Connect with us

Internasional

Serangan Rudal Diduga Iran di Pangkalan Saudi Lukai 10 Tentara AS

Published

on

10 Tentara AS Terluka dalam Serangan Rudal di Pangkalan Militer Saudi

Sebuah serangan rudal yang diduga berasal dari Iran menyasar Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, mengakibatkan setidaknya sepuluh tentara Amerika Serikat (AS) mengalami luka-luka. Dua dari tentara yang terluka dilaporkan dalam kondisi parah. Insiden serius ini juga merusak beberapa pesawat AS yang sedang dalam proses pengisian bahan bakar di pangkalan tersebut. Anadolu Ajansi (AA) melaporkan peristiwa ini, mengutip informasi dari berbagai laporan media pada hari Jumat, menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan yang terus membara di kawasan Teluk.

Pangkalan Udara Prince Sultan, yang terletak di selatan Riyadh dekat Al-Kharj, merupakan fasilitas militer krusial bagi operasi AS di Timur Tengah. Keberadaan pasukan AS di sana telah menjadi poin penting dalam strategi pertahanan regional dan juga sebagai target potensial di tengah gejolak geopolitik. Serangan ini mengirimkan gelombang kejutan melalui koridor keamanan internasional, menyoroti kerentanan aset militer di tengah konflik proxy dan konfrontasi langsung yang semakin sering terjadi antara Iran dan sekutu-sekutu AS.

Rincian Insiden dan Kerugian yang Ditimbulkan

Laporan awal mengindikasikan bahwa serangan itu dilakukan dengan menggunakan rudal balistik atau jelajah, meskipun detail pasti mengenai jenis rudal dan lokasi peluncurannya masih dalam penyelidikan. Cedera yang dialami oleh tentara AS bervariasi, dengan dua korban parah yang memerlukan perawatan intensif. Kerusakan pada pesawat-pesawat yang sedang mengisi bahan bakar menunjukkan presisi target yang mengkhawatirkan dan potensi ancaman yang signifikan terhadap kapabilitas operasional AS di wilayah tersebut. Insiden ini bukan hanya menyebabkan kerugian fisik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pertahanan udara di pangkalan.

Pangkalan Udara Prince Sultan telah lama menjadi simbol kehadiran militer AS yang kuat di Arab Saudi, berperan vital dalam operasi kontraterorisme dan proyeksi kekuatan di Timur Tengah. Serangan ini secara terang-terangan menantang keamanan pangkalan tersebut dan berpotensi memicu respons keras dari Washington dan Riyadh. Investigasi lanjutan akan sangat penting untuk mengidentifikasi secara pasti pelaku di balik serangan ini dan bagaimana serangan tersebut berhasil menembus pertahanan yang seharusnya ketat.

Latar Belakang Ketegangan Regional yang Memanas

Serangan rudal ini terjadi di tengah periode ketegangan yang sangat tinggi antara Iran dan Amerika Serikat, serta sekutu-sekutu regional AS seperti Arab Saudi. Hubungan Iran dan AS telah memburuk drastis menyusul penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) dan penerapan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Tindakan tersebut telah mendorong Iran untuk merespons dengan berbagai cara, termasuk diduga mendukung kelompok-kelompok proxy di wilayah tersebut dan melakukan serangan terhadap fasilitas energi atau jalur pelayaran.

Konflik di Yaman, di mana koalisi yang dipimpin Arab Saudi memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran, sering kali menjadi panggung bagi serangan lintas batas. Houthi secara teratur melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi, dan meskipun Houthi sering mengklaim bertanggung jawab, AS dan Arab Saudi kerap menuduh Iran menyediakan teknologi dan pelatihan untuk serangan semacam itu. Insiden di Pangkalan Udara Prince Sultan ini memperburuk situasi yang sudah sangat tidak stabil, menambah daftar panjang insiden yang mengancam keamanan regional.

  • Januari 2020: Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani oleh AS di Baghdad, yang memicu balasan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak.
  • September 2019: Serangan drone dan rudal terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi, yang AS dan Arab Saudi tuduhkan Iran sebagai pelakunya.
  • Juni 2019: Serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Oman, yang memperburuk ketegangan maritim.

Untuk memahami lebih dalam dinamika konflik ini, Anda bisa merujuk pada analisis mendalam mengenai hubungan Iran dengan negara-negara lain di Timur Tengah dan dunia.

