Connect with us

Hukum & Kriminal

Partai Rakyat di Ujung Tanduk: Mahkamah Agung Terima Gugatan Etika Mantan MP PMF

Published

on

Putusan Mahkamah Agung Thailand untuk menerima gugatan etika serius terhadap 44 mantan anggota parlemen Partai Maju (PMF) atas usulan amendemen undang-undang lese majeste telah menempatkan Partai Rakyat (PP) pada persimpangan jalan yang krusial. Keputusan ini secara efektif mendorong Partai Rakyat ke dalam mode bertahan hidup, memicu kekhawatiran akan stabilitas politik dan masa depan gerakan progresif di negara tersebut. Kasus ini bukan sekadar persoalan hukum; ini adalah barometer tensi politik yang memanas di Thailand, dengan implikasi yang berpotensi mengguncang fondasi kekuasaan.

Gugatan etika yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi, dan kini diterima oleh Mahkamah Agung, berpusat pada upaya PMF untuk mengubah Pasal 112 KUHP, yang dikenal sebagai undang-undang lese majeste. Pasal ini melindungi monarki dari penghinaan dan dianggap sebagai salah satu undang-undang paling sensitif di Thailand. Usulan amendemen tersebut, meskipun dilandasi niat untuk menjamin kebebasan berekspresi dan modernisasi hukum, telah memicu reaksi keras dari kelompok konservatif, yang menuduhnya sebagai upaya untuk melemahkan institusi monarki.

Penerimaan gugatan ini oleh Mahkamah Agung menandai babak baru dalam drama politik Thailand yang telah berlangsung lama. Bagi "Partai Rakyat", sebuah entitas yang kerap diasosiasikan dengan atau merupakan bagian dari spektrum politik progresif yang lebih luas yang juga diwakili PMF, putusan ini menimbulkan ancaman eksistensial. Meskipun gugatan secara langsung menargetkan individu-individu mantan MP PMF, dampaknya diperkirakan akan menyebar luas, menciptakan iklim ketidakpastian dan potensi represi lebih lanjut terhadap suara-suara reformis.

Latar Belakang Kontroversi Undang-Undang Lese Majeste

Undang-undang lese majeste telah lama menjadi pisau bermata dua dalam politik Thailand. Sementara pendukungnya berargumen bahwa undang-undang ini penting untuk menjaga kehormatan dan stabilitas monarki, kritikus menyoroti penggunaannya yang seringkali membungkam perbedaan pendapat dan lawan politik. Partai Maju, dengan platform progresifnya, telah berulang kali menyerukan reformasi undang-undang ini, dengan alasan bahwa penerapannya yang ketat telah menghambat diskusi terbuka tentang masa depan negara dan peran monarki dalam masyarakat modern.

PMF mengajukan usulan amendemen pada tahun 2021, yang berusaha untuk mengurangi hukuman, memungkinkan pihak lain selain rumah tangga kerajaan untuk mengajukan tuntutan, dan membatasi definisi penghinaan atau ancaman. Upaya ini disambut dengan perdebatan sengit di parlemen dan di ranah publik, menyoroti jurang pemisah ideologis yang dalam di Thailand. Kasus ini memperlihatkan bagaimana isu monarki tetap menjadi titik api politik yang krusial, berpotensi memicu gejolak setiap kali disentuh oleh kekuatan politik mana pun.

  • Tuduhan Utama: Upaya mengubah Pasal 112 KUHP dianggap sebagai tindakan yang mengancam kedaulatan monarki.
  • Tujuan PMF: Mendorong reformasi hukum yang dianggap usang untuk mengakomodasi kebebasan berekspresi.
  • Reaksi Konservatif: Menuduh PMF berusaha menggulingkan institusi monarki, memicu sentimen nasionalis.

