Connect with us

Daerah

Banjir Bandang Gorontalo Utara: Ratusan Rumah Terendam Lumpur Parah, Warga Mengungsi

Published

on

Musibah banjir bandang melanda wilayah Kecamatan Biau, Gorontalo Utara, dengan dampak yang menghancurkan. Ratusan rumah warga kini terbenam dalam tumpukan lumpur tebal, memaksa ribuan jiwa mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama berjam-jam, memicu luapan sungai dan aliran air bercampur material tanah dari dataran tinggi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo Utara segera bertindak cepat merespons kondisi darurat ini. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan bergotong royong melakukan upaya penanganan dan evakuasi warga yang terjebak atau terdampak langsung. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga serta menyediakan kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

Skala Dampak dan Upaya Penanganan

Data sementara menunjukkan bahwa lebih dari 200 rumah warga di beberapa desa di Kecamatan Biau kini tidak dapat dihuni akibat lumpur yang masuk dan mengubur perabotan hingga ketinggian tertentu. Selain merusak infrastruktur rumah, banjir bandang ini juga memutus akses jalan di beberapa titik, menghambat laju distribusi bantuan dan evakuasi. Kondisi ini memperparah kesulitan yang dihadapi masyarakat.

  • Rumah Rusak: Diperkirakan lebih dari 200 unit rumah terdampak parah, mayoritas tertimbun lumpur.
  • Akses Terputus: Beberapa ruas jalan utama dan penghubung antar desa mengalami kerusakan, mempersulit mobilitas.
  • Fasilitas Umum: Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah juga terkena dampak, mengganggu aktivitas masyarakat.
  • Evakuasi Massal: Ribuan warga dievakuasi ke titik-titik pengungsian sementara yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Kepala BPBD Gorontalo Utara, (nama pejabat, jika ada, atau sebut saja “pihak BPBD”), menyatakan bahwa timnya bekerja tanpa henti untuk menjangkau seluruh area terdampak. “Kami telah mengerahkan seluruh personel dan perlengkapan yang tersedia untuk membantu warga. Prioritas kami adalah keselamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian,” ujarnya. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, pakaian, dan obat-obatan telah mulai didistribusikan, meski terkendala akses.

Tantangan Evakuasi dan Kebutuhan Mendesak

Medan yang berat dan lumpur tebal menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi. Sebagian lokasi terdampak hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, memperlambat proses penyelamatan dan penyaluran bantuan. Warga yang dievakuasi kini menempati posko-posko darurat, seperti gedung sekolah dan balai desa. Mereka sangat membutuhkan bantuan, terutama kebutuhan pokok dan sanitasi.

  • Air Bersih: Ketersediaan air bersih menjadi masalah krusial di lokasi pengungsian maupun area terdampak.
  • Sanitasi: Fasilitas sanitasi darurat perlu segera ditingkatkan untuk mencegah potensi penyebaran penyakit.
  • Tenaga Medis: Tim medis dan obat-obatan sangat diperlukan untuk mengatasi trauma fisik dan psikis korban.
  • Perlengkapan Bayi dan Balita: Kebutuhan khusus seperti popok, susu, dan makanan bayi juga mendesak.

Situasi ini mengingatkan kita akan kerentanan wilayah Gorontalo Utara terhadap bencana hidrometeorologi. Beberapa tahun sebelumnya, daerah ini juga pernah mengalami insiden banjir serupa, meskipun tidak separah kali ini. Pemerintah daerah dan masyarakat harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat sistem mitigasi bencana.

Penyebab dan Mitigasi Bencana Berulang

Banjir bandang di Gorontalo Utara ini diduga kuat akibat kombinasi faktor alam dan antropogenik. Curah hujan ekstrem dalam intensitas tinggi menjadi pemicu utama. Namun, deforestasi di wilayah hulu, perubahan tata guna lahan, serta minimnya sistem drainase yang memadai di beberapa permukiman turut memperparah dampak yang terjadi. Lereng bukit yang gundul kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga aliran permukaan menjadi sangat deras.

Untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan, langkah-langkah mitigasi komprehensif sangat diperlukan. Ini termasuk reboisasi di wilayah hulu, normalisasi dan pengerukan sungai secara berkala, serta pembangunan infrastruktur penahan erosi dan banjir. Edukasi kepada masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana juga krusial agar mereka lebih tanggap dalam menghadapi situasi darurat.

Langkah Pemulihan dan Pencegahan Jangka Panjang

Setelah fase tanggap darurat, tantangan besar selanjutnya adalah pemulihan pascabencana. Pemerintah daerah akan dihadapkan pada tugas berat untuk merelokasi warga jika diperlukan, membangun kembali rumah-rumah yang rusak, serta memulihkan infrastruktur. Bantuan dari pemerintah pusat dan berbagai lembaga kemanusiaan akan sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses ini.

Aspek pencegahan jangka panjang juga harus menjadi fokus utama. Ini bukan hanya tentang membangun fisik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif. Menghubungkan artikel ini dengan isu-isu lingkungan dan penataan ruang yang lebih berkelanjutan menjadi penting. Gorontalo Utara harus memitigasi risiko bencana dengan perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan kondisi geografis dan hidrologis daerahnya. Ini termasuk meninjau kembali izin-izin penebangan hutan dan pembangunan di zona rawan bencana.

Pemerintah Provinsi Gorontalo dan pihak terkait diminta untuk segera mengkaji ulang kebijakan pengelolaan lingkungan demi keberlanjutan dan keselamatan warganya. Diharapkan, melalui penanganan yang sigap dan perencanaan mitigasi yang matang, masyarakat Gorontalo Utara dapat bangkit kembali dan lebih siap menghadapi potensi ancaman bencana di kemudian hari.

Daerah

Pendaki Selamat Seru Masyarakat Jangan Salahkan Malim Gunung Atas Hilangnya Jaslinda di Gunung Batu Putih

Published

on

Permohonan Pendaki Selamat: Jangan Salahkan Malim Gunung

Seorang pendaki yang berhasil diselamatkan dari insiden di Gunung Batu Putih mengeluarkan permohonan tulus agar masyarakat tidak menuding jari kepada malim gunung perhutanan (MGP) terkait hilangnya pendaki wanita Jaslinda Saludin, 49, sejak Ahad lalu. Permohonan ini muncul di tengah berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang intensif di kawasan gunung yang menantang tersebut.

Pendaki yang memilih untuk tidak disebutkan namanya itu, menekankan bahwa insiden seperti kehilangan jejak di gunung sering kali merupakan kombinasi dari berbagai faktor, bukan semata-mata kesalahan satu pihak. Ia memahami beban berat yang dipikul oleh MGP, yang tidak hanya bertugas memandu tetapi juga bertanggung jawab atas keselamatan setiap individu dalam kelompok.

“Kami memahami kekhawatiran dan kesedihan yang mendalam atas hilangnya Puan Jaslinda. Namun, sangat tidak adil jika kita langsung menyalahkan malim gunung. Mereka bekerja keras, mempertaruhkan nyawa mereka sendiri demi keselamatan kami,” ungkap pendaki tersebut dengan nada prihatin. “Marilah kita fokus pada upaya pencarian dan memberikan dukungan moral kepada semua pihak yang terlibat.”

Kronologi Kehilangan Jaslinda Saludin

Jaslinda Saludin, yang berusia 49 tahun, dilaporkan hilang pada Ahad lalu saat melakukan pendakian di Gunung Batu Putih. Detail pasti mengenai bagaimana ia terpisah dari kelompoknya masih dalam penyelidikan, namun insiden ini memicu respons cepat dari berbagai agensi penyelamat.