Reaksi dan Implikasi Geopolitik

Serangan terhadap pangkalan militer AS di Arab Saudi ini kemungkinan besar akan memicu serangkaian reaksi dari Washington dan Riyadh. Amerika Serikat kemungkinan akan mengutuk serangan tersebut dan menuntut akuntabilitas, bahkan mungkin mempertimbangkan opsi balasan. Arab Saudi, yang telah lama menjadi target serangan dari kelompok-kelompok yang didukung Iran, juga akan melihat ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatannya dan keamanan pasukannya.

Dampak geopolitik dari insiden ini bisa sangat luas. Ini berpotensi meningkatkan risiko konflik langsung antara AS dan Iran, yang dapat memiliki konsekuensi bencana bagi seluruh wilayah dan ekonomi global. Pasar minyak dapat bereaksi negatif terhadap ketidakpastian yang meningkat, sementara upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan akan menjadi semakin rumit. Komunitas internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi damai melalui dialog, meskipun serangan semacam ini semakin mempersulit jalan menuju de-eskalasi.

Menilik Sejarah Konfrontasi AS-Iran

Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran memiliki akar sejarah yang panjang, melampaui pemerintahan terkini. Sejak Revolusi Iran pada 1979, hubungan kedua negara ditandai oleh ketidakpercayaan mendalam, sanksi, dan konflik proksi. Insiden di Pangkalan Udara Prince Sultan adalah babak terbaru dalam narasi berkelanjutan ini, mengingatkan kita bahwa meskipun ada periode relatif tenang, api ketegangan di antara mereka tidak pernah padam sepenuhnya. Strategi "tekanan maksimum" AS dan upaya Iran untuk melawan sanksi telah menciptakan lingkaran setan eskalasi yang sulit diputus.

Serangan semacam ini, yang sering kali berada di ambang perang terbuka, dikenal sebagai "perang zona abu-abu". Ini adalah taktik di mana tindakan permusuhan dilakukan di bawah ambang batas yang memicu respons militer skala penuh, namun cukup signifikan untuk mengirim pesan atau mencapai tujuan strategis tertentu. Peristiwa ini menegaskan urgensi bagi para pemimpin global untuk menemukan cara yang efektif untuk mengelola dan, jika mungkin, menyelesaikan perbedaan yang mendalam ini demi stabilitas regional dan global yang lebih besar.

Internasional

Insiden Lebanon: Tiga Prajurit TNI Terluka dalam Ledakan Fasilitas PBB, Penyelidikan Berjalan

Published

on

BEIRUT – Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan misi kemanusiaan sebagai bagian dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon (UNIFIL) dilaporkan mengalami luka-luka. Insiden ini terjadi setelah sebuah ledakan melanda area fasilitas PBB di wilayah tersebut pada Jumat petang, 3 April 2020. Pihak TNI dan PBB kini tengah melancarkan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Penyelidikan Mendalam Atas Insiden Ledakan

Juru Bicara Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayor Jenderal Sugiono (nama dan pangkat diasumsikan untuk konteks laporan berita), mengonfirmasi insiden tersebut dan menegaskan bahwa kondisi ketiga prajurit dalam keadaan stabil. “Kami telah menerima laporan mengenai insiden ledakan yang mengakibatkan tiga prajurit terbaik kami mengalami luka-luka ringan hingga sedang. Mereka saat ini sedang mendapatkan perawatan medis intensif dan kondisi mereka stabil,” jelas Mayor Jenderal Sugiono dalam keterangan resminya. Ia menambahkan, investigasi internal dan koordinasi dengan pihak UNIFIL serta otoritas Libanon sedang berlangsung.

Insiden ledakan tersebut, yang rincian penyebabnya masih dalam tahap penyelidikan, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan pasukan perdamaian di wilayah yang kerap bergejolak. Ledakan dilaporkan mengenai area fasilitas yang digunakan oleh UNIFIL, namun belum ada informasi lebih lanjut mengenai jenis ledakan—apakah itu serangan disengaja, kecelakaan, atau dampak dari konflik yang lebih luas di perbatasan.

Komitmen Indonesia dalam Misi UNIFIL

Misi UNIFIL adalah salah satu misi perdamaian PBB yang paling menantang dan berisiko tinggi di dunia. Indonesia telah lama menjadi kontributor aktif dalam misi ini, mengirimkan ribuan prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda (Konga) untuk menjaga stabilitas dan membantu masyarakat Libanon. Konga memiliki peran krusial dalam pemeliharaan perdamaian, termasuk patroli di wilayah perbatasan, pembersihan ranjau, serta kegiatan sipil-militer untuk mendukung kehidupan warga setempat. Insiden ini adalah pengingat nyata akan bahaya yang selalu mengintai para penjaga perdamaian di medan tugas.