Gugatan Etika Mengguncang Lanskap Politik Thailand

Penerimaan kasus etika ini bukan hanya ancaman bagi 44 mantan MP PMF secara individual—yang berisiko diskualifikasi dan larangan berpolitik—tetapi juga mengirimkan gelombang kejut ke seluruh spektrum politik Thailand. Bagi "Partai Rakyat", yang mungkin berbagi visi serupa dengan PMF dalam reformasi kelembagaan atau setidaknya berada di sisi progresif, kasus ini berfungsi sebagai peringatan keras. Ini menunjukkan bahwa upaya reformasi yang terlalu berani dapat memicu respons hukum yang serius, yang berpotensi membahayakan eksistensi partai politik. Ini adalah pengingat bahwa bahkan setelah pembubaran pendahulu PMF, Partai Future Forward, garis merah terkait monarki tetap tak boleh dilampaui.

Sejarah politik Thailand penuh dengan contoh di mana putusan pengadilan membubarkan partai-partai politik, terutama yang berhaluan reformis, atau melarang pemimpinnya berpolitik. Kasus ini menambah daftar panjang preseden yang dapat digunakan untuk menekan oposisi. Lingkungan politik yang tidak menentu ini membuat "Partai Rakyat" harus berhati-hati dalam setiap langkahnya, menimbang risiko antara memperjuangkan agenda reformis dan memastikan kelangsungan hidup politiknya.

Ancaman dan Konsekuensi Potensial

  • Diskualifikasi MP: Ke-44 mantan MP PMF berisiko kehilangan hak politik secara permanen.
  • Pembubaran Partai: Meskipun gugatan ini tidak secara langsung menuntut pembubaran PMF, kasus-kasar serupa di masa lalu seringkali berujung pada nasib yang sama bagi partai yang terkait. Ini menciptakan preseden buruk dan kekhawatiran bagi semua partai reformis, termasuk "Partai Rakyat".
  • Peningkatan Polarisasi: Kasus ini kemungkinan akan semakin memperdalam polarisasi antara kelompok pro-reformasi dan konservatif, memperkeruh suasana politik menjelang potensi pemilihan berikutnya.

Masa Depan "Partai Rakyat" dan Gerakan Progresif

Dengan PMF, yang memenangkan pemilihan umum terakhir sebelum dianulir, kini menghadapi tantangan hukum yang signifikan, tekanan terhadap "Partai Rakyat" dan seluruh gerakan progresif meningkat. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka akan menavigasi medan politik yang berbahaya ini. Apakah mereka akan memilih pendekatan yang lebih moderat, atau justru menggandakan komitmen mereka terhadap reformasi, meskipun ada risiko?

"Partai Rakyat" perlu merancang strategi yang tidak hanya melindungi anggotanya dari tuntutan hukum, tetapi juga menjaga relevansi dan dukungan publik. Ini mungkin melibatkan penyesuaian retorika, mencari aliansi baru, atau bahkan memfokuskan energi pada isu-isu lain yang kurang kontroversial. Namun, mengabaikan tuntutan reformasi dapat mengalienasi basis pendukung mereka yang ingin melihat perubahan nyata.

Dalam jangka panjang, putusan ini bisa menjadi titik balik bagi demokrasi Thailand. Ini akan menentukan seberapa besar ruang gerak yang dimiliki oleh partai-partai politik untuk mengusulkan reformasi sensitif, terutama yang berkaitan dengan monarki. Ini juga akan menguji ketahanan institusi demokrasi Thailand dalam menghadapi tekanan politik dan hukum yang berkelanjutan. Masyarakat internasional dan pengamat politik akan memantau dengan cermat bagaimana krisis ini berkembang, mengingat dampaknya yang luas terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil di Thailand.

Meskipun "Partai Rakyat" kini berada dalam mode bertahan hidup, ini juga bisa menjadi momen untuk rekalibrasi dan penguatan strategi. Krisis seringkali memunculkan kepemimpinan baru dan pendekatan inovatif. Namun, dengan sejarah pembubaran partai dan diskualifikasi politisi yang berani menantang status quo, jalan di depan bagi "Partai Rakyat" dan gerakan progresif di Thailand tidak diragukan lagi akan dipenuhi dengan tantangan besar.

