Connect with us

Internasional

Kunjungan Von der Leyen ke Kaukasus Selatan: Uni Eropa Perkuat Dukungan untuk Armenia di Tengah Tekanan Rusia

Published

on

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan melakukan perjalanan penting ke Armenia dan Azerbaijan pekan depan. Kunjungan tingkat tinggi ini bertujuan menggarisbawahi dukungan kuat Brussels terhadap Armenia, yang kini menghadapi tekanan politik signifikan dari Rusia. Langkah ini sekaligus mempertegas ambisi Uni Eropa untuk memperdalam keterlibatannya di kawasan Kaukasus Selatan yang memiliki kepentingan geostrategis yang tinggi.

Pengumuman dari Uni Eropa pada Jumat, 26 Juni, ini menandai titik balik penting dalam hubungan Eropa dengan negara-negara di wilayah tersebut. Meskipun fokus utama publikasi awal menekankan dukungan untuk Armenia, kehadiran von der Leyen di kedua negara kunci Kaukasus Selatan menunjukkan pendekatan Uni Eropa yang komprehensif terhadap dinamika regional yang kompleks.

Pergeseran Geopolitik di Kaukasus Selatan

Armenia telah lama menjadi sekutu dekat Rusia, namun kekecewaan terhadap Moskow semakin memuncak dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa di Nagorno-Karabakh, di mana Azerbaijan berhasil merebut kembali kendali penuh atas wilayah tersebut, menyoroti apa yang banyak dianggap sebagai kegagalan Rusia untuk memenuhi jaminan keamanannya kepada Armenia. Pasukan penjaga perdamaian Rusia yang ditempatkan di sana tidak bertindak untuk mencegah operasi militer Azerbaijan, menyebabkan Yerevan merasa ditinggalkan.

Tekanan politik Rusia terhadap Armenia juga bermanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari isu keamanan kolektif dalam Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang didominasi Moskow, hingga pengaruh ekonomi dan politik domestik. Armenia, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Nikol Pashinyan, secara aktif mencari diversifikasi kemitraan keamanannya dan ekonomi, dengan Uni Eropa sebagai alternatif yang menarik. Mereka berusaha untuk mengurangi ketergantungan historisnya pada Rusia, yang terlihat semakin tidak efektif dan tidak dapat diandalkan.

Kepentingan Strategis Uni Eropa

Kunjungan von der Leyen ke Armenia bukan sekadar gestur simbolis. Uni Eropa memiliki kepentingan strategis yang mendalam di kawasan ini. Bagi Armenia, Brussels menawarkan jalur menuju reformasi demokratis, pembangunan ekonomi, dan kemungkinan integrasi yang lebih besar dengan pasar Eropa. Ini adalah peluang bagi Yerevan untuk menyeimbangkan pengaruh Rusia dan Turki, serta memposisikan dirinya lebih kuat dalam arsitektur keamanan regional.

Sementara itu, kunjungan ke Azerbaijan tidak kalah penting. Azerbaijan adalah pemasok gas vital bagi Eropa, terutama setelah Uni Eropa berupaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia. Diversifikasi sumber energi menjadi prioritas utama Brussels, dan Azerbaijan memainkan peran kunci dalam strategi ini. Uni Eropa juga berkepentingan dalam stabilitas dan perdamaian antara Armenia dan Azerbaijan, mengingat potensi dampaknya terhadap koridor energi dan keamanan regional yang lebih luas.

Uni Eropa memposisikan dirinya sebagai mediator potensial dan penyedia stabilitas di kawasan yang secara historis rawan konflik. Dengan menawarkan dukungan ekonomi, bantuan teknis, dan kerangka kerja untuk dialog, Brussels berharap dapat mendorong perdamaian abadi dan pembangunan berkelanjutan di Kaukasus Selatan. Hal ini juga menjadi bagian dari strategi Uni Eropa untuk memperluas jangkauan pengaruh dan nilai-nilai demokrasinya ke wilayah perbatasannya.

