Pendidikan
Guru SD di Medan Mengundurkan Diri Usai Dilaporkan Pukul 10 Siswa Terkait PR
Seorang pengajar di salah satu sekolah dasar negeri di Medan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri ini terjadi setelah dugaan insiden kekerasan fisik yang melibatkan guru tersebut terhadap sepuluh orang siswa di sekolahnya. Kasus ini kembali menyoroti isu krusial mengenai metode disiplin dalam dunia pendidikan dan urgensi perlindungan anak di lingkungan belajar.
Guru dengan inisial DAL, yang sebelumnya mengabdi di SD Negeri 060807 Medan, mengambil langkah mundur setelah namanya mencuat dalam laporan dugaan tindakan kekerasan. Insiden tersebut kabarnya bermula dari permasalahan pekerjaan rumah (PR) yang belum diselesaikan oleh para siswa. Alih-alih mencari solusi edukatif, DAL diduga menggunakan kekerasan fisik sebagai metode penanganan, sebuah tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan modern dan hak anak.
Kasus ini segera menjadi perhatian publik dan pihak berwenang, terutama setelah aduan resmi dilayangkan. Keputusan DAL untuk mengundurkan diri, meskipun tampak sebagai bentuk pertanggungjawaban personal, tidak serta merta mengakhiri persoalan. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap praktik disipliner di sekolah dilakukan dan seberapa jauh pemahaman para pendidik mengenai batasan dalam menegakkan aturan di kelas.
Kronologi Singkat Insiden Kekerasan di SD Medan
Kasus dugaan kekerasan ini terungkap ketika orang tua siswa melaporkan adanya memar atau keluhan dari anak-anak mereka setelah pulang sekolah. Dugaan tindakan kekerasan ini diduga menimpa 10 siswa kelas IV terkait dengan penyelesaian tugas pekerjaan rumah. Laporan ini kemudian menjadi dasar bagi pihak berwenang dan dinas pendidikan untuk melakukan investigasi awal.
Dalam pendidikan, pekerjaan rumah seharusnya menjadi alat untuk memperkuat pemahaman siswa, bukan menjadi pemicu kekerasan. Kejadian ini mencerminkan adanya misinterpretasi atau kesalahpahaman dalam penerapan metode pembelajaran dan penegakan disiplin. Pihak sekolah dan dinas pendidikan kini dihadapkan pada tantangan untuk memastikan insiden serupa tidak terulang, serta memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh siswa.
Implikasi Hukum dan Etika Profesi Guru
Perbuatan yang diduga dilakukan oleh DAL berpotensi melanggar sejumlah regulasi perlindungan anak di Indonesia. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak secara tegas melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak. Guru, sebagai pendidik, memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari ancaman fisik maupun psikis.
Pengunduran diri DAL, terlepas dari motifnya, tidak menghapus potensi proses hukum jika ditemukan bukti kuat adanya tindak pidana. Selain itu, insiden ini juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai:
* Kualitas pelatihan guru: Apakah para pendidik mendapatkan pelatihan yang memadai tentang manajemen kelas tanpa kekerasan?
* Kode etik profesi: Sejauh mana pemahaman dan implementasi kode etik guru dalam menghadapi tantangan di kelas?
* Peran kepala sekolah: Bagaimana kepala sekolah dan jajaran manajemen mengawasi serta mengevaluasi kinerja guru terkait metode disipliner?
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seringkali menyoroti kasus-kasus kekerasan di sekolah. KPAI menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan bebas dari kekerasan. Situs resmi KPAI, KPAI.go.id, menyediakan banyak informasi dan panduan terkait perlindungan anak di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kasus di Medan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk terus mengimplementasikan dan mengawasi regulasi yang ada.
Tantangan Disiplin dan Perlindungan Anak di Sekolah
Kasus guru yang diduga memukul siswa di Medan ini menambah panjang daftar insiden kekerasan yang kerap mewarnai dunia pendidikan di Indonesia. Ini bukan kali pertama kasus semacam ini mencuat ke publik, mengindikasikan adanya masalah struktural dan budaya yang perlu diatasi. Banyak pendidik masih bergulat dengan metode disipliner yang efektif dan humanis, tanpa harus melanggar hak-hak anak.
Sistem pendidikan nasional, terutama dengan implementasi Kurikulum Merdeka, semakin menekankan pendekatan yang berpusat pada siswa dan pembelajaran yang menyenangkan. Kekerasan fisik adalah antitesis dari tujuan tersebut. Pendidikan seharusnya membangun karakter, bukan justru menorehkan trauma. Siswa yang mengalami kekerasan cenderung mengalami penurunan motivasi belajar, masalah psikologis, hingga enggan untuk datang ke sekolah.
