Internasional
Tim Penyelamat Tiongkok Berpacu Pulihkan Akses Jalan Kritis ke Perbatasan Nepal di Tibet
Perjuangan Tanpa Henti Tim Penyelamat di Perbatasan Himalaya
Tim penyelamat Tiongkok terus bekerja siang malam tanpa henti, menghadapi tantangan hujan lebat dan medan ekstrem, untuk memulihkan ruas terakhir jalan satu-satunya yang menuju ke persimpangan perbatasan Gyirong, sebuah pintu gerbang vital ke Nepal. Jalur krusial ini luluh lantak oleh tanah longsor dahsyat yang melanda wilayah tersebut pekan lalu, mengganggu konektivitas dan perdagangan antara kedua negara. Upaya pemulihan ini menunjukkan komitmen serius Tiongkok dalam menjaga stabilitas dan kelancaran arus barang serta manusia di koridor strategis Himalaya tersebut.
Bencana alam yang terjadi di wilayah otonom Tibet ini bukan hanya sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan juga mengancam jalur perdagangan penting dan kehidupan masyarakat lokal. Akses jalan yang terputus secara efektif mengisolasi pos perbatasan Gyirong, salah satu titik transit utama untuk barang-barang antara Tiongkok dan Nepal. Dengan kondisi geografis yang menantang dan cuaca yang tidak menentu, pekerjaan restorasi jalan ini menjadi sebuah perlombaan melawan waktu dan elemen alam.
Tantangan Berat di Medan Pegunungan Ekstrem
Pekerjaan restorasi ini jauh dari kata mudah. Tim penyelamat harus menghadapi kondisi medan pegunungan yang terjal dan tidak stabil, yang diperparah oleh curah hujan yang sering dan deras. Hujan berkelanjutan tidak hanya menghambat kemajuan tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan, membahayakan keselamatan para pekerja di lapangan. Peralatan berat harus digerakkan dengan sangat hati-hati di lereng curam, sementara material longsor berupa lumpur, bebatuan, dan puing-puing harus disingkirkan secara manual di beberapa titik yang sulit dijangkau.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi tim penyelamat meliputi:
- Medan Geografis: Area longsor berada di wilayah pegunungan tinggi Himalaya dengan topografi yang sangat kompleks dan rentan terhadap ketidakstabilan geologis.
- Cuaca Tidak Menentu: Hujan sering dan lebat memperlambat pekerjaan, mengubah tanah menjadi bubur, dan meningkatkan ancaman longsor kedua. Suhu rendah juga menjadi faktor penyulit.
- Skala Kerusakan: Jalan yang menjadi urat nadi utama hancur di beberapa titik kritis, membutuhkan upaya rekayasa yang masif untuk membangun kembali atau menstabilkan lereng.
- Aksesibilitas Logistik: Mengangkut alat berat, bahan bakar, dan persediaan ke lokasi terpencil di tengah bencana membutuhkan perencanaan logistik yang cermat dan seringkali berisiko.
Pihak berwenang setempat telah mengerahkan sumber daya maksimal, termasuk personel militer dan sipil, untuk memastikan pemulihan dapat berjalan secepat mungkin. Fokus utama saat ini adalah membuka kembali setidaknya jalur darurat agar pasokan penting dapat segera disalurkan.
Urgensi Pemulihan Jalur Perdagangan Vital Tiongkok-Nepal
Jalan yang rusak ini bukan sekadar jalur transportasi biasa; ia adalah komponen kunci dalam jaringan perdagangan antara Tiongkok dan Nepal. Pelabuhan darat Gyirong telah menjadi semakin penting sejak gempa bumi dahsyat Nepal pada tahun 2015, ketika pelabuhan Rasuwa/Kerung di dekatnya menjadi alternatif utama bagi pelabuhan Tatopani/Zhangmu yang lebih dahulu hancur. Penutupan akses ini secara langsung berdampak pada ekonomi lokal di kedua sisi perbatasan dan mengganggu rantai pasok regional.
Bencana ini, yang pertama kali dilaporkan secara luas pekan lalu dan memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha (baca laporan sebelumnya di sini), telah menghentikan aliran barang dari Tiongkok ke Nepal, yang meliputi komoditas esensial seperti bahan bakar, elektronik, pakaian, hingga bahan bangunan. Sebaliknya, ekspor Nepal ke Tiongkok juga terhambat. Hal ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang dan kelangkaan pasokan di Nepal, sebuah negara yang sangat bergantung pada impor dari Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok dan Nepal telah menjalin kerja sama erat dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan konektivitas lintas batas, termasuk pengembangan infrastruktur seperti jalan raya dan jalur kereta api. Jalur Gyirong adalah manifestasi dari upaya tersebut, menjadikannya arteri vital bagi ambisi ekonomi kedua negara. Oleh karena itu, percepatan pemulihan jalur ini menjadi prioritas utama untuk meminimalkan kerugian ekonomi dan menjaga hubungan bilateral.
