Connect with us

Hukum & Kriminal

Terungkap di Pengadilan: Ayah Penyerang Ulu Tiram Klaim Darah Aparat Halal Dibunuh

Published

on

Ideologi Ekstremis Terkuak di Persidangan

Persidangan di Mahkamah Tinggi, hari ini, mencuatkan sebuah pengakuan mengejutkan yang menyoroti potensi akar radikalisasi di balik insiden serangan Balai Polis Ulu Tiram, Johor Bahru, dua tahun lalu. Diberitahukan bahwa ayah dari pelaku penyerangan tersebut, dalam sebuah kesempatan, pernah secara eksplisit menyatakan bahwa ‘darah polisi, institusi kerajaan, dan askar (tentara) ‘halal dibunuh’.’ Pernyataan yang mengerikan ini, diungkapkan dalam konteks proses hukum yang sedang berlangsung, menggarisbawahi kedalaman ideologi ekstremis yang mungkin melatarbelakangi tindakan teror tersebut.

Pengungkapan ini datang sebagai bagian dari kesaksian di pengadilan, yang bertujuan untuk mengungkap motif dan jaringan di balik serangan berdarah yang mengguncang keamanan negara. Klaim bahwa nyawa aparat keamanan dianggap ‘halal’ untuk dilenyapkan, bukan hanya sekadar retorika, melainkan cerminan dari pemahaman keagamaan yang menyimpang dan berbahaya. Ini memicu pertanyaan mendalam tentang bagaimana ideologi semacam ini dapat berkembang dan meresap dalam lingkungan keluarga, bahkan sampai memicu kekerasan ekstrem.

Kronologi Insiden Berdarah Ulu Tiram

Insiden serangan Balai Polis Ulu Tiram pada 17 Mei 2022 mengejutkan seluruh negeri, menyoroti kerentanan institusi keamanan terhadap ancaman terorisme lokal. Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya dua anggota polisi, Konstabel Ahmad Azza Fahmi Azhar dan Konstabel Muhamad Syafiq Ahmad Said, serta melukai seorang lagi. Pelaku penyerangan, yang kemudian tewas ditembak di tempat kejadian, diidentifikasi sebagai seorang individu yang diyakini memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis.

Berikut beberapa poin penting terkait insiden tersebut:

  • Waktu dan Lokasi: Terjadi pada dini hari 17 Mei 2022, di Balai Polis Ulu Tiram, Johor Bahru.
  • Korban: Dua anggota PDRM gugur, satu luka-luka.
  • Pelaku: Satu pelaku tewas ditembak, diidentifikasi kemudian.
  • Motif Awal: Penyelidikan awal mengarah pada motif terorisme dan dugaan keterlibatan dengan jaringan ekstremis, yang kini semakin dikuatkan dengan kesaksian di pengadilan.

Peristiwa ini memicu respons cepat dari pihak berkuasa, dengan penangkapan beberapa individu yang dicurigai terlibat, termasuk anggota keluarga pelaku. Artikel-artikel sebelumnya telah membahas tentang penangkapan ini dan penyelidikan awal yang dilakukan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM), yang kini menemukan titik terang baru melalui kesaksian di persidangan.

Ancaman Radikalisasi dan Keamanan Nasional

Pernyataan sang ayah bahwa darah aparat keamanan ‘halal dibunuh’ bukan hanya sekadar ungkapan personal, melainkan indikasi kuat adanya proses radikalisasi yang mendalam. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional, mengingat potensi penyebaran ideologi kebencian yang menargetkan simbol-simbol negara dan penegak hukum.

Para ahli keamanan telah lama memperingatkan tentang bahaya radikalisasi individu dan keluarga, terutama yang terjadi secara ‘mandiri’ atau dalam lingkaran kecil tanpa deteksi dini. Kasus Ulu Tiram ini menjadi contoh nyata bagaimana ideologi ekstremis dapat memanifestasikan diri dalam tindakan kekerasan mematikan. Pentingnya peran komunitas, institusi pendidikan, dan pemimpin agama dalam membendung penyebaran paham radikal menjadi semakin krusial.

