Connect with us

Pemerintah

Dasco Tegaskan: Bergabungnya Said Iqbal ke Pemerintah Perkuat Posisi Buruh, Bukan Melemahkan KSPI

Published

on

Dasco Tegaskan: Bergabungnya Said Iqbal ke Pemerintah Perkuat Posisi Buruh, Bukan Melemahkan KSPI

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan optimisme terhadap langkah Said Iqbal yang berencana bergabung dengan pemerintahan. Dasco menegaskan bahwa keputusan Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tersebut tidak akan melemahkan posisi KSPI maupun gerakan buruh secara keseluruhan, justru dapat menjadi katalisator penguatan peran buruh dalam kebijakan negara.

Pernyataan Dasco ini muncul di tengah spekulasi dan perdebatan mengenai dampak jika seorang pemimpin serikat buruh yang vokal memutuskan untuk terlibat langsung dalam struktur pemerintahan. Bagi sebagian pihak, langkah ini dikhawatirkan dapat mengurangi independensi serikat dan potensi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, Dasco memiliki pandangan yang berbeda, melihatnya sebagai peluang strategis bagi representasi buruh.

Latar Belakang Keputusan Said Iqbal dan Signifikansinya

Said Iqbal merupakan salah satu tokoh buruh paling berpengaruh di Indonesia, dikenal atas kepemimpinannya di KSPI dan suaranya yang lantang dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Sepanjang kariernya, Iqbal kerap berada di garda terdepan dalam aksi-aksi unjuk rasa dan negosiasi dengan pemerintah terkait isu-isu krusial seperti upah minimum, jaminan sosial, hingga regulasi ketenagakerjaan. Potensi bergabungnya ia dengan pemerintahan, meskipun detail posisinya belum secara resmi diumumkan, menandai sebuah dinamika baru dalam hubungan industrial di tanah air.

Keterlibatan langsung Said Iqbal dalam pemerintahan dapat diinterpretasikan dalam beberapa cara:

  • Akses Langsung: Buruh akan memiliki representasi langsung di meja perundingan atau proses pengambilan keputusan.
  • Penyaluran Aspirasi: Aspirasi dan tuntutan buruh dapat disalurkan secara lebih efektif melalui jalur internal pemerintahan.
  • Mencegah Kebijakan Merugikan: Kehadiran tokoh buruh di dalam dapat mencegah lahirnya kebijakan yang merugikan pekerja.

Langkah ini tentu bukan tanpa preseden. Dalam sejarah politik Indonesia maupun negara lain, tidak jarang aktivis atau pemimpin masyarakat sipil bergabung dengan pemerintahan untuk mencoba membawa perubahan dari dalam. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga integritas dan kepercayaan basis massa serikat pekerja ketika berada di lingkar kekuasaan.

Argumentasi Penguatan Peran Buruh Versi Dasco

Menurut Sufmi Dasco Ahmad, kekhawatiran mengenai melemahnya KSPI atau gerakan buruh akibat bergabungnya Said Iqbal adalah kekhawatiran yang tidak beralasan. Ia justru berpendapat bahwa ini adalah strategi yang cerdas untuk mengoptimalkan pengaruh buruh dalam pembuatan kebijakan. Dasco, yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, tampaknya melihat ini sebagai kesempatan emas bagi buruh untuk memiliki 'orang dalam' yang memahami betul seluk-beluk masalah ketenagakerjaan.

“Ketika seorang tokoh buruh berada di dalam sistem pemerintahan, ia memiliki kesempatan untuk secara langsung memengaruhi arah kebijakan. Ini bukan tentang melemahkan, melainkan tentang memperkuat posisi tawar buruh dari sudut yang berbeda,” jelas Dasco. Ia menambahkan bahwa dengan Said Iqbal di pemerintahan, komunikasi antara serikat buruh dan pemerintah akan menjadi lebih efektif, minim friksi, dan solusi dapat ditemukan lebih cepat.

Argumentasi Dasco ini mencerminkan pandangan bahwa representasi buruh tidak harus selalu berada di luar sebagai oposisi, tetapi juga bisa efektif dengan menjadi bagian dari struktur kekuasaan. Ini membuka peluang bagi kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pekerja, yang pada akhirnya dapat menciptakan hubungan industrial yang lebih harmonis dan produktif.

