Pemerintah
Menteri Keuangan Thailand: Dekret Pinjaman Darurat 400 Miliar Baht Harus Disahkan
BANGKOK – Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas, dengan tegas menyatakan dekret pinjaman darurat senilai 400 miliar baht (sekitar 11 miliar dolar AS) harus segera disahkan. Insistensi ini muncul di tengah krisis biaya hidup yang semakin parah di seluruh negeri, meskipun pemerintah menghadapi rintangan signifikan berupa penundaan parlemen dan tantangan hukum yang diajukan oleh berbagai pihak. Penegasan Menteri Ekniti menggarisbawahi urgensi tindakan cepat untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas terhadap rakyat Thailand.
Pemerintah berargumen bahwa dana pinjaman darurat ini sangat penting untuk memberikan bantuan finansial langsung, memacu stimulus ekonomi, dan mendukung sektor-sektor yang paling terdampak oleh inflasi dan perlambatan ekonomi global. Dekret ini dirancang sebagai respons cepat terhadap kondisi ekonomi yang memburuk, di mana kenaikan harga pangan dan energi telah membebani rumah tangga dan bisnis kecil secara signifikan. Inisiatif ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan bagi pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang masih rapuh.
Urgensi dan Dampak Krisis Biaya Hidup
Krisis biaya hidup yang dimaksud oleh Menteri Keuangan bukanlah fenomena baru, namun dampaknya semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif listrik, dan komoditas pangan pokok telah mengikis daya beli masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah dan menengah. Situasi ini diperparah oleh dampak berkelanjutan dari pandemi COVID-19 yang masih meninggalkan luka pada sektor pariwisata dan ekspor, dua pilar utama perekonomian Thailand. Tanpa intervensi cepat, pemerintah khawatir bahwa jutaan warga akan terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem atau mengalami kesulitan ekonomi yang parah.
- Inflasi yang terus menanjak, melampaui target yang ditetapkan bank sentral, menekan anggaran rumah tangga.
- Penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga pangan dan energi, menyebabkan banyak keluarga memangkas pengeluaran esensial.
- Tekanan pada bisnis kecil dan menengah yang kesulitan menanggung biaya operasional lebih tinggi, mengakibatkan penutupan usaha dan PHK.
- Peningkatan angka kemiskinan dan kesenjangan sosial di daerah perkotaan maupun pedesaan, menciptakan ketidakstabilan sosial.
Ekniti Nitithanprapas menekankan bahwa pemerintah tidak bisa berdiam diri melihat penderitaan rakyat. Ia menegaskan bahwa setiap penundaan dalam pengesahan dekret ini berpotensi memperburuk situasi, menyebabkan kerugian yang lebih besar dan pemulihan ekonomi yang lebih lambat. Oleh karena itu, percepatan proses legislasi dianggap krusial untuk segera menyalurkan bantuan dan memulai program-program yang telah direncanakan, termasuk skema subsidi dan bantuan tunai langsung.
Pertarungan Hukum dan Hambatan Parlemen
Meskipun urgensi dekret ini telah disampaikan secara gamblang, perjalanannya di parlemen tidak mulus. Dekret pinjaman darurat ini menghadapi sejumlah tantangan hukum dan keberatan dari pihak oposisi. Kritik utama sering kali berpusat pada pertanyaan mengenai legitimasi penggunaan dekret darurat untuk masalah ekonomi yang dapat ditangani melalui proses legislatif normal, serta kekhawatiran tentang transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana. Beberapa pengamat hukum juga mempertanyakan apakah pemerintah telah sepenuhnya mengeksplorasi opsi fiskal lain sebelum beralih ke pinjaman darurat.
