Connect with us

Internasional

Peringatan Iran: Bab el-Mandeb Terancam Tutup Akibat ‘Kesalahan Berulang’ AS

Published

on

Seorang pejabat senior Iran telah mengeluarkan peringatan keras bahwa ‘kesalahan berulang’ oleh Amerika Serikat dapat memicu penutupan Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur maritim yang sangat penting di Laut Merah. Pernyataan ini datang dari Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, dan dilaporkan oleh Mehr News Agency, menandakan peningkatan tajam dalam retorika ketegangan antara kedua negara. Ancaman ini tidak hanya menyoroti ketegangan yang mendalam tetapi juga potensi dampaknya terhadap stabilitas maritim global dan ekonomi dunia.

Velayati menekankan bahwa Iran tidak akan menoleransi perilaku yang dianggapnya sebagai provokasi dan kesalahan yang terus-menerus dari Washington. Pernyataan tersebut muncul di tengah periode hubungan yang semakin memburuk antara Iran dan AS, dipicu oleh berbagai isu mulai dari program nuklir Iran hingga kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Analis melihat ancaman ini sebagai upaya Iran untuk meningkatkan taruhan dan mengingatkan dunia akan kemampuan Teheran untuk membalas jika tekanan terus meningkat.

Pentingnya Selat Bab el-Mandeb bagi Perdagangan Global

Bab el-Mandeb, yang secara harfiah berarti ‘Gerbang Air Mata’ dalam bahasa Arab, merupakan salah satu titik cekik (chokepoint) maritim paling strategis di dunia. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, menjadi jalur vital bagi kapal-kapal yang menuju atau dari Terusan Suez.

  • Jalur Minyak dan Gas: Sejumlah besar minyak mentah dan produk gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah dan Asia yang menuju Eropa dan Amerika Utara melewati selat ini setiap hari. Penutupan Bab el-Mandeb akan mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
  • Perdagangan Global: Selain energi, Bab el-Mandeb juga menjadi koridor bagi miliaran dolar barang dagangan setiap tahunnya, mulai dari barang manufaktur hingga komoditas pangan, yang berdampak langsung pada rantai pasokan global.
  • Koneksi Suez: Tanpa Bab el-Mandeb, rute kapal dari Asia ke Eropa melalui Terusan Suez akan terganggu, memaksa kapal untuk menempuh jalur yang jauh lebih panjang dan mahal mengelilingi Afrika, meningkatkan biaya pengiriman dan waktu transit.

Penutupan jalur ini, bahkan untuk sementara, dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global, gangguan rantai pasok, dan dampak ekonomi yang luas, tidak hanya di kawasan tetapi juga secara internasional. Ini menegaskan mengapa peringatan Iran tersebut diterima dengan serius oleh komunitas global dan mengapa Bab el-Mandeb begitu penting.

Konteks Ketegangan Iran-AS dan ‘Kesalahan Berulang’

Peringatan Velayati perlu dipahami dalam konteks hubungan Iran-AS yang telah lama tegang, khususnya setelah penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018 dan penerapan kembali sanksi ekonomi yang berat. Iran memandang tindakan AS sebagai upaya untuk mencekik ekonominya dan mengisolasi negara tersebut di kancah internasional. Istilah ‘kesalahan berulang’ yang diucapkan Velayati kemungkinan merujuk pada serangkaian kebijakan dan tindakan AS yang dianggap provokatif oleh Teheran.

  • Sanksi Ekonomi: Sanksi yang melumpuhkan telah memukul sektor minyak Iran, sumber pendapatan utamanya, memicu kemarahan dan rasa frustrasi di Teheran.
  • Dukungan Regional: AS terus mendukung rival regional Iran, seperti Arab Saudi, dalam konflik-konflik seperti perang Yaman, di mana Iran mendukung kelompok Houthi. Perang Yaman sendiri memiliki implikasi langsung terhadap keamanan maritim di sekitar Bab el-Mandeb, dengan ancaman serangan terhadap kapal-kapal di perairan tersebut.
  • Kehadiran Militer: Kehadiran militer AS yang signifikan di Teluk Persia dan perairan sekitarnya seringkali dianggap sebagai ancaman oleh Iran, yang memicu retorika perlawanan.

