Pemerintah
Presiden Prabowo Soroti Peran Vital Polri Melindungi dan Melayani Rakyat di Hari Bhayangkara ke-80
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memimpin Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara Tahun 2026. Dalam momen bersejarah ini, Presiden Prabowo menegaskan kembali komitmen fundamental Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk selalu hadir, melindungi, melayani, dan mengabdi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Amanat tersebut disampaikan saat upacara berlangsung di Lapangan Satuan Latihan Korps Brigade Mobil (Korbrimob), Cikeas, pada Rabu, 1 Juli 2026.
Pada perayaan Hari Bhayangkara yang ke-80 ini, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya peran Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban. Lebih dari itu, beliau juga menekankan kontribusi Polri dalam mendukung berbagai agenda strategis nasional yang menjadi prioritas pemerintah. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi seluruh jajaran kepolisian akan tanggung jawab besar yang mereka emban di tengah dinamika tantangan zaman.
Kepala Negara secara eksplisit menyatakan bahwa keberadaan Polri adalah untuk rakyat. Setiap langkah dan kebijakan yang diambil institusi ini harus selalu berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Pesan ini menggemakan kembali komitmen pemerintah yang telah disampaikan dalam berbagai kesempatan sebelumnya terkait reformasi dan peningkatan kualitas institusi kepolisian, memastikan Polri menjadi penegak hukum yang humanis dan profesional.
Misi Utama Polri: Pelindung, Pelayan, dan Pengabdi Rakyat
Presiden Prabowo menggarisbawahi tiga pilar utama yang menjadi pondasi tugas Polri: melindungi, melayani, dan mengabdi. Ketiga pilar ini bukan sekadar semboyan, melainkan prinsip kerja yang harus diimplementasikan dalam setiap tindakan kepolisian. Melindungi berarti memastikan rasa aman dari ancaman kejahatan dan gangguan ketertiban, serta menjamin hak-hak sipil setiap warga negara. Ini termasuk penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu, serta perlindungan terhadap kelompok rentan.
Aspek melayani, menurut Presiden, menuntut Polri untuk responsif, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Pelayanan publik, mulai dari pembuatan dokumen hingga penanganan laporan, harus dilakukan dengan profesionalisme dan empati. Sementara itu, mengabdi kepada rakyat menegaskan loyalitas Polri sepenuhnya kepada negara dan bangsa, dengan integritas tinggi dan dedikasi tanpa batas untuk kemajuan Indonesia. Komitmen ini selaras dengan upaya pemerintah dalam membangun birokrasi yang bersih dan berintegritas.
Peran Strategis Polri dalam Pembangunan Nasional
Dalam amanatnya, Presiden juga memaparkan bagaimana Polri menjadi mitra vital dalam mendukung agenda strategis nasional. Stabilitas keamanan adalah prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan ekonomi, investasi, dan pelaksanaan proyek-proyek vital negara. Beberapa agenda strategis yang membutuhkan dukungan penuh Polri meliputi:
- Pengamanan Ibu Kota Nusantara (IKN): Memastikan kelancaran proses pembangunan dan transisi pemerintahan ke IKN sebagai pusat gravitasi baru.
- Stabilitas Ekonomi Nasional: Menjaga iklim investasi yang kondusif, memberantas kejahatan ekonomi, dan mendukung kebijakan pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
- Ketahanan Pangan: Mendukung upaya pemerintah dalam menjaga pasokan pangan, memberantas kartel, dan mengamankan distribusi.
- Penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada: Menjamin keamanan dan kelancaran setiap tahapan pesta demokrasi sebagai pilar kedaulatan rakyat.
- Penanggulangan Kejahatan Transnasional: Melawan terorisme, narkotika, dan kejahatan siber yang semakin kompleks.
Dukungan Polri terhadap agenda-agenda ini sangat krusial untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Tanpa keamanan yang terjamin, program-program pembangunan akan sulit berjalan optimal, menghambat kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Presiden Prabowo menyadari bahwa tugas Polri tidaklah mudah di tengah perkembangan zaman. Tantangan seperti kejahatan siber yang semakin canggih, radikalisme, hingga isu-isu polarisasi sosial menuntut Polri untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kapasitasnya. Beliau menekankan pentingnya modernisasi peralatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan sinergi dengan berbagai lembaga dan komponen masyarakat.