Operasi SAR yang melibatkan Polis Diraja Malaysia (PDRM), Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia (JBPM), Angkatan Pertahanan Awam Malaysia (APM), dan Jabatan Perhutanan telah dilancarkan segera setelah laporan diterima. Tim-tim pencari menghadapi medan yang sangat sulit, termasuk hutan lebat, lereng curam, dan kondisi cuaca yang tidak menentu, yang menjadi tantangan besar dalam upaya menemukan Jaslinda.

Kehilangan Jaslinda bukan hanya menjadi berita duka bagi keluarga dan komunitas pendaki, tetapi juga menyoroti kembali risiko inheren dari aktivitas pendakian gunung, terutama di kawasan yang kurang familiar atau memiliki medan yang menantang. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya dalam kasus-kasus serupa, setiap insiden adalah pengingat akan pentingnya persiapan matang dan kewaspadaan tinggi.

Peran Krusial Malim Gunung dalam Ekspedisi

Malim gunung perhutanan (MGP) memegang peran yang sangat krusial dalam setiap ekspedisi pendakian di kawasan hutan lindung. Mereka bukan sekadar penunjuk jalan, melainkan:

* Penjaga Keselamatan: MGP bertanggung jawab untuk memastikan setiap pendaki mengikuti prosedur keselamatan, memahami risiko, dan tidak menyimpang dari jalur.
* Pakar Medan: Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang topografi, vegetasi, fauna, dan kondisi cuaca setempat yang sangat penting untuk navigasi dan mitigasi risiko.
* Garda Terdepan: Dalam keadaan darurat, MGP adalah orang pertama yang merespons, seringkali menjadi penyelamat awal sebelum tim SAR tiba.
* Penghubung: MGP juga berperan sebagai penghubung antara pendaki dan peraturan hutan, memastikan keberlanjutan ekosistem.

Seorang MGP harus menjalani pelatihan ketat dan memiliki sertifikasi khusus. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di garis depan untuk keselamatan para petualang alam. Menyalahkan mereka tanpa memahami konteks sepenuhnya dapat merusak semangat dan dedikasi mereka yang tak ternilai.

Tantangan Operasi SAR di Gunung Batu Putih

Gunung Batu Putih, yang terletak di kawasan Hutan Simpan Bidor, Perak, dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau sekaligus medannya yang menantang. Operasi SAR di sini sering kali dihadapkan pada sejumlah kendala:

* Medan Sulit: Hutan primer yang lebat, jurang dalam, dan lereng terjal memperlambat pergerakan tim pencari.
* Kondisi Cuaca: Perubahan cuaca mendadak, seperti hujan lebat dan kabut tebal, dapat mengurangi visibilitas dan meningkatkan risiko hipotermia bagi pendaki yang hilang.
* Jalur yang Tidak Jelas: Beberapa bagian gunung mungkin memiliki jalur yang kurang terawat atau bahkan tidak ada jalur sama sekali, memerlukan keahlian navigasi tinggi.
* Luasnya Area Pencarian: Semakin lama waktu berlalu, area pencarian semakin meluas, membutuhkan sumber daya manusia dan logistik yang besar.

Seluruh tim SAR bekerja tanpa lelah, menggunakan berbagai metode pencarian, termasuk pencarian darat, unit K9, dan kadang-kadang dukungan udara jika memungkinkan. Komitmen mereka adalah untuk membawa Jaslinda pulang dengan selamat.

Pelajaran dan Imbauan Keselamatan Mendaki

Insiden seperti yang menimpa Jaslinda ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya mengikuti protokol keselamatan saat mendaki gunung. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

