Connect with us

Internasional

Kisah Dramatis Pekerja Nepal Selamat dari Banjir Terowongan Pembangkit Listrik

Published

on

TARKESHWAR – Seorang pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air di Nepal, Dhan Bahadur Tamang, berhasil lolos dari maut setelah terowongan bawah tanah yang sedang dibangun tiba-tiba diterjang banjir bandang. Insiden mengerikan ini terjadi di proyek Upper Trishuli 1, dekat perbatasan Nepal dengan Tiongkok, di mana perubahan tekanan udara yang mendadak menjadi pertanda awal bencana yang nyaris merenggut nyawanya. Tamang, yang sedang bertugas, harus berjuang di tengah kegelapan dan arus deras untuk menemukan jalan keluar dari jebakan air yang datang secara tak terduga, memberikan kesaksian dramatis tentang pertarungan hidup dan mati di kedalaman bumi.

Detik-detik Mencekam di Dalam Terowongan

Kala itu, Tamang sedang menjalankan tugas rutinnya di jantung proyek Upper Trishuli 1, sebuah inisiatif ambisius yang diharapkan dapat mendongkrak pasokan listrik di Nepal. Sekitar pukul 14.30 sore pada tanggal 2 September, sebuah sensasi aneh menjalar di terowongan. “Saya merasakan perubahan tekanan udara yang sangat tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang besar sedang bergerak di dekat kami,” kenang Tamang, suaranya masih bergetar saat menceritakan kembali kejadian itu.

Dalam hitungan detik, firasat buruknya menjadi kenyataan. Suara gemuruh dahsyat mulai memenuhi ruang kedap suara tersebut, diikuti oleh semburan air dingin yang menerjang dari salah satu sisi terowongan. Air datang dengan kekuatan luar biasa, mendorong material konstruksi dan alat-alat berat, mengubah jalur kerja menjadi sungai bawah tanah yang mematikan. Listrik padam seketika, melemparkan Tamang dan rekan-rekannya ke dalam kegelapan total, hanya dipecahkan oleh suara air yang mengganas dan teriakan panik para pekerja.

  • Perubahan tekanan udara mendadak sebagai peringatan awal bencana.
  • Gelombang air dingin menerjang dengan kekuatan dan kecepatan luar biasa.
  • Listrik padam seketika, menciptakan kegelapan total dan kekacauan.
  • Material konstruksi dan peralatan hanyut terbawa arus deras.

Pertarungan Melawan Arus dan Kegelapan

Dalam kondisi panik, insting Tamang mengambil alih. Ia tahu bahwa setiap detik sangat berharga. Air terus naik, mencapai pinggang, lalu dada, memaksa setiap orang untuk berjuang agar tetap bertahan. “Saya berpegangan pada apa pun yang bisa saya raih, mencoba merasakan jalan keluar dalam kegelapan pekat,” ujarnya. Ia harus melawan arus yang kuat, yang terus berusaha menariknya ke dalam kedalaman terowongan yang semakin berbahaya. Rasa dingin yang menusuk tulang dan ketidakpastian akan nasib rekan-rekannya menambah beban mental.

Perjalanan keluar adalah pertarungan panjang yang melelahkan. Tamang mengisahkan bagaimana ia merangkak, berenang, dan meraba-raba dinding terowongan yang basah, melewati puing-puing dan peralatan yang hanyut. Ketakutan akan terjebak atau terseret lebih jauh selalu menghantuinya. “Saya berpikir tentang keluarga saya, tentang putri saya, dan itu memberi saya kekuatan untuk terus maju,” katanya. Motivasi untuk kembali kepada orang-orang yang dicintainya menjadi pendorong utama di tengah keputusasaan.

Keluar dari Cengkeraman Maut

Setelah perjuangan yang terasa seperti keabadian, Tamang akhirnya melihat secercah cahaya redup di kejauhan. Itu adalah tanda bahwa ia mendekati salah satu pintu keluar darurat atau area yang lebih tinggi di terowongan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengerahkan segala kekuatannya untuk mencapai titik tersebut. Ketika akhirnya berhasil keluar dan menghirup udara segar di permukaan, ia ambruk karena kelelahan, namun dengan rasa syukur yang tak terhingga.

Insiden ini tidak hanya menyisakan trauma bagi Tamang, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan kerja di proyek-proyek infrastruktur besar di Nepal, terutama yang berlokasi di daerah rawan bencana seperti pegunungan Himalaya. Sungai Trishuli, yang menjadi sumber tenaga bagi proyek ini, dikenal memiliki debit air yang fluktuatif, terutama selama musim hujan monsun. Risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor menjadi ancaman konstan bagi proyek-proyek seperti Upper Trishuli 1.

