Hukum & Kriminal
Operasi Skala Besar di Kelantan: 10 Tahanan Imigrasi Kabur dari Depo Tanah Merah
Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) telah melancarkan operasi pencarian skala besar di seluruh wilayah Kelantan setelah sepuluh pendatang asing tanpa izin (PATI) berhasil melarikan diri dari Depo Tahanan Imigresen Tanah Merah pagi ini. Insiden mengejutkan ini, yang terjadi di sebuah fasilitas vital, memicu kekhawatiran serius tentang integritas keamanan dan menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai prosedur operasional standar di pusat penahanan imigrasi.
Menurut sumber kepolisian, kesepuluh tahanan tersebut diketahui melarikan diri dari depo yang terletak dekat dengan perbatasan Thailand itu pada dini hari. Otoritas setempat, bekerja sama dengan Departemen Imigrasi, telah mengaktifkan seluruh unit terkait untuk melacak para pelarian. Upaya pencarian tidak hanya difokuskan di sekitar Depo Tahanan Imigresen Tanah Merah tetapi juga diperluas ke jalur-jalur utama, daerah perhutanan, dan titik-titik keluar masuk perbatasan yang rawan.
Rincian Pelarian dan Upaya Penegakan Hukum
Insiden pelarian ini pertama kali terdeteksi saat pemeriksaan rutin pada pagi hari, mengungkapkan adanya kekurangan sejumlah tahanan. Informasi awal menunjukkan bahwa para tahanan kemungkinan memanfaatkan celah keamanan atau kelengahan penjaga untuk melaksanakan pelarian mereka. Meskipun rincian spesifik mengenai modus operandi masih dalam penyelidikan, pihak berwenang tidak mengesampingkan kemungkinan adanya perencanaan yang matang dari para tahanan.
Kapolres Tanah Merah, Superintenden Azwan Omar, dalam keterangannya, menegaskan bahwa tim investigasi gabungan telah dibentuk untuk meninjau secara menyeluruh bagaimana insiden ini bisa terjadi. “Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk unit K9 dan intelijen, untuk memastikan para pelarian ini dapat segera ditangkap kembali,” ujarnya. Beliau juga meminta kerja sama penuh dari masyarakat untuk melaporkan jika melihat individu yang mencurigakan atau memberikan informasi yang relevan melalui saluran resmi.
Langkah-langkah yang diambil pihak berwenang saat ini meliputi:
- Meningkatkan operasi pencarian di sekitar Tanah Merah dan jalur keluar-masuk utama.
- Mengaktifkan pos pemeriksaan dan roadblock di jalan-jalan strategis di Kelantan.
- Menyebarkan ciri-ciri tahanan yang melarikan diri kepada masyarakat luas dan komunitas lokal.
- Melakukan koordinasi erat dengan lembaga penegak hukum di negara tetangga untuk mencegah pelarian lintas batas.
Dampak dan Kekhawatiran Publik
Pelarian ini bukan hanya menimbulkan masalah keamanan internal depo, tetapi juga membangkitkan kekhawatiran di kalangan publik, terutama di wilayah perbatasan. Kehadiran sepuluh individu yang tidak diketahui keberadaannya dan status hukumnya dapat menimbulkan potensi risiko keamanan dan ketertiban masyarakat. Masyarakat diminta untuk tetap waspada namun tidak panik, serta menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak berwenang.
Insiden serupa telah terjadi di masa lalu, menyoroti tantangan berkelanjutan dalam pengelolaan dan pengamanan pusat-pusat penahanan imigrasi di seluruh Malaysia. Artikel sebelumnya misalnya, membahas perlunya peninjauan ulang protokol keamanan depo imigrasi setelah insiden pelarian massal di Kedah beberapa waktu lalu. Kondisi ini memperkuat urgensi bagi otoritas untuk secara berkala mengevaluasi dan meningkatkan sistem keamanan.
