. Ia menambahkan bahwa TNI AU membentuk tim khusus dari Pusat Kelaikan Udara dan Keselamatan Terbang dan Kerja (Puslaiklambangjaau) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh. Penyelidikan ini akan mencakup pemeriksaan kotak hitam pesawat, kondisi landasan pacu, faktor cuaca, serta prosedur operasional yang diterapkan. “Kami berkomitmen untuk menemukan akar masalahnya demi mencegah kejadian serupa di masa mendatang, serta memastikan setiap aspek operasional memenuhi standar keselamatan tertinggi,” tegasnya.
Dampak Insiden terhadap Operasional Bandara dan Penerbangan Sipil
Bandara Sultan Hasanuddin dikenal sebagai bandara dengan dual fungsi, melayani penerbangan sipil dan militer. Meskipun insiden ini melibatkan pesawat militer, potensi dampaknya terhadap operasional penerbangan sipil tetap menjadi perhatian. Pihak PT Angkasa Pura I selaku pengelola bandara memastikan bahwa insiden jet Sukhoi tidak mengganggu jadwal penerbangan komersial secara signifikan. “Kami telah berkoordinasi erat dengan pihak Lanud Sultan Hasanuddin. Landasan pacu yang digunakan pesawat sipil tetap beroperasi normal,” kata juru bicara Angkasa Pura I. Namun, untuk sementara waktu, aktivitas penerbangan militer di Lanud Sultan Hasanuddin mungkin akan mengalami penyesuaian hingga proses evakuasi pesawat selesai dan pemeriksaan landasan pacu rampung. Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya koordinasi yang solid antara pengelola bandara sipil dan pihak militer dalam mengelola ruang udara dan fasilitas bandara bersama demi kelancaran dan keamanan seluruh aktivitas penerbangan.
Mengingat Kembali Insiden Pesawat Militer Sebelumnya
Insiden tergelincirnya Sukhoi ini bukan kali pertama pesawat militer TNI AU mengalami kendala operasional. Beberapa tahun terakhir, TNI AU telah bekerja keras untuk meningkatkan standar keselamatan dan perawatan armadanya. Sebelumnya, pada tahun 2023, sebuah pesawat latih T-50i Golden Eagle juga mengalami insiden pendaratan di Jawa Timur, yang kemudian diinvestigasi secara tuntas. (Baca juga: Analisis Kecelakaan Pesawat Latih T-50i: Tantangan Kelaikan Udara TNI AU). Kejadian-kejadian ini menjadi pengingat konstan akan risiko yang melekat pada operasi penerbangan, terutama bagi pesawat tempur berkecepatan tinggi yang menuntut presisi dan kondisi prima. TNI AU secara berkala melakukan evaluasi dan pembaruan prosedur keselamatan, serta investasi dalam pemeliharaan armada untuk meminimalisir risiko dan memastikan kesiapan tempur.
Pentingnya Kelaikan Udara dan Pemeliharaan Rutin
Pesawat tempur Sukhoi, seperti Su-27 atau Su-30 yang dioperasikan TNI AU, merupakan aset strategis yang memerlukan perawatan intensif dan pengecekan kelaikan udara secara berkala. Insiden seperti ini seringkali memicu pertanyaan tentang faktor-faktor seperti usia pesawat, jam terbang, kondisi mesin, sistem pengereman, dan kesiapan pilot. Setiap pesawat tempur memiliki siklus perawatan yang ketat, meliputi inspeksi harian, inspeksi periodik, dan overhaul besar. Hasil investigasi nanti akan sangat krusial untuk menentukan apakah insiden ini berkaitan dengan kegagalan teknis, human error, atau faktor lingkungan lainnya. Transparansi dalam hasil investigasi menjadi penting untuk membangun kembali kepercayaan publik dan menunjukkan komitmen TNI AU terhadap standar keselamatan tertinggi dalam menjaga kedaulatan udara nasional.
Daerah
Air Terjun Kroengkrawia di Kanchanaburi Ditutup Total Akibat Hujan Deras dan Arus Sungai Meluap
Air Terjun Kroengkrawia di Kanchanaburi Ditutup Total Akibat Hujan Deras dan Arus Sungai Meluap
Otoritas Taman Nasional Khao Laem telah mengumumkan penutupan sementara Air Terjun Kroengkrawia bagi para pengunjung. Keputusan drastis ini diambil setelah wilayah tersebut dilanda hujan persisten selama beberapa hari, menyebabkan debit air sungai di sekitar air terjun meningkat drastis dan arusnya menjadi sangat deras. Langkah ini merupakan tindakan pencegahan penting untuk menjaga keselamatan wisatawan dari potensi bahaya.
Penutupan ini diberlakukan demi menghindari risiko kecelakaan yang dapat ditimbulkan oleh kondisi sungai yang ekstrem. Arus yang terlalu deras dapat menghanyutkan, membuat pijakan licin, dan bahkan memicu terjadinya banjir bandang atau longsor kecil di sekitar area air terjun. Taman Nasional Khao Laem, yang terletak di provinsi Kanchanaburi, Thailand, dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, termasuk air terjun Kroengkrawia yang menjadi daya tarik utama. Namun, pada saat musim hujan intens, keindahan ini dapat berubah menjadi ancaman jika tidak diantisipasi dengan baik oleh pihak berwenang.
