Pemerintah
Fraksi Golkar MPR Minta Presiden Prabowo Lindungi Anggaran Pendidikan dari Program Makan Bergizi Gratis
Fraksi Golkar MPR Minta Presiden Prabowo Lindungi Anggaran Pendidikan dari Program Makan Bergizi Gratis
Ketua Fraksi Partai Golkar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Melchias Mekeng, secara tegas meminta Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk memastikan program unggulan ‘Makan Bergizi Gratis’ tidak membebani atau mengambil jatah dari alokasi anggaran pendidikan nasional. Desakan ini muncul di tengah perencanaan transisi pemerintahan dan penyusunan anggaran negara yang krusial. Mekeng bahkan menyatakan akan segera melayangkan surat resmi kepada Presiden Prabowo untuk menyampaikan kekhawatiran dan sarannya terkait masalah pendanaan ini.
Pernyataan Mekeng ini tidak hanya menyoroti komitmen pemerintah terhadap pendidikan tetapi juga memicu perdebatan lebih luas mengenai prioritas alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai salah satu pilar koalisi pendukung Prabowo-Gibran, suara dari Fraksi Golkar ini memiliki bobot signifikan, mengindikasikan adanya pertimbangan internal yang mendalam terkait implementasi janji kampanye.
Desakan Golkar untuk Prioritas Anggaran Pendidikan
Melchias Mekeng menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa dan tidak boleh dikorbankan demi program lain, sekrusial apapun itu. Menurutnya, pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus datang dari sumber lain yang tidak mengganggu porsi 20% anggaran pendidikan yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar. “Kami akan berkirim surat kepada Bapak Presiden Prabowo untuk mengingatkan pentingnya menjaga anggaran pendidikan. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal masa depan generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Desakan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa potensi pengalihan atau pemotongan dana pendidikan dapat berdampak langsung pada:
- Kualitas infrastruktur sekolah
- Kesejahteraan guru dan tenaga pendidik
- Penyediaan sarana dan prasarana belajar
- Akses pendidikan yang merata di seluruh pelosok Indonesia
- Pengembangan kurikulum dan inovasi pendidikan
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang, dan Golkar melalui Mekeng menekankan perlunya visi strategis yang tidak hanya fokus pada kebutuhan saat ini, tetapi juga dampak berkelanjutan bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dilema Pendanaan Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu janji kampanye utama Presiden terpilih Prabowo Subianto yang bertujuan untuk mengatasi stunting dan meningkatkan nutrisi anak-anak sekolah. Meskipun tujuan program ini sangat mulia, estimasi biaya implementasinya mencapai triliunan rupiah per tahun, memunculkan tantangan besar dalam hal alokasi anggaran.
Sebelumnya, berbagai pihak, termasuk ekonom dan pengamat kebijakan publik, telah menyuarakan kekhawatiran serupa terkait sumber pendanaan MBG. Diskusi mengenai kemungkinan pemangkasan anggaran di pos-pos lain, termasuk subsidi, infrastruktur, atau bahkan anggaran kementerian, sempat ramai. Kementerian Keuangan sendiri telah berulang kali menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga alokasi 20% anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi. Namun, tekanan untuk membiayai program baru seperti MBG tetap menjadi PR besar bagi tim transisi dan pemerintahan mendatang.
Konsekuensi Jika Dana Pendidikan Tergerus
Amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan UUD 1945 menggariskan alokasi minimal 20% dari APBN untuk sektor pendidikan. Angka ini vital untuk menjamin keberlangsungan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Jika anggaran ini tergerus, potensi dampak negatif yang muncul sangatlah serius:
- Penurunan Kualitas Pembelajaran: Kekurangan dana dapat menghambat penyediaan buku, alat peraga, dan teknologi pendidikan yang relevan.
- Gagalnya Peningkatan Kompetensi Guru: Program pelatihan dan pengembangan guru bisa terhenti, berdampak pada kualitas pengajaran di kelas.
- Kesenjangan Infrastruktur: Daerah terpencil dan kurang maju akan semakin tertinggal dalam pembangunan fasilitas sekolah yang layak.
- Penundaan Reformasi Pendidikan: Inovasi dan terobosan dalam sistem pendidikan bisa terhambat akibat keterbatasan finansial.
Oleh karena itu, menjaga integritas anggaran pendidikan bukan hanya kewajiban konstitusional tetapi juga investasi strategis untuk daya saing bangsa di masa depan.
