Pemerintah
Presiden Prabowo Genjot Peran Kampus sebagai Mitra Strategis Pemda
Presiden Prabowo Genjot Peran Kampus sebagai Mitra Strategis Pemda
Presiden Prabowo Subianto secara tegas mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif sebagai mitra strategis pemerintah daerah (Pemda). Arahan ini bertujuan untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pembangunan regional yang kompleks, mulai dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan hingga penataan lingkungan yang lebih baik.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan instruksi vital ini usai bertemu langsung dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Senin, 4 Mei 2026. Brian menjelaskan, Presiden menekankan bahwa potensi akademis, riset, dan inovasi yang dimiliki kampus merupakan aset tak ternilai yang harus dioptimalkan untuk kemajuan daerah.
Arahan Strategis untuk Peningkatan Kualitas Pembangunan
Dalam pertemuannya, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya sinergi antara dunia akademik dan birokrasi pemerintahan daerah. Menurut Brian, Presiden ingin melihat perguruan tinggi tidak hanya sebagai menara gading ilmu pengetahuan, melainkan sebagai pusat solusi konkret yang berakar pada masalah riil masyarakat. Ini merupakan kelanjutan dari visi pemerintah untuk memastikan setiap elemen bangsa berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional, sebuah narasi yang selaras dengan berbagai inisiatif sebelumnya terkait penguatan kolaborasi lintas sektor.
Presiden Prabowo juga menanyakan perkembangan implementasi program-program yang mendorong keterlibatan kampus dalam pembangunan daerah. Fokus utama arahan ini meliputi:
- Identifikasi Masalah Prioritas: Kampus diharapkan proaktif mengidentifikasi masalah-masalah krusial di daerahnya, seperti krisis air bersih, infrastruktur yang belum memadai, atau bahkan tantangan ekonomi lokal.
- Pengembangan Solusi Inovatif: Melalui penelitian dan pengabdian masyarakat, perguruan tinggi didorong menciptakan solusi yang tepat guna, efisien, dan berkelanjutan.
- Pendampingan dan Transfer Teknologi: Kampus dapat mendampingi Pemda dalam mengimplementasikan kebijakan berbasis data serta mentransfer teknologi dan pengetahuan kepada masyarakat.
- Peningkatan Kapasitas SDM Lokal: Membantu Pemda dan masyarakat meningkatkan kapasitas melalui pelatihan dan workshop yang relevan.
Peran Vital Kampus dalam Pembangunan Regional
Keterlibatan perguruan tinggi dalam menyelesaikan masalah daerah membawa dampak positif ganda. Bagi pemerintah daerah, kolaborasi ini membuka akses terhadap keahlian multidisiplin dan pendekatan berbasis bukti yang seringkali tidak tersedia dalam struktur birokrasi. Solusi yang dihasilkan berpotensi lebih inovatif, efektif, dan efisien, menghindari pendekatan “coba-coba” yang membuang anggaran dan waktu.
Sementara itu, bagi perguruan tinggi, ini adalah kesempatan emas untuk mengaplikasikan teori dan hasil riset ke dunia nyata. Mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang invaluable, langsung berinteraksi dengan tantangan sosial dan lingkungan, sehingga terbentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga peka dan siap berkontribusi pada masyarakat. Ini sejalan dengan semangat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang mendorong mahasiswa untuk belajar di luar kelas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sosial.
Sinergi Pengetahuan dan Aksi Nyata
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa Kementeriannya siap memfasilitasi dan mengkoordinasikan upaya ini. “Kami akan memastikan ada platform yang kuat agar komunikasi dan kolaborasi antara kampus dan Pemda berjalan lancar. Ini bukan hanya tentang memberikan saran, tapi tentang bagaimana pengetahuan itu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang transformatif,” ujar Brian.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan berkelanjutan di seluruh pelosok Indonesia. Dengan dukungan penuh dari perguruan tinggi, pemerintah daerah dapat lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks, memastikan setiap kebijakan yang diambil berlandaskan pada data, riset, dan inovasi terkini. Presiden Prabowo membayangkan masa depan di mana setiap kota dan kabupaten memiliki “laboratorium hidup” di kampus-kampus sekitarnya, yang terus-menerus menghasilkan ide dan solusi untuk kesejahteraan bersama.