Presiden berharap agar Polri senantiasa menjadi institusi yang dekat dengan rakyat, responsif terhadap kritik, dan berkomitmen penuh pada penegakan hukum yang berkeadilan. Kepercayaan publik adalah modal utama Polri, dan itu hanya dapat diraih melalui kerja keras, profesionalisme, dan integritas yang tak tergoyahkan. Pada Hari Bhayangkara ke-80 ini, pesan Presiden Prabowo menjadi landasan kuat bagi Polri untuk terus melangkah maju, menjaga kedaulatan negara, dan memastikan keamanan serta kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. (Baca juga: Situs Resmi Sekretariat Kabinet RI untuk informasi pemerintah lainnya).
Pemerintah
Mahkamah Agung AS Longgarkan Aturan Dana Kampanye, Perkuat Kekuatan Uang Besar dalam Politik
WASHINGTON DC – Amerika Serikat menghadapi perubahan signifikan dalam lanskap pendanaan kampanye politik setelah Mahkamah Agung mengeluarkan putusan krusial yang memungkinkan partai politik untuk berkoordinasi lebih leluasa dalam pengeluaran dengan kandidat. Keputusan ini, yang secara luas diyakini menguntungkan Partai Republik (G.O.P.) dalam pemilu paruh waktu mendatang, diprediksi akan semakin memperkuat dominasi ‘uang besar’ dalam politik Amerika, memicu kekhawatiran serius tentang integritas demokrasi dan kesetaraan persaingan politik.
Putusan ini secara efektif melonggarkan batasan lama yang bertujuan mencegah kolusi antara komite partai dan kampanye individu, yang seringkali dianggap sebagai upaya untuk menghindari batas sumbangan langsung. Dengan memungkinkan tingkat koordinasi pengeluaran yang lebih tinggi, partai dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih strategis dan efisien untuk mendukung kandidat pilihan mereka, tanpa harus khawatir melanggar aturan yang sebelumnya lebih ketat. Para kritikus berpendapat bahwa ini adalah langkah mundur yang mengikis upaya puluhan tahun untuk menekan pengaruh uang korporat dan donor kaya dalam proses politik.
Dampak Langsung pada Pendanaan Kampanye dan Pemilu
Implikasi putusan Mahkamah Agung ini sangat luas, terutama menjelang siklus pemilu yang akan datang. Bagi partai politik, ini berarti mereka dapat merancang strategi kampanye yang lebih terpadu, menggabungkan pesan dan sumber daya secara mulus antara struktur partai dan kampanye kandidat. Ini bisa termasuk iklan bersama, survei yang dikoordinasikan, atau bahkan staf yang berbagi informasi secara lebih terbuka.
- Keuntungan bagi Partai Dominan: Partai dengan basis donor yang lebih kuat dan infrastruktur organisasi yang lebih mapan akan cenderung mendapatkan keuntungan terbesar dari putusan ini. Mereka memiliki kapasitas finansial untuk memanfaatkan kelonggaran baru ini secara maksimal.
- Penguatan Pengaruh Partai: Keputusan ini juga bisa memperkuat otoritas partai atas kandidatnya, karena kandidat akan semakin bergantung pada dukungan finansial dan strategis yang terkoordinasi dari partai.
- Peningkatan Total Pengeluaran: Secara keseluruhan, putusan ini diperkirakan akan menyebabkan peningkatan drastis dalam total pengeluaran kampanye di seluruh spektrum politik, dengan uang dari super PACs dan kelompok advokasi lainnya juga berpotensi menemukan jalur baru untuk berkoordinasi secara tidak langsung.
Kekuatan Uang Besar dalam Politik AS Kian Mengakar
Kekhawatiran utama yang muncul dari putusan ini adalah dampaknya terhadap peran “uang besar” dalam politik Amerika. Kelompok advokasi reformasi keuangan kampanye telah lama berargumen bahwa sumbangan korporat dan individu super kaya memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap hasil pemilu dan agenda legislatif. Dengan semakin mudahnya partai dan kandidat mengkoordinasikan pengeluaran, pintu terbuka lebar bagi donor besar untuk secara efektif menggandakan pengaruh mereka melalui saluran yang dulunya lebih terbatas.
Fenomena ini bukan hal baru. Putusan Mahkamah Agung sebelumnya, seperti Citizens United v. Federal Election Commission pada tahun 2010, telah membuka jalan bagi pengeluaran independen tanpa batas oleh korporasi dan serikat pekerja, mengubah secara fundamental lanskap keuangan kampanye. Keputusan saat ini dilihat sebagai perluasan logis atau “babak baru” dari tren tersebut, menghilangkan salah satu dari sedikit batasan yang tersisa antara pengeluaran partai dan kampanye.
