Connect with us

Daerah

Tradisi Sobat Nelayan Berau: Melestarikan Kearifan Lokal dan Menggairahkan Pariwisata Budaya

Published

on

Kelompok nelayan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, secara konsisten memelihara tradisi “sobat”, sebuah metode menangkap ikan menggunakan pukat. Kegiatan turun-temurun ini kini bukan sekadar upaya meningkatkan pendapatan, melainkan telah berevolusi menjadi sebuah atraksi wisata budaya yang unik dan menarik. Inisiatif ini menandai perpaduan harmonis antara pelestarian kearifan lokal dengan pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Tradisi “sobat” yang dipertahankan oleh masyarakat pesisir Berau menunjukkan bagaimana praktik tradisional dapat menemukan relevansi baru di era modern. Para nelayan tidak hanya meneruskan warisan leluhur mereka, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui sektor pariwisata, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas. Langkah ini patut diapresiasi sebagai model pengembangan daerah yang berbasis komunitas dan budaya.

Melestarikan Warisan Leluhur: Apa Itu Tradisi Sobat?

Tradisi “sobat” merupakan teknik penangkapan ikan tradisional yang mengandalkan penggunaan pukat atau jaring besar. Metode ini biasanya melibatkan kerja sama kolektif antar nelayan, di mana mereka secara bersama-sama menarik jaring dari laut menuju pantai. Kekhasan “sobat” terletak pada:

  • Kolektivitas: Penangkapan ikan dilakukan secara gotong royong, memperkuat tali silaturahmi dan kerja sama antarwarga.
  • Kearifan Lokal: Penentuan lokasi dan waktu penangkapan seringkali didasarkan pada pengetahuan turun-temurun tentang kondisi laut, pasang surut, dan migrasi ikan.
  • Ramah Lingkungan: Dibandingkan metode penangkapan ikan modern yang merusak, “sobat” cenderung lebih selektif dan meminimalisir kerusakan ekosistem laut, karena target ikan biasanya disesuaikan dan dilakukan di area dangkal.
  • Ekonomi Berkelanjutan: Hasil tangkapan ikan dari tradisi “sobat” tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi komoditas pasar yang menopang ekonomi keluarga nelayan.

Praktik ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat pesisir Berau selama beberapa generasi. Mempertahankan tradisi ini berarti juga menjaga identitas budaya dan historis mereka.

Sinergi Apik: Memadukan Tradisi dengan Daya Tarik Wisata

Transformasi tradisi “sobat” menjadi atraksi wisata budaya adalah langkah cerdas yang menunjukkan visi jangka panjang komunitas dan pemerintah daerah. Wisatawan kini memiliki kesempatan langka untuk:

  • Berpartisipasi Langsung: Pengunjung dapat ikut merasakan sensasi menarik pukat bersama nelayan, sebuah pengalaman otentik yang berbeda dari turis biasa.
  • Belajar Budaya: Mendapatkan pemahaman mendalam tentang kehidupan nelayan tradisional, kearifan lokal dalam mengelola sumber daya laut, dan nilai-nilai kebersamaan.
  • Menikmati Hasil Tangkapan: Seringkali, ikan hasil tangkapan langsung diolah dan dinikmati bersama di pantai, menambah nilai pengalaman kuliner lokal.

Integrasi “sobat” ke dalam paket wisata tidak hanya menawarkan pengalaman baru bagi pelancong, tetapi juga membuka kanal pendapatan tambahan bagi nelayan dan masyarakat sekitar. Ini adalah contoh konkret bagaimana sektor pariwisata dapat berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk menciptakan produk wisata yang berkelanjutan dan bermakna. Kesuksesan Berau ini menambah daftar panjang daerah di Indonesia yang sukses memadukan budaya dan pariwisata, mengingatkan kita pada upaya serupa yang pernah dibahas dalam artikel kami tentang pengembangan ekowisata bahari di beberapa wilayah nusantara.

Dampak Positif bagi Ekonomi dan Lingkungan Lokal

Pengembangan tradisi “sobat” sebagai atraksi wisata membawa berbagai dampak positif:

  • Peningkatan Ekonomi Komunitas: Selain hasil penjualan ikan, nelayan dan warga lokal juga mendapatkan pemasukan dari layanan pariwisata seperti pemandu wisata, penjualan oleh-oleh, atau penyediaan akomodasi sederhana.
  • Pelestarian Lingkungan: Dengan menjadikan tradisi “sobat” sebagai daya tarik, ada insentif lebih besar bagi komunitas untuk menjaga kebersihan dan kelestarian perairan, karena keindahan alam menjadi aset utama pariwisata mereka.
  • Penguatan Identitas Budaya: Tradisi ini tidak lagi dianggap kuno, melainkan menjadi kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan menjadi daya tarik global.
  • Promosi Daerah: Berau semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang kaya akan budaya dan keindahan alam, menarik lebih banyak investor dan wisatawan.