Pelajaran dan Konteks Proyek Hidro Nepal

Bencana ini mengingatkan kita pada kerentanan Nepal terhadap fenomena alam ekstrem, sebuah topik yang sering dibahas dalam berbagai artikel kami sebelumnya mengenai pembangunan infrastruktur di negara tersebut. Proyek Upper Trishuli 1 sendiri merupakan bagian vital dari upaya Nepal untuk memanfaatkan potensi hidronya demi kemandirian energi, sebuah ambisi yang seringkali datang dengan tantangan besar.

Pemerintah Nepal dan pengembang proyek kini diharapkan untuk segera melakukan investigasi mendalam terhadap penyebab banjir ini, serta meninjau ulang protokol keselamatan dan kesiapsiagaan darurat. Keselamatan para pekerja harus menjadi prioritas utama, terutama di lingkungan kerja yang berisiko tinggi seperti terowongan bawah tanah. Kisah Tamang adalah pengingat pahit akan bahaya yang dihadapi oleh mereka yang membangun masa depan energi Nepal.

Insiden ini juga dapat menjadi studi kasus penting bagi negara-negara lain yang sedang mengembangkan proyek serupa di wilayah pegunungan yang rawan. Memastikan sistem peringatan dini yang efektif, jalur evakuasi yang jelas, serta pelatihan keselamatan yang memadai adalah kunci untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang, demi melindungi nyawa para pekerja yang mempertaruhkan hidup mereka untuk kemajuan infrastruktur.

Internasional

Banjir Bandang Luluh Lantakkan Lembah Trishuli Nepal, Ratusan Pekerja PLTA Terjebak

Published

on

Lembah Trishuli Berubah Menjadi Hamparan Abu-abu Penuh Kehancuran

Ratusan pekerja dilaporkan terjebak di kompleks pembangkit listrik tenaga air (PLTA) setelah banjir bandang dahsyat menerjang lembah Sungai Trishuli. Pemandangan dari udara menunjukkan wilayah tersebut kini menjadi hamparan abu-abu yang benar-benar hancur, tanpa ada satu pun bangunan yang tersisa berdiri di tengah lumpur dan puing.

Tim penyelamat saat ini sedang berjuang keras untuk mencapai lokasi kejadian, menghadapi tantangan berat akibat medan yang rusak parah. Seluruh akses darat menuju area tersebut telah terputus, membuat operasi penyelamatan sangat bergantung pada helikopter dan upaya manual yang berisiko tinggi di tengah reruntuhan.

Bencana ini diperkirakan dipicu oleh curah hujan monsun ekstrem yang melanda wilayah pegunungan Himalaya dalam beberapa hari terakhir. Hujan lebat yang tak henti-henti menyebabkan sungai-sungai meluap secara drastis, memicu banjir bandang yang merusak dan serangkaian tanah longsor mematikan. Wilayah lembah Sungai Trishuli, yang dikenal dengan topografi curam dan pembangunan infrastruktur penting seperti PLTA, menjadi salah satu area yang paling parah terdampak.

Skala Kerusakan yang Mengerikan dan Tantangan Penyelamatan

Laporan awal mengindikasikan bahwa tidak hanya PLTA yang terkena dampak, tetapi juga desa-desa dan komunitas lokal yang berada di sepanjang lembah telah luluh lantak. Ribuan warga diperkirakan kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian mereka dalam sekejap. Skala kehancuran yang terlihat dari udara menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan alam yang menerjang.

Pembangkit listrik tenaga air di lembah Trishuli memiliki peran vital bagi pasokan energi Nepal. Kerusakan parah pada fasilitas ini tidak hanya mengancam nyawa para pekerja yang terjebak, tetapi juga berpotensi menyebabkan gangguan pasokan listrik jangka panjang bagi jutaan penduduk dan menghambat pertumbuhan ekonomi negara. Proses pemulihan infrastruktur energi ini diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, serta membutuhkan investasi besar.

Tantangan utama dalam operasi penyelamatan meliputi:

  • Akses yang Terputus: Jalan dan jembatan utama hancur, menghambat tim penyelamat darat.
  • Medan yang Berbahaya: Lumpur tebal, puing-puing, dan risiko longsor susulan membuat setiap langkah berbahaya.
  • Komunikasi yang Terbatas: Jaringan telekomunikasi mungkin terganggu, menyulitkan koordinasi.
  • Kondisi Cuaca Buruk: Hujan monsun yang masih berlanjut dapat memperburuk situasi.