Mencegah Terulangnya Kekerasan di Lingkungan Pendidikan
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, beberapa langkah strategis perlu dilakukan secara komprehensif:
- Peningkatan Pelatihan Guru: Menerapkan pelatihan berkelanjutan bagi guru tentang manajemen kelas yang positif, komunikasi efektif, dan alternatif metode disipliner tanpa kekerasan.
- Penguatan Kebijakan Sekolah: Setiap sekolah harus memiliki kebijakan anti-kekerasan yang jelas dan mekanisme pelaporan yang mudah diakses oleh siswa, orang tua, dan staf.
- Peran Aktif Orang Tua: Membangun komunikasi yang terbuka antara sekolah dan orang tua, serta mendorong orang tua untuk melaporkan setiap indikasi kekerasan.
- Pendampingan Psikologis: Menyediakan akses ke konselor atau psikolog sekolah untuk membantu siswa dan guru mengatasi masalah emosional dan perilaku.
- Audit Internal dan Eksternal: Melakukan audit rutin terhadap praktik-praktik di sekolah terkait perlindungan anak, baik secara internal maupun oleh lembaga independen.
Insiden pengunduran diri guru di Medan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang memerdekakan, bukan pendidikan yang menghadirkan rasa takut dan trauma.
Pendidikan
Polemik Teknologi: Kota New York Larang Penggunaan AI untuk Siswa SD hingga SMP
Polemik Teknologi: Kota New York Resmi Larang Penggunaan AI untuk Siswa SD hingga SMP
Langkah signifikan diambil dalam ranah pendidikan, di mana otoritas Kota New York mengumumkan larangan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi siswa sekolah umum dari taman kanak-kanak (TK) hingga kelas delapan. Keputusan ini, yang dikonfirmasi oleh sumber yang dekat dengan permasalahan tersebut kepada Agence France-Presse (AFP) pada Rabu, menyusul laporan media Amerika Serikat dan menimbulkan gelombang perdebatan mengenai peran AI dalam lingkungan belajar.
Kebijakan ini secara efektif melarang siswa setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk memanfaatkan alat AI generatif seperti ChatGPT dalam tugas-tugas akademik. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran yang berkembang di kalangan pendidik dan pembuat kebijakan tentang potensi dampak AI terhadap integritas akademik, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan kesetaraan akses terhadap teknologi.
Mengapa Larangan Ini Diberlakukan?
Munculnya alat AI generatif seperti ChatGPT dari OpenAI telah merevolusi cara informasi diproses dan dihasilkan. Meskipun potensi manfaatnya besar, dalam konteks pendidikan, teknologi ini juga menimbulkan serangkaian tantangan dan kekhawatiran mendalam:
- Integritas Akademik: Kekhawatiran utama adalah penggunaan AI untuk menyontek atau menghasilkan esai, laporan, dan tugas lainnya tanpa upaya orisinal dari siswa. Hal ini berpotensi merusak proses belajar dan evaluasi yang jujur.
- Pengembangan Keterampilan Esensial: Proses menulis, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan meneliti adalah fondasi pendidikan. Ada ketakutan bahwa ketergantungan pada AI dapat menghambat pengembangan keterampilan-keterampilan penting ini pada usia formatif.
- Kesenjangan Digital dan Akses: Meskipun teknologi AI semakin mudah diakses, masih ada kesenjangan dalam kemampuan siswa untuk mengakses dan menggunakan alat-alat ini secara efektif, yang berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan.
- Kualitas dan Akurasi Informasi: Alat AI, meskipun canggih, terkadang dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau bias, yang dapat menyesatkan siswa jika tidak ada pengawasan yang memadai.
Langkah Kota New York ini bisa dilihat sebagai upaya proaktif untuk melindungi fondasi pendidikan tradisional sambil menunggu kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk integrasi AI yang bertanggung jawab.
Polemik dan Implikasi Lebih Luas
Keputusan melarang AI di sekolah dasar dan menengah di New York tidak terlepas dari pro dan kontra. Di satu sisi, para pendukung larangan berpendapat bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk mempertahankan standar akademik dan memastikan siswa mengembangkan keterampilan dasar yang kuat sebelum terpapar alat canggih. Mereka khawatir AI akan menjadi jalan pintas yang menghambat kreativitas dan pemikiran mandiri.
