Pemerintah
Bangkok Berbenah: Revitalisasi Urban Menciptakan Ruang Publik Inovatif, Namun Siapa yang Untung?
BANGKOK – Transformasi wajah kota tengah terjadi, mengubah lanskap urban secara signifikan. Jalanan kini menjadi lebih ramah pejalan kaki, trotoar mengalami peningkatan kualitas, dan kawasan ‘high street’ mulai merebut kembali popularitasnya dari dominasi pusat perbelanjaan tertutup yang masif. Ruang publik, di tengah gempuran modernisasi, bertransformasi menjadi area yang menawarkan pengalaman, interaksi sosial, dan kreativitas. Namun, di balik narasi optimisme ini, muncul pertanyaan krusial: apakah revitalisasi urban yang ambisius ini benar-benar inklusif, ataukah hanya menciptakan citra kota yang lebih menarik tanpa menyentuh akar permasalahan?
Transformasi Ruang Publik: Antara Kemudahan dan Eksklusivitas
Inisiatif pemerintah daerah dan pengembang swasta telah mendorong perubahan drastis di pusat-pusat kota. Upaya memperluas dan memperbaiki trotoar bertujuan untuk meningkatkan mobilitas dan kenyamanan pejalan kaki, sebuah langkah positif dalam mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Bersamaan dengan itu, kebangkitan ‘high street’ – area perbelanjaan terbuka dengan deretan toko, kafe, dan restoran – menandai pergeseran preferensi konsumen. Mereka mencari pengalaman yang lebih autentik dan interaktif dibandingkan lingkungan steril mal.
Ruang publik yang baru ini dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar tempat lewat. Mereka menjadi pusat kegiatan sosial, lokasi untuk acara budaya, dan wadah bagi ekspresi artistik. Konsep ‘green spaces’ (ruang hijau), integrasi budaya lokal, dan ‘smart living’ (kehidupan cerdas) sering digaungkan sebagai pilar utama pembangunan ini. Namun, implementasi ketiga pilar tersebut memunculkan dilema tersendiri:
- Ruang Hijau: Apakah area hijau yang diciptakan benar-benar terbuka dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, ataukah lebih berfungsi sebagai ornamen estetis untuk menarik investasi dan wisatawan?
- Integrasi Budaya: Sejauh mana budaya lokal dipertahankan dan dihargai, bukan sekadar dikomodifikasi untuk tujuan pariwisata, yang berpotensi mengikis keasliannya?
- Smart Living: Konsep ‘kota cerdas’ seringkali berfokus pada teknologi canggih. Namun, apakah inovasi ini benar-benar meningkatkan kualitas hidup warga secara merata, ataukah justru memperlebar jurang digital dan sosial?
Fenomena ini bukan hal baru; kota-kota besar di Asia Tenggara sering menghadapi dilema serupa antara modernisasi dan mempertahankan identitas lokal, seperti yang pernah kami ulas dalam artikel mengenai dampak pembangunan infrastruktur di kawasan urban.
Dilema Revitalisasi: Membangun Citra atau Mengatasi Masalah Akar?
Meskipun upaya revitalisasi ini membawa dampak positif dalam menciptakan lingkungan kota yang lebih menarik dan fungsional, analisis kritis menunjukkan bahwa terdapat tantangan mendasar yang harus diatasi. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi gentrifikasi. Saat sebuah area direvitalisasi dan menjadi lebih menarik, harga properti dan biaya hidup cenderung meningkat tajam. Hal ini seringkali memaksa penduduk asli atau pedagang kecil untuk pindah karena tidak mampu lagi bertahan, menghilangkan keberagaman sosial dan ekonomi yang menjadi ciri khas kota tersebut.