Implikasi bagi Gerakan Buruh dan Hubungan Industrial

Keputusan Said Iqbal ini tentu akan membawa implikasi signifikan bagi lanskap gerakan buruh dan hubungan industrial di Indonesia. Secara internal, KSPI akan menghadapi tantangan dalam transisi kepemimpinan atau pembagian peran. Organisasi perlu memastikan bahwa semangat perjuangan dan independensi tetap terjaga, meskipun pemimpin utamanya kini berada di pemerintahan.

Secara eksternal, langkah ini dapat mengubah dinamika negosiasi antara serikat buruh dan pengusaha, serta antara buruh dan pemerintah. Jika berhasil, kehadiran Said Iqbal dapat menjadi jembatan yang kuat untuk menyelesaikan perselisihan ketenagakerjaan dan merumuskan kebijakan yang adil bagi semua pihak. Namun, jika ekspektasi tidak terpenuhi atau Said Iqbal dianggap 'tersandera' oleh kepentingan pemerintah, hal ini justru bisa menimbulkan kekecewaan di kalangan buruh dan melemahkan legitimasi gerakan.

Dalam konteks yang lebih luas, keterlibatan tokoh buruh dalam pemerintahan diharapkan mampu menyeimbangkan perspektif yang sering didominasi oleh kepentingan ekonomi dan investasi. Dengan adanya suara buruh yang kuat di dalam, kebijakan seperti Omnibus Law Cipta Kerja yang pernah menuai kontroversi, mungkin akan mendapatkan tinjauan yang lebih komprehensif dari sudut pandang pekerja.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Tentu, perjalanan Said Iqbal di pemerintahan tidak akan mudah. Ia akan dihadapkan pada dilema untuk menjaga keseimbangan antara komitmen terhadap konstituen buruhnya dan tuntutan untuk bekerja demi kepentingan negara secara lebih luas. Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada kemampuannya untuk tetap membawa suara buruh ke dalam diskusi kebijakan, serta kemampuan pemerintah untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan merespons masukan tersebut.

Harapan besar diletakkan pada Said Iqbal untuk menjadi duta buruh yang efektif, memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan dan keadilan bagi pekerja. Dengan demikian, seperti yang diyakini Dasco, kolaborasi ini berpotensi besar untuk benar-benar memperkuat peran buruh di Indonesia, mendorong terwujudnya hubungan industrial yang lebih harmonis, produktif, dan berkeadilan.

Pemerintah

Aksi Dukungan Makan Bergizi Gratis Dicurigai Mobilisasi Politik, Pengamat Soroti Pola Berulang

Published

on

Gelombang demonstrasi yang secara terang-terangan menunjukkan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) merebak di berbagai kota. Aksi massa ini melibatkan beragam elemen masyarakat, mulai dari guru, anak-anak, hingga para pegawai dan pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun partisipasi mereka segera memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat dan akademisi. Mereka secara kritis menyoroti bahwa rangkaian kegiatan ini memiliki indikasi kuat sebagai mobilisasi terencana, bukan murni ekspresi aspirasi spontan dari masyarakat.

### Dugaan Mobilisasi dan Narasi Tandingan

Fenomena dukungan masif terhadap MBG ini menjadi topik hangat lantaran kecurigaan terhadap latar belakang dan motivasinya. Pengamat politik dan sejumlah akademisi secara terbuka menyatakan skeptisisme mereka. Mereka melihat adanya pola yang sangat mirip dengan cara-cara mobilisasi massa di era rezim-rezim sebelumnya, di mana partisipasi publik acap kali tidak sepenuhnya organik. Kecurigaan ini muncul bukan tanpa dasar, mengingat skala dan koordinasi aksi yang terkesan rapi di berbagai lokasi secara simultan.

“Ini bukan fenomena baru dalam politik Indonesia. Ada pola berulang dari rezim ke rezim, di mana isu atau program tertentu digulirkan, lalu diikuti oleh serangkaian aksi dukungan massa yang terstruktur,” terang seorang pengamat politik dari Jakarta, yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas isu. “Keterlibatan guru, anak-anak, bahkan SPPG yang notabene adalah bagian integral dari sistem penyedia gizi program, menimbulkan pertanyaan tentang independensi dan spontanitas mereka.” Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa mobilisasi ini mungkin memiliki motif politik yang lebih dalam, terkait dengan penguatan citra atau legitimasi program tertentu.

