Internasional
Keterlibatan China di Iran Berisiko Rumitkan Hubungan AS, USTR Beri Peringatan
WASHINGTON – Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas hubungan dengan Tiongkok, namun memberikan peringatan keras mengenai potensi campur tangan Beijing di Iran. Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer pada Jumat menyatakan bahwa setiap langkah Tiongkok yang bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat di Iran akan memperumit dinamika hubungan kedua negara adidaya tersebut. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap meluasnya pengaruh Tiongkok di Timur Tengah, terutama di tengah ketegangan berkelanjutan antara AS dan Iran.
Peringatan Greer muncul di saat Washington dan Beijing masih berupaya menstabilkan kembali hubungan mereka yang sempat tegang akibat perang dagang berkepanjangan. Meskipun kedua negara baru saja menandatangani kesepakatan dagang fase satu yang meredakan beberapa tarif, sejumlah isu sensitif lainnya, seperti hak asasi manusia di Xinjiang dan Hong Kong, serta klaim wilayah di Laut China Selatan, terus menjadi ganjalan. Upaya membangun fondasi hubungan yang kuat dan dapat diprediksi menjadi prioritas bagi kedua belah pihak, namun isu-isu geopolitik yang melibatkan negara ketiga berpotensi menggagalkan kemajuan ini.
Latar Belakang Ketegangan AS-China dan Isu Iran
Hubungan AS dengan Iran telah lama berada dalam pusaran ketegangan, terutama sejak Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018 dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang berat terhadap Teheran. Amerika Serikat berulang kali menuduh Iran mendestabilisasi kawasan melalui program rudal balistiknya, dukungan terhadap kelompok proksi, dan pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap dukungan signifikan, baik ekonomi, militer, maupun diplomatik, dari negara besar seperti Tiongkok kepada Iran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap strategi tekanan maksimum AS.
Tiongkok, sebagai salah satu pembeli minyak terbesar Iran dan mitra dagang penting, memiliki kepentingan ekonomis dan strategis di Timur Tengah. Beijing telah memperluas jejaknya di kawasan melalui inisiatif “Belt and Road” dan investasi infrastruktur yang masif. Keterlibatan Tiongkok di Iran bisa mencakup berbagai bentuk, mulai dari bantuan ekonomi untuk meredakan dampak sanksi, hingga potensi kerja sama militer atau transfer teknologi. Bagi Washington, hal ini akan dianggap sebagai upaya untuk melemahkan rezim sanksi AS dan secara efektif membantu Iran menahan tekanan internasional, yang jelas bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Potensi Komplikasi dan Implikasi Global
Jamieson Greer secara spesifik menekankan bahwa intervensi Tiongkok di Iran yang “berlawanan dengan kepentingan AS” akan memperumit keadaan. Ini bisa berarti berbagai hal, mulai dari hambatan dalam negosiasi dagang dan diplomatik antara AS dan Tiongkok, hingga potensi gesekan yang lebih luas di panggung global. Para analis kebijakan luar negeri memandang pernyataan ini sebagai sinyal bahwa Washington siap untuk menghubungkan isu-isu yang berbeda dalam hubungannya dengan Beijing, menjadikan isu Iran sebagai kartu tawar yang penting, seperti yang dianalisis oleh Council on Foreign Relations.
- Pelanggaran Sanksi Ekonomi AS: Dukungan finansial atau perdagangan yang substansial dari Tiongkok dapat melemahkan efektivitas sanksi AS yang dirancang untuk mengisolasi ekonomi Iran.
- Peningkatan Kapasitas Militer Iran: Potensi transfer teknologi militer atau penjualan persenjataan dari Tiongkok dapat meningkatkan kemampuan Iran untuk mengancam stabilitas regional.
- Dampak Terhadap Stabilitas Regional: Setiap langkah yang dianggap menguatkan posisi Iran secara signifikan dapat memicu reaksi dari negara-negara tetangga yang bersekutu dengan AS, memperkeruh situasi di Timur Tengah.