Pemerintah dan agensi keamanan Malaysia terus berupaya memerangi ancaman terorisme, baik dari dalam maupun luar negeri. Pengungkapan di persidangan ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut bagi pihak berkuasa dalam mengembangkan strategi pencegahan dan penindakan yang lebih efektif terhadap kelompok-kelompok yang menganut ideologi kekerasan.

Proses Hukum Berlanjut: Menegakkan Keadilan

Persidangan kasus yang terkait dengan serangan Ulu Tiram ini adalah bagian integral dari upaya menegakkan keadilan bagi para korban dan memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab. Pengungkapan detail seperti klaim ekstremis dari ayah pelaku menjadi bukti penting dalam membangun gambaran utuh mengenai jaringan dan motivasi di balik serangan tersebut.

Proses hukum yang transparan dan menyeluruh diharapkan dapat memberikan kejelasan kepada publik sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa tindakan terorisme dan ideologi yang mendukungnya tidak akan ditoleransi di Malaysia. PDRM dan lembaga peradilan berkomitmen untuk memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam insiden ini akan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Masyarakat dihimbau untuk terus waspada dan melaporkan aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengancam keamanan dan ketenteraman awam. Informasi lebih lanjut mengenai komitmen PDRM dalam memerangi ekstremisme dapat dilihat di situs resmi mereka.

Hukum & Kriminal

Mantan Abbot Kuil Kelahiran Kung Fu Tiongkok Divonis 24 Tahun Penjara atas Korupsi

Published

on

Mantan kepala sebuah kuil Tiongkok yang masyhur sebagai tempat lahirnya kung fu telah dijatuhi hukuman 24 tahun penjara. Putusan ini disertai denda sebesar 3,5 juta yuan atau setara dengan $517.000 atas serangkaian kejahatan, termasuk penggelapan dan penyuapan. Media pemerintah pada Jumat melaporkan perkembangan kasus yang mengguncang institusi keagamaan dan budaya terkemuka ini. Hukuman berat yang dijatuhkan menunjukkan keseriusan pihak berwenang Tiongkok dalam menangani pelanggaran hukum, bahkan yang melibatkan figur-figur terkemuka dalam masyarakat.

Kuil ini, yang identitasnya sangat dekat dengan legenda seni bela diri kung fu, memiliki posisi sentral dalam sejarah dan budaya Tiongkok. Kasus hukum yang menimpa mantan abbot-nya tidak hanya menjadi sorotan lokal tetapi juga menarik perhatian internasional, mengingat status ikonik kuil tersebut. Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh otoritas penegak hukum Tiongkok berhasil mengumpulkan bukti-bukti kuat yang tak terbantahkan.

Skandal Korupsi Guncang Kuil Legendaris

Vonis terhadap mantan abbot ini merupakan puncak dari investigasi panjang yang mengungkap praktik korupsi di dalam institusi yang seharusnya menjadi teladan moral. Penggelapan dana publik dan praktik suap menjadi inti dakwaan yang akhirnya menyeretnya ke meja hijau. Skandal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset-aset keagamaan dan budaya di Tiongkok.

  • Kasus ini memicu diskusi publik tentang integritas pemimpin spiritual.
  • Masyarakat mengharapkan reformasi untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
  • Potensi kerusakan citra kuil sebagai pusat spiritual dan warisan budaya.

Detail Vonis dan Dakwaan Serius

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 24 tahun, menegaskan beratnya pelanggaran yang dilakukan. Selain itu, denda finansial yang signifikan, yaitu 3,5 juta yuan, menyoroti skala kerugian yang ditimbulkan akibat tindakan kriminal tersebut. Dakwaan utama yang berhasil dibuktikan meliputi penggelapan dana kuil, penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi, dan menerima suap dari berbagai pihak. Proses persidangan berjalan ketat, dengan berbagai bukti yang disajikan oleh jaksa penuntut. Vonis ini mengirimkan pesan tegas bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum, terlepas dari posisi atau pengaruhnya.

