Hukum & Kriminal
Polisi Thailand Tangkap Agen Kunci Jaringan Rekening Mule Korporat Internasional
Polisi Thailand Tangkap Agen Kunci Jaringan Rekening Mule Korporat Internasional
Otoritas penegak hukum di Thailand berhasil membekuk seorang wanita yang diduga kuat berperan sebagai agen utama dalam sebuah jaringan rekening mule korporat berskala besar. Jaringan kejahatan finansial ini dilaporkan mendapat sokongan dana dari seorang pemodal asal Tiongkok, menandakan kompleksitas dan jangkauan internasional operasinya. Penangkapan ini menjadi sorotan penting mengingat polisi telah menghubungkan rekening-rekening yang disediakan oleh jaringan tersebut dengan lebih dari 27 kasus penipuan yang telah terungkap.
Identitas tersangka masih dirahasiakan oleh pihak kepolisian demi kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Namun, penangkapan ini memberikan pukulan telak bagi operasional jaringan yang telah menyebabkan kerugian signifikan bagi banyak korban di berbagai negara. Penyelidikan mendalam terus berlangsung untuk mengungkap seluruh anggota jaringan, termasuk pemodal utama dan beneficiaries lainnya.
Jaringan Rekening Mule dan Modus Operandi
Jaringan rekening mule, atau sering disebut ‘rekening penampung’, adalah skema kejahatan di mana penipu menggunakan rekening bank milik orang lain untuk menyamarkan asal-usul uang hasil kejahatan. Agen seperti tersangka yang ditangkap ini bertugas merekrut individu untuk membuka rekening bank atau memberikan akses ke rekening mereka, yang kemudian digunakan untuk menerima dan mengirimkan dana haram. Modus operandi ini sangat populer di kalangan penjahat karena:
- Memberikan lapisan anonimitas bagi pelaku kejahatan utama.
- Mempercepat proses pencucian uang hasil penipuan, pemerasan, atau kejahatan siber lainnya.
- Mempersulit pelacakan oleh pihak berwenang karena dana melewati banyak rekening perantara.
Para perekrut seringkali menargetkan individu yang rentan, seperti pelajar, pengangguran, atau mereka yang sedang dalam kesulitan keuangan, dengan janji imbalan mudah. Tanpa disadari, individu-individu ini kemudian terlibat dalam kegiatan pencucian uang, yang merupakan tindak pidana serius dengan konsekuensi hukum berat.
Jejak Kejahatan Skala Besar dan Dampaknya
Keterkaitan jaringan ini dengan lebih dari 27 kasus penipuan menunjukkan skala dan dampak merugikan yang ditimbulkan. Kasus-kasus penipuan ini kemungkinan besar mencakup berbagai jenis, mulai dari penipuan investasi palsu, skema ‘romance scam’ atau penipuan asmara, hingga penipuan daring yang melibatkan transfer dana. Masing-masing kasus ini meninggalkan jejak kerugian finansial yang tidak sedikit bagi korban, seringkali menghilangkan seluruh tabungan mereka atau bahkan membuat mereka terlilit utang.
Dampak dari kejahatan semacam ini tidak hanya terbatas pada kerugian materiil. Korban seringkali juga mengalami trauma psikologis, rasa malu, dan hilangnya kepercayaan terhadap orang lain atau sistem keuangan. Penyelidikan akan berupaya mengidentifikasi sejauh mana kerugian total yang disebabkan oleh jaringan ini dan mengidentifikasi lebih banyak korban yang mungkin belum melapor.
Sinyal Kejahatan Transnasional dan Peran Pemodal Asing
Keterlibatan seorang ‘pemodal Tiongkok’ dalam mendukung jaringan ini mengindikasikan bahwa ini bukan sekadar kejahatan lokal, melainkan bagian dari sindikat kejahatan transnasional yang terorganisir. Sindikat semacam ini memiliki struktur yang kompleks, seringkali beroperasi lintas batas negara untuk mengeksploitasi celah hukum dan yurisdiksi yang berbeda. Pemodal menyediakan dana awal, infrastruktur, atau bahkan koneksi untuk memfasilitasi operasi jaringan mule.
Penegak hukum di seluruh dunia menghadapi tantangan besar dalam memerangi kejahatan finansial transnasional karena memerlukan kerja sama antarlembaga dari berbagai negara. Penangkapan di sini adalah hasil dari upaya kolaboratif yang intensif, yang melibatkan intelijen keuangan dan koordinasi dengan mitra internasional. Hal ini juga menyoroti bagaimana teknologi dan globalisasi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya.