Mencari Solusi dan Komitmen Presiden Terpilih
Presiden terpilih Prabowo Subianto menghadapi tugas besar untuk menyeimbangkan janji kampanye dengan realitas fiskal negara. Beberapa opsi pendanaan alternatif untuk program Makan Bergizi Gratis yang tidak mengorbankan pendidikan meliputi:
- Re-prioritisasi Anggaran: Mencari pos-pos anggaran lain di luar pendidikan yang memungkinkan efisiensi dan pengalihan dana.
- Peningkatan Pendapatan Negara: Mendorong pertumbuhan ekonomi, optimalisasi pajak, atau sumber pendapatan non-pajak lainnya.
- Kerja Sama Multilateral/Bilateral: Menjajaki kemungkinan dukungan pendanaan dari lembaga internasional atau negara sahabat yang peduli pada nutrisi anak.
- Keterlibatan Sektor Swasta: Mendorong partisipasi korporasi melalui program CSR atau kemitraan publik-swasta.
Desakan dari Golkar ini menjadi momentum bagi Presiden terpilih untuk memberikan penjelasan yang transparan dan komprehensif mengenai strategi pendanaan program Makan Bergizi Gratis. Publik menunggu komitmen Prabowo untuk melindungi pendidikan sekaligus mewujudkan program kesejahteraan yang dijanjikannya.
Pemerintah
Strategi Berani Jon Ossoff: Anti-Trump Kunci Re-elektifikasi Senat Georgia
Ossoff Tetap Teguh dengan Pesan Anti-Trump di Tengah Pertarungan Senat Georgia
Senator Jon Ossoff, senator termuda yang sedang menjabat dan satu-satunya kandidat Demokrat yang mencari pemilihan kembali tahun ini di negara bagian yang dimenangkan Presiden Trump pada tahun 2024, tidak memoderasi pesannya dalam pertarungan kritis ini. Keputusan berani untuk tetap berpegang pada narasi anti-Trump menunjukkan strategi yang diperhitungkan, menantang konvensionalisme politik di salah satu medan pertempuran paling sengit di Amerika Serikat. Ini bukan hanya pertarungan untuk kursi Senat; ini adalah ujian bagi daya tarik pesan anti-Trump di lanskap politik yang terus berubah di Georgia.
Tantangan Politik Unik di Georgia
Georgia telah menjadi titik fokus perpolitikan Amerika Serikat dalam beberapa siklus terakhir. Negara bagian yang secara historis merah ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam Pemilu 2020 dan putaran kedua Senat 2021, di mana Ossoff dan Senator Raphael Warnock memenangkan kursi mereka, memberikan kendali Senat kepada Demokrat. Kemenangan bersejarah Ossoff pada saat itu dipandang sebagai indikasi perubahan demografi dan preferensi pemilih di Georgia, khususnya di wilayah perkotaan dan pinggiran kota yang semakin beragam.
Namun, narasi tersebut kini menghadapi tantangan baru dengan asumsi bahwa Presiden Trump berhasil memenangkan Georgia pada tahun 2024, seperti yang disebutkan dalam laporan. Fakta ini menciptakan konteks yang sangat sulit bagi seorang kandidat Demokrat yang mencari pemilihan kembali. Ini menyoroti dualisme politik di Georgia: sebuah negara bagian yang mampu memilih Demokrat untuk Senat, namun pada saat yang sama, memberikan dukungan presiden kepada Donald Trump. Dinamika ini memaksa para kandidat untuk menavigasi medan politik yang kompleks, menarik basis mereka sambil mencoba memenangkan pemilih independen yang sering kali menjadi penentu.
Strategi Tanpa Kompromi Ossoff
Keputusan Ossoff untuk tidak memoderasi pesannya adalah sebuah pertaruhan besar. Daripada mencoba merangkul pemilih moderat atau yang bimbang dengan retorika yang lebih sentris, ia tampaknya memilih untuk menggalang basis pendukungnya yang kuat dengan pesan yang jelas dan tidak ambigu menentang pengaruh Donald Trump. Strategi ini mungkin bertujuan untuk membangkitkan semangat pemilih Demokrat dan independen yang kritis terhadap Trump, mengingatkan mereka tentang perbedaan mendasar antara kedua belah pihak.
Pendekatan ini memiliki beberapa aspek kunci:
- Penekanan pada Isu-isu Kunci: Memfokuskan kampanye pada isu-isu yang dianggap krusial bagi basis pemilihnya, seperti perlindungan hak pilih, akses kesehatan, atau keadilan ekonomi, sambil mengaitkan agenda lawan dengan ideologi Trump.
- Membangun Kontras Jelas: Menciptakan garis pemisah yang tajam antara dirinya dan lawan-lawannya, terutama yang bersekutu dengan mantan presiden, untuk menarik pemilih yang mencari alternatif yang berbeda.