Pemerintah daerah dan pegiat pariwisata melihat potensi besar dari model pariwisata berbasis komunitas ini. Ini adalah bukti bahwa pariwisata tidak harus merusak, melainkan dapat menjadi kekuatan pendorong untuk pelestarian dan pemberdayaan.

Panggilan untuk Pelestarian dan Pengembangan Berkelanjutan

Meski telah menunjukkan keberhasilan, pelestarian dan pengembangan tradisi “sobat” sebagai atraksi wisata memerlukan perhatian berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga keaslian tradisi, serta pelatihan dalam bidang pelayanan pariwisata, perlu terus ditingkatkan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas nelayan, dan pihak swasta menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini dalam jangka panjang.

Berau memiliki potensi besar untuk menjadi model ekowisata budaya yang menginspirasi. Dengan terus merawat tradisi “sobat” dan mengintegrasikannya secara bijak dengan pariwisata, kelompok nelayan Berau tidak hanya melestarikan warisan berharga, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi komunitas mereka. Upaya semacam ini menegaskan kembali nilai fundamental kearifan lokal Indonesia dalam menghadapi tantangan modern.

Daerah

Gubernur Kalteng Genjot Partisipasi Publik Berantas Karhutla, Tawarkan Hadiah Rp5 Juta

Published

on

PALANGKARAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) meningkatkan upaya masif dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjelang puncak musim kemarau. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, secara tegas mengumumkan inisiatif strategis dengan menawarkan hadiah sebesar Rp5 juta bagi masyarakat yang memberikan informasi akurat mengenai pelaku pembakaran lahan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan dari ancaman Karhutla yang selalu menjadi momok tahunan di Bumi Tambun Bungai.

Inisiatif ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah seruan nyata kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak tinggal diam melihat kerusakan lingkungan. Dengan adanya insentif finansial, diharapkan masyarakat memiliki motivasi lebih untuk melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang berpotensi memicu Karhutla. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa potensi kemarau ekstrem yang diperparah oleh fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko Karhutla secara signifikan di wilayah Kalteng. Oleh karena itu, langkah proaktif seperti ini menjadi sangat krusial dalam menekan angka kejadian.

Meningkatkan Partisipasi Publik Melalui Insentif

Pemberian hadiah Rp5 juta untuk setiap informasi valid tentang pembakar lahan menyoroti strategi pemerintah yang bergeser dari sekadar penindakan pasca-kejadian menjadi pencegahan berbasis komunitas. Gubernur Agustiar Sabran menekankan bahwa partisipasi publik adalah kunci keberhasilan dalam memerangi Karhutla. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran serta masyarakat sangat kami harapkan untuk menjadi mata dan telinga pemerintah di lapangan,” ujarnya dalam sebuah kesempatan. Insentif ini diharapkan dapat memecah dinding ketidakpedulian dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Langkah ini juga sekaligus memberikan sinyal kuat kepada para pelaku pembakaran lahan bahwa setiap tindakan ilegal mereka diawasi oleh seluruh lapisan masyarakat. Sistem pelaporan akan diatur sedemikian rupa untuk menjamin kerahasiaan identitas pelapor dan mempermudah verifikasi informasi. Pemerintah daerah bekerja sama dengan aparat penegak hukum seperti kepolisian dan TNI, serta instansi terkait lainnya, untuk membentuk tim verifikasi yang responsif dan dapat diandalkan. Ini adalah upaya serius untuk memastikan bahwa hadiah hanya diberikan kepada laporan yang benar-benar akurat dan berujung pada penangkapan atau penindakan hukum.

Tantangan dan Harapan di Balik Hadiah Rp5 Juta

Meskipun tawaran hadiah ini disambut positif, tantangan dalam implementasinya tentu ada. Beberapa kekhawatiran meliputi potensi laporan palsu atau informasi yang tidak akurat, serta keamanan bagi para pelapor. Pemerintah harus menyiapkan mekanisme perlindungan yang kuat bagi informan agar mereka tidak merasa terancam oleh para pelaku pembakaran lahan, yang seringkali merupakan oknum atau kelompok yang memiliki pengaruh di daerah. Selain itu, proses verifikasi yang cepat dan transparan akan menjadi indikator kunci keberhasilan program ini. Tanpa sistem yang kredibel, insentif ini berisiko kehilangan efektivitasnya.