Dampak dan Prospek ke Depan

Kunjungan ini diharapkan dapat menghasilkan sejumlah kesepakatan atau komitmen baru, baik dalam bentuk bantuan keuangan, perjanjian kerja sama, maupun inisiatif dialog politik. Bagi Armenia, ini bisa berarti peningkatan dukungan untuk kapasitas pertahanan, bantuan dalam reformasi sektor keamanan, atau program pembangunan ekonomi yang lebih terintegrasi dengan Uni Eropa. Keinginan Armenia untuk mendiversifikasi hubungannya mencerminkan realitas geopolitik baru, di mana mencari keseimbangan kekuatan eksternal menjadi krusial.

Di sisi lain, Uni Eropa akan berupaya untuk menjaga hubungan konstruktif dengan Azerbaijan, memastikan pasokan energi yang stabil sambil juga mendorong kemajuan dalam isu-isu hak asasi manusia dan pemerintahan yang baik. Keberhasilan kunjungan ini akan tergantung pada kemampuan Uni Eropa untuk menavigasi kompleksitas regional tanpa memicu reaksi berlebihan dari Moskow, yang masih melihat Kaukasus Selatan sebagai halaman belakangnya yang strategis.

  • Memperkuat kemitraan keamanan dengan Armenia
  • Mendiversifikasi sumber energi Uni Eropa melalui Azerbaijan
  • Mendorong stabilitas dan perdamaian di kawasan Kaukasus Selatan
  • Menawarkan dukungan untuk reformasi demokratis di Armenia
  • Memperluas jangkauan diplomatik dan ekonomi Uni Eropa

Kunjungan von der Leyen ke Kaukasus Selatan merupakan indikasi jelas bahwa Uni Eropa tidak lagi ingin menjadi pengamat pasif di wilayah yang strategis ini. Ini adalah langkah proaktif yang bertujuan untuk memperkuat posisi Uni Eropa sebagai pemain global yang signifikan, mampu memberikan dukungan nyata kepada mitra-miternya dan melindungi kepentingannya sendiri di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah. Keterlibatan ini sangat penting mengingat perubahan lanskap keamanan dan energi global saat ini. Pembaca dapat mempelajari lebih lanjut tentang hubungan Uni Eropa dan negara-negara di Kaukasus Selatan melalui laporan dan analisis dari European Council on Foreign Relations.

Internasional

Regulator Pakistan Bekukan Izin Siar Geo News Terkait Konten Muharram Kontroversial

Published

on

Pakistan Electronic Media Regulatory Authority (PEMRA) secara tegas menangguhkan lisensi siaran televisi Geo News selama 15 hari. Keputusan ini diambil menyusul penayangan konten yang dianggap ‘ofensif’ dalam sebuah program yang menandai Muharram, salah satu periode paling sensitif dalam kalender Islam. Penangguhan ini sontak menyulut perdebatan sengit mengenai batas-batas kebebasan berekspresi media di Pakistan, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu keagamaan yang krusial.

Geo News, sebagai salah satu saluran berita swasta terbesar dan paling berpengaruh di Pakistan, tidak asing dengan kontroversi. Saluran ini dikenal memiliki sejarah panjang perselisihan dengan berbagai lembaga pemerintah dan militer, seringkali dituduh memberitakan secara bias atau bahkan anti-negara. Insiden terbaru ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Geo News dalam menjalankan operasionalnya, sekaligus menyoroti ketegangan abadi antara otoritas negara dan media independen di negara tersebut.

Dalam kasus ini, PEMRA, sebagai badan pengatur media di Pakistan, bertindak berdasarkan pengaduan atau pengawasan internal terhadap program Geo News yang berkaitan dengan Muharram. Periode Muharram, khususnya peringatan Asyura, memiliki makna mendalam bagi umat Muslim Syiah dan diwarnai dengan ritual serta narasi sejarah yang sangat dijunjung tinggi. Segala bentuk representasi atau komentar yang dianggap tidak menghormati atau memicu perpecahan sektarian dapat dengan cepat memicu reaksi keras dari berbagai kelompok masyarakat, membuat peliputan topik ini menjadi sangat menantang bagi media.

