Connect with us

Internasional

Pascagempa, Ribuan Keluarga Venezuela Berjibaku Mencari Kerabat Hilang

Published

on

Pencarian Mandiri di Tengah Keterbatasan

Ribuan warga Venezuela kini dihadapkan pada kenyataan pahit pascagempa dahsyat yang melanda wilayah tersebut. Dengan hati yang hancur dan harapan yang menipis, mereka tanpa henti mencari kerabat dan orang terkasih yang hilang di tengah reruntuhan. Upaya pencarian ini sebagian besar dilakukan secara mandiri, didorong oleh dorongan putus asa karena belum adanya respons resmi yang memadai dari pihak berwenang. Keluarga-keluarga ini, dengan peralatan seadanya atau bahkan tangan kosong, menyisir area terdampak, menggali puing-puing, dan berharap menemukan jejak orang yang mereka cintai.

Kondisi di lapangan sangat memilukan. Banyak warga yang bertahan hidup harus menghadapi trauma mendalam akibat kehilangan rumah, harta benda, dan terutama anggota keluarga. Kekurangan alat berat, personel terlatih, serta koordinasi yang buruk membuat upaya pencarian menjadi sangat sulit dan berbahaya. Solidaritas komunitas menjadi tumpuan utama, di mana tetangga saling membantu, berbagi informasi, dan menyalurkan bantuan kecil yang mereka miliki. Namun, skala kehancuran yang masif membutuhkan respons terorganisir yang jauh lebih besar dari sekadar upaya lokal.

Peran Krusial Media Sosial

Dalam situasi darurat ini, media sosial telah menjelma menjadi alat vital bagi keluarga-keluarga yang mencari informasi. Platform seperti Twitter, Facebook, dan WhatsApp dipenuhi dengan unggahan foto orang hilang, lokasi terakhir yang diketahui, serta ajakan untuk berbagi informasi. Grup-grup khusus dibentuk untuk mengoordinasikan pencarian, menyebarkan daftar korban, dan bahkan mengorganisir bantuan sukarela.

  • Penyebaran Informasi Cepat: Keluarga membagikan foto dan detail orang hilang secara real-time, menjangkau audiens yang luas.
  • Koordinasi Pencarian: Relawan menggunakan platform ini untuk mengatur titik kumpul, membagi tugas, dan melaporkan temuan.
  • Minta Bantuan: Seruan mendesak untuk makanan, air, obat-obatan, dan alat berat seringkali dibagikan, terkadang menarik perhatian organisasi bantuan non-pemerintah.
  • Verifikasi Informasi: Meskipun berisiko menyebarkan hoaks, media sosial juga memungkinkan verifikasi silang informasi melalui jaringan pribadi yang luas.

Fenomena ini menyoroti bagaimana teknologi dapat mengisi kekosongan saat infrastruktur resmi kewalahan atau tidak berfungsi. Namun, ketergantungan pada media sosial juga memiliki keterbatasan, termasuk masalah akses internet, kebenaran informasi, dan kapasitas untuk mengolah data dalam jumlah besar secara efektif.

Desakan untuk Respons Resmi

Keterlambatan respons pemerintah telah memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan di kalangan masyarakat. Keluarga korban dan aktivis mendesak pihak berwenang untuk segera mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) profesional, menyediakan alat berat, dan membangun posko darurat yang terpusat. Waktu adalah elemen krusial dalam operasi penyelamatan korban gempa, di mana setiap jam yang terbuang dapat mengurangi peluang untuk menemukan penyintas.

Para ahli bencana menyoroti pentingnya kecepatan dalam 72 jam pertama pascagempa, yang dikenal sebagai ‘golden hour’ penyelamatan. Namun, dalam kasus ini, jam-jam berharga tersebut telah berlalu tanpa respons yang signifikan. Situasi ini mengingatkan pada tantangan yang dihadapi dalam operasi kemanusiaan skala besar di berbagai belahan dunia, di mana birokrasi, keterbatasan sumber daya, dan kondisi geografis dapat menghambat bantuan.