Menurut catatan, ini bukan kali pertama prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL menghadapi risiko dan insiden berbahaya. Beberapa tahun lalu, pernah terjadi insiden tembak-menembak di dekat area patroli pasukan Indonesia, menunjukkan kompleksitas dan ketegangan di wilayah tersebut. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan tinggi dan dukungan penuh dari komunitas internasional untuk memastikan keselamatan mereka yang bertugas di garis depan perdamaian. Informasi lebih lanjut mengenai mandat dan operasi UNIFIL dapat ditemukan di situs resmi PBB.

Dampak dan Langkah Selanjutnya

  • Ketiga prajurit yang terluka telah dievakuasi ke fasilitas medis PBB terdekat untuk perawatan lebih lanjut dan observasi.
  • UNIFIL telah meningkatkan status kewaspadaan dan patroli di sekitar fasilitas PBB pasca-insiden untuk mencegah kejadian serupa.
  • Tim investigasi gabungan yang terdiri dari personel TNI, UNIFIL, dan otoritas keamanan Libanon bekerja sama erat untuk mengumpulkan bukti dan kesaksian.
  • Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga telah menjalin komunikasi intensif dengan PBB dan pemerintah Libanon untuk memastikan penanganan terbaik.
  • Fokus utama investigasi adalah mengidentifikasi sumber ledakan, apakah itu akibat serangan dari kelompok bersenjata, sisa ranjau atau bom, atau insiden operasional yang tidak disengaja.

Pihak TNI memastikan bahwa insiden ini tidak akan menyurutkan semangat dan komitmen pasukan perdamaian Indonesia di Libanon. “Kami akan terus menjalankan mandat PBB dengan profesionalisme dan dedikasi penuh, sembari memprioritaskan keselamatan setiap prajurit yang bertugas,” pungkas Sugiono. Indonesia menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya PBB dalam menciptakan perdamaian abadi di Timur Tengah, meskipun harus dibayar dengan risiko tinggi yang dihadapi para prajurit di lapangan.

Continue Reading

Internasional

Diplomasi Sejarah dan Ekonomi Uzbekistan-Indonesia: Gubernur Samarkand Kunjungi Gresik Perkuat Ikatan Bilateral

Published

on

Gubernur Samarkand, Uzbekistan, Erkinjon Turdimov, melakukan kunjungan bersejarah ke Kabupaten Gresik, Jawa Timur, baru-baru ini. Ditemani oleh Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, Gubernur Turdimov berziarah ke Makam Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo yang sangat dihormati. Kunjungan ini bukan sekadar penghormatan terhadap tokoh penyebar Islam di Nusantara, melainkan juga sebuah momentum strategis untuk mempererat jalinan kerja sama di bidang sejarah, religi, dan ekonomi antara Uzbekistan dan Indonesia, khususnya dengan Kabupaten Gresik.

Kedatangan delegasi dari Samarkand disambut hangat oleh Bupati Gresik di kompleks Makam Maulana Malik Ibrahim. Suasana khidmat menyelimuti prosesi ziarah, yang menjadi simbol kuat ikatan spiritual dan historis yang telah terjalin lama antara dua peradaban besar ini. Maulana Malik Ibrahim, yang diyakini berasal dari wilayah yang kini menjadi Uzbekistan atau sekitarnya, merepresentasikan jembatan budaya yang menghubungkan Asia Tengah dengan Nusantara. Diskusi bilateral yang menyusul ziarah tersebut secara khusus membahas potensi eksplorasi lebih lanjut warisan budaya bersama, pengembangan wisata religi, serta peluang investasi dan perdagangan yang saling menguntungkan.

Mempererat Jalinan Sejarah dan Religi

Hubungan antara Samarkand dan Nusantara bukan hal baru; jalur perdagangan Jalur Sutra dan penyebaran Islam telah menjadi saksi bisu interaksi intensif selama berabad-abad. Samarkand, sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan ilmu pengetahuan di masa lalu, memiliki relevansi historis yang mendalam bagi Indonesia. Kunjungan Gubernur Turdimov ke Makam Maulana Malik Ibrahim menegaskan kembali pentingnya warisan budaya ini sebagai fondasi diplomasi modern.

  • Maulana Malik Ibrahim: Sosok penting dalam penyebaran Islam di Jawa, diyakini memiliki akar dari Asia Tengah, menjadikan makamnya titik pertemuan spiritual kedua wilayah.
  • Jalur Sutra: Menggambarkan konektivitas historis perdagangan dan budaya antara Asia Tengah, termasuk Samarkand, dan Nusantara.
  • Wisata Religi: Potensi besar untuk menarik wisatawan dari Uzbekistan yang tertarik pada jejak Islam di Indonesia, dan sebaliknya, memperkaya pengalaman wisata rohani.