Harapan besar menyertai inisiatif ini. Selain menekan angka Karhutla, program ini juga berpotensi menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan. Masyarakat diharapkan bukan hanya menjadi pelapor, tetapi juga agen perubahan yang aktif mengedukasi lingkungan sekitar tentang bahaya Karhutla. Edukasi dini mengenai dampak Karhutla terhadap kesehatan, perekonomian, dan ekosistem menjadi esensial agar tindakan pembakaran lahan tidak lagi dianggap sebagai praktik yang lumrah.

Sinergi Penegakan Hukum dan Pencegahan

Upaya pencegahan Karhutla di Kalteng tidak hanya berhenti pada pemberian insentif. Pemerintah Provinsi secara konsisten memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam penegakan hukum terhadap pelaku Karhutla. Pasal 108 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dengan jelas mengatur sanksi pidana bagi siapa pun yang melakukan pembakaran lahan. Para pelaku dapat diancam pidana penjara hingga 10 tahun dan denda miliaran rupiah. Penindakan tegas terhadap para pelanggar menjadi prioritas untuk menciptakan efek jera dan memastikan bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

Selain itu, berbagai program pencegahan Karhutla yang telah berjalan selama ini terus digalakkan, meliputi:

  • Patroli gabungan rutin oleh Manggala Agni, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
  • Sosialisasi masif tentang bahaya dan sanksi Karhutla di tingkat desa dan komunitas adat.
  • Penggunaan teknologi pemantauan titik panas (hotspot) satelit untuk deteksi dini.
  • Penyediaan peralatan pemadam kebakaran yang memadai di daerah rawan.
  • Pengembangan sistem informasi dan komunikasi yang memungkinkan respons cepat.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari berbagai strategi yang telah diterapkan pemerintah di musim-musim Karhutla sebelumnya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri secara berkala merilis panduan dan kebijakan terkait upaya pencegahan dan penanggulangan Karhutla secara nasional, yang juga menjadi acuan bagi pemerintah daerah.

Dampak Karhutla yang Berulang dan Upaya Mitigasi Jangka Panjang

Karhutla di Kalteng bukan sekadar masalah lokal, melainkan isu yang memiliki dampak luas, mulai dari kabut asap yang mengganggu kesehatan pernapasan warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, hingga kerugian ekonomi akibat terganggunya sektor transportasi, pariwisata, dan produktivitas pertanian. Secara ekologis, Karhutla menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem gambut yang sulit dipulihkan, serta pelepasan emisi karbon dalam jumlah besar yang berkontribusi pada perubahan iklim global.

Untuk mengatasi masalah berulang ini, diperlukan strategi mitigasi jangka panjang yang berkelanjutan. Ini mencakup restorasi lahan gambut, pengembangan pertanian tanpa bakar (zero burning), penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat lokal, serta dukungan kebijakan yang memihak pada praktik pengelolaan lahan yang bertanggung jawab. Program insentif pelaporan ini diharapkan menjadi salah satu pemicu bagi masyarakat untuk lebih aktif menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton pasif. Dengan demikian, target Kalteng bebas Karhutla dapat dicapai secara bertahap dan berkelanjutan.

Continue Reading

Daerah

Fenomena Antrean Dini Hari: Ribuan Warga Samarinda Berebut Rumah Subsidi, Pasokan Tak Sebanding Permintaan

Published

on

SAMARINDA – Kesenjangan antara kebutuhan hunian layak dan pasokan yang terbatas kembali terlihat jelas di Samarinda, Kalimantan Timur. Ratusan warga rela mengantre panjang bahkan sejak dini hari untuk memperebutkan unit rumah subsidi. Fenomena ini bukan hanya menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap hunian terjangkau, tetapi juga menyoroti urgensi pemerintah dan pengembang dalam mengatasi defisit perumahan, khususnya bagi segmen berpenghasilan menengah ke bawah.

Memburu Mimpi Punya Rumah Sendiri: Antrean Panjang Sejak Subuh

Sebanyak 450 calon pembeli rumah subsidi membanjiri lokasi pendaftaran untuk mendapatkan nomor antrean yang menjadi kunci kepemilikan 192 unit rumah Grha Mandiri 9. Proyek perumahan yang terletak di kawasan Jalan Perjuangan ini menawarkan unit dengan harga terjangkau, sekitar Rp182 juta, menjadikannya pilihan menarik di tengah melambungnya harga properti di perkotaan.

