Pendidikan
Puluhan Siswa di Serang Diduga Keracunan Program Makan Gratis, Dua Dirujuk ke RS
SERANG – Sebanyak 32 siswa di wilayah Padarincang mengalami mual dan diare parah, diduga kuat setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program Makan Bergizi Gratis. Insiden yang memprihatinkan ini menyebabkan dua dari puluhan siswa tersebut harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Dugaan Keracunan Massal Menimpa Puluhan Siswa
Pusaran dugaan keracunan makanan kembali menghantam lingkungan pendidikan, kali ini menimpa puluhan siswa di salah satu sekolah di Padarincang. Para siswa dilaporkan menunjukkan gejala mual, pusing, hingga diare secara masif tak lama setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini sontak menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat luas mengenai standar keamanan pangan yang diterapkan dalam program tersebut.
Dua siswa yang kondisinya paling parah segera dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat, menggarisbawahi urgensi penanganan cepat dan respons darurat. Pihak berwenang dan tim medis tengah berupaya memastikan kondisi mereka stabil serta mencari tahu penyebab pasti dari gejala yang mereka alami. Investigasi awal menunjuk pada dugaan kuat kontaminasi pada makanan yang disajikan, yang ironisnya bertujuan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan siswa.
Kronologi dan Gejala yang Dialami
Para siswa mulai merasakan gejala tidak nyaman beberapa jam setelah jam makan siang. Gejala yang umum dilaporkan meliputi mual berat, sakit perut tak tertahankan, dan diare akut. Beberapa siswa bahkan mengeluh pusing dan lemas, menunjukkan potensi dehidrasi akibat muntah dan diare. Pihak sekolah, bekerja sama dengan petugas kesehatan setempat, segera mengambil tindakan dengan memberikan pertolongan pertama dan memonitor kondisi seluruh siswa yang terdampak.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pengelola program dan penyedia katering. Identifikasi sumber kontaminasi menjadi langkah krusial untuk mencegah insiden serupa terulang di kemudian hari. Fokus utama saat ini adalah pemulihan cepat bagi para siswa dan memastikan semua yang terdampak mendapatkan penanganan yang memadai.
Urgensi Investigasi Menyeluruh dan Audit Keamanan Pangan
Merespons insiden ini, pihak berwenang diharapkan segera meluncurkan investigasi komprehensif. Proses ini harus meliputi pengambilan sampel makanan yang dikonsumsi siswa untuk pengujian laboratorium, pemeriksaan sanitasi dapur penyedia katering, serta wawancara dengan siswa, guru, dan pihak terkait lainnya. Identifikasi mikroorganisme penyebab keracunan atau zat berbahaya lainnya sangat penting untuk memberikan kejelasan dan pertanggungjawaban.
Peristiwa ini mengingatkan pada serangkaian kasus keracunan makanan di lingkungan sekolah yang sebelumnya pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap standar higienitas dan keamanan pangan. Audit mendalam pada setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan baku, proses persiapan, hingga penyajian makanan, menjadi sangat krusial. Ini adalah langkah pencegahan kunci untuk melindungi kesehatan generasi muda.
Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis memiliki tujuan mulia untuk memastikan siswa mendapatkan asupan gizi yang cukup, yang berdampak positif pada konsentrasi belajar dan tumbuh kembang. Namun, insiden seperti ini berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap program tersebut dan menimbulkan pertanyaan besar tentang pengawasan kualitas.
- Peningkatan Pengawasan: Pengawasan kualitas pangan harus menjadi prioritas utama. Ini termasuk pemeriksaan rutin oleh dinas kesehatan dan BPOM.
- Pelatihan Berkala: Pelatihan berkala bagi penyedia makanan mengenai praktik higienis dan standar keamanan pangan (misalnya, Hazard Analysis and Critical Control Points/HACCP) wajib diterapkan.
- Mekanisme Respons Cepat: Mekanisme pelaporan dan respons cepat terhadap keluhan terkait kualitas makanan perlu diperkuat agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin.
- Transparansi dan Partisipasi: Melibatkan orang tua dan komite sekolah dalam pengawasan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas.
Kejadian keracunan makanan siswa di sekolah ini harus menjadi momentum bagi semua pihak terkait untuk mengevaluasi dan memperketat protokol keamanan pangan, khususnya dalam program-program berskala besar yang menyasar anak-anak. Kolaborasi antara pemerintah daerah, dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) krusial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Fokus pada ‘keamanan pangan anak sekolah’ harus diperkuat.