Penyelidikan Internal Dimulai, Janji Peningkatan Keamanan Depo
Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Datuk Ruslin Jusoh, dalam sebuah pernyataan terpisah, menyatakan kekecewaannya atas insiden tersebut dan berjanji akan melakukan penyelidikan internal yang menyeluruh. “Kami akan meninjau setiap aspek, mulai dari prosedur keamanan, ketersediaan personel, hingga infrastruktur fisik depo. Jika ditemukan adanya kelalaian, tindakan tegas akan diambil terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab,” tegasnya. Penyelidikan ini diharapkan dapat mengidentifikasi akar masalah dan merekomendasikan langkah-langkah perbaikan yang konkret untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Meningkatkan keamanan di depo penahanan imigrasi adalah prioritas utama. Ini mencakup peningkatan teknologi pengawasan, penambahan jumlah personel yang terlatih, serta penerapan protokol keamanan yang lebih ketat. Pemerintah Malaysia secara konsisten berkomitmen untuk menindak tegas pelanggaran imigrasi, dan insiden seperti ini menegaskan kembali pentingnya menjaga integritas sistem penegakan hukum dan keamanan nasional.
Hukum & Kriminal
Kadet Unhan Diduga Mundur Akibat Diminta Lepas Jilbab, Memicu Sorotan Pelanggaran Kebebasan Beragama
Dugaan Diskriminasi di Lingkungan Pendidikan Militer
Sebuah insiden yang melibatkan seorang kadet Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia mendadak menjadi sorotan publik dan pegiat hak asasi manusia. Kadet tersebut dilaporkan memutuskan untuk mundur dari proses pendidikan setelah diduga kuat diminta untuk menanggalkan jilbabnya, sebuah kebijakan yang langsung memicu kecaman keras dari berbagai pihak. Para pegiat kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) secara tegas menyebut kejadian ini sebagai bentuk diskriminasi dan pelanggaran serius terhadap kebebasan beragama yang dijamin konstitusi.
Laporan awal mengindikasikan bahwa permintaan untuk melepas jilbab ini terjadi pada tahap awal seleksi atau orientasi di lingkungan Unhan. Detail mengenai unit atau individu yang memberikan perintah tersebut masih belum diungkap secara gamblang. Namun, implikasinya sangat terasa, bukan hanya bagi kadet yang bersangkutan, tetapi juga bagi citra institusi pendidikan militer yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan hak asasi warga negara.
Kejadian ini menghadirkan kembali perdebatan panjang mengenai ruang lingkup kebebasan beragama di lembaga-lembaga negara, khususnya yang bersifat formal dan diatur oleh disiplin ketat seperti militer atau kepolisian. Pertanyaan krusial pun muncul: apakah kebijakan internal sebuah institusi dapat mengesampingkan hak dasar individu untuk menjalankan keyakinan agamanya, termasuk dalam berbusana?
Melanggar Konstitusi dan Hak Asasi Manusia
Menurut para pegiat KBB, insiden ini bukan sekadar masalah aturan berpakaian, melainkan menyentuh inti dari hak asasi manusia, khususnya hak untuk beragama dan berkeyakinan. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E Ayat 1 dan 2 secara jelas menyatakan bahwa setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, serta berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Lebih lanjut, Pasal 29 Ayat 2 menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Pakar hukum dan aktivis KBB menggarisbawahi beberapa poin penting mengapa dugaan permintaan pelepasan jilbab ini dianggap sebagai pelanggaran:
- Diskriminasi Langsung: Kebijakan yang secara spesifik menargetkan atribut keagamaan tertentu dapat dikategorikan sebagai diskriminasi berdasarkan agama.
- Pelanggaran Kebebasan Beragama: Jilbab merupakan bagian integral dari praktik keagamaan bagi sebagian Muslimah. Meminta melepasnya berarti menghalangi seseorang untuk menjalankan keyakinannya.