Dampak Psikologis dan Sosial

Selain kehancuran fisik, dampak psikologis dan sosial dari bencana gempa ini sangat mendalam. Rasa cemas, ketakutan, dan duka yang mendalam akan menghantui para penyintas dan keluarga korban selama bertahun-tahun. Banyak anak-anak kehilangan orang tua, dan orang tua kehilangan anak-anak mereka, menciptakan luka emosional yang sulit disembuhkan. Trauma ini memerlukan dukungan psikososial yang komprehensif, namun ketersediaan layanan tersebut di wilayah terdampak seringkali sangat terbatas.

Krisis ini juga memperburuk ketegangan sosial dan ekonomi yang mungkin sudah ada sebelumnya. Infrastruktur yang rusak parah akan menghambat pemulihan ekonomi, dan tekanan untuk membangun kembali kehidupan dari nol akan menjadi beban berat bagi jutaan orang. Organisasi kemanusiaan telah memperingatkan tentang potensi krisis kesehatan dan kelaparan jika bantuan tidak segera disalurkan secara efektif.

Pelajaran dari Bencana Sebelumnya

Tragedi ini sekali lagi menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan bencana yang kuat dan sistem respons darurat yang efektif. Mengacu pada kejadian serupa seperti gempa besar di Haiti pada tahun 2010 atau gempa Turki-Suriah awal tahun 2023, kecepatan dan koordinasi adalah kunci. Artikel-artikel lama yang mengulas respons terhadap bencana tersebut seringkali menyoroti perlunya:

  • Protokol Tanggap Darurat yang Jelas: Untuk memastikan semua pihak mengetahui peran dan tanggung jawabnya.
  • Investasi pada Infrastruktur Tahan Gempa: Mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa di masa mendatang.
  • Pendidikan dan Pelatihan Komunitas: Memberdayakan warga untuk merespons bencana secara mandiri sebelum bantuan tiba.
  • Kerja Sama Internasional: Mempercepat aliran bantuan dan keahlian dari negara-negara lain.

Tanpa intervensi yang cepat dan terkoordinasi, upaya putus asa keluarga Venezuela untuk menemukan orang yang mereka cintai akan terus menjadi simbol tragedi kemanusiaan di tengah krisis yang tak kunjung usai. Desakan untuk respons yang lebih baik bukan hanya sekadar permintaan, melainkan jeritan hati yang menuntut perhatian dan tindakan segera.

Internasional

Regulator Pakistan Bekukan Izin Siar Geo News Terkait Konten Muharram Kontroversial

Published

on

Pakistan Electronic Media Regulatory Authority (PEMRA) secara tegas menangguhkan lisensi siaran televisi Geo News selama 15 hari. Keputusan ini diambil menyusul penayangan konten yang dianggap ‘ofensif’ dalam sebuah program yang menandai Muharram, salah satu periode paling sensitif dalam kalender Islam. Penangguhan ini sontak menyulut perdebatan sengit mengenai batas-batas kebebasan berekspresi media di Pakistan, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu keagamaan yang krusial.

Geo News, sebagai salah satu saluran berita swasta terbesar dan paling berpengaruh di Pakistan, tidak asing dengan kontroversi. Saluran ini dikenal memiliki sejarah panjang perselisihan dengan berbagai lembaga pemerintah dan militer, seringkali dituduh memberitakan secara bias atau bahkan anti-negara. Insiden terbaru ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Geo News dalam menjalankan operasionalnya, sekaligus menyoroti ketegangan abadi antara otoritas negara dan media independen di negara tersebut.

Dalam kasus ini, PEMRA, sebagai badan pengatur media di Pakistan, bertindak berdasarkan pengaduan atau pengawasan internal terhadap program Geo News yang berkaitan dengan Muharram. Periode Muharram, khususnya peringatan Asyura, memiliki makna mendalam bagi umat Muslim Syiah dan diwarnai dengan ritual serta narasi sejarah yang sangat dijunjung tinggi. Segala bentuk representasi atau komentar yang dianggap tidak menghormati atau memicu perpecahan sektarian dapat dengan cepat memicu reaksi keras dari berbagai kelompok masyarakat, membuat peliputan topik ini menjadi sangat menantang bagi media.