Analis geopolitik melihat ancaman penutupan Bab el-Mandeb sebagai upaya Iran untuk meningkatkan taruhan dan mengingatkan AS tentang kemampuan Iran untuk membalas jika tekanan terus meningkat. Ini adalah taktik yang serupa dengan ancaman Iran sebelumnya terhadap penutupan Selat Hormuz, jalur strategis lainnya di Teluk Persia, jika ekspor minyaknya dihalangi, yang telah menjadi berita utama di masa lalu.

Implikasi dan Respons Internasional

Ancaman Iran untuk menutup jalur maritim vital seperti Bab el-Mandeb bukan isapan jempol semata. Meskipun seringkali berfungsi sebagai alat tawar-menawar atau peringatan diplomatik, potensi pelaksanaannya akan memiliki konsekuensi yang jauh melampaui konflik bilateral.

  • Krisis Energi Global: Penutupan Bab el-Mandeb akan memicu krisis energi instan, mempengaruhi pasokan dan harga di seluruh dunia, yang dapat memicu resesi global.
  • Gangguan Rantai Pasok: Industri global akan merasakan efek domino akibat penundaan pengiriman dan biaya logistik yang melonjak, merusak perdagangan internasional.
  • Eskalasi Konflik: Tindakan semacam itu hampir pasti akan mengundang respons militer dari AS dan sekutunya, berpotensi memicu konflik yang lebih luas di salah satu wilayah paling bergejolak di dunia.
  • Tanggung Jawab Global: Berbagai negara dan organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, pasti akan menyerukan de-eskalasi dan menjaga kebebasan navigasi, mengingat dampak global dari gangguan di jalur ini.

Peringatan ini menegaskan kembali urgensi dialog dan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kegagalan untuk mengelola eskalasi ini dapat membawa risiko yang tidak terhitung bagi keamanan dan stabilitas global, mengingatkan semua pihak akan perlunya kehati-hatian dalam setiap langkah.

Internasional

Pemadaman Internet Iran: Blackout Nasional Terlama dalam Sejarah Catat Rekor Baru

Published

on

Durasi Pemadaman Pecahkan Rekor Nasional

Iran kini menghadapi kenyataan pahit setelah pemadaman internet di seluruh negeri yang pertama kali diberlakukan lebih dari sebulan lalu, kini resmi mencatat rekor sebagai blackout nasional terlama yang pernah tercatat. Penilaian ini datang dari para pakar telekomunikasi dan pengamat hak asasi manusia global yang memantau ketat situasi di Republik Islam tersebut. Langkah drastis pemerintah ini, yang dimulai di tengah gelombang protes dan kerusuhan sipil, telah memutus akses jutaan warga Iran dari dunia maya, dengan implikasi yang semakin meluas terhadap ekonomi, masyarakat, dan citra internasional negara itu.

Sebelumnya, laporan awal mengenai pemadaman parsial dan pembatasan akses telah menarik perhatian internasional. Namun, eskalasi menjadi blackout nasional yang berlangsung tanpa henti selama berminggu-minggu menunjukkan tingkat kendali pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur komunikasi. Para ahli menyoroti bahwa durasi dan cakupan pemutusan koneksi ini melampaui semua insiden serupa yang tercatat sebelumnya, baik di Iran maupun di negara lain, menjadikannya preseden yang mengkhawatirkan bagi kebebasan berekspresi dan akses informasi.

Latar Belakang dan Alasan Pemadaman

Pemadaman internet berskala luas ini bermula sebagai respons pemerintah terhadap gelombang protes nasional yang dipicu oleh berbagai isu internal, termasuk ketidakpuasan ekonomi dan sosial. Dalam artikel-artikel sebelumnya, kami telah melaporkan bagaimana demonstrasi pecah di berbagai kota, menuntut reformasi dan perubahan signifikan. Pemerintah Iran, dalam upaya untuk mengendalikan narasi dan mencegah mobilisasi lebih lanjut melalui media sosial dan aplikasi perpesanan, memilih untuk memutus akses internet secara total.

