Internasional
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Empat Warga, Klaim Tangkap Tokoh Senior Hamas di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Empat Warga, Klaim Tangkap Tokoh Senior Hamas di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata
Pasukan militer Israel melancarkan operasi mematikan di Jalur Gaza, yang menurut pejabat Palestina menewaskan empat orang. Serangan ini terjadi di tengah klaim Israel yang menyatakan berhasil menangkap seorang tokoh kunci, yakni kepala pasukan keamanan internal Hamas. Insiden terbaru ini semakin memperburuk situasi keamanan di wilayah kantong yang terkepung tersebut, di mana pertempuran terus berkecamuk meskipun ada gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.
Operasi militer yang dilakukan Israel ini menjadi sorotan tajam, mengingat ketegangan yang masih tinggi dan upaya internasional untuk menstabilkan kondisi. Pihak berwenang Palestina segera mengutuk tindakan tersebut, melaporkan bahwa korban jiwa termasuk warga sipil. Namun, Israel bersikeras bahwa operasi mereka menargetkan infrastruktur dan anggota kelompok militan yang dianggap mengancam keamanan mereka. Klaim penangkapan kepala keamanan internal Hamas, yang identitasnya tidak disebutkan secara spesifik oleh Israel, berpotensi menjadi pukulan signifikan bagi struktur komando kelompok tersebut dan dapat memicu respons balasan.
Latar Belakang Operasi Militer Terbaru
Serangan Israel ini dilaporkan terjadi pada dini hari di beberapa lokasi di Gaza. Detail mengenai insiden tersebut masih simpang siur, dengan kedua belah pihak menyampaikan narasi yang berbeda. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, empat warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka parah. Sumber-sumber medis Palestina mengidentifikasi para korban sebagai warga sipil, meskipun Israel mengklaim target mereka adalah individu yang terlibat dalam aktivitas teror.
Militer Israel, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa operasi ini adalah respons terhadap ancaman keamanan yang terus-menerus dan bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan militan. Mereka secara khusus menyoroti keberhasilan penangkapan “kepala pasukan keamanan internal Hamas,” sebuah posisi yang vital dalam menjaga ketertiban dan mengawasi aktivitas militer internal kelompok tersebut. Penangkapan semacam itu dapat memberikan Israel informasi intelijen yang berharga mengenai operasi Hamas, rencana masa depan, dan jaringan bawah tanah mereka.
Dinamika Gencatan Senjata yang Rapuh
Insiden mematikan ini terjadi di tengah suasana gencatan senjata yang semakin rapuh, yang telah dimediasi oleh Amerika Serikat dan sekutu regionalnya dalam upaya meredakan konflik berkepanjangan. Gencatan senjata ini bertujuan untuk menghentikan kekerasan, memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan, dan membuka jalan bagi dialog lebih lanjut. Namun, sejak awal penerapannya, berbagai pihak telah berulang kali melaporkan pelanggaran dari kedua sisi, menunjukkan betapa sulitnya menjaga stabilitas di wilayah tersebut.
Pelanggaran gencatan senjata ini bukanlah hal baru. Wilayah Gaza dan Israel Selatan telah menjadi saksi mata siklus kekerasan yang berulang selama bertahun-tahun, di mana gencatan senjata seringkali hanya bersifat sementara. Komunitas internasional telah menyuarakan keprihatinan mendalam atas kegagalan upaya perdamaian ini, dan meminta semua pihak untuk menahan diri serta mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya upaya perdamaian yang telah berulang kali kami bahas, termasuk dalam analisis kami mengenai pelanggaran gencatan senjata sebelumnya, menunjukkan tantangan besar dalam mencapai solusi jangka panjang di tengah konflik yang mendalam.
Implikasi Penangkapan Tokoh Hamas
Penangkapan seorang pemimpin senior keamanan internal Hamas adalah peristiwa yang memiliki implikasi signifikan. Bagi Israel, ini dianggap sebagai keberhasilan intelijen dan operasional yang dapat melemahkan kapasitas Hamas untuk melakukan serangan. Informasi yang diperoleh dari interogasi dapat digunakan untuk menggagalkan plot, mengungkap terowongan, atau mengidentifikasi aset militan lainnya. Namun, bagi Hamas, penangkapan ini dapat dianggap sebagai provokasi berat yang menuntut respons.