Beberapa poin utama yang menjadi sorotan dalam tantangan hukum dan perdebatan parlemen meliputi:
- Konstitusionalitas: Pihak penentang mempertanyakan apakah kondisi saat ini benar-benar memenuhi kriteria “darurat” yang membenarkan penggunaan dekret, yang memungkinkan pemerintah meminjam tanpa persetujuan parlemen sebelumnya. Mereka berpendapat bahwa krisis ekonomi, meskipun serius, tidak serta merta memenuhi ambang batas darurat konstitusional.
- Akuntabilitas Dana: Terdapat kekhawatiran tentang bagaimana dana sebesar 400 miliar baht akan dialokasikan dan diawasi untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan atau inefisiensi. Sejarah menunjukkan bahwa dana darurat kadang kala kurang transparan dalam pelaporannya.
- Beban Utang: Oposisi juga menyoroti potensi peningkatan beban utang negara dalam jangka panjang, terutama jika dana tidak digunakan secara efektif untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Mereka khawatir generasi mendatang akan menanggung konsekuensi dari keputusan ini.
- Proses Demokratis: Beberapa pihak merasa bahwa penggunaan dekret dapat mereduksi peran parlemen dalam proses penganggaran dan pengawasan keuangan negara, melemahkan checks and balances demokrasi.
Menteri Keuangan dan pendukung dekret ini berpendapat bahwa situasinya memang darurat, di mana proses legislatif yang panjang akan menghambat respons yang efektif. Mereka meyakini bahwa langkah ini adalah satu-satunya cara untuk mengatasi krisis sebelum dampaknya menjadi tidak terkendali. Pemerintah telah berjanji untuk memastikan transparansi dan pengawasan ketat terhadap penggunaan dana tersebut, seraya mencari dukungan lintas partai untuk pengesahannya.
Refleksi Ekonomi dan Proyeksi ke Depan
Dekret pinjaman darurat ini bukan hanya sekadar respons terhadap krisis sesaat, tetapi juga mencerminkan strategi pemerintah untuk menstabilkan dan merevitalisasi perekonomian Thailand. Dalam konteks ekonomi global yang tidak menentu, dengan ancaman resesi di beberapa negara maju dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, Thailand memerlukan fondasi yang kuat untuk menghadapi gejolak eksternal. Keputusan ini juga akan berdampak pada persepsi investor terhadap stabilitas dan kemampuan fiskal negara.
Jika dekret ini berhasil disahkan dan diimplementasikan, pemerintah berharap dapat melihat beberapa dampak positif:
- Peningkatan daya beli masyarakat melalui bantuan langsung dan subsidi, yang akan merangsang konsumsi domestik.
- Stimulus pertumbuhan ekonomi melalui proyek-proyek infrastruktur atau investasi strategis, menciptakan lapangan kerja baru.
- Penurunan tekanan inflasi melalui stabilisasi pasokan atau kontrol harga di sektor-sektor kunci, menekan biaya hidup.
- Kepercayaan investor yang kembali pulih melihat pemerintah mampu bertindak tegas dalam mengatasi tantangan ekonomi, menarik modal asing.
Namun, tantangan tetap besar. Keberhasilan implementasi akan sangat bergantung pada efisiensi birokrasi, kemampuan pemerintah untuk menjamin akuntabilitas, dan juga penerimaan dari masyarakat serta investor. Perdebatan seputar dekret ini merupakan bagian dari narasi yang lebih besar tentang bagaimana Thailand menyeimbangkan kebutuhan akan tindakan cepat dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik dan partisipasi demokratis. Hasil akhir dari pertarungan legislatif ini akan sangat krusial bagi masa depan ekonomi Thailand.
Tegangan antara kebutuhan mendesak untuk bertindak dan keharusan untuk mematuhi prosedur hukum serta prinsip akuntabilitas terus menjadi sorotan. Masa depan dekret 400 miliar baht ini akan menjadi indikator penting tentang arah kebijakan ekonomi Thailand dan kemampuan pemerintah menghadapi krisis kompleks di tengah polarisasi politik.
