Connect with us

Pemerintah

Janji Atasi Krisis Perumahan Tom Steyer Dipertanyakan di Tengah Portofolio Properti Mewah

Published

on

Tom Steyer, miliarder investor dan kandidat gubernur California, secara vokal menyuarakan komitmennya untuk mengatasi krisis perumahan yang parah di negara bagian tersebut. Namun, retorika kampanye tersebut kini menghadapi pengawasan ketat, terutama mengingat portofolio real estat pribadinya yang sangat ekstensif. Kritik muncul mempertanyakan bagaimana seorang individu dengan kepemilikan properti mewah yang luas dapat secara efektif mewakili dan menyelesaikan masalah keterjangkauan perumahan yang mendalam bagi jutaan warga California.

Janji kampanye Steyer untuk menanggulangi krisis perumahan berbenturan langsung dengan realitas kekayaannya. Sebagai seorang miliarder dengan banyak aset properti, ada persepsi bahwa pengalamannya terhadap masalah perumahan mungkin sangat berbeda dari pengalaman warga biasa yang berjuang dengan sewa tinggi atau sulitnya memiliki rumah. Diskoneksi ini berpotensi merusak kredibilitasnya dan menimbulkan keraguan di benak pemilih yang mencari solusi tulus dan empatik.

Krisis Perumahan California yang Mendesak

California saat ini bergulat dengan salah satu krisis perumahan terburuk di Amerika Serikat. Harga rumah dan sewa meroket jauh melampaui kemampuan pendapatan rata-rata. Akibatnya, jutaan penduduk menghadapi tekanan finansial yang luar biasa, dengan banyak yang terpaksa pindah dari negara bagian atau menghadapi tunawisma. Krisis ini bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga masalah sosial yang memengaruhi kualitas hidup, pendidikan, dan stabilitas komunitas. Solusi yang diusulkan oleh para politikus haruslah komprehensif, berkelanjutan, dan yang terpenting, dapat dipercaya oleh publik yang terdampak langsung.

  • Harga sewa rata-rata melampaui batas keterjangkauan bagi pekerja berpenghasilan menengah.
  • Tingkat kepemilikan rumah menurun, terutama di kalangan generasi muda dan kelompok minoritas.
  • Jumlah tunawisma terus meningkat di kota-kota besar.
  • Kurangnya pasokan rumah yang terjangkau menjadi akar masalah utama.

Portofolio Properti Steyer dan Dilema Kredibilitas

Sebagai seorang miliarder, Tom Steyer telah membangun kekayaan melalui berbagai investasi, termasuk real estat. Sumber menyebutkan bahwa ia memiliki ‘extensive personal real estate holdings’. Meskipun tidak ada yang salah secara inheren dengan memiliki properti, kontras antara kepemilikan pribadinya yang mewah dan janji kampanye tentang keterjangkauan perumahan sangat mencolok. Para pengkritik berpendapat bahwa sulit bagi seseorang yang mungkin secara pribadi diuntungkan dari pasar properti yang tinggi untuk benar-benar memahami atau bersimpati dengan perjuangan mereka yang terkunci dari kepemilikan rumah atau terbebani oleh sewa yang tidak terjangkau.

Persoalan ini bukan hanya tentang kekayaan itu sendiri, tetapi tentang “optik” politik. Dalam iklim politik saat ini, di mana kesenjangan kekayaan menjadi isu sentral, politikus kaya sering kali kesulitan untuk meyakinkan publik bahwa mereka memahami perjuangan sehari-hari warga biasa. Ini pernah menjadi tantangan bagi beberapa tokoh publik lainnya yang memiliki kekayaan substansial saat membahas masalah ekonomi yang menyangkut sebagian besar populasi.

