Internasional
Perundingan AS-Iran Mandek Sementara, Ketidaksepakatan Inti Tetap Menghambat
Perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan telah ditunda untuk sementara waktu, demikian diumumkan oleh pemerintah Iran pada Minggu pagi. Meskipun serangkaian diskusi intens telah digelar, kedua belah pihak gagal mencapai terobosan signifikan, dengan ketidaksepakatan substansial masih menjadi penghalang utama bagi penyelesaian krisis yang telah berlangsung lama.
Pernyataan Teheran mengindikasikan bahwa perundingan tersebut, yang bertujuan meredakan periode ketegangan dan konflik yang memanas antara Washington dan Teheran selama enam minggu terakhir, telah mencapai jeda. Para pengamat politik menilai situasi ini sebagai refleksi dari jurang perbedaan yang dalam, khususnya terkait isu-isu sensitif seperti program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan pengaruh regional kedua kekuatan tersebut. Absennya kemajuan menandakan bahwa jalan menuju normalisasi hubungan atau bahkan de-eskalasi ketegangan masih panjang dan berliku.
Mandeknya Perundingan dan Perselisihan Inti
Pemerintah Iran menegaskan bahwa keputusan untuk menunda perundingan datang setelah serangkaian diskusi maraton yang tidak membuahkan hasil konkrit. Sumber-sumber diplomatik, yang enggan disebutkan namanya, menyebutkan bahwa titik-titik perselisihan utama tetap tidak berubah. Amerika Serikat dilaporkan mendesak pembatasan lebih lanjut terhadap program rudal balistik Iran dan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah, sementara Iran menuntut pencabutan total sanksi yang diberlakukan AS serta jaminan keamanan dari Washington.
Negosiasi yang terjadi di Pakistan ini dianggap strategis mengingat peran Islamabad sebagai jembatan diplomatik potensial antara kedua negara yang memiliki sejarah hubungan rumit. Namun, bahkan dengan mediasi negara ketiga, kompleksitas isu yang diperdebatkan terbukti terlalu berat untuk diselesaikan dalam satu putaran perundingan saja.
- Ketidaksepakatan terkait Program Nuklir: Iran bersikeras pada haknya untuk mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai, sementara AS menuntut transparansi lebih lanjut dan pembatasan yang lebih ketat.
- Sanksi Ekonomi: Teheran menginginkan pencabutan sanksi yang melumpuhkan ekonominya, sementara Washington menggunakannya sebagai alat tawar yang kuat.
- Pengaruh Regional: Peran Iran di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon terus menjadi sumber ketegangan dengan AS dan sekutunya.
Latar Belakang Konflik dan Upaya Mediasi
Situasi ini mengulang pola tarik ulur yang telah lama mendominasi hubungan bilateral kedua negara, mengingatkan kita pada berbagai putaran negosiasi sebelumnya dan tantangan yang menghambat kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) yang dibahas dalam artikel kami sebelumnya tentang [link: Sejarah Singkat Perundingan Nuklir Iran dan Tantangannya]. Konflik selama enam minggu terakhir, meskipun tidak dideklarasikan sebagai perang terbuka, telah ditandai oleh insiden-insiden di Selat Hormuz, serangan siber, dan ketegangan di perbatasan Irak, yang semakin menegaskan perlunya dialog diplomatik.
Pakistan, sebagai tuan rumah, berupaya keras memfasilitasi dialog. Perdana Menteri Pakistan disebut-sebut secara pribadi terlibat dalam upaya menekan kedua belah pihak untuk mencari titik temu. Namun, tanpa fleksibilitas yang memadai dari Washington dan Teheran, bahkan upaya mediasi terbaik pun akan sulit membuahkan hasil yang diharapkan.
Dampak Terhadap Stabilitas Regional
Penundaan perundingan ini berpotensi memperburuk ketidakpastian di Timur Tengah. Tanpa jalur komunikasi yang efektif, risiko salah perhitungan atau eskalasi konflik di wilayah yang sudah bergejolak akan meningkat. Harga minyak global mungkin akan berfluktuasi sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik, dan negara-negara tetangga Iran akan semakin waspada terhadap potensi ketegangan lebih lanjut.
Prospek Diplomasi ke Depan
Meskipun perundingan telah ditunda, sebagian besar analis meyakini bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Kebutuhan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas tetap menjadi prioritas bagi kedua belah pihak, serta komunitas internasional. Namun, untuk melanjutkan, Washington dan Teheran perlu menunjukkan kemauan politik yang lebih besar untuk berkompromi dan mencari solusi inovatif atas perbedaan yang ada. Langkah selanjutnya kemungkinan besar akan melibatkan upaya tidak langsung melalui perantara atau serangkaian pertemuan tingkat rendah untuk membangun kembali kepercayaan yang terkikis.