Baca juga: Analisis Tantangan Ekonomi Thailand di Bangkok Post
Pemerintah
DPRD Paser dan BPJS Ketenagakerjaan Sinergi Kuatkan Jaminan Sosial Pekerja
DPRD Paser dan BPJS Ketenagakerjaan Dorong Perluasan Jaminan Sosial Pekerja
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Paser bersama BPJS Ketenagakerjaan setempat menggelar rapat koordinasi penting untuk membahas upaya memperkuat perlindungan jaminan sosial bagi pekerja. Inisiatif ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dan lembaga terkait dalam memastikan kesejahteraan para pekerja dari berbagai sektor, sekaligus mitigasi risiko sosial ekonomi yang mungkin mereka hadapi.
Rapat strategis ini fokus pada perluasan cakupan jaminan sosial, terutama bagi segmen pekerja yang rentan seperti pekerja informal, UMKM, petani, nelayan, dan pekerja sektor non-upah lainnya yang kerap luput dari perlindungan memadai. Kolaborasi ini diharapkan mampu merumuskan langkah-langkah konkret dan efektif untuk menjangkau lebih banyak pekerja di seluruh wilayah Kabupaten Paser.
Mengapa Perlindungan Jaminan Sosial Pekerja Sangat Penting?
Perlindungan jaminan sosial bukan sekadar fasilitas, melainkan hak dasar setiap pekerja. Di Kabupaten Paser, dengan dinamika ekonomi yang beragam mulai dari sektor pertanian, pertambangan, hingga UMKM, kerentanan pekerja terhadap risiko kecelakaan kerja, kematian, atau hari tua menjadi perhatian serius. Tanpa jaminan sosial, keluarga pekerja dapat terjerat dalam kesulitan ekonomi yang berkepanjangan jika terjadi hal-hal tak terduga.
BPJS Ketenagakerjaan hadir sebagai payung perlindungan yang menyediakan empat program utama: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JP). Peran serta pemerintah daerah, melalui DPRD, menjadi krusial dalam mendukung sosialisasi, regulasi, dan fasilitasi agar program-program ini dapat diakses secara luas oleh masyarakat pekerja di Paser.
Strategi Kolaborasi DPRD dan BPJS Ketenagakerjaan
Dalam rapat yang dipimpin oleh perwakilan Komisi terkait di DPRD Paser, dibahas beberapa poin kunci untuk memperkuat perlindungan pekerja:
- Sosialisasi Massif: Mengintensifkan kampanye dan edukasi tentang manfaat serta prosedur pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, khususnya di daerah-daerah terpencil dan komunitas pekerja informal.
- Pendataan Akurat: Membangun sistem pendataan pekerja yang lebih komprehensif, bekerjasama dengan perangkat desa/kelurahan dan organisasi masyarakat, untuk mengidentifikasi potensi peserta.
- Dukungan Regulasi Daerah: Mendorong lahirnya peraturan daerah (Perda) atau kebijakan yang mendukung perluasan cakupan jaminan sosial, misalnya melalui insentif bagi UMKM atau subsidi iuran bagi pekerja rentan.
- Sinergi Anggaran: Menjajaki kemungkinan alokasi anggaran daerah untuk program-program terkait jaminan sosial, terutama dalam skema perlindungan pekerja rentan yang iurannya dapat dibantu oleh APBD.
- Pengawasan dan Penegakan: Memastikan kepatuhan perusahaan dalam mendaftarkan pekerjanya serta mengawasi implementasi program di lapangan.
Wakil dari BPJS Ketenagakerjaan Paser mengungkapkan bahwa dukungan legislatif dari DPRD sangat vital dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perlindungan pekerja. “Kami sangat mengapresiasi inisiatif DPRD Paser ini. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk mencapai target cakupan perlindungan yang lebih luas,” ujarnya.