Pengumuman penutupan ini disampaikan menyusul evaluasi menyeluruh oleh staf taman terhadap kondisi lapangan. Mereka menemukan bahwa tingkat bahaya telah mencapai ambang batas yang tidak dapat ditoleransi untuk aktivitas wisata. Wisatawan yang sudah berencana mengunjungi lokasi ini diminta untuk membatalkan atau menunda perjalanan mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Ancaman Arus Deras dan Potensi Banjir Bandang
Hujan persisten yang melanda wilayah Kanchanaburi selama beberapa waktu terakhir telah mengisi ulang sistem sungai dan anak-anak sungai yang mengalir menuju Air Terjun Kroengkrawia. Volume air yang melonjak tidak hanya meningkatkan kecepatan arus tetapi juga membawa material-material seperti dahan pohon, bebatuan, dan lumpur, yang semuanya dapat memperparah kondisi dan membahayakan siapa pun yang berada di dekatnya. Peningkatan debit air ini menciptakan kondisi berbahaya yang memerlukan tindakan cepat dari pihak pengelola taman.
Selain ancaman langsung dari arus yang deras, potensi banjir bandang selalu menjadi kekhawatiran utama di daerah pegunungan seperti Taman Nasional Khao Laem. Curah hujan tinggi dapat memicu genangan air yang tiba-tiba meningkat secara drastis dalam waktu singkat, membuat jalur-jalur penjelajahan dan area berenang tidak aman. Kondisi ini diperparah dengan visibilitas air yang buruk, menyulitkan pendeteksian bahaya di bawah permukaan.
- Arus Bawah yang Kuat: Mampu menghanyutkan orang dewasa sekalipun.
- Permukaan Batu yang Licin: Meningkatkan risiko terpeleset dan cedera serius.
- Potensi Longsor Kecil dan Pohon Tumbang: Material yang tidak stabil di tepian sungai.
- Visibilitas Air yang Buruk: Menyulitkan untuk melihat kedalaman atau rintangan di bawah air.
Dampak Penutupan Bagi Wisatawan dan Lingkungan
Penutupan Air Terjun Kroengkrawia tentu berdampak langsung pada sektor pariwisata lokal. Banyak wisatawan, baik domestik maupun internasional, telah merencanakan kunjungan mereka untuk menikmati keindahan alam Kanchanaburi. Dengan penutupan ini, rencana mereka harus diubah, yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi operator tur, penginapan, dan pedagang di sekitar taman nasional. Penting bagi wisatawan untuk selalu memantau informasi terbaru dari otoritas taman sebelum melakukan perjalanan.
Meskipun demikian, keputusan penutupan ini juga memiliki sisi positif bagi lingkungan. Periode tanpa interaksi manusia memungkinkan ekosistem air terjun dan sungai untuk memulihkan diri dari tekanan pariwisata. Arus deras dapat membantu membersihkan sedimen dan material organik yang menumpuk, sekaligus memberikan waktu bagi flora dan fauna lokal untuk beradaptasi tanpa gangguan. Ini adalah bagian dari manajemen konservasi yang bertanggung jawab.
- Pembatalan Rencana Perjalanan: Wisatawan diimbau mencari alternatif destinasi.
- Kerugian Pendapatan Lokal: Namun, prioritas utama adalah keselamatan.
- Peningkatan Kesadaran Keselamatan: Mengingatkan semua pihak akan risiko alam.
- Kesempatan Pemulihan Ekosistem: Lingkungan alami mendapatkan jeda dari aktivitas manusia.
Pentingnya Peringatan Dini dan Protokol Keselamatan
Otoritas taman nasional memiliki peran krusial dalam memantau kondisi cuaca dan hidrologi. Sistem peringatan dini yang efektif sangat vital untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan. Setiap peringatan atau instruksi dari penjaga taman harus dipatuhi secara ketat oleh semua pengunjung. Keselamatan individu dan kolektif bergantung pada kepatuhan terhadap protokol ini.
Insiden ini juga mengingatkan kita pada penutupan serupa di beberapa air terjun terkenal lainnya di Thailand, seperti Air Terjun Erawan beberapa tahun lalu akibat hujan lebat ekstrem, menunjukkan betapa krusialnya kepatuhan terhadap peringatan demi keselamatan bersama. Pengunjung harus selalu memeriksa informasi terbaru dari Departemen Taman Nasional, Margasatwa, dan Konservasi Tumbuhan Thailand (DNP) sebelum merencanakan perjalanan ke taman-taman nasional mana pun, terutama selama musim hujan.
Antisipasi Pembukaan Kembali dan Rekomendasi
Air Terjun Kroengkrawia akan tetap ditutup hingga kondisi cuaca dan debit air sungai kembali normal dan dianggap aman untuk umum. Pihak taman nasional akan terus memantau situasi secara cermat dan melakukan evaluasi keamanan menyeluruh sebelum memutuskan untuk membuka kembali. Proses ini meliputi pengecekan stabilitas jalur, pembersihan potensi reruntuhan, dan memastikan tidak ada lagi risiko yang mengancam pengunjung.
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Kanchanaburi dalam waktu dekat, disarankan untuk mencari informasi terkini dari situs web resmi Taman Nasional Khao Laem atau kantor pariwisata setempat. Prioritaskan selalu keselamatan dan hindari memaksakan diri untuk memasuki area yang telah dinyatakan tertutup, meskipun kondisi terlihat membaik. Nikmati keindahan alam dengan bijak dan bertanggung jawab, agar pengalaman liburan Anda tetap menyenangkan dan aman.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah4 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