- Ketiadaan Dasar Hukum: Belum ada regulasi resmi yang secara eksplisit melarang penggunaan jilbab bagi kadet di Unhan. Kebijakan semacam itu, jika ada, patut dipertanyakan dasar hukum dan konstitusionalitasnya.
- Dampak Psikologis dan Sosial: Memaksa seseorang melepaskan identitas keagamaannya dapat menimbulkan tekanan psikologis dan rasa terdiskriminasi yang mendalam, sekaligus mengirimkan pesan negatif tentang toleransi di institusi pendidikan.
Kasus ini mengingatkan pada berbagai polemik serupa yang pernah muncul di institusi pendidikan atau instansi pemerintah lainnya di Indonesia. Sebut saja perdebatan mengenai seragam sekolah atau aturan berjilbab bagi anggota kepolisian wanita (Polwan) yang pada akhirnya disesuaikan untuk mengakomodasi hak beragama. Ini menunjukkan bahwa isu kebebasan beragama dalam konteks seragam atau aturan institusional adalah isu yang berulang dan membutuhkan respons kebijakan yang matang dan inklusif. Untuk memahami lebih jauh tentang hak-hak kebebasan beragama di Indonesia, Anda dapat merujuk pada kajian Komnas HAM tentang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.
Tuntutan Investigasi dan Langkah Selanjutnya
Merespons insiden ini, pegiat KBB dan masyarakat sipil menuntut adanya investigasi menyeluruh dan transparan dari pihak Unhan dan Kementerian Pertahanan. Mereka mendesak agar Unhan tidak hanya mengklarifikasi duduk perkara, tetapi juga meninjau ulang kebijakan internal yang berpotensi melanggar hak asasi manusia dan bertentangan dengan semangat konstitusi.
Penting bagi Unhan, sebagai lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pertahanan, untuk menunjukkan komitmennya terhadap nilai-nilai kebhinekaan dan penghormatan terhadap hak-hak dasar warga negara. Sebuah resolusi yang adil dan transparan akan sangat menentukan bagaimana masyarakat memandang keseriusan Unhan dalam menegakkan prinsip-prinsip tersebut. Kegagalan dalam menangani kasus ini secara bijak dikhawatirkan dapat mencederai kepercayaan publik dan menimbulkan preseden buruk bagi institusi pendidikan lainnya di Indonesia.
Pemerintah, melalui lembaga-lembaga terkait seperti Komnas HAM dan Kementerian Agama, diharapkan turut aktif dalam memantau dan memberikan rekomendasi agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang. Perlindungan hak setiap individu untuk menjalankan keyakinan agamanya tanpa paksaan, termasuk dalam bentuk atribut, merupakan pilar penting dalam membangun masyarakat yang adil, toleran, dan menghargai keberagaman.
Hukum & Kriminal
WNA Amerika Didakwa Percobaan Pembunuhan Usai Curi Bir dan Serang Polisi di Bangkok
Kronologi Insiden Mencekam di Bangkok
Seorang pria warga negara Amerika Serikat kini berada dalam tahanan dan akan didakwa dengan percobaan pembunuhan setelah serangkaian tindakan kriminal yang mengejutkan di Bangkok, Thailand. Insiden ini bermula dari dugaan pencurian bir di sebuah toko serba ada, yang kemudian memuncak pada penyerangan brutal terhadap seorang petugas kepolisian.
Menurut laporan awal, pria Amerika tersebut diduga melakukan pencurian bir dari sebuah minimarket di ibu kota Thailand. Saksi mata dan penyelidikan awal mengindikasikan bahwa ia berada di bawah pengaruh metamfetamin saat kejadian. Kondisi mabuk narkoba diduga kuat menjadi pemicu tindakan tidak rasional dan kekerasan yang ia tunjukkan kemudian.
Ketika petugas kepolisian setempat berusaha menangkapnya terkait dugaan pencurian, pria tersebut justru melakukan perlawanan sengit. Dalam upaya melarikan diri atau melawan penangkapan, ia diduga menyayat leher seorang polisi yang bertugas. Serangan ini menyebabkan luka serius pada petugas, yang segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis darurat. Keberanian dan kecepatan respons petugas lainlah yang akhirnya berhasil melumpuhkan dan menahan pelaku, mencegah kemungkinan eskalasi kekerasan lebih lanjut.
