Internasional
Korban Gempa Kembar Venezuela Terus Bertambah, Upaya Evakuasi Intensif Digenjot
CARACAS – Duka mendalam menyelimuti Venezuela setelah gempa kembar dahsyat mengguncang negara Amerika Selatan itu, menyebabkan jumlah korban jiwa terus dilaporkan meningkat secara signifikan. Tim penyelamat dan evakuasi tanpa henti berjibaku di lapangan, menghadapi tantangan berat untuk mencari korban yang tertimbun reruntuhan dan menyelamatkan mereka yang terluka.
Skala Bencana dan Dampak Awal
Gempa pertama dengan magnitudo M 6.9, diikuti selang beberapa jam oleh gempa kedua yang tak kalah kuat, M 6.3, telah menciptakan kerusakan luas di berbagai wilayah, terutama di zona pesisir dan pegunungan. Guncangan kuat ini merobohkan bangunan, memicu tanah longsor, dan memutuskan akses jalan, mempersulit upaya penyelamatan. Laporan awal dari otoritas setempat menyebutkan ratusan orang terluka parah, sementara ribuan lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang rusak atau tidak aman. Infrastruktur vital seperti pasokan listrik dan air bersih juga terganggu di banyak daerah terdampak, menambah penderitaan masyarakat dan memperparah krisis kemanusiaan yang mungkin timbul.
Fokus Operasi Pencarian dan Penyelamatan
- Pengerahan Tim SAR Ekstensif: Ratusan personel dari badan penanggulangan bencana nasional, militer, dan relawan dikerahkan ke lokasi-lokasi paling parah. Mereka dilengkapi dengan peralatan seadanya namun bekerja dengan semangat tinggi.
- Prioritas Area Penelusuran: Fokus utama adalah di kota-kota padat penduduk yang mengalami kerusakan struktural signifikan, terutama bangunan bertingkat yang runtuh.
- Tantangan Lapangan yang Berat: Medan yang sulit, komunikasi yang terputus, dan keterbatasan alat berat menjadi hambatan utama yang memperlambat laju evakuasi dan pencarian korban gempa kembar Venezuela.
- Bantuan Medis Darurat: Pos-pos medis darurat didirikan di sekitar zona bencana untuk menangani korban luka dan memberikan pertolongan pertama secara cepat.
Respons Pemerintah dan Bantuan Internasional
Pemerintah Venezuela dengan cepat mengumumkan status darurat di beberapa negara bagian yang terdampak parah, membuka pintu bagi bantuan internasional. Presiden Venezuela, dalam pidato nasionalnya, menyatakan solidaritas penuh terhadap para korban dan berjanji akan mengerahkan seluruh sumber daya negara untuk pemulihan. Sejumlah negara tetangga dan organisasi kemanusiaan internasional, termasuk PBB, telah menawarkan bantuan berupa tim pencarian, pasokan medis, dan kebutuhan dasar lainnya. Koordinasi lintas negara menjadi kunci untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan dengan cepat dan efisien. Situasi ini mengingatkan pada kejadian gempa bumi yang melanda wilayah Karibia di masa lalu, yang selalu membutuhkan respons global yang terkoordinasi untuk memitigasi jumlah korban gempa kembar dan memulihkan kondisi.
Analisis Tantangan Pemulihan Jangka Panjang
Selain penanganan darurat, Venezuela kini dihadapkan pada tugas berat untuk pemulihan jangka panjang. Kerusakan infrastruktur yang meluas akan memerlukan investasi besar dan waktu untuk rekonstruksi. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, memerlukan solusi perumahan sementara dan permanen. Tekanan ekonomi yang sudah ada di negara tersebut kemungkinan akan diperparah oleh bencana ini, menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan dari komunitas internasional. Para ahli mencatat bahwa mitigasi bencana dan peningkatan ketahanan bangunan harus menjadi prioritas utama ke depan, mengingat Venezuela berada di zona rawan gempa, sebuah pelajaran berharga dari kejadian serupa di masa lalu.
Krisis kemanusiaan yang mungkin timbul pasca-gempa juga menjadi perhatian serius. Akses terhadap makanan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan akan menjadi krusial dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Pengalaman dari bencana sebelumnya menunjukkan bahwa kerentanan masyarakat dapat meningkat secara drastis jika bantuan tidak terdistribusi secara efektif, menambah kompleksitas penanganan dampak gempa bumi Venezuela ini.
Pemerintah dan lembaga bantuan internasional mendesak masyarakat global untuk terus memantau situasi dan memberikan dukungan. Informasi lebih lanjut mengenai upaya bantuan dan cara berdonasi dapat ditemukan di situs resmi organisasi kemanusiaan seperti UNICEF Venezuela, yang aktif dalam respons kemanusiaan di wilayah tersebut.
