Daerah
Bayang-bayang Kekerasan Selimuti Permata Wisata Sierra Nevada de Santa Marta, Kolombia
Bayang-bayang Kekerasan Selimuti Permata Wisata Sierra Nevada de Santa Marta, Kolombia
Taman Nasional Sierra Nevada de Santa Marta, yang membentang dari puncak gunung bersalju hingga perairan biru kehijauan Karibia, telah lama diakui sebagai salah satu permata mahkota pariwisata Kolombia. Namun, di balik lanskapnya yang memukau, sebuah realitas yang lebih gelap kini merayap, mengancam pesona dan potensi destinasi unik ini. Wilayah yang kaya akan keindahan alam dan warisan budaya ini dilaporkan semakin dihantui oleh gelombang kekerasan, membayangi pengalaman jutaan wisatawan yang bermimpi menjelajahi keajaibannya.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi otoritas dan pelaku industri pariwisata, mengingat reputasi Kolombia yang tengah bangkit sebagai tujuan wisata pasca-konflik. Ancaman kekerasan yang terus-menerus ini tidak hanya merusak citra, tetapi juga membahayakan mata pencaharian ribuan penduduk lokal yang bergantung pada sektor pariwisata. Ini juga sebuah pengingat bahwa meskipun langkah-langkah signifikan telah diambil menuju perdamaian, tantangan keamanan masih menjadi rintangan nyata di beberapa kantong wilayah strategis.
Pesona Alam dan Warisan Budaya Sierra Nevada
Sierra Nevada de Santa Marta adalah salah satu gunung pesisir tertinggi di dunia, sebuah ekosistem unik yang mencakup beragam zona iklim, dari pantai tropis hingga puncak salju abadi. Keanekaragaman hayatinya luar biasa, menjadi rumah bagi spesies endemik dan jalur migrasi penting. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dan Warisan Dunia oleh UNESCO, menggarisbawahi pentingnya konservasi globalnya. Selain itu, Sierra Nevada adalah jantung spiritual bagi empat suku adat – Arhuaco, Kogi, Wiwa, dan Kankuamo – yang memandang pegunungan sebagai ‘Jantung Dunia’ dan menjaganya dengan praktik-praktik tradisional berusia ribuan tahun. Kehidupan mereka sangat terkait dengan keseimbangan alam dan kelestarian wilayah ini, menjadikannya bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga pusat pembelajaran budaya yang mendalam. Para wisatawan tertarik untuk menjelajahi hutan hujan yang rimbun, situs arkeologi kuno seperti Ciudad Perdida (The Lost City), hingga perkebunan kopi yang indah, sambil merasakan kearifan lokal yang hidup harmonis dengan alam.
Meningkatnya Ancaman Kekerasan: Akar Masalah yang Kompleks
Kekerasan yang kembali marak di Sierra Nevada berakar pada sejarah konflik panjang Kolombia. Meskipun perjanjian damai tahun 2016 antara pemerintah dan FARC berhasil mengurangi skala konflik secara nasional, beberapa kelompok bersenjata baru dan sisa-sisa kelompok lama, termasuk sempalan FARC dan kelompok paramiliter, terus beroperasi di wilayah-wilayah terpencil. Sierra Nevada, dengan medannya yang sulit dijangkau dan garis pantainya yang luas, merupakan koridor strategis untuk kegiatan ilegal seperti penyelundupan narkoba, penambangan emas ilegal, dan pembalakan liar. Kelompok-kelompok ini seringkali bersaing untuk menguasai rute-rute ini, yang mengakibatkan bentrokan bersenjata, pemerasan, dan ancaman terhadap penduduk lokal serta wisatawan. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan kekerasan, menghambat pembangunan yang sah dan stabilitas jangka panjang.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada kerentanan wilayah ini terhadap kekerasan meliputi:
- Kontrol Jalur Narkoba: Lokasi geografis yang strategis memudahkan penyelundupan kokain melalui laut Karibia.
- Penambangan Ilegal: Eksploitasi sumber daya alam, khususnya emas, menjadi sumber pendanaan utama bagi kelompok-kelompok ilegal.
- Sisa Kelompok Bersenjata: Kehadiran sempalan FARC, ELN, dan kelompok kriminal terorganisir lainnya yang belum sepenuhnya demobilisasi atau muncul kembali.