Di sisi lain, kritikus berpendapat bahwa melarang AI justru menghambat siswa untuk belajar beradaptasi dengan teknologi yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan mereka. Mereka percaya bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan literasi AI, mengajari mereka cara menggunakan alat ini secara etis dan efektif, bukan sekadar melarangnya. Ada argumen kuat bahwa AI, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat bantu belajar yang ampuh, membantu personalisasi pembelajaran dan meningkatkan efisiensi.
Di kancah global, respon terhadap AI di pendidikan bervariasi. Beberapa distrik sekolah di AS dan negara lain juga telah menerapkan larangan serupa, sementara yang lain memilih pendekatan yang lebih terintegrasi, mengembangkan pedoman penggunaan AI yang etis dan produktif. Organisasi seperti UNESCO bahkan telah mengeluarkan panduan untuk AI generatif dalam pendidikan dan penelitian, menekankan pentingnya pengembangan keterampilan dan kerangka kerja etis.
Tantangan Penerapan dan Masa Depan AI di Pendidikan
Menerapkan larangan AI di lingkungan sekolah bukanlah tugas yang mudah. Tantangan-tantangan besar meliputi:
- Deteksi: Mengidentifikasi konten yang dihasilkan AI bisa sangat sulit, terutama dengan kemajuan pesat dalam teknologi. Alat pendeteksi AI seringkali tidak sempurna dan dapat menghasilkan positif palsu atau negatif palsu.
- Pendidikan dan Penegakan: Diperlukan edukasi yang jelas bagi siswa, guru, dan orang tua tentang aturan dan alasan di balik larangan tersebut. Penegakan yang konsisten dan adil akan menjadi kunci.
- Akses di Luar Sekolah: Siswa masih dapat mengakses dan menggunakan AI di rumah atau di perangkat pribadi mereka, membuat larangan sekolah menjadi kurang efektif di luar lingkungan kelas.
Keputusan Kota New York ini kemungkinan besar hanya merupakan babak awal dalam dialog yang lebih luas tentang masa depan pendidikan di era kecerdasan buatan. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi AI, lembaga pendidikan di seluruh dunia akan terus bergulat dengan pertanyaan fundamental: Bagaimana kita dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk meningkatkan pembelajaran sambil secara bersamaan menjaga nilai-nilai inti pendidikan? Masa depan mungkin terletak pada pengembangan kurikulum yang mengajarkan siswa tidak hanya apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana belajar dan bagaimana berinteraksi secara bertanggung jawab dengan teknologi canggih.
Pendidikan
Museum Komunitas Baru Abadikan Warisan Eddie Conway dan Black Panthers untuk Sejarah Akurat
Pengantar: Era Baru Narasi Sejarah Komunitas
Sebuah museum komunitas inovatif telah resmi dibuka, didedikasikan untuk menghormati warisan mendalam dari aktivis Eddie Conway dan perjuangan Black Panthers. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi tempat perayaan dan ingatan, tetapi juga platform krusial untuk menyajikan narasi sejarah yang akurat mengenai perlawanan dan pembebasan, khususnya bagi komunitas kulit hitam, pribumi, dan Latino. Pendirian museum ini menandai langkah penting dalam upaya mereklamasi dan mendefinisikan ulang sejarah dari perspektif yang sering terpinggirkan.
Dominique Conway, salah satu tokoh di balik proyek ini, menekankan urgensi dari kebutuhan akan institusi semacam itu. “Kita membutuhkan arsip rakyat kita sendiri. Kita membutuhkan ruang kita sendiri di mana kita tidak hanya merayakan dan mengingat, tetapi kita menceritakan sejarah yang akurat tentang perlawanan, tentang pembebasan kulit hitam secara khusus, tetapi tidak terbatas pada itu, pengalaman masyarakat adat, pengalaman masyarakat Latino,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi misi inti museum: menjadi penjaga kebenaran sejarah yang komprehensif dan inklusif.
Misi di Balik Arsip Rakyat: Meluruskan Sejarah yang Terlupakan
Ide “arsip rakyat” bukan sekadar konsep, melainkan filosofi yang mendasari keberadaan museum ini. Ini adalah pengakuan bahwa sejarah yang dominan sering kali ditulis oleh para pemenang, meninggalkan banyak kisah perlawanan dan keberanian dari kelompok marginal. Museum ini berupaya mengisi kekosongan tersebut, menawarkan pandangan otentik yang diperoleh dari sumber primer dan perspektif komunitas langsung. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses ke narasi yang jujur dan multifaset.