Komitmen Penegak Hukum Melawan Kejahatan Siber dan Finansial
Penangkapan ini menegaskan komitmen kuat kepolisian Thailand dan otoritas terkait dalam memerangi kejahatan finansial terorganisir. Penyelidikan kasus-kasus seperti ini seringkali memerlukan keahlian khusus dalam forensik digital, analisis transaksi keuangan yang kompleks, serta pemahaman mendalam tentang ekosistem kejahatan siber. Para penegak hukum terus memperkuat kapasitas mereka untuk melacak dan membongkar jaringan semacam ini, termasuk dengan menggunakan teknologi canggih dan meningkatkan kerja sama lintas negara.
Seperti dilaporkan dalam berbagai kesempatan, upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia dan lembaga serupa di negara lain juga terus mengingatkan masyarakat akan bahaya skema rekening mule dan pentingnya kewaspadaan terhadap penawaran pekerjaan atau peluang investasi yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Langkah Pencegahan untuk Masyarakat
Masyarakat memiliki peran krusial dalam menekan angka kejahatan rekening mule. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil:
- Waspadai Tawaran Pekerjaan Mencurigakan: Berhati-hatilah terhadap tawaran pekerjaan yang meminta Anda untuk mentransfer uang melalui rekening pribadi atau menjanjikan imbalan besar dengan sedikit usaha, terutama dari sumber yang tidak dikenal.
- Lindungi Informasi Pribadi: Jangan pernah memberikan detail rekening bank atau informasi pribadi lainnya kepada pihak yang tidak dikenal atau tidak terverifikasi.
- Pahami Risiko: Edukasi diri Anda tentang bagaimana skema rekening mule bekerja dan konsekuensi hukum yang mungkin timbul jika terlibat, bahkan tanpa disadari.
- Verifikasi Identitas: Selalu lakukan verifikasi terhadap pihak yang meminta Anda untuk menerima atau mentransfer dana.
- Laporkan ke Pihak Berwenang: Jika Anda mencurigai telah menjadi korban atau didekati untuk menjadi ‘mule’, segera laporkan kepada bank dan pihak kepolisian.
Penangkapan agen kunci ini merupakan langkah signifikan dalam upaya memerangi kejahatan finansial transnasional. Ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada dan tidak mudah tergiur oleh tawaran yang menjanjikan keuntungan instan, yang seringkali menjadi kedok bagi aktivitas ilegal.
Hukum & Kriminal
UGM Tempuh Jalur Hukum Usai 5 Mahasiswa Terluka Saat Aksi Protes
UGM Tempuh Jalur Hukum Usai 5 Mahasiswa Terluka Saat Aksi Protes
Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan komitmennya untuk tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, terutama yang menimpa civitas akademika. Pernyataan ini menyusul keputusan resmi UGM untuk menempuh jalur hukum terkait dugaan kekerasan yang dialami lima mahasiswanya saat berpartisipasi dalam sebuah aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu. Langkah ini diambil sebagai respons atas insiden yang mengakibatkan mahasiswa mengalami luka-luka, dan sekaligus menegaskan sikap universitas bahwa kekerasan terhadap mahasiswa tidak boleh menjadi tradisi.
Keputusan ini menjadi sinyal kuat dari UGM mengenai perlindungan terhadap hak-hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat di muka umum, sebuah pilar penting dalam demokrasi dan kebebasan akademik. Insiden tersebut menyisakan kekhawatiran serius akan keselamatan mahasiswa, sekaligus memicu seruan untuk investigasi menyeluruh guna mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas dugaan kekerasan tersebut.
Kronologi Singkat dan Dugaan Kekerasan
Insiden dugaan kekerasan terhadap lima mahasiswa UGM terjadi pada sebuah aksi unjuk rasa yang berlangsung di sekitar area publik strategis kota. Meskipun detail spesifik mengenai waktu dan lokasi pasti masih dalam proses penyelidikan mendalam, peristiwa ini diduga melibatkan beberapa oknum yang melakukan tindakan represif terhadap massa aksi. Kelima mahasiswa yang menjadi korban mengalami berbagai tingkat cedera, mulai dari luka memar, lecet, hingga gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Sumber internal universitas mengindikasikan bahwa para mahasiswa tersebut telah mendapatkan perawatan medis dan pendampingan psikologis. Aksi unjuk rasa sendiri diketahui mengangkat isu-isu kebijakan publik yang krusial, menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam dinamika sosial politik.