Dampak Lebih Luas dan Prospek Pemulihan Jangka Panjang
Selain dampak ekonomi, penutupan jalan ini juga berpotensi mempengaruhi komunitas lokal yang tinggal di sepanjang rute. Akses terhadap layanan dasar, seperti medis atau pendidikan, bisa terganggu. Meskipun belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat longsor ini, evakuasi dan relokasi mungkin diperlukan di area yang masih rawan.
Pihak berwenang Tiongkok belum memberikan estimasi waktu pasti kapan jalan akan sepenuhnya pulih dan dapat digunakan kembali secara normal. Namun, dengan intensitas pekerjaan yang sedang berlangsung, diharapkan jalur darurat dapat segera dibuka. Pemulihan jangka panjang mungkin memerlukan penilaian geologis yang lebih komprehensif dan pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh untuk menghadapi ancaman bencana alam di masa depan. Pentingnya jalur perbatasan Gyirong bagi konektivitas regional antara Tiongkok dan Nepal tidak dapat diremehkan, dan pemulihannya menjadi cerminan ketahanan dan tekad di tengah tantangan alam yang berat. (Lihat bagaimana perbatasan ini menjadi urat nadi perdagangan Tiongkok-Nepal).
Internasional
Korea Utara Uji Torpedo Berteknologi AI, Picu Kekhawatiran Global Baru
Korea Utara Uji Torpedo Berteknologi AI, Picu Kekhawatiran Global Baru
Korea Utara dilaporkan berhasil melakukan uji coba sistem senjata torpedo bawah air baru yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada Kamis lalu. Kantor berita pemerintah KCNA mengklaim pengujian tersebut merupakan langkah signifikan dalam pengembangan angkatan laut negara itu dan untuk mengonfirmasi peningkatan teknologi. Klaim Pyongyang ini segera memicu kekhawatiran baru di kalangan komunitas internasional mengenai laju modernisasi militer Korea Utara dan implikasi global dari proliferasi senjata otonom yang semakin canggih.
Uji coba ini terjadi di tengah ketegangan yang terus-menerus di Semenanjung Korea, dengan Pyongyang yang secara agresif mengejar pengembangan senjata canggihnya meskipun menghadapi sanksi internasional yang melumpuhkan. Pengumuman ini tidak hanya menegaskan tekad Korea Utara untuk memperkuat kemampuan militernya, tetapi juga membuka diskusi kritis tentang peran AI dalam peperangan modern dan potensi ancaman yang ditimbulkannya terhadap keamanan global.
Lompatan Teknologi Militer Pyongyang
Pengumuman mengenai uji coba torpedo berbasis AI ini menyoroti ambisi Korea Utara untuk secara agresif memperbarui kemampuan militernya di tengah sanksi internasional yang ketat. Selama beberapa tahun terakhir, rezim Kim Jong Un secara konsisten memprioritaskan pengembangan beragam senjata canggih, mulai dari rudal balistik antarbenua hingga kapal selam baru, menunjukkan komitmen terhadap modernisasi yang komprehensif. Penggunaan teknologi AI dalam sistem senjata bawah air menandai pergeseran kualitatif, yang berpotensi memberikan keunggulan strategis dalam pengintaian, penargetan, dan kemampuan menyerang di bawah permukaan laut.
KCNA, dalam laporannya, menekankan bahwa uji coba ini berhasil memverifikasi "keandalan dan kemampuan operasional" sistem tersebut, meskipun detail teknis lebih lanjut tidak dirilis secara publik. Ini bukan kali pertama Korea Utara mengklaim kemajuan signifikan dalam teknologi militernya. Sebelumnya, mereka telah memamerkan kapasitas untuk mengembangkan hulu ledak nuklir miniatur dan meluncurkan rudal dari kapal selam, yang secara kolektif meningkatkan ancaman terhadap stabilitas regional dan memicu kecaman keras dari negara-negara tetangga serta komunitas internasional.
Implikasi Torpedo Berbasis AI
Integrasi kecerdasan buatan dalam sistem persenjataan menimbulkan pertanyaan etis dan strategis yang kompleks. Torpedo AI, secara teori, dapat beroperasi dengan tingkat otonomi yang lebih tinggi, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat di medan perang dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan situasi tanpa intervensi manusia langsung. Ini bisa berarti:
- Peningkatan akurasi dan efisiensi target.