Pemerintah Iran tidak memberikan batas waktu kapan perundingan akan dilanjutkan, tetapi menegaskan bahwa mereka tetap terbuka untuk dialog di masa depan jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Di sisi lain, Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penundaan ini, namun diharapkan akan memberikan respons dalam beberapa waktu ke depan. Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara untuk melihat apakah ketegangan dapat diredakan atau justru akan semakin meruncing.
Internasional
Pelanggaran Gencatan Senjata: Israel Bombardir Blok Perumahan di Gaza, Puluhan Keluarga Mengungsi
Pusat-pusat kota dilanda gelombang serangan baru oleh militer Israel yang menargetkan blok-blok perumahan padat penduduk. Insiden ini terjadi meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya membawa jeda bagi konflik berkepanjangan. Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memaksa puluhan keluarga untuk kembali mengungsi, menambah daftar panjang penderitaan warga sipil Palestina yang sudah hidup di bawah bayang-bayang konflik selama bertahun-tahun.
Penargetan blok-blok perumahan yang masih tersisa, yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi warga, secara signifikan memperparah krisis kemanusiaan. Lingkungan-lingkungan yang sebelumnya telah hancur kini menghadapi kehancuran yang lebih parah, menyisakan sedikit sekali pilihan tempat tinggal bagi penduduk. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan pelanggaran hukum internasional dan kesepakatan yang telah disepakati.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Dampak Kemanusiaan
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa pasukan Israel sengaja menargetkan struktur-struktur sipil yang vital, termasuk blok-blok apartemen dan rumah-rumah penduduk. Aksi ini secara langsung bertentangan dengan semangat dan ketentuan gencatan senjata yang seharusnya menghentikan permusuhan dan memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk. Konsekuensi langsung dari serangan ini sangat menghancurkan:
- Peningkatan Pengungsian: Puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal mereka dalam semalam, bergabung dengan jutaan warga Palestina lainnya yang telah mengungsi berkali-kali.
- Kerusakan Infrastruktur Sipil: Blok-blok perumahan yang tersisa, yang krusial untuk menampung populasi padat, kini hancur atau tidak layak huni.
- Trauma Psikologis Mendalam: Kekerasan yang terus-menerus menciptakan ketakutan dan trauma yang mendalam di kalangan warga sipil, terutama anak-anak.
“Ketakutan telah menjadi tamu permanen di rumah-rumah kami,” ujar seorang warga kepada *Mondoweiss*, menggambarkan atmosfer mencekam yang meliputi kehidupan sehari-hari. Pernyataan ini mencerminkan realitas pahit di mana rasa aman adalah kemewahan yang sulit dijangkau.
Krisis Perumahan dan Trauma Warga Sipil
Sebelum insiden terbaru ini, Gaza telah menghadapi krisis perumahan yang parah akibat konflik-konflik sebelumnya dan blokade yang berkepanjangan. Ribuan unit rumah telah hancur dan pembangunan kembali berjalan sangat lambat karena keterbatasan material dan dana. Serangan baru ini tidak hanya memperparah kondisi fisik, tetapi juga secara psikologis menghancurkan semangat masyarakat. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman, kini terpaksa menyaksikan rumah mereka hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang mendalam.
Organisasi-organisasi kemanusiaan telah berulang kali menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional. Namun, seruan tersebut tampaknya belum sepenuhnya didengar oleh pihak-pihak yang berkonflik. Situasi ini menggarisbawahi kegagalan komunitas internasional dalam memastikan implementasi gencatan senjata dan perlindungan terhadap hak-hak dasar warga sipil. Laporan PBB mengenai krisis kemanusiaan di wilayah tersebut terus-menerus menyoroti kebutuhan mendesak akan bantuan dan perlindungan, namun akses terhadap bantuan sering kali terhambat oleh situasi keamanan yang tidak menentu. (Untuk informasi lebih lanjut mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza, Anda dapat merujuk laporan-laporan terbaru dari OCHA).