- Kesenjangan Ekonomi dan Sosial: Kurangnya peluang ekonomi yang sah dan kehadiran negara yang terbatas di daerah terpencil membuat penduduk rentan terhadap rekrutmen oleh kelompok ilegal.
Dampak Mendalam bagi Pariwisata dan Komunitas Lokal
Dampak dari kekerasan ini sangat merusak. Sektor pariwisata, yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan pertumbuhan pesat, kini menghadapi pembatalan pemesanan, penurunan jumlah pengunjung, dan reputasi yang ternoda. Operator tur lokal dan bisnis terkait, seperti hotel, restoran, dan pemandu wisata, menderita kerugian finansial yang signifikan, mengancam mata pencarian ribuan keluarga. Persepsi keamanan yang buruk juga menghalangi investasi lebih lanjut di wilayah tersebut.
Bagi masyarakat adat yang mendiami Sierra Nevada, ancaman kekerasan bahkan lebih mendalam. Mereka seringkali terjebak di tengah konflik, menghadapi ancaman pemindahan paksa, gangguan terhadap praktik spiritual dan tradisional, serta perusakan lingkungan yang mereka jaga. Keamanan dan kelangsungan hidup budaya mereka menjadi taruhan. Kondisi ini juga memperlambat upaya pemerintah untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan yang berpusat pada masyarakat dan bertanggung jawab, sebagaimana yang sempat dibahas dalam berbagai forum pengembangan pariwisata Kolombia [Baca lebih lanjut tentang pariwisata berkelanjutan di Kolombia]. Situasi ini mengingatkan kita akan laporan sebelumnya mengenai tantangan keamanan yang masih membayangi upaya pembangunan pariwisata berkelanjutan di berbagai wilayah pasca-konflik Kolombia, termasuk di kawasan ini.
Upaya Pemulihan dan Tantangan ke Depan
Pemerintah Kolombia, bekerja sama dengan otoritas lokal dan masyarakat, terus berupaya untuk memulihkan keamanan dan mempromosikan pembangunan yang damai di Sierra Nevada. Langkah-langkah yang diambil meliputi peningkatan kehadiran militer dan polisi, program pembangunan ekonomi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada ekonomi ilegal, serta dialog dengan komunitas adat untuk memastikan perlindungan hak-hak mereka. Inisiatif pariwisata yang dipimpin oleh masyarakat juga didorong untuk memberikan alternatif ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar. Konsolidasi perdamaian memerlukan tidak hanya penegakan hukum, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan keadilan sosial. Membangun kembali kepercayaan dan menghapuskan akar penyebab kekerasan adalah proses yang panjang dan kompleks. Masa depan Sierra Nevada de Santa Marta sebagai surga wisata dan rumah bagi warisan budaya kuno akan sangat bergantung pada keberhasilan upaya kolektif ini dalam menciptakan keamanan yang langal dan berkelanjutan, memastikan bahwa keindahan alamnya tidak lagi dibayangi oleh konflik manusia.
Upaya berkesinambungan ini krusial untuk memastikan permata Kolombia ini dapat kembali bersinar, menarik wisatawan dengan janji petualangan dan keindahan, bukan kekhawatiran akan kekerasan. Ini adalah investasi bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk masa depan rakyat Kolombia dan warisan global yang tak ternilai ini.
Daerah
Kebakaran Hebat di Permukiman Padat, Ratusan Rumah Hangus dan Dua Warga Meninggal
Sebuah permukiman padat penduduk di Jalan Kertajaya IV, sebuah wilayah di bagian utara kota, dilalap si jago merah pada Selasa (13/10/2026) siang. Insiden tragis ini menyebabkan kerugian material yang sangat besar, dengan setidaknya 150 unit rumah hangus terbakar, serta menelan dua korban jiwa. Api yang berkobar dengan cepat membuat warga panik dan berhamburan menyelamatkan diri serta barang-barang berharga seadanya.
Dua individu yang belum teridentifikasi secara rinci dilaporkan meninggal dunia akibat insiden nahas ini. Keduanya diduga terjebak di dalam rumah saat api mulai membesar dan menyebar tak terkendali. Pihak berwenang kini tengah berupaya melakukan identifikasi dan menghubungi keluarga korban untuk proses lebih lanjut. Musibah ini menambah daftar panjang duka mendalam bagi warga di area tersebut yang seringkali berjuang dengan keterbatasan infrastruktur dan kepadatan bangunan.