Hukum & Kriminal

KPK Sita Rp1,5 Miliar dalam OTT Pejabat BNPB, Identitas dan Perkara Masih Misteri

Published

on

KPK Sita Rp1,5 Miliar dalam OTT Pejabat BNPB, Identitas dan Perkara Masih Misteri

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menunjukkan taringnya dengan melancarkan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menyasar seorang pejabat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam giat senyap tersebut, tim penyidik KPK berhasil mengamankan uang tunai senilai Rp1,5 miliar sebagai barang bukti awal dugaan tindak pidana korupsi. Keberhasilan operasi ini menggarisbawahi komitmen lembaga antirasuah dalam memberantas korupsi di lingkungan pemerintahan, khususnya di lembaga yang strategis.

Meskipun penangkapan dan penyitaan dana besar telah dikonfirmasi langsung oleh Ketua KPK, rincian mengenai identitas pejabat yang terlibat serta pokok perkara yang melatarbelakangi OTT tersebut masih dirahasiakan. Situasi ini memicu pertanyaan publik dan harapan agar KPK segera membuka informasi demi transparansi dan akuntabilitas, mengingat BNPB adalah lembaga vital dalam penanganan bencana nasional yang selalu bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.

Kronologi Penangkapan dan Dana Sitaan

Penyidik KPK bergerak cepat dan terukur dalam melakukan OTT terhadap pejabat BNPB. Operasi ini dilakukan berdasarkan informasi awal yang kuat dan bukti permulaan yang cukup mengenai dugaan praktik korupsi. Penangkapan semacam ini kerap menjadi momok bagi para pelaku rasuah, sebab KPK memiliki kewenangan penuh untuk langsung mengamankan pihak-pihak yang diduga terlibat saat terjadi transaksi atau serah terima uang hasil kejahatan. Proses ini seringkali menjadi titik krusial dalam mengungkap jaringan korupsi yang lebih besar.

Uang senilai Rp1,5 miliar yang berhasil diamankan tentu bukan jumlah kecil dan secara signifikan menjadi bukti awal yang kuat. Dana tersebut diperkirakan menjadi bagian dari suap, gratifikasi, atau pungutan liar terkait dengan kewenangan dan posisi pejabat di BNPB. Setelah penangkapan, KPK memiliki waktu 24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang diamankan, apakah mereka akan ditetapkan sebagai tersangka atau tidak. Proses ini merupakan bagian krusial dari upaya penegakan hukum yang transparan dan akuntabel di mata publik.

Misteri Identitas dan Potensi Kasus

Ketua KPK hanya membenarkan adanya giat OTT dan penyitaan uang, namun enggan merinci lebih jauh identitas pejabat maupun konstruksi kasusnya. Kerahasiaan awal ini, meskipun bertujuan untuk kepentingan penyidikan agar tidak menghambat pengembangan kasus dan upaya pengamanan bukti, seringkali menimbulkan spekulasi dan kegelisahan di tengah masyarakat. Publik menanti informasi valid dari KPK agar dapat memahami duduk perkara yang sebenarnya dan siapa dalang di balik praktik terlarang ini.

Potensi kasus yang mungkin terungkap dari OTT ini bisa sangat beragam, mengingat tugas dan fungsi BNPB yang strategis dalam siklus penanggulangan bencana. Kasus ini berpotensi berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa untuk penanggulangan bencana, perizinan terkait proyek-proyek mitigasi, atau bahkan penyaluran bantuan kemanusiaan. Korupsi dalam sektor-sektor ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya merugikan keuangan negara tetapi juga mengancam keselamatan dan kesejahteraan masyarakat yang terdampak bencana.

Mendesaknya Transparansi Demi Akuntabilitas

Setelah melewati batas waktu penentuan status hukum, publik mengharapkan KPK segera mengumumkan detail lengkap kasus ini secara transparan. Transparansi adalah kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga anti-korupsi. Pengumuman terbuka mengenai identitas tersangka, pasal yang disangkakan, dan modus operandi kejahatan akan membantu mencegah rumor liar serta menunjukkan keseriusan KPK dalam mengusut tuntas setiap perkara korupsi tanpa tebang pilih.

Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana uang negara dikelola dan siapa saja yang menyalahgunakan wewenang. Keterbukaan informasi juga menjadi alat kontrol sosial yang efektif. Peristiwa ini mengingatkan kembali pentingnya fungsi pengawasan dari berbagai elemen masyarakat dan media terhadap kinerja lembaga pemerintah, termasuk BNPB, demi memastikan setiap anggaran digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan memperkaya diri segelintir oknum.

Peran BNPB dan Dampak Korupsi

BNPB memegang peranan krusial sebagai koordinator penanggulangan bencana di Indonesia, negara yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam. Tugasnya mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana. Dana besar seringkali dialokasikan untuk operasional dan program-program BNPB, menjadikannya rentan terhadap praktik korupsi jika pengawasan internal lemah.

Korupsi di lembaga sepenting BNPB berpotensi menimbulkan dampak fatal dan multidimensional. Alokasi dana yang seharusnya untuk membeli peralatan penyelamat, membangun infrastruktur tahan bencana, atau menyalurkan bantuan kepada korban, bisa saja diselewengkan. Dampaknya bukan hanya kerugian finansial negara yang tak ternilai, tetapi juga hilangnya nyawa akibat penanganan yang tidak optimal, terhambatnya pemulihan daerah terdampak, dan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah di masa-masa paling rentan.

Komitmen Pemberantasan Korupsi

OTT terhadap pejabat BNPB ini menegaskan bahwa upaya pemberantasan korupsi terus berjalan tanpa pandang bulu di semua lini pemerintahan. Kasus ini menambah daftar panjang tangkapan KPK yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga negara, mirip dengan kasus-kasus korupsi sebelumnya yang menargetkan sektor publik. Ini merupakan sinyal kuat bahwa tidak ada tempat yang aman bagi para koruptor di Indonesia, sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh pejabat publik untuk selalu memegang teguh prinsip integritas dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah rakyat.

Pemberantasan korupsi bukan hanya tugas KPK semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Dengan adanya kasus ini, diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengawasan internal di setiap lembaga pemerintahan dan mendorong reformasi birokrasi yang lebih bersih dan profesional demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Informasi lebih lanjut mengenai penanganan kasus korupsi dapat ditemukan di situs resmi KPK: https://www.kpk.go.id/id/berita/siaran-pers

Continue Reading

Hukum & Kriminal

JAIS Konfirmasi Penahanan Pria Muslim atas Dugaan Ritual Agama Lain Bersama Ibu

Published

on

JAIS Sahkan Penahanan Pria Muslim Diduga Lakukan Ritual Agama Lain

Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) mengesahkan penahanan seorang lelaki beragama Islam yang disyaki terlibat dalam ritual agama lain petang tadi. Penahanan ini turut melibatkan ibu kandungnya, menyusul aduan masyarakat yang prihatin terhadap aktivitas yang dianggap melanggar akidah Islam.

Insiden ini menyorot kembali peran penting Jabatan Agama Islam Negeri dalam memelihara kesucian akidah umat Islam di negara ini serta sensitivitas isu keagamaan dalam masyarakat majemuk Malaysia. Pihak berkuasa agama bertindak berdasarkan maklumat awal dan risikan yang dijalankan sebelum menahan kedua-dua individu tersebut.

Kronologi Penahanan dan Peran JAIS

Penguat kuasa JAIS melakukan penahanan setelah menerima aduan dan bukti awal mengenai keterlibatan lelaki tersebut dan ibunya dalam praktik yang disyaki merupakan ritual agama selain Islam. Lelaki yang identitasnya tidak didedahkan, bersama ibunya kini berada di bawah siasatan lanjut bagi membantu siasatan di bawah Enakmen Kesalahan Jenayah Syariah (Selangor) 1995. Enakmen ini menggariskan pelbagai kesalahan berkaitan dengan kemurnian akidah dan ajaran Islam.

