Pemerintah
DPR Usir Jababeka dari Rapat Krusial Pipa Limbah Setelah Ketidakhadiran Picu Kemarahan Parlemen
JAKARTA – Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI kembali menunjukkan taringnya dalam pengawasan kinerja korporasi dan implementasi kebijakan lingkungan. Dalam sebuah rapat dengar pendapat (RDP) yang krusial, perwakilan dari PT Kawasan Industri Jababeka (Jababeka) diusir secara tegas oleh anggota Komisi IV DPR RI. Penegasan ini penting mengingat Komisi IV merupakan komisi yang membidangi urusan lingkungan hidup, pertanian, dan kehutanan, yang paling relevan dengan agenda pembahasan pipa limbah. Insiden ini dipicu oleh ketidakhadiran pihak Jababeka dalam agenda pembahasan terkait pipa limbah dan dampaknya terhadap lingkungan, sebuah panggilan yang seharusnya dipenuhi dengan penuh tanggung jawab.
Sikap Tegas Parlemen: Jababeka Diusir dari Rapat Krusial
Momen pengusiran perwakilan Jababeka terjadi saat Komisi IV DPR RI mengadakan rapat kerja dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta berbagai perusahaan terkait pengelolaan limbah industri. Rapat ini sejatinya bertujuan untuk mendalami permasalahan tata kelola limbah, khususnya yang berasal dari pipa-pipa pembuangan di kawasan industri, serta memastikan kepatuhan perusahaan terhadap standar lingkungan yang berlaku. Komisi IV, yang memiliki peran vital dalam mengawal isu-isu sensitif terkait lingkungan, menekankan pentingnya kehadiran pihak-pihak terkait secara langsung untuk memberikan pertanggungjawaban.
Ketidakhadiran perwakilan Jababeka, sebuah entitas pengelola salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, dalam rapat sepenting ini dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap institusi parlemen dan sekaligus indikasi kurangnya komitmen terhadap isu lingkungan yang dibahas. Anggota Komisi IV DPR RI, melalui pimpinan rapat, tanpa ragu memerintahkan pengusiran perwakilan yang hadir – yang bukan merupakan penanggung jawab utama atau pihak yang memiliki otoritas untuk memberikan penjelasan komprehensif. Tindakan tegas ini adalah pesan jelas bahwa DPR tidak akan mentolerir ketidakseriusan atau pengabaian terhadap panggilan resmi parlemen.
Mengapa Ketidakhadiran Jababeka Menjadi Masalah Besar?
Ketidakhadiran Jababeka dalam RDP ini memiliki beberapa dimensi masalah yang perlu dicermati secara kritis:
- Pelecehan Institusi: Panggilan resmi DPR adalah mandat konstitusional untuk melakukan pengawasan. Mangkarinya pihak terkait tanpa alasan yang kuat dapat diinterpretasikan sebagai meremehkan fungsi pengawasan parlemen dan menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap lembaga negara.
- Minimnya Akuntabilitas: Sebagai pengelola kawasan industri berskala besar, Jababeka memikul tanggung jawab besar dalam memastikan operasional lingkungannya tidak merugikan masyarakat sekitar. Kehadiran mereka sangat diperlukan untuk memberikan klarifikasi, solusi konkret, dan rencana aksi terkait pengelolaan pipa limbah yang transparan.
- Potensi Dampak Lingkungan: Pembahasan pipa limbah selalu krusial mengingat potensi pencemaran yang bisa ditimbulkan jika tidak dikelola dengan baik. Ketidakhadiran perusahaan yang berpotensi menjadi objek pengawasan menghambat upaya parlemen dalam melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
- Preseden Buruk: Jika insiden ketidakhadiran seperti ini dibiarkan tanpa sanksi tegas, dapat menciptakan preseden buruk bagi perusahaan lain untuk mengabaikan panggilan parlemen, yang pada akhirnya akan melemahkan fungsi pengawasan DPR secara keseluruhan.