- Pelemahan Posisi Negosiasi AS: Keterlibatan Tiongkok dapat memberikan Iran leverage yang lebih besar, mempersulit upaya AS untuk kembali ke meja perundingan mengenai program nuklir dan rudal balistiknya.
Masa Depan Hubungan Trilateral
Peringatan dari USTR ini menyoroti betapa kompleks dan saling terkaitnya isu-isu geopolitik di era modern. Upaya Amerika Serikat untuk membangun hubungan yang stabil dengan Tiongkok harus berjalan beriringan dengan komitmennya untuk melindungi kepentingan strategisnya di kawasan lain, seperti Timur Tengah. Seperti yang telah kami ulas sebelumnya dalam berbagai laporan tentang dinamika perdagangan global dan ketegangan di Teluk Persia, setiap langkah yang diambil oleh kekuatan global dapat memiliki efek domino yang luas.
Masa depan hubungan antara Washington, Beijing, dan Teheran akan sangat bergantung pada bagaimana Tiongkok menanggapi peringatan ini. Memilih untuk secara aktif menentang kepentingan AS di Iran berisiko memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan kerja sama multilateral, yang baru saja menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebaliknya, pendekatan yang lebih hati-hati dari Tiongkok dapat membantu menjaga keseimbangan yang rapuh dan krusial bagi stabilitas global.
Internasional
Goldin Finance 117, Pencakar Langit Raksasa China, Hampir Rampung Setelah 18 Tahun
Goldin Finance 117, Pencakar Langit Raksasa China, Hampir Rampung Setelah 18 Tahun
Setelah penantian panjang selama 18 tahun, Goldin Finance 117, sebuah bangunan pencakar langit megah yang berlokasi di Tianjin, China, kini dilaporkan hampir rampung sepenuhnya. Proyek ambisius ini, yang telah menjadi sorotan global karena masa konstruksinya yang luar biasa panjang dan statusnya sebagai salah satu "bangunan kosong tertinggi di dunia" selama bertahun-tahun, menandai babak baru dalam sejarah pembangunan gedung-gedung super tinggi di Asia.
Kabar rampungnya proyek ini, yang disampaikan oleh media pemerintah, mengindikasikan berakhirnya sebuah saga konstruksi yang penuh liku. Goldin Finance 117 tidak hanya akan menambah daftar gedung super tinggi di China, tetapi juga menjadi simbol ketahanan proyek-proyek skala besar yang harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kendala finansial hingga pergeseran kondisi pasar. Penyelesaiannya diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan bagi kawasan bisnis di Tianjin dan menunjukkan kapasitas China dalam merealisasikan visi arsitektur yang paling berani sekalipun.
Sejarah Penundaan Panjang dan Tantangan Konstruksi
Perjalanan Goldin Finance 117 menuju penyelesaian telah menjadi kisah yang menarik dan penuh drama. Dimulai pada tahun 2008, pembangunan menara setinggi 596,5 meter ini direncanakan selesai dalam waktu relatif singkat. Namun, kenyataan berkata lain. Proyek ini menghadapi serangkaian penundaan yang signifikan, terutama terkait dengan masalah keuangan pengembangnya, Goldin Properties Holdings Ltd. Krisis finansial global dan perubahan iklim ekonomi di China turut memperburuk kondisi, menyebabkan pengerjaan dihentikan atau diperlambat dalam beberapa periode.
Selama bertahun-tahun, kerangka baja dan beton Goldin Finance 117 yang menjulang tinggi menjadi pemandangan ikonik, sekaligus melambangkan ambisi yang belum terealisasi. Statusnya sebagai bangunan yang telah mencapai ketinggian penuh namun belum fungsional, bahkan dijuluki sebagai salah satu "bangunan tertinggi yang kosong" di dunia, menarik perhatian para pengamat arsitektur dan urbanisasi global. Penundaan ini tidak hanya berarti kerugian finansial yang besar tetapi juga tantangan logistik yang kompleks untuk melanjutkan konstruksi setelah jeda panjang.