Membangun Fondasi Kerja Sama Ekonomi

Selain aspek sejarah dan religi, kunjungan ini juga membuka pintu bagi peningkatan kerja sama ekonomi. Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, secara proaktif memaparkan berbagai potensi investasi dan keunggulan komparatif Kabupaten Gresik, mulai dari sektor industri, maritim, hingga pariwisata. Uzbekistan, dengan fokusnya pada pengembangan industri dan pariwisata, menemukan banyak titik temu untuk kolaborasi yang menguntungkan kedua belah pihak. Diskusi menjajaki kemungkinan pertukaran produk unggulan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta fasilitasi investasi lintas negara.

  • Sektor Unggulan Gresik: Industri pengolahan, pelabuhan internasional, serta potensi wisata bahari dan religi yang belum tergarap maksimal.
  • Peluang Investasi: Penjajakan investasi di sektor pariwisata, agrobisnis, dan infrastruktur untuk mendukung konektivitas.
  • Perdagangan Bilateral: Memperluas volume dan jenis komoditas yang diperdagangkan, mulai dari produk pertanian hingga kerajinan tangan khas.

Diplomasi Kebudayaan Lewat Ziarah yang Bermakna

Kunjungan ziarah oleh seorang pejabat tinggi negara asing memiliki makna diplomasi kebudayaan yang kuat. Ini menunjukkan penghargaan terhadap nilai-nilai bersama dan warisan sejarah yang membentuk identitas bangsa. Pendekatan melalui aspek religi dan sejarah seringkali lebih efektif dalam membangun jembatan antarnegara dibandingkan jalur diplomasi formal semata. Momen ini memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu simpul penting dalam jaringan peradaban Islam global.

Pemerintah Kabupaten Gresik telah lama mengupayakan pengembangan potensi wisata religi dan sejarahnya, seperti yang pernah kami ulas dalam artikel sebelumnya tentang ‘Potensi Gresik sebagai Destinasi Wisata Sejarah Islam Global’. Inisiatif ini sejalan dengan visi untuk menjadikan Gresik tidak hanya sebagai pusat industri, tetapi juga kota yang kaya akan nilai budaya dan spiritual. Upaya ini juga diharapkan mampu menarik perhatian lebih banyak wisatawan dan investor dari negara-negara yang memiliki ikatan sejarah serupa, semakin memperkuat koneksi global melalui warisan budaya.

Dengan berakhirnya kunjungan ini, kedua belah pihak menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti pembahasan dan mengimplementasikan kerja sama konkret. Bupati Gresik dan Gubernur Samarkand berharap hubungan baik yang telah terjalin akan terus berkembang, membawa manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Gresik dan Samarkand, serta memperkokoh persahabatan antara Indonesia dan Uzbekistan di masa mendatang, membuka lembaran baru dalam hubungan bilateral yang erat.

Continue Reading

Internasional

Trump Perketat Ancaman ke Iran, Targetkan Pembangkit Listrik di Tengah Krisis Selat Hormuz

Published

on

Trump Perketat Ancaman ke Iran, Targetkan Pembangkit Listrik di Tengah Krisis Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa negaranya akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Pernyataan yang disampaikan melalui media sosial dengan bahasa yang sarat emosi ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang kian memanas antara kedua negara, khususnya setelah insiden penyelamatan seorang pilot AS yang jatuh.

Ancaman tersebut menambah daftar panjang provokasi verbal yang saling dilayangkan oleh Washington dan Teheran, memperburuk situasi geopolitik yang sudah rapuh di Timur Tengah. Langkah ini juga menunjukkan perubahan fokus target potensial AS, dari sebelumnya infrastruktur militer atau target strategis lainnya, kini secara eksplisit menyebut fasilitas energi sipil sebagai sasaran jika tuntutan AS tidak dipenuhi. Ancaman menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dapat memiliki konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi yang luas, serta memicu kecaman internasional.

Ancaman Keras Trump dan Latar Belakangnya

Dalam serangkaian unggahan di platform media sosialnya, Presiden Trump menggunakan kata-kata kasar untuk menantang pemimpin Iran. Ia menegaskan, Amerika Serikat tidak akan ragu untuk bertindak jika Iran tetap berkeras menutup atau membatasi akses di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia. Ancaman ini muncul tak lama setelah militer AS berhasil menyelamatkan seorang pilot yang pesawatnya jatuh, sebuah insiden yang semakin mengentalkan suasana tegang di wilayah tersebut.