Ancaman Dakwaan Percobaan Pembunuhan
Mengingat beratnya tindakan penyerangan terhadap petugas penegak hukum yang sedang menjalankan tugasnya, otoritas Thailand tidak akan main-main dalam menangani kasus ini. Jaksa penuntut umum telah mengkonfirmasi bahwa pria tersebut akan didakwa dengan percobaan pembunuhan. Dakwaan ini membawa konsekuensi hukum yang sangat serius di Thailand, dengan ancaman hukuman penjara yang panjang.
- Pencurian: Dugaan awal adalah pencurian ringan, namun tindakannya berkembang jauh lebih serius.
- Penyerangan Petugas: Penyerangan terhadap aparat negara dianggap sebagai pelanggaran berat.
- Penggunaan Narkoba: Penggunaan dan kepemilikan metamfetamin juga merupakan tindak pidana terpisah di Thailand.
- Percobaan Pembunuhan: Dakwaan paling serius, mencerminkan niat dan tingkat bahaya serangan yang dilakukan.
Keseriusan dakwaan ini menekankan komitmen Thailand untuk menjaga ketertiban umum dan melindungi petugasnya dari kekerasan. Kasus ini juga menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba melanggar hukum di negara tersebut, terutama di bawah pengaruh zat terlarang.
Bahaya Narkoba dan Kejahatan Turis
Insiden ini kembali menyoroti tantangan yang dihadapi otoritas Thailand dalam menangani kejahatan yang melibatkan warga negara asing, sebuah isu yang telah berulang kali diangkat dalam pemberitaan kami sebelumnya. Fenomena turis yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan kemudian melakukan tindakan kriminal bukanlah hal baru, namun setiap kasus baru selalu menjadi perhatian serius bagi keamanan dan citra pariwisata Thailand.
Metamfetamin, atau “ya ba” dalam bahasa lokal, merupakan salah satu jenis narkotika yang paling banyak disalahgunakan di Asia Tenggara. Efek stimulan kuatnya dapat menyebabkan paranoid, agresi, dan perilaku tidak terduga, seperti yang tampak dalam kasus ini. Pihak berwenang Thailand secara agresif memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba, dengan hukuman yang sangat berat bagi para pelanggar.
Kasus-kasus serupa di masa lalu, termasuk beberapa penangkapan turis terkait narkoba yang berakhir dengan konsekuensi hukum yang parah, menunjukkan bahwa pemerintah Thailand tidak akan membuat pengecualian. Peringatan terus-menerus disampaikan kepada para pelancong untuk memahami dan mematuhi hukum setempat, khususnya terkait narkotika.
Proses Hukum dan Dampak Internasional
Pria Amerika tersebut kini menghadapi proses hukum yang panjang dan rumit di Thailand. Kedutaan Besar Amerika Serikat kemungkinan besar akan memberikan bantuan konsuler, namun tidak dapat mengintervensi proses peradilan domestik Thailand. Nasibnya akan sepenuhnya bergantung pada sistem hukum Thailand, yang dikenal ketat dalam menghadapi kejahatan serius, terutama yang melibatkan kekerasan terhadap aparat negara dan penyalahgunaan narkoba.
Insiden ini tidak hanya berdampak pada individu pelaku, tetapi juga berpotensi mempengaruhi persepsi publik internasional terhadap keamanan turis di Bangkok dan Thailand secara keseluruhan. Pihak berwenang diharapkan akan memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai status kesehatan petugas yang terluka dan detail proses hukum yang akan dijalani pelaku. Masyarakat menuntut keadilan bagi petugas yang telah menjalankan tugasnya dan menginginkan penegakan hukum yang tegas terhadap tindak kriminalitas, terlepas dari kebangsaan pelakunya.