Ancaman terhadap Integritas Demokrasi
Para kritikus berpendapat bahwa putusan ini memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap sistem politik. Ketika pemilu didominasi oleh kemampuan untuk mengumpulkan dan membelanjakan jumlah uang yang sangat besar, suara-suara warga negara biasa cenderung terpinggirkan. Hal ini menciptakan persepsi bahwa sistem ini lebih melayani kepentingan segelintir elite kaya daripada kebaikan bersama.
Sejumlah pakar hukum dan aktivis demokrasi menyoroti beberapa potensi dampak negatif:
- Ketidaksetaraan Lapangan Bermain: Kandidat yang tidak memiliki akses ke jaringan donor kaya atau dukungan partai yang kuat akan semakin kesulitan bersaing, terlepas dari kualitas ide atau rekam jejak mereka.
- Peningkatan Korupsi Terselubung: Meskipun putusan ini tidak secara langsung melegalkan korupsi, ia dapat menciptakan lingkungan di mana batas antara sumbangan legal dan pengaruh tidak patut menjadi semakin kabur.
- Erosi Kepercayaan Publik: Ketika publik melihat bahwa uang memiliki peran yang semakin sentral dalam menentukan siapa yang terpilih dan kebijakan apa yang diberlakukan, kepercayaan terhadap institusi demokrasi dapat terkikis lebih jauh.
Meskipun pendukung putusan ini berargumen bahwa hal itu mendukung kebebasan berbicara dan hak untuk berasosiasi, para penentang melihatnya sebagai ancaman serius terhadap prinsip “satu orang, satu suara”. Seiring berjalannya waktu, putusan ini akan terus membentuk dinamika politik Amerika, dengan konsekuensi jangka panjang yang belum sepenuhnya terungkap.
Pemerintah
Kalimantan Timur dan Utara Bersatu Wujudkan Infrastruktur Perbatasan Maju, Pacu Ekonomi Baru
Sinergi Pemerintah Provinsi Kaltim dan Kaltara Pacu Pembangunan Perbatasan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) telah mencapai kesepahaman strategis untuk memperkuat kerja sama dalam percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan kedua provinsi. Inisiatif kolaboratif ini bukan sekadar upaya pembangunan fisik semata, melainkan visi jangka panjang untuk mentransformasi kawasan terluar yang selama ini kerap dianggap sebagai beranda belakang negara, menjadi gerbang depan yang dinamis dan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan.
Kesepakatan ini menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk mengatasi tantangan geografis dan kesenjangan pembangunan yang kerap melanda daerah perbatasan. Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menjadi salah satu motor penggerak di balik inisiatif ini, menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dan berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, tetapi juga menciptakan ekosistem yang kondusif bagi investasi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di perbatasan.
Langkah progresif ini selaras dengan agenda prioritas nasional dalam pemerataan pembangunan dan penguatan kawasan perbatasan, sebuah komitmen yang telah dicanangkan sejak lama. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan posisi strategis di jantung Borneo, wilayah perbatasan Kaltim dan Kaltara memiliki kapasitas besar untuk berkembang menjadi koridor ekonomi vital, terutama dalam mendukung keberlanjutan Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan.
Fokus Pembangunan Infrastruktur Krusial
Fokus utama dari kerja sama ini adalah pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal dan regional. Beberapa prioritas yang akan dikerjakan bersama meliputi:
- Jaringan Jalan dan Jembatan: Peningkatan aksesibilitas dan konektivitas antardesa, antarkecamatan, serta antara wilayah perbatasan dengan pusat-pusat ekonomi di Kaltim dan Kaltara. Ini termasuk pembangunan jalan-jalan strategis yang menghubungkan wilayah pedalaman ke jalur logistik utama.
- Infrastruktur Logistik dan Perdagangan: Pembangunan pos lintas batas negara (PLBN) yang modern, pasar perbatasan, serta fasilitas penyimpanan dan distribusi barang untuk mendorong aktivitas perdagangan lintas negara dengan Malaysia.
- Infrastruktur Digital: Perluasan jangkauan internet dan telekomunikasi di wilayah terpencil untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital masyarakat setempat.
- Fasilitas Energi dan Air Bersih: Penyediaan akses energi listrik yang stabil dan sumber air bersih yang layak untuk mendukung kehidupan sehari-hari dan aktivitas ekonomi.