Sumber-sumber intelijen dan analisis geopolitik menduga bahwa meskipun penyelamatan pilot adalah peristiwa terpisah, waktu kejadiannya bertepatan dengan momen peningkatan retorika agresif dari kedua belah pihak. Pemerintah AS telah berulang kali menuduh Iran melakukan tindakan provokatif di perairan internasional, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak dan penembakan pesawat nirawak AS. (Pembaca dapat merujuk pada artikel kami sebelumnya tentang kronologi insiden di Selat Hormuz untuk konteks lebih lanjut).

Ancaman terhadap fasilitas pembangkit listrik adalah sinyal baru bahwa pemerintahan Trump siap mempertimbangkan target yang lebih luas dan mungkin lebih berdampak terhadap populasi sipil dan ekonomi Iran, sebuah langkah yang dapat menuai kritik tajam dari komunitas internasional. Iran sendiri sebelumnya telah memperingatkan AS akan “konsekuensi mengerikan” jika terjadi agresi militer terhadap wilayahnya.

Selat Hormuz: Jantung Perdagangan Minyak Global

Selat Hormuz memiliki posisi strategis yang tak tergantikan dalam perdagangan energi global. Lebih dari sepertiga minyak mentah dunia yang diperdagangkan melalui laut melewati selat sempit ini, menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global. Setiap ancaman atau tindakan yang mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz secara langsung akan memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia, memicu ketidakstabilan ekonomi global.

Sejak lama, Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap sanksi ekonomi atau agresi militer yang dilakukan oleh AS dan sekutunya. Ancaman penutupan selat ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah instrumen tekanan yang signifikan mengingat dampaknya yang luar biasa terhadap perekonomian global. AS, bersama sekutunya, berkali-kali menegaskan komitmen mereka untuk menjaga kebebasan navigasi di selat tersebut, seringkali dengan pengerahan kekuatan militer.

Sejarah Ketegangan AS-Iran: Dari Nuklir hingga Insiden Terbaru

Hubungan AS-Iran telah lama diselimuti ketegangan, mencapai puncaknya setelah Presiden Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018. Penarikan ini diikuti dengan pemberlakuan kembali dan penambahan sanksi ekonomi yang menargetkan sektor minyak, perbankan, dan industri lainnya di Iran, bertujuan untuk menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan nuklir yang lebih komprehensif.

Sejak saat itu, serangkaian insiden telah terjadi, termasuk:

  • Serangan Terhadap Kapal Tanker: Beberapa kapal tanker minyak di Teluk Oman dan dekat Selat Hormuz mengalami serangan misterius, yang oleh AS dituduhkan kepada Iran.
  • Penembakan Drone AS: Pasukan Revolusi Islam Iran menembak jatuh pesawat nirawak pengintai AS di atas Selat Hormuz, mengklaim bahwa drone tersebut melanggar wilayah udara Iran.
  • Penyitaan Kapal Tanker: Iran menyita kapal tanker berbendera Inggris di perairan internasional, memicu krisis diplomatik dengan London.
  • Penyelamatan Pilot AS: Insiden terbaru yang menjadi latar belakang ancaman Trump kali ini, meskipun rinciannya masih belum sepenuhnya jelas, menambah bobot pada narasi ancaman dan konfrontasi.

Peristiwa-peristiwa ini secara kolektif telah membawa kedua negara ke ambang konflik militer, dengan para analis memperingatkan bahwa salah perhitungan kecil sekalipun dapat memicu konflik regional yang lebih luas. Retorika yang semakin keras dari kedua belah pihak mempersulit upaya de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik.

Implikasi Potensial Eskalasi Militer

Jika ancaman Trump benar-benar diwujudkan, serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran akan memiliki implikasi serius, baik secara regional maupun internasional. Serangan semacam itu akan dianggap sebagai tindakan perang oleh Iran dan hampir pasti akan memicu respons balasan, berpotensi menyeret lebih banyak pihak ke dalam konflik. Ekonomi global, yang sudah menghadapi ketidakpastian, akan terpukul oleh lonjakan harga minyak dan gangguan perdagangan.

Pemerintahan AS, di sisi lain, berargumen bahwa tindakan tegas diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan destabilisasi di kawasan. Namun, para kritikus dan sekutu AS di Eropa telah menyuarakan kekhawatiran tentang kurangnya strategi diplomatik yang jelas dan risiko eskalasi yang tidak terkendali. Dunia menanti, berharap agar akal sehat dan diplomasi dapat meredakan ketegangan yang mematikan ini sebelum situasi semakin tak terkendali.

Continue Reading

Trending