- Kemampuan untuk menghindari tindakan balasan dan deteksi musuh.
- Potensi untuk beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya atau tidak dapat diakses bagi manusia.
Bagi Korea Utara, pengembangan ini dapat diterjemahkan menjadi sarana deterensi yang lebih kuat terhadap potensi intervensi asing dan meningkatkan kapasitasnya untuk melumpuhkan target maritim. Namun, teknologi semacam ini juga memunculkan kekhawatiran serius mengenai potensi kesalahan perhitungan, eskalasi konflik yang tidak disengaja, dan tantangan dalam mengendalikan sistem yang semakin otonom. Organisasi-organisasi internasional dan pakar etika telah berulang kali menyerukan pembatasan penggunaan senjata otonom mematikan (LAWS), tetapi perkembangan di Korea Utara ini menunjukkan bahwa perlombaan senjata AI mungkin sudah dimulai.
Sejarah Uji Coba dan Ambisi Korea Utara
Uji coba torpedo AI ini harus dilihat dalam konteks sejarah panjang Korea Utara dalam mengembangkan dan memamerkan kemampuan militernya. Sejak era Kim Il Sung, negara tersebut telah berinvestasi besar-besaran dalam program senjata, meskipun sumber daya ekonominya terbatas. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, program ini semakin dipercepat, ditandai dengan serangkaian uji coba rudal balistik, nuklir, dan pengembangan kapal selam yang ambisius.
Pyongyang secara konsisten menyatakan bahwa pengembangan militernya adalah untuk pertahanan diri dari ancaman eksternal, khususnya dari Amerika Serikat dan Korea Selatan. Meskipun ada upaya diplomatik di masa lalu, termasuk pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan mantan Presiden AS Donald Trump, denuklirisasi Semenanjung Korea masih jauh dari kenyataan. Sebaliknya, setiap jeda dalam dialog sering kali diikuti dengan peluncuran uji coba senjata baru, menegaskan tekad Pyongyang untuk terus memperkuat kapasitas militer mereka, terlepas dari kecaman dan sanksi internasional. Peristiwa ini juga mengingatkan pada klaim uji coba serupa di masa lalu, termasuk "Haeil" atau drone nuklir bawah air, yang juga dirancang untuk menciptakan "tsunami radioaktif", menunjukkan tren peningkatan inovasi dalam persenjataan maritim mereka.
Tantangan Keamanan Regional dan Global
Langkah Korea Utara untuk mengembangkan senjata otonom seperti torpedo AI menghadirkan tantangan signifikan bagi keamanan di Semenanjung Korea dan Asia Timur. Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, akan melihat pengembangan ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan maritim mereka. Ini kemungkinan akan memicu respons dari negara-negara tersebut untuk memperkuat pertahanan mereka sendiri dan berinvestasi dalam teknologi penangkal.
Amerika Serikat, yang memiliki kehadiran militer signifikan di kawasan itu, juga akan memantau dengan cermat perkembangan ini, karena berpotensi mengubah dinamika kekuatan regional. Di tingkat global, pengujian ini mempercepat diskusi tentang urgensi regulasi internasional terhadap senjata otonom. Dengan semakin banyaknya negara yang mengeksplorasi AI untuk tujuan militer, ada risiko eskalasi yang tidak terkendali dan peningkatan ketidakpastian dalam strategi pertahanan global. Komunitas internasional perlu mencari cara efektif untuk menekan Korea Utara agar menghentikan pengembangan senjata semacam itu, sambil juga mempromosikan kerangka kerja untuk mencegah perlombaan senjata AI global yang berbahaya yang dapat mengancam perdamaian dan stabilitas dunia.
Internasional
Flu Burung H5N1 Dikonfirmasi di Pulau Sub-Antartika Australia, Ancam Populasi Anjing Laut Gajah Rentan
Australia Konfirmasi Kasus Flu Burung H5N1 di Pulau Sub-Antartika, Ancam Satwa Liar Rentan
Australia baru-baru ini mengonfirmasi temuan pertama kasus flu burung H5N1 di wilayah terpencilnya, Pulau Macquarie. Virus mematikan ini terdeteksi pada populasi anjing laut gajah yang rentan di pulau sub-Antartika tersebut, memicu alarm serius mengenai potensi dampaknya terhadap ekosistem yang rapuh dan keanekaragaman hayati unik di sana.