Langkah ini bertujuan untuk membatasi komunikasi di antara para demonstran, menghalangi penyebaran informasi dan video protes ke dunia luar, serta meredam kritik publik. Pihak berwenang berpendapat bahwa pemadaman ini merupakan tindakan keamanan nasional yang diperlukan untuk menjaga ketertiban dan stabilitas. Namun, kritik internasional mengecam keras tindakan tersebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia fundamental, termasuk hak atas kebebasan berekspresi dan akses informasi.

Dampak Luas Terhadap Ekonomi dan Masyarakat

Dampak dari pemadaman internet yang berkepanjangan ini sangatlah parah, menyentuh setiap aspek kehidupan di Iran. Secara ekonomi, bisnis yang sangat bergantung pada konektivitas internet — mulai dari startup teknologi, e-commerce, hingga UMKM — mengalami kerugian finansial yang masif. Transaksi digital terhenti, komunikasi bisnis terputus, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam ekonomi global lumpuh. Bank Dunia dan berbagai organisasi ekonomi telah memperingatkan tentang dampak jangka panjang yang bisa merusak potensi pertumbuhan digital Iran.

Lebih lanjut, dampak sosialnya tidak kalah menghancurkan:

  • Pembatasan Komunikasi: Warga Iran kesulitan berkomunikasi dengan keluarga dan teman, terutama mereka yang berada di luar negeri. Ini menimbulkan kecemasan dan isolasi sosial.
  • Akses Informasi Terbatas: Masyarakat tidak dapat mengakses berita independen atau informasi penting, membuat mereka rentan terhadap disinformasi dan propaganda pemerintah.
  • Layanan Esensial Terganggu: Banyak layanan publik, pendidikan, dan kesehatan yang kini mengandalkan internet turut terganggu, memperburuk kualitas hidup warga.
  • Kehilangan Kebebasan Sipil: Hak untuk berorganisasi, berkumpul, dan menyuarakan pendapat secara daring telah dirampas, menciptakan iklim ketakutan dan sensor.

Kritik Internasional dan Seruan Restorasi

Komunitas internasional secara luas mengutuk pemadaman internet ini. Berbagai organisasi hak asasi manusia, PBB, dan pemerintah negara-negara Barat telah mendesak Iran untuk segera memulihkan akses internet penuh bagi warganya. Mereka menyoroti bahwa pembatasan akses informasi seperti ini merupakan taktik opresif yang melanggar norma-norma internasional tentang hak asasi manusia.

Para pengamat politik dan keamanan regional juga khawatir bahwa pemutusan akses internet ini dapat memperburuk ketegangan internal dan menghambat upaya diplomasi. Beberapa laporan bahkan menyiratkan bahwa langkah ini dapat memicu respons yang tidak terduga dari masyarakat yang semakin terisolasi dan frustrasi. Sebuah laporan dari organisasi pemantau internet, NetBlocks, secara konsisten menunjukkan bahwa tingkat konektivitas di Iran tetap berada pada titik terendah, jauh di bawah angka normal (NetBlocks.org).

Meskipun demikian, pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mencabut pembatasan tersebut. Situasi ini menempatkan Iran dalam sorotan global sebagai negara yang secara drastis membatasi kebebasan digital warganya, dengan konsekuensi jangka panjang yang belum bisa diprediksi sepenuhnya. Dunia terus mengamati dengan cermat, menanti kapan akses informasi dan kebebasan berekspresi akan dipulihkan sepenuhnya bagi rakyat Iran.

Continue Reading

Internasional

Strategi Energi China: Respon Beijing terhadap Geopolitik Sejak Era Trump

Published

on

Strategi Energi China: Respon Beijing terhadap Geopolitik Sejak Era Trump

Beijing telah lama menempatkan perhatian serius pada potensi krisis geopolitik global. Namun, kekhawatiran ini meningkat tajam dan mendorong Tiongkok untuk menggandakan upayanya dalam mengamankan pasokan energi ketika Presiden Donald Trump mulai meningkatkan ketegangan pada masa jabatan pertamanya. Langkah-langkah strategis ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan fondasi kesiapan jangka panjang menghadapi gejolak internasional yang berpotensi mengancam stabilitas pasokan vitalnya. Kebijakan ini mencerminkan pemahaman mendalam Beijing bahwa keamanan energi adalah inti dari kedaulatan dan pertumbuhan ekonomi.