Kesehatan dan keselamatan siswa adalah prioritas utama. Oleh karena itu, langkah proaktif dan pengawasan ketat terhadap semua program yang melibatkan konsumsi pangan di lingkungan sekolah tidak bisa ditawar lagi. Kejadian di Padarincang, Serang, ini harus menjadi pelajaran berharga untuk memastikan setiap hidangan yang disajikan benar-benar bergizi dan aman bagi ‘kesehatan siswa penerima program makan gratis’.
Pendidikan
Kekecewaan Guru Merebak Pasca Salah Ucap Kenaikan Gaji oleh Presiden Prabowo
Kekecewaan Guru Merebak Pasca Salah Ucap Kenaikan Gaji oleh Presiden Prabowo
Gelombang kekecewaan melanda kalangan guru di seluruh Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto secara tidak sengaja menyebutkan angka fantastis kenaikan gaji sebesar 300% saat pidato dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kesalahan ucap ini, yang terjadi begitu cepat, sempat menyulut harapan seketika di benak para tenaga pendidik, sebelum kemudian harapan itu memudar dalam hitungan detik, meninggalkan rasa kecewa yang mendalam di kalangan mereka yang telah lama menantikan peningkatan kesejahteraan.
Antara Harapan Sekilas dan Realitas Pahit
Pidato kenegaraan Presiden di hadapan anggota dewan seharusnya menjadi momentum penting untuk menyampaikan arah kebijakan strategis. Namun, insiden “keselip lidah” terkait penghasilan guru ini justru mengalihkan fokus dan menimbulkan spekulasi luas. Meskipun sebagian guru mengaku tidak terkejut, mengingat seringnya janji-janji yang tidak terealisasi di masa lalu, banyak lainnya yang merasakan pukulan emosional yang signifikan.
Sebuah kenaikan 300% gaji berarti melipatgandakan gaji pokok hingga empat kali lipat, sebuah angka yang jauh dari realitas penghasilan mayoritas guru honorer maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan rendah saat ini. Harapan akan perubahan drastis dalam kualitas hidup mereka sempat membuncah, hanya untuk kemudian dihantam oleh klarifikasi implisit bahwa pernyataan tersebut hanyalah kekeliruan verbal. Insiden ini secara telanjang memperlihatkan celah antara ekspektasi tinggi yang diemban profesi guru dengan kenyataan ekonomi yang seringkali jauh dari harapan.
Sejarah Panjang Perjuangan Kesejahteraan Guru
Insiden ini bukan sekadar salah ucap biasa; ia menyentuh luka lama terkait kesejahteraan guru di Indonesia. Selama bertahun-tahun, isu gaji guru yang belum layak terus menjadi sorotan utama dalam agenda nasional. Berbagai organisasi profesi guru dan pemerhati pendidikan tidak henti-hentinya menyuarakan tuntutan untuk peningkatan upah yang sepadan dengan beban kerja dan tanggung jawab moral mereka dalam mencerdaskan bangsa. Banyak guru, terutama di daerah terpencil atau mereka yang berstatus honorer, masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan pendapatan minimal.
Beberapa poin penting yang kerap menjadi fokus perjuangan para guru meliputi:
- Tuntutan Upah Minimum Regional (UMR) bagi guru honorer.
- Penyetaraan gaji guru swasta dengan standar PNS.
- Kenaikan tunjangan profesi guru dan fasilitas penunjang lainnya.
- Peningkatan jenjang karir yang jelas dan kesejahteraan pensiun yang memadai.
Mengingat latar belakang sejarah perjuangan panjang ini, wajar jika setiap pernyataan terkait kenaikan gaji, apalagi dari seorang kepala negara, direspons dengan sangat sensitif oleh para guru. Hal ini pula yang membuat “salah ucap” tersebut menjadi begitu krusial dan memilukan, seolah mengukir kembali kekecewaan yang sudah sering dirasakan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan pendidikan dan kesejahteraan guru, dapat merujuk pada situs resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Dampak Psikologis dan Implikasi Kebijakan
Kekecewaan yang dirasakan para guru tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang mendalam. Munculnya harapan yang cepat sirna dapat menurunkan moral dan motivasi, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi kinerja dan semangat mereka di ruang kelas. Semangat mengajar adalah fondasi penting bagi proses pendidikan yang berkualitas.
