Daerah
RSUD Bobong: Tonggak Pemerataan Layanan Kesehatan di Kepulauan Taliabu
RSUD Bobong: Tonggak Strategis Pemerataan Layanan Kesehatan di Kepulauan Taliabu
Pemerataan akses dan kualitas layanan kesehatan di wilayah kepulauan Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Keterbatasan fasilitas, infrastruktur yang belum memadai, serta jarak geografis yang jauh kerap menjadi kendala utama. Namun, harapan baru kini menyala di Kabupaten Kepulauan Taliabu, Maluku Utara, dengan rampungnya pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bobong. Langkah strategis ini diapresiasi luas, termasuk oleh pengamat pembangunan daerah, Dody Toisuta, yang menilai RSUD Bobong akan menjadi fondasi vital dalam mempersempit kesenjangan layanan kesehatan.
Pembangunan RSUD ini bukan sekadar tambahan gedung, melainkan sebuah manifestasi komitmen pemerintah daerah dan pusat untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat Taliabu. Selama ini, warga Kepulauan Taliabu seringkali harus menempuh perjalanan laut yang panjang dan berisiko tinggi untuk mendapatkan perawatan medis yang layak, bahkan untuk kasus-kasus darurat. Situasi ini, sebagaimana pernah disorot dalam program-program pemerataan kesehatan nasional, adalah cerminan nyata dari tantangan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia.
Menjawab Tantangan Akses Kesehatan di Wilayah Kepulauan
Kepulauan Taliabu, dengan geografisnya yang terdiri dari pulau-pulau kecil, menghadapi tantangan unik dalam penyediaan layanan kesehatan. Ketersediaan tenaga medis spesialis yang terbatas, peralatan medis modern yang minim, dan aksesibilitas menuju fasilitas rujukan menjadi penghalang utama. Banyak kasus yang seharusnya bisa ditangani di tingkat lokal terpaksa dirujuk ke kota-kota besar yang jaraknya ratusan kilometer, memakan waktu, biaya, dan bahkan mengancam nyawa pasien.
Dody Toisuta menyoroti bahwa pembangunan RSUD Bobong secara fundamental mengubah lanskap ini. “Kehadiran RSUD di Bobong ini bukan hanya tentang memiliki gedung baru, tetapi tentang mendekatkan pelayanan vital kepada masyarakat yang selama ini terisolasi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup dan masa depan generasi Taliabu,” ujar Dody. Ia menambahkan, infrastruktur kesehatan yang memadai merupakan indikator penting kemajuan suatu daerah, terutama bagi wilayah kepulauan yang memiliki kompleksitas geografis tinggi.
RSUD Bobong sebagai Solusi Strategis Jangka Panjang
Sebagai RSUD, fasilitas di Bobong diharapkan mampu menyediakan layanan primer dan sekunder yang komprehensif. Ini mencakup:
- Pelayanan gawat darurat 24 jam.
- Poliklinik rawat jalan dengan berbagai spesialisasi dasar (anak, penyakit dalam, bedah, obgyn).
- Fasilitas rawat inap yang memadai.
- Laboratorium dan radiologi dasar.
- Pusat persalinan yang aman.
Pembangunan ini juga diharapkan akan menarik lebih banyak tenaga medis profesional, baik dokter umum maupun spesialis, untuk bersedia bertugas di Kepulauan Taliabu. Lingkungan kerja yang lebih baik dan fasilitas yang lengkap menjadi daya tarik penting. “Ini adalah siklus positif. Fasilitas bagus menarik SDM, SDM berkualitas meningkatkan pelayanan, dan akhirnya masyarakat mendapatkan haknya untuk hidup sehat,” jelas Dody Toisuta.
Dampak dan Harapan ke Depan
Kehadiran RSUD Bobong tidak hanya akan mempercepat penanganan kasus medis darurat, tetapi juga akan meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui program-program promotif dan preventif yang bisa diselenggarakan secara lebih efektif. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan, penanganan penyakit menular dan tidak menular bisa lebih optimal, serta kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan akan meningkat.