Pemerintah
Kemensos dan Bener Meriah Bersinergi Percepat Pemulihan Pascabanjir Serta Bangun Sekolah Rakyat
Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Tanggap Bencana
Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempercepat upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Hal ini terungkap dalam sebuah audiensi antara Kemensos dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah yang membahas strategi komprehensif, mulai dari penyaluran bantuan jaminan hidup hingga inisiatif pembangunan Sekolah Rakyat. Pertemuan ini menjadi krusial untuk memastikan masyarakat terdampak banjir mendapatkan dukungan penuh dan berkelanjutan, sekaligus membangun ketahanan jangka panjang terhadap potensi bencana di masa mendatang. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu menciptakan respons yang lebih cepat dan terkoordinasi, meminimalkan dampak buruk bencana, dan mempercepat proses rekonstruksi sosial-ekonomi.
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada respons darurat, melainkan juga pada langkah-langkah preventif dan edukatif. Pembahasan mendalam mencakup identifikasi kebutuhan mendesak masyarakat, evaluasi dampak bencana yang telah terjadi, serta perencanaan program intervensi yang tepat sasaran. Komitmen bersama ini menjadi indikator kuat bahwa penanganan bencana di Indonesia semakin bergeser menuju pendekatan yang holistik, tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk bangkit kembali.
Percepatan Penyaluran Jaminan Hidup dan Bantuan Kritis
Salah satu poin utama yang dibahas adalah percepatan penyaluran bantuan jaminan hidup (Jadup) bagi korban banjir di Bener Meriah. Bantuan ini sangat vital untuk menopang kehidupan sehari-hari masyarakat yang kehilangan mata pencaharian atau tempat tinggal akibat bencana. Penyaluran Jadup seringkali menghadapi tantangan logistik dan verifikasi data di lapangan, sehingga koordinasi yang solid antara Kemensos dan Pemkab Bener Meriah menjadi kunci efektivitas.
Upaya pemulihan masyarakat terdampak bencana mencakup beberapa aspek penting:
- Identifikasi Kebutuhan Mendesak: Memastikan data korban dan tingkat kerusakan akurat untuk penyaluran bantuan yang tepat sasaran.
- Distribusi Bantuan Logistik: Selain Jadup, bantuan sandang, pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya juga perlu segera didistribusikan.
- Dukungan Psikososial: Banyak korban bencana mengalami trauma. Layanan dukungan psikososial menjadi penting untuk memulihkan kondisi mental dan emosional mereka.
- Rehabilitasi Infrastruktur Minor: Perbaikan fasilitas umum yang rusak ringan agar fungsi sosial masyarakat dapat segera pulih.
Kemensos menekankan pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam setiap tahap penyaluran bantuan. Pemkab Bener Meriah diharapkan dapat berperan aktif dalam memastikan data penerima valid dan proses distribusi berjalan lancar, meminimalkan potensi penyimpangan. Artikel sebelumnya mengenai pedoman penanganan bencana dari Kemensos menunjukkan bagaimana bantuan disalurkan, dan konteks Bener Meriah menjadi studi kasus konkret dari implementasi pedoman tersebut.
Visi Pembangunan Sekolah Rakyat sebagai Pilar Pemulihan Pendidikan
Inisiatif pembangunan Sekolah Rakyat menjadi fokus pembahasan yang mencerminkan pandangan jauh ke depan dalam upaya pemulihan. Sekolah Rakyat, dalam konteks pascabencana, bukan hanya sekadar gedung fisik, melainkan sebuah pusat kegiatan belajar-mengajar alternatif yang fleksibel dan responsif terhadap kondisi masyarakat setempat. Konsep ini bertujuan untuk memastikan anak-anak korban bencana tidak kehilangan kesempatan belajar, sekaligus menjadi wadah untuk mengembalikan semangat dan harapan.
Pembangunan Sekolah Rakyat diharapkan mampu mengatasi beberapa isu krusial:
- Akses Pendidikan: Menyediakan fasilitas pendidikan sementara atau permanen bagi anak-anak yang sekolahnya rusak atau tidak dapat diakses.
- Kurikulum Adaptif: Mengembangkan kurikulum yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga keterampilan praktis, pendidikan kebencanaan, dan dukungan psikososial.