Sikap Tegas Universitas dalam Menolak Kekerasan
Rektorat UGM, melalui pernyataan resmi, secara gamblang menyatakan bahwa tindakan kekerasan, dalam bentuk apapun, adalah pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan akademik. “Kami tidak akan membiarkan kekerasan terhadap mahasiswa menjadi tradisi,” tegas salah satu perwakilan UGM, menggarisbawahi urgensi penanganan kasus ini secara serius. Pernyataan ini juga mencerminkan upaya UGM untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan kondusif bagi pengembangan pemikiran kritis serta ekspresi mahasiswa.
Universitas memandang bahwa hak untuk berpendapat dan melakukan aksi demonstrasi adalah bagian integral dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Oleh karena itu, jaminan keamanan bagi mereka yang menyuarakan aspirasinya harus menjadi prioritas utama. Langkah hukum yang diambil UGM bukan hanya sekadar merespons insiden, melainkan juga mengirim pesan kuat kepada semua pihak mengenai komitmen universitas dalam melindungi hak-hak dasar mahasiswanya.
Langkah Hukum dan Tuntutan Keadilan
Dalam upaya mencari keadilan dan memastikan pertanggungjawaban, UGM berencana menempuh jalur hukum dengan melaporkan insiden ini kepada pihak kepolisian. Berikut adalah poin-poin penting terkait langkah hukum yang akan ditempuh:
* Pelaporan Resmi: UGM akan secara resmi melaporkan dugaan tindak kekerasan ini kepada aparat penegak hukum untuk dilakukan penyelidikan menyeluruh.
* Pendampingan Korban: Universitas akan menyediakan pendampingan hukum dan dukungan psikologis bagi kelima mahasiswa yang menjadi korban, memastikan mereka mendapatkan hak-haknya dalam proses hukum.
* Desakan Investigasi Transparan: UGM mendesak agar proses penyelidikan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan profesional, guna mengungkap fakta sebenarnya serta mengidentifikasi pelaku.
* Mencegah Impunitas: Langkah ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya impunitas terhadap pelaku kekerasan dan memberikan efek jera agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjadi preseden positif dalam penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi. Ini juga menjadi pengingat akan pentingnya dialog konstruktif daripada kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan pandangan.
Memperkuat Perlindungan Hak Mahasiswa di Tengah Dinamika Sosial
Insiden kekerasan terhadap mahasiswa saat berunjuk rasa bukanlah fenomena baru di Indonesia. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa aktivisme mahasiswa kerap berhadapan dengan risiko kekerasan. Data dan laporan mengenai kekerasan terhadap mahasiswa di masa lalu seringkali menyoroti perlunya perlindungan yang lebih kuat dari institusi pendidikan dan negara.
Kasus di UGM ini menggarisbawahi pentingnya peran universitas sebagai ‘rumah’ bagi mahasiswa. Bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai lembaga yang menjamin kebebasan berekspresi dan keamanan fisik mahasiswa. Universitas memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk berdiri di garis depan dalam melindungi mahasiswanya dari segala bentuk intimidasi dan kekerasan, terutama saat mereka menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
Penanganan serius kasus ini oleh UGM diharapkan dapat menjadi titik balik, mendorong institusi pendidikan lain untuk lebih responsif dan proaktif dalam melindungi hak-hak dasar mahasiswa. Ini juga menjadi tantangan bagi aparat penegak hukum untuk menunjukkan profesionalisme dan objektivitas dalam menangani kasus yang melibatkan masyarakat sipil, khususnya mahasiswa, dalam menyuarakan aspirasinya.
Hukum & Kriminal
Kepala Polisi Mississippi Dipecat Terkait Teks Rasis, Kasus Mencuat di Tengah Penyelidikan Penembakan Balita
Kepala Polisi Mississippi Dipecat Terkait Teks Rasis, Kasus Mencuat di Tengah Penyelidikan Penembakan Balita
Seorang kepala polisi di sebuah kota di Mississippi secara resmi diberhentikan dari jabatannya setelah serangkaian teks rasis yang dikirimkannya terungkap ke publik. Pemecatan ini menjadi sorotan tajam, terutama karena terjadi di tengah penyelidikan serius terhadap para petugas kepolisiannya yang terlibat dalam insiden penembakan fatal seorang balita kulit hitam.