Pemerintah dan para perencana kota perlu memastikan bahwa visi ‘smart living’ tidak hanya berfokus pada estetika dan teknologi, tetapi juga pada solusi inklusif untuk masalah-masalah kronis seperti kemacetan, polusi udara, pengelolaan sampah, serta penyediaan perumahan yang terjangkau. Kebijakan yang tidak mempertimbangkan dampak sosial ini dapat menciptakan kota yang cantik di permukaan, namun menyimpan ketimpangan yang lebih dalam di bawahnya. Revitalisasi harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup seluruh warga, bukan hanya segmen tertentu atau demi daya tarik pariwisata semata. Tanpa pendekatan yang holistik dan partisipatif, upaya ini berisiko menjadi sekadar kosmetik, gagal menyelesaikan tantangan fundamental pembangunan urban berkelanjutan.
Untuk memahami lebih lanjut tentang tantangan pembangunan kota di Asia Tenggara, Anda bisa membaca ulasan terkait ketahanan dan keberlanjutan kota di ASEAN.
Pemerintah
Janji Kekerasan dalam Politik Modern: Membangun Konsensus ala Fasisme Akhir
Strategi Politik: Ketika Janji Kekerasan Membentuk Konsensus Publik
Dalam lanskap politik yang semakin terfragmentasi, sebuah observasi tajam dari Alberto Toscano, seorang pemikir terkemuka, menyoroti taktik yang mengkhawatirkan: upaya untuk mendapatkan konsensus populer, memenangkan pemilu, atau membentuk koalisi politik melalui janji penggunaan kekuatan terhadap populasi target tertentu. Fenomena ini, yang secara kritis dikaitkan dengan konteks fasisme akhir dan pemikiran Antonio Gramsci, mengungkap sisi gelap pembentukan dukungan publik yang patut dicermati.
Toscano menggambarkan strategi ini sebagai „gagasan bahwa Anda mencoba mendapatkan konsensus populer, Anda mencoba memenangkan pemilu, Anda mencoba menciptakan koalisi dengan menjanjikan tingkat kekuatan tertentu yang diterapkan terhadap populasi target.” Pernyataan ini bukan sekadar observasi historis, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana dinamika kekuasaan dan propaganda dapat beroperasi di era modern. Ini menunjukkan bahwa daya tarik politik tidak selalu berasal dari visi inklusif atau program pembangunan, melainkan dari narasi yang mengidentifikasi musuh bersama dan menjanjikan ‘solusi’ yang melibatkan penindasan.
Akar Ideologi: Fasisme Akhir dan Hegemoni Gramsci
Untuk memahami kedalaman pernyataan Toscano, kita perlu menelusuri akarnya pada periode fasisme akhir dan teori hegemoni Gramsci. Fasisme, terutama di fase akhirnya, tidak selalu mengandalkan teror terbuka sebagai satu-satunya alat kontrol. Sebaliknya, ia sering berevolusi menjadi bentuk yang lebih canggih, di mana ancaman atau janji kekerasan menjadi instrumen untuk membentuk persetujuan atau konsensus di kalangan mayoritas.
- Fasisme Akhir: Ini adalah fase di mana rezim fasis telah mengkonsolidasikan kekuasaan dan mungkin mengurangi kekerasan fisik langsung. Namun, memori kekerasan dan potensi ancaman tetap menjadi alat ampuh. Janji untuk ‘menertibkan’ atau ‘membersihkan’ elemen-elemen yang dianggap merusak masyarakat menjadi daya tarik bagi sebagian massa yang mendambakan stabilitas atau keamanan, bahkan jika itu berarti mengorbankan hak-hak minoritas.
- Hegemoni Gramsci: Antonio Gramsci, pemikir Marxis Italia, berargumen bahwa kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui paksaan (dominasi) tetapi juga melalui persetujuan (hegemoni). Hegemoni terjadi ketika kelas penguasa berhasil membuat nilai-nilai, ideologi, dan norma-normanya diterima secara luas sebagai ‘akal sehat’ oleh masyarakat, bahkan oleh mereka yang sebenarnya dirugikan. Dalam konteks yang dijelaskan Toscano, janji kekerasan menjadi bagian dari alat ideologis yang membangun ‘persetujuan’ tersebut. Masyarakat ‘menyetujui’ atau ‘mendukung’ penggunaan kekuatan karena mereka diyakinkan bahwa hal itu demi kebaikan bersama, keamanan, atau untuk mengatasi ancaman yang dibuat-buat.