Langkah tegas DPR ini juga dapat dihubungkan dengan serangkaian isu lingkungan yang sering kali melibatkan kawasan industri di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sorotan publik dan pemerintah terhadap dampak lingkungan dari aktivitas industri semakin intens. Kasus-kasus pencemaran air dan tanah yang kerap menjadi sorotan, mendorong DPR untuk lebih proaktif dalam memastikan kepatuhan industri terhadap regulasi lingkungan yang berlaku. Insiden seperti ini menegaskan kembali urgensi pengawasan lingkungan yang ketat dan konsisten.
Implikasi bagi Jababeka dan Citra Perusahaan
Pengusiran ini tentu membawa konsekuensi yang tidak ringan bagi Jababeka. Pertama, secara reputasi, insiden ini dapat merusak citra perusahaan di mata publik, investor, dan mitra bisnis. Persepsi negatif tentang ketidakpedulian terhadap lingkungan dan ketidakpatuhan terhadap panggilan institusi negara bisa sangat merugikan nilai perusahaan di pasar. Kedua, DPR kemungkinan akan menindaklanjuti dengan langkah-langkah yang lebih serius, termasuk pemanggilan ulang dengan konsekuensi yang lebih berat jika kembali mangkir, atau bahkan rekomendasi untuk audit lingkungan khusus.
Penting bagi perusahaan-perusahaan besar, khususnya pengembang kawasan industri, untuk menyadari bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan bukan hanya sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus diimplementasikan secara nyata dan dipertanggungjawabkan. Kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan keterbukaan dalam menghadapi pengawasan adalah pilar utama keberlanjutan bisnis di era modern. Kasus Jababeka ini menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri di Indonesia akan pentingnya sikap proaktif dan kooperatif dalam menghadapi pengawasan parlemen demi tercapainya pembangunan berkelanjutan yang harmonis antara ekonomi dan lingkungan hidup.
Pemerintah
Polda Metro Siagakan 5.000 Personel Kawal Pilkades Serentak
Polda Metro Jaya Kerahkan Ribuan Personel untuk Pengamanan Pilkades
Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas dan ketertiban selama proses pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak. Tidak kurang dari 5.000 personel siap dikerahkan secara massif, menandakan keseriusan aparat dalam mengawal hajatan demokrasi di tingkat desa. Pengerahan pasukan besar-besaran ini bertujuan utama untuk menjamin netralitas, keamanan, serta kelancaran seluruh tahapan pemungutan suara agar berjalan tertib dan kondusif.
Langkah proaktif ini diambil mengingat potensi kerawanan yang kerap menyertai kontestasi Pilkades. Rivalitas antarcalon, mobilisasi massa, hingga dugaan pelanggaran menjadi beberapa isu yang membutuhkan perhatian ekstra dari aparat keamanan. Kesiapan Polda Metro Jaya dengan ribuan personelnya diharapkan mampu meminimalisir segala bentuk potensi konflik dan memastikan hak pilih masyarakat tersalurkan secara demokratis tanpa intimidasi. Berbagai persiapan telah dimatangkan, termasuk pemetaan area rawan dan pembentukan tim respons cepat, sebagaimana pernah ditekankan dalam arahan pimpinan kepolisian terkait pengamanan event publik berskala besar.
Menjaga Integritas Pilkades Melalui Netralitas Aparat
Netralitas aparat keamanan menjadi pilar krusial dalam menjamin legitimasi dan integritas Pilkades. Polda Metro Jaya secara tegas menggarisbawahi pentingnya sikap imparsial bagi setiap personel yang bertugas. Pelanggaran terhadap prinsip netralitas tidak hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga dapat memicu instabilitas di masyarakat.
- Briefing Internal Ketat: Seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan akan mendapatkan briefing menyeluruh mengenai kode etik dan standar operasional prosedur yang menjunjung tinggi netralitas.
- Sanksi Tegas: Ancaman sanksi disipliner hingga pidana menanti personel yang terbukti melakukan keberpihakan atau penyalahgunaan wewenang.
