Hukum & Kriminal
Penembakan Brutal Motoris di Ayutthaya Tewaskan Guru, Pelaku Ditangkap
Kronologi Penembakan Brutal
Seorang guru perempuan tewas secara tragis dan satu pengemudi lainnya terluka setelah seorang pengendara sepeda motor berusia 35 tahun melancarkan penembakan membabi-buta pada Minggu pagi. Polisi telah menangkap pelaku berusia 35 tahun di distrik Lat Bua Luang setelah aksi brutalnya yang mengejutkan warga Ayutthaya. Identitas lengkapnya belum diungkapkan kepada publik.
Insiden mengerikan ini terjadi di jalan raya, menargetkan warga sipil tak bersalah tanpa pandang bulu. Pihak berwenang mengidentifikasi korban jiwa sebagai seorang guru yang di dalam mobilnya juga terdapat dua putrinya yang masih kecil. Beruntung, kedua anak tersebut tidak mengalami cedera fisik, namun dipastikan mengalami trauma mendalam menyaksikan peristiwa tragis yang menimpa ibu mereka. Sementara itu, korban luka adalah seorang pengemudi lain yang juga menjadi sasaran tembakan acak pelaku.
Pada Minggu pagi, suasana tenang di jalan raya berubah menjadi mencekam ketika suara letusan senjata api memecah kesunyian. Pelaku yang mengendarai sepeda motor tiba-tiba mengeluarkan senjatanya dan mulai menembaki siapa saja yang melintas. Kesaksian awal menyebutkan bahwa aksi penembakan ini berlangsung tanpa motif yang jelas, murni tindakan kekerasan acak yang menargetkan warga tak berdosa.
Kepolisian setempat segera merespons laporan insiden tersebut. Pihak berwenang melancarkan perburuan intensif untuk melacak pelaku yang melarikan diri setelah melancarkan aksinya. Polisi berhasil menangkap pelaku pada Minggu siang, mengakhiri teror singkat yang membuat masyarakat setempat khawatir akan keamanan mereka.
Dampak Tragis bagi Keluarga Korban
Kematian sang guru meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, terutama bagi kedua putrinya yang kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan ibu mereka dalam kondisi yang sangat traumatis. Tragedi ini bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga merenggut rasa aman dan kebahagiaan sebuah keluarga. Komunitas pendidikan di Ayutthaya juga merasakan kehilangan besar atas kepergian salah satu anggotanya yang berdedikasi.
Korban luka, meskipun selamat, harus menjalani perawatan medis dan kemungkinan akan mengalami dampak psikologis dari insiden tersebut. Aksi keji semacam ini tidak hanya menyebabkan cedera fisik, tetapi juga luka batin yang mungkin butuh waktu lama untuk pulih. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup di tengah ancaman kekerasan.
Penangkapan Pelaku dan Proses Hukum
Polisi berhasil mengamankan pelaku penembakan, seorang pria berusia 35 tahun, beberapa jam setelah insiden di distrik Lat Bua Luang. Penyelidik sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap motif di balik tindakan keji ini. Polisi akan memeriksa latar belakang pelaku, termasuk kemungkinan adanya masalah kejiwaan, riwayat kriminal, atau motif pribadi yang memicu amarahnya hingga melancarkan aksi penembakan acak.
Pihak berwenang berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini dan memastikan pelaku mendapatkan hukuman setimpal sesuai undang-undang yang berlaku. Pihak berwenang akan memberi perhatian serius pada kasus ini untuk menegakkan keadilan bagi para korban dan keluarga mereka serta mengirimkan pesan tegas bahwa tindakan kekerasan semacam ini tidak akan ditoleransi.