Para analis politik dan keamanan memperkirakan bahwa penangkapan ini dapat memicu gelombang kekerasan baru di Gaza dan wilayah sekitarnya. Hamas mungkin merasa terdorong untuk menunjukkan kekuatan dan membalas dendam atas penangkapan salah satu anggotanya yang berpangkat tinggi, demi menjaga kredibilitas dan moral anggotanya. Eskalasi semacam ini akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, di mana jutaan penduduk telah menderita akibat blokade dan konflik yang berkepanjangan.
Poin Penting Insiden Gaza:
- Empat warga Palestina tewas dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza.
- Israel mengklaim telah menangkap kepala pasukan keamanan internal Hamas.
- Insiden ini terjadi di tengah pelanggaran berkelanjutan terhadap gencatan senjata yang didukung AS.
- Pihak Palestina melaporkan bahwa korban jiwa termasuk warga sipil.
- Kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah tersebut meningkat tajam.
- Penangkapan tokoh Hamas dapat memicu respons balasan dari kelompok militan.
Situasi di Gaza tetap tegang dan tidak dapat diprediksi, dengan prospek perdamaian yang semakin suram. PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya terus menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan akses tanpa hambatan untuk bantuan. Dunia menanti, berharap agar kekerasan tidak terus berlanjut, dan solusi damai dapat segera ditemukan untuk mengakhiri penderitaan di Gaza. Untuk memahami lebih jauh kompleksitas konflik yang terus berlangsung, Anda dapat membaca analisis mendalam mengenai latar belakang dan akar permasalahan di kawasan tersebut di sini.
Internasional
Korea Utara Uji Torpedo Berteknologi AI, Picu Kekhawatiran Global Baru
Korea Utara Uji Torpedo Berteknologi AI, Picu Kekhawatiran Global Baru
Korea Utara dilaporkan berhasil melakukan uji coba sistem senjata torpedo bawah air baru yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada Kamis lalu. Kantor berita pemerintah KCNA mengklaim pengujian tersebut merupakan langkah signifikan dalam pengembangan angkatan laut negara itu dan untuk mengonfirmasi peningkatan teknologi. Klaim Pyongyang ini segera memicu kekhawatiran baru di kalangan komunitas internasional mengenai laju modernisasi militer Korea Utara dan implikasi global dari proliferasi senjata otonom yang semakin canggih.
Uji coba ini terjadi di tengah ketegangan yang terus-menerus di Semenanjung Korea, dengan Pyongyang yang secara agresif mengejar pengembangan senjata canggihnya meskipun menghadapi sanksi internasional yang melumpuhkan. Pengumuman ini tidak hanya menegaskan tekad Korea Utara untuk memperkuat kemampuan militernya, tetapi juga membuka diskusi kritis tentang peran AI dalam peperangan modern dan potensi ancaman yang ditimbulkannya terhadap keamanan global.
Lompatan Teknologi Militer Pyongyang
Pengumuman mengenai uji coba torpedo berbasis AI ini menyoroti ambisi Korea Utara untuk secara agresif memperbarui kemampuan militernya di tengah sanksi internasional yang ketat. Selama beberapa tahun terakhir, rezim Kim Jong Un secara konsisten memprioritaskan pengembangan beragam senjata canggih, mulai dari rudal balistik antarbenua hingga kapal selam baru, menunjukkan komitmen terhadap modernisasi yang komprehensif. Penggunaan teknologi AI dalam sistem senjata bawah air menandai pergeseran kualitatif, yang berpotensi memberikan keunggulan strategis dalam pengintaian, penargetan, dan kemampuan menyerang di bawah permukaan laut.
KCNA, dalam laporannya, menekankan bahwa uji coba ini berhasil memverifikasi "keandalan dan kemampuan operasional" sistem tersebut, meskipun detail teknis lebih lanjut tidak dirilis secara publik. Ini bukan kali pertama Korea Utara mengklaim kemajuan signifikan dalam teknologi militernya. Sebelumnya, mereka telah memamerkan kapasitas untuk mengembangkan hulu ledak nuklir miniatur dan meluncurkan rudal dari kapal selam, yang secara kolektif meningkatkan ancaman terhadap stabilitas regional dan memicu kecaman keras dari negara-negara tetangga serta komunitas internasional.
Implikasi Torpedo Berbasis AI
Integrasi kecerdasan buatan dalam sistem persenjataan menimbulkan pertanyaan etis dan strategis yang kompleks. Torpedo AI, secara teori, dapat beroperasi dengan tingkat otonomi yang lebih tinggi, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat di medan perang dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan situasi tanpa intervensi manusia langsung. Ini bisa berarti:
- Peningkatan akurasi dan efisiensi target.
- Kemampuan untuk menghindari tindakan balasan dan deteksi musuh.