Antrean panjang, yang dilaporkan telah dimulai sejak dini hari, menggambarkan betapa gigihnya perjuangan warga untuk memiliki hunian. Setelah berhasil mendapatkan nomor antrean, para peminat kembali mendatangi lokasi pendaftaran resmi di Jalan Ahmad Yani (Cendrawasih) Nomor 1B, Samarinda. Proses pendaftaran ini, yang berlangsung pada Kamis lalu, menjadi saksi bisu harapan ratusan keluarga untuk memiliki rumah impian.

  • Total unit tersedia: 192 unit
  • Jumlah peminat yang mengantre: 450 orang
  • Lokasi proyek: Grha Mandiri 9, Jalan Perjuangan, Samarinda
  • Harga per unit: sekitar Rp182 juta
  • Lokasi pendaftaran: Jalan Ahmad Yani (Cendrawasih) Nomor 1B, Samarinda

Indikator Kebutuhan Perumahan yang Mendesak di Daerah

Tingginya antusiasme terhadap rumah subsidi ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan cerminan dari kebutuhan perumahan yang fundamental dan terus meningkat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Samarinda sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta keterbatasan daya beli masyarakat menjadi faktor utama pendorong lonjakan permintaan. Data nasional menunjukkan bahwa backlog atau kesenjangan kepemilikan rumah masih menjadi tantangan serius, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Harga rumah yang terus merangkak naik, terutama di pusat kota, membuat rumah subsidi menjadi pilihan realistis bagi banyak keluarga. Program pemerintah melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi, seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), menjadi tulang punggung yang memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah untuk mengakses pembiayaan dengan bunga ringan dan tenor panjang. Namun, ketika pasokan terbatas, persaingan menjadi tidak terhindarkan.

Fenomena antrean panjang ini juga mengingatkan pada laporan-laporan sebelumnya mengenai tantangan backlog perumahan nasional yang masih signifikan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus berupaya meningkatkan ketersediaan hunian layak dan terjangkau, namun upaya ini memerlukan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Informasi lebih lanjut mengenai program perumahan pemerintah dapat diakses melalui situs resmi Kementerian PUPR.

Tantangan dan Solusi Berkelanjutan untuk Sektor Perumahan

Kondisi di Samarinda menjadi alarm bagi semua pihak terkait. Para pengembang perlu didorong untuk lebih gencar membangun rumah-rumah dengan harga terjangkau yang sesuai dengan daya beli masyarakat. Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki peran krusial dalam mempermudah perizinan, menyediakan lahan yang strategis, serta memberikan insentif bagi pembangunan perumahan subsidi.

Ke depan, strategi jangka panjang perlu difokuskan pada peningkatan pasokan yang berkelanjutan, diversifikasi jenis hunian, serta inovasi dalam pembiayaan. Selain itu, edukasi mengenai program-program subsidi dan kriteria kelayakan juga penting agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan baik. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak keluarga Indonesia yang dapat mewujudkan impiannya memiliki rumah sendiri, tanpa harus melalui antrean panjang yang melelahkan dan penuh ketidakpastian.

Continue Reading

Daerah

Samarinda Terancam Krisis Air Bersih Menyusul Penyusutan Drastis Bendungan Benanga Akibat Kemarau

Published

on

SAMARINDA – Ketinggian muka air Bendungan Benanga terus menurun signifikan, memicu kekhawatiran serius akan ancaman krisis air bersih di sejumlah wilayah. Kondisi kemarau panjang telah mengakibatkan debit air di bendungan vital ini kini mencapai level kritis 7,10 meter. Jika curah hujan tidak mengguyur kawasan hulu dalam rentang waktu 10 hingga 14 hari ke depan, pasokan air baku yang menjadi tulang punggung pelayanan air bersih di kota tersebut diperkirakan akan semakin parah.

Pantauan di lapangan menunjukkan penyusutan air berlangsung cukup tajam. Debit limpasan di mercu bendung, yang seharusnya mengalir untuk memenuhi kebutuhan harian, kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Situasi ini bukan hanya sekadar peringatan, melainkan panggilan darurat bagi semua pihak untuk segera mengambil tindakan preventif dan mitigasi guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap kehidupan masyarakat.