Refleksi Kampanye Anti-Korupsi Tiongkok

Kasus ini tidak terlepas dari kampanye anti-korupsi besar-besaran yang digalakkan oleh Presiden Xi Jinping. Sejak berkuasa, Xi telah meluncurkan ‘perang terhadap korupsi’ yang menyasar pejabat di berbagai level, mulai dari ‘harimau’ besar hingga ‘lalat’ kecil. Vonis terhadap mantan kepala kuil ini menunjukkan bahwa kampanye tersebut tidak hanya menargetkan pejabat partai atau militer, tetapi juga meluas ke sektor-sektor lain yang memiliki pengaruh publik dan kekayaan.

Pemerintah Tiongkok berulang kali menegaskan bahwa korupsi merusak pondasi sosial dan ekonomi negara. Oleh karena itu, langkah-langkah penegakan hukum yang keras diterapkan untuk memulihkan kepercayaan publik dan memastikan integritas institusi. Kasus ini menjadi contoh nyata dari jangkauan luas upaya anti-korupsi tersebut, yang telah menyeret ribuan pejabat ke penjara dalam satu dekade terakhir. Untuk pemahaman lebih lanjut mengenai kampanye anti-korupsi di Tiongkok, Anda dapat membaca analisis mendalam dari Council on Foreign Relations.
Baca lebih lanjut tentang Kampanye Anti-Korupsi Xi Jinping

Dampak Terhadap Institusi Keagamaan dan Warisan Budaya

Putusan ini memiliki implikasi besar bagi kuil yang bersangkutan, serta institusi keagamaan lainnya di Tiongkok. Reputasi kuil sebagai pusat spiritual dan budaya mungkin akan terpengaruh, memerlukan upaya serius untuk membangun kembali kepercayaan publik. Kasus ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh situs-situs warisan budaya dalam mengelola popularitas dan sumber daya finansial mereka tanpa terjerumus ke dalam praktik ilegal.

  • Banyak kuil dan situs keagamaan di Tiongkok telah berkembang menjadi destinasi wisata, membuka celah penyalahgunaan kekuasaan.
  • Regulasi yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih transparan menjadi krusial untuk melindungi integritas tempat-tempat suci.
  • Pemerintah Tiongkok kemungkinan akan memperketat pengawasan terhadap pengelolaan keuangan di lembaga-lembaga keagamaan.

Vonis ini menegaskan kembali tekad Tiongkok untuk memberantas korupsi di semua lapisan masyarakat, sekaligus mengingatkan akan pentingnya integritas bagi para pemimpin spiritual dan budaya. Ini adalah pesan penting bagi seluruh institusi yang memegang kepercayaan publik.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Analisis Tantangan Hukum Berat Jaksa Menyelidiki E. Jean Carroll Pasca Kemenangan Atas Trump

Published

on

Analisis Tantangan Hukum Berat Jaksa Menyelidiki E. Jean Carroll Pasca Kemenangan Atas Trump

Potensi penuntutan terhadap penulis E. Jean Carroll, yang telah dua kali memenangkan gugatan perdata terhadap Donald Trump, atau miliarder yang mendanai tim hukumnya, akan menghadapi hambatan hukum yang sangat besar bagi para jaksa. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendalam tentang batas-batas proses hukum, hak asasi penggugat, dan potensi politisasi sistem peradilan.

Penyelidikan mengenai kemungkinan penuntutan terhadap Ms. Carroll terjadi setelah serangkaian kemenangan hukumnya yang signifikan. Kemenangan ini secara sah mengonfirmasi klaimnya mengenai pelecehan seksual dan pencemaran nama baik oleh mantan Presiden Trump. Langkah hukum yang dipertimbangkan terhadap seorang penggugat yang telah berhasil dalam kasus perdata sangat jarang terjadi dan secara inheren kompleks, menyoroti implikasi yang lebih luas bagi sistem hukum dan kepercayaan publik terhadapnya.