Kondisi Gaza yang Semakin Memburuk
Pelanggaran gencatan senjata ini bukan insiden terisolasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pola serangan terhadap infrastruktur sipil telah menjadi ciri khas konflik di wilayah ini. Jika kita melihat kembali artikel-artikel sebelumnya mengenai serangan di Gaza, seringkali kita melihat dampak yang berulang: kehancuran besar-besaran, pengungsian massal, dan krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan. Setiap kali ada jeda, ketegangan selalu membayangi, siap meledak kembali dan merenggut lebih banyak nyawa dan harapan.
Blokade yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun telah melumpuhkan ekonomi dan membatasi akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan kesehatan. Serangan terhadap blok-blok perumahan yang tersisa akan semakin memperparah kondisi ini, membuat upaya pemulihan menjadi semakin mustahil. Komunitas internasional memiliki tanggung jawab moral untuk menekan semua pihak agar menghormati kesepakatan yang telah dibuat dan memprioritaskan keselamatan serta kesejahteraan warga sipil.
Reaksi Internasional dan Seruan Keadilan
Dunia menantikan reaksi tegas dari komunitas internasional terhadap pelanggaran nyata gencatan senjata ini. Serangan yang menargetkan area pemukiman padat penduduk adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang melarang serangan tanpa pandang bulu dan penargetan warga sipil serta properti sipil. Tekanan diplomatik yang lebih kuat diperlukan untuk memastikan akuntabilitas dan menghentikan siklus kekerasan yang tak berujung. Hanya dengan demikian, harapan untuk perdamaian yang berkelanjutan dan rasa aman bagi warga Gaza dapat terwujud.
Internasional
Analisis: Perundingan Damai AS-Iran, Langkah Perlahan Menuju Gencatan Senjata di Timur Tengah
Pergerakan lambat namun signifikan terus terjadi dalam upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, menuju kemungkinan tercapainya perjanjian untuk memperpanjang gencatan senjata yang ada di beberapa titik konflik di Timur Tengah. Laporan dari sumber-sumber terpercaya mengindikasikan bahwa kedua negara, meski memiliki sejarah panjang ketegangan dan saling curiga, tetap mencari titik temu guna meredakan eskalasi regional. Proses ini menyoroti kompleksitas hubungan bilateral mereka serta kepentingan geopolitik yang saling bersinggungan di kawasan strategis tersebut.
Meskipun detail spesifik dari draf perjanjian damai atau perpanjangan gencatan senjata tersebut masih belum diungkap secara publik, kabar ini menggarisbawahi keinginan kedua belah pihak untuk menghindari konfrontasi langsung yang lebih luas. Negosiasi yang berlangsung cenderung melalui saluran tidak langsung, mengingat absennya hubungan diplomatik formal antara Washington dan Tehran selama beberapa dekade. Ini bukan kali pertama AS dan Iran terlibat dalam dialog semacam ini; sejarah mencatat berbagai upaya diplomasi, baik yang berhasil maupun yang gagal, dalam mencari solusi atas perbedaan yang mendalam, terutama terkait program nuklir Iran dan peran regionalnya.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah lama diselimuti ketegangan, sering kali memicu krisis yang berdampak global. Sejak Revolusi Islam Iran pada 1979, hubungan diplomatik antara kedua negara terputus, membuka babak baru permusuhan yang ditandai oleh:
- Krisis sandera Kedutaan Besar AS: Insiden fundamental yang membentuk persepsi negatif kedua belah pihak.
- Program nuklir Iran: Isu paling menonjol yang memicu sanksi internasional dan kekhawatiran proliferasi.
- Dukungan untuk proxy regional: Kedua negara saling menuduh mendukung kelompok-kelompok yang mengancam kepentingan masing-masing di Timur Tengah.
- Penarikan AS dari JCPOA: Keputusan Presiden Trump untuk menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018 memperparah ketegangan, menyebabkan Iran kembali memperkaya uranium melampaui batas yang diizinkan dalam perjanjian.
Dalam konteks historis ini, setiap langkah menuju gencatan senjata atau dialog dipandang sebagai pencapaian yang signifikan, meskipun fragil. Para analis menyoroti bahwa perkembangan ini mungkin merupakan respons terhadap tekanan regional dan global untuk meredakan ketegangan yang dapat memicu konflik yang lebih besar, terutama di tengah volatilitas di sejumlah negara di Timur Tengah.
Hambatan Utama Menuju Kesepakatan
Proses menuju perjanjian damai atau perpanjangan gencatan senjata ini menghadapi sejumlah rintangan besar yang membuat kemajuannya sangat lambat.
- Tingkat Kepercayaan yang Rendah: Sejarah konflik dan perjanjian yang tidak dihormati menciptakan ketidakpercayaan yang mendalam di kedua belah pihak.