- Potensi untuk beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya atau tidak dapat diakses bagi manusia.
Bagi Korea Utara, pengembangan ini dapat diterjemahkan menjadi sarana deterensi yang lebih kuat terhadap potensi intervensi asing dan meningkatkan kapasitasnya untuk melumpuhkan target maritim. Namun, teknologi semacam ini juga memunculkan kekhawatiran serius mengenai potensi kesalahan perhitungan, eskalasi konflik yang tidak disengaja, dan tantangan dalam mengendalikan sistem yang semakin otonom. Organisasi-organisasi internasional dan pakar etika telah berulang kali menyerukan pembatasan penggunaan senjata otonom mematikan (LAWS), tetapi perkembangan di Korea Utara ini menunjukkan bahwa perlombaan senjata AI mungkin sudah dimulai.
Sejarah Uji Coba dan Ambisi Korea Utara
Uji coba torpedo AI ini harus dilihat dalam konteks sejarah panjang Korea Utara dalam mengembangkan dan memamerkan kemampuan militernya. Sejak era Kim Il Sung, negara tersebut telah berinvestasi besar-besaran dalam program senjata, meskipun sumber daya ekonominya terbatas. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, program ini semakin dipercepat, ditandai dengan serangkaian uji coba rudal balistik, nuklir, dan pengembangan kapal selam yang ambisius.
Pyongyang secara konsisten menyatakan bahwa pengembangan militernya adalah untuk pertahanan diri dari ancaman eksternal, khususnya dari Amerika Serikat dan Korea Selatan. Meskipun ada upaya diplomatik di masa lalu, termasuk pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan mantan Presiden AS Donald Trump, denuklirisasi Semenanjung Korea masih jauh dari kenyataan. Sebaliknya, setiap jeda dalam dialog sering kali diikuti dengan peluncuran uji coba senjata baru, menegaskan tekad Pyongyang untuk terus memperkuat kapasitas militer mereka, terlepas dari kecaman dan sanksi internasional. Peristiwa ini juga mengingatkan pada klaim uji coba serupa di masa lalu, termasuk "Haeil" atau drone nuklir bawah air, yang juga dirancang untuk menciptakan "tsunami radioaktif", menunjukkan tren peningkatan inovasi dalam persenjataan maritim mereka.
Tantangan Keamanan Regional dan Global
Langkah Korea Utara untuk mengembangkan senjata otonom seperti torpedo AI menghadirkan tantangan signifikan bagi keamanan di Semenanjung Korea dan Asia Timur. Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, akan melihat pengembangan ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan maritim mereka. Ini kemungkinan akan memicu respons dari negara-negara tersebut untuk memperkuat pertahanan mereka sendiri dan berinvestasi dalam teknologi penangkal.
Amerika Serikat, yang memiliki kehadiran militer signifikan di kawasan itu, juga akan memantau dengan cermat perkembangan ini, karena berpotensi mengubah dinamika kekuatan regional. Di tingkat global, pengujian ini mempercepat diskusi tentang urgensi regulasi internasional terhadap senjata otonom. Dengan semakin banyaknya negara yang mengeksplorasi AI untuk tujuan militer, ada risiko eskalasi yang tidak terkendali dan peningkatan ketidakpastian dalam strategi pertahanan global. Komunitas internasional perlu mencari cara efektif untuk menekan Korea Utara agar menghentikan pengembangan senjata semacam itu, sambil juga mempromosikan kerangka kerja untuk mencegah perlombaan senjata AI global yang berbahaya yang dapat mengancam perdamaian dan stabilitas dunia.
Internasional
Flu Burung H5N1 Dikonfirmasi di Pulau Sub-Antartika Australia, Ancam Populasi Anjing Laut Gajah Rentan
Australia Konfirmasi Kasus Flu Burung H5N1 di Pulau Sub-Antartika, Ancam Satwa Liar Rentan
Australia baru-baru ini mengonfirmasi temuan pertama kasus flu burung H5N1 di wilayah terpencilnya, Pulau Macquarie. Virus mematikan ini terdeteksi pada populasi anjing laut gajah yang rentan di pulau sub-Antartika tersebut, memicu alarm serius mengenai potensi dampaknya terhadap ekosistem yang rapuh dan keanekaragaman hayati unik di sana.
Penemuan ini menandai sebuah momen krusial dalam sejarah biosekuriti Australia, karena ini adalah konfirmasi H5N1 pertama di wilayah kedaulatan mereka. Lokasi pulau yang terpencil, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, menambah kompleksitas dan urgensi situasi. Para ilmuwan dan otoritas kesehatan kini berpacu dengan waktu untuk memahami skala penyebaran dan mitigasi risiko lebih lanjut.