Sumber-sumber yang mengetahui proses ini menyatakan bahwa para jaksa penuntut akan bergulat dengan berbagai argumen hukum dan preseden yang menguntungkan Ms. Carroll. Beban pembuktian untuk menuntut seseorang yang telah memenangkan gugatan perdata yang sah sangatlah tinggi, terutama karena putusan pengadilan sipil telah memvalidasi klaimnya.

Menilik Kemenangan E. Jean Carroll Melawan Donald Trump

E. Jean Carroll berhasil memenangkan dua kasus penting melawan Donald Trump. Pada bulan Mei 2023, juri federal memutuskan bahwa Trump melakukan pelecehan seksual dan memfitnah Carroll, menghukumnya untuk membayar ganti rugi sebesar $5 juta. Kemudian, pada Januari 2024, juri lain memerintahkan Trump untuk membayar Carroll $83,3 juta sebagai ganti rugi karena terus-menerus memfitnahnya setelah putusan pertama.

Kemenangan ini bukan hanya sekadar putusan pengadilan; ini adalah validasi hukum atas narasi Carroll yang telah lama ia perjuangkan. Kasus-kasus ini menyoroti:

  • Verifikasi Klaim: Juri menemukan bukti yang cukup meyakinkan untuk mendukung klaim Carroll mengenai pelecehan seksual dan pencemaran nama baik.
  • Dampak Reputasi: Putusan tersebut secara signifikan memengaruhi reputasi publik dan citra hukum Trump.
  • Ganti Rugi Substansial: Jumlah ganti rugi yang besar menunjukkan beratnya kerugian yang diderita Carroll akibat tindakan Trump.

Latar belakang kemenangan ini sangat krusial dalam mengevaluasi setiap upaya penuntutan terhadap Carroll. Secara hukum, sangat sulit untuk berargumen bahwa seorang penggugat yang berhasil memenangkan dua putusan signifikan di pengadilan telah melakukan tindakan yang patut dituntut secara pidana terkait dengan gugatan tersebut.

Hambatan Hukum Potensial Bagi Jaksa

Mengapa jaksa menghadapi tantangan besar dalam menuntut E. Jean Carroll atau pemodal gugatannya? Beberapa alasan fundamental menyoroti kompleksitas situasi ini:

  1. Ketiadaan Pelanggaran Pidana Jelas: Gugatan Carroll bersifat perdata, bukan pidana. Kemenangan dalam kasus perdata tidak secara otomatis menyiratkan adanya pelanggaran pidana oleh pihak penggugat. Untuk menuntut Carroll, jaksa harus menemukan bukti bahwa ia melanggar undang-undang pidana tertentu, seperti sumpah palsu atau penipuan, dengan standar pembuktian yang jauh lebih tinggi daripada kasus perdata.
  2. Sulitnya Membuktikan Gugatan Malisius (Malicious Prosecution): Setelah dua putusan juri yang menguntungkan Carroll, sangat sulit untuk membuktikan bahwa gugatannya bersifat sembrono atau diajukan dengan niat jahat untuk merugikan tanpa dasar hukum. Kemenangan di pengadilan merupakan indikator kuat bahwa gugatan tersebut memiliki merit.
  3. Hak untuk Mengajukan Gugatan: Meminta pertanggungjawaban melalui sistem hukum adalah hak fundamental. Menuntut seseorang karena berhasil menggunakan hak ini akan menimbulkan preseden berbahaya dan dapat menekan individu untuk tidak mencari keadilan.
  4. Motivasi dan Niat: Dalam kasus pidana, jaksa harus membuktikan niat kriminal di luar keraguan yang wajar. Mengapa Carroll, atau pemodal gugatannya, akan memiliki niat kriminal dalam mengajukan klaim yang kemudian divalidasi oleh juri?
  5. Perlindungan Amandemen Pertama: Tindakan hukum, seperti gugatan, sering kali dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS sebagai bentuk petisi kepada pemerintah untuk memperbaiki keluhan. Menghukum seseorang karena mengajukan gugatan yang berhasil akan menimbulkan masalah kebebasan berbicara yang serius.