Hukum & Kriminal
Undang-Undang Amnesti Thailand Resmi Berlaku, Kasus Lese Majeste Tetap Dikecualikan
BANGKOK – Undang-Undang Promosi Masyarakat Damai, atau yang lebih dikenal sebagai UU Amnesti Politik Thailand, resmi berlaku efektif mulai Senin. Regulasi ini membuka jalan bagi pengampunan terhadap berbagai pelanggaran terkait politik yang terjadi selama dua dekade terakhir, sebuah langkah yang diklaim bertujuan untuk menyatukan kembali bangsa. Namun, pengecualian tegas terhadap kasus-kasus lese majeste atau penghinaan terhadap kerajaan menjadi sorotan utama dan menuai kritik tajam, menyoroti batas-batas upaya rekonsiliasi yang diusung pemerintah.
Pemberlakuan undang-undang ini, yang telah diterbitkan dalam Lembaran Kerajaan, menandai babak baru dalam lanskap politik Thailand yang kerap diwarnai konflik dan polarisasi. Selama dua dekade terakhir, negara Gajah Putih ini menghadapi serangkaian gejolak politik, mulai dari kudeta militer, demonstrasi massal berkepanjangan, hingga perubahan pemerintahan yang drastis. UU Amnesti ini dirancang untuk menutup lembaran pelanggaran hukum yang timbul dari peristiwa-peristiwa tersebut, memberikan kesempatan kedua bagi ribuan individu yang terlibat dalam pusaran perseteruan politik.
Cakupan amnesti ini sangat luas, mencakup beragam tuduhan mulai dari partisipasi dalam unjuk rasa ilegal, penghasutan, hingga tuduhan-tuduhan yang berkaitan dengan keamanan negara yang bermotif politik. Pemerintah berharap langkah ini dapat meredakan ketegangan yang masih membekas di masyarakat, memungkinkan mantan narapidana politik untuk kembali ke kehidupan normal tanpa bayang-bayang hukuman.
Latar Belakang dan Tujuan Undang-Undang Pengampunan
Pembahasan mengenai amnesti politik di Thailand bukanlah hal baru. Ide ini telah beberapa kali mencuat sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi pasca-kudeta atau kerusuhan sipil. Undang-Undang Promosi Masyarakat Damai kali ini lahir dari dorongan untuk menyembuhkan luka lama dan membangun fondasi yang lebih stabil bagi masa depan politik Thailand. Sejak awal 2000-an, Thailand telah menyaksikan siklus berulang demonstrasi jalanan, pembubaran partai politik, dan intervensi militer, yang semuanya menghasilkan ratusan, bahkan ribuan, kasus hukum terhadap warga sipil dan politisi.
- Periode Cakupan: Undang-undang ini secara spesifik menargetkan pelanggaran yang terjadi selama dua dekade terakhir, periode yang mencakup puncak-puncak krisis politik seperti konflik ‘Kaus Merah’ dan ‘Kaus Kuning’, serta kudeta tahun 2006 dan 2014.
- Harapan Rekonsiliasi: Para pendukung undang-undang ini berpendapat bahwa amnesti adalah langkah esensial untuk memecah lingkaran balas dendam politik, menciptakan ruang untuk dialog, dan mendorong persatuan nasional yang lebih kokoh.
- Dukungan Lintas Fraksi: Meskipun dengan berbagai revisi, rancangan undang-undang ini sempat mendapatkan dukungan dari berbagai faksi politik, menunjukkan adanya konsensus parsial mengenai perlunya upaya rekonsiliasi.
Pemerintah berargumen bahwa dengan membebaskan individu dari dakwaan yang bermotif politik, fokus dapat dialihkan kepada pembangunan ekonomi dan sosial, tanpa terbebani oleh konflik masa lalu yang terus menghantui. Ini adalah upaya untuk secara resmi menutup buku atas sebagian besar perselisihan politik yang telah merusak citra dan stabilitas negara.