Mengapa Pulau Macquarie Sangat Penting?
Pulau Macquarie adalah cagar alam yang dilindungi dan rumah bagi jutaan burung laut dan mamalia laut, termasuk empat spesies pinguin dan populasi anjing laut gajah selatan yang signifikan. Keberadaannya yang terisolasi membuatnya menjadi laboratorium alami yang penting bagi penelitian ekologi dan konservasi. Deteksi H5N1 di sini menimbulkan kekhawatiran besar karena:
- Isolasi Ekologis: Spesies di pulau terpencil seringkali tidak memiliki kekebalan terhadap patogen yang berasal dari luar, membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit baru.
- Kepadatan Populasi: Populasi mamalia laut yang padat dapat memfasilitasi penyebaran cepat virus di antara individu.
- Peran Anjing Laut Gajah: Anjing laut gajah adalah predator puncak dan perenang jarak jauh, berpotensi menjadi vektor penularan virus ke wilayah Antartika atau sub-Antartika lainnya.
Kehadiran virus ini pada anjing laut gajah adalah hal yang sangat mengkhawatirkan. Mamalia laut, termasuk anjing laut, semakin sering terinfeksi H5N1 di berbagai belahan dunia, menunjukkan adaptasi virus yang mengkhawatirkan untuk melompati batas spesies.
Ancaman Flu Burung H5N1 yang Terus Meluas
Flu burung H5N1 telah menjadi ancaman kesehatan hewan global selama lebih dari dua dekade. Varian virus saat ini, klad 2.3.4.4b, telah menyebar secara agresif di seluruh dunia sejak 2021, menyebabkan wabah besar pada unggas liar dan ternak, serta peningkatan infeksi pada mamalia. Sebelumnya, H5N1 telah ditemukan di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, serta Afrika, memengaruhi jutaan burung dan menyebabkan kerugian ekonomi yang substansial. Penemuan di wilayah Australia ini menegaskan jangkauan global virus yang mengkhawatirkan.
Para ahli kesehatan hewan global, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah secara konsisten menyerukan peningkatan pengawasan dan upaya mitigasi. “Peningkatan kasus H5N1 pada mamalia merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan dan memerlukan pemantauan ketat,” demikian peringatan dari WHO pada laporan sebelumnya mengenai penyebaran virus ini. Informasi lebih lanjut mengenai H5N1 dapat ditemukan di situs WHO.
Dampak Potensial dan Respons Australia
Penemuan ini memiliki implikasi serius, baik bagi ekosistem Pulau Macquarie maupun biosekuriti Australia secara lebih luas. Pemerintah Australia, melalui departemen terkait, diperkirakan akan meningkatkan langkah-langkah pengawasan dan penelitian di pulau tersebut. Respons awal kemungkinan meliputi:
* Pengawasan Ketat: Pemantauan intensif terhadap populasi anjing laut gajah dan spesies rentan lainnya untuk mendeteksi penyebaran lebih lanjut.
* Pengambilan Sampel dan Analisis: Pengumpulan sampel tambahan untuk memahami strain virus, tingkat virulensi, dan rute penularan.
Ini bukan kali pertama Australia menghadapi tantangan biosekuriti terkait flu. Meskipun Australia memiliki catatan yang baik dalam mengelola wabah penyakit hewan, lokasi terpencil Pulau Macquarie menghadirkan tantangan logistik yang unik. Penemuan ini juga menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan berkelanjutan terhadap penyakit yang muncul dari lingkungan alam dan potensinya untuk menyebar melintasi batas geografis.
Para ahli ekologi dan virologi global akan memantau situasi di Pulau Macquarie dengan seksama, mengingat potensi dampak yang luas terhadap keanekaragaman hayati dan sebagai indikator lebih lanjut tentang adaptasi H5N1 yang berkelanjutan pada spesies mamalia. Krisis ini menekankan perlunya kolaborasi internasional yang kuat dalam menghadapi ancaman kesehatan global yang bersifat transboundary.
