Pendidikan
Video Viral Guru Peluk Cium Siswa SMP di NTT: Sorotan Kritis Etika dan Batasan Profesionalisme
Video Viral Guru Peluk Cium Siswa SMP di NTT: Sorotan Kritis Etika dan Batasan Profesionalisme
Sebuah video yang menampilkan seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) tengah memeluk dan mencium sejumlah siswanya di dalam kelas, telah menyebar luas dan viral di berbagai platform media sosial. Kejadian yang berlangsung di sebuah sekolah di wilayah Nusa Tenggara Timur ini sontak memicu beragam reaksi dan perdebatan hangat di kalangan publik, menyoroti kembali batas-batas etika dan profesionalisme dalam interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan sang guru melakukan kontak fisik yang intens dengan murid-muridnya, sebuah pemandangan yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai bentuk kasih sayang dan keakraban, namun oleh pihak lain dinilai melampaui batas kewajaran dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan kerentanan bagi siswa. Kecepatan penyebaran video ini menunjukkan betapa sensitifnya isu yang melibatkan figur pendidik dan anak-anak di lingkungan sekolah, serta bagaimana platform digital memperkuat respons publik terhadap insiden semacam ini.
Dilema Etika dan Batasan Profesionalisme Guru
Kasus ini secara fundamental mengangkat pertanyaan penting mengenai kode etik profesi guru dan ekspektasi masyarakat terhadap perilaku pendidik. Meskipun kasih sayang dan kepedulian merupakan esensi dari profesi guru, cara ekspresi kasih sayang tersebut harus selalu berada dalam koridor profesionalisme yang ketat, terutama mengingat posisi otoritas dan pengaruh yang dimiliki seorang guru terhadap siswanya. Batasan interaksi fisik menjadi krusial untuk mencegah interpretasi yang salah, melindungi siswa dari potensi kerugian, dan menjaga martabat profesi guru.
- Aspek Psikologis: Interaksi fisik seperti memeluk dan mencium, meskipun mungkin dimaksudkan secara positif, dapat ditafsirkan berbeda oleh siswa, terutama yang masih dalam tahap perkembangan emosional.
- Aspek Profesional: Kode etik guru secara umum menekankan pada menjaga jarak profesional dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan bias, ketidaknyamanan, atau eksploitasi.
- Aspek Budaya dan Sosial: Norma sosial dan budaya di berbagai daerah dapat mempengaruhi persepsi terhadap perilaku guru, namun standar profesionalisme harus tetap menjadi acuan utama.
Reaksi Publik dan Tanggung Jawab Institusi Pendidikan
Reaksi publik terhadap video ini terpolarisasi. Ada yang membela tindakan guru tersebut sebagai bentuk keakraban semata, menganggapnya tidak lebih dari ekspresi kehangatan yang lazim di beberapa komunitas. Namun, suara-suara yang lebih kritis menuntut adanya investigasi mendalam, mengingat potensi dampak negatif yang bisa timbul dari interaksi fisik yang dianggap tidak pantas, terutama di ruang lingkup sekolah yang seharusnya menjadi zona aman bagi anak-anak.
Institusi pendidikan, termasuk kepala sekolah, dinas pendidikan daerah, dan pihak berwenang lainnya, memiliki tanggung jawab besar untuk menanggapi insiden ini secara serius. Langkah-langkah yang perlu diambil meliputi:
- Investigasi Menyeluruh: Melakukan penyelidikan faktual untuk memahami konteks dan niat di balik tindakan guru, serta memastikan tidak ada pelanggaran yang merugikan siswa.
- Peninjauan Kode Etik: Mengkaji dan mengkomunikasikan kembali pedoman etika guru kepada seluruh staf pengajar, memastikan pemahaman yang seragam tentang batasan profesional.
- Perlindungan Siswa: Memastikan kesejahteraan psikologis dan fisik siswa yang terlibat, serta memberikan dukungan jika diperlukan.
Menghubungkan dengan Isu Perlindungan Anak di Sekolah
Insiden semacam ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia dan seringkali memicu diskusi tentang perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan lembaga terkait lainnya secara konsisten menyerukan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, bebas dari kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi dalam bentuk apapun. Kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak di sekolah tidak hanya terbatas pada kekerasan fisik yang kasat mata, tetapi juga mencakup batasan interaksi yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan psikologis siswa. KPAI sendiri terus mendorong berbagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan, sebuah misi yang relevan dengan setiap insiden yang mengancam rasa aman siswa.