Latar Belakang Kontroversi dan Sensitivitas Muharram

Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam; ia adalah periode duka dan refleksi yang sangat dihormati, terutama oleh komunitas Muslim Syiah di seluruh dunia. Di Pakistan, sebuah negara dengan keragaman sektarian, peliputan dan diskusi seputar Muharram selalu diliputi sensitivitas tinggi. Sejarah Pakistan mencatat beberapa insiden kekerasan sektarian yang dipicu oleh interpretasi atau penggambaran isu-isu keagamaan yang dianggap provokatif. Oleh karena itu, setiap media yang menyiarkan konten terkait Muharram harus berjalan di atas tali tipis antara kebebasan berekspresi dan keharusan menjaga harmoni sosial.

  • Pentingnya Muharram: Muharram menandai tragedi Karbala, peristiwa yang memiliki nilai fundamental bagi identitas Syiah, mendorong ritual duka dan ekspresi kesedihan yang mendalam.
  • Potensi Konflik Sektarian: Pakistan rentan terhadap ketegangan sektarian, dan media seringkali menjadi medan pertempuran dalam narasi keagamaan, di mana konten ‘ofensif’ dapat memicu kemarahan publik.
  • Peran Media: Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan konten keagamaan secara akurat, hormat, dan tanpa memprovokasi, sebuah tugas yang menjadi semakin sulit dalam konteks politik dan sosial Pakistan.

Rekam Jejak Kontroversial Geo News dan Otoritas Media

Penangguhan Geo News ini bukanlah insiden pertama. Saluran ini memiliki riwayat panjang perseteruan dengan otoritas Pakistan, termasuk penangguhan atau pemblokiran siaran di masa lalu. Pada tahun 2014, misalnya, Geo News pernah ditangguhkan setelah dituduh merendahkan militer. Insiden-insiden seperti ini secara konsisten memicu kekhawatiran dari organisasi hak asasi manusia dan advokat kebebasan pers internasional tentang erosi kebebasan media di Pakistan.

Regulator media seperti PEMRA seringkali dituduh bertindak di bawah tekanan politik atau menggunakan kekuasaan mereka secara berlebihan untuk membungkam kritik. Di sisi lain, PEMRA berargumen bahwa mereka hanya menegakkan pedoman siaran yang ada untuk menjaga ketertiban umum dan mencegah penyebaran kebencian. Ketegangan ini mencerminkan dilema yang lebih besar dalam demokrasi yang sedang berkembang: bagaimana menyeimbangkan hak atas kebebasan berekspresi dengan kebutuhan akan stabilitas sosial dan perlindungan terhadap sentimen keagamaan yang rapuh.

  • Sejarah Ketegangan: Geo News sering berbenturan dengan pemerintah dan militer Pakistan, menghadapi tuduhan bias atau bahkan ‘anti-negara’.
  • Intervensi Regulator: PEMRA memiliki sejarah menggunakan kekuasaannya untuk menangguhkan atau mendenda saluran yang dianggap melanggar kode etik, memunculkan pertanyaan tentang independensi regulator.
  • Debat Kebebasan Pers: Kasus ini kembali menghidupkan diskusi tentang ruang lingkup kebebasan pers di Pakistan dan sejauh mana pemerintah dapat mengatur konten media tanpa dianggap membungkam kritik.

Implikasi dan Dampak Penangguhan

Penangguhan 15 hari ini tentu membawa konsekuensi signifikan bagi Geo News, baik dari segi finansial maupun reputasi. Kerugian pendapatan iklan selama dua minggu adalah pukulan telak, sementara dampak terhadap kredibilitas saluran di mata publik bisa jadi lebih lama. Lebih luas lagi, insiden ini mengirimkan pesan kuat kepada seluruh lanskap media Pakistan mengenai batasan-batasan dalam meliput isu-isu sensitif, khususnya yang berkaitan dengan agama.