JAIS, sebagai badan berkuasa di bawah Majlis Agama Islam Selangor, bertanggungjawab memastikan setiap individu Muslim mematuhi ajaran Islam yang sebenar dan mengelakkan sebarang bentuk penyimpangan akidah atau syirik. Tindakan pantas ini menunjukkan kesungguhan pihak berkuasa agama dalam menangani isu-isu sensitif berkaitan kepercayaan umat Islam. Kes seperti ini bukanlah yang pertama kali berlaku, mencerminkan cabaran berterusan dalam menjaga kemurnian akidah di tengah masyarakat berbilang agama.

Implikasi Hukum Syariah dan Dugaan Penyimpangan Akidah

Di Malaysia, setiap negeri mempunyai enakmen jenayah syariah tersendiri yang menggariskan kesalahan-kesalahan berkaitan agama Islam. Melakukan ritual agama lain bagi seorang Muslim dianggap sebagai penyimpangan akidah yang serius dan boleh dikategorikan sebagai kesalahan syirik atau murtad, bergantung pada tahap dan niat perbuatan tersebut. Kesalahan ini boleh membawa kepada hukuman seperti denda, penjara, atau kedua-duanya sekali, selain proses pemulihan akidah melalui sesi kaunseling oleh Jabatan Mufti atau Jabatan Agama Islam.

Penyiasatan lanjut akan menentukan sejauh mana keterlibatan individu dan ibu beliau. Langkah-langkah yang biasanya diambil dalam kes sebegini meliputi:

  • Penyiasatan terperinci untuk mengumpulkan bukti dan keterangan.
  • Penilaian akidah oleh panel pakar agama bagi memahami latar belakang dan niat individu.
  • Proses pemulihan dan bimbingan sering ditawarkan sebagai sebahagian daripada pendekatan JAIS untuk mengembalikan individu kepada ajaran Islam yang benar.
  • Penentuan hukuman jika disabitkan kesalahan, yang akan mengambil kira faktor-faktor pemberatan dan mitigasi.

Situasi ini menuntut penjelasan yang teliti dari pihak berkuasa bagi mengelakkan spekulasi dan kegelisahan dalam kalangan masyarakat. Pihak JAIS dijangka akan mengeluarkan kenyataan rasmi lebih lanjut selepas siasatan awal selesai bagi memberikan gambaran yang jelas mengenai punca dan latar belakang kejadian. Ini selaras dengan tanggungjawab JAIS untuk tidak hanya menguatkuasakan undang-undang tetapi juga mendidik dan membimbing masyarakat.

Sensitivitas Komunitas dan Cabaran Pemahaman Agama

Isu melibatkan akidah dan percampuran ritual agama lain seringkali memicu perdebatan dan menjadi isu yang sangat sensitif dalam masyarakat Islam Malaysia. Ia menyentuh teras keimanan dan prinsip dasar syariah. Masyarakat mengharapkan ketegasan pihak berkuasa dalam memelihara kesucian Islam, namun pada masa yang sama, proses yang adil dan telus amat ditekankan.

Kes ini juga membuka ruang diskusi tentang cabaran pemahaman agama di era moden, di mana akses kepada pelbagai informasi dan kepercayaan seringkali menguji pegangan akidah seseorang. Pihak berkuasa agama sentiasa berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan kesedaran awam mengenai batas-batas akidah Islam dan bahaya penyimpangan. Untuk memahami lebih lanjut mengenai fungsi dan peran Jabatan Agama Islam Negeri dalam konteks Malaysia, anda boleh merujuk kepada sumber rasmi seperti artikel berkaitan.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Lima Warga Malaysia Ditahan di Jepang, Terlibat Penyelundupan Kokain Rp3,1 Miliar

Published

on

Lima Warga Malaysia Ditahan atas Penyelundupan Kokain Senilai Rp3,1 Miliar

Pihak berwenang di Jepang telah menahan lima warga negara Malaysia, terdiri dari empat pria dan seorang wanita, atas dugaan percobaan penyelundupan sekitar lima kilogram kokain. Narkoba ilegal tersebut diperkirakan bernilai 120 juta yen, atau setara dengan Rp3,1 juta, dan ditemukan tersembunyi secara rapi di bawah pelapis sepatu para tersangka. Penangkapan ini terjadi pada hari Sabtu lalu di sebuah bandara internasional, menandai babak baru dalam upaya berkelanjutan untuk memerangi kejahatan narkoba lintas batas.