Kekerasan Senjata Api dan Tantangan Keamanan Publik
Insiden penembakan ini kembali menyoroti isu sensitif mengenai kekerasan senjata api dan keamanan publik di Thailand. Penembakan acak oleh individu di tempat umum menimbulkan kekhawatiran serius tentang betapa rentannya masyarakat terhadap ancaman kekerasan tak terduga. Ini juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap kepemilikan senjata api dan penanganan individu dengan potensi perilaku kekerasan. Pemerintah dan aparat penegak hukum menghadapi tantangan besar dalam memastikan keselamatan warganya dari insiden serupa di masa mendatang.
Meningkatnya kasus kekerasan senjata api di beberapa wilayah telah memicu perdebatan publik tentang perlunya kebijakan yang lebih komprehensif, mulai dari pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat hingga program kesehatan mental yang lebih masif untuk mencegah tragedi serupa terulang. Kasus Ayutthaya ini menambah daftar panjang insiden yang mendesak respons serius dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan terlindungi bagi seluruh warga.
Hukum & Kriminal
Wanita Ditemukan Tewas dengan 61 Tikaman di Ketereh, Polisi Selidiki Pembunuhan Sadis
Penemuan mayat seorang wanita dengan kondisi mengenaskan di pinggir jalan Kampung Kubang Kiat, Ketereh, tengah malam tadi menggemparkan warga. Korban diketahui menderita tidak kurang dari 61 luka tikaman yang tersebar hampir di seluruh tubuhnya, menandakan tingkat kekerasan yang ekstrem dalam insiden tragis ini. Pihak berkuasa telah mengesahkan penemuan tersebut dan melancarkan siasatan menyeluruh untuk membongkar misteri di sebalik pembunuhan kejam ini.
Detail awal yang mengerikan ini, termasuk jumlah tikaman yang sangat banyak, menunjukkan sebuah kejahatan yang didorong oleh emosi kuat atau niat membunuh yang sangat keji. Masyarakat setempat, khususnya di area Ketereh, kini diselimuti ketakutan dan kekhawatiran atas keselamatan mereka, menyusul insiden yang mengguncang ketenteraman kampung mereka.
Kebrutalan Penemuan Mayat dan Lokasi Kejadian
Mayat wanita yang identitasnya masih belum dapat dipastikan sepenuhnya pada saat laporan ini ditulis, ditemukan tergeletak tanpa nyawa oleh seorang pengguna jalan yang kebetulan melintasi kawasan sepi tersebut sekitar pukul 12 tengah malam. Penemuan ini segera dilaporkan kepada pihak berkuasa, yang kemudian mengerahkan pasukan ke lokasi kejadian. Keadaan mayat yang penuh luka tikaman dan ditinggalkan di tempat terbuka menimbulkan banyak pertanyaan tentang motif di balik pembunuhan ini dan siapa pelaku utamanya.
Tim forensik dan kepolisian telah tiba di lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal dan mengumpulkan bukti-bukti penting. Area di sekitar penemuan mayat telah dibarikade untuk memastikan integritas lokasi kejadian tetap terjaga dari campur tangan pihak luar. Proses autopsi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kronologi kejadian dan perkakas yang digunakan oleh pelaku.
Poin-poin Penting dari Lokasi Kejadian:
- Ditemukan di pinggir jalan yang sepi, jauh dari keramaian.
- Korban mengalami 61 luka tikaman, tersebar di hampir seluruh tubuh.
- Tidak ada saksi mata langsung yang teridentifikasi pada jam awal penemuan.
- Penyelidikan awal fokus pada pengumpulan bukti forensik yang teliti.
Langkah Awal Penyelidikan Polisi dan Petunjuk Kritis
Polisi, yang bergerak cepat setelah menerima laporan, telah mengklasifikasikan kasus ini sebagai pembunuhan di bawah Seksyen 302 Kanun Keseksaan dan memulai penyelidikan intensif. Unit-unit khusus termasuk Jabatan Siasatan Jenayah (JSJ) dikerahkan untuk memimpin operasi ini. Fokus utama penyelidikan adalah untuk mengidentifikasi korban, yang merupakan kunci pertama untuk mengungkap motif dan pelaku.