Peran Pemodal Miliarder dalam Gugatan Hukum

Pertimbangan untuk menuntut miliarder yang membantu membiayai pengacara Ms. Carroll juga menghadapi tantangan serupa. Pendanaan gugatan hukum, yang dikenal sebagai pembiayaan litigasi pihak ketiga, adalah praktik yang sah dan semakin umum, terutama dalam kasus-kasus yang mahal dan memakan waktu.

Kecuali ada bukti bahwa dana tersebut diperoleh secara ilegal, digunakan untuk tujuan ilegal (seperti penyuapan saksi atau juri), atau melibatkan penipuan, tidak ada dasar hukum untuk menuntut seorang pemodal yang mendukung gugatan yang sah. Sebaliknya, pembiayaan semacam itu seringkali dilihat sebagai cara untuk memastikan akses terhadap keadilan bagi individu yang mungkin tidak memiliki sumber daya untuk menantang pihak yang lebih kuat secara finansial.

Sebagaimana laporan New York Times sebelumnya terkait kasus E. Jean Carroll, pembiayaan eksternal telah menjadi elemen penting dalam memungkinkan penggugat seperti Carroll untuk melanjutkan pertempuran hukum mereka melawan individu dengan kekuatan finansial yang sangat besar.

Dampak dan Reaksi Publik

Setiap upaya untuk menuntut Ms. Carroll atau pemodal gugatannya kemungkinan besar akan memicu kritik tajam dan perdebatan publik. Langkah ini dapat dipersepsikan sebagai politisasi sistem peradilan, terutama mengingat status politik Donald Trump. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan kekuasaan kejaksaan untuk menekan atau membalas dendam terhadap lawan politik, atau mereka yang berhasil menantang figur publik berkuasa.

Selain itu, tindakan tersebut dapat mengirimkan pesan yang mengintimidasi kepada korban pelecehan atau fitnah lainnya, menghalangi mereka untuk mencari keadilan karena takut akan tuntutan balik. Integritas sistem peradilan bergantung pada persepsi bahwa keputusan diambil berdasarkan hukum dan bukti, bukan tekanan politik atau keinginan untuk membalas dendam.

Secara keseluruhan, meskipun ada penyelidikan yang mungkin sedang berlangsung, hambatan hukum yang signifikan dan potensi implikasi yang merusak bagi sistem peradilan menunjukkan bahwa kemungkinan penuntutan terhadap E. Jean Carroll atau pemodal gugatannya sangat kecil.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polisi Ringkus Dua Pencopet Ponsel Turis Belanda di Dekat Stasiun Tanah Abang

Published

on

Polisi Ringkus Dua Pencopet Ponsel Turis Belanda di Dekat Stasiun Tanah Abang

Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Metro Gambir berhasil meringkus dua individu yang diduga kuat terlibat dalam aksi pencopetan ponsel milik seorang warga negara asing (WNA) asal Belanda. Kejadian ini berlangsung di kawasan ramai depan Stasiun Tanah Abang, Gambir, Jakarta Pusat, sebuah area yang dikenal padat aktivitas dan sering menjadi target pelaku kejahatan jalanan.

Penangkapan ini merupakan respons cepat dari aparat kepolisian terhadap laporan korban, seorang turis Belanda yang kehilangan ponselnya saat berada di salah satu simpul transportasi vital ibu kota. Kecepatan tindakan kepolisian dalam menindaklanjuti laporan semacam ini sangat krusial, tidak hanya untuk memulihkan kerugian korban tetapi juga untuk memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan dan menjaga citra keamanan kota.

Kronologi Penangkapan dan Modus Operandi

Informasi awal yang diterima kepolisian menyebutkan adanya laporan kehilangan ponsel dari seorang turis Belanda di area depan Stasiun Tanah Abang. Berdasarkan laporan tersebut, tim Reskrim Polsek Metro Gambir segera bergerak melakukan penyelidikan. Penyelidikan melibatkan pemeriksaan rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian serta keterangan saksi mata yang mungkin ada.