Persepsi Publik dan Tantangan Politik

Bagaimana publik memandang konsistensi antara retorika dan realitas seorang kandidat sangat krusial dalam sebuah pemilihan. Pertanyaan seputar portofolio real estat Steyer dapat menjadi titik lemah dalam kampanyenya, memungkinkan lawan-lawannya untuk menyerang kredibilitasnya dalam isu perumahan. Pemilih mungkin bertanya-tanya:

  • Apakah Steyer akan memprioritaskan kepentingan pengembang properti besar atau rakyat jelata?
  • Apakah solusinya akan benar-benar mengatasi akar masalah atau hanya bersifat kosmetik?
  • Bagaimana pengalaman pribadinya sebagai pemilik properti mewah membentuk pandangannya tentang keterjangkauan?

Untuk mengatasi keraguan ini, Steyer perlu secara proaktif menjelaskan bagaimana kekayaan dan pengalamannya sebagai investor akan membantunya menyelesaikan krisis, bukan menghalanginya. Ia harus mampu meyakinkan pemilih bahwa komitmennya terhadap perumahan yang terjangkau adalah tulus dan akan menghasilkan kebijakan yang efektif untuk semua warga California, terlepas dari status ekonomi mereka. Tanpa penjelasan yang meyakinkan, janji-janji kampanye ini berisiko dicap sebagai retorika kosong dari seorang politikus yang terputus dari realitas sebagian besar pemilihnya. Analisis lebih lanjut mengenai proposal kebijakannya akan sangat penting untuk mengevaluasi komitmennya terhadap solusi jangka panjang bagi krisis yang kompleks ini. [Baca lebih lanjut tentang kondisi krisis perumahan di California](https://www.ppic.org/publication/californias-housing-crisis/)

Pemerintah

Kemenag Klasifikasi ‘Budaya’ LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Sesuai Perpres 111/2025

Published

on

Kemenag Adopsi Pencegahan ‘Budaya’ LGBTQ, Ikuti Perpres Pertahanan Negara

Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi mengadopsi istilah pencegahan ‘budaya’ LGBTQ sebagai bagian dari strategi nasional, menindaklanjuti Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029. Kebijakan ini secara eksplisit mengklasifikasikan penyebaran ‘budaya’ LGBTQ sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter yang harus diwaspadai dan ditangani oleh negara. Langkah ini sontak memicu perdebatan luas mengenai implikasi hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

Menurut Romo Muhammad Syafi’i, penyusunan materi pencegahan ini merupakan respons langsung terhadap beleid tersebut. Beleid yang kini menjadi dasar hukum Kemenag ini menggarisbawahi urgensi mitigasi terhadap berbagai ancaman nonmiliter, termasuk apa yang disebutnya sebagai ‘penyebaran budaya LGBTQ’. Pernyataan ini menegaskan posisi pemerintah melalui Kemenag dalam menyikapi isu orientasi seksual dan identitas gender di Indonesia, menempatkannya dalam kerangka pertahanan dan keamanan nasional.

Kebijakan ini mencerminkan pendekatan konservatif yang menganggap identitas atau ekspresi LGBTQ sebagai sebuah ‘budaya’ yang dapat ‘dicegah’ atau ‘disebarkan’, alih-alih sebagai variasi alami dalam orientasi seksual dan identitas gender individu. Narasi semacam ini kerap digunakan untuk membenarkan tindakan diskriminatif atau pembatasan hak-hak kelompok minoritas seksual dan gender.

Perpres 111/2025: Ancaman Nonmiliter dan Implikasinya

Perpres Nomor 111 Tahun 2025, yang berlaku untuk periode lima tahun ke depan, menjadi landasan penting bagi Kemenag untuk mengimplementasikan program pencegahan ‘budaya’ LGBTQ. Pengelompokan ‘budaya LGBTQ’ sebagai ancaman nonmiliter menandai perluasan definisi ancaman keamanan negara yang sebelumnya lebih sering berfokus pada terorisme, radikalisme, atau ancaman ekonomi. Kategorisasi ini membuka pintu bagi interpretasi yang lebih luas mengenai apa yang dapat dianggap mengganggu stabilitas nasional.