Peristiwa tragis ini bukan hanya menguji ketahanan fisik bangunan dan infrastruktur, tetapi juga solidaritas dan semangat gotong royong warga Venezuela serta komunitas global. Seiring berjalannya waktu, fokus akan bergeser dari penyelamatan ke pemulihan, sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kekuatan dan ketabahan kolektif untuk membangun kembali kehidupan yang terdampak.
Internasional
Regulator Pakistan Bekukan Izin Siar Geo News Terkait Konten Muharram Kontroversial
Pakistan Electronic Media Regulatory Authority (PEMRA) secara tegas menangguhkan lisensi siaran televisi Geo News selama 15 hari. Keputusan ini diambil menyusul penayangan konten yang dianggap ‘ofensif’ dalam sebuah program yang menandai Muharram, salah satu periode paling sensitif dalam kalender Islam. Penangguhan ini sontak menyulut perdebatan sengit mengenai batas-batas kebebasan berekspresi media di Pakistan, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu keagamaan yang krusial.
Geo News, sebagai salah satu saluran berita swasta terbesar dan paling berpengaruh di Pakistan, tidak asing dengan kontroversi. Saluran ini dikenal memiliki sejarah panjang perselisihan dengan berbagai lembaga pemerintah dan militer, seringkali dituduh memberitakan secara bias atau bahkan anti-negara. Insiden terbaru ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Geo News dalam menjalankan operasionalnya, sekaligus menyoroti ketegangan abadi antara otoritas negara dan media independen di negara tersebut.
Dalam kasus ini, PEMRA, sebagai badan pengatur media di Pakistan, bertindak berdasarkan pengaduan atau pengawasan internal terhadap program Geo News yang berkaitan dengan Muharram. Periode Muharram, khususnya peringatan Asyura, memiliki makna mendalam bagi umat Muslim Syiah dan diwarnai dengan ritual serta narasi sejarah yang sangat dijunjung tinggi. Segala bentuk representasi atau komentar yang dianggap tidak menghormati atau memicu perpecahan sektarian dapat dengan cepat memicu reaksi keras dari berbagai kelompok masyarakat, membuat peliputan topik ini menjadi sangat menantang bagi media.
Latar Belakang Kontroversi dan Sensitivitas Muharram
Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam; ia adalah periode duka dan refleksi yang sangat dihormati, terutama oleh komunitas Muslim Syiah di seluruh dunia. Di Pakistan, sebuah negara dengan keragaman sektarian, peliputan dan diskusi seputar Muharram selalu diliputi sensitivitas tinggi. Sejarah Pakistan mencatat beberapa insiden kekerasan sektarian yang dipicu oleh interpretasi atau penggambaran isu-isu keagamaan yang dianggap provokatif. Oleh karena itu, setiap media yang menyiarkan konten terkait Muharram harus berjalan di atas tali tipis antara kebebasan berekspresi dan keharusan menjaga harmoni sosial.
- Pentingnya Muharram: Muharram menandai tragedi Karbala, peristiwa yang memiliki nilai fundamental bagi identitas Syiah, mendorong ritual duka dan ekspresi kesedihan yang mendalam.
- Potensi Konflik Sektarian: Pakistan rentan terhadap ketegangan sektarian, dan media seringkali menjadi medan pertempuran dalam narasi keagamaan, di mana konten ‘ofensif’ dapat memicu kemarahan publik.
- Peran Media: Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan konten keagamaan secara akurat, hormat, dan tanpa memprovokasi, sebuah tugas yang menjadi semakin sulit dalam konteks politik dan sosial Pakistan.
Rekam Jejak Kontroversial Geo News dan Otoritas Media
Penangguhan Geo News ini bukanlah insiden pertama. Saluran ini memiliki riwayat panjang perseteruan dengan otoritas Pakistan, termasuk penangguhan atau pemblokiran siaran di masa lalu. Pada tahun 2014, misalnya, Geo News pernah ditangguhkan setelah dituduh merendahkan militer. Insiden-insiden seperti ini secara konsisten memicu kekhawatiran dari organisasi hak asasi manusia dan advokat kebebasan pers internasional tentang erosi kebebasan media di Pakistan.