Pelajaran dan Rekomendasi untuk Masa Depan
Dari insiden viral ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik untuk seluruh ekosistem pendidikan:
1. Pelatihan Etika Berkelanjutan: Peningkatan program pelatihan etika dan profesionalisme bagi guru secara berkala, termasuk simulasi kasus dan diskusi terbuka tentang batasan interaksi.
2. Transparansi dan Akuntabilitas: Adanya mekanisme pelaporan yang jelas dan aman bagi siswa, orang tua, atau staf sekolah untuk melaporkan potensi pelanggaran etika tanpa rasa takut.
3. Peran Pengawas Sekolah: Pengawas sekolah dan kepala sekolah harus proaktif dalam memantau interaksi guru dan siswa, serta memberikan bimbingan yang diperlukan.
4. Edukasi Orang Tua: Melibatkan orang tua dalam dialog tentang standar perilaku yang diharapkan dari guru dan peran mereka dalam mengawasi lingkungan belajar anak.
Insiden video viral ini harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Membangun kepercayaan dan lingkungan belajar yang positif memerlukan tidak hanya dedikasi akademik, tetapi juga komitmen teguh terhadap etika, profesionalisme, dan perlindungan optimal bagi setiap anak didik.
Pendidikan
Akurasi Dipertanyakan: Thailand Tetap Andalkan Tes Feses untuk Infeksi Cacing Hati
Otoritas Kesehatan Thailand Ragukan Akurasi Uji Cacing Hati Berbasis Urine, Pertahankan Pemeriksaan Feses Standar
Bangkok – Otoritas kesehatan Thailand secara resmi memutuskan untuk tetap menggunakan pemeriksaan feses sebagai metode standar diagnosis infeksi cacing hati, menyusul hasil uji lapangan yang meragukan terhadap kit skrining urine terbaru. Keputusan ini diambil setelah serangkaian tes lanjutan mengungkapkan hanya empat kasus infeksi terkonfirmasi dari 292 mahasiswa universitas yang sebelumnya dinyatakan positif oleh kit urine tersebut, menimbulkan pertanyaan serius mengenai kinerja alat diagnostik inovatif ini dalam skenario dunia nyata.
Pengujian ketat ini, yang melibatkan populasi mahasiswa, secara terang-terangan menyoroti kesenjangan signifikan antara potensi sebuah inovasi diagnostik dan performa aktualnya di lapangan. Meskipun kit urine digadang-gadang sebagai terobosan yang lebih mudah dan tidak invasif, data terbaru memaksa pemerintah untuk kembali pada metode yang telah terbukti akurat dan andal, meskipun memiliki keterbatasan dalam skala implementasi.
Evaluasi Kritis Kit Uji Urine: Dari Harapan ke Realita
Sebelumnya, pengembangan kit skrining urine untuk infeksi cacing hati telah menarik perhatian besar. Para ahli dan otoritas kesehatan sempat menaruh harapan tinggi pada teknologi ini sebagai solusi potensial untuk program skrining massal, terutama di wilayah-wilayah endemik Thailand, seperti Isan di timur laut, tempat prevalensi Opisthorchiasis (infeksi cacing hati) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Kemudahan penggunaan dan sifatnya yang non-invasif diharapkan dapat meningkatkan tingkat partisipasi dalam skrining, mempercepat deteksi, dan pada akhirnya, mengurangi beban penyakit.
Dengan optimisme tersebut, uji coba lapangan pada 292 mahasiswa universitas yang awalnya menunjukkan hasil positif menggunakan kit urine tersebut menjadi krusial. Namun, proses verifikasi lanjutan dengan metode standar—pemeriksaan feses—menghasilkan angka yang sangat kontras. Dari ratusan yang awalnya positif, hanya empat individu yang benar-benar terbukti terinfeksi cacing hati. Perbedaan mencolok ini secara dramatis meredupkan harapan yang sempat membumbung tinggi, mengubah fokus dari potensi inovasi menjadi evaluasi kritis terhadap keandalan.
Kesenjangan Akurasi: Mengapa Hasil Positif Palsu Menjadi Ancaman
Tingkat positif palsu yang sangat tinggi, di mana hampir semua hasil positif awal dari kit urine tidak terkonfirmasi, memiliki implikasi yang mendalam dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Pertama, hal ini dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu pada individu yang menerima hasil positif awal. Bayangkan ratusan mahasiswa yang tiba-tiba dihadapkan pada kemungkinan infeksi serius, padahal sebagian besar dari mereka sebenarnya sehat.
