Hukum & Kriminal
Nilai Fantastis 74 Kg Emas Sitaan di Kasus Korupsi Asabri dan Batu Bara Terungkap
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (Kortas Tipikor) Polri bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya telah melakukan penyitaan aset signifikan berupa 74 kilogram emas batangan dan sejumlah uang dalam pecahan mata uang asing. Aset-aset bernilai fantastis ini ditemukan dan disita dari salah satu rumah yang berlokasi di kawasan Sentul, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya penegakan hukum terhadap kasus korupsi, tindak pidana pencucian uang (TPPU), serta suap yang melibatkan sektor batu bara dan skandal besar Asabri.
Penemuan ini menjadi bukti konkret dari seriusnya upaya kepolisian dalam membongkar jaringan kejahatan ekonomi yang merugikan negara. Emas batangan dan mata uang asing tersebut diduga merupakan hasil dari praktik korupsi dan suap yang kemudian dicuci melalui berbagai skema untuk menyamarkan asal-usulnya. Penyitaan ini diharapkan dapat memberikan titik terang lebih lanjut dalam pengungkapan para pelaku dan pemulihan kerugian negara.
Detail Penyelidikan dan Keterkaitan Kasus Besar
Operasi penyitaan ini melibatkan dua unit investigasi utama, menunjukkan koordinasi kuat antar lembaga penegak hukum. Kortas Tipikor Polri, yang fokus pada pemberantasan korupsi di lingkungan kepolisian, berkolaborasi dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya yang memiliki yurisdiksi luas di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Sinergi ini krusial dalam menelusuri jejak-jejak kejahatan yang seringkali melibatkan jaringan kompleks.
Kasus yang melatarbelakangi penyitaan ini tidak tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa tindak pidana serius:
- Korupsi: Meliputi penyelewengan wewenang dan penyalahgunaan jabatan untuk keuntungan pribadi atau golongan.
- Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU): Upaya menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana. Emas dan mata uang asing sering menjadi pilihan karena nilai dan kemudahannya untuk dipindahtangankan serta disembunyikan.
- Suap: Pemberian atau penerimaan hadiah atau janji dengan maksud memengaruhi keputusan atau tindakan seseorang dalam jabatan publik.
Lebih lanjut, penyitaan ini secara spesifik dikaitkan dengan dua kasus besar yang menjadi sorotan publik: kasus batu bara dan skandal Asabri. Kasus batu bara kerap diwarnai isu penyalahgunaan izin, manipulasi kuota, hingga ekspor ilegal. Sementara itu, skandal PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) telah menjadi salah satu kasus korupsi terbesar di Indonesia, melibatkan kerugian triliunan rupiah yang berdampak pada dana pensiun prajurit TNI, Polri, dan PNS Kementerian Pertahanan. Penyelidikan terhadap kasus Asabri telah berjalan intensif, dan setiap penyitaan aset seperti ini memperkuat bukti keterlibatan dalam TPPU.
Estimasi Nilai Fantastis 74 Kg Emas Sitaan
Publik tentu penasaran dengan berapa nilai sebenarnya dari 74 kilogram emas batangan yang berhasil disita. Untuk memberikan gambaran, mari kita estimasikan nilainya berdasarkan harga pasar saat ini. Harga emas memang fluktuatif, namun jika kita mengambil rata-rata harga emas batangan murni (99.99%) Antam per gram sekitar Rp 1.200.000 (satu juta dua ratus ribu rupiah) pada periode tertentu, maka perhitungan kasar dapat dilakukan:
* Total Berat Emas: 74 kg = 74.000 gram
* Harga per Gram (estimasi): Rp 1.200.000
* Total Nilai Emas: 74.000 gram x Rp 1.200.000/gram = Rp 88.800.000.000 (Delapan puluh delapan miliar delapan ratus juta rupiah).
Angka ini belum termasuk nilai dari mata uang asing yang turut disita, yang bisa jadi menambah puluhan hingga ratusan miliar rupiah lagi. Nilai yang fantastis ini menegaskan skala kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan korupsi dan TPPU di Indonesia. Besarnya nilai sitaan ini juga menunjukkan modus operandi pelaku dalam mengalihkan aset ke bentuk yang mudah disimpan dan memiliki nilai tinggi.
Penggunaan emas sebagai sarana pencucian uang bukanlah hal baru. Logam mulia ini disukai karena sifatnya yang universal, mudah dipindahtangankan lintas batas negara, dan sulit dilacak jika tidak ada sistem pencatatan yang ketat. Oleh karena itu, penyitaan aset berupa emas batangan menjadi kunci dalam memutus mata rantai peredaran uang hasil kejahatan.