Berikut beberapa poin krusial terkait Perpres 111/2025 dan implikasinya:

  • Definisi Ancaman: Perpres ini memperluas spektrum ancaman nonmiliter yang mencakup aspek sosial dan budaya.
  • Peran Kemenag: Kementerian Agama diberikan mandat untuk menyusun materi dan program pencegahan, menunjukkan peran aktif lembaga keagamaan dalam isu pertahanan negara.
  • Potensi Diskriminasi: Klasifikasi ini dikhawatirkan dapat melegitimasi diskriminasi dan stigma terhadap individu LGBTQ, serta membatasi ruang gerak mereka dalam masyarakat.
  • Pembatasan Hak: Kebijakan semacam ini berpotensi mengekang hak asasi manusia seperti kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul, yang dijamin oleh konstitusi.

Kritik dan Perdebatan Seputar Istilah ‘Budaya’ LGBTQ

Penggunaan istilah ‘pencegahan budaya LGBTQ’ telah menuai kritik keras dari berbagai pihak, terutama organisasi hak asasi manusia dan akademisi. Mereka berpendapat bahwa istilah ‘budaya’ adalah misrepresentasi fundamental dari orientasi seksual dan identitas gender, yang merupakan bagian integral dari diri seseorang, bukan sesuatu yang ‘dipelajari’ atau ‘disebarkan’ seperti budaya pop atau ideologi tertentu.

Pegiat HAM khawatir kebijakan ini akan semakin memperburuk situasi kelompok LGBTQ di Indonesia, yang sudah sering menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan stigma sosial. Mereka mengingatkan pemerintah akan kewajiban negara untuk melindungi semua warganya tanpa terkecuali, sesuai dengan prinsip non-diskriminasi yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 dan konvensi hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga telah beberapa kali menghadapi sorotan tajam dari komunitas internasional terkait isu-isu hak asasi manusia kelompok LGBTQ, terutama mengenai regulasi atau pernyataan pejabat publik yang cenderung diskriminatif. Kebijakan ini berpotensi memicu gelombang kritik baru dan dapat berdampak pada citra Indonesia di mata dunia internasional. Situasi HAM di Indonesia, khususnya bagi kelompok rentan, seringkali menjadi perhatian lembaga-lembaga global.

Dampak dan Prospek ke Depan

Dengan adanya kebijakan ini, Kemenag diharapkan dapat merumuskan materi pencegahan yang tidak hanya sesuai dengan amanat Perpres, tetapi juga sensitif terhadap keberagaman dan hak asasi manusia. Namun, tantangannya besar. Bagaimana Kemenag akan menerjemahkan ‘pencegahan budaya LGBTQ’ ke dalam program konkret tanpa melanggar hak-hak dasar warga negara menjadi pertanyaan besar. Potensi peningkatan stigmatisasi dan diskriminasi di berbagai lapisan masyarakat perlu diantisipasi dan dimitigasi.

Kebijakan ini juga memunculkan kebutuhan mendesak akan dialog terbuka dan inklusif antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas LGBTQ, dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi yang menghormati martabat dan hak setiap individu, sambil tetap menjaga kerangka hukum dan sosial yang berlaku di Indonesia. Bagaimana Kemenag menyeimbangkan mandat Perpres dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia akan menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu ke depan, mengingat sensitivitas isu ini di kancah nasional maupun global.

Continue Reading

Pemerintah

Tekanan Politik Meningkat pada Senator Susan Collins Pasca Insiden Penembakan ICE di Maine

Published

on

Insiden penembakan fatal yang melibatkan agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) di Maine baru-baru ini telah memicu gelombang tekanan politik yang signifikan, terutama terhadap Senator Susan Collins. Sebagai seorang Republikan yang dianggap rentan dalam lanskap politik saat ini, Collins kini menjadi target utama bagi para politikus Demokrat yang berambisi untuk menantangnya. Mereka secara agresif memanfaatkan insiden ini untuk menarik perhatian publik pada rekam jejak Senator Collins terkait masalah imigrasi, mengubah peristiwa tragis tersebut menjadi amunisi kampanye yang potensial.