Dengan demikian, janji kekerasan bukan lagi sekadar alat represi, tetapi telah bermetamorfosis menjadi strategi persuasif yang memanipulasi keinginan publik untuk keamanan dan ketertiban. Kekuatan yang diancamkan menjadi fundamental dalam membentuk norma-norma sosial dan politik yang menguntungkan rezim atau partai tertentu.
Mekanisme Pembentukan Konsensus melalui Ancaman
Bagaimana tepatnya janji kekerasan ini bekerja dalam praktik politik untuk mendapatkan dukungan? Mekanismenya kompleks dan berlapis, seringkali memanfaatkan ketakutan dan prasangka yang sudah ada di masyarakat:
- Identifikasi ‘Musuh’ Bersama: Langkah pertama adalah mengidentifikasi atau menciptakan ‘populasi target’ atau ‘musuh’ yang dapat disalahkan atas masalah-masalah sosial atau ekonomi. Ini bisa berupa kelompok etnis, agama, imigran, atau ideologi politik yang berbeda. Dengan menargetkan musuh, politisi menciptakan rasa ‘kita melawan mereka’ yang menggalang dukungan dari ‘kita’.
- Janji Perlindungan dan Orde: Bagi populasi mayoritas atau pendukung, janji penggunaan kekuatan terhadap ‘musuh’ ini diartikan sebagai janji perlindungan, keamanan, dan pemulihan ketertiban. Hal ini memberikan rasa aman yang semu, menciptakan ilusi bahwa masalah akan selesai jika ‘musuh’ tersebut ditangani secara tegas.
- Retorika Populis dan Polarisasi: Retorika populis seringkali membesar-besarkan ancaman dari populasi target, menyederhanakan masalah kompleks, dan menawarkan solusi yang mudah namun represif. Ini memicu polarisasi ekstrem, di mana kompromi atau dialog menjadi mustahil, dan dukungan terhadap pemimpin yang menjanjikan kekuatan menjadi satu-satunya pilihan ‘patriotik’.
- Pemanfaatan Ketidakpuasan: Dalam kondisi ketidakpuasan sosial, ekonomi, atau politik yang meluas, janji kekerasan terhadap ‘musuh’ bisa menjadi katarsis bagi kemarahan publik, mengalihkannya dari kegagalan pemerintah kepada ‘penyebab eksternal’.
Dinamika ini menjelaskan bagaimana, alih-alih membangun konsensus berdasarkan nilai-nilai demokrasi universal, pemimpin justru dapat memanipulasi ketakutan untuk memperkuat basis dukungan mereka, sebuah taktik yang sangat berbahaya bagi kesehatan demokrasi.
Implikasi dalam Politik Modern dan Kewaspadaan Demokrasi
Analisis Toscano bukan hanya rekam jejak sejarah, melainkan juga peringatan keras bagi politik kontemporer. Fenomena serupa dapat terlihat dalam berbagai bentuk retorika politik di seluruh dunia, di mana politisi memanfaatkan sentimen anti-imigran, nasionalisme ekstrem, atau intoleransi agama untuk menggalang dukungan elektoral. Mereka menjanjikan ‘ketegasan’ terhadap kelompok-kelompok tertentu, seringkali dibingkai sebagai upaya menjaga ‘identitas nasional’ atau ‘nilai-nilai moral’.