- Pemberdayaan Komunitas: Sekolah Rakyat dapat berfungsi sebagai pusat komunitas, tempat warga belajar keterampilan baru dan berinteraksi, memperkuat ikatan sosial.
- Keterlibatan Guru Lokal: Memaksimalkan peran guru-guru lokal dan relawan untuk menjaga keberlanjutan proses belajar mengajar.
Diskusi terkait Sekolah Rakyat mencakup rencana detail mengenai lokasi, pembiayaan, model pengelolaan, serta keterlibatan masyarakat dan tokoh adat setempat. Harapannya, Sekolah Rakyat ini tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga fondasi pendidikan yang lebih inklusif dan tangguh di masa depan. Pendekatan ini relevan dengan upaya pemerintah dalam membangun kembali kehidupan sosial pascabencana secara menyeluruh.
Langkah Konkret dan Harapan Masa Depan
Dari audiensi tersebut, Kemensos dan Pemkab Bener Meriah berkomitmen untuk segera menindaklanjuti rencana yang telah disepakati. Pembentukan tim kerja gabungan, percepatan pendataan ulang, dan penyusunan proposal detail untuk Sekolah Rakyat menjadi langkah konkret berikutnya. Pemkab Bener Meriah diharapkan menyiapkan segala kebutuhan administrasi dan logistik di tingkat daerah, sementara Kemensos akan mengoordinasikan dukungan dari kementerian/lembaga terkait serta sumber daya lainnya.
Pemulihan pascabanjir di Bener Meriah bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Dengan sinergi yang kuat antara pusat dan daerah, serta dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Bener Meriah dapat segera bangkit dan masyarakatnya kembali menjalani kehidupan normal dengan fasilitas pendidikan yang lebih baik dan ketahanan yang lebih kuat menghadapi tantangan di masa depan. Komitmen ini menegaskan prioritas pemerintah dalam melindungi dan melayani warganya, khususnya di tengah situasi sulit akibat bencana alam yang tak terduga.
Pemerintah
Presiden Prabowo Arahkan Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara untuk Kesejahteraan Rakyat
Prabowo Tekankan Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara Demi Kesejahteraan
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan strategis kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI), Danantara Rosan Roeslani, mengenai percepatan transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan optimalisasi aset-aset negara. Pertemuan penting yang berlangsung di kediaman pribadi Presiden di Kertanegara, Jakarta, pada Minggu, 21 Juni 2026, tersebut menandai komitmen serius pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa arahan Presiden Prabowo bertujuan untuk mengelola aset negara secara lebih efisien dan produktif. Hal ini diharapkan mampu menghasilkan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan negara secara berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian integral dari visi besar Presiden untuk mewujudkan Indonesia Emas 2044.
Fokus Utama Arahan Presiden Prabowo
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyoroti beberapa pilar utama yang harus menjadi fokus Kementerian Investasi dan BUMN. Transformasi yang dimaksud tidak hanya sebatas restrukturisasi, tetapi juga mencakup peningkatan kapabilitas, adaptasi teknologi, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
- Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas: BUMN harus beroperasi dengan standar kelas dunia, mengurangi pemborosan, dan fokus pada lini bisnis inti yang strategis.
- Optimalisasi Portofolio Aset: Melakukan inventarisasi menyeluruh, valuasi yang akurat, serta pemanfaatan maksimal atas aset-aset yang dimiliki negara, termasuk yang selama ini kurang produktif atau idle.
- Hilirisasi Industri: Mendukung program hilirisasi sumber daya alam melalui investasi strategis di sektor-sektor kunci, menciptakan nilai tambah domestik.
- Penguatan Tata Kelola (GCG): Menerapkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran dalam setiap operasional BUMN.
Arahan ini juga sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo sebelumnya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, efektif, dan fokus pada pelayanan publik. Hal ini sebagaimana pernah ditekankan dalam berbagai kesempatan mengenai pentingnya birokrasi yang responsif dan berorientasi hasil.
Optimalisasi Aset Negara untuk Kemakmuran Rakyat
Konsep optimalisasi aset negara tidak hanya berarti menjual aset. Sebaliknya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya strategi yang cermat untuk memaksimalkan potensi aset melalui berbagai skema, termasuk kemitraan strategis, investasi baru, dan pengembangan ekosistem ekonomi lokal. Aset-aset strategis negara, mulai dari lahan, infrastruktur, hingga kepemilikan saham di BUMN, harus memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.