Kejadian di Maine, yang detailnya masih terus diselidiki, secara cepat menjadi sorotan nasional, menyoroti kembali perdebatan sengit seputar peran dan tindakan badan penegak hukum imigrasi. Sebuah penembakan fatal selalu memicu pertanyaan mendalam tentang akuntabilitas, penggunaan kekuatan, dan pelatihan, terutama ketika melibatkan agen federal. Publik dan kelompok-kelompok advokasi imigran menuntut transparansi dan keadilan, memperkuat narasi bahwa penegakan imigrasi sering kali diwarnai oleh tindakan kontroversial.

Kontroversi Insiden Penembakan dan Dampak Publik

Insiden penembakan yang terjadi di salah satu komunitas di Maine ini telah menciptakan krisis kepercayaan dan memicu kemarahan di kalangan masyarakat. Meskipun detail spesifik tentang siapa yang terlibat dan mengapa penembakan itu terjadi masih dalam penyelidikan, fakta bahwa insiden tersebut melibatkan ICE secara inheren menarik perhatian pada praktik penegakan imigrasi yang lebih luas di Amerika Serikat. Kritikus sering kali menuduh ICE bertindak terlalu agresif atau melampaui batas kewenangannya, dan insiden semacam ini memperkuat argumen mereka.

* Seruan Transparansi: Banyak pihak menyerukan penyelidikan independen dan publikasi rekaman kejadian untuk memastikan akuntabilitas penuh.
* Debat Penegakan Imigrasi: Insiden ini kembali memanaskan perdebatan tentang peran ICE, pendanaannya, dan batas-batas operasionalnya.
* Perpecahan Komunitas: Peristiwa semacam ini seringkali memperdalam perpecahan antara komunitas imigran dan badan penegak hukum.

Bagi Senator Collins, seorang politikus veteran yang dikenal karena citranya yang moderat, insiden ini datang pada waktu yang tidak tepat. Dalam karirnya, Collins seringkali harus menyeimbangkan antara tuntutan basis konservatif partainya dan pemilih independen serta liberal di negara bagian Maine yang cenderung moderat atau progresif. Insiden ICE ini memaksa dirinya untuk mengambil sikap yang jelas dalam isu yang sangat terpolarisasi.

Rekam Jejak Senator Collins dalam Isu Imigrasi yang Disorot

Partai Demokrat dengan sigap mengambil kesempatan ini untuk menyoroti rekam jejak Senator Collins dalam isu imigrasi. Catatan voting dan pernyataan publik Collins selama bertahun-tahun menunjukkan dukungan yang konsisten terhadap penguatan keamanan perbatasan dan pendanaan untuk badan-badan penegak hukum seperti ICE. Meskipun ia juga terkadang mendukung reformasi imigrasi yang lebih komprehensif, posisinya seringkali dianggap tidak cukup kuat oleh kelompok pro-imigran dan terlalu berpihak pada kebijakan penegakan yang ketat oleh lawan-lawannya.

* Dukungan terhadap Keamanan Perbatasan: Collins telah berulang kali mendukung peningkatan anggaran untuk keamanan perbatasan dan teknologi pengawasan.
* Pendanaan ICE dan CBP: Ia seringkali memilih untuk mendukung alokasi dana untuk operasi ICE dan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP), yang menjadi sasaran kritik dari sayap kiri.
* Sikap terhadap ‘Dreamers’: Meskipun ada upaya untuk menemukan solusi bagi para Dreamer, ia belum secara aktif mendorong legislasi komprehensif yang kuat yang didukung oleh Demokrat.