- Mobilisasi Pemilih Muda dan Minoritas: Mengandalkan koalisi pemilih muda dan minoritas yang krusial untuk kemenangannya di masa lalu, yang cenderung sangat menentang Trump.
- Narasi ‘Melindungi Demokrasi’: Menggunakan narasi yang menghubungkan kritik terhadap Trump dengan perlindungan institusi demokrasi, sebuah pesan yang resonan di kalangan pemilih tertentu.
Analisis Risiko dan Potensi Keberhasilan
Strategi Ossoff membawa risiko yang signifikan. Di negara bagian yang dimenangkan Trump pada tahun 2024, pesan anti-Trump yang tidak dimoderasi dapat berpotensi mengalienasi pemilih independen atau bahkan beberapa Republikan moderat yang mungkin lelah dengan politik Trump tetapi juga enggan mendukung kandidat yang terlalu polarisasi. Pertanyaan kuncinya adalah apakah sentimen anti-Trump cukup kuat untuk mengalahkan dukungan yang masih ada untuk Trump di Georgia, atau apakah pemilih menginginkan fokus pada isu-isu lain di luar perdebatan politik tentang mantan presiden.
Di sisi lain, potensi keberhasilan strategi ini terletak pada kemampuan Ossoff untuk sepenuhnya mengonsolidasikan basis Demokrat dan menarik pemilih pinggiran kota yang mungkin telah beralih dari Partai Republik karena ketidakpuasan terhadap Trumpisme. Kemenangan sebelumnya di tahun 2020/2021 menunjukkan bahwa strategi yang jelas dan fokus pada mobilisasi dapat berhasil di Georgia yang berayun. Dengan adanya lawan yang kemungkinan besar akan mencoba menghubungkan diri dengan popularitas Trump di negara bagian tersebut, pesan anti-Trump Ossoff dapat menjadi cara yang efektif untuk membedakan dirinya dan menyajikan pilihan yang jelas bagi para pemilih. Untuk informasi lebih lanjut mengenai rekam jejak Senator Ossoff, kunjungi laman resmi Senat AS: Senat AS Jon Ossoff.
Implikasi Lebih Luas bagi Pemilu Nasional
Pertarungan re-elektifikasi Jon Ossoff di Georgia ini akan menjadi barometer penting bagi strategi Partai Demokrat secara nasional, terutama di negara-negara bagian yang berayun atau yang secara tradisional Republik. Jika Ossoff dapat menang dengan pesan anti-Trump yang tidak dimoderasi di negara bagian yang dimenangkan Trump, ini bisa menjadi cetak biru bagi kandidat Demokrat lainnya. Ini akan menegaskan bahwa fokus pada kontra-Trump masih merupakan strategi yang layak untuk menggalang dukungan, bahkan dalam konteks pasca-kepresidenan Trump.
Sebaliknya, jika strategi ini gagal, hal itu akan memicu perdebatan serius di kalangan Demokrat tentang perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan moderat untuk memenangkan suara di negara bagian yang beragam secara politik. Kemenangan atau kekalahan Ossoff tidak hanya akan menentukan komposisi Senat berikutnya tetapi juga akan membentuk narasi dan strategi kampanye untuk siklus pemilu yang akan datang.
Pemerintah
Menteri Transmigrasi Kucurkan Rp200 Juta untuk Rehabilitasi Sekolah Terdampak Gempa di NTT
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja langsung ke sejumlah sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi, tetapi juga membawa angin segar berupa bantuan finansial sebesar Rp200 juta. Dana tersebut secara spesifik dialokasikan untuk percepatan rehabilitasi fasilitas sekolah yang rusak serta pemenuhan berbagai kebutuhan esensial para siswa yang kondisi belajarnya terganggu akibat bencana.
Kedatangan Menteri Iftitah menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam memastikan pemulihan sektor pendidikan pasca-gempa di NTT. Ia secara langsung meninjau kondisi bangunan sekolah yang porak-poranda, berdialog dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua siswa, serta mendengarkan aspirasi dan tantangan yang mereka hadapi. Menteri Transmigrasi menunjukkan empati mendalam terhadap situasi sulit yang dialami komunitas pendidikan setempat, yang kini harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas.
Kunjungan ini bertepatan dengan upaya pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk bangkit kembali setelah serangkaian guncangan gempa yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Meskipun gempa tidak sampai menelan korban jiwa dalam skala besar, dampaknya terhadap infrastruktur publik, khususnya sekolah, sangat signifikan. Banyak ruang kelas tidak lagi aman untuk digunakan, bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah, memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan di tenda darurat atau bahkan di luar ruangan.