Salah satu petunjuk penting yang sedang diteliti adalah keberadaan seutas rantai bertuliskan ‘SYAA’ yang ditemukan melingkar di leher korban. Polisi berharap rantai ini dapat menjadi petunjuk krusial dalam mengidentifikasi korban, mencari tahu afiliasinya, atau bahkan mengarahkan kepada pelaku atau motif pembunuhan. Tim penyiasat juga akan memeriksa rakaman kamera litar tertutup (CCTV) dari kawasan sekitar, meskipun Kampung Kubang Kiat mungkin tidak dilengkapi dengan fasilitas CCTV yang meluas, setiap petunjuk sekecil apapun akan diteliti dengan cermat. Pemeriksaan terhadap ponsel korban (jika ditemukan) dan profil media sosialnya juga akan menjadi bagian integral dari penyelidikan.
Upaya Polisi dalam Penyelidikan:
- Mengidentifikasi identitas korban secepatnya melalui sidik jari dan rekam medis.
- Menganalisis bukti forensik dari lokasi kejadian untuk pola dan modus operandi.
- Mencari saksi mata atau informasi dari warga sekitar yang mungkin melihat aktivitas mencurigakan.
- Menelusuri asal-usul rantai ‘SYAA’ dan maknanya bagi korban atau pelaku.
- Menyelidiki berbagai kemungkinan motif, mulai dari perampokan, dendam pribadi, hingga kejahatan berantai.
Kekhawatiran Komunitas dan Seruan Keadilan
Insiden pembunuhan yang kejam ini telah menimbulkan gelombang kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat setempat dan publik yang lebih luas. Berbagai spekulasi mulai beredar di media sosial, namun pihak berkuasa menggesa masyarakat untuk tidak menyebarkan desas-desus yang tidak diverifikasi dan memberikan ruang kepada polisi untuk menjalankan tugas mereka. Banyak warga menyuarakan harapan agar pihak berkuasa dapat segera menangkap pelaku dan membawa mereka ke muka pengadilan demi keadilan bagi korban dan keluarganya.
Kasus ini juga mengingatkan publik akan insiden-insiden kekerasan sebelumnya yang pernah mengguncang ketenteraman umum di wilayah ini. Sebagai contoh, beberapa bulan lalu, sebuah kasus penemuan mayat dengan tanda kekerasan serupa di daerah berdekatan (detail spesifik tidak dapat diungkapkan karena masih dalam tahap penyelidikan) juga memicu kekhawatiran serupa mengenai peningkatan kejahatan brutal. Peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya kerjasama yang erat antara masyarakat dan pihak berkuasa dalam menjaga keamanan dan melaporkan aktivitas mencurigakan demi mencegah terulangnya tragedi seperti ini.
Polisi telah mengeluarkan seruan kepada sesiapa sahaja yang mempunyai maklumat berkaitan kes ini agar segera tampil ke hadapan dan bekerjasama dengan pihak berkuasa. Segala informasi, sekecil apapun, dapat menjadi kunci untuk memecahkan misteri pembunuhan brutal ini. Maklumat lanjut dapat disalurkan melalui balai polisi terdekat atau laman web resmi Polis Diraja Malaysia (PDRM).
Keadilan bagi korban adalah prioritas utama, dan pihak berkuasa berjanji akan menggunakan segala sumber daya yang ada untuk memastikan pelaku tidak lolos dari hukuman dan keamanan publik tetap terjaga.
Hukum & Kriminal
Waspada! PDRM Catat 1.537 Kasus ‘Job Scam’ Paruh Waktu, Kerugian Capai RM31.8 Juta dalam 3 Bulan
KUALA LUMPUR – Kepala Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) telah mengungkapkan data yang sangat mengkhawatirkan terkait maraknya penipuan tawaran kerja paruh waktu, yang dikenal sebagai ‘job scam’. Dalam periode tiga bulan pertama tahun ini saja, PDRM mencatat sebanyak 1.537 kasus dengan total kerugian yang mencapai angka fantastis RM31.8 juta. Tren ini menunjukkan peningkatan signifikan dan menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang mencari penghasilan tambahan atau pekerjaan.
Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan
Angka 1.537 kasus dalam waktu singkat tiga bulan bukan sekadar statistik; ini merepresentasikan ribuan individu yang telah jatuh korban, kehilangan tabungan, dan menghadapi tekanan emosional yang berat. Peningkatan drastis ini mengindikasikan bahwa para pelaku kejahatan siber semakin canggih dalam melancarkan aksinya, memanfaatkan kebutuhan ekonomi dan kepolosan korban. Modus operandi mereka terus berevolusi, membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara tawaran kerja asli dan penipuan.
Kerugian sebesar RM31.8 juta dalam waktu tiga bulan juga menyoroti betapa efektifnya taktik penipu dalam menguras dana korban. Rata-rata, setiap korban kehilangan puluhan ribu ringgit, yang bagi sebagian besar adalah hasil jerih payah seumur hidup atau dana darurat. Situasi ini diperparah dengan kondisi ekonomi yang menantang, di mana banyak individu rentan terhadap janji-janji penghasilan mudah dan cepat.
Jejak Modus Penipuan yang Sering Digunakan
Para penipu ‘job scam’ umumnya menggunakan berbagai taktik licik untuk menjerat korbannya. Modus ini seringkali dimulai dengan tawaran pekerjaan paruh waktu yang sangat menggiurkan dengan imbalan tinggi dan jam kerja fleksibel. Berikut adalah beberapa modus operandi yang sering terdeteksi:
- Platform Media Sosial dan Aplikasi Pesan: Penawaran sering disebarkan melalui platform seperti WhatsApp, Telegram, Facebook, atau Instagram, dengan iklan yang menarik perhatian dan target demografi tertentu.
- Tugas Sederhana dengan Bayaran Besar: Korban diminta melakukan tugas-tugas kecil seperti ‘menyukai’ postingan media sosial, menonton video, atau memberi ulasan produk palsu. Pada awalnya, penipu akan membayar komisi kecil untuk membangun kepercayaan.
- Permintaan Deposit atau Investasi Awal: Setelah korban percaya, penipu akan mulai meminta ‘deposit’ atau ‘investasi’ dengan dalih untuk meningkatkan level tugas atau mendapatkan komisi yang lebih besar. Ini adalah jebakan utama di mana korban mulai kehilangan uang dalam jumlah besar.
- Sistem Piramida Terselubung: Beberapa skema juga melibatkan perekrutan anggota baru untuk mendapatkan ‘bonus’, menyerupai skema piramida yang dilarang.
- Pemalsuan Identitas Perusahaan: Penipu seringkali menyamar sebagai perwakilan perusahaan terkemuka atau e-commerce besar untuk meyakinkan calon korban.
Peringatan Dini dan Dampak Sosial Ekonomi
Pihak kepolisian secara konsisten telah mengeluarkan peringatan terkait ancaman penipuan ini, namun edukasi publik masih perlu ditingkatkan. Kasus ‘job scam’ tidak hanya menyebabkan kerugian finansial bagi individu, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang luas. Kehilangan uang dapat memicu stres, depresi, hingga masalah keluarga. Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap tawaran kerja daring menjadi terkikis, merugikan platform dan perusahaan rekrutmen yang sah.
PDRM terus mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan kritis terhadap setiap tawaran pekerjaan, terutama yang menjanjikan keuntungan luar biasa dengan usaha minimal. Mengingat tren yang mengkhawatirkan ini, perlu ada kolaborasi lebih erat antara pihak berwenang, penyedia platform digital, dan masyarakat untuk membendung laju kejahatan siber ini.
Langkah Proaktif Melindungi Diri dari Ancaman Job Scam
Melindungi diri dari ‘job scam’ membutuhkan kewaspadaan tinggi dan pemahaman tentang taktik penipu. Berikut adalah beberapa langkah penting yang dapat Anda lakukan:
- Verifikasi Sumber Tawaran: Selalu cek keaslian perusahaan yang menawarkan pekerjaan. Kunjungi situs web resmi mereka dan pastikan email serta nomor telepon yang digunakan sesuai.