Dampak dan Komitmen Pemberantasan Korupsi
Penyitaan aset sebesar ini memiliki dampak yang signifikan. Pertama, ini menjadi pesan kuat bagi para pelaku kejahatan bahwa aset hasil korupsi tidak akan aman selamanya dan negara akan terus mengejar untuk memulihkannya. Kedua, pemulihan aset ini akan berkontribusi pada kas negara atau untuk mengganti kerugian korban, seperti halnya para peserta Asabri yang dirugikan.
Kasus Asabri, khususnya, telah menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat luas. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyeret para pelakunya ke meja hijau dan mengembalikan aset yang telah disalahgunakan. Penyitaan 74 kg emas ini menambah daftar panjang aset yang berhasil diamankan dari kasus-kasus besar, sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memerangi korupsi dan TPPU secara menyeluruh. Upaya penelusuran aset di berbagai kasus korupsi besar sebelumnya, seperti Jiwasraya dan impor garam, juga menunjukkan pola yang sama, di mana aset bergerak maupun tidak bergerak disita untuk pemulihan kerugian negara.
Keberhasilan penyitaan ini tidak hanya mencerminkan ketajaman intelijen dan investigasi penegak hukum, tetapi juga menunjukkan bahwa kejahatan ekonomi dengan skala besar akan terus menjadi prioritas. Masyarakat berharap, proses hukum yang berjalan akan transparan dan mampu memberikan efek jera yang maksimal bagi para koruptor.
Hukum & Kriminal
Perjuangan 9 Tahun Investor Shenzhen: Habiskan Rp27 Miliar untuk Seret Mantan Istri ke Meja Hijau
Perjuangan 9 Tahun Investor Shenzhen: Habiskan Rp27 Miliar untuk Seret Mantan Istri ke Meja Hijau
Seorang investor veteran di Tiongkok, dilaporkan telah menghabiskan dana fantastis senilai 13 juta yuan atau setara dengan sekitar RM8.1 juta (sekitar Rp27 miliar, asumsi kurs Rp3.300/RM) dalam kurun waktu sembilan tahun. Dana tersebut digelontorkan semata-mata untuk menyeret mantan istrinya, yang dituduh melakukan penipuan, ke meja pengadilan. Perjuangan panjang dan mahal ini menggarisbawahi dedikasi luar biasa sang investor demi mencapai keadilan, seperti yang diungkapkan oleh laporan South China Morning Post.
Perjalanan Hukum yang Melelahkan dan Penuh Tantangan
Kisah ini bermula sekitar sembilan tahun lalu ketika sang investor, yang identitasnya tidak disebutkan secara spesifik namun dikenal sebagai figur berpengalaman di pasar modal kota itu, menduga telah menjadi korban penipuan oleh wanita yang pernah menjadi istrinya. Rincian spesifik mengenai modus penipuan tersebut masih samar, namun diperkirakan melibatkan aset atau investasi yang signifikan, mengingat besarnya jumlah uang yang dihabiskan untuk proses hukum. Ketidakjelasan rincian awal justru menambah misteri di balik determinasi luar biasa sang investor.
Selama hampir satu dekade, investor ini menempuh berbagai jalur hukum yang rumit dan seringkali berliku. Perjalanan ini tidak hanya melibatkan persidangan di pengadilan lokal, tetapi kemungkinan juga mencakup penyelidikan yang mendalam, pelacakan aset yang mungkin disembunyikan, hingga upaya ekstradisi jika mantan istrinya sempat melarikan diri ke yurisdiksi lain. Kesabaran dan keteguhannya diuji dalam setiap tahap proses yang penuh tekanan, yang mana setiap langkah membutuhkan sumber daya finansial dan mental yang tidak sedikit.
Biaya Fantastis Demi Sebuah Keadilan
Angka 13 juta yuan bukanlah jumlah yang kecil, bahkan bagi seorang investor veteran di pusat ekonomi seperti Shenzhen. Biaya sebesar RM8.1 juta (Rp27 miliar) tersebut disinyalir meliputi berbagai pos pengeluaran yang tidak terhindarkan dalam kasus hukum berkepanjangan:
- Biaya Pengacara: Honorarium pengacara berpengalaman yang mampu menangani kasus kompleks selama bertahun-tahun tentu sangat mahal, apalagi jika melibatkan firma hukum bergengsi.
- Penyelidikan Swasta: Untuk mengumpulkan bukti-bukti yang kuat dan melacak jejak penipuan, seringkali diperlukan jasa penyelidik swasta yang profesional dengan tarif per jam yang tinggi.
