Pemerintah
BNPP RI Percepat Manajemen Talenta ASN: Kunci Pengelolaan SDM Unggul di Perbatasan
BNPP RI Genjot Implementasi Manajemen Talenta, Perkuat Daya Saing ASN di Wilayah Perbatasan
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Republik Indonesia mengintensifkan penerapan manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai langkah strategis untuk memastikan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Inisiatif ini krusial, khususnya dalam menghadapi dinamika dan tantangan kompleks yang selalu menyertai wilayah perbatasan negara. Percepatan ini menjadi prioritas utama guna membentuk ASN yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan profesionalitas tinggi untuk bertugas di garda terdepan NKRI.
Fokus utama dari percepatan manajemen talenta ini adalah mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan ASN yang memiliki potensi dan keahlian spesifik yang relevan dengan kebutuhan kawasan perbatasan. Wilayah perbatasan, dengan segala kerentanannya baik dari aspek keamanan, ekonomi, sosial, maupun lingkungan, menuntut kehadiran ASN yang adaptif, inovatif, dan berintegritas. Pengelolaan SDM yang lebih baik melalui sistem manajemen talenta diharapkan mampu menciptakan ASN yang responsif terhadap isu-isu lokal, sekaligus memiliki pemahaman akan implikasi kebijakan nasional di tingkat paling bawah.
BNPP menyadari bahwa kualitas SDM ASN di perbatasan secara langsung berkorelasi dengan kualitas pelayanan publik dan efektivitas program pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Dengan SDM yang mumpuni, diharapkan berbagai program strategis BNPP, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan masyarakat, hingga pengamanan wilayah, dapat berjalan optimal dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat di perbatasan.
Strategi Krusial Hadapi Dinamika dan Tantangan Perbatasan
Penerapan manajemen talenta bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Wilayah perbatasan Indonesia, yang membentang luas dengan karakteristik geografis dan demografis beragam, seringkali menjadi arena bagi berbagai isu multidimensional. Ancaman transnasional seperti penyelundupan, perdagangan manusia, illegal fishing, hingga potensi konflik perbatasan membutuhkan penanganan sigap dari ASN yang berwenang. Di sisi lain, tantangan internal seperti disparitas pembangunan, keterbatasan akses, dan isu sosial budaya juga menuntut pendekatan holistik dan kehadiran ASN yang memiliki empati serta kemampuan mediasi yang kuat.
Melalui manajemen talenta, BNPP bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi bakat: Menemukan ASN dengan potensi kepemimpinan dan keahlian spesifik yang cocok untuk penugasan di daerah perbatasan.
- Mengembangkan kompetensi: Memberikan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan yang relevan dengan tantangan unik perbatasan, termasuk penguasaan bahasa lokal, keahlian negosiasi lintas budaya, hingga pemahaman isu geopolitik.
- Meningkatkan retensi: Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan jalur karier yang jelas untuk mendorong ASN berkualitas agar betah dan termotivasi bekerja di wilayah perbatasan.
- Mempercepat adaptasi: Mempersiapkan ASN agar lebih cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan yang serba terbatas dan tantangan yang tidak terduga.
Program ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran, sebagaimana yang dicanangkan dalam berbagai rencana pembangunan nasional. Kualitas ASN di perbatasan menjadi cerminan komitmen negara terhadap wilayah terdepan.
Pilar Utama Peningkatan Kompetensi dan Kesiapan ASN
Kompetensi dan kesiapan menjadi dua pilar utama dalam program percepatan manajemen talenta ini. BNPP akan fokus pada pembentukan profil ASN yang memiliki kompetensi teknis, manajerial, dan sosial kultural yang kuat. Secara spesifik, beberapa area kompetensi yang akan digenjot meliputi:
* Kepemimpinan Adaptif: Kemampuan mengambil keputusan cepat dan tepat dalam situasi tak terduga dengan sumber daya terbatas.
* Keahlian Negosiasi dan Diplomasi Lokal: Penting untuk berinteraksi dengan masyarakat adat, organisasi non-pemerintah, dan bahkan pihak dari negara tetangga dalam kerangka kerja sama perbatasan.
* Pemahaman Regulasi Perbatasan: Penguasaan mendalam terhadap undang-undang, perjanjian internasional, dan kebijakan terkait wilayah perbatasan.
* Manajemen Krisis dan Tanggap Bencana: Kesiapan menghadapi bencana alam, konflik sosial, atau ancaman keamanan di wilayah rawan.
