Hukum & Kriminal
Polis Gencarkan Pencarian Pelaku Dugaan Gangguan Seksual MRT Kajang yang Viral di Threads
KAJANG – Pihak berkuasa sedang melancarkan siasatan intensif dan giat mengesan seorang lelaki yang disyaki terlibat dalam insiden gangguan seksual di pintu keluar Stesen MRT Kajang. Kejadian tidak bermoral ini mula menjadi perhatian meluas setelah tular di platform media sosial Threads, mencetuskan keresahan dalam kalangan masyarakat dan pengguna pengangkutan awam.
Ketua Polis Daerah Kajang, Asisten Komisioner Mohd Zaid Hassan, dalam kenyataan medianya, mengesahkan pihaknya telah menerima laporan berkaitan insiden tersebut dan kini sedang menjejaki suspek. Beliau menegaskan bahawa tindakan tegas akan diambil terhadap pelaku dan menggesa mana-mana individu yang mempunyai maklumat untuk tampil membantu siasatan. Insiden ini sekali lagi menggarisbawahi cabaran berterusan dalam memastikan keselamatan awam, terutamanya bagi wanita, di ruang-ruang awam yang sibuk.
Kronologi Insiden yang Viral
Insiden yang mencetuskan kemarahan awam ini mula tersebar luas di Threads pada hujung minggu lalu. Beberapa hantaran yang dimuat naik oleh individu yang dipercayai mangsa atau saksi mata, memperincikan tingkah laku mencurigakan dan tidak senonoh seorang lelaki di kawasan pintu keluar Stesen MRT Kajang. Hantaran tersebut, yang mungkin termasuk gambar atau keterangan kejadian, dengan pantas mendapat ribuan perkongsian dan komen, mendorong masyarakat mendesak pihak polis untuk mengambil tindakan segera. Keresahan yang ditimbulkan oleh insiden ini menyoroti betapa rentannya individu, terutamanya wanita, terhadap ancaman gangguan seksual di ruang awam, meskipun di lokasi yang sepatutnya selamat dan dikawal.
- Kejadian dilaporkan berlaku di pintu keluar Stesen MRT Kajang.
- Mula tular di aplikasi Threads, menarik perhatian ramai.
- Keterangan awal menunjukkan perlakuan tidak senonoh oleh seorang lelaki.
Tindakan Tegas Kepolisian Diraja Malaysia
Menyusul laporan yang diterima dan tekanan awam ekoran penularan video atau hantaran di media sosial, Polis Diraja Malaysia (PDRM) melalui Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kajang, tidak membuang masa untuk memulakan siasatan. Pasukan penyiasat kini sedang meneliti setiap petunjuk yang ada, termasuk rakaman kamera litar tertutup (CCTV) dari sekitar kawasan stesen MRT, serta maklumat dari hantaran media sosial yang tular. PDRM Kajang juga mengaktifkan unit siasatan jenayahnya untuk mengenal pasti identiti suspek dan lokasi keberadaannya. Ketua Polis Daerah menegaskan bahawa PDRM memandang serius kesemua bentuk jenayah seksual dan tidak akan berkompromi dalam membawa pelaku ke muka pengadilan. Masyarakat diharap dapat memberikan kerjasama penuh kepada pihak berkuasa.
Dalam usaha mengesan suspek, pihak polis juga telah mengeluarkan kenyataan rasmi yang meminta bantuan orang ramai. Individu yang mempunyai sebarang maklumat berkaitan identiti suspek atau lokasi keberadaannya diminta untuk menghubungi Balai Polis Kajang atau mana-mana balai polis berhampiran. Setiap maklumat yang diberikan akan dirahsiakan dan amat membantu melancarkan proses siasatan. Ini merupakan langkah proaktif PDRM dalam menangani jenayah yang menjejaskan ketenteraman awam.