- Biaya Pengadilan: Meliputi biaya pendaftaran kasus, biaya sidang, dan berbagai biaya administrasi lainnya yang bisa bertumpuk seiring waktu dan kompleksitas kasus.
- Perjalanan dan Akomodasi: Jika kasus melibatkan saksi atau aset di lokasi berbeda, biaya perjalanan dan akomodasi juga akan membengkak, terutama jika melibatkan perjalanan antarprovinsi atau bahkan internasional.
- Kerugian Waktu dan Peluang: Waktu yang dihabiskan untuk mengurus kasus ini juga berarti kehilangan potensi pendapatan atau peluang investasi lainnya bagi sang investor, yang bisa dihitung sebagai ‘biaya peluang’ tak terukur.
Investasi finansial sebesar ini mencerminkan betapa seriusnya kasus penipuan yang dialami dan betapa besar keinginan investor tersebut untuk melihat keadilan ditegakkan, terlepas dari konsekuensi finansial pribadi yang harus ditanggungnya. Ini juga menggarisbawahi bahwa bagi sebagian orang, keadilan memiliki harga yang tak ternilai.
Refleksi Perjuangan Hukum di Tengah Kasus Penipuan
Kasus ini menjadi cerminan nyata dari tingginya biaya yang harus ditanggung seseorang ketika mencari keadilan, terutama dalam kasus penipuan yang melibatkan hubungan personal dan keuangan yang rumit. Di banyak negara, sistem hukum seringkali dianggap mahal dan memakan waktu, sehingga tidak semua korban penipuan memiliki sumber daya atau keberanian untuk mengejar keadilan sejauh ini. Kisah investor Shenzhen ini menyoroti beberapa poin penting:
- Dampak Emosional dan Finansial: Tidak hanya uang yang hilang karena penipuan, tetapi juga stres, waktu, dan biaya yang sangat besar untuk proses pemulihan hukum yang dapat berdampak jangka panjang pada kehidupan korban.
- Determinasi yang Luar Biasa: Tekad sang investor menunjukkan betapa prinsip keadilan dapat mengalahkan pertimbangan rasionalitas biaya-manfaat, terutama ketika integritas pribadi atau profesional dipertaruhkan.
- Pelajaran Penting: Kasus semacam ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kehati-hatian dalam setiap transaksi keuangan, terutama dengan orang-orang terdekat, dan perlunya perlindungan hukum yang memadai sejak awal.
Meskipun demikian, keberanian investor ini untuk tidak menyerah dalam mencari keadilan diharapkan dapat menjadi preseden bagi kasus-kasus serupa, sekaligus memicu diskusi lebih lanjut mengenai aksesibilitas dan efisiensi sistem peradilan di tengah masyarakat. Ini bukan hanya sebuah berita, melainkan sebuah studi kasus tentang kegigihan manusia menghadapi ketidakadilan.
Sampai saat ini, laporan belum merinci status akhir dari proses hukum tersebut atau apakah mantan istri investor tersebut telah dijatuhi hukuman. Namun, fakta bahwa ia berhasil ‘menyeret’ mantan istrinya ke muka pengadilan setelah sembilan tahun dan pengeluaran jutaan yuan, menjadi bukti kegigihan yang luar biasa. Kasus ini bukan sekadar tentang uang, tetapi tentang prinsip, kehormatan, dan pencarian keadilan yang tak kenal lelah dalam sistem hukum yang kompleks.
Hukum & Kriminal
Investigasi Mendesak Pasca Penembakan Fatal Agen Imigrasi di Maine
Sebuah insiden tragis kembali mengguncang warga, ketika seorang agen imigrasi federal menembak mati seorang pria di dalam mobilnya pada Senin pagi. Kejadian fatal ini menandai insiden kedua dalam seminggu yang melibatkan agen penegak hukum federal dan seorang individu di dalam kendaraan, memicu kekhawatiran dan desakan untuk penyelidikan menyeluruh.
Korban dalam insiden terbaru ini diidentifikasi sebagai Joan Sebastian Guerrero. Penembakan tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat, dengan berbagai pihak menyerukan akuntabilitas dan transparansi penuh mengenai keadaan yang menyebabkan kematiannya.
Kronologi Insiden Maut
Detail spesifik mengenai insiden penembakan yang terjadi pada Senin pagi masih terbatas, namun beberapa poin penting telah muncul:
- Waktu dan Lokasi: Insiden terjadi pada pagi hari di Biddeford, mengganggu ketenangan komunitas.
- Pelaku: Seorang agen dari Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) adalah pihak yang melepaskan tembakan fatal.
- Korban: Joan Sebastian Guerrero tewas di tempat kejadian.