Kedua, tingginya positif palsu menyebabkan pemborosan sumber daya medis yang berharga. Waktu, tenaga, dan peralatan laboratorium yang digunakan untuk melakukan tes lanjutan pada kasus-kasih yang tidak perlu akan mengalihkan fokus dari kebutuhan sesungguhnya. Lebih jauh, kepercayaan publik terhadap program skrining kesehatan dapat terkikis jika alat diagnostik yang digunakan menunjukkan ketidakakuratan yang signifikan. Infeksi cacing hati, jika tidak ditangani, dapat memicu komplikasi serius termasuk kolangiokarsinoma atau kanker saluran empedu. Oleh karena itu, akurasi diagnosis adalah fondasi utama dalam strategi pencegahan dan pengobatan yang efektif.
- Risiko Kecemasan: Mahasiswa menghadapi kekhawatiran yang tidak berdasar.
- Pemborosan Sumber Daya: Menguras waktu dan dana untuk kasus yang tidak ada.
- Erosi Kepercayaan: Merusak keyakinan publik pada alat diagnostik baru.
- Penundaan Diagnosa Akurat: Potensi terlambatnya penanganan kasus sebenarnya.
Pemeriksaan Feses: Standar Emas yang Tetap Relevan
Meskipun kemajuan teknologi diagnostik terus berupaya mencari metode yang lebih efisien, pemeriksaan feses mikroskopis tetap menjadi "standar emas" yang diakui secara global untuk mendeteksi infeksi cacing hati. Metode ini melibatkan identifikasi langsung telur cacing dalam sampel feses pasien, menawarkan tingkat spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi jika dilakukan oleh teknisi laboratorium yang terlatih. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pendekatan yang teliti seperti ini sangat penting dalam area endemik.
Tentu saja, pemeriksaan feses tidak tanpa tantangan. Proses pengambilan sampel yang invasif dapat menyebabkan keengganan pasien, terutama dalam program skrining massal. Selain itu, metode ini membutuhkan peralatan laboratorium dan keahlian teknis yang spesifik, yang mungkin tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan pedesaan atau sumber daya terbatas. Namun, hasil dari uji coba kit urine ini sekali lagi menegaskan bahwa keandalan dan akurasi tidak dapat dikompromikan, mendorong otoritas untuk tetap berpegang pada metode yang telah terbukti, meskipun kurang praktis.
Implikasi Lebih Luas untuk Inovasi Diagnostik dan Kesehatan Masyarakat
Pengalaman Thailand dengan kit skrining urine ini menawarkan pelajaran penting bagi pengembang diagnostik dan pembuat kebijakan kesehatan di seluruh dunia. Ini adalah pengingat bahwa performa suatu alat dalam kondisi laboratorium terkontrol mungkin sangat berbeda dari kinerjanya di lingkungan "dunia nyata" yang kompleks, di mana faktor-faktor seperti kondisi penyimpanan, variabilitas sampel, dan pelatihan pengguna dapat memengaruhi hasil.
Kritik tajam terhadap performa kit ini menekankan perlunya validasi yang lebih ketat dan pengujian yang ekstensif sebelum suatu inovasi diagnostik diterapkan secara luas dalam program kesehatan masyarakat. Untuk masa depan, upaya harus terus difokuskan pada pengembangan alat diagnostik yang tidak hanya inovatif tetapi juga memenuhi standar akurasi, keandalan, dan skalabilitas yang tinggi. Tantangan pengendalian cacing hati di Thailand dan wilayah endemik lainnya masih membutuhkan solusi yang cerdas, namun tidak mengorbankan integritas ilmiah dan keselamatan pasien.
Pendidikan
MPLS Jakarta: Dari Ancaman Bom hingga Gerakan Orang Tua Mengantar Anak, Keamanan Jadi Prioritas Utama
JAKARTA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari Senin, 13 Juli, di sejumlah wilayah Ibukota menghadirkan dinamika yang kompleks, mencerminkan tantangan dan harapan di awal tahun ajaran baru. Jika di satu sisi kegembiraan dan antusiasme menyelimuti, di sisi lain, bayang-bayang insiden tak terduga sempat menyelimuti, menyoroti pentingnya kewaspadaan dan protokol keamanan yang ketat di lingkungan pendidikan.
Di Jakarta Selatan, suasana hari pertama sekolah di SDN Serengseng Sawah 15 Pagi terpaksa berubah tegang. Acara MPLS yang seharusnya menjadi momen perkenalan bagi para siswa baru, mendadak urung dilaksanakan. Pembatalan ini bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh teror ancaman bom yang diterima pihak sekolah. Informasi mengenai ancaman tersebut memicu respons cepat dari aparat keamanan dan sekolah, yang segera mengambil langkah preventif untuk memastikan keselamatan seluruh warga sekolah.