Pentingnya Pelaporan dan Kesadaran Publik
Insiden di Stesen MRT Kajang ini berfungsi sebagai peringatan keras tentang betapa krusialnya pelaporan insiden gangguan seksual. Ramai mangsa enggan melaporkan kerana rasa malu, takut, atau bimbang akan proses undang-undang yang rumit. Namun, setiap laporan, walau sekecil mana pun, adalah langkah penting untuk memecahkan kitaran gangguan seksual dan memastikan keadilan. Pihak berkuasa sentiasa menggalakkan mangsa untuk tampil bersuara, dengan jaminan perlindungan dan sokongan. Kesedaran awam juga memainkan peranan besar; masyarakat perlu lebih peka terhadap persekitaran mereka dan bersedia untuk campur tangan atau melaporkan jika menyaksikan sesuatu yang mencurigakan.
- Mendesak mangsa dan saksi untuk tidak takut melaporkan kejadian.
- Setiap laporan membantu pihak berkuasa mengumpul data dan mengambil tindakan.
- Kesedaran awam adalah kunci dalam mewujudkan persekitaran yang lebih selamat.
Memerangi Gangguan Seksual di Ruang Awam: Tinjauan Lebih Luas
Malaysia telah mengambil langkah penting dalam memerangi gangguan seksual melalui penguatkuasaan Akta Antigangguan Seksual 2022. Akta ini memberikan kerangka perundangan yang lebih komprehensif untuk melindungi mangsa dan membolehkan tindakan undang-undang yang lebih berkesan terhadap pelaku. Insiden seperti di MRT Kajang menunjukkan bahawa cabaran masih wujud dalam memastikan implementasi akta ini sepenuhnya dan mengubah tingkah laku sosial.
Penyedia perkhidmatan pengangkutan awam, seperti MRT Corporation, juga memikul tanggungjawab besar dalam memastikan keselamatan penumpang mereka. Ini termasuklah mempertingkatkan sistem pengawasan CCTV, meningkatkan kekerapan rondaan keselamatan oleh kakitangan, dan menyediakan saluran aduan yang mudah diakses. Kerjasama antara agensi penguatkuasa undang-undang, penyedia perkhidmatan, dan masyarakat adalah penting untuk mewujudkan persekitaran awam yang selamat dan bebas gangguan seksual.
Kes ini mengingatkan kita kepada insiden-insiden serupa yang pernah dilaporkan sebelum ini di pelbagai lokasi awam, termasuk pengangkutan awam. Misalnya, laporan mengenai gangguan seksual di bas atau di hentian bas seringkali tular, menunjukkan pola masalah yang berulang. Keberanian mangsa untuk bersuara di platform seperti Threads bukan sahaja memberikan keadilan kepada mereka tetapi juga menjadi pemangkin kepada perbincangan awam yang lebih meluas tentang isu kritikal ini, mendorong pihak berkuasa untuk bertindak lebih pantas dan proaktif. Orang ramai yang mempunyai maklumat atau ingin melaporkan jenayah boleh merujuk kepada portal rasmi Polis Diraja Malaysia untuk bantuan di sini.
Hukum & Kriminal
Pria Berseragam Penipu di Dekat PM Anutin Saat Kebakaran Pub Hadapi Tuduhan Serius
Pria Berseragam Penipu di Dekat PM Anutin Saat Kebakaran Pub Hadapi Tuduhan Serius
Kepolisian Thailand secara resmi menetapkan seorang pria berseragam sebagai tersangka atas dugaan penyamaran sebagai pejabat publik. Pria tersebut diketahui menyusup dan berada dalam jarak dekat dengan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul di lokasi kebakaran pub fatal di Bangkok pada Minggu lalu. Insiden ini memicu kekhawatiran serius terkait protokol keamanan dan integritas pejabat di lokasi bencana. Pria itu kini menghadapi berbagai dakwaan, termasuk penyamaran sebagai pejabat publik, demikian pernyataan kepolisian pada Rabu.
Kehadiran tak terduga individu tersebut di tengah-tengah rombongan perdana menteri, saat para petugas darurat berjuang memadamkan api dan mengevakuasi korban, menjadi sorotan tajam. Pihak berwenang segera bergerak setelah menerima laporan mengenai keberadaan mencurigakan pria yang mengenakan seragam mirip personel militer atau kepolisian, namun tidak memiliki wewenang resmi di lokasi tersebut. Kasus ini membuka diskusi kritis mengenai celah keamanan dan bagaimana individu tak bertanggung jawab dapat memanfaatkan situasi krisis untuk kepentingan pribadi atau tujuan lain yang belum terungkap.