- Keterlibatan Kendaraan: Insiden terjadi saat korban berada di dalam kendaraannya, sebuah pola yang mirip dengan kejadian fatal sebelumnya.
Otoritas federal telah memulai penyelidikan, yang merupakan prosedur standar dalam kasus penembakan yang melibatkan agen mereka. Namun, pertanyaan besar muncul mengenai prosedur dan protokol yang diikuti oleh agen ICE dalam situasi seperti ini, terutama mengingat adanya preseden yang mengkhawatirkan.
Pola Insiden Fatal yang Mengkhawatirkan
Yang membuat insiden ini semakin mendesak adalah fakta bahwa ini merupakan kejadian fatal kedua dalam kurun waktu hanya seminggu yang melibatkan agen imigrasi federal dan seseorang di dalam kendaraan. Pola ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan tentang pelatihan dan kebijakan penggunaan kekuatan agen ICE, tetapi juga menyoroti potensi peningkatan risiko dalam interaksi antara penegak hukum federal dan masyarakat.
Serangkaian kejadian ini mengisyaratkan bahwa mungkin ada masalah sistemik yang perlu segera ditangani. Apakah ini menunjukkan:
- Perubahan dalam strategi penegakan hukum imigrasi?
- Kesenjangan dalam pelatihan de-eskalasi bagi agen?
- Atau peningkatan ketegangan yang menyebabkan interaksi menjadi fatal lebih sering?
Analisis mendalam terhadap kedua insiden ini akan sangat krusial untuk memahami faktor-faktor pemicu dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Komunitas dan organisasi hak-hak sipil mendesak agar penyelidikan tidak hanya fokus pada insiden individu, tetapi juga pada pola yang muncul.
Tuntutan Akuntabilitas dan Transparansi
Sebagai editorial, kami menekankan bahwa akuntabilitas dan transparansi adalah fondasi kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum. Dalam kasus yang melibatkan kematian seorang warga sipil di tangan agen federal, tuntutan ini menjadi semakin kuat. Masyarakat berhak mengetahui:
- Mengapa agen merasa perlu menggunakan kekuatan mematikan.
- Apakah ada upaya de-eskalasi yang dilakukan.
- Apakah ada alternatif selain penggunaan kekuatan fatal.
- Proses investigasi yang sedang berjalan dan hasilnya.
Penyelidikan independen, idealnya dengan pengawasan eksternal, akan membantu memastikan objektivitas dan kredibilitas temuan. Kegagalan untuk memberikan jawaban yang jelas dan tindakan yang memadai dapat merusak kepercayaan publik terhadap lembaga federal dan memperdalam perpecahan dalam komunitas.
Dampak Sosial dan Komunitas
Insiden seperti penembakan Joan Sebastian Guerrero memiliki dampak yang mendalam pada komunitas setempat dan lebih luas lagi. Kehilangan nyawa seorang individu adalah tragedi, dan ketika tragedi tersebut terjadi di tangan agen pemerintah, hal itu dapat memicu ketakutan, kemarahan, dan ketidakpercayaan.
Komunitas yang terdampak sering kali menjadi lebih waspada terhadap kehadiran agen federal, yang dapat menghambat upaya kolaborasi dan membangun jembatan antara penegak hukum dan warga. Penting bagi pihak berwenang untuk mengakui dampak emosional dan psikologis dari kejadian ini dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk berkomunikasi secara terbuka dengan publik.
Langkah Selanjutnya
Sambil menunggu hasil penyelidikan, fokus harus tetap pada keadilan dan pencegahan. Otoritas perlu segera mengkaji ulang protokol penggunaan kekuatan, memberikan pelatihan yang lebih baik dalam de-eskalasi, dan memastikan bahwa agen-agen bertanggung jawab atas tindakan mereka. Masa depan interaksi antara agen imigrasi dan masyarakat sangat bergantung pada bagaimana kasus-kasus seperti kematian Joan Sebastian Guerrero ditangani.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai prosedur penegakan hukum federal, Anda dapat mengunjungi situs web resmi Departemen Keamanan Dalam Negeri di sini.
Hukum & Kriminal
Dugaan Korupsi Sistemik Koperasi Merah Putih: Anggaran Influencer Miliaran, Gaji Pengurus Misterius
Dugaan Korupsi Sistemik Selimuti Koperasi Merah Putih: Anggaran Influencer Fantastis, Gaji Pengurus Tak Jelas
Sebuah investigasi kolaboratif oleh BBC News Indonesia, Klub Jurnalis Investigasi (KJI), dan Koalisi Media Alternatif (KoMa) mengungkap dugaan potensi korupsi sistemik dalam tata kelola anggaran dan pengadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Temuan mengejutkan ini menyoroti alokasi anggaran fantastis miliaran rupiah untuk influencer, sementara laporan menunjukkan gaji pengurus koperasi justru tidak jelas. Pegiat antikorupsi dan lembaga riset tegas menyatakan adanya indikasi serius penyimpangan dari janji awal KDMP untuk memberdayakan ekonomi desa dan menciptakan lapangan kerja.