Sebagaimana sering kita diskusikan dalam konteks polarisasi politik yang semakin tajam, strategi semacam ini mengikis fondasi demokrasi. Ia merusak dialog, memupuk kebencian, dan pada akhirnya dapat mengarah pada tindakan represif yang sesungguhnya. Janji kekerasan, meskipun mungkin tidak selalu terwujud dalam skala besar, menciptakan iklim di mana marginalisasi dan dehumanisasi kelompok minoritas menjadi dapat diterima secara sosial dan politik.
Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap jenis retorika dan strategi politik ini menjadi sangat penting. Publik, media, dan institusi demokrasi harus mampu mengidentifikasi dan menolak upaya manipulasi konsensus yang didasarkan pada janji kekerasan. Memahami bagaimana kekuasaan dapat diperoleh dan dipertahankan melalui alat-alat semacam itu adalah langkah pertama dalam membentengi demokrasi dari erosi otoriter.
Untuk eksplorasi lebih lanjut tentang konsep hegemoni Gramsci, silakan kunjungi Stanford Encyclopedia of Philosophy tentang Gramsci.
Pemerintah
Presiden Prabowo Puji Sukses Penyelenggaraan Haji 2026: Apresiasi Kinerja Lintas Lembaga
Presiden Prabowo Puji Sukses Penyelenggaraan Haji 2026: Apresiasi Kinerja Lintas Lembaga
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara langsung menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi aktif dalam menjamin kelancaran dan kesuksesan ibadah haji tahun 2026. Penyelenggaraan haji tahun ini dinilai berjalan optimal berkat sinergi berbagai elemen pemerintah dan pengawas. Apresiasi tersebut diutarakan Presiden Prabowo kepada pimpinan Komisi VIII DPR RI, Tim Pengawas Haji, serta jajaran Kementerian Haji dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 17 Juni 2026.
Keberhasilan pelaksanaan ibadah haji 2026, yang melibatkan jutaan jemaah dari seluruh dunia, menjadi sebuah indikator penting bagi kapasitas Indonesia dalam mengelola salah satu agenda keagamaan terbesar. Presiden Prabowo menekankan bahwa sukses ini tidak lepas dari perencanaan matang, implementasi yang efisien, serta pengawasan ketat yang dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait. Pertemuan di Hambalang tersebut menjadi ajang refleksi dan evaluasi, sekaligus momentum bagi kepala negara untuk mengapresiasi kerja keras para pemangku kepentingan.
Pilar Utama Penyelenggaraan Haji 2026
Komisi VIII DPR RI, sebagai mitra kerja pemerintah dalam urusan agama, memainkan peran krusial dalam perumusan kebijakan, pengawasan anggaran, dan memastikan hak-hak jemaah terpenuhi. Mereka secara aktif terlibat dalam pembahasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) dan memastikan alokasi dana tepat sasaran. Sementara itu, Tim Pengawas Haji, yang merupakan perpanjangan tangan pengawasan dari parlemen dan masyarakat, secara independen memantau setiap tahapan operasional haji, mulai dari pendaftaran, manasik, keberangkatan, selama di Tanah Suci, hingga kepulangan jemaah ke Tanah Air. Kehadiran tim ini menjamin transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan.
Di sisi operasional, jajaran Kementerian Haji (sebelumnya Kementerian Agama) memikul tanggung jawab besar dalam koordinasi dengan otoritas Saudi Arabia, penyediaan akomodasi, transportasi, katering, layanan kesehatan, serta bimbingan ibadah. Mereka mengelola logistik kompleks untuk puluhan ribu jemaah Indonesia setiap tahun. Keberhasilan dalam meminimalkan keluhan jemaah, efisiensi waktu tunggu, serta peningkatan fasilitas di Tanah Suci menjadi sorotan utama yang mendapatkan pujian dari Presiden.
Beberapa poin penting yang disoroti dalam penyelenggaraan haji 2026 meliputi:
- Efisiensi Proses Administrasi: Penggunaan sistem digital yang lebih terintegrasi mempercepat proses pendaftaran, visa, dan manasik, meminimalkan birokrasi yang memakan waktu.