Analisis menunjukkan bahwa Tiongkok tidak melihat tindakan ini sebagai persiapan untuk ‘perang’ dalam pengertian tradisional, tetapi lebih sebagai langkah proaktif untuk melindungi kepentingannya dari efek riak konflik atau ketidakpastian di mana pun di dunia. Fokus utama Beijing adalah memastikan kelangsungan operasional ekonominya yang sangat bergantung pada impor energi, terutama minyak dan gas. Dengan demikian, setiap ancaman terhadap jalur pasokan maritim atau hubungan dagang bilateral dapat memiliki dampak signifikan.

Membaca Sinyal Geopolitik: Ancaman Krisis dan Strategi China

Pemerintahan Trump, melalui kebijakan ‘America First’ dan pendekatan konfrontatifnya terhadap perdagangan dan hubungan internasional, mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia. Bagi Beijing, hal ini bukan hanya ancaman ekonomi, tetapi juga peringatan keras tentang kerentanan rantai pasok global. Tiongkok menyadari bahwa ketergantungan pada satu atau beberapa sumber energi, serta rute pengiriman yang rentan, merupakan titik lemah strategis yang perlu segera diatasi. Keputusan untuk memperkuat keamanan energi didorong oleh serangkaian faktor, termasuk:

  • Ketergantungan Impor: Tiongkok adalah importir energi terbesar di dunia, sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.
  • Ketegangan Laut Cina Selatan: Rute maritim vital melintasi wilayah yang diperebutkan, meningkatkan risiko gangguan.
  • Sanksi dan Pembatasan Perdagangan: Ketakutan akan sanksi yang menargetkan pasokan energi, mirip dengan yang dikenakan pada negara lain, menjadi pendorong utama.
  • Pergeseran Kekuatan Global: Beijing memproyeksikan lanskap geopolitik yang lebih terfragmentasi dan kompetitif.

Langkah-langkah yang diambil Tiongkok mencerminkan strategi komprehensif untuk mengurangi kerentanan ini. Mereka memahami bahwa kekuatan ekonomi tidak dapat berdiri tegak tanpa fondasi energi yang kuat dan aman.

Respons Beijing terhadap Kebijakan Trump: Awal Redouble Upaya

Ketika Presiden Trump mulai meningkatkan tarif perdagangan, menarik diri dari perjanjian internasional, dan mengadopsi retorika yang lebih agresif, Tiongkok tidak tinggal diam. Beijing menafsirkan tindakan ini sebagai sinyal yang jelas bahwa era globalisasi yang saling bergantung mungkin akan berakhir, digantikan oleh era kompetisi kekuatan besar. Ini mendorong pemerintah Tiongkok untuk secara dramatis mempercepat upaya pengamanan energinya. Fokus awal termasuk:

Sejak saat itu, Tiongkok telah secara sistematis menerapkan berbagai kebijakan. Mereka tidak hanya memperkuat cadangan minyak dan gas strategisnya, tetapi juga secara aktif mencari diversifikasi sumber pasokan. Investasi besar-besaran mengalir ke energi terbarukan di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Selain itu, proyek infrastruktur seperti ‘Belt and Road Initiative’ (BRI) juga seringkali memiliki dimensi keamanan energi, membuka rute pasokan darat alternatif yang tidak terlalu rentan terhadap gangguan maritim.