Dampak Positif Bagi Pembangunan Daerah
Perluasan perlindungan jaminan sosial tidak hanya berdampak pada individu pekerja, tetapi juga secara makro terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pekerja yang merasa aman dan terlindungi cenderung lebih produktif. Selain itu, dengan adanya jaminan sosial, beban sosial pemerintah daerah dalam menangani kasus-kasus kecelakaan kerja atau kemiskinan akibat risiko kerja dapat berkurang.
DPRD Paser menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti hasil rapat ini melalui berbagai fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. “Kami akan memastikan bahwa setiap kebijakan yang kami lahirkan mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat pekerja di Paser,” kata salah satu anggota dewan yang hadir.
Inisiatif ini menjadi contoh baik bagaimana pemerintah daerah dapat aktif berperan dalam mendukung program nasional demi kesejahteraan warganya. Harapan besar tertumpu pada sinergi ini agar perlindungan jaminan sosial dapat menjadi hak yang dinikmati oleh semua pekerja di Kabupaten Paser. Pembahasan lebih lanjut akan melibatkan berbagai pihak terkait untuk merumuskan draf kebijakan yang komprehensif.
Artikel terkait: Mengulas Tantangan Perlindungan Pekerja Informal di Indonesia
Pemerintah
Survei Poltracking: Kepercayaan Publik Tinggi untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran, Tantangan Besar Menanti
Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil penelitian terbaru yang menyoroti tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang akan datang. Survei ini menunjukkan angka optimistis dengan 63,2% masyarakat menyatakan kepercayaan pada administrasi yang akan segera memimpin Indonesia tersebut. Angka ini mencerminkan harapan besar dari publik akan perbaikan kinerja pemerintah di berbagai sektor.
Hasil survei ini muncul pada periode transisi krusial, di mana kabinet yang baru masih dalam tahap pembentukan dan pelantikan belum dilakukan. Oleh karena itu, angka 63,2% ini lebih tepat diinterpretasikan sebagai ekspektasi dan kepercayaan awal yang diberikan masyarakat, alih-alih penilaian terhadap kinerja yang sudah berjalan. Tingginya angka kepercayaan ini merupakan modal politik yang signifikan bagi Prabowo-Gibran untuk memulai program-program mereka, namun sekaligus juga menjadi tekanan berat untuk memenuhi janji kampanye dan harapan rakyat.
Optimisme di Tengah Transisi Kekuasaan
Data Poltracking mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memandang positif prospek pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran. Angka 63,2% adalah sebuah mandat kuat yang diterima oleh pasangan terpilih, menunjukkan bahwa basis dukungan mereka melampaui angka perolehan suara pada Pemilihan Presiden. Ini bisa diartikan sebagai fenomena "efek bulan madu" awal atau keinginan kolektif masyarakat untuk melihat stabilitas dan kemajuan setelah periode politik yang intens. Masyarakat terlihat menaruh harapan pada:
- Kemampuan kepemimpinan baru dalam menstabilkan ekonomi.
- Peningkatan kualitas layanan publik.
- Penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
- Pemberantasan korupsi yang lebih efektif.
Optimisme ini tidak terlepas dari janji-janji kampanye yang masif, yang berhasil menarik simpati sebagian besar pemilih. Masyarakat berharap janji-janji tersebut dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Angka ini tidak jauh berbeda dengan dukungan yang mereka raih pada Pemilihan Presiden sebelumnya, sebuah indikasi kuat bahwa masyarakat menaruh ekspektasi besar sejak awal. (Lihat juga: Analisis Komprehensif Hasil Pemilu Presiden 2024)
Implikasi Angka Kepercayaan yang Tinggi
Kepercayaan publik yang tinggi adalah aset berharga bagi pemerintahan mana pun. Bagi Prabowo-Gibran, ini berarti mereka memulai masa jabatan dengan dukungan moral yang kuat dari sebagian besar penduduk. Beberapa implikasi penting dari angka ini meliputi:
- Legitimasi Kuat: Angka ini memperkuat legitimasi pemerintahan yang akan datang, memberikan dasar yang solid untuk kebijakan-kebijakan yang akan mereka implementasikan.