* Pembangunan Berkelanjutan: Pemahaman tentang strategi pembangunan yang ramah lingkungan dan berbasis komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan jangka panjang.
Kesiapan fisik dan mental ASN juga menjadi perhatian, mengingat kondisi geografis dan sosial di perbatasan yang kerap menantang. Pelatihan fisik, pembekalan psikologis, serta dukungan logistik akan menjadi bagian integral dari program ini. Langkah ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Manajemen Talenta ASN, yang menggarisbawahi pentingnya sistematisasi pengelolaan talenta untuk mencapai visi birokrasi berkelas dunia. Informasi lebih lanjut mengenai kerangka kerja manajemen talenta ASN dapat ditemukan pada situs resmi KemenPANRB, salah satunya melalui regulasi terkait manajemen talenta ASN.
BNPP berkomitmen untuk terus menyempurnakan sistem manajemen talenta ini, dengan harapan mampu menghasilkan ASN yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap NKRI, serta siap menjadi agen perubahan positif di wilayah perbatasan. Melalui investasi pada SDM, BNPP optimis mampu mewujudkan perbatasan sebagai beranda terdepan bangsa yang aman, maju, dan sejahtera.
Pemerintah
Ratusan Tokoh Diusulkan Terima Tanda Kehormatan Nasional, Penganugerahan Pahlawan November Mendatang
Anggota DPR Ungkap Lebih dari 100 Tokoh Diusulkan Terima Tanda Kehormatan
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa lebih dari 100 tokoh telah diusulkan untuk menerima tanda jasa dan kehormatan dari negara. Informasi tersebut disampaikannya setelah melaporkan usulan ini kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto. Penganugerahan gelar pahlawan nasional, salah satu bentuk tanda kehormatan tertinggi, dijadwalkan akan berlangsung pada bulan November tahun ini, sebuah momen yang selalu dinantikan oleh publik.
Proses pengusulan tanda jasa dan kehormatan ini merupakan bagian dari apresiasi negara terhadap individu-individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi kemajuan, kemerdekaan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Jumlah usulan yang mencapai lebih dari seratus tokoh ini mencerminkan kekayaan sejarah dan keberagaman sumbangsih dari berbagai latar belakang, mulai dari pejuang kemerdekaan, budayawan, ilmuwan, hingga tokoh masyarakat.
Proses Seleksi Ketat untuk Penerima Tanda Jasa dan Kehormatan
Setiap usulan penerima tanda jasa dan kehormatan melalui tahapan seleksi yang sangat ketat dan berlapis. Umumnya, proses ini melibatkan beberapa institusi dan badan khusus yang bertugas melakukan verifikasi serta penilaian terhadap rekam jejak dan kontribusi calon penerima. Lembaga yang berwenang dalam hal ini adalah Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, sebuah badan yang bekerja di bawah koordinasi Sekretariat Negara. Dewan ini memiliki peran krusial dalam menyaring setiap nama yang diajukan.
Masyarakat atau institusi dapat mengajukan nama-nama tokoh yang dinilai layak. Selanjutnya, Dewan Gelar akan melakukan kajian mendalam, termasuk:
- Verifikasi data dan fakta historis mengenai kontribusi calon.
- Penilaian integritas moral dan rekam jejak kehidupan.
- Diskusi dan musyawarah untuk menentukan kelayakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan undang-undang.
- Penyusunan rekomendasi akhir untuk disampaikan kepada Presiden.
Proses ini memastikan bahwa setiap penerima benar-benar memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh negara.
Kriteria dan Makna Gelar Pahlawan Nasional
Gelar Pahlawan Nasional, yang penganugerahannya dijadwalkan pada November, merupakan salah satu tanda kehormatan paling prestisius. Kriteria untuk mendapatkan gelar ini sangat spesifik dan tertuang dalam undang-undang. Seseorang dapat diusulkan menjadi Pahlawan Nasional jika telah:
- Memimpin dan/atau melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik yang heroik.
- Berjasa sangat besar bagi bangsa dan negara.
- Mengembangkan pemikiran dan gagasan besar yang secara luas mempengaruhi perkembangan bangsa.
- Tidak pernah menyerah kepada musuh dalam perjuangan.
- Tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak harkat dan martabat bangsa.
Makna di balik penganugerahan gelar ini sangat dalam, yaitu untuk mengenang dan meneladani semangat perjuangan serta pengorbanan para tokoh. Setiap tahun, diskusi mengenai siapa yang layak menjadi pahlawan nasional selalu menarik perhatian publik, mengingat rekam jejak dan kontribusi yang kompleks dari setiap individu.