Komitmen Pemulihan Pendidikan Pasca-Gempa
Bantuan sebesar Rp200 juta dari Kementerian Transmigrasi akan segera disalurkan dan diimplementasikan untuk berbagai keperluan mendesak. Menteri Iftitah Sulaiman menyatakan bahwa prioritas utama adalah memastikan anak-anak bisa kembali belajar di lingkungan yang layak dan aman. Dana ini akan dibagi untuk dua fokus utama:
- Rehabilitasi Infrastruktur Sekolah: Mencakup perbaikan atap, dinding, lantai, hingga sanitasi yang rusak. Sebagian dana juga akan dialokasikan untuk pembangunan kembali ruang kelas yang hancur total, memastikan struktur bangunan yang lebih tahan gempa di masa depan.
- Pemenuhan Kebutuhan Siswa: Meliputi penyediaan seragam sekolah baru, alat tulis, buku pelajaran, dan perlengkapan penunjang belajar lainnya. Selain itu, bantuan juga diarahkan untuk dukungan psikososial bagi siswa dan guru guna mengatasi trauma pasca-bencana, yang seringkali terabaikan dalam fase awal pemulihan.
Menteri Iftitah menambahkan, meskipun kementeriannya lebih sering berkutat dengan isu pemerataan penduduk dan pembangunan daerah tertinggal, ia menekankan bahwa setiap kementerian memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam penanggulangan bencana nasional, terutama yang berdampak pada generasi penerus bangsa. “Pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan suatu daerah, bahkan pasca-bencana sekalipun. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda NTT kehilangan kesempatan emas untuk meraih pendidikan yang layak,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Pentingnya Sinergi dalam Penanggulangan Bencana
Kunjungan dan bantuan ini merupakan bagian dari upaya sinergis pemerintah pusat dalam merespons bencana alam di berbagai daerah. Sebelumnya, artikel kami pernah mengulas secara mendalam dampak gempa bumi yang mengguncang NTT, yang menyoroti perlunya koordinasi lintas sektor untuk pemulihan menyeluruh. Kehadiran Menteri Transmigrasi di lokasi bencana diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Pemerintah daerah NTT menyambut baik inisiatif Kementerian Transmigrasi. Mereka menilai bahwa bantuan seperti ini sangat krusial dalam mendukung percepatan pemulihan, mengingat skala kerusakan yang cukup luas dan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai organisasi non-pemerintah menjadi kunci keberhasilan dalam mitigasi dan pemulihan pasca-bencana.
Masa Depan Pendidikan di Wilayah Terdampak
Pemulihan sekolah bukan hanya tentang membangun kembali fisik bangunan, melainkan juga mengembalikan semangat belajar dan mengajar. Dengan adanya bantuan ini, diharapkan siswa-siswa di NTT dapat segera menikmati kembali kegiatan belajar mengajar yang normal, tanpa harus terhambat oleh kondisi fasilitas yang kurang memadai. Fokus pemerintah tidak hanya pada rehabilitasi fisik, tetapi juga pada pembangunan kembali harapan dan optimisme bagi masa depan anak-anak di NTT.
Melalui upaya bersama ini, pemerintah bertekad untuk tidak hanya mengembalikan kondisi pendidikan seperti semula, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap tantangan di masa depan. Kunjungan Menteri M. Iftitah Sulaiman di NTT menjadi simbol solidaritas nasional dan komitmen tak tergoyahkan untuk membangun kembali apa yang telah hancur, dimulai dari fondasi pendidikan yang kokoh.
Pemerintah
Darurat Anggaran, Petugas Karhutla Kaltim Padamkan Api dengan Dana Pribadi
Darurat Anggaran, Petugas Karhutla Kaltim Padamkan Api dengan Dana Pribadi
Sebuah fakta mengejutkan terkuak dari medan perjuangan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim). Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Kaltim secara terang-terangan mengonfirmasi bahwa sebagian petugas di jajarannya terpaksa menggunakan dana pribadi demi menanggulangi amukan api. Pengakuan ini bukan sekadar kabar biasa, melainkan sorotan tajam terhadap krisis anggaran dan pengorbanan luar biasa yang ditunjukkan para pahlawan tak dikenal di garis depan bencana.