Kronologi dan Dampak Parah Kebakaran
Api pertama kali terlihat sekitar pukul 12.30 WIB dan dengan cepat membesar, melahap bangunan-bangunan semi permanen yang berdempetan. Angin kencang menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran kobaran api, menyulitkan upaya pemadaman awal oleh warga sekitar. Dalam hitungan jam, ratusan rumah yang menjadi tempat tinggal ribuan jiwa berubah menjadi puing-puing arang.
- Sekitar 150 unit rumah warga ludes terbakar.
- Dua orang dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian.
- Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
- Akses jalan yang sempit menghambat pergerakan mobil pemadam kebakaran.
Dampak dari kebakaran ini sangat masif, meninggalkan ratusan kepala keluarga tanpa tempat tinggal dan kehilangan seluruh harta benda. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, mengingat banyak warga kini harus mengungsi di posko-posko sementara yang didirikan pemerintah daerah dan lembaga sosial.
Upaya Pemadaman dan Kendala di Lapangan
Puluhan unit mobil pemadam kebakaran dari dinas terkait dikerahkan ke lokasi untuk menjinakkan api. Petugas pemadam kebakaran berjuang keras selama berjam-jam, menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Kepadatan permukiman dengan gang-gang sempit menjadi kendala utama dalam mengakses titik api secara efektif. Petugas harus menarik selang air hingga ratusan meter untuk mencapai bagian dalam permukiman yang terbakar.
Asap tebal membumbung tinggi ke langit, terlihat dari jarak yang cukup jauh, menarik perhatian warga sekitar dan pengendara yang melintas. Upaya pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang bisa memicu kebakaran susulan. Kondisi lapangan yang rawan reruntuhan juga menjadi perhatian serius bagi tim evakuasi dan petugas kebersihan yang akan membersihkan sisa-sisa kebakaran.
Investigasi Penyebab dan Langkah Penanganan Pascakejadian
Pihak kepolisian telah memulai penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran ini. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik atau kebocoran gas, namun tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) akan segera diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Kesaksian dari beberapa warga yang berhasil menyelamatkan diri akan menjadi petunjuk penting dalam mengungkap musabab kebakaran.
Pemerintah daerah melalui berbagai dinas terkait telah bergerak cepat untuk mengevakuasi korban dan mendirikan posko pengungsian sementara. Bantuan logistik berupa makanan, minuman, pakaian, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya mulai disalurkan kepada para pengungsi. Koordinasi dengan lembaga sosial dan relawan juga terus dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan secara merata dan tepat sasaran. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi dan memberikan dukungan psikososial bagi mereka yang terdampak.
Ancaman Kebakaran di Permukiman Padat dan Pentingnya Mitigasi
Insiden kebakaran seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi di kawasan permukiman padat. Struktur bangunan yang mayoritas semi permanen, instalasi listrik yang kurang terawat, serta padatnya populasi menjadi faktor pemicu utama. Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan dan pencegahan kebakaran. Edukasi mengenai bahaya kebakaran dan cara penanganannya perlu terus digalakkan.
Pemerintah juga diharapkan dapat meninjau kembali tata kota dan regulasi terkait permukiman padat untuk meminimalisir risiko serupa di masa depan. Meningkatkan pemahaman tentang bahaya korsleting listrik dan kebocoran gas adalah langkah preventif yang krusial. Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan kehidupan di tengah kepadatan urban, sekaligus menyerukan solidaritas dan aksi nyata untuk membantu mereka yang terdampak.
Daerah
Danau Semayang Mengering Lagi Ancaman Kekeringan Berulang di Kalimantan Timur
TENGGARONG – Danau Semayang, salah satu danau terbesar dan vital di wilayah pesisir timur Kalimantan, kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Menurut observasi warga setempat, danau tersebut telah mengering secara signifikan sejak Agustus lalu, sebuah fenomena yang mengingatkan kembali pada kejadian serupa yang melanda area ini pada tahun 2018. Kekeringan ekstrem ini terutama dipicu oleh absennya curah hujan selama berbulan-bulan, menimbulkan kekhawatiran serius akan dampak ekologis dan sosial.