Regulator media seperti PEMRA seringkali dituduh bertindak di bawah tekanan politik atau menggunakan kekuasaan mereka secara berlebihan untuk membungkam kritik. Di sisi lain, PEMRA berargumen bahwa mereka hanya menegakkan pedoman siaran yang ada untuk menjaga ketertiban umum dan mencegah penyebaran kebencian. Ketegangan ini mencerminkan dilema yang lebih besar dalam demokrasi yang sedang berkembang: bagaimana menyeimbangkan hak atas kebebasan berekspresi dengan kebutuhan akan stabilitas sosial dan perlindungan terhadap sentimen keagamaan yang rapuh.
- Sejarah Ketegangan: Geo News sering berbenturan dengan pemerintah dan militer Pakistan, menghadapi tuduhan bias atau bahkan ‘anti-negara’.
- Intervensi Regulator: PEMRA memiliki sejarah menggunakan kekuasaannya untuk menangguhkan atau mendenda saluran yang dianggap melanggar kode etik, memunculkan pertanyaan tentang independensi regulator.
- Debat Kebebasan Pers: Kasus ini kembali menghidupkan diskusi tentang ruang lingkup kebebasan pers di Pakistan dan sejauh mana pemerintah dapat mengatur konten media tanpa dianggap membungkam kritik.
Implikasi dan Dampak Penangguhan
Penangguhan 15 hari ini tentu membawa konsekuensi signifikan bagi Geo News, baik dari segi finansial maupun reputasi. Kerugian pendapatan iklan selama dua minggu adalah pukulan telak, sementara dampak terhadap kredibilitas saluran di mata publik bisa jadi lebih lama. Lebih luas lagi, insiden ini mengirimkan pesan kuat kepada seluruh lanskap media Pakistan mengenai batasan-batasan dalam meliput isu-isu sensitif, khususnya yang berkaitan dengan agama.
Para jurnalis dan organisasi berita mungkin akan merasa tertekan untuk melakukan sensor diri (self-censorship) agar terhindar dari nasib serupa. Ini berpotensi mempersempit ruang diskusi publik yang kritis dan independen, yang sangat penting bagi kesehatan demokrasi. Sementara pihak berwenang berdalih melindungi sentimen keagamaan, para kritikus melihat tindakan ini sebagai upaya lebih lanjut untuk mengendalikan narasi dan membatasi perbedaan pendapat. Situasi ini menggarisbawahi tantangan kompleks yang dihadapi media di Pakistan, yang harus menavigasi medan penuh ranjau antara kebebasan berekspresi, tekanan politik, dan sensitivitas budaya-agama yang mendalam.
*Catatan: Informasi lebih lanjut mengenai otoritas dan fungsi PEMRA dapat diakses melalui portal resmi mereka.*
Internasional
Tim Medis Venezuela Temukan Keheningan Pilu di Reruntuhan Gempa La Guaira
Perjalanan Penuh Harapan yang Berujung Hampa
Menyusul laporan awal mengenai gempa dahsyat yang melanda pesisir Venezuela, sebuah tim medis elite bergerak cepat dari ibu kota Caracas. Misi mereka jelas: menjangkau La Guaira, salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dengan harapan menemukan dan menyelamatkan korban yang mungkin masih terperangkap di bawah reruntuhan. Dengan setiap detik berharga, para dokter, perawat, dan paramedis ini memikul beban harapan ribuan keluarga yang cemas. Namun, 12 jam kemudian, realitas pahit membungkam semangat mereka.
Perjalanan darat yang biasanya ditempuh dalam waktu singkat terasa jauh lebih panjang. Jalanan yang retak, puing-puing yang berserakan, dan pemandangan kehancuran yang semakin pekat di setiap kilometer menjadi pengingat mengerikan akan skala tragedi. Peralatan medis dan perlengkapan penyelamatan darurat menjadi prioritas utama yang mereka bawa, siap menghadapi skenario terburuk sekalipun. Tekad untuk menemukan tanda-tanda kehidupan membakar semangat mereka, meskipun bayangan kehancuran mulai mengikis optimisme.
Realitas Pilu di Jantung Zona Bencana
Saat tim tiba di La Guaira, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih buruk dari perkiraan. Kota yang dulunya ramai kini menjelma menjadi lautan puing. Bangunan-bangunan bertingkat runtuh total, menyisakan tumpukan beton, baja bengkok, dan debu tebal yang menyelimuti segalanya. Aroma debu dan kehancuran menusuk hidung, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dengan segera, tim medis memecah diri dan memulai pencarian sistematis di antara sisa-sisa bangunan. Mereka berteriak memanggil nama, mengetuk-ngetuk reruntuhan, dan menggunakan alat pendengar khusus untuk mendeteksi suara sekecil apa pun. Setiap celah di antara puing-puing disisir dengan cermat, setiap sisa bangunan diperiksa dengan teliti. Harapan tipis untuk mendengar rintihan atau tangisan korban menjadi pendorong utama di tengah keputusasaan yang mulai merayap.