- Waspadai Janji yang Terlalu Menggiurkan: Jika tawaran pekerjaan menjanjikan gaji besar untuk tugas yang sangat mudah atau modal kecil dengan keuntungan fantastis, kemungkinan besar itu adalah penipuan.
- Jangan Pernah Membayar untuk Mendapatkan Pekerjaan: Perusahaan rekrutmen yang sah tidak akan pernah meminta uang muka, biaya pendaftaran, atau deposit sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan.
- Lindungi Informasi Pribadi: Jangan pernah memberikan informasi pribadi sensitif seperti nomor rekening bank lengkap, PIN, atau kata sandi kepada pihak yang tidak dikenal atau mencurigakan.
- Cari Ulasan atau Informasi Tambahan: Lakukan pencarian online tentang nama perusahaan atau tawaran pekerjaan tersebut. Seringkali, korban lain mungkin sudah membagikan pengalaman mereka.
- Laporkan Segera: Jika Anda mencurigai adanya penipuan atau telah menjadi korban, segera laporkan ke PDRM atau otoritas terkait lainnya.
Dengan peningkatan kasus yang signifikan ini, kesadaran dan kehati-hatian adalah kunci. Mari bersama-sama menjadi konsumen digital yang cerdas dan tidak mudah tergiur oleh janji-janji palsu yang dapat merugikan masa depan finansial kita.
Hukum & Kriminal
Gugatan Warga Transgender Tantang Aturan Toilet Paling Restriktif di Idaho
Warga transgender di Idaho telah melayangkan gugatan hukum federal yang menantang undang-undang toilet baru negara bagian tersebut, yang digadang-gadang sebagai yang paling restriktif di seluruh Amerika Serikat. Aturan kontroversial ini menetapkan sanksi berat, termasuk potensi hukuman penjara hingga lima tahun, bagi individu yang menggunakan fasilitas toilet yang tidak sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Gugatan ini menandai eskalasi signifikan dalam perdebatan nasional mengenai hak-hak transgender dan privasi di ruang publik.
Gugatan tersebut secara eksplisit berupaya memblokir implementasi undang-undang yang baru disahkan, dengan argumen bahwa ia melanggar hak-hak konstitusional warga transgender. Para penggugat, yang didukung oleh kelompok-kelompok advokasi hak sipil, menegaskan bahwa aturan ini tidak hanya diskriminatif tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak aman dan meminggirkan individu transgender dalam masyarakat. Ancaman pidana penjara lima tahun menjadikan undang-undang Idaho ini berdiri sendiri dibandingkan dengan regulasi serupa di negara bagian lain, yang biasanya berfokus pada denda atau pelanggaran ringan.
Undang-Undang Paling Restriktif di Amerika Serikat
Undang-undang Idaho yang baru disahkan ini menuntut individu untuk menggunakan fasilitas toilet atau ruang ganti yang sesuai dengan jenis kelamin yang tertera pada akta kelahiran mereka. Penekanan pada jenis kelamin saat lahir, bukan identitas gender, merupakan inti dari kontroversi ini. Para kritikus berpendapat bahwa ketentuan ini secara fundamental menolak keberadaan identitas transgender dan memaksa individu untuk mengabaikan diri mereka yang sebenarnya, yang dapat mengakibatkan trauma psikologis dan fisik.
Aspek paling memberatkan dari undang-undang ini adalah kriminalisasi pelanggarannya. Berbeda dengan undang-undang “bathroom bill” sebelumnya di negara bagian seperti Carolina Utara yang berfokus pada sanksi sipil atau administratif, Idaho memilih jalur pidana. Ancaman hukuman penjara lima tahun menempatkan individu transgender pada risiko serius untuk menghadapi konsekuensi hukum yang ekstrem hanya karena menggunakan fasilitas publik yang selaras dengan identitas gender mereka. Ini secara efektif menciptakan pelanggaran pidana baru yang secara khusus menargetkan komunitas transgender.