- Pengawasan Berlapis: Mekanisme pengawasan internal akan diaktifkan untuk memonitor gerak-gerik dan tindakan personel di lapangan.
- Fokus pada Penegakan Hukum: Prioritas utama adalah penegakan hukum murni terhadap segala bentuk tindak pidana, bukan intervensi politik.
Melalui upaya ini, diharapkan Pilkades dapat menghasilkan pemimpin desa yang sah dan dihormati oleh seluruh elemen masyarakat.
Sinergi Lintas Sektor untuk Keamanan Optimal
Pengamanan Pilkades bukan hanya tanggung jawab kepolisian semata. Polda Metro Jaya aktif membangun sinergi dengan berbagai instansi terkait untuk menciptakan ekosistem keamanan yang komprehensif. Kolaborasi ini melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), pemerintah daerah, serta panitia penyelenggara Pilkades di tingkat lokal.
Beberapa bentuk sinergi yang diimplementasikan meliputi:
- Patroli Gabungan: Pembentukan tim patroli bersama untuk memantau situasi keamanan di seluruh wilayah.
- Pertukaran Informasi Intelijen: Berbagi data dan analisis intelijen untuk mengidentifikasi potensi ancaman dan menentukan strategi pencegahan yang efektif.
- Edukasi dan Sosialisasi: Bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ketertiban dan melaporkan indikasi pelanggaran.
- Kesiapan Logistik: Koordinasi dalam menyiapkan fasilitas dan logistik pendukung keamanan di setiap tempat pemungutan suara (TPS) dan titik-titik strategis lainnya.
Sinergi ini bertujuan untuk menciptakan suasana Pilkades yang tidak hanya aman dari gangguan keamanan, tetapi juga terhindar dari praktik-praktik yang mencederai demokrasi.
Peran Serta Masyarakat Kunci Sukses Pilkades Damai
Keberhasilan Pilkades serentak sangat bergantung pada partisipasi aktif dan kedewasaan masyarakat. Selain peran aparat keamanan, kesadaran kolektif warga untuk menjaga suasana kondusif adalah faktor penentu. Masyarakat diimbau untuk menggunakan hak pilihnya dengan bijak, tidak mudah terprovokasi, serta menghormati perbedaan pilihan.
Polda Metro Jaya juga mengajak masyarakat untuk berperan serta dalam menjaga ketertiban dengan:
- Melaporkan Indikasi Pelanggaran: Segera melaporkan kepada pihak berwajib atau panitia Pilkades apabila menemukan indikasi kecurangan, intimidasi, atau tindak kekerasan.
- Menjaga Persatuan: Tetap menjaga tali silaturahmi dan persatuan, terlepas dari pilihan politik yang berbeda.
- Menerima Hasil: Menerima hasil pemilihan dengan lapang dada dan menyelesaikan setiap perselisihan melalui jalur hukum yang berlaku.
Dengan pengerahan personel yang masif dan strategi pengamanan terpadu, Polda Metro Jaya berharap Pilkades serentak dapat berjalan sukses, menghasilkan pemimpin desa yang berintegritas, serta memperkuat fondasi demokrasi di tingkat paling dasar. Komitmen ini selaras dengan upaya negara dalam menjamin setiap proses demokratis berjalan sesuai konstitusi. (Baca lebih lanjut tentang pentingnya netralitas Polri dalam pemilu)
Pemerintah
Seni Melawan Otoritarianisme: Pentas Tunggal di Hungaria Gagas Kebangkitan Budaya Baru
Seni Melawan Otoritarianisme: Pentas Tunggal di Hungaria Gagas Kebangkitan Budaya Baru
Sebuah pentas tunggal yang secara gamblang membahas bahaya otoritarianisme telah menjadi sorotan utama, memicu gelombang diskusi tentang kebebasan berekspresi dan arah budaya di sebuah negara di Eropa Tengah. Pertunjukan ini, yang mengadaptasi memoar mendalam dari penulis Hungaria-Amerika Kati Marton, tidak hanya menghadirkan narasi personal yang kuat tetapi juga secara signifikan mengisyaratkan apa yang banyak pihak sebut sebagai kebangkitan budaya baru. Kehadirannya sendiri, di tengah lanskap politik yang dikendalikan ketat oleh pemerintah saat ini, menyiratkan keberanian luar biasa dan potensi pergeseran dinamika artistik-politik yang krusial.