Insiden seperti ini tidak hanya sekadar mengganggu jadwal kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi siswa, orang tua, dan tenaga pendidik. Kecemasan dan ketidakpastian seketika menggantikan kegembiraan yang seharusnya mendominasi hari pertama. Peristiwa ini secara tegas mengingatkan kita semua akan kerentanan institusi pendidikan terhadap ancaman eksternal dan urgensi untuk senantiasa memperkuat sistem keamanan di setiap sekolah.
Ketegangan di Hari Pertama: Ancaman Bom Membayangi MPLS
Ancaman bom di SDN Serengseng Sawah 15 Pagi menjadi sorotan utama dalam rangkaian peristiwa hari pertama sekolah. Respons cepat dari pihak berwenang, termasuk kepolisian dan unit penjinak bom, adalah langkah krusial dalam mengelola situasi kritis seperti ini. Proses evakuasi dan sterilisasi area menjadi prioritas utama untuk memastikan tidak ada bahaya yang nyata. Meskipun ancaman tersebut kemudian dinyatakan tidak valid atau hanya gertakan, dampaknya terhadap operasional sekolah dan ketenangan publik sudah terjadi.
Kejadian ini memaksa sekolah dan orang tua untuk lebih serius mengevaluasi kesiapan menghadapi keadaan darurat. Pertanyaan muncul mengenai efektivitas komunikasi krisis, prosedur evakuasi, dan pelatihan bagi staf sekolah serta siswa. Insiden ini mengingatkan kita akan pentingnya protokol keamanan sekolah, sebuah topik yang sering kami bahas dalam artikel sebelumnya mengenai ‘Kesiapan Sekolah Menghadapi Ancaman di Lingkungan Pendidikan’. Sekolah harus memiliki rencana kontingensi yang jelas dan teruji, bukan hanya untuk bencana alam, tetapi juga untuk ancaman keamanan yang disengaja.
- Protokol Keamanan Dini: Sekolah harus memiliki sistem pelaporan ancaman yang cepat dan terintegrasi dengan aparat keamanan.
- Pelatihan Evakuasi: Latihan evakuasi rutin harus dilakukan untuk siswa dan staf, termasuk skenario ancaman keamanan.
- Komunikasi Krisis: Mekanisme komunikasi yang efektif dengan orang tua dan publik harus disiapkan untuk mencegah kepanikan.
- Dukungan Psikologis: Ketersediaan dukungan psikologis bagi siswa dan staf setelah insiden trauma.
Kontras Harmonis: Gerakan Orang Tua Mengantar Anak dan Maknanya
Berbanding terbalik dengan ketegangan yang menyelimuti satu sekolah, MPLS juga diwarnai dengan momen-momen hangat yang menunjukkan soliditas komunitas pendidikan. Fenomena ‘gerakan ayah antar anak’, atau lebih luas lagi, peran aktif orang tua mengantar buah hati di hari pertama sekolah, menjadi pemandangan yang mengharukan dan penuh makna. Di berbagai sekolah, para orang tua, khususnya para ayah, terlihat mendampingi anak-anak mereka, mengantarkan mereka hingga gerbang sekolah, bahkan ke dalam kelas.
Gerakan ini bukan sekadar tradisi, melainkan cerminan dari kesadaran orang tua akan pentingnya transisi mulus bagi anak-anak mereka memasuki lingkungan baru. Kehadiran orang tua memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak, membantu mereka mengatasi kecemasan perpisahan, serta membangun jembatan emosional antara rumah dan sekolah. Ini juga menjadi ajang bagi orang tua untuk mengenal lingkungan sekolah, bertemu guru, dan menjalin komunikasi awal yang vital untuk mendukung proses belajar anak ke depannya. Sikap proaktif ini memperkuat fondasi kolaborasi antara rumah dan sekolah, sebuah elemen kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan inklusif. Fenomena ini juga menegaskan bahwa, di balik potensi ancaman, semangat kebersamaan dan kepedulian komunitas tetap menjadi pilar utama.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai standar dan pedoman keamanan di lingkungan pendidikan, Anda dapat mengunjungi sumber-sumber terkait di Kompas.com yang membahas Pentingnya Protokol Kesehatan dan Keamanan di Sekolah.