Seskab Teddy menambahkan bahwa Presiden ingin memastikan setiap jengkal aset negara, baik yang dikelola BUMN maupun instansi pemerintah lainnya, digunakan secara maksimal. Ini termasuk:
- Identifikasi aset tidur atau kurang termanfaatkan yang bisa diaktivasi.
- Pengembangan model bisnis baru untuk aset yang berpotensi menghasilkan pendapatan.
- Pemanfaatan aset untuk proyek-proyek padat karya yang menciptakan lapangan kerja.
- Pengelolaan aset digital yang juga menjadi potensi ekonomi baru.
Optimalisasi ini diharapkan tidak hanya menambah pundi-pundi APBN, tetapi juga dapat digunakan untuk membiayai program-program sosial, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas layanan publik.
Peran Menteri Investasi dalam Implementasi Kebijakan
Penunjukkan Menteri Investasi Rosan Roeslani sebagai penerima arahan ini menggarisbawahi peran krusial Kementerian Investasi dalam menerjemahkan visi Presiden menjadi aksi nyata. Rosan, dengan pengalamannya yang luas di dunia investasi dan bisnis, diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam menarik investasi yang berkualitas, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mendukung transformasi BUMN dan pemanfaatan aset negara.
Pemerintah akan mempermudah birokrasi investasi, memberikan insentif yang menarik, serta menjamin kepastian hukum bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam proyek-proyek strategis negara. Kerangka regulasi yang adaptif dan pro-investasi menjadi kunci untuk menarik modal serta teknologi yang dibutuhkan.
Langkah Konkret dan Tantangan Ke Depan
Implementasi arahan Presiden Prabowo ini membutuhkan sinergi kuat antar kementerian dan lembaga. Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Investasi harus bekerja sama secara padu untuk menyusun peta jalan yang jelas dan terukur. Evaluasi berkala serta pelaporan progres yang transparan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses ini.
Tantangan yang mungkin dihadapi termasuk kompleksitas birokrasi, resistensi terhadap perubahan di internal BUMN, serta kondisi ekonomi global yang dinamis. Namun, dengan komitmen kuat dari pucuk pimpinan negara, pemerintah optimistis dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut demi mewujudkan BUMN yang lebih kompetitif dan aset negara yang lebih produktif, semuanya demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Pemerintah
Zulkifli Hasan Targetkan Pengelolaan Sampah Nasional Rampung 2028: Transformasi Menjadi Energi Listrik
Target Ambisius Pemerintah: Sampah Nasional Tuntas 2028 Melalui Konversi Energi
Pemerintah Indonesia kembali menyuarakan komitmen seriusnya dalam mengatasi persoalan sampah yang tak kunjung usai. Salah satu menteri kabinet, Zulkifli Hasan, menargetkan penyelesaian masalah sampah nasional secara komprehensif pada tahun 2028. Strategi utamanya adalah mengubah sampah menjadi sumber energi listrik, dengan pemilahan sampah sebagai kunci keberhasilan utama. Ambisi ini mencerminkan dorongan kuat untuk mencapai lingkungan yang lebih bersih sekaligus mendukung ketahanan energi nasional di masa depan.
Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi penanganan limbah yang selama ini menjadi momok bagi banyak kota di Indonesia. Dengan populasi yang terus bertambah dan pola konsumsi yang dinamis, volume sampah terus meningkat, menimbulkan berbagai isu lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, langkah pemerintah untuk menargetkan penyelesaian ini dalam empat tahun ke depan disambut dengan harapan, meskipun juga menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan dan tantangan implementasinya.
Menakar Realisme Target 2028 di Tengah Tumpukan Masalah
Target ambisius untuk merampungkan persoalan sampah pada 2028 bukanlah hal yang mudah. Indonesia masih bergulat dengan berbagai tantangan fundamental dalam pengelolaan limbah, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat akan pemilahan sampah, keterbatasan infrastruktur pengumpul dan pengolah, hingga masalah pendanaan dan regulasi yang belum sepenuhnya efektif. Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa proses pengolahan yang memadai, atau bahkan mencemari lingkungan.