Diversifikasi Sumber dan Cadangan Strategis: Pilar Keamanan Energi Tiongkok

Salah satu pilar utama strategi keamanan energi Tiongkok adalah diversifikasi sumber dan pengembangan cadangan strategis. Ini mencakup perjanjian jangka panjang dengan berbagai negara produsen, mulai dari Rusia hingga negara-negara di Afrika dan Amerika Latin. Tujuannya adalah untuk tidak menggantungkan diri pada satu pemasok atau wilayah geopolitik tertentu. Pada saat yang sama, Beijing telah secara signifikan meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak dan gas strategisnya, membangun fasilitas raksasa untuk menampung cadangan yang cukup untuk bertahan dalam periode krisis. Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) telah lama menganalisis strategi ini, menyoroti bagaimana Beijing dengan cermat menimbang risiko dan peluang dalam pasar energi global yang bergejolak.

Peningkatan produksi domestik, terutama dari sumber non-konvensional seperti gas serpih, juga menjadi bagian integral dari strategi ini. Meskipun tantangan teknis dan lingkungan masih ada, Tiongkok menganggap ini sebagai investasi penting untuk masa depan yang lebih mandiri secara energi.

Implikasi Global dari Kebijakan Energi Jangka Panjang China

Kebijakan keamanan energi Tiongkok memiliki implikasi signifikan bagi pasar energi global dan lanskap geopolitik. Permintaan yang stabil dan terkadang agresif dari Tiongkok telah memengaruhi harga komoditas dan arah investasi di seluruh dunia. Selain itu, upaya Tiongkok untuk mengamankan rute pasokan melalui BRI telah mengubah dinamika regional, menciptakan koridor ekonomi dan energi baru yang membentang dari Asia Tengah hingga Eropa. Dunia menyaksikan bagaimana analisis kebijakan energi global terus bergeser seiring dengan meningkatnya peran Tiongkok.

Kesiapan Tiongkok dalam menghadapi potensi krisis energi juga mengirimkan pesan kepada kekuatan besar lainnya. Ini menunjukkan bahwa Beijing tidak akan mudah menyerah pada tekanan eksternal yang menargetkan pasokan vitalnya. Dalam konteks persaingan strategis global, kemampuan untuk mempertahankan pasokan energi adalah kekuatan negosiasi yang signifikan.

Melampaui Krisis: Kesiapan China Menghadapi Masa Depan

Dengan persiapan yang dimulai bertahun-tahun lalu, Tiongkok kini lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik. Strategi keamanan energinya merupakan bagian integral dari visi jangka panjang Beijing untuk menjadi kekuatan global yang stabil dan mandiri. Ini bukan sekadar respons terhadap satu pemerintahan atau satu peristiwa, melainkan evolusi berkelanjutan dari kebijakan luar negeri dan ekonomi yang bertujuan untuk melindungi kepentingannya di dunia yang semakin kompleks. Langkah-langkah ini memastikan bahwa meskipun bukan Tiongkok yang memulai konflik, mereka telah mempersiapkan diri dengan saksama untuk menghadapi badai apa pun yang mungkin datang.

Continue Reading

Internasional

Thailand Wajibkan Asuransi Kecelakaan Bagi Turis Asing: Solusi Beban Kesehatan Publik?

Published

on

Thailand secara progresif menggeser paradigmanya dalam mengelola sektor pariwisata dengan rencana ambisiusnya untuk mewajibkan setiap turis internasional memiliki asuransi kecelakaan sebelum memasuki negaranya. Kebijakan ini muncul sebagai respons mendesak terhadap meningkatnya tagihan medis yang tidak terbayar dan risiko kecelakaan yang terus membebani sistem layanan kesehatan publik di Negeri Gajah Putih. Langkah ini merupakan peninjauan kembali serius terhadap cara negara tersebut menyeimbangkan daya tarik pariwisata dengan keberlanjutan infrastruktur kesehatan vitalnya.

Pemerintah Thailand melihat regulasi asuransi wajib ini sebagai solusi strategis untuk meringankan tekanan finansial yang selama bertahun-tahun menimpa rumah sakit umum. Ribuan kasus kecelakaan atau sakit yang menimpa wisatawan asing seringkali berakhir tanpa pembayaran penuh, meninggalkan beban signifikan pada anggaran kesehatan nasional. Ini tidak hanya mempengaruhi kualitas layanan bagi warga lokal tetapi juga mengancam kapasitas rumah sakit untuk beroperasi secara optimal di tengah lonjakan kunjungan turis pasca-pandemi.