- Tuntutan yang Kompleks: Baik AS maupun Iran memiliki daftar tuntutan yang panjang, mulai dari pencabutan sanksi ekonomi oleh AS hingga penghentian dukungan untuk kelompok-kelompok bersenjata di kawasan oleh Iran.
- Politik Domestik: Para pemimpin di Washington dan Tehran harus menavigasi tekanan politik domestik yang kuat dari faksi-faksi garis keras yang menentang kompromi dengan pihak lawan.
- Peran Aktor Regional: Sekutu AS seperti Arab Saudi dan Israel, serta sekutu Iran seperti Hizbullah dan kelompok Houthi, memiliki kepentingan sendiri yang dapat mempersulit kesepakatan.
Setiap aspek ini menuntut diplomasi yang sangat hati-hati dan kesabaran luar biasa dari para perunding. Para pengamat politik sering kali menyarankan bahwa kemajuan seringkali terhenti karena detail yang kecil, yang pada akhirnya mencerminkan perbedaan filosofi politik yang mendalam antara kedua negara. Artikel kami sebelumnya yang membahas dampak sanksi terhadap perekonomian Iran juga mengindikasikan bagaimana tekanan ekonomi dapat menjadi faktor pendorong sekaligus penghambat dalam negosiasi semacam ini.
Implikasi Regional dan Global
Jika perjanjian gencatan senjata ini berhasil diperpanjang atau bahkan diperluas menjadi kesepakatan damai yang lebih komprehensif, implikasinya akan sangat luas.
- De-eskalasi Konflik: Potensi penurunan intensitas konflik di Yaman, Suriah, dan Irak, di mana proksi kedua negara aktif, bisa menjadi kenyataan.
- Stabilitas Pasar Energi: Penurunan ketegangan di Teluk Persia dapat berkontribusi pada stabilitas pasokan minyak global dan harga energi.
- Jalur Diplomasi Baru: Kesepakatan ini bisa membuka pintu bagi dialog lebih lanjut tentang isu-isu lain, seperti program nuklir atau keamanan maritim.
- Pergeseran Geopolitik: Berpotensi mengubah dinamika aliansi di Timur Tengah, memengaruhi hubungan antara negara-negara Teluk dan Iran.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa setiap perjanjian hanyalah permulaan, bukan akhir. Implementasi dan kepatuhan akan menjadi kunci keberlanjutan. Tantangan nyata terletak pada membangun mekanisme verifikasi yang kuat dan mengembangkan kerangka kerja untuk mengatasi perselisihan di masa depan. Perjalanan menuju perdamaian yang abadi antara AS dan Iran masih panjang, penuh lika-liku, dan memerlukan komitmen berkelanjutan dari semua pihak yang terlibat. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang sejarah panjang hubungan AS-Iran, Anda bisa membaca analisis mendalam dari Council on Foreign Relations.
Internasional
Menlu Pakistan Bahas Ketegangan Iran dengan Pejabat Tinggi AS
Menlu Pakistan Dorong Dialog untuk Stabilitas Kawasan
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, tiba di Washington pada Jumat lalu untuk serangkaian pertemuan penting dengan para pejabat tinggi Amerika Serikat. Fokus utama dari kunjungan diplomatik ini adalah pembahasan mengenai perkembangan terkini terkait program nuklir Iran dan upaya menstabilkan kawasan.
Dar dijadwalkan untuk melakukan dialog substansial dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken. Selain itu, ia juga diperkirakan akan bertemu dengan pejabat senior AS lainnya, termasuk Senator Marco Rubio, seorang tokoh berpengaruh di Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Diskusi ini menandai upaya berkelanjutan kedua negara untuk mengatasi isu-isu regional yang kompleks dan memperkuat kemitraan strategis.
Kunjungan Dar berlangsung di tengah periode ketidakpastian geopolitik yang signifikan, khususnya terkait dengan ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dan implikasi dari program nuklir Iran terhadap stabilitas global. Pakistan, sebagai negara tetangga Iran dan sekutu lama AS, memiliki posisi unik untuk berkontribusi pada upaya diplomatik yang bertujuan meredakan ketegangan dan mencari solusi damai.