Latar Belakang Kontroversi dan Sensitivitas Muharram

Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam; ia adalah periode duka dan refleksi yang sangat dihormati, terutama oleh komunitas Muslim Syiah di seluruh dunia. Di Pakistan, sebuah negara dengan keragaman sektarian, peliputan dan diskusi seputar Muharram selalu diliputi sensitivitas tinggi. Sejarah Pakistan mencatat beberapa insiden kekerasan sektarian yang dipicu oleh interpretasi atau penggambaran isu-isu keagamaan yang dianggap provokatif. Oleh karena itu, setiap media yang menyiarkan konten terkait Muharram harus berjalan di atas tali tipis antara kebebasan berekspresi dan keharusan menjaga harmoni sosial.

  • Pentingnya Muharram: Muharram menandai tragedi Karbala, peristiwa yang memiliki nilai fundamental bagi identitas Syiah, mendorong ritual duka dan ekspresi kesedihan yang mendalam.
  • Potensi Konflik Sektarian: Pakistan rentan terhadap ketegangan sektarian, dan media seringkali menjadi medan pertempuran dalam narasi keagamaan, di mana konten ‘ofensif’ dapat memicu kemarahan publik.
  • Peran Media: Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan konten keagamaan secara akurat, hormat, dan tanpa memprovokasi, sebuah tugas yang menjadi semakin sulit dalam konteks politik dan sosial Pakistan.

Rekam Jejak Kontroversial Geo News dan Otoritas Media

Penangguhan Geo News ini bukanlah insiden pertama. Saluran ini memiliki riwayat panjang perseteruan dengan otoritas Pakistan, termasuk penangguhan atau pemblokiran siaran di masa lalu. Pada tahun 2014, misalnya, Geo News pernah ditangguhkan setelah dituduh merendahkan militer. Insiden-insiden seperti ini secara konsisten memicu kekhawatiran dari organisasi hak asasi manusia dan advokat kebebasan pers internasional tentang erosi kebebasan media di Pakistan.

Regulator media seperti PEMRA seringkali dituduh bertindak di bawah tekanan politik atau menggunakan kekuasaan mereka secara berlebihan untuk membungkam kritik. Di sisi lain, PEMRA berargumen bahwa mereka hanya menegakkan pedoman siaran yang ada untuk menjaga ketertiban umum dan mencegah penyebaran kebencian. Ketegangan ini mencerminkan dilema yang lebih besar dalam demokrasi yang sedang berkembang: bagaimana menyeimbangkan hak atas kebebasan berekspresi dengan kebutuhan akan stabilitas sosial dan perlindungan terhadap sentimen keagamaan yang rapuh.

  • Sejarah Ketegangan: Geo News sering berbenturan dengan pemerintah dan militer Pakistan, menghadapi tuduhan bias atau bahkan ‘anti-negara’.
  • Intervensi Regulator: PEMRA memiliki sejarah menggunakan kekuasaannya untuk menangguhkan atau mendenda saluran yang dianggap melanggar kode etik, memunculkan pertanyaan tentang independensi regulator.
  • Debat Kebebasan Pers: Kasus ini kembali menghidupkan diskusi tentang ruang lingkup kebebasan pers di Pakistan dan sejauh mana pemerintah dapat mengatur konten media tanpa dianggap membungkam kritik.

Implikasi dan Dampak Penangguhan

Penangguhan 15 hari ini tentu membawa konsekuensi signifikan bagi Geo News, baik dari segi finansial maupun reputasi. Kerugian pendapatan iklan selama dua minggu adalah pukulan telak, sementara dampak terhadap kredibilitas saluran di mata publik bisa jadi lebih lama. Lebih luas lagi, insiden ini mengirimkan pesan kuat kepada seluruh lanskap media Pakistan mengenai batasan-batasan dalam meliput isu-isu sensitif, khususnya yang berkaitan dengan agama.