Beberapa faktor kunci di balik penundaan ini meliputi:
- Masalah Pendanaan: Goldin Properties menghadapi tekanan finansial yang berat, menyebabkan proyek terhenti beberapa kali.
- Kondisi Pasar: Perubahan dinamika pasar properti di Tianjin dan China secara keseluruhan memengaruhi investasi dan keputusan pembangunan.
- Skala Proyek: Kompleksitas teknis dan ukuran raksasa gedung memerlukan perencanaan dan sumber daya yang masif, rentan terhadap gangguan.
Megastruktur dan Fitur Arsitektural Unik
Dengan ketinggian mencapai 596,5 meter dan 117 lantai, Goldin Finance 117 akan menjadi salah satu gedung tertinggi di dunia setelah sepenuhnya beroperasi. Dirancang oleh firma arsitektur P&T Group, menara ini menampilkan desain yang ramping dan modern, dengan fasad kaca yang memantulkan langit. Bentuknya yang elegan dan puncaknya yang menyerupai berlian telah menjadi ciri khas yang membedakannya dari bangunan-bangunan lain.
Fungsi utama bangunan ini akan mencakup perkantoran kelas A, sebuah hotel bintang tujuh, area ritel mewah, dan dek observasi di lantai teratas yang menawarkan pemandangan panorama kota Tianjin. Fasilitas-fasilitas ini diharapkan dapat menarik investor dan wisatawan, menjadikan Goldin Finance 117 sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata yang vital di wilayah tersebut. Struktur internalnya dirancang dengan teknologi canggih untuk ketahanan gempa dan efisiensi energi, mencerminkan standar tertinggi dalam pembangunan pencakar langit modern.
Dampak Ekonomi dan Simbol Ketahanan
Penyelesaian Goldin Finance 117 bukan sekadar penambahan daftar bangunan tinggi; ini adalah indikator penting bagi ekonomi lokal dan nasional. Proyek ini diharapkan dapat menciptakan ribuan lapangan kerja, menarik investasi baru, dan memicu pertumbuhan sektor properti komersial di Tianjin. Kehadiran gedung ikonik ini juga dapat meningkatkan citra Tianjin sebagai kota metropolitan modern dan pusat bisnis yang berkembang.
Lebih dari sekadar angka dan ketinggian, Goldin Finance 117 menjadi simbol ketahanan dan determinasi. Proyek ini menggambarkan kemampuan China untuk terus maju dengan visi pembangunan berskala besar, bahkan di tengah hambatan yang paling menantang sekalipun. Kisah konstruksinya yang panjang juga dapat menjadi studi kasus berharga bagi industri konstruksi global mengenai manajemen proyek, mitigasi risiko finansial, dan adaptasi terhadap perubahan kondisi pasar. Sebagai sebuah megaprojek arsitektur yang telah melewati berbagai badai, penyelesaian Goldin Finance 117 akan menjadi bukti nyata keberanian dan inovasi dalam dunia pembangunan gedung-gedung super tinggi.
Dengan hampir selesainya Goldin Finance 117, mata dunia kini tertuju pada kapan gedung ini akan mulai beroperasi penuh dan bagaimana ia akan berkontribusi pada lanskap kota Tianjin dan perekonomian China secara keseluruhan. Setelah hampir dua dekade, penantian panjang akhirnya akan berakhir, membuka lembaran baru bagi salah satu pencakar langit paling menunda dalam sejarah modern.
Internasional
Paus Leo Serukan Perdamaian Global: ‘Cukup untuk Perang!’, Minta Dunia Kembali pada Cinta dan Moderasi
Paus Leo Menggugah Dunia: Kecam Keras Pemicu Perang
Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Leo, baru-baru ini menyuarakan kecaman keras terhadap mereka yang memicu konflik bersenjata, menyerukan miliaran penduduk bumi untuk kembali memegang teguh nilai-nilai perdamaian, cinta kasih, moderasi, dan praktik politik yang sehat. Seruan kuat ini disampaikan Paus Leo dalam sebuah pidato berapi-api yang menggema dari jantung Vatikan pada Sabtu lalu, menegaskan kembali posisi Takhta Suci sebagai advokat utama bagi rekonsiliasi dan harmoni global.