Insiden pemecatan ini mengguncang fondasi kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum di wilayah tersebut dan memicu perdebatan luas mengenai rasisme sistemik dalam kepolisian. Penyelidikan independen atas perilaku kepala polisi yang terungkap dan implikasinya terhadap operasional departemen kini menjadi prioritas utama pihak berwenang.
Latar Belakang Pemecatan dan Peran Media
Pengungkapan teks rasis sang kepala polisi pertama kali dilaporkan oleh konsorsium media investigasi terkemuka, termasuk Mississippi Today, Verite News, dan The Times. Laporan-laporan ini menyajikan bukti kuat berupa komunikasi pribadi sang kepala polisi yang berisi sentimen rasis dan meremehkan, yang secara fundamental bertentangan dengan sumpah jabatannya dan nilai-nilai pelayanan publik.
Peran jurnalisme investigasi dalam mengungkap skandal ini sangat krusial. Tanpa kerja keras dan dedikasi para jurnalis, perilaku tidak etis dan merusak integritas ini mungkin tetap tersembunyi. Publik kini menuntut transparansi penuh dan langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di masa depan. Pemecatan tersebut adalah respons langsung dari otoritas kota terhadap tekanan publik dan bukti yang tak terbantahkan.
Kontroversi Penembakan Balita dan Ketegangan Komunitas
Pengungkapan teks rasis ini datang pada saat yang sangat sensitif. Departemen kepolisian di kota tersebut telah berada di bawah pengawasan ketat setelah salah satu petugasnya terlibat dalam insiden penembakan yang menewaskan seorang balita kulit hitam. Penyelidikan atas penembakan balita tersebut masih berlangsung, memicu gelombang kemarahan dan kekecewaan di kalangan komunitas, khususnya komunitas Afrika-Amerika.
Kasus penembakan balita itu sendiri telah menciptakan ketegangan yang signifikan antara kepolisian dan warga. Dengan terungkapnya teks rasis dari pimpinan tertinggi departemen, kepercayaan yang sudah rapuh tersebut semakin terkikis. Banyak pihak berpendapat bahwa sentimen rasis yang dimiliki oleh kepala polisi mungkin mencerminkan budaya yang lebih luas dalam departemen, yang berpotensi memengaruhi cara petugas berinteraksi dengan warga kulit hitam. Hal ini menggarisbawahi urgensi untuk melakukan audit internal menyeluruh dan reformasi kebijakan.
Dampak dan Akuntabilitas Kepolisian
Pemecatan kepala polisi ini mengirimkan pesan tegas mengenai pentingnya akuntabilitas dan standar etika yang tinggi bagi para penegak hukum. Beberapa poin penting yang muncul dari insiden ini meliputi:
- Krisis Kepercayaan Publik: Teks rasis tersebut secara langsung merusak kepercayaan publik terhadap kepolisian, terutama di tengah isu sensitif terkait penembakan fatal dan hubungan rasial.
- Tuntutan Reformasi: Insiden ini akan memicu tuntutan yang lebih kuat untuk reformasi kepolisian, termasuk pelatihan kepekaan budaya, tinjauan terhadap kebijakan penggunaan kekuatan, dan mekanisme pengawasan independen.
- Dampak pada Penyelidikan: Keberadaan teks rasis dapat memengaruhi persepsi publik dan hukum terhadap penyelidikan penembakan balita, bahkan mungkin berpotensi menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dalam sistem peradilan.
- Pentingnya Kepemimpinan: Kepemimpinan yang berintegritas dan bebas dari bias rasial adalah fundamental untuk menjaga ketertiban dan keadilan sosial. Pemecatan ini menunjukkan konsekuensi dari kegagalan dalam aspek tersebut.
Masa depan departemen kepolisian ini kini dipertaruhkan. Dengan kepemimpinan baru yang diharapkan, ada kesempatan untuk membangun kembali jembatan kepercayaan dengan komunitas dan menegakkan prinsip keadilan yang sesungguhnya. Namun, jalan menuju pemulihan akan panjang dan membutuhkan komitmen kuat dari semua pihak terkait.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya akuntabilitas yang lebih besar bagi petugas penegak hukum di seluruh negeri, seperti yang sering dibahas dalam liputan kami sebelumnya tentang isu akuntabilitas polisi di Amerika Serikat. Publik berhak mendapatkan layanan kepolisian yang adil, setara, dan bebas dari prasangka rasial.