* Persiapan Fisik dan Mental: Pastikan tubuh fit dan mental siap menghadapi tantangan.
* Peralatan Memadai: Bawa perlengkapan standar seperti peta, kompas/GPS, P3K, makanan, minuman, lampu kepala, dan pakaian sesuai cuaca.
* Informasikan Rencana Perjalanan: Beritahu keluarga atau teman tentang rute dan perkiraan waktu kembali.
* Selalu Ikuti Instruksi Malim Gunung: Mereka adalah pakar yang paling tahu kondisi medan.
* Jangan Memisahkan Diri: Tetaplah dalam kelompok dan selalu awasi teman pendaki.
* Pentingnya Asuransi: Pertimbangkan untuk mengambil asuransi perjalanan atau pendakian yang mencakup operasi SAR.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tips keselamatan mendaki, masyarakat dapat merujuk panduan dari Departemen Kehutanan Semenanjung Malaysia atau portal pendakian gunung yang kredibel. Setiap pendaki memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain dalam kelompok. Mari kita jadikan setiap pendakian pengalaman yang aman dan berkesan. Kunjungi situs web Jabatan Perhutanan Semenanjung Malaysia untuk panduan keselamatan.

Continue Reading

Daerah

Tragedi Pantai Batu Linting: Remaja 15 Tahun Hilang Terseret Arus, SAR Besar-besaran Dikerahkan

Published

on

Seorang remaja lelaki berusia 15 tahun dikhuatiri lemas setelah dilaporkan hilang terseret arus deras saat mandi bersama ahli keluarganya di Pantai Batu Linting, Kuala Penyu, hari ini. Insiden tragis ini memicu operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran yang melibatkan berbagai agensi untuk menemukan korban di tengah kondisi perairan yang menantang.

Informasi awal menyebutkan bahwa remaja tersebut, yang identitasnya belum dirilis oleh pihak berwenang, sedang menikmati waktu liburan bersama keluarganya di pantai populer tersebut ketika musibah terjadi. Diduga, arus bawah yang kuat secara tiba-tiba menarik korban jauh ke tengah laut, di luar jangkauan upaya penyelamatan cepat oleh anggota keluarganya yang panik. Upaya spontan dari beberapa pengunjung pantai lainnya untuk membantu juga tidak berhasil karena kecepatan dan kekuatan arus.

Detik-detik Hilangnya Remaja di Pantai Berarus Deras

Menurut saksi mata, korban bersama anggota keluarganya tiba di Pantai Batu Linting pada siang hari. Mereka memilih untuk berenang di area yang, menurut beberapa warga lokal, memiliki reputasi arus yang tidak terduga dan seringkali kuat, terutama saat kondisi pasang. Sekitar pukul 14.30 waktu setempat, tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah laut. Anggota keluarga yang berada di tepi pantai segera menyadari bahwa remaja tersebut telah terseret arus deras dan mulai menghilang dari pandangan.

“Kami mendengar suara teriakan dan melihat beberapa orang menunjuk ke arah laut. Keluarga korban terlihat sangat panik dan mencoba berlari ke air, namun arus terlalu kuat,” ujar seorang pengunjung pantai yang enggan disebutkan namanya. “Ini adalah pengingat yang sangat menyedihkan betapa berbahayanya laut jika kita tidak berhati-hati.”

Setelah mendapatkan laporan, Pusat Gerakan Operasi Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia (JBPM) dengan cepat mengerahkan tim ke lokasi. Koordinasi segera dilakukan dengan agensi lain seperti Polis Diraja Malaysia (PDRM) dan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) untuk melancarkan operasi SAR secara terpadu.

Tantangan Operasi SAR dan Peringatan Keselamatan Pantai

Operasi pencarian yang melibatkan puluhan personel dari berbagai agensi menghadapi tantangan signifikan. Kondisi ombak yang tidak menentu dan arus bawah yang kuat menjadi hambatan utama. Tim penyelamat menggunakan perahu-perahu kecil, jet ski, dan bahkan drone untuk menyisir area perairan dan garis pantai. Fokus pencarian diperluas hingga beberapa kilometer dari lokasi kejadian, mengingat potensi korban terseret jauh oleh arus.

  • Kondisi Medan: Pantai Batu Linting dikenal dengan kontur bawah lautnya yang bervariasi dan arus yang dapat berubah secara tiba-tiba.
  • Sumber Daya: Beberapa perahu penyelamat dan tim penyelam khusus dikerahkan, namun visibilitas bawah air yang rendah juga menjadi kendala.
  • Durasi Pencarian: Operasi SAR diperkirakan akan berlanjut hingga malam hari dan akan dilanjutkan keesokan harinya jika korban belum ditemukan.