Peran Presiden dan Momentum Penganugerahan
Presiden memiliki peran sentral dalam proses penganugerahan tanda jasa dan kehormatan, termasuk gelar Pahlawan Nasional. Setelah menerima laporan dan rekomendasi dari Dewan Gelar, Presiden akan mempertimbangkan dan akhirnya menetapkan nama-nama yang akan menerima anugerah tersebut. Keputusan Presiden ini merupakan puncak dari seluruh proses seleksi yang panjang.
Penganugerahan yang biasanya dilakukan pada bulan November seringkali bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November. Momen ini dipilih untuk semakin mengukuhkan semangat kepahlawanan dan nasionalisme di seluruh pelosok negeri, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi penerus akan jasa-jasa para pendahulu. Informasi lebih lanjut mengenai Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dapat diakses melalui situs Sekretariat Negara.
Dengan adanya usulan ratusan tokoh ini, publik menantikan siapa saja figur-figur yang akan dianugerahi tanda jasa dan kehormatan, serta siapa yang akan bergabung dalam daftar panjang Pahlawan Nasional Indonesia. Pengumuman ini tidak hanya menjadi penghargaan bagi individu bersangkutan, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen bangsa tentang dedikasi dan pengorbanan untuk Indonesia.
Pemerintah
Keterbatasan Penanganan Karhutla Nasional: Indonesia Andalkan 35 Pesawat Asing di Kalimantan
Keterbatasan Penanganan Karhutla Nasional: Indonesia Andalkan 35 Pesawat Asing di Kalimantan
Pemerintah Indonesia secara gamblang mengakui adanya keterbatasan alat memadai dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan. Pengakuan ini membuka mata publik terhadap urgensi masalah dan mendorong respons skala besar dengan mengerahkan 35 pesawat asing dari berbagai negara, mulai dari Rusia hingga Amerika Serikat, untuk membantu upaya pemadaman api. Keputusan ini, meski vital untuk menekan penyebaran api, sekaligus menyoroti celah signifikan dalam kapasitas penanggulangan bencana nasional dan menjadi sorotan kritis terhadap kesiapan jangka panjang negara dalam menghadapi ancaman lingkungan yang berulang.
Menguak Keterbatasan Nasional dalam Penanganan Bencana
Keterusterangan pemerintah mengenai minimnya fasilitas penunjang pemadaman karhutla merupakan cerminan dari tantangan struktural yang telah lama membayangi Indonesia. Karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan, bukan fenomena baru; ia merupakan krisis tahunan yang seringkali diperparah oleh faktor iklim seperti El Nino. Pengakuan ini memicu pertanyaan mendasar:
- Mengapa negara dengan riwayat panjang karhutla masih menghadapi keterbatasan fundamental ini?
- Apakah alokasi anggaran dan prioritas kebijakan selama ini belum cukup mengakomodasi kebutuhan peralatan dan sumber daya yang memadai?
- Bagaimana dengan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan, dan teknologi deteksi dini yang seharusnya menjadi garda terdepan pencegahan dan penanganan?
Keterbatasan ini mencakup tidak hanya jumlah pesawat pemadam, tetapi juga jenis pesawat yang spesifik, seperti *water bomber* berkapasitas besar atau pesawat pengintai dengan sensor termal canggih. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti *base camp* operasional, pasokan air yang mudah diakses, serta sistem koordinasi antarlembaga dan antarnegara bagian di Kalimantan juga kerap menjadi kendala. Kondisi geografis Kalimantan yang luas dan kerap sulit dijangkau dari darat menjadikan peran armada udara sangat krusial, sehingga minimnya alat milik sendiri menjadi pukulan telak bagi upaya respons cepat.
Skala Bantuan Internasional: Sebuah Cerminan Mendesak
Pengerahan 35 pesawat asing menjadi bukti nyata betapa mendesaknya situasi karhutla di Kalimantan. Partisipasi berbagai negara, dari kekuatan geopolitik seperti Rusia dan Amerika Serikat hingga negara-negara tetangga yang juga terdampak asap, menggarisbawahi sifat transnasional dari krisis ini. Meski bantuan ini disambut baik, adanya ketergantungan pada dukungan luar juga memunculkan beberapa pertimbangan:
- Biaya dan Logistik: Bantuan asing, meskipun seringkali dalam bentuk pinjaman atau donasi, tetap melibatkan biaya operasional dan logistik yang tidak sedikit, serta kompleksitas koordinasi antarbadan dan bahasa yang berbeda.