Konteks Bencana Alam Berulang di Nepal

Nepal, sebuah negara yang terhimpit oleh pegunungan, secara rutin menghadapi ancaman bencana alam, mulai dari gempa bumi mematikan seperti pada tahun 2015, hingga banjir dan tanah longsor musiman yang terjadi setiap tahun. Topografi pegunungan yang curam dan rentan, ditambah dengan pembangunan yang terkadang kurang terkontrol, menjadikan negara ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Setiap musim monsun, berita tentang banjir dan tanah longsor di Nepal selalu menjadi sorotan. Wilayah-wilayah pegunungan dan dataran rendah sering kali terendam, memutus akses, merusak lahan pertanian, dan menelan korban jiwa. Peristiwa tragis ini menggarisbawahi perlunya strategi mitigasi bencana yang lebih kuat dan infrastruktur yang lebih tangguh.

Pemerintah Nepal telah menyatakan situasi darurat di wilayah terdampak dan menyerukan bantuan dari komunitas internasional. Organisasi kemanusiaan mulai mempersiapkan respons, meskipun tantangan logistik di lapangan sangat besar. Prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan korban yang terjebak, memberikan bantuan medis darurat, serta memastikan ketersediaan tempat tinggal dan pangan bagi para penyintas. Komunitas global diharapkan dapat segera menyalurkan bantuan untuk mendukung upaya pemulihan jangka pendek dan jangka panjang di salah satu negara paling rawan bencana di dunia ini.

Peristiwa ini kembali mengingatkan dunia akan kerentanan wilayah pegunungan terhadap kekuatan alam yang tak terduga, serta urgensi untuk memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur yang tahan bencana.

Untuk informasi lebih lanjut tentang upaya penanggulangan bencana di Nepal dan tantangan yang dihadapinya, Anda bisa membaca laporan terkait di situs berita global seperti Reuters World News.

Continue Reading

Internasional

Korea Selatan Siapkan Penempatan Militer di Selat Hormuz untuk Keamanan Navigasi

Published

on

Pemerintah Korea Selatan tengah menyiapkan penempatan aset militernya ke Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan untuk mendukung kebebasan navigasi di jalur pelayaran vital tersebut dan ditargetkan terealisasi sebelum akhir tahun ini. Media melaporkan informasi ini pada Kamis malam, mengutip sumber-sumber dari lingkungan pemerintahan dan militer yang tidak disebutkan namanya. Keputusan strategis ini menggarisbawahi komitmen Seoul terhadap keamanan maritim global dan kepentingan ekonominya yang besar di Timur Tengah, terutama dalam hal pasokan energi.

Pentingnya Selat Hormuz bagi Korea Selatan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, menjadi pintu gerbang bagi sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah. Bagi Korea Selatan, sebuah negara industri yang sangat bergantung pada impor energi, keamanan di selat ini adalah krusial. Sekitar 70% dari kebutuhan minyak mentah Korea Selatan diimpor melalui rute ini. Oleh karena itu, gangguan sekecil apapun di Selat Hormuz dapat memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, menyebabkan lonjakan harga energi dan ketidakpastian pasokan.

Keterlibatan Korea Selatan dalam menjaga keamanan di kawasan ini bukanlah hal baru. Angkatan Laut Korea Selatan telah memiliki unit antiterorisme dan antipembajakan, Unit Cheonghae, yang beroperasi di lepas pantai Somalia dan Teluk Aden sejak tahun 2009. Unit ini telah berhasil melakukan berbagai misi penyelamatan dan pengamanan kapal dagang, menunjukkan kapabilitas dan pengalaman Korea Selatan dalam operasi maritim internasional. Penempatan baru di Selat Hormuz ini kemungkinan besar akan memperkuat atau memperluas cakupan misi yang sudah ada, atau melibatkan unit terpisah dengan fokus yang lebih spesifik pada keamanan navigasi di perairan yang lebih sensitif secara geopolitik.

Dorongan di Balik Keputusan Seoul

Keputusan untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz tidak terlepas dari tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, yang telah lama mendesak sekutu-sekutunya untuk berkontribusi lebih banyak dalam menjaga keamanan maritim di kawasan Teluk. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah serangkaian insiden yang melibatkan serangan terhadap kapal tanker dan penyitaan kapal dagang di perairan tersebut, yang banyak pihak kaitkan dengan Iran.

Sebagai sekutu utama Amerika Serikat, Korea Selatan memiliki tanggung jawab untuk turut serta dalam menjaga stabilitas regional dan mempromosikan tatanan berbasis aturan di laut. Penempatan ini juga mencerminkan upaya Seoul untuk memperkuat aliansinya dengan Washington dan menunjukkan komitmennya terhadap upaya kolektif dalam menghadapi tantangan keamanan global. Namun, langkah ini juga memerlukan pertimbangan diplomatik yang cermat, mengingat hubungan Korea Selatan dengan Iran yang juga merupakan mitra dagang penting. Pemerintah Korea Selatan kemungkinan akan menekankan bahwa misi ini bersifat defensif dan bertujuan semata-mata untuk melindungi kebebasan navigasi, bukan untuk memihak dalam konflik regional.