Kondisi ini bukan kali pertama Danau Semayang menghadapi ancaman kekeringan parah. Pada tahun 2018, danau seluas ribuan hektare ini juga mengering drastis, menyebabkan kerugian besar bagi ekosistem dan masyarakat lokal. Pengeringan berulang menunjukkan adanya pola iklim yang mengkhawatirkan dan mungkin diperparah oleh faktor-faktor lingkungan lainnya. Warga yang menggantungkan hidup pada danau, seperti nelayan tradisional dan petani, kini menghadapi ketidakpastian sumber penghidupan.
Penyebab dan Pola Kekeringan Berulang
Penyebab utama kekeringan Danau Semayang saat ini adalah minimnya curah hujan dalam jangka waktu panjang. Musim kemarau yang berkepanjangan, kemungkinan dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Niño, secara drastis mengurangi pasokan air ke danau. Selain faktor iklim, beberapa elemen lain berpotensi memperparah situasi:
- Deforestasi: Degradasi hutan di daerah tangkapan air Danau Semayang dapat mengurangi kemampuan tanah menahan air, mempercepat penguapan, dan meningkatkan erosi.
- Perubahan Tata Guna Lahan: Konversi lahan di sekitar danau untuk sektor perkebunan atau pertambangan mengubah hidrologi alami, mengurangi aliran permukaan ke danau.
- Sedimentasi: Endapan lumpur yang terus-menerus mengurangi kedalaman danau, membuatnya lebih rentan terhadap pengeringan saat musim kemarau.
Pola kekeringan yang terjadi berulang dalam beberapa tahun terakhir menuntut perhatian serius dari semua pihak terkait. Fenomena ini bukan lagi sekadar anomali, melainkan indikasi perubahan iklim yang nyata dan mendesak.
Dampak Lingkungan dan Sosial yang Mendalam
Kekeringan Danau Semayang membawa konsekuensi ekologis dan sosial yang sangat luas. Secara ekologis, ekosistem danau terancam parah. Ribuan ikan mati, keanekaragaman hayati terganggu, dan habitat alami bagi berbagai spesies air tawar musnah. Air danau yang surut juga meningkatkan konsentrasi polutan, memperburuk kualitas air yang tersisa dan mempengaruhi rantai makanan.
Dari perspektif sosial, dampaknya tidak kalah serius:
- Mata Pencarian Nelayan: Nelayan kehilangan sumber pendapatan utama mereka karena ikan-ikan mati atau bermigrasi.
- Krisis Air Bersih: Meskipun Danau Semayang bukan satu-satunya sumber air minum, kekeringan bisa mempengaruhi ketersediaan air bersih di wilayah sekitarnya, terutama untuk kebutuhan sanitasi dan pertanian skala kecil.
- Ancaman Ketahanan Pangan: Petani yang mengandalkan irigasi dari danau juga menghadapi kegagalan panen, mengancam ketahanan pangan lokal.
- Migrasi dan Konflik: Dalam jangka panjang, kekeringan ekstrem bisa memicu migrasi penduduk atau bahkan potensi konflik atas sumber daya air yang semakin terbatas.
Langkah Mitigasi dan Adaptasi Jangka Panjang
Pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan perlu segera merumuskan strategi komprehensif untuk menghadapi ancaman kekeringan berulang ini. Beberapa langkah mitigasi dan adaptasi yang bisa dipertimbangkan meliputi:
- Restorasi Ekosistem: Melakukan reboisasi di daerah tangkapan air danau untuk meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan mengurangi erosi.
- Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu: Mengembangkan sistem pengelolaan air yang efisien, termasuk pembangunan embung atau waduk kecil sebagai cadangan air.
- Edukasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi air dan praktik pertanian yang berkelanjutan.
- Penelitian dan Pemantauan Iklim: Memperkuat penelitian iklim lokal untuk memprediksi pola kekeringan di masa depan dan mempersiapkan strategi adaptasi yang lebih baik.