Mengingat laporan kami sebelumnya tentang tingginya angka rujukan pasien dari Taliabu ke Ternate atau bahkan Makassar, RSUD Bobong diharapkan dapat mengurangi beban rujukan tersebut secara signifikan. Ini akan menghemat waktu dan biaya bagi keluarga pasien, sekaligus memungkinkan penanganan lebih cepat dan efisien. Pemerintah daerah diharapkan terus mengawal operasional RSUD ini, memastikan ketersediaan anggaran, tenaga medis, dan peralatan yang berkesinambungan agar keberadaan RSUD Bobong benar-benar optimal dalam melayani masyarakat Kepulauan Taliabu.
Daerah
Akses Kesehatan Terputus, Ibu Hamil di Yahukimo Meninggal Dunia Setelah Penerbangan Perintis Dihentikan
Akses Kesehatan Terputus, Ibu Hamil di Yahukimo Meninggal Dunia Setelah Penerbangan Perintis Dihentikan
Kondisi tragis menyelimuti Kampung Pontenikma, Distrik Panggema, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, menyusul meninggalnya Enina Taliahuk (28). Ibu hamil tersebut tidak sempat memperoleh penanganan medis lanjutan dan evakuasi menggunakan transportasi udara, satu-satunya harapan untuk bertahan hidup. Kematian Enina menambah daftar panjang korban akibat lumpuhnya akses kesehatan di wilayah terpencil, terutama setelah operasional penerbangan perintis dihentikan atau terganggu secara signifikan.
Insiden memilukan ini menyoroti kerapuhan sistem layanan kesehatan di daerah-daerah yang sangat bergantung pada konektivitas udara. Bagi warga Yahukimo dan banyak daerah lain di Papua, pesawat perintis bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi kehidupan yang menghubungkan mereka dengan fasilitas medis, pasokan logistik, dan dunia luar.
Keterbatasan Akses Medis di Yahukimo: Nyawa di Ujung Landasan
Geografi Papua yang menantang, dengan pegunungan curam dan hutan lebat, menjadikan transportasi darat nyaris mustahil di banyak lokasi. Oleh karena itu, penerbangan perintis memegang peran vital dalam menjangkau masyarakat terpencil. Kasus Enina Taliahuk menjadi bukti nyata betapa krusialnya jalur udara ini, terutama untuk evakuasi medis darurat. Ketika pesawat perintis tidak beroperasi, warga terpaksa menghadapi situasi putus asa.
- Ketergantungan Total: Banyak kampung di Yahukimo hanya bisa dijangkau dengan pesawat kecil. Tidak ada jalan darat yang memadai.
- Kondisi Medis Darurat: Ibu hamil dengan komplikasi, korban kecelakaan, atau pasien penyakit serius memerlukan evakuasi cepat ke fasilitas medis yang lebih lengkap di kota besar.
- Fasilitas Terbatas: Puskesmas atau layanan kesehatan di tingkat distrik seringkali memiliki keterbatasan alat, obat, dan tenaga medis untuk menangani kasus berat.
Kematian Enina Taliahuk bukan sekadar sebuah insiden individual, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik yang terus menghantui daerah-daerah terpencil di Indonesia. Pemerintah telah berulang kali menyatakan komitmen untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan di Papua, seperti melalui program Nusantara Sehat, namun realitas di lapangan masih jauh dari harapan.
Peran Krusial Penerbangan Perintis bagi Wilayah Terisolir
Pesawat perintis mengemban fungsi multifaset di Papua, jauh melampaui sekadar mengangkut penumpang. Mereka membawa logistik esensial seperti bahan pangan, obat-obatan, hingga material pembangunan. Namun, fungsi paling krusial adalah sebagai ambulans udara. Dalam kasus darurat, setiap menit menjadi penentu antara hidup dan mati. Penghentian operasional penerbangan, entah karena masalah subsidi, keamanan, atau perawatan pesawat, secara langsung membahayakan nyawa ribuan penduduk yang mendiami wilayah-wilayah terisolir.
Tanpa konektivitas udara yang stabil dan terjamin, hak dasar masyarakat atas kesehatan dan keselamatan menjadi terancam. Ini adalah masalah mendesak yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah, bukan hanya respons reaktif terhadap tragedi.
Tuntutan Mendesak: Pemerintah Harus Bertindak Cepat
Tragedi yang menimpa Enina Taliahuk harus menjadi momentum evaluasi total terhadap kebijakan dan implementasi layanan transportasi perintis serta akses kesehatan di daerah terpencil. Pemerintah perlu secara transparan menjelaskan alasan di balik penghentian atau gangguan penerbangan perintis dan segera menemukan solusi jangka panjang.