Fakta bahwa pertunjukan semacam ini kini bisa terwujud memunculkan pertanyaan mendalam tentang evolusi iklim sosial dan politik. Dalam kondisi pemerintahan di bawah Perdana Menteri Viktor Orban, sebuah karya seni yang secara terang-terangan menyoroti penindasan dan pembatasan kebebasan mungkin sebelumnya sulit, bahkan mustahil, untuk dipentaskan. Keberanian pementasan ini, dengan demikian, bukan sekadar sebuah peristiwa teater biasa, melainkan sebuah pernyataan berani yang berpotensi membuka ruang bagi lebih banyak suara kritis di masa mendatang.
Suara yang Menggema di Tengah Senyap
Pentas tunggal ini menghadirkan sebuah narasi personal yang kuat, berakar pada pengalaman hidup Kati Marton. Sebagai seorang penulis yang memahami betul seluk-beluk sejarah dan politik wilayahnya, Marton melalui memoarnya menawarkan perspektif unik tentang bagaimana otoritarianisme memengaruhi kehidupan individu dan masyarakat. Transformasi memoar ini menjadi pertunjukan panggung satu wanita memberikan dimensi baru pada pesan-pesan tersebut, menjadikannya lebih mudah diakses dan relevan bagi audiens kontemporer.
- Kritik Terhadap Penindasan: Inti dari pertunjukan ini adalah eksplorasi mendalam mengenai dampak merusak dari sistem otoriter, sebuah tema yang resonansinya terasa sangat kuat dalam konteks politik negara tersebut saat ini.
- Kisah Personal yang Universal: Meskipun didasarkan pada pengalaman pribadi Marton, cerita ini mampu menyentuh pengalaman universal tentang perjuangan melawan penindasan dan upaya mempertahankan integritas diri.
- Medium Teater sebagai Katalis: Pemilihan medium teater, khususnya format pentas tunggal, memberikan keintiman dan kekuatan emosional yang intens, memungkinkan pesan-pesan kompleks tersampaikan secara langsung dan menggugah.
Keberanian untuk mementaskan karya semacam ini di tengah iklim yang cenderung membatasi ekspresi artistik independen menempatkan pertunjukan ini sebagai penanda penting. Ini adalah momen di mana seni secara aktif menantang narasi yang dominan, menawarkan perspektif alternatif, dan mendorong audiens untuk merenungkan kebebasan mereka sendiri.
Iklim Budaya di Bawah Pemerintahan Orban
Selama bertahun-tahun, pemerintahan yang berkuasa telah dituduh melakukan konsolidasi kekuasaan yang ekstensif, tidak hanya di ranah politik tetapi juga di sektor budaya dan media. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan sering kali diinterpretasikan sebagai upaya untuk membentuk narasi nasional yang seragam dan membatasi perbedaan pendapat, termasuk di kalangan seniman dan intelektual. Institusi budaya dan media yang independen kerap menghadapi tekanan finansial atau politik, yang berdampak pada kebebasan mereka untuk beroperasi dan berekspresi.
Kondisi ini menciptakan iklim di mana karya-karya seni yang bersifat kritis atau non-konformis mungkin sulit mendapatkan dukungan, pendanaan, atau bahkan tempat untuk dipentaskan. Oleh karena itu, munculnya pentas tunggal anti-otoritarianisme ini dianggap sebagai anomali yang signifikan, sebuah celah yang mengejutkan dalam struktur kontrol yang ketat. Ini menandakan bahwa, meskipun ada tekanan, semangat untuk berekspresi bebas masih mencari dan menemukan jalannya.