Pendidikan
Siswa SRMP 18 Lombok Barat Pukau Publik Lewat Drama Putri Mandalika Berbahasa Inggris di Acara Open House
LOMBOK BARAT – Suasana semarak memenuhi aula Sekolah Rakyat Mataram Plus (SRMP) 18, saat siswa-siswi berbakat menunjukkan kebolehan mereka dalam acara Open House tahunan. Sorotan utama tertuju pada penampilan memukau mikro drama ‘Putri Mandalika’ yang siswa-siswi suguhkan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, berhasil menyedot perhatian ratusan tamu undangan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Aksi panggung ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen SRMP 18 dalam memberikan pendidikan berkualitas yang melampaui kurikulum standar, mendorong kreativitas, dan mengasah kemampuan berbahasa asing siswa sejak dini.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Seni Drama
SRMP 18 memilih legenda Putri Mandalika sebagai tema drama bukan tanpa alasan. Kisah yang sangat melekat dengan budaya dan sejarah lokal Lombok ini menjadi jembatan sempurna untuk memadukan kearifan lokal dengan inovasi pembelajaran global. Dengan membawakannya dalam bahasa Inggris, siswa tidak hanya belajar menghafal dialog, tetapi juga memahami nuansa cerita, ekspresi, dan intonasi bahasa asing secara kontekstual.
Proses persiapan drama ini melibatkan pelatihan intensif, mulai dari pengucapan yang tepat, penghayatan karakter, hingga koordinasi panggung. Ini merupakan strategi efektif dari SRMP 18 untuk membuat belajar bahasa Inggris menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan, jauh dari metode konvensional yang terkadang terasa membosankan. Para siswa kelas atas SRMP 18, yang menjadi pemeran utama, menunjukkan dedikasi tinggi dan kemampuan adaptasi yang luar biasa dalam menghidupkan karakter-karakter legendaris tersebut, sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi mereka dalam bahasa Inggris.
Menggali Potensi Siswa: Bukan Hanya Drama
Selain mikro drama yang menjadi magnet utama, Open House SRMP 18 juga menampilkan beragam keterampilan lain dari para siswa, membuktikan bahwa pendidikan di sekolah ini fokus pada pengembangan potensi holistik. Para siswa mengisi panggung dengan serangkaian penampilan yang mencerminkan bakat dan minat mereka di berbagai bidang:
- Pertunjukan tari tradisional Lombok yang energik, memamerkan kekayaan budaya lokal.
- Pembacaan puisi dan pidato inspiratif dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, mengasah kemampuan berbicara di depan umum.
- Pameran hasil karya seni rupa, mulai dari lukisan hingga kerajinan tangan, menunjukkan kreativitas visual siswa.
- Demonstrasi sains sederhana yang interaktif, menumbuhkan rasa ingin tahu dan pemikiran logis.
- Penampilan musik dari paduan suara dan ansambel alat musik tradisional, melatih kerjasama tim dan apresiasi seni.
Setiap penampilan mendapatkan apresiasi tinggi dari para hadirin, yang terlihat antusias mengikuti setiap segmen acara. Ini menegaskan bahwa SRMP 18 tidak hanya berinvestasi pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, keterampilan non-akademik, dan kepercayaan diri siswa, membentuk individu yang seimbang dan siap bersaing.
Pendidikan Berkualitas untuk Masa Depan Lombok Barat
Kesuksesan Open House tahun ini semakin mengukuhkan posisi SRMP 18 sebagai salah satu institusi pendidikan terdepan di daerah tersebut. Komitmen sekolah terhadap "pendidikan berkualitas" bukan sekadar slogan, melainkan tercermin dalam setiap program dan kegiatan yang sekolah rancang. Mulai dari kurikulum yang adaptif, fasilitas penunjang yang memadai, hingga tenaga pengajar yang inovatif dan berdedikasi tinggi.
Pihak sekolah berharap, melalui acara seperti ini, masyarakat dapat melihat langsung bagaimana SRMP 18 mempersiapkan generasi muda Lombok Barat untuk menghadapi tantangan global, tanpa melupakan akar budaya mereka. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi yang efektif antara pihak sekolah, siswa, orang tua, dan calon siswa, memperkuat ikatan komunitas pendidikan di Lombok Barat.
Sebagai perbandingan, konsep pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran bahasa asing juga banyak diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang pendekatan ini, Anda dapat membaca artikel tentang Pentingnya Mengintegrasikan Budaya Lokal dalam Kurikulum Bahasa Asing. Ini merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif SRMP 18 yang sebelumnya juga telah mendapatkan sorotan positif, menegaskan komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan transformatif bagi setiap siswa di Lombok Barat.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