"Kami datang dengan hati yang penuh harapan, siap untuk menyelamatkan. Namun yang kami temukan hanyalah keheningan. Keheningan yang memekakkan telinga, keheningan yang menghancurkan jiwa," ujar salah seorang dokter dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan kepedihan yang mendalam.
Keheningan yang Memekakkan Telinga
Jam demi jam berlalu. Matahari terbit dan terbenam, menandai berakhirnya 12 jam pencarian intens. Tim medis tidak menemukan satu pun tanda kehidupan. Tidak ada suara, tidak ada respons, tidak ada korban yang berhasil dievakuasi hidup-hidup. Yang mereka temukan hanyalah kehampaan, sisa-sisa kehidupan yang terenggut seketika, dan duka yang membeku dalam puing-puing.
Kesunyian yang mereka dapati bukan hanya sekadar absennya suara, melainkan cerminan dari tragedi yang tak terucapkan. Ini adalah bukti bisu dari dampak mematikan gempa, yang kemungkinan besar telah merenggut nyawa banyak warga La Guaira dalam sekejap. Para penyelamat, yang sebelumnya penuh energi dan tekad, kini hanya bisa berdiri terpaku, memandang reruntuhan dengan tatapan kosong, hati mereka hancur.
Beban Emosional dan Tantangan Pasca-Bencana
Pengalaman menemukan keheningan di tengah kehancuran ini meninggalkan beban emosional yang mendalam bagi setiap anggota tim medis. Misi penyelamatan yang diharapkan heroik berubah menjadi konfrontasi langsung dengan realitas kematian massal. Para profesional kesehatan, yang terbiasa menyelamatkan nyawa, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dalam bencana sebesar ini, upaya terbaik pun bisa berujung pada kegagalan.
- Dampak Psikologis: Banyak tim penyelamat akan membutuhkan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma ini.
- Fokus Beralih: Upaya kini harus beralih dari pencarian korban hidup menjadi evakuasi jenazah dan penanganan krisis kemanusiaan yang lebih luas, termasuk penyediaan tempat tinggal sementara, makanan, dan air bersih bagi para penyintas.
- Evaluasi Kesiapan Bencana: Insiden ini juga memunculkan pertanyaan penting tentang kesiapan infrastruktur dan respons darurat Venezuela dalam menghadapi bencana alam berskala besar.
Meskipun pencarian korban hidup telah berakhir, pekerjaan di La Guaira baru saja dimulai. Masyarakat internasional dan pemerintah Venezuela harus bersinergi untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan mendukung proses pemulihan jangka panjang bagi mereka yang kehilangan segalanya. Keheningan pilu di reruntuhan La Guaira menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerapuhan hidup dan urgensi solidaritas di hadapan bencana alam.
Internasional
Pelarian Dramatis Aktivis Tiongkok Dong Guangping Berakhir di Kanada Setelah Dekade Perjuangan
Seorang aktivis terkemuka asal Tiongkok, Dong Guangping, akhirnya menginjakkan kaki di Toronto pada Jumat, setelah lebih dari satu dekade upaya pelarian yang gagal dari negaranya. Kedatangan Dong menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang dan berbahaya, yang menyoroti perjuangan gigih para pembela hak asasi manusia yang berani menentang rezim otoriter.
Dong Guangping, yang dikenal sebagai salah satu suara kritis terhadap pemerintahan Beijing, menceritakan kembali detil-detil pelariannya yang dramatis, termasuk perjalanannya melalui laut menuju Korea Selatan bulan lalu. Kisahnya bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah epik tentang pencarian kebebasan dan keamanan yang mengorbankan segalanya.
Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan dan Suaka
Pelarian Dong Guangping adalah narasi yang kompleks, terjalin dengan penangkapan, pengawasan ketat, dan berbagai upaya yang gagal selama bertahun-tahun. Sebagai seorang veteran aktivis, Dong telah lama menjadi target pihak berwenang Tiongkok karena advokasinya terhadap demokrasi, kebebasan berbicara, dan hak asasi manusia. Penahanannya di masa lalu, termasuk hukuman penjara, adalah bukti nyata dari tekanan yang dihadapinya. Perjalanannya ke Korea Selatan melalui jalur laut merupakan indikasi betapa sulitnya menemukan jalan keluar dari Tiongkok bagi para disiden, yang seringkali harus menempuh cara-cara yang penuh risiko dan tidak konvensional untuk menghindari deteksi.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang harapan bagi banyak orang lain yang masih berjuang di Tiongkok,” ujar Dong dalam sebuah wawancara setibanya di Kanada. Pernyataannya menggarisbawahi dampak kasus-kasus seperti dirinya terhadap komunitas disiden yang lebih luas, memberikan inspirasi dan harapan di tengah penindasan yang terus-menerus. Pilihan rute laut ke Korea Selatan menunjukkan strategi yang matang dan berisiko, mengingat pengawasan ketat di perbatasan darat Tiongkok. Langkah ini sering menjadi pilihan terakhir bagi mereka yang putus asa mencari jalan keluar, menyoroti tantangan besar dalam upaya melarikan diri dari sistem yang ketat.