Dalam pesannya, Paus Leo tidak hanya mengkritik tindakan agresi, tetapi juga mengajak seluruh umat manusia untuk “percaya sekali lagi pada cinta, moderasi, dan politik yang baik.” Ungkapan ini menjadi inti dari visinya untuk dunia yang lebih damai dan adil, di mana dialog dan pengertian mengalahkan kekerasan dan permusuhan. Pernyataan ini muncul di tengah lanskap global yang diwarnai oleh berbagai ketegangan geopolitik dan konflik yang berkepanjangan, menjadikan seruan Paus memiliki bobot moral dan urgensi yang kian relevan.
Menyoroti Akar Konflik dan Pentingnya Moderasi
Seruan Paus Leo untuk mengakhiri perang bukan hanya sekadar kecaman moral, melainkan juga sebuah refleksi mendalam tentang akar penyebab konflik. Perang seringkali berawal dari kegagalan diplomasi, ekstremisme ideologi, dan kurangnya empati. Paus, dengan otoritas spiritualnya, mengingatkan bahwa solusi permanen tidak dapat dicapai melalui kekuatan militer semata, melainkan harus dibangun di atas fondasi kemanusiaan bersama dan keinginan untuk hidup berdampingan secara damai.
- Toleransi Beragama: Mengingat peran agama sering disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan, Paus Leo secara konsisten menyerukan dialog antaragama dan saling pengertian sebagai kunci untuk menghindari konflik.
- Keadilan Sosial: Ketidakadilan ekonomi dan sosial sering menjadi pemicu ketidakpuasan yang berujung pada kekerasan. Pesan Paus secara implisit menyentuh perlunya distribusi sumber daya yang lebih adil dan kesempatan yang setara bagi semua orang.
- Penghormatan Martabat Manusia: Setiap perang merenggut martabat manusia. Paus Leo menekankan bahwa setiap individu, tanpa memandang ras, agama, atau kebangsaan, memiliki hak inheren untuk hidup dalam damai dan bebas dari ketakutan.
Konsep "moderasi" yang disuarakan Paus Leo memiliki signifikansi ganda. Ini bukan hanya tentang menahan diri dari tindakan ekstrem, tetapi juga tentang menemukan jalan tengah dalam setiap perdebatan, menghargai perspektif yang berbeda, dan mencari solusi kompromi yang menguntungkan semua pihak. Di era polarisasi yang intens, seruan untuk moderasi adalah pengingat penting akan nilai-nilai kebijaksanaan dan keseimbangan.
Politik yang Baik: Fondasi Kedamaian Sejati
Lebih lanjut, Paus Leo juga menyoroti pentingnya "politik yang baik" sebagai pilar utama perdamaian. Ini bukan sekadar tentang pemerintahan yang efektif, tetapi tentang kepemimpinan yang berlandaskan etika, transparansi, dan komitmen terhadap kesejahteraan warganya. Politik yang baik adalah politik yang mengutamakan dialog daripada konfrontasi, yang mencari solusi diplomatik daripada opsi militer, dan yang membangun jembatan daripada tembok pemisah.
Melalui seruan ini, Paus Leo secara tidak langsung menantang para pemimpin dunia untuk mengevaluasi kembali prioritas mereka. Apakah sumber daya diinvestasikan pada senjata atau pada pendidikan, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan? Apakah keputusan dibuat demi kepentingan segelintir elite atau demi kebaikan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi krusial dalam membentuk masa depan dunia yang lebih damai.