Para jurnalis dan organisasi berita mungkin akan merasa tertekan untuk melakukan sensor diri (self-censorship) agar terhindar dari nasib serupa. Ini berpotensi mempersempit ruang diskusi publik yang kritis dan independen, yang sangat penting bagi kesehatan demokrasi. Sementara pihak berwenang berdalih melindungi sentimen keagamaan, para kritikus melihat tindakan ini sebagai upaya lebih lanjut untuk mengendalikan narasi dan membatasi perbedaan pendapat. Situasi ini menggarisbawahi tantangan kompleks yang dihadapi media di Pakistan, yang harus menavigasi medan penuh ranjau antara kebebasan berekspresi, tekanan politik, dan sensitivitas budaya-agama yang mendalam.

*Catatan: Informasi lebih lanjut mengenai otoritas dan fungsi PEMRA dapat diakses melalui portal resmi mereka.*

Continue Reading

Internasional

Tim Medis Venezuela Temukan Keheningan Pilu di Reruntuhan Gempa La Guaira

Published

on

Perjalanan Penuh Harapan yang Berujung Hampa

Menyusul laporan awal mengenai gempa dahsyat yang melanda pesisir Venezuela, sebuah tim medis elite bergerak cepat dari ibu kota Caracas. Misi mereka jelas: menjangkau La Guaira, salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dengan harapan menemukan dan menyelamatkan korban yang mungkin masih terperangkap di bawah reruntuhan. Dengan setiap detik berharga, para dokter, perawat, dan paramedis ini memikul beban harapan ribuan keluarga yang cemas. Namun, 12 jam kemudian, realitas pahit membungkam semangat mereka.

Perjalanan darat yang biasanya ditempuh dalam waktu singkat terasa jauh lebih panjang. Jalanan yang retak, puing-puing yang berserakan, dan pemandangan kehancuran yang semakin pekat di setiap kilometer menjadi pengingat mengerikan akan skala tragedi. Peralatan medis dan perlengkapan penyelamatan darurat menjadi prioritas utama yang mereka bawa, siap menghadapi skenario terburuk sekalipun. Tekad untuk menemukan tanda-tanda kehidupan membakar semangat mereka, meskipun bayangan kehancuran mulai mengikis optimisme.

Realitas Pilu di Jantung Zona Bencana

Saat tim tiba di La Guaira, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih buruk dari perkiraan. Kota yang dulunya ramai kini menjelma menjadi lautan puing. Bangunan-bangunan bertingkat runtuh total, menyisakan tumpukan beton, baja bengkok, dan debu tebal yang menyelimuti segalanya. Aroma debu dan kehancuran menusuk hidung, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dengan segera, tim medis memecah diri dan memulai pencarian sistematis di antara sisa-sisa bangunan. Mereka berteriak memanggil nama, mengetuk-ngetuk reruntuhan, dan menggunakan alat pendengar khusus untuk mendeteksi suara sekecil apa pun. Setiap celah di antara puing-puing disisir dengan cermat, setiap sisa bangunan diperiksa dengan teliti. Harapan tipis untuk mendengar rintihan atau tangisan korban menjadi pendorong utama di tengah keputusasaan yang mulai merayap.

"Kami datang dengan hati yang penuh harapan, siap untuk menyelamatkan. Namun yang kami temukan hanyalah keheningan. Keheningan yang memekakkan telinga, keheningan yang menghancurkan jiwa," ujar salah seorang dokter dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan kepedihan yang mendalam.

Keheningan yang Memekakkan Telinga

Jam demi jam berlalu. Matahari terbit dan terbenam, menandai berakhirnya 12 jam pencarian intens. Tim medis tidak menemukan satu pun tanda kehidupan. Tidak ada suara, tidak ada respons, tidak ada korban yang berhasil dievakuasi hidup-hidup. Yang mereka temukan hanyalah kehampaan, sisa-sisa kehidupan yang terenggut seketika, dan duka yang membeku dalam puing-puing.

Kesunyian yang mereka dapati bukan hanya sekadar absennya suara, melainkan cerminan dari tragedi yang tak terucapkan. Ini adalah bukti bisu dari dampak mematikan gempa, yang kemungkinan besar telah merenggut nyawa banyak warga La Guaira dalam sekejap. Para penyelamat, yang sebelumnya penuh energi dan tekad, kini hanya bisa berdiri terpaku, memandang reruntuhan dengan tatapan kosong, hati mereka hancur.