Pengembangan ini tidak lepas dari urgensi meningkatkan daya saing wilayah. Kawasan perbatasan, yang seringkali menjadi jalur informal bagi pergerakan barang dan jasa, kini akan diperkuat dengan infrastruktur formal yang memadai, sehingga dapat mengoptimalkan potensi perdagangan dan investasi secara legal dan terstruktur. Hal ini diharapkan mampu mengurangi praktik ilegal dan meningkatkan pendapatan asli daerah.
Transformasi Wilayah Terluar Menjadi Pusat Ekonomi Baru
Visi utama di balik penguatan infrastruktur perbatasan ini adalah mentransformasi wilayah tersebut dari sekadar daerah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing. Potensi ekonomi yang ingin dioptimalkan meliputi:
- Perdagangan Lintas Batas: Memfasilitasi ekspor produk-produk lokal dan impor barang-barang esensial secara resmi, sehingga membuka pasar baru bagi UMKM dan petani di perbatasan.
- Agroindustri dan Pertanian: Peningkatan akses jalan akan memudahkan distribusi hasil pertanian dan perkebunan, serta menarik investasi pada sektor pengolahan hasil bumi.
- Pariwisata Perbatasan: Mengembangkan potensi wisata alam dan budaya yang unik di kawasan perbatasan, dengan dukungan infrastruktur transportasi dan akomodasi yang memadai.
- Investasi dan Pengembangan Klaster Industri: Menciptakan zona ekonomi khusus atau klaster industri di area strategis yang didukung oleh konektivitas yang baik, menarik investor nasional maupun internasional.
Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada koordinasi yang efektif antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah tingkat dua, serta dukungan dari pemerintah pusat. Alokasi anggaran yang memadai, perencanaan yang matang, serta pengawasan yang ketat menjadi kunci untuk memastikan setiap proyek berjalan sesuai target dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Sinergi ini merupakan contoh nyata bagaimana pemerintah daerah dapat mengambil peran proaktif dalam mengatasi tantangan pembangunan nasional. Dengan semangat kolaborasi, Kaltim dan Kaltara tidak hanya membangun jalan dan jembatan, tetapi juga membangun harapan dan masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat di wilayah perbatasan. Sebelumnya, upaya pemerintah pusat juga telah gencar mendorong pengembangan wilayah perbatasan sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan. Artikel ini mengulas komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan kawasan perbatasan negara, yang sejalan dengan inisiatif Kaltim dan Kaltara.
Melalui langkah konkret ini, diharapkan wilayah perbatasan Kalimantan tidak lagi hanya menjadi garis pemisah geografis, melainkan jembatan penghubung yang kokoh menuju kesejahteraan dan kemajuan ekonomi regional.
Pemerintah
Mahkamah Agung Tegaskan Hak Kelahiran Warga Negara, Namun Pekerja Imigran Tetap Hadapi Ancaman Sistemik
Mahkamah Agung Tegaskan Hak Kelahiran Warga Negara, Namun Pekerja Imigran Tetap Hadapi Ancaman Sistemik
Penegasan kembali perlindungan hak kelahiran warga negara oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, setelah sebelumnya di bawah ancaman serius dari upaya pemerintah untuk melemahkan prinsip fundamental ini, disambut dengan kelegaan besar. Namun, bagi para aktivis dan organisasi yang berjuang demi hak-hak imigran, keputusan tersebut hanyalah “batas minimum” dari apa yang dibutuhkan. Perlindungan konstitusional ini, meskipun krusial, gagal mengatasi kenyataan pahit yang terus dihadapi oleh jutaan pekerja imigran dan keluarga mereka di seluruh negeri.
Prinsip hak kelahiran warga negara, yang berakar pada Amandemen ke-14 Konstitusi AS, telah menjadi pilar fondasi status kewarganegaraan di Amerika Serikat selama lebih dari satu abad. Ia menyatakan bahwa “Semua orang yang lahir atau dinaturalisasi di Amerika Serikat, dan tunduk pada yurisdiksi di sana, adalah warga negara Amerika Serikat dan negara bagian tempat mereka tinggal.” Upaya untuk menantang atau membatasi hak ini, seperti yang pernah diisyaratkan oleh pemerintahan sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran serius tentang erosi nilai-nilai dasar dan potensi menciptakan kelas warga negara kedua. Mahkamah Agung secara efektif menolak upaya tersebut, mengamankan status bagi anak-anak yang lahir di tanah Amerika Serikat, terlepas dari status imigrasi orang tua mereka.