- Volume Sampah yang Masif: Setiap harinya, Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah, dengan komposisi yang sangat heterogen.
- Infrastruktur Terbatas: Fasilitas pengolahan sampah modern, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), masih sangat minim dan terkonsentrasi di beberapa kota besar.
- Edukasi dan Partisipasi Masyarakat: Tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah dari sumber masih relatif rendah, menghambat efektivitas proses daur ulang dan konversi energi.
Pemerintah perlu memastikan bahwa rencana ini tidak hanya berhenti pada target, tetapi juga diikuti dengan peta jalan yang jelas, alokasi anggaran yang memadai, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang kuat. Tanpa persiapan matang, target 2028 berisiko menjadi sekadar janji yang sulit terwujud, sebagaimana pengalaman dengan berbagai inisiatif lingkungan sebelumnya.
Strategi Konversi Sampah Menjadi Listrik dan Urgensi Pemilahan
Konversi sampah menjadi energi listrik, atau Waste-to-Energy (WtE), merupakan salah satu solusi yang banyak diterapkan di negara maju. Teknologi ini menawarkan dua manfaat sekaligus: mengurangi volume sampah yang menumpuk dan menghasilkan energi bersih. Namun, keberhasilan WtE sangat bergantung pada kualitas dan homogenitas sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan. Inilah mengapa pemilahan sampah dari sumber menjadi sangat krusial.
Menteri Zulkifli Hasan secara tegas menekankan bahwa pemilahan sampah adalah kunci keberhasilan. Tanpa pemilahan yang efektif, sampah organik akan bercampur dengan anorganik dan material berbahaya, mengurangi efisiensi pembakaran di PLTSa, meningkatkan emisi gas berbahaya, dan mempersulit proses daur ulang material lain. Oleh karena itu, edukasi dan kampanye masif kepada masyarakat tentang pentingnya memilah sampah sejak di rumah menjadi prioritas utama. Pemerintah juga harus menyediakan fasilitas pengumpulan terpilah yang mudah diakses dan berkelanjutan.
Kolaborasi Multisektoral dan Peluang Investasi
Untuk mencapai target 2028, kolaborasi multisektoral adalah keniscayaan. Kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus bersinergi. Peran Kementerian Perdagangan, di mana Zulkifli Hasan menjabat, bisa jadi relevan dalam mendorong investasi di sektor teknologi pengolahan sampah dan energi terbarukan, serta memfasilitasi perdagangan produk hasil daur ulang. Ini membuka peluang investasi yang besar bagi perusahaan teknologi pengolahan limbah dan energi.
Inisiatif ini juga harus terintegrasi dengan berbagai kebijakan lingkungan yang telah ada, seperti Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga (Jakstranas). Mengaitkan upaya ini dengan artikel-artikel kami sebelumnya yang sering membahas lambatnya progres pembangunan PLTSa di beberapa kota atau tantangan regulasi dalam menarik investasi, kita melihat adanya upaya serius untuk mempercepat proses tersebut. Artikel lama kami pernah menyoroti bagaimana birokrasi dan masalah lahan kerap menghambat proyek serupa, yang kini harus diatasi dengan terobosan kebijakan yang lebih efektif.
Pemerintah perlu memastikan kemudahan perizinan, skema insentif yang menarik bagi investor, serta jaminan pasokan sampah yang stabil dan terpilah untuk fasilitas PLTSa. Pendekatan ekonomi sirkular juga harus menjadi fondasi kuat, di mana sampah bukan lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya bernilai.
Menuju Indonesia Bersih dan Mandiri Energi: Antara Harapan dan Tantangan
Visi Indonesia yang bersih dari sampah pada 2028, dengan sampah diubah menjadi energi, adalah cita-cita yang patut didukung. Ini tidak hanya akan menyelesaikan masalah lingkungan yang kronis, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian target bauran energi terbarukan nasional. Namun, jalan menuju ke sana tidak akan mulus. Dibutuhkan komitmen politik yang kuat, implementasi yang konsisten, edukasi berkelanjutan, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Keberhasilan target ini akan sangat bergantung pada seberapa efektif pemerintah dapat mengkoordinasikan semua pemangku kepentingan dan mengatasi berbagai hambatan yang sudah teridentifikasi sejak lama.
-
Daerah2 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah3 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