Para jurnalis dan organisasi berita mungkin akan merasa tertekan untuk melakukan sensor diri (self-censorship) agar terhindar dari nasib serupa. Ini berpotensi mempersempit ruang diskusi publik yang kritis dan independen, yang sangat penting bagi kesehatan demokrasi. Sementara pihak berwenang berdalih melindungi sentimen keagamaan, para kritikus melihat tindakan ini sebagai upaya lebih lanjut untuk mengendalikan narasi dan membatasi perbedaan pendapat. Situasi ini menggarisbawahi tantangan kompleks yang dihadapi media di Pakistan, yang harus menavigasi medan penuh ranjau antara kebebasan berekspresi, tekanan politik, dan sensitivitas budaya-agama yang mendalam.

*Catatan: Informasi lebih lanjut mengenai otoritas dan fungsi PEMRA dapat diakses melalui portal resmi mereka.*

Continue Reading

Internasional

Tim Medis Venezuela Temukan Keheningan Pilu di Reruntuhan Gempa La Guaira

Published

on

Perjalanan Penuh Harapan yang Berujung Hampa

Menyusul laporan awal mengenai gempa dahsyat yang melanda pesisir Venezuela, sebuah tim medis elite bergerak cepat dari ibu kota Caracas. Misi mereka jelas: menjangkau La Guaira, salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dengan harapan menemukan dan menyelamatkan korban yang mungkin masih terperangkap di bawah reruntuhan. Dengan setiap detik berharga, para dokter, perawat, dan paramedis ini memikul beban harapan ribuan keluarga yang cemas. Namun, 12 jam kemudian, realitas pahit membungkam semangat mereka.

Perjalanan darat yang biasanya ditempuh dalam waktu singkat terasa jauh lebih panjang. Jalanan yang retak, puing-puing yang berserakan, dan pemandangan kehancuran yang semakin pekat di setiap kilometer menjadi pengingat mengerikan akan skala tragedi. Peralatan medis dan perlengkapan penyelamatan darurat menjadi prioritas utama yang mereka bawa, siap menghadapi skenario terburuk sekalipun. Tekad untuk menemukan tanda-tanda kehidupan membakar semangat mereka, meskipun bayangan kehancuran mulai mengikis optimisme.

Realitas Pilu di Jantung Zona Bencana

Saat tim tiba di La Guaira, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih buruk dari perkiraan. Kota yang dulunya ramai kini menjelma menjadi lautan puing. Bangunan-bangunan bertingkat runtuh total, menyisakan tumpukan beton, baja bengkok, dan debu tebal yang menyelimuti segalanya. Aroma debu dan kehancuran menusuk hidung, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dengan segera, tim medis memecah diri dan memulai pencarian sistematis di antara sisa-sisa bangunan. Mereka berteriak memanggil nama, mengetuk-ngetuk reruntuhan, dan menggunakan alat pendengar khusus untuk mendeteksi suara sekecil apa pun. Setiap celah di antara puing-puing disisir dengan cermat, setiap sisa bangunan diperiksa dengan teliti. Harapan tipis untuk mendengar rintihan atau tangisan korban menjadi pendorong utama di tengah keputusasaan yang mulai merayap.

"Kami datang dengan hati yang penuh harapan, siap untuk menyelamatkan. Namun yang kami temukan hanyalah keheningan. Keheningan yang memekakkan telinga, keheningan yang menghancurkan jiwa," ujar salah seorang dokter dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan kepedihan yang mendalam.

Keheningan yang Memekakkan Telinga

Jam demi jam berlalu. Matahari terbit dan terbenam, menandai berakhirnya 12 jam pencarian intens. Tim medis tidak menemukan satu pun tanda kehidupan. Tidak ada suara, tidak ada respons, tidak ada korban yang berhasil dievakuasi hidup-hidup. Yang mereka temukan hanyalah kehampaan, sisa-sisa kehidupan yang terenggut seketika, dan duka yang membeku dalam puing-puing.

Kesunyian yang mereka dapati bukan hanya sekadar absennya suara, melainkan cerminan dari tragedi yang tak terucapkan. Ini adalah bukti bisu dari dampak mematikan gempa, yang kemungkinan besar telah merenggut nyawa banyak warga La Guaira dalam sekejap. Para penyelamat, yang sebelumnya penuh energi dan tekad, kini hanya bisa berdiri terpaku, memandang reruntuhan dengan tatapan kosong, hati mereka hancur.