- Kedaulatan dan Kapasitas Mandiri: Ketergantungan ini sedikit banyak menyinggung isu kedaulatan dalam penanganan bencana domestik dan mendesak refleksi tentang kapan Indonesia akan mampu sepenuhnya mandiri.
- Diplomasi Internasional: Situasi ini juga menjadi arena diplomasi, di mana negara-negara menunjukkan solidaritas dan kapasitasnya dalam membantu penanganan krisis global.
Kerja sama internasional memang sangat diperlukan dalam menghadapi bencana berskala besar. Namun, idealnya, bantuan ini harus bersifat komplementer, melengkapi kapasitas domestik yang sudah kuat, bukan menjadi penopang utama akibat kekurangan yang substansial di dalam negeri.
Dampak Karhutla dan Ancaman Jangka Panjang
Karhutla di Kalimantan tidak hanya sekadar masalah api yang harus dipadamkan. Dampaknya meluas dan bersifat multidimensional, mengancam aspek kesehatan, ekonomi, dan lingkungan dalam jangka panjang. Kabut asap yang dihasilkan menyebabkan masalah pernapasan serius (ISPA) bagi jutaan penduduk, mengganggu transportasi udara, serta merugikan sektor pariwisata dan pertanian. Secara ekologis, karhutla menghancurkan keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang kaya, termasuk habitat orangutan dan spesies endemik lainnya, serta melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar yang berkontribusi pada perubahan iklim global. Mengingat seringnya insiden ini, masalah karhutla telah menjadi krisis lingkungan dan kesehatan publik yang berulang, menuntut solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Mendesak Perbaikan Kapasitas dan Pencegahan Jangka Panjang
Pengakuan pemerintah dan pengerahan bantuan asing harus menjadi momentum untuk evaluasi dan perbaikan komprehensif. Beberapa langkah strategis yang perlu dipertimbangkan meliputi:
- Investasi Peralatan dan Teknologi: Pemerintah harus memprioritaskan anggaran untuk pengadaan pesawat pemadam api modern, drone pemantau, dan sistem deteksi dini berbasis satelit.
- Pengembangan Sumber Daya Manusia: Peningkatan pelatihan bagi petugas pemadam kebakaran, relawan, dan aparat penegak hukum dalam teknik pemadaman dan pencegahan kebakaran.
- Penegakan Hukum Tegas: Tindakan hukum yang lebih kuat terhadap pelaku pembakaran lahan, baik korporasi maupun individu, untuk memberikan efek jera.
- Manajemen Lahan Berkelanjutan: Implementasi kebijakan tata guna lahan yang ketat, restorasi ekosistem gambut yang rentan, dan dukungan kepada masyarakat adat untuk praktik pengelolaan lahan yang bijak.
- Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat: Mendorong kesadaran bahaya karhutla dan melibatkan masyarakat dalam patroli serta pemantauan titik api di wilayahnya.
Tanpa strategi jangka panjang yang matang dan investasi serius dalam kapasitas domestik, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus ketergantungan pada bantuan asing setiap kali musim kemarau tiba. Krisis karhutla Kalimantan kali ini harus menjadi pengingat pahit namun berharga bahwa kesiapsiagaan bencana adalah investasi, bukan sekadar pengeluaran darurat.
Pemerintah
Transformasi Transportasi Bangkok: 1.520 Bus Listrik Baru Segera Meluncur
BANGKOK – Otoritas Transportasi Massal Bangkok (BMTA) tengah melakukan persiapan masif untuk memodernisasi armada angkutan umumnya. Sebanyak 1.520 unit bus listrik baru dijadwalkan akan meluncur menggantikan kendaraan-kendaraan tua yang telah usang. Pengiriman bus-bus canggih ini diperkirakan akan dimulai pada Maret 2027, menandai era baru bagi transportasi publik di ibu kota Thailand.
Langkah ambisius BMTA ini bukan sekadar pergantian armada biasa, melainkan sebuah lompatan signifikan menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan jumlah ribuan unit, proyek ini akan menjadi salah satu inisiatif terbesar di Asia Tenggara dalam transisi menuju elektrifikasi transportasi publik, menunjukkan komitmen kuat Thailand terhadap pengurangan emisi karbon dan peningkatan kualitas udara kota.
Mengapa Bus Listrik? Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Keputusan untuk berinvestasi dalam bus listrik didasari oleh berbagai pertimbangan strategis, terutama terkait dampak lingkungan dan efisiensi operasional. Bangkok, seperti banyak kota besar lainnya, seringkali menghadapi tantangan polusi udara yang serius, sebagian besar disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Penggunaan bus listrik akan secara drastis mengurangi emisi gas buang dan partikel berbahaya, menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat bagi jutaan penduduknya.