Dari perspektif kebijakan, insiden ini kembali menyoroti urgensi pemerintah untuk merumuskan strategi peningkatan kesejahteraan guru yang konkret, realistis, dan berkelanjutan, bukan sekadar respons terhadap insiden sesaat. Pemerintah perlu menunjukkan komitmen serius melalui program-program yang terukur dan realistis, serta mengomunikasikannya dengan jelas untuk menghindari misinformasi atau kesalahpahaman di masa mendatang. Kepercayaan publik, terutama dari kalangan pendidik, sangat bergantung pada konsistensi dan transparansi komunikasi pemerintah.
Mencari Solusi Konkret di Tengah Ekspektasi
Meskipun insiden ini berakhir dengan kekecewaan, ia juga dapat menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk introspeksi dan mempercepat program-program yang menyentuh langsung kehidupan para guru. Ini bukan hanya tentang nominal gaji, tetapi juga tentang pengakuan terhadap profesi mulia ini secara menyeluruh. Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk merumuskan kebijakan yang lebih matang, mendengarkan aspirasi para guru dengan seksama, dan memberikan kepastian yang dapat membangun kembali kepercayaan.
Masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kesejahteraan dan semangat para pengajarnya. Transparansi, komunikasi yang efektif, serta langkah konkret adalah kunci untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat terkikis. Kesejahteraan guru adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia bangsa yang lebih baik.
Pendidikan
Kisah Junaidi: Guru BK di Kupang Inspirasi Siswa Prasejahtera Raih Pendidikan Tinggi
Pengabdian Junaidi: Merajut Asa di Ujung Timur
Di tengah hiruk-pikuk tantangan pendidikan di wilayah timur Indonesia, sosok Junaidi, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di Sekolah Rakyat Kupang, Nusa Tenggara Timur, muncul sebagai mercusuar harapan. Dengan komitmen yang teguh, Junaidi bertekad kuat untuk memberdayakan siswa-siswi dari latar belakang prasejahtera, menanamkan keberanian dalam diri mereka untuk berani bermimpi besar dan mengejar jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kiprahnya bukan sekadar mengajar mata pelajaran, melainkan sebuah misi mulia untuk memutus rantai keterbatasan ekonomi melalui kekuatan pendidikan.
Dedikasi Junaidi berawal dari kesadaran akan realitas bahwa banyak anak-anak berbakat di daerah tersebut terhambat oleh stigma sosial dan keterbatasan ekonomi. Mereka kerap merasa minder atau tidak memiliki akses informasi yang memadai tentang peluang pendidikan. Junaidi melihat potensi luar biasa di balik setiap siswa, potensi yang hanya memerlukan sedikit dorongan dan arah untuk berkembang. Oleh karena itu, perannya sebagai guru BK menjadi sangat krusial, bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai motivator, mentor, dan fasilitator impian.
Membangun Fondasi Keberanian dan Mimpi
Pendekatan Junaidi dalam membimbing siswa-siswinya sangat personal dan holistik. Ia tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, melainkan juga pada pengembangan karakter dan kepercayaan diri. Strategi yang ia terapkan meliputi:
- Sesi Konseling Individu: Junaidi rutin mengadakan sesi konseling pribadi, menggali potensi, minat, dan kekhawatiran setiap siswa. Melalui dialog yang empatik, ia membantu siswa mengidentifikasi hambatan internal mereka.
- Program Motivasi Berkelanjutan: Dengan menyelenggarakan lokakarya dan seminar motivasi, Junaidi menghadirkan kisah-kisah sukses dari berbagai latar belakang. Ini bertujuan untuk menginspirasi siswa bahwa latar belakang tidak menentukan masa depan.
- Kunjungan Inspiratif: Junaidi aktif menginisiasi kunjungan ke kampus-kampus lokal atau lembaga pendidikan tinggi lainnya. Pengalaman langsung melihat lingkungan kampus seringkali menjadi pemantik semangat bagi siswa untuk melanjutkan studi.
- Melibatkan Orang Tua dan Komunitas: Ia menyadari pentingnya dukungan keluarga. Junaidi secara proaktif berkomunikasi dengan orang tua, menjelaskan pentingnya pendidikan dan bagaimana mereka dapat mendukung anak-anaknya.
- Fasilitasi Informasi Beasiswa: Banyak siswa prasejahtera tidak tahu tentang adanya beasiswa atau bantuan pendidikan. Junaidi menjadi jembatan informasi, membantu siswa mencari dan mendaftar pada berbagai program beasiswa.
Fokus utamanya adalah membangun narasi baru dalam benak siswa: bahwa mereka punya hak dan kemampuan untuk bermimpi setinggi langit. Ia secara konsisten menantang batasan-batasan yang seringkali diciptakan oleh lingkungan atau diri sendiri, mendorong siswa untuk melihat pendidikan sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. Junaidi percaya, dengan keberanian dan informasi yang tepat, setiap siswa mampu mencapai potensi penuh mereka.