Identitas Tersangka dan Tuduhan yang Dihadapi
Identitas lengkap tersangka belum dirilis secara resmi oleh kepolisian, namun sumber internal mengindikasikan bahwa ia berhasil melewati beberapa lapis pengamanan di lokasi kejadian. Tuduhan utama yang dihadapinya adalah penyamaran sebagai pejabat publik, yang di Thailand merupakan pelanggaran serius dengan ancaman hukuman penjara. Selain itu, penyelidikan mungkin akan mengungkap dakwaan tambahan tergantung pada motif dan tindakan spesifiknya selama berada di lokasi bencana. Kehadiran seseorang yang tidak berwenang di area terbatas, terutama saat perdana menteri hadir, menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas koordinasi keamanan antara berbagai lembaga.
Beberapa poin penting terkait penangkapan ini:
- Tersangka berhasil masuk ke “lingkaran dalam” PM Anutin Charnvirakul.
- Mengenakan seragam yang menyerupai petugas resmi.
- Ditangkap setelah teridentifikasi tidak memiliki wewenang atau identitas resmi.
- Kepolisian masih mendalami motif di balik penyamaran ini.
Kontroversi Kehadiran di TKP Bencana
Insiden penyamaran ini terjadi di tengah duka mendalam akibat kebakaran pub fatal yang merenggut banyak nyawa. Kehadiran Perdana Menteri Anutin Charnvirakul di lokasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menunjukkan kepedulian dan mengawasi langsung penanganan pasca-bencana. Namun, disusupi oleh individu yang tidak berwenang saat kunjungan pejabat tinggi justru merusak citra dan menyoroti kerentanan sistem keamanan. Publik menuntut transparansi dan akuntabel dari pihak berwenang terkait bagaimana hal ini bisa terjadi. Kejadian serupa di masa lalu juga pernah terjadi, menunjukkan adanya pola yang perlu segera ditangani melalui perbaikan prosedur keamanan dan pengawasan yang lebih ketat.
Kejadian ini juga berpotensi memicu evaluasi ulang standar keamanan untuk pejabat tinggi saat mereka mengunjungi lokasi darurat. Penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa semua personel yang berada di sekitar pejabat tinggi memiliki identifikasi yang jelas dan telah melalui proses verifikasi. Kegagalan dalam hal ini dapat memiliki konsekuensi serius, tidak hanya dalam hal keamanan fisik tetapi juga dalam hal kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah untuk mengelola krisis secara efektif.
Implikasi Hukum dan Keamanan
Undang-undang Thailand secara ketat melarang penyamaran sebagai pejabat publik. Pelanggar bisa dijerat Pasal 146 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa siapapun yang menyamar sebagai pejabat atau petugas resmi, atau bertindak sebagai pejabat tersebut tanpa hak, dapat dihukum. Hukuman ini bertujuan untuk menjaga integritas institusi negara dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan atau akses. Kasus ini akan menjadi uji coba penting bagi penegakan hukum dalam menjaga batas antara warga sipil dan aparat berwenang, terutama dalam situasi yang rentan.
Implikasi keamanan yang lebih luas mencakup:
- Perluasan protokol identifikasi dan verifikasi di lokasi kejadian darurat.
- Peningkatan pelatihan bagi petugas keamanan untuk mengidentifikasi personel yang mencurigakan.
- Revisi kebijakan mengenai akses media dan publik ke area terbatas saat kunjungan pejabat penting.
- Potensi dampak pada citra publik institusi keamanan dan kepercayaan terhadap pemerintah.