Para penantang Demokrat berpendapat bahwa rekam jejak Collins mencerminkan pendekatan yang dingin dan tidak sensitif terhadap nasib imigran, serta dukungan terhadap kebijakan yang dapat menyebabkan insiden seperti penembakan di Maine. Mereka mencoba untuk menghubungkan secara langsung kebijakan yang didukung Collins dengan konsekuensi tragis di lapangan, menempatkannya dalam posisi defensif dan memaksa dirinya untuk menjelaskan posisinya di tengah meningkatnya kemarahan publik. Seperti yang sering dibahas dalam [analisis kebijakan imigrasi AS](https://www.reuters.com/world/us/us-immigration-policy-tensions-amid-border-crisis-2023-11-15/) secara luas, posisi seorang politikus dapat memiliki dampak nyata pada kehidupan masyarakat.

Strategi Oposisi dan Tantangan Pemilu Mendatang

Dengan pemilu senat berikutnya yang kian mendekat, Demokrat melihat insiden ini sebagai peluang emas untuk melemahkan posisi Collins, yang merupakan salah satu dari sedikit senator Republikan yang dianggap dapat dikalahkan. Strategi mereka jelas: menghubungkan insiden penembakan dengan kebijakan yang didukung Collins dan menggambarkannya sebagai bagian dari masalah, bukan solusi. Mereka berharap ini akan memobilisasi basis pemilih progresif dan menarik pemilih independen yang mungkin merasa tidak nyaman dengan kekerasan dalam penegakan imigrasi.

Collins, yang telah memenangkan beberapa pemilihan sulit di masa lalu dengan menarik dukungan lintas partai, kini menghadapi tantangan yang lebih berat. Isu imigrasi telah menjadi salah satu topik paling memecah belah dalam politik Amerika Serikat, dan insiden fatal seperti ini hanya akan memperparah polarisasi. Para penantang Demokrat yang potensial, yang mungkin belum secara resmi mengumumkan pencalonan mereka, kini memiliki narasi yang kuat untuk memulai kampanye mereka, berfokus pada keadilan imigrasi dan akuntabilitas pemerintah federal.

Lanskap Politik Maine dan Implikasi Nasional

Maine memiliki sejarah memilih politikus independen dan moderat, menjadikannya medan pertempuran politik yang unik. Tekanan yang dialami Collins atas insiden ICE ini tidak hanya memiliki implikasi lokal tetapi juga dapat memengaruhi dinamika politik nasional. Jika Collins, seorang Republikan yang menjabat cukup lama, dapat dikalahkan, ini akan menjadi kemenangan moral dan strategis yang besar bagi Demokrat, yang berjuang untuk mempertahankan atau memperluas mayoritas tipis mereka di Senat. Hasil dari tekanan ini di Maine akan menjadi indikator penting bagi perdebatan imigrasi yang lebih luas dan bagaimana isu tersebut akan dimainkan dalam siklus pemilu mendatang di seluruh negeri. Ini menyoroti bagaimana peristiwa tunggal di tingkat lokal dapat memiliki riak yang signifikan di panggung politik nasional, membentuk narasi dan strategi kampanye di masa depan.

Insiden penembakan ICE di Maine telah secara efektif mengubah lanskap politik bagi Senator Susan Collins. Tekanan dari Demokrat, yang memanfaatkan insiden ini untuk menyoroti rekam jejak imigrasinya, menempatkan Collins dalam posisi yang sulit menjelang pemilu mendatang. Bagaimana ia merespons dan menavigasi krisis ini akan sangat menentukan prospek politiknya di negara bagian Maine dan, pada gilirannya, dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Senat AS.

Continue Reading

Pemerintah

Terobosan Serang Lindungi Puluhan Ribu Pekerja Informal, Model Nasional Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Published

on

Inovasi Serang untuk Perlindungan Menyeluruh Pekerja Rentan

Pemerintah Kabupaten Serang mencatatkan langkah progresif dalam perluasan jangkauan perlindungan jaminan sosial. Melalui program inovatif bernama "1 Desa 100 Pekerja Rentan", lebih dari 32.600 pekerja sektor informal di desa-desa Kabupaten Serang kini menikmati proteksi dari BPJS Ketenagakerjaan. Inisiatif ini tidak hanya menjadi wujud komitmen pemerintah daerah, tetapi juga digadang-gadang sebagai percontohan nasional dalam mewujudkan Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (UCJ).