Kunjungan Krusial di Tengah Dinamika Regional
Kedatangan Menlu Dar di ibu kota AS bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah sinyal kuat dari komitmen Pakistan untuk terlibat aktif dalam diplomasi internasional yang berorientasi pada perdamaian dan stabilitas. Hubungan antara Pakistan dan Amerika Serikat memiliki sejarah panjang, ditandai oleh kerja sama di berbagai bidang, mulai dari kontraterorisme hingga pembangunan ekonomi. Namun, hubungan ini juga mengalami pasang surut, yang menuntut kalibrasi berkelanjutan.
Pakistan secara historis telah memainkan peran penting sebagai jembatan diplomatik di berbagai konflik regional. Kemampuannya untuk menjaga saluran komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara dengan hubungan tegang dengan AS, menjadikannya mitra potensial dalam upaya mediasi. Dalam konteks isu Iran, pandangan Pakistan sangat dihargai oleh Washington, mengingat kedekatan geografis dan historisnya dengan Teheran.
Pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Antony Blinken akan menjadi puncak dari agenda Dar, di mana kedua belah pihak diharapkan membahas spektrum luas masalah bilateral dan regional. Ini termasuk tidak hanya isu Iran, tetapi juga situasi di Afghanistan, upaya kontraterorisme, kerja sama ekonomi, dan keamanan energi. Kehadiran Senator Marco Rubio dalam daftar pertemuan juga menyoroti pentingnya keterlibatan kongres dalam membentuk kebijakan luar negeri AS, dan menunjukkan bahwa Pakistan sedang berupaya membangun konsensus lintas-partai di Washington mengenai hubungan bilateral dan isu-isu regional.
Agenda Utama: Program Nuklir Iran dan Stabilitas Kawasan
Isu program nuklir Iran dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan menjadi salah satu agenda paling mendesak dalam diskusi. Sementara sumber awal menyebutkan ‘negosiasi untuk mengakhiri perang Iran’, frasa yang lebih akurat dan relevan dalam konteks diplomatik saat ini adalah pembahasan mengenai:
- Kemajuan dalam negosiasi terkait pembatasan program nuklir Iran, khususnya di tengah kekhawatiran tentang pengayaan uranium.
- Upaya untuk mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk peran Iran dalam mendukung kelompok-kelompok non-negara.
- Dampak sanksi AS terhadap Iran dan bagaimana hal itu mempengaruhi dinamika regional.
- Pentingnya dialog dan solusi diplomatik untuk mengatasi ketegangan yang ada.
Pakistan memiliki kepentingan langsung dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di perbatasannya dan di seluruh kawasan. Eskalasi konflik di Iran tidak hanya akan membawa konsekuensi kemanusiaan yang parah tetapi juga dapat mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi, yang vital bagi Pakistan. Oleh karena itu, Pakistan secara konsisten menyerukan deeskalasi dan penyelesaian diplomatik untuk isu-isu terkait Iran.
Departemen Luar Negeri AS sendiri mengakui pentingnya Pakistan sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas regional. Ini menunjukkan bahwa ada landasan kuat bagi diskusi produktif antara Dar dan Blinken mengenai isu-isu sensitif ini.
Implikasi Diplomatik dan Prospek Kerjasama
Kunjungan Menlu Dar ke Washington dapat memiliki implikasi jangka panjang bagi hubungan Pakistan-AS dan dinamika regional. Jika kedua belah pihak berhasil menemukan titik temu dan mengoordinasikan pendekatan mereka terhadap isu Iran, hal itu dapat membuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat dalam menanggulangi tantangan keamanan lainnya di Asia Selatan dan Timur Tengah. Ini juga dapat memperkuat posisi Pakistan sebagai pemain regional yang bertanggung jawab dan pro-stabilitas.
Diskusi mengenai program nuklir Iran kemungkinan besar akan mencakup opsi-opsi untuk mendorong Iran kembali ke kepatuhan penuh terhadap perjanjian nuklir atau mencari kerangka kerja diplomatik baru yang dapat memitigasi kekhawatiran proliferasi. Pakistan, dengan pengalaman dan pengaruhnya, dapat berperan sebagai mediator atau fasilitator dalam dialog tersebut, membawa perspektif unik yang mempertimbangkan kepentingan semua pihak.
Pada akhirnya, keberhasilan kunjungan ini akan diukur dari kemampuan kedua negara untuk mengidentifikasi area kerja sama konkret, memperjelas tujuan bersama, dan berkomitmen pada jalur diplomatik yang konstruktif. Di tengah ketidakpastian global, koordinasi antara Pakistan dan AS menjadi semakin vital untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan di salah satu wilayah paling bergejolak di dunia.
-
Daerah2 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah3 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah3 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga3 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah3 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal3 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah2 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