Insiden penyamaran ini, yang terjadi di lokasi kebakaran pub yang memilukan, kini menjadi fokus penyelidikan serius oleh pihak kepolisian. Masyarakat menanti penjelasan lebih lanjut mengenai motif tersangka dan langkah-langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Penyelidikan terus berlangsung untuk mengungkap semua detail dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan, sekaligus memperkuat sistem keamanan nasional. Publik juga mengharapkan laporan komprehensif terkait perkembangan kasus ini dan bagaimana kepolisian akan mencegah insiden serupa di masa depan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hukum terkait penyamaran di Thailand, Anda bisa merujuk pada portal hukum pemerintah Thailand.
Hukum & Kriminal
Pemerintah Armenia Sita Perusahaan Pemimpin Oposisi, Picu Tudingan Penumpasan Politik
Pemerintah Armenia Sita Perusahaan Pemimpin Oposisi, Picu Tudingan Penumpasan Politik
Pemerintah Armenia, melalui otoritas terkait, telah menyita kendali atas sebuah perusahaan semen yang dimiliki oleh seorang pemimpin oposisi. Kejadian ini, yang dilaporkan media pemerintah pada Kamis, 16 Juli, segera memicu gelombang kritik dan tuduhan bahwa Perdana Menteri Nikol Pashinyan sedang melancarkan penumpasan terhadap lawan-lawan politiknya. Penyitaan ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Pashinyan memenangkan pemilihan ulang, sebuah kemenangan yang seharusnya memperkuat legitimasinya, namun kini diwarnai dengan keraguan mengenai komitmennya terhadap pluralisme politik.
Perusahaan yang disita adalah salah satu aset penting milik pemimpin oposisi yang sebelumnya telah ditangkap dan didakwa atas tuduhan penipuan. Langkah pemerintah ini dipersepsikan oleh banyak pihak sebagai bagian dari pola yang lebih besar, di mana instrumen hukum digunakan untuk membungkam suara-suara kritis dan melemahkan kapasitas finansial serta politik oposisi. Penangkapan pemimpin oposisi tersebut sebelumnya telah menarik perhatian internasional dan memicu perdebatan sengit di dalam negeri mengenai independensi peradilan dan keadilan dalam penegakan hukum.
Latar Belakang Penangkapan dan Penyitaan
Penyitaan perusahaan semen ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kelanjutan dari serangkaian tindakan hukum terhadap tokoh-tokoh oposisi di Armenia. Pemimpin oposisi yang asetnya disita ini menghadapi tuduhan penipuan yang serius, meskipun detail spesifik dari dakwaan tersebut seringkali dianggap politis oleh para pendukungnya. Pemerintah berdalih bahwa tindakan ini semata-mata adalah bagian dari upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Namun, waktu kejadiannya, pasca-pemilu yang kontroversial, menimbulkan pertanyaan besar tentang motif di balik tindakan tersebut. Media pemerintah sendiri mengkonfirmasi penyitaan ini, yang semakin memperkuat narasi resmi dari pemerintah.
Para kritikus menunjuk pada pola yang mengkhawatirkan: penangkapan dan penyelidikan terhadap tokoh-tokoh oposisi seolah menjadi semakin intensif sejak Pashinyan kembali menduduki jabatan Perdana Menteri. Meskipun Pashinyan meraih kemenangan signifikan dalam pemilihan umum bulan lalu, sebagian besar pihak oposisi telah menyuarakan kekhawatiran mengenai proses pemilu dan lingkungan politik yang semakin menekan. Penyitaan aset yang sangat terlihat seperti ini, terutama dari seorang tokoh kunci oposisi, mengirimkan sinyal kuat kepada para penentang pemerintah.
Tuduhan Penumpasan Politik Terhadap Pashinyan
Penumpasan terhadap oposisi bukan kali ini saja dikaitkan dengan pemerintahan Pashinyan. Sejak ia berkuasa, ada berbagai laporan mengenai tekanan terhadap media independen dan organisasi non-pemerintah. Namun, tindakan penyitaan aset perusahaan ini menandai eskalasi yang signifikan, berpotensi melumpuhkan sumber daya finansial yang sangat penting bagi aktivitas politik oposisi. Para pengamat politik independen di Armenia dan di luar negeri telah menyatakan keprihatinan serius. Mereka menekankan bahwa meskipun memerangi korupsi adalah hal yang penting, proses hukum harus transparan dan bebas dari intervensi politik.