Program "1 Desa 100 Pekerja Rentan" secara konkret menargetkan seratus pekerja rentan di setiap desa di Kabupaten Serang untuk didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Fokus pada pekerja rentan ini sangat krusial mengingat sektor informal seringkali luput dari skema perlindungan jaminan sosial formal, padahal mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap risiko ekonomi dan ketenagakerjaan. Kemitraan strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan memastikan program ini memiliki landasan hukum dan operasional yang kuat, serta manfaat yang terstruktur bagi para peserta.

Dampak Signifikan bagi Pekerja Sektor Informal

Jumlah lebih dari 32.600 pekerja rentan yang kini terlindungi bukanlah angka yang kecil; ini merepresentasikan perubahan hidup yang signifikan bagi puluhan ribu keluarga. Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan membekali mereka dengan jaring pengaman sosial yang vital, khususnya dalam menghadapi risiko kerja yang tidak terduga.

Manfaat utama yang didapatkan peserta meliputi:

  • Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK): Memberikan santunan dan biaya pengobatan apabila terjadi kecelakaan saat bekerja atau dalam perjalanan menuju/pulang kerja.
  • Jaminan Kematian (JKM): Memberikan santunan kepada ahli waris jika peserta meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja.
  • Jaminan Hari Tua (JHT): Walaupun untuk pekerja informal seringkali bersifat opsional atau disesuaikan, prinsipnya adalah akumulasi iuran untuk masa depan.
  • Jaminan Pensiun (JP): (Tergantung skema dan iuran, namun BPJS Ketenagakerjaan terus berupaya memperluas cakupan ini).

Perlindungan ini tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memungkinkan pekerja dan keluarganya untuk lebih fokus pada produktivitas tanpa dibayangi ketakutan akan beban finansial akibat musibah kerja. Ini adalah investasi jangka panjang dalam kualitas hidup masyarakat dan stabilitas ekonomi lokal.

Menuju Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Program di Serang ini menjadi angin segar bagi upaya nasional menuju Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (UCJ). UCJ adalah visi dimana seluruh pekerja, baik formal maupun informal, memiliki akses dan terlindungi oleh skema jaminan sosial. Kondisi ini sangat penting untuk menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Inisiatif "1 Desa 100 Pekerja Rentan" membuktikan bahwa dengan pendekatan yang terstruktur dan kolaborasi efektif antara pemerintah daerah dan lembaga jaminan sosial, target UCJ dapat tercapai lebih cepat.

Keberhasilan program di Serang diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, khususnya di wilayah dengan populasi pekerja informal yang besar. Hal ini merupakan lanjutan dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam memastikan setiap warga negara memiliki hak dasar atas perlindungan sosial. Inisiatif seperti ini juga selaras dengan agenda pembangunan nasional yang menekankan pentingnya pemerataan kesejahteraan.

Kolaborasi Strategis dan Harapan ke Depan

Kemitraan antara Pemerintah Kabupaten Serang dan BPJS Ketenagakerjaan adalah kunci keberhasilan program ini. Sinergi ini mencerminkan komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan. BPJS Ketenagakerjaan, sebagai garda terdepan penyedia jaminan sosial ketenagakerjaan, terus berinovasi dalam menyentuh berbagai segmen pekerja, termasuk sektor informal.

Ke depan, tantangan terletak pada keberlanjutan program, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan sosial, serta perluasan cakupan yang lebih masif. Program ini tidak hanya sekadar melindungi, tetapi juga memberdayakan pekerja rentan dengan memberikan mereka kepastian dan harapan. Ini adalah langkah konkret menuju ekosistem ketenagakerjaan yang lebih adil dan inklusif di Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai manfaat dan program jaminan sosial, Anda dapat mengunjungi situs resmi BPJS Ketenagakerjaan.

Baca juga: Berbagai Program Jaminan Sosial untuk Pekerja Informal

Continue Reading

Trending