Beban Emosional dan Tantangan Pasca-Bencana

Pengalaman menemukan keheningan di tengah kehancuran ini meninggalkan beban emosional yang mendalam bagi setiap anggota tim medis. Misi penyelamatan yang diharapkan heroik berubah menjadi konfrontasi langsung dengan realitas kematian massal. Para profesional kesehatan, yang terbiasa menyelamatkan nyawa, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dalam bencana sebesar ini, upaya terbaik pun bisa berujung pada kegagalan.

  • Dampak Psikologis: Banyak tim penyelamat akan membutuhkan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma ini.
  • Fokus Beralih: Upaya kini harus beralih dari pencarian korban hidup menjadi evakuasi jenazah dan penanganan krisis kemanusiaan yang lebih luas, termasuk penyediaan tempat tinggal sementara, makanan, dan air bersih bagi para penyintas.
  • Evaluasi Kesiapan Bencana: Insiden ini juga memunculkan pertanyaan penting tentang kesiapan infrastruktur dan respons darurat Venezuela dalam menghadapi bencana alam berskala besar.

Meskipun pencarian korban hidup telah berakhir, pekerjaan di La Guaira baru saja dimulai. Masyarakat internasional dan pemerintah Venezuela harus bersinergi untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan mendukung proses pemulihan jangka panjang bagi mereka yang kehilangan segalanya. Keheningan pilu di reruntuhan La Guaira menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerapuhan hidup dan urgensi solidaritas di hadapan bencana alam.

Continue Reading

Internasional

Pelarian Dramatis Aktivis Tiongkok Dong Guangping Berakhir di Kanada Setelah Dekade Perjuangan

Published

on

Seorang aktivis terkemuka asal Tiongkok, Dong Guangping, akhirnya menginjakkan kaki di Toronto pada Jumat, setelah lebih dari satu dekade upaya pelarian yang gagal dari negaranya. Kedatangan Dong menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang dan berbahaya, yang menyoroti perjuangan gigih para pembela hak asasi manusia yang berani menentang rezim otoriter.

Dong Guangping, yang dikenal sebagai salah satu suara kritis terhadap pemerintahan Beijing, menceritakan kembali detil-detil pelariannya yang dramatis, termasuk perjalanannya melalui laut menuju Korea Selatan bulan lalu. Kisahnya bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah epik tentang pencarian kebebasan dan keamanan yang mengorbankan segalanya.

Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan dan Suaka

Pelarian Dong Guangping adalah narasi yang kompleks, terjalin dengan penangkapan, pengawasan ketat, dan berbagai upaya yang gagal selama bertahun-tahun. Sebagai seorang veteran aktivis, Dong telah lama menjadi target pihak berwenang Tiongkok karena advokasinya terhadap demokrasi, kebebasan berbicara, dan hak asasi manusia. Penahanannya di masa lalu, termasuk hukuman penjara, adalah bukti nyata dari tekanan yang dihadapinya. Perjalanannya ke Korea Selatan melalui jalur laut merupakan indikasi betapa sulitnya menemukan jalan keluar dari Tiongkok bagi para disiden, yang seringkali harus menempuh cara-cara yang penuh risiko dan tidak konvensional untuk menghindari deteksi.

“Perjalanan ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang harapan bagi banyak orang lain yang masih berjuang di Tiongkok,” ujar Dong dalam sebuah wawancara setibanya di Kanada. Pernyataannya menggarisbawahi dampak kasus-kasus seperti dirinya terhadap komunitas disiden yang lebih luas, memberikan inspirasi dan harapan di tengah penindasan yang terus-menerus. Pilihan rute laut ke Korea Selatan menunjukkan strategi yang matang dan berisiko, mengingat pengawasan ketat di perbatasan darat Tiongkok. Langkah ini sering menjadi pilihan terakhir bagi mereka yang putus asa mencari jalan keluar, menyoroti tantangan besar dalam upaya melarikan diri dari sistem yang ketat.