Perlindungan Konstitusional, Tantangan Nyata di Lapangan
Meski hak kelahiran warga negara telah terjamin, situasi bagi pekerja imigran tetap tegang dan penuh tekanan. “Hak kelahiran warga negara dilindungi hari ini,” ujar seorang juru kampanye, “Tetapi para pekerja yang anak-anaknya bergantung padanya masih menghadapi deportasi, razia tempat kerja, dan administrasi yang telah memperjelas bahwa mereka akan menggunakan setiap alat yang tersedia untuk membuat pekerja imigran takut, terisolasi, dan dilucuti hak-hak mereka.” Pernyataan ini menegaskan jurang pemisah antara perlindungan hukum di tingkat konstitusi dan kenyataan brutal yang dihadapi komunitas imigran sehari-hari. Pemerintah, terlepas dari jaminan hak kelahiran, masih memiliki dan aktif menggunakan berbagai strategi untuk menekan populasi imigran. Beberapa ancaman yang terus membayangi meliputi:
- Intensifikasi Razia Tempat Kerja: Operasi penegakan hukum imigrasi di lokasi kerja seringkali mengakibatkan penangkapan massal, deportasi, dan efek domino yang menghancurkan bagi keluarga serta komunitas.
- Peningkatan Ancaman Deportasi: Kebijakan imigrasi yang agresif terus menargetkan individu, bahkan mereka yang telah lama tinggal dan berkontribusi di AS, menciptakan ketidakpastian dan ketakutan yang mendalam.
- Pembatasan Akses Terhadap Hak-Hak Dasar: Pekerja imigran seringkali enggan untuk melaporkan pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan atau mengakses layanan publik karena takut akan konsekuensi imigrasi.
- Penciptaan Iklim Ketakutan: Retorika anti-imigran dan kebijakan yang menghukum menciptakan lingkungan di mana imigran merasa terisolasi, rentan, dan enggan untuk berinteraksi dengan institusi.
Jeda Sementara dalam Pertarungan Panjang
Putusan Mahkamah Agung bukan akhir dari pertarungan, melainkan sebuah jeda dalam konflik yang lebih besar. Ini adalah kemenangan parsial yang mengamankan satu aspek penting dari hak-hak imigran, tetapi tidak menyelesaikan masalah fundamental terkait status, perlakuan, dan hak asasi mereka. Analisis mendalam menunjukkan bahwa meskipun Mahkamah Agung telah menghalangi upaya langsung terhadap hak kelahiran, pemerintah masih memiliki gudang senjata kebijakan dan praktik administratif yang dapat digunakan untuk menekan komunitas imigran. Ini termasuk penegakan perbatasan yang lebih ketat, penahanan yang diperluas, serta pembatasan akses ke suaka dan manfaat sosial. Untuk memahami lebih lanjut tentang sejarah dan implikasi Amandemen ke-14, Anda bisa membaca artikel dari [American Civil Liberties Union (ACLU) tentang kewarganegaraan](https://www.aclu.org/issues/immigrants-rights/deportation-and-due-process/birthright-citizenship). (*catatan: tautan ini adalah contoh, harap ganti dengan tautan yang relevan dan aktif jika ada*).
Suara Advokasi dan Tuntutan Keadilan
Organisasi advokasi hak-hak imigran telah lama menyuarakan bahwa perlindungan hukum saja tidak cukup tanpa perubahan fundamental dalam kebijakan imigrasi dan perlakuan terhadap imigran. Mereka menuntut reformasi komprehensif yang mencakup jalur menuju kewarganegaraan, perlindungan dari deportasi, kondisi kerja yang adil, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu. Perspektif “bare minimum” ini berfungsi sebagai pengingat bahwa sementara satu pertempuran mungkin telah dimenangkan di pengadilan, perang untuk keadilan sosial dan kesetaraan bagi komunitas imigran masih jauh dari selesai. Tekanan dari akar rumput dan advokasi berkelanjutan menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa hak-hak imigran tidak hanya dilindungi secara de jure, tetapi juga dihormati secara de facto.
Secara keseluruhan, keputusan Mahkamah Agung mengenai hak kelahiran warga negara adalah pengingat penting akan ketahanan prinsip-prinsip konstitusional, tetapi juga peringatan tegas tentang perjuangan berkelanjutan yang dihadapi pekerja imigran di Amerika Serikat. Ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih holistik dan manusiawi terhadap imigrasi, yang tidak hanya melindungi hak-hak dasar tetapi juga mengatasi akar penyebab kerentanan dan ketakutan yang dialami oleh jutaan orang.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