* Targeting Selektif: Kritikus menuduh bahwa penegakan hukum diterapkan secara selektif, menargetkan individu-individu yang vokal menentang kebijakan pemerintah.
* Pelemahan Oposisi: Tindakan hukum dan penyitaan aset ini secara langsung melemahkan kemampuan oposisi untuk berfungsi dan menantang pemerintah secara efektif.
* Dampak pada Demokrasi: Lingkungan politik yang represif dapat mengikis fondasi demokrasi dan pluralisme, yang merupakan pilar penting dalam masyarakat yang sehat.
* Kekhawatiran Internasional: Insiden semacam ini berpotensi merusak citra Armenia di mata komunitas internasional sebagai negara yang berkomitmen pada supremasi hukum dan hak asasi manusia.
Pashinyan sendiri naik ke tampuk kekuasaan melalui gerakan protes anti-korupsi pada tahun 2018. Ironisnya, kini ia dituding menggunakan metode serupa yang ia janjikan untuk diperangi. Kemenangan pemilunya bulan lalu memberikan mandat yang kuat, tetapi bagaimana ia menggunakan mandat tersebut untuk menangani perbedaan pendapat akan menentukan warisannya. Analis politik berpendapat bahwa jika tuduhan penumpasan politik terus berlanjut tanpa investigasi independen yang kredibel, legitimasi pemerintah Pashinyan akan semakin terkikis di mata publik dan komunitas internasional.
Implikasi bagi Iklim Politik Armenia
Situasi ini diperkirakan akan semakin memperkeruh iklim politik di Armenia yang sudah tegang. Setelah kekalahan dalam perang Karabakh tahun lalu dan gelombang protes yang menuntut pengunduran diri Pashinyan (seperti yang dilaporkan sebelumnya dalam artikel kami tentang kemenangan mengejutkan Pashinyan dalam pemilu 2021), pemerintah kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan publik. Penyitaan perusahaan oposisi ini bukan hanya tentang satu perusahaan atau satu pemimpin, tetapi tentang sinyal yang dikirimkan kepada seluruh masyarakat Armenia mengenai batas-batas kritik dan perbedaan pendapat. Ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kebebasan sipil dan hak-hak politik di negara tersebut.
Peristiwa ini menegaskan bahwa meskipun hasil pemilu telah diumumkan, pertarungan politik di Armenia jauh dari kata usai. Sebaliknya, konflik antara pemerintah dan oposisi tampaknya akan memasuki fase baru yang lebih intens, dengan risiko polarisasi masyarakat yang semakin dalam. Komunitas internasional akan terus memantau situasi ini dengan cermat, menanti apakah Armenia akan memilih jalur konsolidasi kekuasaan atau benar-benar memperkuat institusi demokrasinya.
Hukum & Kriminal
RUU Hak Cipta Terancam Bekukan Kebebasan Pers dan Kelompok Rentan Lewat Pasal ‘Selundupan’
JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Cipta, yang baru saja menyelesaikan proses harmonisasi, memicu gelombang kekhawatiran serius di kalangan aktivis dan organisasi masyarakat sipil. Meskipun digadang-gadang akan memberikan perlindungan komprehensif terhadap berbagai bentuk karya, sejumlah pasal yang disebut sebagai ‘selundupan’ terkait keamanan negara justru dinilai berpotensi membungkam kemerdekaan pers dan makin menekan kelompok rentan.
Draf awal RUU ini, yang seharusnya fokus pada perlindungan kekayaan intelektual, disinyalir menyisipkan klausul-klausul ambigu yang dapat disalahgunakan untuk membatasi ekspresi dan investigasi jurnalistik. Kekhawatiran ini mencuat setelah proses legislasi yang dinilai kurang transparan, menyoroti risiko pembatasan hak-hak sipil di bawah dalih menjaga stabilitas nasional.