Penemuan ini menandai sebuah momen krusial dalam sejarah biosekuriti Australia, karena ini adalah konfirmasi H5N1 pertama di wilayah kedaulatan mereka. Lokasi pulau yang terpencil, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, menambah kompleksitas dan urgensi situasi. Para ilmuwan dan otoritas kesehatan kini berpacu dengan waktu untuk memahami skala penyebaran dan mitigasi risiko lebih lanjut.
Mengapa Pulau Macquarie Sangat Penting?
Pulau Macquarie adalah cagar alam yang dilindungi dan rumah bagi jutaan burung laut dan mamalia laut, termasuk empat spesies pinguin dan populasi anjing laut gajah selatan yang signifikan. Keberadaannya yang terisolasi membuatnya menjadi laboratorium alami yang penting bagi penelitian ekologi dan konservasi. Deteksi H5N1 di sini menimbulkan kekhawatiran besar karena:
- Isolasi Ekologis: Spesies di pulau terpencil seringkali tidak memiliki kekebalan terhadap patogen yang berasal dari luar, membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit baru.
- Kepadatan Populasi: Populasi mamalia laut yang padat dapat memfasilitasi penyebaran cepat virus di antara individu.
- Peran Anjing Laut Gajah: Anjing laut gajah adalah predator puncak dan perenang jarak jauh, berpotensi menjadi vektor penularan virus ke wilayah Antartika atau sub-Antartika lainnya.
Kehadiran virus ini pada anjing laut gajah adalah hal yang sangat mengkhawatirkan. Mamalia laut, termasuk anjing laut, semakin sering terinfeksi H5N1 di berbagai belahan dunia, menunjukkan adaptasi virus yang mengkhawatirkan untuk melompati batas spesies.
Ancaman Flu Burung H5N1 yang Terus Meluas
Flu burung H5N1 telah menjadi ancaman kesehatan hewan global selama lebih dari dua dekade. Varian virus saat ini, klad 2.3.4.4b, telah menyebar secara agresif di seluruh dunia sejak 2021, menyebabkan wabah besar pada unggas liar dan ternak, serta peningkatan infeksi pada mamalia. Sebelumnya, H5N1 telah ditemukan di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, serta Afrika, memengaruhi jutaan burung dan menyebabkan kerugian ekonomi yang substansial. Penemuan di wilayah Australia ini menegaskan jangkauan global virus yang mengkhawatirkan.
Para ahli kesehatan hewan global, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah secara konsisten menyerukan peningkatan pengawasan dan upaya mitigasi. “Peningkatan kasus H5N1 pada mamalia merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan dan memerlukan pemantauan ketat,” demikian peringatan dari WHO pada laporan sebelumnya mengenai penyebaran virus ini. Informasi lebih lanjut mengenai H5N1 dapat ditemukan di situs WHO.
Dampak Potensial dan Respons Australia
Penemuan ini memiliki implikasi serius, baik bagi ekosistem Pulau Macquarie maupun biosekuriti Australia secara lebih luas. Pemerintah Australia, melalui departemen terkait, diperkirakan akan meningkatkan langkah-langkah pengawasan dan penelitian di pulau tersebut. Respons awal kemungkinan meliputi:
* Pengawasan Ketat: Pemantauan intensif terhadap populasi anjing laut gajah dan spesies rentan lainnya untuk mendeteksi penyebaran lebih lanjut.
* Pengambilan Sampel dan Analisis: Pengumpulan sampel tambahan untuk memahami strain virus, tingkat virulensi, dan rute penularan.
Ini bukan kali pertama Australia menghadapi tantangan biosekuriti terkait flu. Meskipun Australia memiliki catatan yang baik dalam mengelola wabah penyakit hewan, lokasi terpencil Pulau Macquarie menghadirkan tantangan logistik yang unik. Penemuan ini juga menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan berkelanjutan terhadap penyakit yang muncul dari lingkungan alam dan potensinya untuk menyebar melintasi batas geografis.
Para ahli ekologi dan virologi global akan memantau situasi di Pulau Macquarie dengan seksama, mengingat potensi dampak yang luas terhadap keanekaragaman hayati dan sebagai indikator lebih lanjut tentang adaptasi H5N1 yang berkelanjutan pada spesies mamalia. Krisis ini menekankan perlunya kolaborasi internasional yang kuat dalam menghadapi ancaman kesehatan global yang bersifat transboundary.