Beban Emosional dan Tantangan Pasca-Bencana

Pengalaman menemukan keheningan di tengah kehancuran ini meninggalkan beban emosional yang mendalam bagi setiap anggota tim medis. Misi penyelamatan yang diharapkan heroik berubah menjadi konfrontasi langsung dengan realitas kematian massal. Para profesional kesehatan, yang terbiasa menyelamatkan nyawa, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dalam bencana sebesar ini, upaya terbaik pun bisa berujung pada kegagalan.

  • Dampak Psikologis: Banyak tim penyelamat akan membutuhkan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma ini.
  • Fokus Beralih: Upaya kini harus beralih dari pencarian korban hidup menjadi evakuasi jenazah dan penanganan krisis kemanusiaan yang lebih luas, termasuk penyediaan tempat tinggal sementara, makanan, dan air bersih bagi para penyintas.
  • Evaluasi Kesiapan Bencana: Insiden ini juga memunculkan pertanyaan penting tentang kesiapan infrastruktur dan respons darurat Venezuela dalam menghadapi bencana alam berskala besar.

Meskipun pencarian korban hidup telah berakhir, pekerjaan di La Guaira baru saja dimulai. Masyarakat internasional dan pemerintah Venezuela harus bersinergi untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan mendukung proses pemulihan jangka panjang bagi mereka yang kehilangan segalanya. Keheningan pilu di reruntuhan La Guaira menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerapuhan hidup dan urgensi solidaritas di hadapan bencana alam.

Continue Reading

Internasional

Pelarian Dramatis Aktivis Tiongkok Dong Guangping Berakhir di Kanada Setelah Dekade Perjuangan

Published

on

Seorang aktivis terkemuka asal Tiongkok, Dong Guangping, akhirnya menginjakkan kaki di Toronto pada Jumat, setelah lebih dari satu dekade upaya pelarian yang gagal dari negaranya. Kedatangan Dong menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang dan berbahaya, yang menyoroti perjuangan gigih para pembela hak asasi manusia yang berani menentang rezim otoriter.

Dong Guangping, yang dikenal sebagai salah satu suara kritis terhadap pemerintahan Beijing, menceritakan kembali detil-detil pelariannya yang dramatis, termasuk perjalanannya melalui laut menuju Korea Selatan bulan lalu. Kisahnya bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah epik tentang pencarian kebebasan dan keamanan yang mengorbankan segalanya.

Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan dan Suaka

Pelarian Dong Guangping adalah narasi yang kompleks, terjalin dengan penangkapan, pengawasan ketat, dan berbagai upaya yang gagal selama bertahun-tahun. Sebagai seorang veteran aktivis, Dong telah lama menjadi target pihak berwenang Tiongkok karena advokasinya terhadap demokrasi, kebebasan berbicara, dan hak asasi manusia. Penahanannya di masa lalu, termasuk hukuman penjara, adalah bukti nyata dari tekanan yang dihadapinya. Perjalanannya ke Korea Selatan melalui jalur laut merupakan indikasi betapa sulitnya menemukan jalan keluar dari Tiongkok bagi para disiden, yang seringkali harus menempuh cara-cara yang penuh risiko dan tidak konvensional untuk menghindari deteksi.

“Perjalanan ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang harapan bagi banyak orang lain yang masih berjuang di Tiongkok,” ujar Dong dalam sebuah wawancara setibanya di Kanada. Pernyataannya menggarisbawahi dampak kasus-kasus seperti dirinya terhadap komunitas disiden yang lebih luas, memberikan inspirasi dan harapan di tengah penindasan yang terus-menerus. Pilihan rute laut ke Korea Selatan menunjukkan strategi yang matang dan berisiko, mengingat pengawasan ketat di perbatasan darat Tiongkok. Langkah ini sering menjadi pilihan terakhir bagi mereka yang putus asa mencari jalan keluar, menyoroti tantangan besar dalam upaya melarikan diri dari sistem yang ketat.