### Membaca Pola Berulang dalam Politik

Kritik keras dari pengamat dan akademisi menyoroti bahwa dugaan mobilisasi semacam ini dapat mendelegitimasi partisipasi publik yang sejati. Jika demonstrasi dukungan adalah hasil dari instruksi atau koordinasi terpusat, hal ini dapat merusak esensi demokrasi di mana suara rakyat seharusnya muncul secara otonom. Pola ini disebut-sebut sebagai ‘astroturfing’, yaitu praktik menciptakan ilusi dukungan massa yang luas dan spontan, padahal sebenarnya diatur oleh kepentingan tertentu. Dalam konteks Indonesia, praktik serupa seringkali muncul menjelang atau setelah transisi kekuasaan, sebagai upaya konsolidasi politik atau propaganda awal program unggulan.

Keterlibatan anak-anak dalam aksi semacam ini juga menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk aktivis hak anak. Mereka khawatir anak-anak dieksploitasi untuk kepentingan politik, tanpa pemahaman penuh mengenai isu yang didukungnya. Selain itu, partisipasi guru, yang seharusnya menjaga netralitas dalam ranah pendidikan, juga menjadi sorotan. Ini menggarisbawahi kompleksitas etis dan dampak jangka panjang terhadap integritas institusi pendidikan.

### Independensi SPPG dalam Sorotan

Yang tidak kalah penting adalah keterlibatan para pegawai dan pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam aksi dukungan MBG. SPPG adalah entitas yang akan menjadi ujung tombak dalam implementasi program MBG. Partisipasi mereka dalam demo mendukung program yang akan mereka jalankan secara langsung menimbulkan konflik kepentingan dan pertanyaan tentang objektivitas mereka. “Bagaimana mungkin pihak yang akan diuntungkan secara langsung oleh program ini, tiba-tiba turun ke jalan mendukungnya? Ini adalah indikasi kuat bahwa partisipasi mereka bukan semata-mata ekspresi warga negara, melainkan bagian dari sebuah kampanye terorganisir,” ujar seorang akademisi sosiologi. Isu ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk memastikan bahwa implementasi program berjalan transparan dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik tertentu.

### Polemik di Balik Tujuan Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu janji kampanye yang mendapat sorotan luas dan kini sedang dalam tahap persiapan implementasi. Meskipun tujuannya mulia untuk mengatasi masalah gizi dan kemiskinan, metode sosialisasi dan dukungan yang dipilih saat ini memunculkan keraguan. Diskusi mengenai pembiayaan, mekanisme distribusi, dan dampak jangka panjang program ini masih terus bergulir di ranah publik dan parlemen. Untuk informasi lebih lanjut mengenai detail program ini, pembaca dapat mengakses artikel [Pembiayaan dan Mekanisme Program Makan Bergizi Gratis](https://www.kompas.com/tag/Makan-Bergizi-Gratis) dari sumber terpercaya.

Kontroversi ini menambah kompleksitas dinamika politik di Indonesia, terutama dalam upaya pemerintah baru untuk meluncurkan program-program andalannya. Pertanyaan besar tetap menggantung: apakah aksi dukungan massa ini akan dianggap sebagai suara sah rakyat, atau justru akan memperkuat narasi bahwa politik Indonesia masih rentan terhadap praktik mobilisasi demi kepentingan elite?

Continue Reading

Pemerintah

Kemendagri Puji Kinerja Pemda Papua, Fokus Peningkatan Inovasi dan Akuntabilitas Daerah

Published

on

Wamendagri Apresiasi Pemda Berprestasi, Dorong Inovasi dan Kinerja Tata Kelola Papua

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk secara tegas menyampaikan apresiasi tinggi kepada sejumlah pemerintah daerah (pemda) di Provinsi Papua yang telah menunjukkan prestasi gemilang dalam berbagai sektor pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan. Penghargaan ini bukan sekadar bentuk pengakuan, melainkan sebuah dorongan strategis untuk memacu peningkatan kinerja berkelanjutan dan inovasi di tingkat lokal demi kesejahteraan masyarakat.

Ribka Haluk menekankan bahwa pencapaian ini merupakan indikator positif atas komitmen pemda di Papua dalam menjalankan otonomi daerah. Prestasi yang diakui mencakup beragam bidang, mulai dari efisiensi pengelolaan keuangan daerah, peningkatan kualitas layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, hingga inovasi dalam pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat adat. Pemerintah pusat, melalui Kemendagri, memandang capaian ini sebagai fondasi penting untuk kemajuan Papua ke depan.

Implementasi Otonomi Khusus dan Tanggung Jawab Daerah

Keberhasilan pemda di Papua dalam meraih penghargaan ini tidak lepas dari dinamika implementasi Otonomi Khusus (Otsus). Status Otsus memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya dan merumuskan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik unik wilayahnya. Namun, Wamendagri Ribka Haluk juga mengingatkan bahwa Otsus membawa serta tanggung jawab besar. Pemerintah daerah wajib memastikan bahwa dana dan kewenangan yang diberikan tersalurkan secara efektif, transparan, dan akuntabel demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat Papua.