Langkah-langkah konkret yang mendesak antara lain:
- Menjamin Subsidi Berkelanjutan: Memastikan alokasi anggaran yang cukup dan konsisten untuk operasional penerbangan perintis, mengingat fungsinya sebagai layanan publik esensial.
- Membangun Mekanisme Darurat: Menciptakan sistem evakuasi medis udara yang tangguh, cepat, dan tidak terpengaruh oleh isu-isu operasional rutin.
- Meningkatkan Fasilitas Kesehatan Lokal: Memperkuat Puskesmas di distrik-distrik terpencil dengan tenaga medis terlatih, peralatan dasar, dan pasokan obat yang memadai untuk penanganan awal.
- Evaluasi Menyeluruh: Melakukan audit menyeluruh terhadap kebijakan akses kesehatan dan transportasi di Papua, memastikan komitmen tidak hanya sebatas wacana.
Kematian Enina Taliahuk adalah pengingat pahit bahwa pemerataan pembangunan dan akses terhadap layanan dasar masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Pemerintah tidak bisa lagi mengabaikan kondisi kritis di daerah terpencil seperti Yahukimo, di mana pesawat perintis adalah satu-satunya jembatan antara hidup dan mati. (Untuk informasi lebih lanjut tentang upaya pemerintah dalam meningkatkan akses layanan kesehatan di Papua, silakan kunjungi: Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan di Papua oleh Kemenkes).
Daerah
Memutus Lingkaran Perkawinan Anak di Sulawesi Selatan: Analisis Mendalam
Kasus seorang ibu di Sulawesi Selatan yang menikah pada usia 15 tahun dan anaknya mengikuti jejak serupa, baru-baru ini kembali mencuat, menyoroti fenomena perkawinan anak yang masih menghantui wilayah tersebut. Meisy Papayungan, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk KB) Sulsel, dengan tegas menyatakan bahwa pola ini adalah "lingkaran yang harus diputus." Ini bukan sekadar kasus individual; melainkan refleksi dari masalah sosial budaya yang mengakar kuat di banyak komunitas, menjadikannya isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Pola Berulang: Normalisasi Perkawinan Anak
Papayungan menjelaskan bahwa banyak keluarga di Sulawesi Selatan menunjukkan pola serupa, di mana orang tua mereka juga menikah pada usia anak-anak. Lingkungan seperti itu secara tidak langsung menormalisasi praktik perkawinan anak, membuatnya tidak lagi dianggap aneh atau tabu. Proses sosialisasi ini membentuk persepsi bahwa menikah muda adalah hal wajar, bahkan diharapkan oleh sebagian masyarakat. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang sulit untuk dihentikan, karena generasi berikutnya cenderung meniru jejak orang tua mereka.
Akibatnya, pemahaman mengenai hak-hak anak, dampak negatif perkawinan dini, serta pentingnya pendidikan sering terabaikan. Faktor ekonomi, tradisi, dan interpretasi keagamaan tertentu juga turut memperburuk kondisi ini. Keluarga yang hidup dalam kemiskinan sering melihat perkawinan anak sebagai cara untuk mengurangi beban ekonomi atau sebagai jaminan masa depan bagi anak perempuan, meskipun realitasnya justru dapat menjebak mereka dalam kemiskinan berkelanjutan.
Dampak Perkawinan Anak: Belenggu Masa Depan
Perkawinan anak membawa konsekuensi serius yang menghambat tumbuh kembang optimal anak, terutama perempuan. Dampaknya sangat luas dan multidimensional, memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka:
- Kesehatan Reproduksi: Remaja perempuan yang menikah dini memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan karena organ reproduksi mereka belum matang. Hal ini meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi secara signifikan.
- Pendidikan Terputus: Anak-anak yang menikah dini seringkali terpaksa putus sekolah, membatasi kesempatan mereka untuk meraih pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi diri sepenuhnya. Mereka kehilangan peluang untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
- Kemiskinan Berkelanjutan: Keterbatasan pendidikan dan keterampilan akibat putus sekolah berdampak langsung pada peluang kerja yang layak. Ini seringkali menjebak keluarga muda dalam lingkaran kemiskinan antargenerasi, sulit untuk keluar dari situasi finansial yang sulit.
- Kekerasan dan Eksploitasi: Anak-anak yang menikah rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi, dan kehilangan hak-hak dasar mereka sebagai anak. Mereka kurang memiliki daya tawar dan rentan terhadap dominasi pasangan yang lebih dewasa.