Kasus Danau Semayang merupakan peringatan penting bagi Indonesia tentang urgensi mengatasi perubahan iklim dan mengelola sumber daya air secara bijaksana. Fenomena kekeringan ekstrem di berbagai wilayah di Indonesia, seperti yang dilaporkan dalam beberapa artikel berita sebelumnya, menunjukkan bahwa Danau Semayang bukanlah kasus terisolasi. Upaya kolektif dan kebijakan jangka panjang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.
Daerah
Said Abdullah Pimpin Gerakan Sosial PDI Perjuangan Jatim, Sasar Warga Rentan
MALANG – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, memimpin langsung aksi bakti sosial bertajuk "Pertalian Cinta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bersama Masyarakat" yang menyasar kaum rentan dan anak yatim di berbagai wilayah. Inisiatif kepedulian sosial ini merupakan wujud nyata komitmen partai dalam merajut solidaritas dan meringankan beban masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan perhatian di tengah tantangan ekonomi dan sosial. Kegiatan ini berfokus pada distribusi bantuan sembako dan santunan, menegaskan peran aktif PDI Perjuangan dalam membangun jembatan kasih dengan rakyat.
Aksi mulia tersebut tidak hanya melibatkan pembagian paket kebutuhan pokok, tetapi juga pemberian santunan tunai kepada anak-anak yatim, sebuah upaya untuk menghadirkan senyum dan harapan di wajah mereka. Ratusan paket sembako yang berisi kebutuhan dasar seperti beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya didistribusikan secara langsung, memastikan bantuan sampai tepat sasaran kepada keluarga-keluarga yang telah terdata sebagai penerima manfaat. Said Abdullah bersama jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Timur turun tangan langsung, berinteraksi dengan masyarakat, dan mendengarkan aspirasi mereka, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh empati.
Memperkuat Gotong Royong dan Solidaritas Sosial
Dalam sambutannya, Said Abdullah menekankan pentingnya semangat gotong royong dan solidaritas sosial sebagai landasan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, PDI Perjuangan, melalui berbagai program kerakyatan, terus berupaya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui aksi kepedulian sosial seperti ini. "Kegiatan ‘Pertalian Cinta’ ini bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi nyata dari ideologi partai yang selalu menempatkan rakyat sebagai prioritas utama. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada saudara kita yang merasa sendiri dalam kesulitan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk senantiasa saling membantu dan meringankan beban sesama.
- Distribusi ratusan paket sembako kepada keluarga prasejahtera.
- Penyaluran santunan khusus untuk anak-anak yatim.
- Interaksi langsung pengurus partai dengan masyarakat penerima manfaat.
- Penekanan pada nilai gotong royong dan persatuan sebagai solusi tantangan sosial.
Said Abdullah juga menyoroti bahwa bakti sosial semacam ini merupakan bagian integral dari agenda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang berkelanjutan. Aksi ini melanjutkan serangkaian inisiatif serupa yang telah gencar dilakukan partai tersebut di berbagai daerah, menegaskan komitmen jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan rakyat. Sebelumnya, PDI Perjuangan Jawa Timur juga aktif dalam berbagai program bantuan penanganan bencana, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi mikro, menunjukkan konsistensi dalam mendekatkan diri kepada masyarakat dan menjawab kebutuhan mereka secara langsung. Komitmen partai terhadap politik kesejahteraan tidak hanya berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam aksi-aksi nyata di lapangan.
Dampak Positif dan Harapan Ke Depan
Respons positif datang dari masyarakat penerima manfaat. Banyak di antara mereka menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan, yang sangat berarti di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga memberikan semangat dan harapan baru bagi mereka untuk terus berjuang. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menginspirasi pihak lain untuk turut serta dalam gerakan kepedulian sosial. PDI Perjuangan Jawa Timur menegaskan bahwa mereka akan terus aktif dalam mengidentifikasi dan merespons kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah, memperkuat ikatan antara partai dan rakyat.
Aksi "Pertalian Cinta" ini merupakan bukti konkret bahwa politik dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan. Melalui kegiatan ini, Said Abdullah dan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur tidak hanya mendistribusikan bantuan fisik, tetapi juga menyebarkan pesan persatuan, empati, dan gotong royong yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang lebih kuat dan berdaya. Komitmen untuk melayani rakyat akan terus menjadi denyut nadi setiap gerak langkah partai.
-
Daerah6 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi7 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah7 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah7 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal8 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah6 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Olahraga7 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