“Pemerintah daerah di Papua menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari distribusi geografis yang sulit, keterbatasan sumber daya manusia yang mumpuni, hingga isu-isu sosial-budaya yang memerlukan pendekatan sensitif. Oleh karena itu, Kemendagri terus mendampingi pemda agar mampu merumuskan strategi pembangunan yang adaptif, inovatif, dan inklusif,” ujar Ribka Haluk.

Dalam konteks ini, Kemendagri mendorong adanya peningkatan kapabilitas aparatur sipil negara (ASN) di daerah, khususnya dalam memahami dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan strategis yang relevan dengan konteks lokal. Hal ini penting untuk mengatasi hambatan birokrasi dan memastikan efektivitas program pembangunan.

Arah Peningkatan Kinerja dan Inovasi Daerah yang Berkelanjutan

Kemendagri menyoroti beberapa pilar utama yang perlu diperkuat oleh pemda di Papua untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Ribka Haluk secara spesifik menyebutkan pentingnya transparansi anggaran, akuntabilitas dalam setiap program dan proyek, serta partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Inovasi juga menjadi kata kunci, khususnya dalam pemanfaatan teknologi untuk mempercepat pelayanan publik dan memperkuat sistem pengawasan internal.

Pemerintah pusat mengharapkan penghargaan ini menjadi momentum bagi pemda untuk melakukan evaluasi diri secara mendalam, mengidentifikasi area-area perbaikan, serta merumuskan kebijakan yang lebih proaktif dan responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat.

Poin-poin penting dalam arah peningkatan kinerja yang digaungkan Kemendagri antara lain:

  • Penguatan kapasitas sumber daya manusia aparatur daerah melalui program pendidikan dan pelatihan yang relevan.
  • Digitalisasi pelayanan publik untuk meningkatkan efisiensi, aksesibilitas, dan mengurangi potensi praktik korupsi.
  • Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan, melibatkan partisipasi masyarakat adat.
  • Peningkatan kualitas dan pemerataan infrastruktur dasar, termasuk akses jalan, listrik, dan telekomunikasi.
  • Pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi daerah, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata, guna menciptakan lapangan kerja.
  • Peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kolaborasi Pusat-Daerah dan Harapan Masa Depan

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi panel yang pernah kami ulas, berbagai pakar tata kelola pemerintahan menyoroti pentingnya indikator kinerja yang jelas dan terukur bagi pemda, khususnya di daerah dengan karakteristik khusus seperti Papua. Apresiasi dari Kemendagri ini sejalan dengan rekomendasi tersebut, menunjukkan bahwa upaya perbaikan kinerja sedang berjalan di lapangan dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat.

Melalui apresiasi ini, Kemendagri berharap semangat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah semakin kokoh. Peningkatan kinerja pemda di Papua bukan hanya tentang angka atau penghargaan, tetapi esensinya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat, penciptaan keadilan, dan kemajuan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah daerah diharapkan terus berinovasi dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman. Informasi lebih lanjut mengenai profil dan kebijakan pemerintahan daerah dapat diakses di situs resmi Kementerian Dalam Negeri. Dengan sinergi yang kuat, Papua diharapkan dapat terus bertransformasi menjadi wilayah yang maju, sejahtera, dan berdaulat.

Continue Reading

Pemerintah

Mendagri Soroti Kinerja Pemda: Penghargaan Pemicu Tata Kelola Terbaik

Published

on

Penghargaan Bukan Akhir, Melainkan Awal Peningkatan Kinerja Daerah

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan bahwa penghargaan yang diberikan kepada pemerintah daerah (Pemda) berprestasi harus dipandang lebih dari sekadar apresiasi sesaat. Sebaliknya, apresiasi ini wajib menjadi pemacu utama untuk terus meningkatkan kinerja sekaligus mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang jauh lebih baik. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah pusat dalam mendorong reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik di seluruh wilayah Indonesia.

Pandangan Mendagri ini relevan di tengah dinamika otonomi daerah yang menuntut inovasi dan adaptasi Pemda terhadap berbagai tantangan. Penghargaan yang diterima oleh Pemda seyogianya mencerminkan keberhasilan nyata dalam menjalankan program pembangunan, mengelola keuangan daerah secara transparan, serta memberikan dampak positif yang konkret bagi masyarakat. Tanpa semangat pemacu ini, risiko penghargaan hanya menjadi seremoni semata tanpa mendorong perubahan signifikan menjadi sangat besar.