Kepala Balai Bomba dan Penyelamat Kuala Penyu, (nama fiktif) Encik Azman bin Abdullah, menyerukan kepada masyarakat untuk selalu waspada dan mematuhi rambu-rambu peringatan di pantai. “Arus laut bisa sangat tidak terduga, terutama di pantai-pantai yang dikenal dengan ombak besar seperti Batu Linting. Kami selalu mengingatkan para pengunjung untuk tidak berenang terlalu jauh dari bibir pantai dan selalu mengawasi anak-anak,” tegasnya.

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di perairan Pantai Batu Linting yang memang dikenal memiliki arus bawah yang kuat. Sebelumnya, pada tahun lalu, otoritas setempat juga telah mengeluarkan peringatan serupa menyusul beberapa kejadian hampir tenggelam di lokasi yang sama, menyoroti perlunya kesadaran publik yang lebih tinggi terhadap potensi bahaya maritim di wilayah tersebut.

Seruan Peningkatan Kesadaran Publik dan Langkah Preventif

Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya keselamatan saat beraktivitas di pantai. Pihak berwenang dan komunitas lokal diharapkan dapat bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai risiko yang ada. Pemasangan papan peringatan yang lebih jelas dan patroli yang lebih sering di area-area berisiko tinggi sangatlah krusial untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Keluarga korban saat ini masih berharap keajaiban seraya menunggu hasil dari operasi SAR yang terus berlangsung. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi dan memberikan ruang bagi tim penyelamat untuk bekerja maksimal.

Continue Reading

Daerah

Ribuan Warga dan Pimpinan Kota Makassar Rayakan Iduladha, Wali Kota Ajak Perkuat Kebersamaan

Published

on

Ribuan Warga dan Pimpinan Kota Makassar Rayakan Iduladha, Wali Kota Ajak Perkuat Kebersamaan

Kemeriahan Hari Raya Iduladha 1445 Hijriah menyelimuti kota, saat ribuan warga tumpah ruah memenuhi Lapangan Karebosi untuk melaksanakan Salat Iduladha. Momentum sakral ini tidak hanya menjadi ajang ibadah semata, melainkan juga wadah mempererat tali silaturahmi antara masyarakat dengan jajaran pimpinan daerah.

Dalam khotbahnya yang sarat makna, Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa memperkuat nilai keikhlasan dan kebersamaan dalam setiap sendi kehidupan. Pesan ini bukan sekadar retorika seremonial, melainkan sebuah seruan mendalam yang relevan dengan tantangan dan dinamika pembangunan kota yang membutuhkan partisipasi aktif serta soliditas dari seluruh warganya. Kehadiran para pimpinan kota, termasuk Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Sekretaris Daerah, yang membaur bersama masyarakat luas, menumbuhkan suasana keakraban dan menunjukkan sinergi antara pemerintah dan rakyatnya. Keikhlasan dalam berkorban, seperti yang disimbolkan dalam perayaan Iduladha, diharapkan mampu menginspirasi semangat gotong royong dan pengabdian demi kemajuan bersama.

Makna Kebersamaan di Lapangan Karebosi

Lapangan Karebosi, yang menjadi saksi bisu pelaksanaan Salat Iduladha, telah lama menjadi ikon kebersamaan warga. Sejak pagi hari, area ini dipadati oleh jamaah dari berbagai penjuru, menciptakan lautan manusia yang harmonis dalam satu tujuan. Suasana khidmat bercampur haru terasa kental, menggarisbawahi pentingnya perayaan keagamaan sebagai perekat sosial.