- Peningkatan Kualitas Udara: Bus listrik tidak menghasilkan emisi langsung, berkontribusi pada penurunan kadar polutan di atmosfer yang padat.
- Pengurangan Kebisingan: Motor listrik bekerja jauh lebih senyap dibandingkan mesin diesel, mengurangi polusi suara di jalanan kota, meningkatkan kenyamanan warga.
- Efisiensi Operasional: Meskipun investasi awal lebih tinggi, biaya operasional bus listrik cenderung lebih rendah dalam jangka panjang. Hal ini karena harga listrik yang lebih stabil dan biaya perawatan yang lebih sederhana dibandingkan mesin pembakaran internal.
- Ketergantungan Energi: Proyek ini juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, sejalan dengan tujuan ketahanan energi nasional Thailand.
Secara ekonomi, proyek ini juga akan menciptakan peluang baru. Mulai dari pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengisian daya, pelatihan tenaga kerja untuk teknologi baru, hingga potensi industri pendukung, semua ini akan memberikan dorongan bagi perekonomian lokal. Investasi besar ini mencerminkan visi pemerintah untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif, tidak hanya di sektor pribadi tetapi juga di sektor publik.
Tantangan Implementasi dan Infrastruktur Pendukung
Meskipun manfaatnya jelas, proyek sebesar ini tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu aspek krusial adalah pengembangan infrastruktur pengisian daya yang memadai. Dengan 1.520 bus, BMTA perlu memastikan ketersediaan stasiun pengisian cepat di berbagai depo dan rute utama. Kapasitas jaringan listrik juga harus dipersiapkan untuk menampung lonjakan permintaan daya ini tanpa mengganggu pasokan lain.
Selain itu, pelatihan bagi pengemudi dan teknisi juga menjadi prioritas. Teknologi bus listrik memiliki karakteristik yang berbeda dengan bus konvensional, membutuhkan pemahaman baru tentang sistem baterai, motor listrik, dan perangkat lunak kontrol. BMTA harus berinvestasi dalam program pelatihan komprehensif untuk memastikan operasional yang lancar dan aman. Pengadaan baterai, masa pakainya, dan strategi daur ulangnya di masa depan juga perlu menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Pengadaan bus listrik dalam skala besar juga memerlukan perencanaan finansial yang cermat. Biaya awal akuisisi bus listrik masih relatif lebih tinggi dibandingkan bus diesel, meskipun biaya operasionalnya lebih rendah. Oleh karena itu, skema pendanaan inovatif, termasuk kemungkinan kemitraan publik-swasta atau dukungan pemerintah, akan memainkan peran penting dalam keberhasilan proyek ini.
Visi Jangka Panjang Transportasi Berkelanjutan
Inisiatif ini bukan yang pertama bagi Bangkok dalam upaya memperbarui armada transportasinya. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada langkah-langkah progresif untuk memperkenalkan bus beremisi rendah dan kendaraan berbasis energi alternatif. Namun, peluncuran 1.520 bus listrik ini merupakan langkah terbesar dan paling ambisius hingga saat ini, menunjukkan dedikasi Thailand untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB dan komitmen iklim global.
Visi jangka panjang BMTA adalah menciptakan jaringan transportasi publik yang terintegrasi, efisien, dan sepenuhnya ramah lingkungan. Proyek bus listrik ini diharapkan menjadi katalisator bagi transformasi lebih lanjut, mendorong adopsi teknologi hijau di sektor transportasi lainnya, termasuk taksi, kendaraan pengiriman, dan bahkan kendaraan pribadi. Keberhasilan proyek ini akan menjadi studi kasus penting bagi kota-kota lain di Asia yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan dimulainya pengiriman pada Maret 2027, warga akan segera merasakan manfaat langsung dari bus-bus modern ini. Kenyamanan perjalanan yang meningkat, udara yang lebih bersih, dan lingkungan kota yang lebih tenang adalah beberapa keuntungan yang dinantikan. Ini adalah investasi bukan hanya untuk sistem transportasi, tetapi untuk masa depan kualitas hidup penduduk ibu kota dan citra Thailand sebagai negara yang berkomitmen terhadap keberlanjutan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya Thailand dalam transisi energi dan keberlanjutan, Anda dapat mengunjungi portal terkait kebijakan kendaraan listrik di Thailand.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