Hukum & Kriminal
Ratusan Santri dan Siswa Sidoarjo Diduga Keracunan Makanan Gratis, YLBHI Desak Proses Hukum Tuntas
Dugaan Keracunan Massal Menghantam Ratusan Santri dan Siswa
Ratusan santri dari berbagai pondok pesantren dan siswa dari sejumlah sekolah di Kabupaten Sidoarjo diduga kuat mengalami keracunan massal pada Selasa, 1 September lalu. Insiden serius ini terjadi tak lama setelah mereka menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan.
Laporan awal mengindikasikan bahwa para korban, yang tersebar di beberapa lokasi, mulai merasakan gejala keracunan seperti mual, muntah-muntah, pusing, dan diare secara bersamaan. Banyak di antara mereka segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat, termasuk puskesmas dan rumah sakit, untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Kondisi ini sontak memicu kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua, pengelola lembaga pendidikan, serta masyarakat luas, mengingat skala dan dampak insiden yang melibatkan populasi rentan.
YLBHI Desak Penanggung Jawab Diproses Hukum
Menyikapi kasus dugaan keracunan massal ini, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) telah menyuarakan desakan keras. YLBHI menegaskan bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis dan penyediaan makanannya harus segera diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Desakan ini muncul bukan tanpa alasan; YLBHI melihat adanya kelalaian serius yang berpotensi melanggar hak-hak konsumen dan membahayakan kesehatan publik.
Tuntutan YLBHI meliputi:
- Investigasi Menyeluruh: Pihak berwenang, termasuk kepolisian dan dinas kesehatan, harus segera melakukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.
- Penentuan Penanggung Jawab: Mengidentifikasi siapa saja yang terlibat dalam rantai pasok dan penyelenggaraan MBG, mulai dari penyedia katering, pengawas kualitas, hingga koordinator program, untuk dimintai pertanggungjawaban.
- Proses Hukum Adil: Apabila terbukti ada unsur kelalaian atau kesengajaan yang menyebabkan kerugian dan bahaya bagi para santri dan siswa, pelaku harus dijerat dengan pasal-pasal pidana yang relevan, seperti Undang-Undang Perlindungan Konsumen atau pasal-pasal tentang kelalaian yang menyebabkan luka atau bahkan kematian.
- Transparansi Informasi: Memastikan publik mendapatkan informasi yang jelas dan akurat mengenai perkembangan kasus serta langkah-langkah penanganan yang diambil.
“Insiden ini tidak boleh dianggap remeh. Ratusan anak-anak menjadi korban. Negara harus hadir memastikan keadilan dan memberikan sanksi tegas kepada siapa pun yang lalai dalam menjamin keamanan pangan,” ujar perwakilan YLBHI dalam siaran persnya. “Kami akan terus memantau perkembangan kasus ini dan siap memberikan pendampingan hukum jika diperlukan.”
Pentingnya Investigasi Komprehensif dan Pengawasan Keamanan Pangan
Kasus dugaan keracunan di Sidoarjo ini menambah daftar panjang insiden serupa yang kerap terjadi dalam program penyediaan makanan massal. Hal ini menggarisbawahi urgensi adanya pengawasan ketat terhadap standar keamanan pangan, terutama untuk program-program yang menargetkan kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja.
Pemeriksaan sampel makanan sisa, air, serta kondisi kebersihan dapur dan peralatan memasak menjadi langkah krusial dalam mengungkap akar masalah. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Dinas Kesehatan setempat diharapkan segera turun tangan untuk melakukan uji laboratorium komprehensif. Selain itu, pihak kepolisian juga harus segera memulai penyelidikan pidana untuk mencari tahu apakah ada unsur kelalaian yang disengaja atau tidak disengaja. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pedoman keamanan pangan, masyarakat dapat mengunjungi situs resmi BPOM.
Dampak Sosial dan Upaya Pencegahan di Masa Depan
Dampak dari insiden ini tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan fisik para korban, tetapi juga menimbulkan keresahan sosial dan potensi hilangnya kepercayaan publik terhadap program-program bantuan makanan. Oleh karena itu, selain penegakan hukum, penting pula bagi pemerintah daerah dan penyelenggara program untuk segera mengevaluasi secara menyeluruh standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan.
Langkah-langkah preventif harus diperkuat, termasuk pelatihan higienitas bagi staf pengolah makanan, audit rutin terhadap pemasok bahan baku, serta penerapan sistem kontrol kualitas yang ketat di setiap tahapan. Dengan demikian, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari, dan program-program yang bertujuan baik seperti Makan Bergizi Gratis dapat berjalan aman dan memberikan manfaat maksimal bagi penerima manfaatnya.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