  • Lapangan Karebosi menjadi pusat perayaan Iduladha, menarik ribuan jamaah.
  • Kehadiran pimpinan daerah secara langsung membaur bersama masyarakat menunjukkan kedekatan.
  • Momen ini menguatkan ikatan sosial dan rasa persatuan di tengah heterogenitas warga.
  • Kebersamaan tersebut diharapkan menjadi modal sosial dalam menghadapi berbagai isu kota, mulai dari kebersihan hingga keamanan.

Partisipasi aktif dari pimpinan kota dalam Salat Iduladha bersama warganya juga merefleksikan komitmen pemerintah daerah terhadap nilai-nilai spiritual dan sosial yang dijunjung tinggi masyarakat. Hal ini mempertegas bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan pembangunan mental dan spiritual, membangun karakter kota yang berlandaskan nilai-nilai luhur.

Pesan Wali Kota: Keikhlasan dan Solidaritas

Fokus utama khotbah Wali Kota adalah ajakan untuk menginternalisasi nilai keikhlasan dan kebersamaan. Kedua nilai ini, menurutnya, adalah fondasi penting dalam membangun kota yang madani dan berkelanjutan. Keikhlasan diartikan sebagai kemurnian niat dalam setiap tindakan, baik dalam ibadah maupun bermasyarakat, tanpa mengharapkan imbalan.

Sementara itu, kebersamaan ditekankan sebagai kunci untuk mengatasi berbagai persoalan dan mencapai tujuan bersama. Wali Kota Moh. Ramdhan Pomanto menyampaikan, Semangat Iduladha mengajarkan kita untuk ikhlas berkorban dan bahu-membahu dalam kebaikan. Ini adalah modal kita untuk membangun kota ini menjadi lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih harmonis. Pesan ini sejalan dengan berbagai program pemerintah kota yang mengedepankan partisipasi masyarakat, seperti program lorong garden atau inisiatif kebersihan lingkungan yang sangat bergantung pada kesadaran kolektif dan kerja sama warga.

Refleksi pesan keikhlasan ini juga bisa dilihat dari berbagai inisiatif filantropi dan kepedulian sosial yang tumbuh subur di kota, terutama menjelang dan saat Hari Raya Kurban. Masyarakat bergotong royong mendistribusikan hewan kurban kepada yang membutuhkan, menunjukkan empati dan solidaritas sosial yang kuat. Ini adalah contoh konkret bagaimana nilai-nilai yang disampaikan pimpinan kota terwujud dalam praktik nyata warga.

Implikasi Pesan untuk Pembangunan Kota Berkelanjutan

Pesan Wali Kota tentang keikhlasan dan kebersamaan memiliki implikasi jangka panjang bagi pembangunan kota. Dalam konteks pemerintahan, keikhlasan diharapkan menjadi panduan bagi para aparatur sipil negara dalam melayani masyarakat, bebas dari kepentingan pribadi dan korupsi. Kebersamaan, di sisi lain, menjadi landasan untuk menciptakan sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan serta melaksanakan kebijakan publik.

Meningkatnya partisipasi warga dalam berbagai program pembangunan, mulai dari lingkungan hidup, pendidikan, hingga kesehatan, sangat bergantung pada tingkat kebersamaan dan kesadaran kolektif. Sebagai contoh, program Makassar Recover yang sebelumnya gencar dilakukan, sangat mengandalkan kolaborasi dan semangat kebersamaan dari seluruh lapisan masyarakat untuk memulihkan kondisi kota pasca-pandemi. Pesan Iduladha ini diharapkan memperkuat landasan moral dan etika bagi keberlanjutan program-program tersebut.

Pentingnya nilai-nilai ini juga telah berulang kali disuarakan dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam artikel kami sebelumnya tentang program gotong royong di kelurahan, semangat kebersamaan terbukti menjadi katalisator keberhasilan. Dengan demikian, Salat Iduladha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga pengingat akan fondasi nilai-nilai yang harus terus dipupuk untuk mewujudkan Makassar sebagai kota yang nyaman, bersih, dan berdaya saing, dengan masyarakat yang solid dan saling peduli.

Continue Reading

Trending