Dalam waktu singkat, polisi berhasil mengidentifikasi dua orang terduga pelaku. Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan berarti. Dari hasil interogasi awal, kedua pelaku mengakui perbuatannya dan mengungkapkan modus operandi yang mereka gunakan. Modus umum pencopetan di area padat seperti Stasiun Tanah Abang sering kali memanfaatkan keramaian dan kelengahan korban. Pelaku biasanya beraksi secara berkelompok, dengan satu orang mengalihkan perhatian dan yang lain mengeksekusi pencurian.

Beberapa modus yang kerap digunakan para pencopet meliputi:

  • Senggolan dan Pengalihan Perhatian: Pelaku secara sengaja menabrak atau menyenggol korban untuk menciptakan momen kelengahan, lalu mengambil barang berharga.
  • Taktik Pengepungan: Beberapa pelaku mengelilingi korban di tengah keramaian, menciptakan ruang yang sempit untuk memudahkan aksi pencurian.
  • Memanfaatkan Keramaian Transportasi Umum: Area naik turun penumpang di bus atau kereta api sering menjadi target karena desak-desakan.

Dalam kasus ini, ponsel korban berhasil diamankan sebagai barang bukti. Kedua pelaku kini dalam proses pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan mereka dalam kasus-kasus pencopetan lain di wilayah Jakarta.

Ancaman Keamanan Bagi Wisatawan dan Upaya Pencegahan

Insiden pencopetan terhadap turis Belanda ini kembali menyoroti pentingnya kewaspadaan, terutama bagi wisatawan asing yang berkunjung ke kota-kota besar. Kawasan seperti Stasiun Tanah Abang, sebagai pusat aktivitas ekonomi dan transportasi, memang rentan menjadi titik rawan kejahatan jalanan.

Kepolisian secara rutin mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan, untuk selalu berhati-hati dan menjaga barang bawaan mereka. Beberapa tips keamanan yang bisa diterapkan:

  • Selalu awasi tas atau dompet, terutama di tempat ramai. Gunakan tas selempang yang ditaruh di depan badan.
  • Hindari menyimpan ponsel atau dompet di saku belakang celana.
  • Jangan terlalu mencolok dengan perhiasan atau gadget mahal yang mudah menarik perhatian.
  • Waspada terhadap orang asing yang tiba-tiba mendekat atau mencoba mengalihkan perhatian.
  • Laporkan segera jika mengalami atau melihat tindak kejahatan kepada petugas keamanan terdekat.

Kejadian ini menambah panjang daftar kasus serupa yang kerap terjadi di area ramai ibu kota, sebagaimana pernah kami ulas dalam artikel ‘Tips Aman Berwisata di Kawasan Padat Jakarta’. Penting bagi pemerintah daerah dan pihak kepolisian untuk terus meningkatkan patroli dan pengawasan di titik-titik rawan untuk memastikan rasa aman bagi seluruh warga dan pengunjung.

Dampak Terhadap Citra Pariwisata Jakarta

Kasus kejahatan yang menimpa wisatawan asing seperti ini memiliki potensi untuk mencoreng citra pariwisata suatu kota atau negara. Wisatawan mencari pengalaman yang aman dan nyaman, dan insiden semacam ini bisa menciptakan persepsi negatif tentang keamanan destinasi. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tuntas oleh aparat penegak hukum menjadi sangat vital.

Pemerintah kota dan pihak terkait pariwisata juga perlu proaktif dalam menyosialisasikan langkah-langkah pencegahan dan ketersediaan bantuan bagi wisatawan. Kolaborasi antara kepolisian, pengelola fasilitas publik, dan komunitas pariwisata dapat menciptakan ekosistem yang lebih aman dan responsif terhadap potensi kejahatan. Upaya ini sejalan dengan komitmen untuk menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan yang ramah dan aman bagi siapa saja yang berkunjung atau tinggal di dalamnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tips keamanan saat bepergian di area urban, Anda bisa mengunjungi situs berita atau portal informasi pariwisata terkemuka. Pelajari lebih lanjut tentang keamanan wisatawan di Jakarta.

Continue Reading

Trending