Sebelumnya, pada tahun 2015, Dong Guangping bersama aktivis Tiongkok lainnya, Jiang Yefei, sempat dideportasi dari Thailand kembali ke Tiongkok, sebuah peristiwa yang memicu kecaman internasional. Insiden tersebut menjadi pengingat pahit akan bahaya yang dihadapi para disiden bahkan ketika mereka telah berhasil meninggalkan Tiongkok, menunjukkan jangkauan panjang pengaruh Beijing terhadap negara-negara tetangga. Kisah pelarian yang berulang kali gagal ini menambah bobot pada keberhasilannya mencapai Kanada kali ini, mengubahnya dari sekadar berita menjadi narasi perjuangan panjang dan ketekunan yang luar biasa.
Kanada sebagai Harapan Baru dan Komitmen Internasional
Kedatangan Dong Guangping di Kanada menggarisbawahi komitmen negara tersebut untuk melindungi hak asasi manusia dan memberikan suaka bagi mereka yang terancam. Kanada telah lama dikenal sebagai tujuan bagi para pencari suaka politik, dan kasus Dong memperkuat citra tersebut. Keputusannya untuk menerima Dong mengirimkan pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Kanada berdiri teguh pada prinsip-prinsip kebebasan dan keadilan. Penerimaan suaka ini bukan hanya penyelamat bagi individu Dong Guangping, tetapi juga simbol dukungan terhadap perjuangan global melawan penindasan politik.
Perlindungan yang diberikan Kanada kepada Dong juga dapat dilihat sebagai respons terhadap situasi hak asasi manusia yang memburuk di Tiongkok, di mana para kritikus dan aktivis terus menghadapi penangkapan, penahanan, dan pengawasan. Kasus ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut mengenai tanggung jawab internasional untuk melindungi para disiden dan peran negara-negara Barat dalam menekan Tiongkok agar mematuhi norma-norma hak asasi manusia universal. Ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara organisasi hak asasi manusia dan pemerintah dapat menghasilkan dampak nyata dalam menyelamatkan nyawa dan masa depan individu yang terancam.
Refleksi Kasus Dong Guangping: Suara untuk Perubahan
Kisah Dong Guangping adalah lebih dari sekadar berita pelarian seorang aktivis; ini adalah cerminan dari tantangan global yang dihadapi oleh kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Keberhasilannya mencapai Kanada bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga kemenangan simbolis bagi semua yang percaya pada keadilan dan martabat manusia. Kasus ini menambah daftar panjang aktivis Tiongkok yang harus mencari perlindungan di luar negeri, menggambarkan pola sistematis penindasan terhadap perbedaan pendapat di dalam negeri. Pemerintah Tiongkok seringkali menggunakan berbagai cara untuk membungkam kritik, mulai dari penahanan formal hingga penghilangan paksa.
Poin-poin penting dalam kasus Dong Guangping meliputi:
- Sebagai aktivis veteran, Dong telah bertahun-tahun mengadvokasi demokrasi dan hak asasi manusia di Tiongkok.
- Pelarian multi-tahap yang melibatkan jalur laut ke Korea Selatan setelah puluhan tahun upaya yang gagal.
- Kasusnya menyoroti risiko dan tantangan yang dihadapi oleh para disiden Tiongkok dalam mencari kebebasan.
- Kanada memberikan suaka, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan hak asasi manusia.
- Kisah ini menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi komunitas hak asasi manusia global.
Peristiwa ini diharapkan dapat mendorong perhatian lebih luas terhadap situasi hak asasi manusia di Tiongkok dan mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan lebih konkret dalam mendukung para pembela kebebasan. Bagi Dong Guangping, babak baru telah dimulai, namun perjuangan untuk kebebasan di tanah airnya masih jauh dari usai. Kisahnya adalah pengingat penting bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup bebas dari penindasan dan untuk menyuarakan kebenaran, terlepas dari risikonya. (Human Rights Watch mengulas lebih lanjut tentang hak asasi manusia di Tiongkok)
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