Mendorong Tata Kelola yang Lebih Baik dan Akuntabel

Peningkatan kinerja Pemda tidak hanya diukur dari angka-angka pertumbuhan atau serapan anggaran, tetapi juga dari kualitas tata kelola pemerintahan. Mendagri Tito Karnavian menekankan bahwa tata kelola yang baik adalah fondasi bagi keberlanjutan pembangunan dan kepercayaan publik. Aspek ini mencakup banyak dimensi, mulai dari transparansi, akuntabilitas, efisiensi, hingga partisipasi masyarakat. Penghargaan diharapkan mampu memotivasi Pemda untuk senantiasa berbenah dalam aspek-aspek krusial ini.

Dalam konteks akuntabilitas, penghargaan harus didasarkan pada indikator yang jelas dan terukur, serta proses penilaian yang transparan. Ini penting untuk mencegah praktik ‘award-chasing’ yang fokus pada pencapaian administratif semata tanpa substansi perbaikan kinerja nyata. Lebih dari itu, penghargaan diharapkan dapat menstimulasi Pemda agar:

  • Meningkatkan Efisiensi Anggaran: Pengelolaan keuangan daerah yang hemat, efektif, dan bebas dari korupsi.
  • Mempercepat Pelayanan Publik: Inovasi dalam penyediaan layanan yang mudah diakses, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
  • Mendorong Partisipasi Masyarakat: Melibatkan warga dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan.
  • Membangun Lingkungan Investasi Kondusif: Kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja.
  • Menjaga Integritas dan Transparansi: Menerapkan prinsip-prinsip anti-korupsi dan keterbukaan informasi.

Tantangan dan Kriteria Penghargaan yang Berkelanjutan

Meskipun penghargaan memiliki potensi besar sebagai motivator, tantangan dalam penerapannya tidaklah sedikit. Perbedaan kapasitas antar daerah, keterbatasan sumber daya manusia dan finansial, hingga dinamika politik lokal dapat memengaruhi sejauh mana sebuah Pemda mampu meraih dan mempertahankan prestasi. Oleh karena itu, kriteria penilaian penghargaan juga perlu terus dievaluasi agar lebih komprehensif, adil, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.

Penilaian hendaknya tidak hanya terfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan upaya reformasi yang dilakukan. Mendagri selalu mengingatkan bahwa konsistensi dan keberlanjutan adalah kunci. Penghargaan hari ini harus menjadi momentum refleksi untuk melihat apa yang masih perlu diperbaiki dan dikembangkan di masa mendatang. Dengan demikian, penghargaan benar-benar berfungsi sebagai benchmark dan pemicu inovasi, bukan sekadar penanda akhir dari sebuah pencapaian.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri sendiri secara rutin melakukan evaluasi terhadap kinerja Pemda. Evaluasi ini menjadi dasar pemberian penghargaan sekaligus pemetaan area-area yang memerlukan intervensi dan pembinaan lebih lanjut. Hal ini sejalan dengan upaya Kemendagri dalam memperkuat kapasitas pemerintah daerah demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik di seluruh penjuru tanah air.

Menghubungkan Artikel Lama dan Baru: Konsistensi Tujuan

Pernyataan Mendagri ini bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari berbagai kebijakan dan arahan pemerintah pusat sebelumnya yang senantiasa menekankan pentingnya akuntabilitas dan efisiensi dalam pemerintahan daerah. Sejak era desentralisasi bergulir, isu peningkatan kapasitas Pemda dan penyelarasan standar kinerja nasional telah menjadi fokus utama. Artikel ini memperkuat narasi tersebut, mengingatkan kembali bahwa meskipun otonomi daerah memberikan kewenangan luas, tanggung jawab untuk melayani dan membangun dengan baik tetap menjadi prioritas tertinggi.

Mendorong Pemda untuk tidak berpuas diri dengan penghargaan adalah kunci untuk menciptakan iklim kompetisi positif yang sehat. Iklim ini diharapkan mampu memicu inovasi-inovasi pelayanan publik, optimalisasi potensi daerah, dan percepatan pembangunan yang merata. Pada akhirnya, tujuan utama dari setiap penghargaan dan dorongan peningkatan kinerja adalah kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tata kelola pemerintahan daerah, Anda dapat mengunjungi portal resmi Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Continue Reading

Trending