Ancaman Terselubung bagi Kemerdekaan Pers
Para pegiat kebebasan pers menyuarakan alarm keras terkait adanya pasal-pasal ‘selundupan’ ini. Mereka khawatir bahwa frasa ‘keamanan negara’ dapat menjadi payung karet untuk mengkriminalisasi jurnalis yang mengungkap dugaan pelanggaran, korupsi, atau isu sensitif lainnya. Pengalaman regulasi sebelumnya, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), menunjukkan betapa mudahnya pasal-pasal karet disalahgunakan untuk membungkam kritik dan meredam investigasi mendalam.
Dalam konteks RUU Hak Cipta, pasal-pasal tersebut dikhawatirkan dapat:
- Membatasi Peliputan Investigasi: Jurnalis mungkin akan ragu melaporkan atau menerbitkan hasil investigasi yang bersentuhan dengan isu-isu ‘keamanan negara’ karena takut dianggap melanggar hak cipta atau membocorkan rahasia.
- Memicu Sensor Diri: Ancaman hukum yang tidak jelas dapat mendorong jurnalis dan media untuk melakukan sensor diri (self-censorship) demi menghindari risiko tuntutan hukum.
- Kriminalisasi Konten Publik: Laporan, foto, atau video yang dibuat oleh pers, meskipun bertujuan untuk kepentingan publik, bisa jadi dijerat dengan pasal-pasal ini jika dianggap ‘membahayakan’ keamanan negara, tanpa definisi yang jelas.
Sejumlah organisasi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers kerap menyoroti tren pembatasan ruang sipil melalui legislasi. Revisi UU ITE, misalnya, meskipun bertujuan mengurangi pasal karet, masih menyisakan celah yang rentan disalahgunakan. RUU Hak Cipta ini dikhawatirkan menambah daftar panjang regulasi yang mengekang kebebasan berekspresi.
Dampak Serius pada Kelompok Rentan
Selain pers, kelompok rentan juga menjadi pihak yang paling terancam oleh pasal-pasal ‘selundupan’ ini. Kelompok masyarakat adat, minoritas, pegiat hak asasi manusia, hingga seniman dan budayawan seringkali menggunakan karya-karya mereka sebagai medium ekspresi dan perjuangan. Apabila pasal ‘keamanan negara’ disisipkan dalam RUU Hak Cipta, implikasinya bisa sangat luas:
- Pembatasan Ekspresi Budaya dan Seni: Karya seni, lagu, atau pertunjukan yang menyuarakan kritik sosial atau mengangkat isu-isu yang dianggap ‘sensitif’ oleh negara dapat dilarang atau dikenakan sanksi.
- Kriminalisasi Advokasi: Aktivis yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia melalui tulisan, video, atau laporan dikhawatirkan dapat dijerat dengan dalih perlindungan hak cipta yang berbenturan dengan keamanan negara.
- Penekanan Minoritas: Kelompok minoritas yang mencoba mempertahankan identitas dan hak-hak mereka melalui ekspresi kreatif dapat menjadi target mudah pembungkaman.
Para aktivis menuntut transparansi penuh dari pemerintah dan DPR terkait isi spesifik pasal-pasal yang dikhawatirkan ini. Mereka mendesak agar RUU Hak Cipta dikembalikan ke esensinya sebagai regulasi perlindungan karya, bukan alat untuk membatasi kebebasan sipil.
Desakan untuk Transparansi dan Partisipasi Publik
Proses harmonisasi sebuah undang-undang seharusnya dilakukan secara terbuka, melibatkan masukan dari berbagai elemen masyarakat. Penggunaan istilah ‘selundupan’ mengindikasikan adanya pasal-pasal yang mungkin dimasukkan tanpa pembahasan yang memadai atau pengetahuan publik yang luas. Hal ini melemahkan prinsip demokrasi deliberatif dan partisipasi publik dalam pembentukan undang-undang.
Pemerintah dan DPR perlu segera menjelaskan secara rinci pasal-pasal yang dituding bermasalah tersebut. Keterbukaan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa setiap regulasi yang disahkan benar-benar mencerminkan semangat perlindungan hak asasi manusia, termasuk kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers. Tanpa klarifikasi dan revisi yang substansial, RUU Hak Cipta berisiko menjadi instrumen baru yang mempersempit ruang demokrasi di Indonesia, alih-alih melindunginya.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