Sinyal Kebangkitan dan Tantangan untuk Masa Depan
Reaksi positif terhadap pentas ini dan kemampuannya untuk menarik perhatian luas menegaskan adanya kerinduan publik terhadap narasi yang lebih beragam dan diskusi yang lebih terbuka. “Kebangkitan budaya” yang disinyalir oleh pertunjukan ini bisa diartikan sebagai bangkitnya kembali keberanian seniman untuk mengekspresikan diri secara jujur dan kritis, serta meningkatnya kesediaan publik untuk menerima dan mendukung karya-karya semacam itu.
Implikasinya melampaui dunia teater. Sebuah pertunjukan yang berani menantang otoritarianisme memiliki potensi untuk:
- Mendorong Diskusi Publik: Membuka ruang untuk dialog yang lebih luas tentang isu-isu kebebasan sipil, hak asasi manusia, dan batasan kekuasaan pemerintah.
- Menginspirasi Seniman Lain: Memberikan dorongan bagi seniman lain untuk mengeksplorasi tema-tema sensitif dan menantang status quo, memperkaya lanskap budaya dengan perspektif yang beragam.
- Memperkuat Masyarakat Sipil: Menunjukkan bahwa seni dapat menjadi alat yang ampuh untuk memperkuat masyarakat sipil dan menjadi wadah bagi suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan.
Pentas tunggal ini adalah lebih dari sekadar hiburan; ia adalah barometer kesehatan kebebasan berekspresi di sebuah negara di Eropa Tengah. Keberhasilannya menandakan bahwa meskipun tantangan tetap ada, ada harapan baru untuk dialog budaya yang lebih terbuka dan berani, sebuah harapan yang mampu mengguncang fondasi kekuasaan yang telah lama mapan dan menggagas era baru ekspresi artistik yang lebih bebas.
Pemerintah
Kemenkeu Kaji Ulang Pembatalan Perombakan Pejabat Era Purbaya
Kementerian Keuangan Kaji Ulang Pembatalan Perombakan Pejabat Era Purbaya
Menteri Keuangan Suahasil Nazara secara resmi mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah membahas secara mendalam permintaan untuk membatalkan keputusan perombakan pejabat yang pernah dilakukan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dan sebelumnya memegang posisi penting seperti Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (Dirjen PPK) di Kementerian Keuangan, membuat keputusan tersebut saat ia berada di puncak hierarki kementerian.
Pembahasan ini mencerminkan dinamika internal di tubuh birokrasi pemerintah, khususnya di salah satu kementerian paling vital. Permintaan pembatalan ini datang dari internal, yakni dari Direktur Jenderal (Dirjen) yang merasa terdampak atau memiliki keberatan terhadap keputusan Purbaya tersebut. Langkah Suahasil untuk membahas isu ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menanggapi keluhan pejabat dan menjaga stabilitas serta keadilan dalam sistem kepegawaian.
Keputusan perombakan pejabat, yang mencakup rotasi, mutasi, atau promosi, selalu memiliki dampak signifikan terhadap moral, kinerja, dan stabilitas organisasi. Ketika sebuah permintaan pembatalan diajukan, hal ini mengindikasikan adanya ketidakpuasan atau potensi masalah yang lebih luas yang perlu segera diatasi oleh pimpinan kementerian.
Latar Belakang Polemik Perombakan Pejabat
Perombakan pejabat yang dilakukan Purbaya Yudhi Sadewa, yang saat itu menjabat di posisi strategis di Kementerian Keuangan, memicu diskusi panjang di kalangan internal. Meskipun detail spesifik mengenai lingkup dan alasan perombakan tersebut belum diungkapkan secara publik, fakta bahwa adanya permintaan pembatalan mengisyaratkan beberapa potensi masalah, antara lain:
- Ketidaksesuaian Prosedur: Adanya dugaan bahwa proses perombakan tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku.
- Dampak Negatif pada Kinerja: Pejabat yang dirombak merasa penempatan barunya tidak optimal atau bahkan menghambat kinerja mereka.
- Motivasi dan Transparansi: Pertanyaan seputar motivasi di balik keputusan perombakan dan kurangnya transparansi dalam prosesnya.