Beberapa poin penting dari misi arsip rakyat ini meliputi:
- Penyajian Sejarah Akurat: Menghadirkan fakta dan konteks yang sering diabaikan atau disalahartikan dalam narasi arus utama.
- Pemberdayaan Komunitas: Memberikan ruang bagi komunitas untuk memiliki dan mengontrol kisah mereka sendiri.
- Inklusivitas Narasi: Meluaskan cakupan sejarah tidak hanya pada pembebasan kulit hitam, tetapi juga pengalaman masyarakat adat dan Latino, mengakui interkoneksi perjuangan mereka.
- Pendidikan dan Refleksi: Menjadi pusat pembelajaran yang mendorong dialog kritis dan refleksi mendalam tentang keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Warisan Black Panthers dan Relevansinya Kini
Black Panther Party, didirikan pada tahun 1966 oleh Huey P. Newton dan Bobby Seale, adalah organisasi yang kompleks dan sering disalahpahami. Mereka dikenal karena program-program layanan komunitasnya, seperti sarapan gratis untuk anak-anak, klinik kesehatan, dan patroli warga untuk melawan kebrutalan polisi. Namun, citra mereka juga sering diasosiasikan dengan retorika revolusioner dan konflik bersenjata. Eddie Conway sendiri adalah seorang mantan anggota Black Panthers yang menghabiskan puluhan tahun di penjara atas tuduhan yang banyak dipertanyakan, sebelum akhirnya dibebaskan.
Pengabdian museum ini untuk menghormati warisan Conway dan Black Panthers sangat relevan di tengah perdebatan kontemporer mengenai ras, keadilan, dan sistem kepolisian. Ini adalah pengingat bahwa perjuangan untuk hak-hak sipil dan kesetaraan adalah proses yang berkelanjutan, dan bahwa pemahaman yang akurat tentang masa lalu sangat penting untuk membentuk masa depan yang lebih adil. (Baca juga: Pentingnya Arsip Komunitas dalam Mendokumentasikan Sejarah Marginal)
Membangun Jembatan Antar Perjuangan
Salah satu aspek paling signifikan dari visi museum ini adalah ambisinya untuk menyertakan pengalaman masyarakat adat dan Latino. Ini menegaskan bahwa perjuangan untuk pembebasan bukanlah fenomena yang terisolasi, melainkan jaringan perlawanan yang saling terkait terhadap penindasan dan ketidakadilan sistemik. Dengan menyatukan kisah-kisah ini, museum tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang sejarah, tetapi juga membangun jembatan solidaritas antar komunitas yang berbeda.
Inisiatif ini datang pada saat yang krusial, di mana banyak pihak menyerukan dekolonisasi kurikulum sejarah dan pengakuan yang lebih besar terhadap kontribusi serta penderitaan kelompok minoritas. Museum ini berfungsi sebagai model bagaimana institusi budaya dapat secara aktif berpartisipasi dalam proses penyembuhan sosial dan keadilan historis, mengubah narasi dari yang didominasi menjadi yang inklusif dan otentik. Melalui pameran, program pendidikan, dan arsip digital, museum ini diharapkan dapat menjadi sumber daya yang tak ternilai bagi para sarjana, aktivis, dan masyarakat umum yang mencari pemahaman lebih dalam tentang sejarah perlawanan di Amerika dan seluruh dunia.
Pendidikan
Debsirin Nonthaburi Siapkan Dukungan Psikologis Jangka Panjang Pasca Insiden Penembakan
Debsirin Nonthaburi Siapkan Dukungan Psikologis Jangka Panjang Pasca Insiden Penembakan
Sekolah Debsirin Nonthaburi mengambil langkah proaktif yang signifikan dengan menyiapkan dukungan psikologis komprehensif bagi seluruh komunitas sekolahnya. Inisiatif ini digulirkan menyusul insiden penembakan tragis yang terjadi pada 7 Agustus lalu, yang menyisakan trauma mendalam. Pihak sekolah berkomitmen untuk menyediakan bantuan pemulihan selama satu tahun penuh setelah kembali menggelar kegiatan belajar-mengajar tatap muka pada Selasa pekan ini.
Keputusan sekolah untuk memperpanjang durasi dukungan psikologis hingga satu tahun mencerminkan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas pemulihan trauma. Tragedi kekerasan semacam ini tidak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga dampak emosional dan psikologis yang seringkali membutuhkan waktu lama untuk pulih. Lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi zona aman bagi tumbuh kembang anak, kini harus menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan rasa aman dan ketenangan di antara siswa, guru, dan staf.