- Dampak Psikologis: Beban tanggung jawab rumah tangga dan reproduksi di usia yang sangat muda dapat menyebabkan stres berat, depresi, kecemasan, dan gangguan psikologis lainnya. Mereka kehilangan masa kanak-kanak dan remaja yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar.
Memutus Rantai: Peran Hukum dan Pemerintah
Pemerintah Indonesia, melalui revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, telah menaikkan batas usia perkawinan menjadi 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Ini merupakan langkah progresif dan krusial untuk melindungi anak dari perkawinan dini, sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap perlindungan hak anak.
DP3A-Dalduk KB Sulsel, sebagaimana disampaikan oleh Meisy Papayungan, memainkan peran krusial dalam mengimplementasikan kebijakan ini di tingkat daerah. Mereka secara aktif melakukan sosialisasi, edukasi, dan advokasi kepada masyarakat, orang tua, serta pemangku kepentingan lainnya tentang bahaya perkawinan anak. Upaya ini juga mencakup pendampingan bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak, serta berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memastikan penegakan hukum.
UNICEF Indonesia juga mencatat bahwa pencegahan perkawinan anak memerlukan pendekatan multi-sektoral, melibatkan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial yang terintegrasi. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melibatkan berbagai sektor untuk dampak yang maksimal.
Tantangan dan Harapan: Kolaborasi Masyarakat
Meskipun ada kemajuan signifikan dalam regulasi dan upaya pemerintah, tantangan untuk menghapus perkawinan anak tetap besar. Perubahan sosial budaya yang telah mengakar selama bertahun-tahun membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterlibatan semua pihak. Tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga adat, hingga media massa memiliki peran strategis dalam menggeser norma yang ada dan menyebarkan kesadaran akan hak-hak anak serta bahaya perkawinan dini.
Pendidikan, khususnya pendidikan karakter dan kesehatan reproduksi bagi remaja, harus diperkuat sejak dini di sekolah dan lingkungan keluarga. Program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga rentan juga dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi dorongan ekonomi yang seringkali menjadi pemicu perkawinan anak. Harapannya, dengan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat sipil, keluarga, dan individu, lingkaran perkawinan anak yang menghantui generasi di Sulawesi Selatan ini dapat benar-benar terputus, membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah, sehat, dan berdaya bagi setiap anak.
Daerah
Normalisasi Sungai Sail: Strategi Konsisten Pekanbaru Mitigasi Risiko Banjir Permanen
PEKANBARU – Pemerintah Kota melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus menggenjot program normalisasi Sungai Sail sebagai langkah strategis dalam menekan risiko banjir yang kerap melanda wilayah ini. Inisiatif berkelanjutan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama erat antara Pemkot dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera III, yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan kelancaran aliran air sungai vital tersebut. Proyek ini bukan sekadar pengerukan, melainkan bagian integral dari cetak biru mitigasi bencana hidrologi jangka panjang yang ambisius.
Fokus Utama: Mengurai Benang Kusut Permasalahan Banjir
Persoalan banjir di beberapa titik kota bukanlah isu baru. Curah hujan tinggi yang terjadi belakangan ini, ditambah dengan kondisi geografis dan masifnya pembangunan, seringkali menyebabkan genangan air yang mengganggu aktivitas warga dan memicu kerugian ekonomi. Sungai Sail, sebagai salah satu urat nadi drainase kota, mengalami pendangkalan serius dan penyempitan di banyak segmen akibat sedimentasi alami maupun buangan sampah ilegal.
- Peningkatan Volume Air Hujan: Perubahan iklim dan pola curah hujan ekstrem memicu debit air sungai yang melebihi kapasitas normal.
- Sedimentasi Parah: Penumpukan lumpur, pasir, dan material organik mengurangi kedalaman serta daya tampung sungai secara drastis.
- Penyempitan Badan Sungai: Intrusi bangunan liar di sempadan sungai dan penumpukan sampah menyumbat aliran air, menciptakan efek bendungan lokal.
- Sistem Drainase Tersumbat: Keterkaitan antara Sungai Sail dan sistem drainase sekunder yang kurang terawat memperparah masalah saat luapan terjadi.