Sebelumnya, pada tahun 2015, Dong Guangping bersama aktivis Tiongkok lainnya, Jiang Yefei, sempat dideportasi dari Thailand kembali ke Tiongkok, sebuah peristiwa yang memicu kecaman internasional. Insiden tersebut menjadi pengingat pahit akan bahaya yang dihadapi para disiden bahkan ketika mereka telah berhasil meninggalkan Tiongkok, menunjukkan jangkauan panjang pengaruh Beijing terhadap negara-negara tetangga. Kisah pelarian yang berulang kali gagal ini menambah bobot pada keberhasilannya mencapai Kanada kali ini, mengubahnya dari sekadar berita menjadi narasi perjuangan panjang dan ketekunan yang luar biasa.

Kanada sebagai Harapan Baru dan Komitmen Internasional

Kedatangan Dong Guangping di Kanada menggarisbawahi komitmen negara tersebut untuk melindungi hak asasi manusia dan memberikan suaka bagi mereka yang terancam. Kanada telah lama dikenal sebagai tujuan bagi para pencari suaka politik, dan kasus Dong memperkuat citra tersebut. Keputusannya untuk menerima Dong mengirimkan pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Kanada berdiri teguh pada prinsip-prinsip kebebasan dan keadilan. Penerimaan suaka ini bukan hanya penyelamat bagi individu Dong Guangping, tetapi juga simbol dukungan terhadap perjuangan global melawan penindasan politik.

Perlindungan yang diberikan Kanada kepada Dong juga dapat dilihat sebagai respons terhadap situasi hak asasi manusia yang memburuk di Tiongkok, di mana para kritikus dan aktivis terus menghadapi penangkapan, penahanan, dan pengawasan. Kasus ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut mengenai tanggung jawab internasional untuk melindungi para disiden dan peran negara-negara Barat dalam menekan Tiongkok agar mematuhi norma-norma hak asasi manusia universal. Ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara organisasi hak asasi manusia dan pemerintah dapat menghasilkan dampak nyata dalam menyelamatkan nyawa dan masa depan individu yang terancam.

Refleksi Kasus Dong Guangping: Suara untuk Perubahan

Kisah Dong Guangping adalah lebih dari sekadar berita pelarian seorang aktivis; ini adalah cerminan dari tantangan global yang dihadapi oleh kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Keberhasilannya mencapai Kanada bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga kemenangan simbolis bagi semua yang percaya pada keadilan dan martabat manusia. Kasus ini menambah daftar panjang aktivis Tiongkok yang harus mencari perlindungan di luar negeri, menggambarkan pola sistematis penindasan terhadap perbedaan pendapat di dalam negeri. Pemerintah Tiongkok seringkali menggunakan berbagai cara untuk membungkam kritik, mulai dari penahanan formal hingga penghilangan paksa.

Poin-poin penting dalam kasus Dong Guangping meliputi:

  • Sebagai aktivis veteran, Dong telah bertahun-tahun mengadvokasi demokrasi dan hak asasi manusia di Tiongkok.
  • Pelarian multi-tahap yang melibatkan jalur laut ke Korea Selatan setelah puluhan tahun upaya yang gagal.
  • Kasusnya menyoroti risiko dan tantangan yang dihadapi oleh para disiden Tiongkok dalam mencari kebebasan.
  • Kanada memberikan suaka, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan hak asasi manusia.
  • Kisah ini menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi komunitas hak asasi manusia global.

Peristiwa ini diharapkan dapat mendorong perhatian lebih luas terhadap situasi hak asasi manusia di Tiongkok dan mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan lebih konkret dalam mendukung para pembela kebebasan. Bagi Dong Guangping, babak baru telah dimulai, namun perjuangan untuk kebebasan di tanah airnya masih jauh dari usai. Kisahnya adalah pengingat penting bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup bebas dari penindasan dan untuk menyuarakan kebenaran, terlepas dari risikonya. (Human Rights Watch mengulas lebih lanjut tentang hak asasi manusia di Tiongkok)

Continue Reading

Trending