Ancaman Defisit Air Baku yang Mendesak

Ancaman defisit air baku saat ini adalah isu mendesak yang membutuhkan perhatian penuh. Bendungan Benanga merupakan sumber utama bagi operasional Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang melayani ribuan pelanggan. Penurunan muka air hingga di bawah ambang normal secara langsung mengganggu proses distribusi air, berpotensi menyebabkan pengurangan tekanan air, jadwal bergilir, bahkan penghentian pasokan total di beberapa area. Sejumlah pakar hidrologi lokal juga menyoroti bahwa pola kemarau ekstrem belakangan ini merupakan indikasi perubahan iklim yang semakin nyata, menuntut adaptasi strategis dan berkelanjutan.

  • Tinggi muka air kritis: 7,10 meter.
  • Proyeksi krisis air: Jika tidak hujan dalam 10-14 hari.
  • Dampak langsung: Gangguan distribusi, pengurangan tekanan, penjadwalan pasokan.
  • Penyebab: Kemarau panjang, potensi dampak perubahan iklim.

Dampak Krisis Air Terhadap Masyarakat dan Industri

Krisis air bersih memiliki dampak berantai yang signifikan, tidak hanya pada sektor rumah tangga, tetapi juga pada perekonomian. Bagi rumah tangga, kelangkaan air berarti kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, dan memasak. Hal ini berujung pada penurunan kualitas hidup dan potensi masalah kesehatan akibat sanitasi yang buruk. Di sisi lain, sektor industri, terutama yang sangat bergantung pada air sebagai bahan baku atau proses produksi, akan menghadapi pembatasan operasional, peningkatan biaya produksi, bahkan risiko kerugian besar.

Kondisi ini serupa dengan pengalaman beberapa kota lain di Indonesia yang pernah menghadapi musim kemarau ekstrem, di mana antrean panjang warga untuk mendapatkan air bersih menjadi pemandangan lumrah. Pemerintah daerah dan pihak terkait harus belajar dari pengalaman tersebut dan menyiapkan langkah-langkah responsif yang efektif.

Antisipasi dan Langkah Mitigasi Pemerintah Daerah

Menyikapi kondisi kritis ini, pemerintah daerah dan otoritas terkait dituntut untuk bergerak cepat dan terkoordinasi. Langkah-langkah darurat seperti suplai air bersih menggunakan tangki ke daerah terdampak paling parah menjadi prioritas utama. Selain itu, kampanye hemat air kepada masyarakat harus digalakkan secara intensif. Koordinasi lintas sektor, termasuk dengan BMKG untuk pemantauan cuaca dan KLHK untuk pengelolaan daerah aliran sungai, mutlak diperlukan untuk memastikan respons yang komprehensif.

“Pemerintah daerah perlu segera mengaktifkan rencana kontingensi krisis air, termasuk mengidentifikasi sumber-sumber air alternatif dan menyiapkan anggaran darurat untuk distribusi air bersih,” kata seorang pengamat kebijakan publik, menekankan pentingnya peran BMKG dalam informasi cuaca akurat.

  • Distribusi air tangki ke area terdampak.
  • Kampanye hemat air secara masif.
  • Koordinasi dengan BMKG dan KLHK.
  • Identifikasi sumber air alternatif.
  • Pengaktifan rencana kontingensi.

Pentingnya Konservasi Air Jangka Panjang

Ancaman krisis air yang berulang menggarisbawahi urgensi implementasi kebijakan konservasi air jangka panjang. Ini mencakup revitalisasi daerah tangkapan air di hulu, reboisasi, pembangunan sumur resapan, hingga edukasi publik tentang pentingnya menghemat dan mengelola air secara bijak. Investasi dalam teknologi pengolahan air limbah menjadi air bersih (water recycling) dan pengembangan infrastruktur bendungan atau waduk baru juga perlu menjadi pertimbangan serius untuk menjamin ketersediaan air baku di masa depan.

Kekhawatiran mengenai ketersediaan air bersih bukanlah isu baru. Laporan-laporan sebelumnya tentang tekanan pada pasokan air baku di berbagai daerah, termasuk Bendungan Benanga itu sendiri, telah muncul berulang kali. Ini menunjukkan bahwa masalah ini bersifat struktural dan memerlukan solusi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dan berkelanjutan. Keterlibatan aktif dari setiap individu, dimulai dari penggunaan air yang efisien di rumah tangga, hingga partisipasi dalam program-program konservasi air, akan sangat menentukan keberhasilan upaya mengatasi ancaman krisis air di masa mendatang.

Continue Reading

Trending