- Peningkatan Kualitas Layanan Akomodasi: Jemaah merasakan peningkatan kualitas penginapan, baik di Makkah maupun Madinah, dengan lokasi yang lebih strategis dan fasilitas yang lebih memadai.
- Fokus pada Kesehatan Jemaah: Tim medis yang lebih banyak dan fasilitas kesehatan yang diperkuat, termasuk klinik dan dokter spesialis, sigap menangani kebutuhan kesehatan jemaah.
- Koordinasi Transportasi yang Lancar: Pengelolaan jadwal penerbangan dan pergerakan bus antar kota suci berjalan lebih tertib dan tepat waktu, mengurangi kelelahan jemaah.
- Respons Cepat atas Kendala: Adanya kanal pengaduan dan tim reaksi cepat yang responsif terhadap setiap permasalahan atau keluhan jemaah.
Komitmen Berkelanjutan dan Harapan ke Depan
Penyelenggaraan ibadah haji selalu menjadi tantangan besar bagi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia seperti Indonesia. Setiap tahun, pemerintah dihadapkan pada dinamika dan harapan yang terus meningkat dari masyarakat. Suksesnya haji 2026 ini menunjukkan komitmen berkelanjutan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan, sebuah upaya yang telah terlihat dari tahun-tahun sebelumnya dalam mengatasi berbagai kendala, seperti antrean panjang dan terbatasnya kuota. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk mewujudkan pelayanan publik yang prima dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi fondasi kuat untuk perbaikan di masa mendatang. Pemerintah akan terus mengkaji dan mengadopsi inovasi teknologi serta praktik terbaik dari negara lain untuk menyempurnakan sistem manajemen haji. Komitmen ini tidak hanya terbatas pada aspek operasional, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam pelayanan haji, memastikan mereka memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. Kunjungi situs resmi Kementerian Agama untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan dan layanan haji.
Dengan adanya apresiasi langsung dari Kepala Negara, diharapkan seluruh pihak terkait semakin termotivasi untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan standar pelayanan haji di tahun-tahun berikutnya. Fokus utama adalah untuk memastikan setiap jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadahnya dengan khusyuk, aman, dan nyaman, sekaligus membawa nama baik bangsa di mata internasional.
Pemerintah
Kontroversi Proyek Paspor AI 1,6 Miliar Baht Thailand Ancam Mosi Tidak Percaya
Kontroversi Proyek Paspor TH-AI Mengancam Pemerintah Thailand
Proyek Paspor TH-AI senilai 1,6 miliar baht atau setara sekitar Rp700 miliar (dengan asumsi kurs sekitar Rp430 per baht) yang digagas pemerintah Thailand kini menghadapi sorotan tajam dan berpotensi menjadi fokus utama dalam perdebatan mosi tidak percaya. Partai Rakyat, salah satu partai oposisi terkemuka, secara terbuka menyatakan kecurigaan serius terhadap proyek berskala besar ini, menuding adanya pola ketidakberesan serupa dengan proyek-proyek lain yang berada di bawah pengawasan Partai Bhumjaithai.
Kecurigaan ini muncul sebagai pukulan telak bagi kredibilitas pemerintah koalisi, khususnya bagi menteri-menteri dari Partai Bhumjaithai yang bertanggung jawab atas implementasi proyek tersebut. Partai Rakyat menuntut transparansi penuh dan akuntabilitas atas penggunaan anggaran publik yang signifikan ini, menegaskan bahwa ketidakjelasan dalam proyek paspor berbasis kecerdasan buatan (AI) ini bisa menjadi bumerang politik yang serius.
Dugaan Pola Ketidakberesan dan Keterlibatan Partai Bhumjaithai
Partai Rakyat menggarisbawahi kekhawatiran mendalamnya mengenai efisiensi dan transparansi proyek Paspor TH-AI. Mereka menyatakan bahwa proyek senilai 1,6 miliar baht ini menampilkan ciri-ciri yang sangat mirip dengan proyek-proyek pemerintah sebelumnya yang dikelola oleh Partai Bhumjaithai. Pola ini, menurut Partai Rakyat, seringkali melibatkan dugaan pembengkakan biaya, kurangnya akuntabilitas yang jelas, dan proses pengadaan barang atau jasa yang dipertanyakan.