Sebelumnya, pada tahun 2015, Dong Guangping bersama aktivis Tiongkok lainnya, Jiang Yefei, sempat dideportasi dari Thailand kembali ke Tiongkok, sebuah peristiwa yang memicu kecaman internasional. Insiden tersebut menjadi pengingat pahit akan bahaya yang dihadapi para disiden bahkan ketika mereka telah berhasil meninggalkan Tiongkok, menunjukkan jangkauan panjang pengaruh Beijing terhadap negara-negara tetangga. Kisah pelarian yang berulang kali gagal ini menambah bobot pada keberhasilannya mencapai Kanada kali ini, mengubahnya dari sekadar berita menjadi narasi perjuangan panjang dan ketekunan yang luar biasa.

Kanada sebagai Harapan Baru dan Komitmen Internasional

Kedatangan Dong Guangping di Kanada menggarisbawahi komitmen negara tersebut untuk melindungi hak asasi manusia dan memberikan suaka bagi mereka yang terancam. Kanada telah lama dikenal sebagai tujuan bagi para pencari suaka politik, dan kasus Dong memperkuat citra tersebut. Keputusannya untuk menerima Dong mengirimkan pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Kanada berdiri teguh pada prinsip-prinsip kebebasan dan keadilan. Penerimaan suaka ini bukan hanya penyelamat bagi individu Dong Guangping, tetapi juga simbol dukungan terhadap perjuangan global melawan penindasan politik.

Perlindungan yang diberikan Kanada kepada Dong juga dapat dilihat sebagai respons terhadap situasi hak asasi manusia yang memburuk di Tiongkok, di mana para kritikus dan aktivis terus menghadapi penangkapan, penahanan, dan pengawasan. Kasus ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut mengenai tanggung jawab internasional untuk melindungi para disiden dan peran negara-negara Barat dalam menekan Tiongkok agar mematuhi norma-norma hak asasi manusia universal. Ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara organisasi hak asasi manusia dan pemerintah dapat menghasilkan dampak nyata dalam menyelamatkan nyawa dan masa depan individu yang terancam.

Refleksi Kasus Dong Guangping: Suara untuk Perubahan

Kisah Dong Guangping adalah lebih dari sekadar berita pelarian seorang aktivis; ini adalah cerminan dari tantangan global yang dihadapi oleh kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Keberhasilannya mencapai Kanada bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga kemenangan simbolis bagi semua yang percaya pada keadilan dan martabat manusia. Kasus ini menambah daftar panjang aktivis Tiongkok yang harus mencari perlindungan di luar negeri, menggambarkan pola sistematis penindasan terhadap perbedaan pendapat di dalam negeri. Pemerintah Tiongkok seringkali menggunakan berbagai cara untuk membungkam kritik, mulai dari penahanan formal hingga penghilangan paksa.

Poin-poin penting dalam kasus Dong Guangping meliputi:

  • Sebagai aktivis veteran, Dong telah bertahun-tahun mengadvokasi demokrasi dan hak asasi manusia di Tiongkok.
  • Pelarian multi-tahap yang melibatkan jalur laut ke Korea Selatan setelah puluhan tahun upaya yang gagal.
  • Kasusnya menyoroti risiko dan tantangan yang dihadapi oleh para disiden Tiongkok dalam mencari kebebasan.
  • Kanada memberikan suaka, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan hak asasi manusia.
  • Kisah ini menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi komunitas hak asasi manusia global.

Peristiwa ini diharapkan dapat mendorong perhatian lebih luas terhadap situasi hak asasi manusia di Tiongkok dan mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan lebih konkret dalam mendukung para pembela kebebasan. Bagi Dong Guangping, babak baru telah dimulai, namun perjuangan untuk kebebasan di tanah airnya masih jauh dari usai. Kisahnya adalah pengingat penting bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup bebas dari penindasan dan untuk menyuarakan kebenaran, terlepas dari risikonya. (Human Rights Watch mengulas lebih lanjut tentang hak asasi manusia di Tiongkok)

Continue Reading

Trending