Internasional
PBB Peringatkan Jutaan Orang Terancam Kemiskinan Akibat Guncangan Ekonomi dan Iklim
THEOPINIONNEWS – Bangsa (PBB) menyuarakan peringatan keras mengenai ancaman kemiskinan yang kian meluas di seluruh dunia. Jutaan orang berpotensi terjerumus ke dalam jurang kemiskinan ekstrem. Peringatan ini muncul di tengah lonjakan biaya energi, dampak intens fenomena iklim El Nino, dan kenaikan suku bunga global yang berkelanjutan. Kombinasi faktor-faktor ini mendorong negara-negara rentan ke ambang kehancuran akibat serangkaian krisis berulang. Pejabat pembangunan PBB menegaskan urgensi situasi ini, menyerukan perhatian global dan tindakan segera.
Ancaman Kemiskinan Global Kian Nyata
Direktur pembangunan PBB menyoroti bagaimana ekonomi global menghadapi tantangan multisektoral yang belum pernah terjadi sebelumnya. Konflik geopolitik, seperti guncangan perang yang disebut dalam laporan awal, telah menambah lapisan kompleksitas pada ketidakpastian pasar. Meskipun rincian spesifik mengenai dampak langsung dari guncangan geopolitik tersebut terhadap angka kemiskinan tidak dijelaskan lebih lanjut dalam laporan ini, jelas bahwa guncangan semacam itu memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada. Negara-negara berkembang, khususnya, menanggung beban terberat dari gejolak ini, dengan kemampuan fiskal yang terbatas untuk menyerap atau merespons krisis. Ini merupakan pengingat penting bahwa stabilitas geopolitik memainkan peran krusial dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Peringatan ini menggemakan kekhawatiran yang sudah sering disampaikan dalam berbagai forum internasional. Laporan-laporan sebelumnya dari lembaga seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyoroti kerentanan ekonomi global terhadap guncangan eksternal. Isu-isu tentang inflasi, utang negara, dan dampak perubahan iklim telah menjadi sorotan utama, menandakan bahwa masalah kemiskinan ini bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari krisis yang terus berlanjut.
Tiga Faktor Pendorong Utama Krisis
Tiga pilar utama yang dipercaya PBB sebagai pemicu lonjakan kemiskinan adalah:
- Lonjakan Biaya Energi: Harga energi yang terus meroket membebani rumah tangga dan industri. Konsumen di seluruh dunia merasakan dampak langsung pada tagihan listrik, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya. Bagi negara-negara pengimpor energi, ini berarti pengeluaran valuta asing yang lebih besar, menekan neraca pembayaran, dan memicu inflasi. Bisnis-bisnis kecil dan menengah berjuang mempertahankan operasi mereka, yang seringkali menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan memperparah tingkat pengangguran.
- Fenomena El Nino Intens: El Nino membawa pola cuaca ekstrem yang mengganggu produksi pertanian secara global. Kekeringan parah di satu wilayah dan banjir bandang di wilayah lain menghancurkan panen, mengurangi pasokan pangan, dan menyebabkan lonjakan harga makanan. Ini secara langsung mengancam ketahanan pangan, terutama di komunitas yang sangat bergantung pada pertanian subsisten yang rentan terhadap perubahan iklim.
- Suku Bunga Tinggi: Kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, sebagai upaya menekan inflasi, memiliki efek samping signifikan. Bagi negara-negara berkembang dengan tingkat utang yang tinggi, biaya pembayaran utang menjadi jauh lebih mahal. Ini membatasi ruang fiskal pemerintah untuk berinvestasi dalam layanan publik esensial seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, yang vital untuk pengentasan kemiskinan.
Mendesaknya Aksi Kolektif Global
Situasi ini menuntut respons global yang terkoordinasi dan cepat. PBB menekankan pentingnya dukungan internasional bagi negara-negara yang paling terdampak. Ini termasuk:
- Mekanisme pembiayaan yang lebih fleksibel dan akses utang yang berkelanjutan bagi negara-negara berpenghasilan rendah.
- Investasi dalam sistem ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
- Diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang fluktuatif harganya.
- Penguatan jaring pengaman sosial untuk melindungi masyarakat paling rentan dari guncangan ekonomi.
PBB melalui berbagai programnya, termasuk upaya pengentasan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terus bekerja keras mengatasi tantangan ini. Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada satu organisasi, melainkan pada komitmen kolektif dari semua negara anggota dan pemangku kepentingan global. Mengatasi kemiskinan ekstrem memerlukan pendekatan holistik yang mencakup kebijakan ekonomi makro yang bijaksana, adaptasi iklim, dan kerja sama multilateral yang kuat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas dan kemakmuran global.
Baca lebih lanjut tentang upaya PBB dalam pengentasan kemiskinan global di sini: UNDP: Mengakhiri Kemiskinan.
-
Daerah6 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi7 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah7 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah7 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Olahraga7 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal8 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah6 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