- Pembengkakan Biaya: Terdapat indikasi bahwa anggaran yang dialokasikan mungkin tidak sebanding dengan output atau teknologi yang dijanjikan.
- Kurangnya Transparansi: Proses tender dan detail pengeluaran proyek disebut-sebut kurang terbuka untuk pengawasan publik.
- Pengawasan Bhumjaithai: Partai oposisi secara spesifik menargetkan kementerian atau lembaga yang berada di bawah kendali Partai Bhumjaithai sebagai pihak yang bertanggung jawab atas dugaan ketidakberesan ini.
Isu ini bukan kali pertama dilayangkan terhadap proyek-proyek yang berada di bawah pengawasan Partai Bhumjaithai, menggemakan kembali kritik serupa pada program-program infrastruktur atau pengadaan barang publik sebelumnya. Sejarah menunjukkan bahwa tuduhan semacam ini seringkali memerlukan penyelidikan mendalam untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan integritas tata kelola pemerintahan.
Ancaman Mosi Tidak Percaya dan Implikasinya
Ancaman mosi tidak percaya yang dilontarkan oleh Partai Rakyat menempatkan tekanan politik yang sangat besar pada pemerintahan saat ini. Mosi tidak percaya adalah mekanisme parlementer yang memungkinkan oposisi untuk menguji dukungan parlemen terhadap kabinet atau menteri tertentu. Jika disetujui, mosi ini dapat memicu perdebatan sengit di dalam parlemen dan berpotensi menggoyahkan stabilitas kabinet, bahkan bisa berujung pada pengunduran diri menteri terkait atau seluruh pemerintahan.
Partai Rakyat menuntut klarifikasi yang rinci dan komprehensif dari pemerintah mengenai sejumlah aspek kunci proyek Paspor TH-AI, termasuk:
- Alokasi anggaran secara spesifik.
- Jenis teknologi AI yang akan diimplementasikan dan manfaatnya.
- Proses tender dan pemilihan vendor yang terlibat.
- Metrik keberhasilan dan mekanisme pengawasan proyek.
Pemerintah diharapkan segera memberikan respons yang meyakinkan untuk menangkis tuduhan ini dan meyakinkan publik tentang integritas serta transparansi proyek. Kegagalan untuk memberikan jawaban yang memuaskan dapat memperkuat argumen oposisi dan meningkatkan peluang mosi tidak percaya untuk diterima.
Urgensi Transparansi dalam Proyek Publik Skala Besar
Proyek Paspor TH-AI, yang seharusnya menjadi inovasi dalam peningkatan keamanan dan efisiensi layanan publik melalui teknologi AI, kini terancam oleh awan kecurigaan. Penting bagi setiap proyek publik berskala besar, apalagi yang melibatkan anggaran miliaran baht, untuk menjalani audit ketat dan menjunjung tinggi transparansi penuh. Ini adalah kunci untuk mencegah potensi penyalahgunaan anggaran dan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap inisiatif pemerintah.
Para analis politik memprediksi bahwa isu proyek Paspor TH-AI ini akan mendominasi agenda politik nasional dalam beberapa minggu ke depan, terutama menjelang sesi parlemen berikutnya. Bagaimana pemerintah menangani krisis kepercayaan ini akan menjadi indikator penting bagi stabilitas politik dan komitmennya terhadap tata kelola yang baik. Pembaca dapat meninjau kembali laporan kami sebelumnya mengenai pentingnya pengawasan proyek pemerintah untuk mencegah kerugian negara, yang relevan dengan kasus ini.
-
Daerah2 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah3 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah3 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga3 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