Fenomena penggunaan dana pribadi oleh petugas ini mencerminkan celah serius dalam sistem penanggulangan bencana di daerah, khususnya terkait alokasi dan ketersediaan anggaran. Petugas yang seharusnya difasilitasi penuh dengan peralatan dan logistik memadai, justru harus merogoh kocek pribadi untuk memenuhi kebutuhan operasional. Situasi ini bukan hanya merugikan secara finansial bagi individu, tetapi juga berpotensi mengganggu efektivitas dan keberlanjutan upaya pemadaman karhutla secara keseluruhan. Mereka tetap berjuang di tengah keterbatasan, menunjukkan dedikasi tanpa batas yang patut mendapat apresiasi sekaligus perhatian serius dari pemangku kebijakan.
Pengorbanan Tanpa Batas di Tengah Keterbatasan
Pengakuan Kadishut Kaltim menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Bagaimana mungkin petugas yang mempertaruhkan nyawa mereka di tengah kepulan asap dan panasnya bara api, harus memikirkan biaya bensin kendaraan, konsumsi, atau bahkan peralatan dasar dari kantong pribadi? Ini bukan hanya tentang kurangnya dana, tetapi juga tentang pengabaian terhadap kesejahteraan dan keselamatan personel yang menjadi garda terdepan.
Dalam banyak kasus, keterbatasan anggaran berdampak langsung pada kecepatan dan jangkauan penanganan. Keterlambatan pembelian bahan bakar, perbaikan alat yang rusak, atau penyediaan logistik dasar dapat memperparah kondisi karhutla, membuatnya semakin sulit dikendalikan. Petugas yang berjuang mati-matian ini tidak hanya menghadapi tantangan fisik melawan api, tetapi juga beban mental akibat ketidakpastian dukungan logistik. Dedikasi mereka untuk melindungi hutan dan masyarakat dari dampak kabut asap patut diacungi jempol, namun pemerintah harus segera bertindak untuk memastikan mereka tidak lagi berjuang sendirian dengan dana pribadi.
Kaltim dan Lika-liku Pertarungan Melawan Api
Kalimantan Timur, dengan hamparan hutan tropis dan lahan gambutnya yang luas, memang menjadi langganan bencana karhutla setiap tahun, terutama saat musim kemarau panjang. Kejadian ini bukan hal baru; sejarah mencatat berbagai insiden karhutla besar di Kaltim yang menyebabkan kerugian lingkungan dan ekonomi tak terhingga, serta dampak kesehatan serius bagi warga. Pada tahun-tahun sebelumnya, isu serupa mengenai minimnya anggaran dan peralatan penanganan karhutla juga sering mencuat ke permukaan. Ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan insiden sesaat, melainkan permasalahan struktural yang memerlukan solusi jangka panjang dan komprehensif.
Faktor-faktor pemicu karhutla di Kaltim pun beragam, mulai dari pembukaan lahan dengan cara membakar, cuaca ekstrem, hingga kelalaian manusia. Kondisi lahan gambut yang kering semakin memperburuk situasi, membuat api sulit dipadamkan dan berpotensi menyala kembali di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi karhutla seharusnya menjadi prioritas utama dengan alokasi anggaran yang memadai dan tidak bersifat reaktif.
Sorotan Tajam: Anggaran dan Kesiapan Penanggulangan Karhutla
Situasi yang dialami petugas di Kaltim membuka kembali diskusi mengenai mekanisme pengalokasian dana bencana di Indonesia. Pertanyaan krusialnya adalah, apakah anggaran yang dialokasikan sudah memadai dan responsif terhadap kebutuhan di lapangan? Atau apakah ada birokrasi yang memperlambat pencairan dana darurat, sehingga memaksa petugas mengambil inisiatif pribadi?
Pemerintah daerah, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), harus segera mengevaluasi sistem anggaran untuk penanggulangan karhutla. Beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan meliputi:
- Peningkatan Alokasi Anggaran: Memastikan dana yang cukup dan siap sedia untuk operasional, logistik, dan kesejahteraan petugas.
- Penyederhanaan Prosedur Pencairan Dana: Mempercepat akses dana darurat agar tidak ada hambatan birokrasi saat bencana terjadi.
- Transparansi dan Akuntabilitas: Memastikan penggunaan anggaran yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Investasi pada Peralatan dan Teknologi: Memodernisasi peralatan pemadam dan memanfaatkan teknologi pemantauan dini untuk pencegahan.
- Peningkatan Kesejahteraan Petugas: Memberikan insentif yang layak dan jaminan kesehatan bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa.
Kondisi petugas yang menggunakan dana pribadi ini adalah cerminan dari kegagalan sistemik yang harus segera diatasi. Pemerintah tidak bisa lagi membiarkan para pejuang lingkungan ini berjuang sendirian dengan mengorbankan finansial pribadi mereka.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Pemerintah6 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