- Kekhawatiran Stabilitas: Perombakan besar-besaran atau yang dianggap tidak adil dapat mengganggu stabilitas internal dan fokus pada tugas-tugas kementerian.
Polemik ini menyoroti pentingnya kepemimpinan yang bijaksana dan transparan dalam setiap pengambilan keputusan terkait sumber daya manusia, terutama di institusi sepenting Kementerian Keuangan.
Detail Pembahasan dan Mekanisme Pengkajian
Menteri Keuangan Suahasil Nazara tidak merinci jadwal pasti atau pihak-pihak lain yang terlibat dalam pembahasan tersebut. Namun, proses pengkajian ulang biasanya melibatkan beberapa tahapan krusial:
- Analisis Regulasi: Memastikan apakah keputusan perombakan Purbaya sesuai dengan peraturan kepegawaian yang berlaku, termasuk Peraturan Pemerintah dan regulasi internal Kementerian Keuangan.
- Evaluasi Dampak: Mengkaji dampak perombakan terhadap kinerja unit kerja, moral pegawai, dan efektivitas organisasi secara keseluruhan.
- Klarifikasi dan Mediasi: Meminta keterangan dari pihak-pihak terkait, baik yang mengajukan permintaan pembatalan maupun dari Purbaya sendiri atau timnya pada saat keputusan dibuat.
- Pertimbangan Komprehensif: Mempertimbangkan aspek keadilan, efisiensi, dan keberlanjutan sistem kepegawaian Kemenkeu.
Pembahasan ini kemungkinan besar akan melibatkan Sekretaris Jenderal, Kepala Biro Sumber Daya Manusia, dan unit-unit lain yang relevan di Kementerian Keuangan. Hasil dari pembahasan ini akan menjadi preseden penting bagi penataan birokrasi di masa mendatang.
Dampak Potensial Pembatalan Keputusan
Keputusan akhir apakah akan membatalkan atau mempertahankan perombakan pejabat era Purbaya memiliki implikasi ganda:
- Jika Dibatalkan:
- Mengembalikan pejabat ke posisi semula, yang mungkin memicu perombakan baru di unit lain yang telah diisi.
- Meningkatkan kepercayaan pegawai terhadap keadilan sistem, namun berisiko menciptakan persepsi ketidakpastian kebijakan.
- Menunjukkan responsibilitas pimpinan terhadap keluhan internal.
- Jika Dipertahankan:
- Menegaskan konsistensi keputusan manajemen, namun berisiko menurunkan moral sebagian pegawai yang merasa dirugikan.
- Membutuhkan komunikasi yang sangat jelas dan persuasif untuk menjelaskan dasar pertimbangan keputusan tersebut.
- Menghindari gejolak baru akibat perubahan posisi yang berulang.
Apapun hasil akhirnya, yang terpenting adalah proses yang transparan dan akuntabel. Kementerian Keuangan, sebagai tulang punggung ekonomi negara, membutuhkan birokrasi yang stabil, profesional, dan termotivasi.
Pentingnya Stabilitas Birokrasi dan Reformasi Berkelanjutan
Isu perombakan pejabat dan permintaan pembatalannya ini menggarisbawahi urgensi reformasi birokrasi yang berkelanjutan. Stabilitas birokrasi bukan berarti stagnasi, melainkan penataan yang terencana, adil, dan berorientasi pada peningkatan kinerja. Setiap keputusan mutasi atau rotasi harus didasarkan pada prinsip-prinsip meritokrasi, objektivitas, dan kebutuhan organisasi, bukan semata-mata preferensi individu atau kelompok.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan kini yang akan datang, selalu menekankan pentingnya birokrasi yang bersih, melayani, dan efisien. Penanganan kasus seperti ini oleh Menteri Keuangan Suahasil Nazara akan menjadi barometer sejauh mana komitmen tersebut diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Diharapkan, keputusan yang diambil nanti dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas Kementerian Keuangan.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah7 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Olahraga7 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal7 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