Seruan Paus Leo ini menggemakan banyak pernyataan Takhta Suci sebelumnya yang secara konsisten menyerukan diakhirinya konflik dan penegakan keadilan. Misalnya, dalam pesan Hari Perdamaian Dunia yang rutin dikeluarkan setiap tahun, para Paus senantiasa menyoroti tema-tema universal seperti persaudaraan, dialog, dan penolakan kekerasan. Pidato terbaru ini menjadi kelanjutan dari tradisi panjang kepemimpinan spiritual yang berupaya membimbing umat manusia menuju jalan kebijaksanaan dan perdamaian.
Dalam konteks global saat ini, di mana berita konflik seringkali mendominasi, pesan Paus Leo menjadi suar harapan. Ini adalah ajakan untuk introspeksi kolektif, sebuah pengingat bahwa perdamaian bukanlah impian yang mustahil, melainkan tujuan yang dapat dicapai melalui tindakan nyata dan komitmen tulus dari setiap individu dan komunitas di seluruh dunia. Harapan Paus Leo adalah agar miliaran orang yang mendengar seruannya dapat terinspirasi untuk menjadi agen perubahan, menyebarkan benih cinta dan moderasi di lingkungan mereka masing-masing, sehingga perdamaian sejati dapat bersemi.
Internasional
Korban Tewas Akibat Serangan di Gaza Capai 72.328 Jiwa Sejak Oktober 2023
RAMALLAH – Angka kematian akibat serangan di Jalur Gaza telah mencapai 72.328 orang, menandai eskalasi yang mengkhawatirkan sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023. Selain itu, laporan dari sumber medis di Gaza menunjukkan bahwa 172.184 individu lainnya mengalami luka-luka serius, menggambarkan skala penderitaan yang meluas di wilayah tersebut.
Data terbaru ini tidak sekadar menunjukkan deretan angka, melainkan merefleksikan tragedi kemanusiaan yang mendalam dan terus memburuk. Setiap angka mewakili individu, keluarga, dan komunitas yang hancur oleh kekerasan yang tak berkesudahan, menciptakan krisis dengan dampak jangka panjang yang belum bisa diprediksi. Peningkatan tajam dalam jumlah korban jiwa dan cedera menyoroti urgensi situasi di Gaza yang telah lama menjadi perhatian dunia.
Kenaikan Tragis Angka Korban: Gambaran Situasi di Gaza
Sejak dimulainya operasi militer pada Oktober 2023, wilayah Gaza telah menjadi pusat konflik intens yang telah merenggut puluhan ribu nyawa. Sumber medis di Gaza secara konsisten mendokumentasikan dampak serangan yang berkelanjutan terhadap warga sipil. Angka 72.328 korban tewas tidak hanya mencakup pejuang, tetapi juga sejumlah besar perempuan, anak-anak, dan lansia yang terjebak dalam zona perang.
- Total korban tewas: 72.328 jiwa.
- Total korban luka-luka: 172.184 jiwa.
- Periode laporan: Sejak 7 Oktober 2023.
- Sumber data: Sumber medis di Gaza.
Peningkatan jumlah korban ini terjadi di tengah blokade yang ketat, membatasi akses terhadap bantuan kemanusiaan vital dan menyebabkan infrastruktur dasar, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan, berada di ambang keruntuhan. Komunitas internasional, termasuk berbagai organisasi hak asasi manusia dan PBB, terus menyuarakan kekhawatiran atas tingginya angka korban sipil dan mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk: Runtuhnya Sistem Kesehatan dan Pengungsian Massal
Jalur Gaza, sebuah wilayah padat penduduk, kini menghadapi krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sistem kesehatan yang sudah rapuh di Gaza kini praktis lumpuh. Banyak rumah sakit telah rusak atau tidak dapat beroperasi karena kekurangan listrik, bahan bakar, pasokan medis, dan personel. Tenaga medis yang tersisa bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya dan sumber daya yang sangat terbatas, seringkali harus memilih siapa yang akan diselamatkan.
Puluhan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka, mencari perlindungan di tempat-tempat yang dianggap lebih aman, seringkali di sekolah-sekolah atau fasilitas PBB yang juga menjadi target. Kondisi pengungsian sangat memprihatinkan; mereka menghadapi kekurangan air bersih, sanitasi yang buruk, serta risiko penyakit menular yang tinggi. Organisasi-organisasi kemanusiaan melaporkan bahwa seluruh populasi Gaza terancam kelaparan karena terbatasnya akses pangan.