- Ruang Gerak Politik: Dukungan publik yang besar dapat memberikan ruang gerak politik yang lebih luas bagi pemerintah untuk mengambil keputusan-keputusan strategis, bahkan yang mungkin kontroversial sekalipun, asalkan dikomunikasikan dengan baik.
- Tanggung Jawab Besar: Tingginya kepercayaan juga berarti tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kebijakan dan tindakan pemerintah akan diawasi secara ketat oleh masyarakat yang telah menaruh harapan.
- Tekanan Kinerja: Ekspektasi tinggi akan otomatis memicu tekanan untuk menunjukkan hasil kerja yang konkret dan terukur dalam waktu yang relatif singkat. Kegagalan memenuhi harapan ini dapat dengan cepat mengikis modal kepercayaan awal.
Tantangan Menjaga Momentum Kepercayaan
Meskipun memulai dengan modal kepercayaan yang kuat, pemerintahan Prabowo-Gibran dihadapkan pada sejumlah tantangan besar untuk menjaga momentum ini dan menerjemahkannya menjadi kepuasan publik berkelanjutan. Beberapa tantangan utama yang harus mereka atasi adalah:
- Manajemen Ekspektasi: Janji-janji kampanye yang ambisius perlu dikelola dengan hati-hati. Tidak semua janji dapat dipenuhi secara instan, dan komunikasi yang jujur mengenai prioritas serta kendala akan sangat krusial.
- Implementasi Kebijakan: Kepercayaan akan bertahan jika diikuti dengan implementasi kebijakan yang efektif dan efisien. Koordinasi antar-lembaga, birokrasi yang responsif, dan alokasi anggaran yang tepat sasaran menjadi kunci.
- Isu Ekonomi Global dan Domestik: Pemerintah baru harus siap menghadapi fluktuasi ekonomi global, inflasi, serta isu-isu domestik seperti kesenjangan sosial dan pemerataan pembangunan.
- Transparansi dan Akuntabilitas: Di era informasi digital, publik menuntut transparansi dalam setiap pengambilan keputusan dan akuntabilitas atas penggunaan dana publik.
- Konsolidasi Politik: Meskipun memenangkan Pemilu, upaya konsolidasi politik untuk membangun dukungan lintas-partai dan merangkul semua elemen masyarakat akan sangat penting demi stabilitas dan efisiensi pemerintahan.
Angka kepercayaan 63,2% dari survei Poltracking ini adalah titik awal yang menjanjikan bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, perjalanan masih panjang. Kemampuan mereka untuk mengubah optimisme awal ini menjadi hasil nyata dan menjaga komunikasi yang efektif dengan publik akan menentukan keberhasilan dalam mempertahankan dan bahkan meningkatkan kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.
Pemerintah
Pemprov Sumbar Gencarkan Penanganan Sedimentasi Sungai untuk Cegah Banjir Berulang
Urgensi Penanganan Sedimentasi Sungai Pasca Bencana
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat secara serius mempercepat upaya rehabilitasi pascabencana hidrometeorologi yang kerap melanda wilayahnya. Fokus utama saat ini tertuju pada penanganan sedimentasi sungai yang masif, sebuah langkah krusial untuk mencegah terulangnya insiden banjir yang merugikan. Langkah ini datang sebagai respons langsung terhadap serangkaian insiden banjir dan tanah longsor yang telah menyebabkan kerugian signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai laporan sebelumnya telah menyoroti kerentanan wilayah Sumbar terhadap bencana hidrometeorologi, menjadikannya prioritas mendesak bagi pemerintah daerah dalam menjamin keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Sedimentasi sungai terjadi ketika material padat seperti lumpur, pasir, dan kerikil mengendap di dasar serta tepi sungai. Fenomena ini secara drastis mengurangi kapasitas daya tampung air sungai, membuatnya lebih rentan meluap saat intensitas hujan tinggi. Akumulasi sedimen tidak hanya mempercepat terjadinya banjir, tetapi juga merusak infrastruktur irigasi, mengganggu navigasi, dan merusak ekosistem akuatik. Provinsi Sumatera Barat, dengan topografi berbukit, curah hujan tinggi, dan banyak aliran sungai, menghadapi tantangan besar dari masalah ini. Kondisi ini diperparah oleh deforestasi di hulu sungai dan praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, yang meningkatkan laju erosi dan pada akhirnya mempercepat sedimentasi ke hilir.