Insiden ini menyoroti kerentanan individu terhadap godaan sindikat narkoba internasional dan konsekuensi berat yang menanti mereka yang terlibat dalam aktivitas ilegal semacam itu. Para tersangka kini menghadapi proses hukum yang ketat di Jepang, sebuah negara dengan undang-undang anti-narkoba yang sangat tegas.

Modus Operandi Penyelundupan Narkoba

Penemuan kokain yang disembunyikan di bawah pelapis sepatu bukanlah modus operandi baru bagi sindikat narkoba. Para penyelundup seringkali berinovasi dalam metode penyembunyian mereka untuk menghindari deteksi oleh petugas bea cukai dan anjing pelacak. Metode ini memanfaatkan area yang sering luput dari perhatian atau dianggap sepele dalam pemeriksaan rutin, berharap dapat melewati pos pemeriksaan tanpa terdeteksi.

  • Penyembunyian Kreatif: Narkoba dapat disembunyikan dalam berbagai barang pribadi, mulai dari alas kaki, koper berlapis ganda, kemasan makanan, hingga bahkan bagian tubuh.
  • Taktik Pengelabuan: Sindikat sering menggunakan individu yang tidak mencurigakan atau bahkan korban penipuan yang tidak sadar membawa barang selundupan.
  • Rute Beragam: Jaringan penyelundupan memanfaatkan rute udara, darat, dan laut, terus-menerus menyesuaikan diri untuk menghindari penangkapan.

Kasus ini sekali lagi membuktikan bahwa pihak berwenang di bandara terus meningkatkan kewaspadaan dan teknologi mereka untuk mengungkap modus-modus baru penyelundupan. Kecanggihan deteksi kini mencakup pemindai canggih dan anjing pelacak yang terlatih khusus, membuat upaya penyelundupan semakin berisiko.

Ancaman Hukum dan Konsekuensi Berat di Jepang

Jepang dikenal memiliki undang-undang narkoba yang sangat ketat, dengan hukuman yang mencakup denda besar, hukuman penjara jangka panjang, bahkan dalam beberapa kasus, hukuman mati untuk kejahatan narkoba yang paling serius, meskipun ini lebih sering berlaku untuk produksi dan distribusi dalam skala besar. Untuk penyelundupan, para pelaku dapat menghadapi hukuman penjara hingga puluhan tahun. Sistem peradilan Jepang juga dikenal sangat efisien dan tidak mengenal kompromi dalam penegakan hukum.

Keterlibatan dalam penyelundupan narkoba tidak hanya menghancurkan masa depan individu yang terlibat, tetapi juga mencoreng nama baik negara asal mereka. Keluarga dan kerabat seringkali harus menanggung beban emosional dan finansial yang berat akibat kejahatan ini. Warga negara asing yang melancong ke Jepang harus selalu memahami dan mematuhi undang-undang setempat untuk menghindari masalah hukum.

Pelajaran dari Kasus Narkoba Internasional

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang bahaya terlibat dalam sindikat narkoba internasional. Organisasi kriminal ini seringkali menargetkan individu yang rentan secara ekonomi atau yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang, tanpa menjelaskan risiko penuh yang akan mereka hadapi. Kasus penangkapan warga negara di luar negeri karena narkoba bukanlah hal baru; berbagai negara di Asia dan di seluruh dunia terus menghadapi tantangan serupa.

Pemerintah Malaysia dan perwakilan diplomatik akan memantau kasus ini, memberikan bantuan konsuler sesuai prosedur internasional, namun tidak akan mengintervensi proses hukum yang berlaku di Jepang. Penting bagi setiap warga negara yang bepergian ke luar negeri untuk selalu waspada, tidak mudah tergoda tawaran mencurigakan, dan menolak membawa barang titipan dari orang yang tidak dikenal atau kurang dapat dipercaya. Kesadaran akan risiko dan kepatuhan terhadap hukum adalah kunci untuk menghindari nasib serupa.

Continue Reading

Trending