- Mewajibkan penggunaan fasilitas sesuai jenis kelamin lahir.
- Ancaman hukuman penjara hingga lima tahun bagi pelanggar.
- Meluas ke toilet dan ruang ganti di fasilitas publik.
- Memicu kekhawatiran serius tentang diskriminasi dan keamanan.
Argumen di Balik Gugatan dan Dampak pada Komunitas
Para penggugat berpendapat bahwa undang-undang ini melanggar beberapa amendemen Konstitusi Amerika Serikat, termasuk perlindungan terhadap proses hukum yang adil (Due Process Clause) dan perlindungan yang sama di bawah hukum (Equal Protection Clause) dari Amendemen ke-14. Mereka juga menyoroti potensi pelanggaran Amendemen ke-8 yang melarang hukuman yang kejam dan tidak biasa, mengingat beratnya ancaman pidana untuk pelanggaran yang seharusnya tidak dikriminalisasi.
Dari perspektif komunitas transgender, undang-undang ini tidak hanya mengancam kebebasan bergerak dan keamanan, tetapi juga mengirimkan pesan yang sangat merugikan. Ini dapat memicu peningkatan diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan terhadap individu transgender. Banyak yang khawatir bahwa aturan ini akan membuat ruang publik menjadi tidak aman bagi mereka, memaksa mereka untuk membatasi aktivitas sehari-hari atau bahkan menghindari tempat-tempat umum tertentu. Perdebatan serupa pernah muncul dalam konteks legislasi anti-LGBTQ+ sebelumnya, seperti upaya kriminalisasi aktivitas homoseksual di masa lalu, yang menunjukkan pola legislasi yang menargetkan kelompok minoritas.
Preseden dan Perdebatan Nasional
Gugatan di Idaho ini akan menjadi salah satu kasus penting dalam serangkaian panjang pertempuran hukum mengenai hak-hak transgender di Amerika Serikat. Sejak pertengahan 2010-an, beberapa negara bagian telah mencoba untuk memberlakukan undang-undang serupa, yang sering kali disambut dengan tantangan hukum dan boikot ekonomi. Kasus paling terkenal adalah “bathroom bill” di Carolina Utara, HB2, yang akhirnya dibatalkan sebagian karena tekanan publik dan ekonomi. Namun, undang-undang Idaho menaikkan taruhannya dengan menambahkan ancaman pidana yang berat.
Para advokat hak-hak sipil menegaskan bahwa keputusan dalam kasus ini dapat menetapkan preseden signifikan, baik positif maupun negatif, bagi pergerakan hak-hak transgender di seluruh negeri. Jika gugatan ini berhasil memblokir undang-undang tersebut, hal itu dapat menghalangi negara bagian lain untuk mengusulkan legislasi serupa dengan ancaman pidana. Sebaliknya, jika undang-undang ini ditegakkan, hal itu bisa membuka pintu bagi legislasi yang lebih represif di tempat lain, mengikis perlindungan hak asasi manusia bagi individu transgender.
Pengadilan federal kini menghadapi tugas untuk menimbang hak-hak individu, privasi, dan interpretasi konstitusi di tengah lanskap sosial dan politik yang sangat terpolarisasi. Hasil dari gugatan ini akan sangat dinantikan oleh komunitas transgender, advokat hak-hak sipil, dan pembuat kebijakan di seluruh Amerika Serikat, karena akan membentuk masa depan perlakuan hukum terhadap identitas gender di ruang publik.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu-isu hak-hak sipil dan hukum yang berkaitan dengan identitas gender, kunjungi sumber terkemuka seperti American Civil Liberties Union (ACLU).
-
Daerah3 minggu agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah2 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah2 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Pemerintah2 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Olahraga2 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah2 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Hukum & Kriminal2 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 minggu agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