Latar Belakang Insiden Tragis dan Dampaknya
Insiden penembakan pada 7 Agustus mengguncang seluruh komunitas pendidikan, khususnya di lingkungan Debsirin Nonthaburi. Meskipun detail spesifik kejadian tersebut telah menjadi perhatian publik dan penegak hukum pada waktu itu, fokus kini beralih kepada upaya pemulihan pasca-tragedi. Berbagai laporan awal menggambarkan kepanikan dan ketakutan yang melanda saat kejadian, meninggalkan jejak kekhawatiran yang mendalam.
Dampak psikologis dari kejadian semacam ini sangat beragam. Siswa dapat mengalami:
- Kecemasan berlebihan: Terutama saat kembali ke lingkungan sekolah atau mendengar suara keras.
- Gangguan tidur: Mimpi buruk atau kesulitan tidur.
- Perubahan perilaku: Menjadi lebih menarik diri, agresif, atau menunjukkan regresi.
- Kesulitan konsentrasi: Memengaruhi kemampuan belajar dan partisipasi di kelas.
- Gejala stres pasca-trauma (PTSD): Meskipun ini membutuhkan diagnosis profesional, gejala awal bisa muncul.
Tidak hanya siswa, para guru dan staf juga merasakan tekanan psikologis berat. Mereka tidak hanya harus mengelola emosi pribadi, tetapi juga bertanggung jawab memastikan keamanan dan kesejahteraan anak didik, yang menambah beban mental mereka.
Rencana Dukungan Psikologis Komprehensif
Debsirin Nonthaburi telah merancang sebuah program dukungan yang berlapis untuk menangani berbagai tingkat trauma dan kebutuhan. Rencana ini mencakup:
- Konseling Individu dan Kelompok: Penyediaan konselor terlatih yang siap memberikan sesi konseling secara pribadi atau dalam kelompok kecil. Ini memungkinkan siswa dan staf untuk memproses emosi mereka dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
- Pelatihan Guru dan Staf: Guru diberikan pelatihan khusus untuk mengidentifikasi tanda-tanda trauma pada siswa dan cara meresponsnya dengan empati dan tepat. Mereka juga dibekali strategi untuk menciptakan ruang kelas yang lebih kondusif dan suportif.
- Aktivitas Terapi dan Relaksasi: Menyelenggarakan kegiatan seperti terapi seni, terapi bermain, atau sesi mindfulness untuk membantu siswa mengekspresikan diri dan mengurangi stres.
- Kerja Sama dengan Ahli Eksternal: Melibatkan psikolog atau lembaga kesehatan mental profesional dari luar untuk kasus-kasus yang memerlukan intervensi lebih lanjut atau keahlian spesifik.
- Edukasi Orang Tua: Menyediakan informasi dan panduan bagi orang tua mengenai cara mendukung anak mereka di rumah, mengakui pentingnya pendekatan holistik antara sekolah dan keluarga.
Pendekatan jangka panjang selama setahun penuh ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam memastikan pemulihan yang berkelanjutan, bukan hanya respons singkat pasca-insiden.
Pentingnya Pemulihan Jangka Panjang
Pemulihan dari trauma, terutama pada anak-anak dan remaja, bukanlah proses instan. Studi menunjukkan bahwa efek trauma dapat muncul berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kejadian. Oleh karena itu, dukungan jangka panjang yang terstruktur sangat krusial. Program ini tidak hanya berupaya mengatasi gejala yang muncul, tetapi juga membangun resiliensi atau ketahanan mental pada individu.
Dengan adanya program ini, Debsirin Nonthaburi berharap dapat menciptakan kembali lingkungan belajar yang positif dan aman, tempat siswa merasa didukung untuk kembali fokus pada pendidikan mereka. Inisiatif seperti ini juga berfungsi sebagai model bagi institusi pendidikan lain dalam menghadapi krisis serupa, menyoroti pentingnya prioritas kesehatan mental sebagai bagian integral dari keselamatan dan kesejahteraan siswa.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun komitmen sekolah patut diapresiasi, implementasi program dukungan psikologis jangka panjang tentu tidak tanpa tantangan. Sumber daya, ketersediaan tenaga ahli, serta stigma terkait kesehatan mental bisa menjadi hambatan. Namun demikian, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, membuka jalan bagi dukungan yang lebih luas dari masyarakat dan pemerintah.
Melalui program ini, Debsirin Nonthaburi tidak hanya berupaya menyembuhkan luka akibat tragedi, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk kesejahteraan psikologis seluruh komunitasnya. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam mengakui bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang menciptakan individu yang sehat secara mental dan emosional.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