Normalisasi Sungai Sail diharapkan mampu mengatasi akar permasalahan tersebut. Kepala Dinas PUPR Pekanbaru, dalam beberapa kesempatan, menekankan pentingnya intervensi fisik ini. “Normalisasi bukan hanya tentang pengerukan. Ini adalah upaya komprehensif untuk mengembalikan fungsi sungai ke kondisi optimalnya, memastikan aliran air lancar, dan daya tampung maksimal,” ujarnya, menegaskan komitmen Pemkot terhadap solusi permanen.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Sukses Normalisasi Sungai
Keberhasilan proyek sebesar normalisasi sungai tidak bisa berdiri sendiri. Kemitraan antara Pemkot Pekanbaru, khususnya Dinas PUPR, dengan BWS Sumatera III menjadi tulang punggung pelaksanaan program ini. BWS Sumatera III, sebagai institusi vertikal di bawah Kementerian PUPR yang bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya air di wilayahnya, membawa keahlian teknis, peralatan berat, dan sumber daya pendanaan yang signifikan.
Peran Dinas PUPR Pekanbaru mencakup perencanaan detail, koordinasi lapangan, sosialisasi kepada masyarakat yang terdampak, serta penyiapan lahan jika diperlukan. Sementara itu, BWS Sumatera III berfokus pada aspek teknis pelaksanaan, mulai dari survei hidrologi, desain pengerukan dan penataan tebing, hingga pengoperasian alat berat. Sinergi ini memastikan bahwa setiap tahapan proyek berjalan sesuai standar teknis dan efisien.
“Kerja sama dengan Pemkot Pekanbaru adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antarlembaga dapat menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Kami berkomitmen penuh mendukung upaya Pemkot dalam menciptakan kota yang lebih aman dari ancaman banjir,” ungkap perwakilan BWS Sumatera III, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam manajemen air.
Target dan Manfaat Jangka Panjang Proyek Vital
Program normalisasi Sungai Sail memiliki target capaian yang jelas. Selain meningkatkan kedalaman dan lebar sungai di titik-titik krusial, proyek ini juga mencakup penataan tebing sungai untuk mencegah erosi, serta pembersihan total dari segala jenis sumbatan. Diharapkan, daya tampung sungai akan meningkat signifikan, mengurangi frekuensi dan durasi genangan air di kawasan permukiman dan fasilitas umum.
Manfaat jangka panjang yang diincar tidak hanya terbatas pada mitigasi banjir. Sungai yang bersih dan aliran air yang lancar juga berpotensi meningkatkan kualitas lingkungan hidup di sekitarnya, mendukung ekosistem air tawar, bahkan membuka peluang pengembangan ruang terbuka hijau di sempadan sungai. Ini adalah investasi infrastruktur yang akan dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang.
Sebelumnya, program serupa telah digulirkan pada pertengahan tahun lalu, fokus pada area hulu dan tengah Sungai Sail yang dinilai paling kritis. Artikel kami terdahulu, “Upaya Awal Pekanbaru Hadapi Banjir: Fase Pertama Normalisasi Sungai Sail,” telah mengulas detail fase tersebut. Proyek lanjutan ini memperkuat komitmen Pemkot untuk menuntaskan permasalahan secara bertahap dan menyeluruh.
Tantangan dan Harapan Keberlanjutan
Meskipun memiliki target mulia, proyek normalisasi ini tentu tidak lepas dari tantangan. Pembebasan lahan di beberapa titik yang berdekatan dengan permukiman padat seringkali menjadi kendala. Edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan juga menjadi aspek krusial yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Tanpa partisipasi aktif warga, upaya normalisasi seefektif apapun akan sia-sia.
Pemerintah Kota Pekanbaru optimis bahwa dengan dukungan penuh dari BWS Sumatera III, serta kesadaran dan partisipasi masyarakat, tujuan untuk menciptakan kota yang lebih tangguh terhadap bencana banjir dapat terwujud. Program ini merupakan manifestasi dari visi pembangunan yang berkelanjutan, memadukan infrastruktur fisik dengan pengelolaan lingkungan yang bijaksana. Normalisasi Sungai Sail adalah langkah maju, sebuah ikhtiar konsisten demi masa depan Pekanbaru yang lebih aman dan nyaman.
Informasi lebih lanjut mengenai program Balai Wilayah Sungai Sumatera III dapat dilihat di situs resmi mereka: https://bws-s3.pu.go.id/
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