Strategi Komprehensif Pemprov Sumbar dalam Mitigasi Banjir
Menyadari kompleksitas masalah ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menyusun strategi komprehensif yang melibatkan berbagai instansi dan pendekatan. Strategi tersebut mencakup pengerukan sedimen secara berkala di sungai-sungai utama yang teridentifikasi kritis. Kegiatan pengerukan ini tidak hanya membersihkan badan sungai, tetapi juga mengembalikan kedalaman dan lebar alur air ke kondisi optimal, memastikan aliran air lancar terutama saat musim penghujan.
- Pengerukan Rutin: Mengidentifikasi dan mengeruk sungai-sungai dengan tingkat sedimentasi tinggi secara berkala menggunakan alat berat dan teknologi modern.
- Rehabilitasi Bantaran Sungai: Melakukan penataan dan penguatan bantaran sungai melalui penanaman vegetasi pelindung, pembangunan bronjong, serta struktur pengaman lainnya untuk mencegah erosi lebih lanjut.
- Penghijauan Daerah Aliran Sungai (DAS): Program reboisasi dan penghijauan di wilayah hulu untuk mengurangi erosi tanah, meningkatkan daya serap air, dan mengontrol aliran permukaan.
- Pembangunan Infrastruktur Pencegah Erosi: Membangun tanggul, krib, dan dam penahan sedimen di titik-titik strategis untuk menstabilkan aliran sungai dan mengurangi laju endapan.
- Pemantauan Berkelanjutan: Menggunakan teknologi pemetaan geospasial, sensor, dan drone untuk memonitor perubahan morfologi sungai, tingkat sedimentasi, dan memprediksi potensi banjir.
Tim teknis dari berbagai dinas terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aktif berkoordinasi. Mereka tidak hanya fokus pada tindakan reaktif pascabencana, tetapi juga pada upaya mitigasi proaktif yang berkelanjutan. Kolaborasi ini memastikan bahwa perencanaan dan implementasi program penanganan berjalan efektif dan efisien, mencakup aspek teknis, sosial, dan lingkungan.
Tantangan dan Visi Jangka Panjang untuk Ketahanan Bencana
Upaya penanganan sedimentasi sungai menghadapi berbagai tantangan signifikan yang membutuhkan solusi inovatif. Kebutuhan anggaran yang besar untuk peralatan canggih, operasional berkelanjutan, dan sumber daya manusia menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, koordinasi lintas sektor yang kompleks antarlembaga pemerintah, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan, merupakan faktor penentu keberhasilan. Perubahan iklim global yang memicu peningkatan intensitas hujan dan cuaca ekstrem juga memperparah kondisi, menuntut adaptasi dan inovasi terus-menerus dalam strategi mitigasi bencana.
Meskipun demikian, Pemprov Sumbar berkomitmen mewujudkan ketahanan bencana jangka panjang bagi seluruh warganya. Visi ini membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat luas. Edukasi publik mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta partisipasi aktif dalam program penghijauan dan pemeliharaan lingkungan menjadi komponen integral dari strategi ini. Dengan pendekatan holistik, partisipasi multi-pihak, dan kolaborasi erat antara semua pemangku kepentingan, Sumatera Barat berharap dapat mengurangi risiko banjir secara signifikan, menciptakan lingkungan yang lebih aman, dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan di masa depan.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