Tantangan dan Dampak Nyata di Lapangan
Perjalanan Junaidi tentu tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan fasilitas sekolah, kurangnya sumber daya pendukung, hingga dinamika sosial ekonomi masyarakat setempat menjadi rintangan yang harus ia hadapi setiap hari. Namun, semangatnya tidak pernah padam. Ia justru melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk berinovasi dan mencari solusi kreatif. Seperti yang pernah dibahas dalam artikel kami sebelumnya mengenai urgensi pemerataan pendidikan di wilayah timur Indonesia, peran individu-individu berdedikasi seperti Junaidi sangat vital dalam menjembatani kesenjangan tersebut.
Dampak dari pengabdian Junaidi mulai terlihat nyata. Beberapa siswa yang sebelumnya ragu-ragu kini berani mendaftar ke perguruan tinggi. Ada peningkatan signifikan dalam partisipasi siswa pada kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan mengembangkan bakat. Bahkan, beberapa alumni yang telah berhasil meraih pendidikan tinggi kini kembali untuk berbagi pengalaman, menjadi mentor bagi adik-adik kelas mereka. Kisah-kisah sukses ini menjadi bukti kuat bahwa investasi pada keberanian dan mimpi siswa adalah investasi jangka panjang untuk kemajuan bangsa.
Visi Jangka Panjang dan Relevansi Nasional
Apa yang Junaidi lakukan di Sekolah Rakyat Kupang bukan hanya sekadar upaya lokal, tetapi juga memiliki relevansi nasional yang besar. Pendidikan merupakan salah satu pilar utama pembangunan bangsa, dan memastikan setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki akses dan motivasi untuk belajar adalah kunci mencapai kemajuan yang merata. Junaidi mencontohkan bagaimana dedikasi seorang guru dapat mengubah lintasan hidup banyak individu dan pada akhirnya, berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan aksesibilitas, sejalan dengan visi yang diemban Junaidi.
Visi jangka panjang Junaidi adalah melihat Sekolah Rakyat Kupang menjadi inkubator bagi generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki mental baja dan semangat pantang menyerah. Ia berharap, suatu hari nanti, lulusan Sekolah Rakyat Kupang akan menyebar di berbagai bidang profesi, menjadi agen perubahan positif di komunitas mereka, membuktikan bahwa keberanian bermimpi adalah langkah pertama menuju masa depan yang cerah. Kisah Junaidi adalah pengingat bahwa di balik setiap sekolah, ada pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan gigih merajut asa demi masa depan yang lebih baik.
Pendidikan
Transformasi Pendidikan Thailand Integrasikan Esports Demi Kapital Manusia Digital Global
Pemerintah Thailand kini tengah mengambil langkah strategis yang berpotensi mengubah lanskap pendidikan dan ekonomi digitalnya. Dengan visi ambisius, Bangkok secara resmi mendorong integrasi esports ke dalam kurikulum sekolah di seluruh negeri. Kebijakan ini bukan sekadar memperkenalkan permainan video, melainkan sebuah inisiatif besar untuk mentransformasi persepsi publik, dari esports sebagai hiburan semata menjadi instrumen krusial dalam mempersiapkan "kapital manusia digital" yang siap bersaing di kancah industri kreatif global.
Langkah ini menggarisbawahi upaya serius Thailand dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan ekonomi digital abad ke-21. Pemerintah Thailand melihat potensi esports sebagai platform yang kaya untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan di masa depan, jauh melampaui kemampuan bermain game. Namun, di balik narasi optimis ini, muncul pertanyaan mengenai implementasi, tantangan, dan dampak jangka panjang yang akan dihadapi oleh sistem pendidikan dan masyarakat Thailand.
Visi "Kapital Manusia Digital" Thailand Melalui Esports
Konsep "kapital manusia digital" yang diusung oleh pemerintah Thailand merujuk pada individu-individu yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, strategis, kolaboratif, dan adaptif—kualitas yang sangat dicari di era digital. Esports, dengan sifat kompetitif dan kolaboratifnya, diyakini dapat menjadi laboratorium ideal untuk memupuk keterampilan tersebut. Lebih dari sekadar kecepatan jari dan reaksi, para pemain esports dituntut untuk:
- Berpikir Strategis: Merencanakan taktik, mengantisipasi langkah lawan, dan mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
- Kerja Tim dan Komunikasi: Berkoordinasi secara efektif dengan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama.