Indikasi Kuat Korupsi Sistemik dalam Pengelolaan KDMP
Penyelidikan mendalam menunjukkan bahwa Koperasi Desa Merah Putih, yang seharusnya menjadi pilar ekonomi masyarakat, kini menghadapi sorotan tajam atas praktik pengelolaan keuangannya. Potensi korupsi sistemik ini, sebagaimana dijelaskan oleh para pegiat dan peneliti, berakar pada celah tata kelola pengadaan yang rentan terhadap penyalahgunaan wewenang dan dana. Mereka menduga adanya skema terstruktur untuk mengalihkan atau menyalahgunakan anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan anggota dan pembangunan desa. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kunci yang sering terabaikan dalam operasional koperasi ini, memicu kekhawatiran publik tentang nasib dana masyarakat.
Janji Pemberdayaan Ekonomi vs. Realita Anggaran Fantastis
KDMP berdiri dengan misi mulia: mengangkat perekonomian desa dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Namun, janji-janji tersebut kini dipertanyakan menyusul temuan anggaran miliaran rupiah yang dialokasikan untuk membayar jasa influencer. Penggunaan dana sebesar ini untuk promosi melalui individu-individu populer menimbulkan tanda tanya besar mengenai prioritas dan efektivitas pengelolaan dana koperasi. Para pengamat mempertanyakan relevansi dan urgensi pengeluaran tersebut dibandingkan dengan kebutuhan riil pengembangan usaha anggota koperasi atau program pemberdayaan ekonomi yang lebih langsung. Penyaluran dana yang tidak tepat sasaran ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi desa yang sebenarnya sangat bergantung pada pengelolaan dana yang bijaksana.
Beberapa poin mencurigakan yang terungkap dalam pengelolaan dana KDMP meliputi:
- Alokasi dana miliaran rupiah untuk pembayaran influencer tanpa kejelasan tujuan dan dampak.
- Ketidaktransparanan struktur dan besaran gaji yang diterima oleh pengurus koperasi.
- Adanya celah serius dalam tata kelola proses pengadaan barang dan jasa.
- Minimnya akuntabilitas terhadap penggunaan dana yang berasal dari anggota koperasi.
Gaji Pengurus Tak Pasti dan Celah Tata Kelola Pengadaan
Kontras mencolok terlihat antara anggaran fantastis untuk influencer dengan kondisi gaji pengurus koperasi yang dilaporkan tidak pasti. Ketidakjelasan mengenai remunerasi pengurus ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan etika, tetapi juga mengindikasikan kurangnya transparansi internal yang bisa menjadi celah bagi praktik koruptif. Lebih lanjut, lembaga riset menemukan bahwa sistem pengadaan barang dan jasa di KDMP memiliki banyak celah. Proses ini diduga tidak mengikuti prinsip-prinsip good governance seperti transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi, sehingga membuka peluang besar bagi praktik markup harga atau pengadaan fiktif. Kondisi ini sangat merugikan anggota koperasi dan menghambat potensi pertumbuhan ekonomi desa yang dijanjikan, sekaligus memupuk ketidakpercayaan.
Desakan Transparansi dan Penyelidikan Lanjut
Temuan kolaborasi BBC News Indonesia, KJI, dan KoMa ini mendesak otoritas terkait untuk segera melakukan audit forensik dan penyelidikan menyeluruh terhadap Koperasi Desa Merah Putih. Pegiat antikorupsi menyerukan agar transparansi penuh diterapkan dalam pengelolaan keuangan KDMP, termasuk rincian anggaran, daftar pengeluaran, serta struktur gaji pengurus dan karyawan. Kasus ini, yang mengingatkan pada sejumlah skandal penyelewengan dana masyarakat lainnya yang pernah kami laporkan sebelumnya, menggarisbawahi urgensi pengawasan ketat terhadap lembaga-lembaga yang mengelola dana publik atau masyarakat. Tanpa tindakan tegas, kepercayaan publik terhadap koperasi sebagai motor penggerak ekonomi rakyat akan semakin terkikis. Masyarakat menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan praktik korupsi ini untuk memulihkan integritas lembaga dan memastikan keadilan bagi semua anggota.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