Internasional
PBB Peringatkan Jutaan Orang Terancam Kemiskinan Akibat Guncangan Ekonomi dan Iklim
THEOPINIONNEWS – Bangsa (PBB) menyuarakan peringatan keras mengenai ancaman kemiskinan yang kian meluas di seluruh dunia. Jutaan orang berpotensi terjerumus ke dalam jurang kemiskinan ekstrem. Peringatan ini muncul di tengah lonjakan biaya energi, dampak intens fenomena iklim El Nino, dan kenaikan suku bunga global yang berkelanjutan. Kombinasi faktor-faktor ini mendorong negara-negara rentan ke ambang kehancuran akibat serangkaian krisis berulang. Pejabat pembangunan PBB menegaskan urgensi situasi ini, menyerukan perhatian global dan tindakan segera.
Ancaman Kemiskinan Global Kian Nyata
Direktur pembangunan PBB menyoroti bagaimana ekonomi global menghadapi tantangan multisektoral yang belum pernah terjadi sebelumnya. Konflik geopolitik, seperti guncangan perang yang disebut dalam laporan awal, telah menambah lapisan kompleksitas pada ketidakpastian pasar. Meskipun rincian spesifik mengenai dampak langsung dari guncangan geopolitik tersebut terhadap angka kemiskinan tidak dijelaskan lebih lanjut dalam laporan ini, jelas bahwa guncangan semacam itu memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada. Negara-negara berkembang, khususnya, menanggung beban terberat dari gejolak ini, dengan kemampuan fiskal yang terbatas untuk menyerap atau merespons krisis. Ini merupakan pengingat penting bahwa stabilitas geopolitik memainkan peran krusial dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Peringatan ini menggemakan kekhawatiran yang sudah sering disampaikan dalam berbagai forum internasional. Laporan-laporan sebelumnya dari lembaga seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyoroti kerentanan ekonomi global terhadap guncangan eksternal. Isu-isu tentang inflasi, utang negara, dan dampak perubahan iklim telah menjadi sorotan utama, menandakan bahwa masalah kemiskinan ini bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari krisis yang terus berlanjut.
Tiga Faktor Pendorong Utama Krisis
Tiga pilar utama yang dipercaya PBB sebagai pemicu lonjakan kemiskinan adalah:
- Lonjakan Biaya Energi: Harga energi yang terus meroket membebani rumah tangga dan industri. Konsumen di seluruh dunia merasakan dampak langsung pada tagihan listrik, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya. Bagi negara-negara pengimpor energi, ini berarti pengeluaran valuta asing yang lebih besar, menekan neraca pembayaran, dan memicu inflasi. Bisnis-bisnis kecil dan menengah berjuang mempertahankan operasi mereka, yang seringkali menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan memperparah tingkat pengangguran.
- Fenomena El Nino Intens: El Nino membawa pola cuaca ekstrem yang mengganggu produksi pertanian secara global. Kekeringan parah di satu wilayah dan banjir bandang di wilayah lain menghancurkan panen, mengurangi pasokan pangan, dan menyebabkan lonjakan harga makanan. Ini secara langsung mengancam ketahanan pangan, terutama di komunitas yang sangat bergantung pada pertanian subsisten yang rentan terhadap perubahan iklim.
- Suku Bunga Tinggi: Kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, sebagai upaya menekan inflasi, memiliki efek samping signifikan. Bagi negara-negara berkembang dengan tingkat utang yang tinggi, biaya pembayaran utang menjadi jauh lebih mahal. Ini membatasi ruang fiskal pemerintah untuk berinvestasi dalam layanan publik esensial seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, yang vital untuk pengentasan kemiskinan.
Mendesaknya Aksi Kolektif Global
Situasi ini menuntut respons global yang terkoordinasi dan cepat. PBB menekankan pentingnya dukungan internasional bagi negara-negara yang paling terdampak. Ini termasuk:
- Mekanisme pembiayaan yang lebih fleksibel dan akses utang yang berkelanjutan bagi negara-negara berpenghasilan rendah.
- Investasi dalam sistem ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
- Diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang fluktuatif harganya.
- Penguatan jaring pengaman sosial untuk melindungi masyarakat paling rentan dari guncangan ekonomi.
PBB melalui berbagai programnya, termasuk upaya pengentasan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terus bekerja keras mengatasi tantangan ini. Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada satu organisasi, melainkan pada komitmen kolektif dari semua negara anggota dan pemangku kepentingan global. Mengatasi kemiskinan ekstrem memerlukan pendekatan holistik yang mencakup kebijakan ekonomi makro yang bijaksana, adaptasi iklim, dan kerja sama multilateral yang kuat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas dan kemakmuran global.
Baca lebih lanjut tentang upaya PBB dalam pengentasan kemiskinan global di sini: UNDP: Mengakhiri Kemiskinan.
-
Daerah6 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi7 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah7 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah7 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Olahraga7 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal8 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah6 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