Pengecualian Lese Majeste: Titik Kontroversi yang Memicu Perdebatan
Terlepas dari niat baik yang diusungnya, pengecualian kasus lese majeste menjadi batu sandungan utama yang memicu gelombang kritik dari kelompok hak asasi manusia, aktivis pro-demokrasi, dan bahkan beberapa partai politik. Lese majeste, yang diatur dalam Pasal 112 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Thailand, merupakan salah satu undang-undang penghinaan terhadap monarki paling ketat di dunia. Hukuman untuk pelanggaran ini bisa mencapai 15 tahun penjara untuk setiap tuduhan.
Mengapa pengecualian ini begitu krusial?
- Simbol Ketidakadilan: Bagi banyak kritikus, pengecualian ini menunjukkan bahwa sistem hukum Thailand memiliki standar ganda. Sementara pelanggaran politik lainnya dapat diampuni, tindakan yang dianggap meremehkan institusi kerajaan tetap dianggap sebagai kejahatan serius yang tidak dapat ditawar.
- Target Aktivis: Dalam beberapa tahun terakhir, Pasal 112 sering digunakan untuk membungkam para aktivis muda dan pembela demokrasi yang menyerukan reformasi monarki. Banyak dari mereka yang saat ini masih mendekam di penjara atau menghadapi proses hukum yang panjang. Pengecualian ini berarti mereka tidak akan mendapatkan manfaat dari amnesti.
- Hambatan Rekonsiliasi Sejati: Kelompok-kelompok HAM berpendapat bahwa rekonsiliasi sejati tidak akan pernah tercapai jika sebagian besar individu yang menghadapi dakwaan politik paling kontroversial dikecualikan. Ini menciptakan pembagian lebih lanjut antara mereka yang diampuni dan mereka yang terus dihukum.
Aktivis pro-demokrasi seperti kelompok pelajar yang memimpin gerakan protes beberapa tahun lalu telah berulang kali menyerukan reformasi Pasal 112, bahkan penghapusannya. Mereka melihatnya sebagai alat penindas kebebasan berpendapat yang menghalangi diskursus publik yang sehat tentang peran monarki dalam masyarakat modern Thailand. Pemberlakuan UU Amnesti yang mengabaikan kasus-kasus ini, justru mempertahankan status quo ketidaksetaraan dalam sistem peradilan.
Dampak dan Prospek Rekonsiliasi Nasional
Dengan berlakunya Undang-Undang Promosi Masyarakat Damai, Thailand kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, undang-undang ini berpotensi meredakan ketegangan jangka panjang yang telah membebani politik negara. Ini dapat membuka pintu bagi ratusan orang untuk membangun kembali kehidupan mereka dan secara simbolis menandai keinginan pemerintah untuk melangkah maju dari masa lalu yang bergejolak. Amnesti ini bisa menjadi jembatan menuju dialog politik yang lebih inklusif, jika diiringi dengan tindakan-tindakan lain yang menunjukkan komitmen pada reformasi.
Namun, pengecualian terhadap kasus lese majeste menyisakan luka yang menganga dan dapat memperdalam perpecahan. Para pengkritik berpendapat bahwa ini bukan amnesti yang komprehensif, melainkan pengampunan yang selektif, yang pada akhirnya akan gagal mencapai tujuan rekonsiliasi nasional yang utuh. Hal ini juga dapat mengirimkan pesan bahwa kritik terhadap lembaga-lembaga tertentu masih dianggap tidak dapat diterima dan akan ditindak tegas.
Masa depan akan menunjukkan apakah Undang-Undang Promosi Masyarakat Damai ini benar-benar dapat membawa Thailand menuju era perdamaian yang lebih langgeng, atau justru menjadi titik nyala perdebatan baru mengenai keadilan, kebebasan berpendapat, dan peran monarki dalam masyarakat yang semakin modern dan menuntut akuntabilitas.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah4 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