Mengapa Asuransi Wajib Menjadi Mendesak?

Wacana penerapan asuransi wajib bagi turis asing di Thailand bukanlah hal baru; diskusi serupa telah muncul secara berkala dalam beberapa tahun terakhir. Namun, momentum saat ini terasa lebih kuat menyusul peningkatan tajam dalam jumlah wisatawan dan insiden kecelakaan yang dilaporkan. Data menunjukkan:

  • Lonjakan jumlah kasus medis turis yang tidak terbayar di rumah sakit umum.
  • Berbagai jenis insiden, mulai dari kecelakaan lalu lintas (terutama sepeda motor), kecelakaan air (seperti snorkeling atau diving), hingga kasus penyakit mendadak.
  • Estimasi kerugian finansial yang signifikan bagi negara akibat penanganan medis gratis atau tagihan tak terbayar.

Langkah ini menunjukkan bahwa Thailand, sebagai salah satu destinasi pariwisata terpopuler di dunia, mulai memprioritaskan keberlanjutan sistem kesehatannya di atas kekhawatiran potensi penurunan jumlah kunjungan. Penegasan regulasi ini diharapkan mampu memberikan jaring pengaman finansial yang sangat dibutuhkan.

Implikasi Bagi Wisatawan dan Industri Pariwisata

Bagi calon wisatawan, kebijakan ini berarti tambahan satu poin dalam daftar persiapan perjalanan mereka. Meskipun asuransi perjalanan sudah menjadi rekomendasi umum, kewajiban ini akan memastikan bahwa semua pengunjung memiliki perlindungan dasar. Wisatawan diharapkan akan mencari polis yang mencakup cakupan kecelakaan dan perawatan medis darurat selama berada di Thailand. Hal ini mungkin sedikit meningkatkan biaya liburan, tetapi di sisi lain, memberikan ketenangan pikiran yang lebih besar bagi mereka jika terjadi insiden tak terduga.

Industri pariwisata Thailand, yang sangat bergantung pada kedatangan turis, harus beradaptasi dengan perubahan ini. Operator tur, agen perjalanan, dan maskapai mungkin perlu memperbarui informasi dan panduan mereka untuk wisatawan. Meskipun beberapa pihak mungkin khawatir tentang dampaknya terhadap daya saing, banyak yang berpendapat bahwa kebijakan ini justru dapat meningkatkan citra Thailand sebagai destinasi yang bertanggung jawab dan aman bagi wisatawan.

Menjaga Keseimbangan Antara Pariwisata dan Kesehatan

Kebijakan asuransi wajib ini mencerminkan tren global di mana semakin banyak negara menerapkan persyaratan serupa untuk masuk, terutama bagi pengunjung yang berasal dari negara-negara tertentu atau untuk jenis visa tertentu. Contohnya, banyak negara di Wilayah Schengen Eropa telah lama mewajibkan asuransi perjalanan yang mencakup biaya medis dan repatriasi bagi pemegang visa tertentu. Ini menunjukkan pergeseran paradigma menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, di mana risiko tidak hanya ditanggung oleh negara tujuan tetapi juga oleh individu wisatawan.

Pemerintah Thailand berkomitmen untuk mengimplementasikan regulasi ini secara efektif, memastikan proses yang jelas dan mudah bagi wisatawan untuk mendapatkan asuransi yang diperlukan. Detail mengenai jenis cakupan minimum, penyedia asuransi yang diakui, dan mekanisme verifikasi saat kedatangan masih dalam tahap finalisasi, namun semangat utama adalah melindungi baik wisatawan maupun sistem kesehatan Thailand. Langkah progresif ini akan menjadi contoh penting bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa dalam mengelola pertumbuhan pariwisata dan memastikan keberlanjutan layanan publik.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai persyaratan masuk dan visa ke Thailand, disarankan untuk mengunjungi situs web resmi Kementerian Luar Negeri Thailand atau otoritas pariwisata setempat.

Continue Reading

Trending