- Penyelesaian Masalah: Menganalisis situasi kompleks dan mencari solusi inovatif secara real-time.
- Kemampuan Adaptasi: Menyesuaikan strategi berdasarkan perubahan dinamika permainan.
- Literasi Digital: Memahami antarmuka perangkat lunak, perangkat keras, dan ekosistem digital secara mendalam.
- Ketahanan Mental: Mengelola kekalahan, belajar dari kesalahan, dan menjaga fokus.
Keterampilan ini, menurut pemerintah, sangat relevan untuk mengisi kebutuhan industri kreatif global, mulai dari pengembangan game, desain grafis, produksi media digital, hingga analisis data dan manajemen proyek di berbagai sektor berbasis teknologi. Ini sejalan dengan visi ekonomi Thailand yang ingin beralih dari sektor manufaktur tradisional ke ekonomi berbasis inovasi dan pengetahuan, seperti yang telah dibahas dalam berbagai kebijakan pembangunan digital nasional sebelumnya.
Manfaat dan Tantangan Integrasi Esports di Lingkungan Sekolah
Integrasi esports ke dalam kurikulum sekolah memang menawarkan segudang potensi, namun juga tidak lepas dari tantangan signifikan yang perlu diatasi. Dari sisi manfaat, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa, terutama bagi mereka yang mungkin kurang termotivasi oleh metode pengajaran tradisional. Esports bisa menjadi jembatan yang menghubungkan minat siswa dengan pengembangan keterampilan akademik dan profesional.
Namun, tantangan yang membayangi tidaklah kecil. Salah satu kendala utama adalah perubahan persepsi masyarakat, terutama orang tua dan pendidik, yang masih menganggap esports sebagai kegiatan negatif atau pengalih perhatian. Stigma terkait adiksi game, potensi kekerasan (dalam konteks game tertentu), dan gaya hidup kurang sehat perlu diatasi melalui edukasi komprehensif dan kerangka regulasi yang jelas. Infrastruktur teknologi yang memadai di seluruh sekolah, terutama di daerah pedesaan, juga menjadi prasyarat mutlak yang memerlukan investasi besar.
Selain itu, pengembangan kurikulum yang seimbang dan pelatihan guru yang kompeten adalah kunci. Guru perlu dibekali pemahaman tidak hanya tentang teknis esports, tetapi juga pedagogi untuk mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan ke dalam aktivitas esports. Tanpa panduan yang tepat, risiko eksploitasi dan dampak negatif seperti kelelahan atau tekanan berlebihan pada siswa bisa menjadi kenyataan. Organisasi seperti UNESCO terus menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan digital untuk memastikan manfaat maksimal dan meminimalisir risiko.
Implikasi Kebijakan dan Langkah ke Depan
Langkah progresif Thailand ini patut dicermati oleh negara-negara lain yang juga berupaya membangun fondasi ekonomi digitalnya. Keberhasilan inisiatif ini tidak hanya akan memposisikan Thailand sebagai pemimpin dalam pendidikan esports di Asia Tenggara, tetapi juga sebagai penyedia talenta digital yang kompetitif di pasar global.
Untuk memastikan keberhasilan jangka panjang, pemerintah Thailand perlu mengambil beberapa langkah krusial:
- Dialog Publik Berkesinambungan: Melibatkan orang tua, pendidik, psikolog, dan industri esports dalam diskusi untuk membangun konsensus dan mengatasi kekhawatiran.
- Kerangka Regulasi dan Etika: Mengembangkan pedoman penggunaan esports di sekolah yang jelas, termasuk batasan waktu bermain, jenis game yang diizinkan, dan penanganan isu kesehatan mental.
- Investasi Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia: Memastikan semua sekolah memiliki akses ke perangkat keras dan konektivitas yang memadai, serta program pelatihan berkelanjutan untuk guru dan staf.
- Penelitian dan Evaluasi: Melakukan studi dampak secara berkala untuk mengukur efektivitas program dan melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Integrasi esports ke dalam pendidikan adalah sebuah eksperimen sosial dan pedagogis yang berani. Jika dikelola dengan bijak, kebijakan Thailand ini berpotensi tidak hanya membentuk generasi baru yang mahir digital, tetapi juga merevolusi cara kita memandang pendidikan di era modern, menjadikannya lebih relevan dan menarik bagi pelajar masa kini.
-
Daerah1 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah2 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah3 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga3 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah3 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal3 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah1 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