Dampak Luas Konflik: Dari Anak-anak hingga Infrastruktur Vital
Anak-anak di Gaza menjadi salah satu kelompok paling rentan dalam konflik ini. Ribuan anak dilaporkan tewas atau terluka, dan mereka yang selamat mengalami trauma psikologis mendalam yang akan memengaruhi masa depan mereka. Pendidikan terhenti, rumah hancur, dan lingkungan yang pernah mereka kenal kini berubah menjadi puing. Selain itu, infrastruktur vital seperti jalan, jaringan listrik, fasilitas air, dan sistem komunikasi juga mengalami kerusakan parah, mempersulit upaya pemulihan pasca-konflik.
Laporan dari berbagai lembaga independen menegaskan bahwa skala kehancuran di Gaza sangat besar. Upaya rekonstruksi akan memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan investasi besar serta dukungan internasional yang signifikan. Kehilangan tempat tinggal, mata pencarian, dan akses terhadap layanan dasar telah menciptakan siklus kemiskinan dan ketergantungan yang sulit diputus.
Seruan Internasional dan Tantangan Bantuan Kemanusiaan
Meningkatnya angka korban telah memicu gelombang kecaman internasional dan seruan mendesak untuk gencatan senjata. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai negara telah berulang kali menyerukan perlindungan warga sipil dan memfasilitasi aliran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan. Namun, upaya penyaluran bantuan seringkali terhambat oleh kondisi keamanan yang tidak stabil, pembatasan akses, dan birokrasi yang kompleks.
Organisasi bantuan kemanusiaan berjuang keras untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan, tetapi skala kebutuhan jauh melebihi kapasitas yang ada. Masyarakat internasional menghadapi tekanan untuk menemukan solusi diplomatik yang berkelanjutan guna mengakhiri konflik dan mengatasi akar masalahnya, sambil memastikan akuntabilitas atas pelanggaran hukum internasional.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai situasi kemanusiaan di Gaza dan upaya penanganan krisis, Anda dapat merujuk laporan terkini dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA): Laporan Situasi Kemanusiaan Gaza.
Menghubungkan Fakta: Eskalasi Berkelanjutan dan Pentingnya Laporan Sebelumnya
Data terbaru ini merupakan kelanjutan dari serangkaian laporan yang telah kami publikasikan sebelumnya mengenai eskalasi konflik di Gaza. Sejak pekan-pekan awal setelah 7 Oktober 2023, Portal Berita ini secara konsisten menyoroti peningkatan jumlah korban, kehancuran infrastruktur, dan memburuknya kondisi kehidupan warga sipil. Angka 72.328 korban tewas bukan hanya sebuah statistik baru, melainkan sebuah indikator tragis dari tren peningkatan yang telah kami pantau selama berbulan-bulan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada seruan global untuk perdamaian dan perlindungan, kekerasan terus berlanjut tanpa henti.
Pembaca mungkin ingat artikel-artikel sebelumnya yang membahas tentang krisis pangan, kelangkaan air bersih, dan kehancuran rumah sakit di Gaza. Laporan hari ini mempertegas bahwa situasi ini bukan hanya berlanjut, tetapi semakin memburuk secara signifikan, mendesak semua pihak untuk mencari solusi nyata dan berkelanjutan guna menghentikan spiral kekerasan yang tak berujung.
-
Daerah1 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah1 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Pemerintah1 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Olahraga1 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah4 minggu agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Internasional1 bulan agoKetegangan Selat Hormuz Meruncing, Ekonomi Asia Terancam Gejolak
-
Hukum & Kriminal1 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Hukum & Kriminal4 minggu agoPeguam Zamri Vinoth Sorot Tajam Isu Layanan Dua Darjat Pihak Berkuasa