Implikasi Penempatan Militer dan Jenis Aset

Meskipun detail spesifik mengenai aset militer yang akan dikerahkan belum diumumkan secara resmi, kemungkinan besar Korea Selatan akan mengirimkan kapal perang canggih, seperti kapal perusak atau fregat, yang dilengkapi dengan kemampuan pengawasan dan pertahanan yang kuat. Unit maritim patroli udara juga bisa menjadi bagian dari kontingen ini untuk memberikan pengawasan udara di atas selat. Kehadiran pasukan Korea Selatan di Selat Hormuz akan memberikan lapisan keamanan tambahan bagi kapal-kapal yang melintas, mengurangi risiko insiden maritim, dan membantu memastikan kelancaran arus perdagangan.

Langkah ini juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Ini akan meningkatkan profil Korea Selatan sebagai pemain global dalam isu-isu keamanan maritim dan menegaskan komitmennya terhadap stabilitas internasional. Di dalam negeri, keputusan ini mungkin akan memicu diskusi mengenai sejauh mana keterlibatan militer Korea Selatan di luar negeri harus diperluas, namun fokus pada perlindungan kepentingan ekonomi vital negara kemungkinan akan memenangkan dukungan publik.

Rekam Jejak Korea Selatan di Kawasan Konflik

Sejarah menunjukkan bahwa Korea Selatan telah aktif berpartisipasi dalam misi penjaga perdamaian dan keamanan internasional. Selain Unit Cheonghae di lepas pantai Somalia, Korea Selatan juga pernah mengirimkan pasukannya ke Irak sebagai bagian dari upaya rekonstruksi pasca-perang, serta berbagai misi PBB lainnya. Pengalaman ini membuktikan kapabilitas dan kesiapan angkatan bersenjata Korea Selatan untuk beroperasi di lingkungan yang kompleks dan menantang.

Keterlibatan Korea Selatan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, seperti yang pernah dilakukannya di berbagai misi sebelumnya, menegaskan komitmen globalnya. Untuk memahami lebih jauh pentingnya wilayah ini, pembaca dapat merujuk pada analisis strategis mengenai Selat Hormuz sebagai Titik Pencekikan Global.

Dengan persiapan yang matang dan pengalaman operasi maritim yang kuat, Korea Selatan diharapkan dapat memainkan peran konstruktif dalam menjaga stabilitas dan kebebasan navigasi di salah satu jalur air paling strategis di dunia ini, sambil menyeimbangkan kepentingan diplomatik dan ekonominya di kawasan tersebut.

Continue Reading

Internasional

Norwegia Sita Kapal Riset Rusia di Arktik: Kremlin Kecam ‘Pembajakan’

Published

on

TROMS – Pemerintah Norwegia mengkonfirmasi penyitaan sebuah kapal riset milik Rusia di wilayah Arktik yang strategis. Tindakan ini dilakukan berdasarkan perintah pengadilan internasional, sebagai bagian dari kampanye global yang lebih luas untuk membekukan dan menyita aset-aset Rusia yang terkait dengan konflik di Ukraina. Keputusan tersebut segera memicu reaksi keras dari Moskow, yang menuduh Norwegia melakukan ‘pembajakan’ dan mengancam konsekuensi diplomatik yang serius.

Kapal yang disita adalah sebuah kapal riset yang keberadaannya di perairan Norwegia telah menjadi subjek pengawasan ketat. Penyitaan ini merupakan manifestasi nyata dari tekanan berkelanjutan yang diberikan oleh komunitas internasional terhadap Rusia pasca-invasi skala penuhnya ke Ukraina. Langkah ini menggarisbawahi tekad negara-negara Barat untuk tidak hanya menerapkan sanksi ekonomi, tetapi juga secara aktif mengejar dan mengamankan aset-aset yang dianggap mendukung atau terkait dengan Kremlin.

Pihak berwenang Norwegia menegaskan bahwa tindakan mereka sepenuhnya sah dan didukung oleh kerangka hukum internasional. Mereka menyatakan bahwa perintah pengadilan tersebut memberikan dasar yang kuat untuk penyitaan, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku. Insiden ini menambah daftar panjang aset Rusia, mulai dari dana perbankan hingga properti mewah dan kapal pesiar, yang telah disita atau dibekukan di berbagai yurisdiksi di seluruh dunia sejak Februari 2022.

Implikasi Geopolitik dan Kampanye Pembekuan Aset Global

Penyitaan kapal riset ini tidak hanya sekadar insiden hukum, melainkan memiliki implikasi geopolitik yang signifikan, terutama di wilayah Arktik. Wilayah ini semakin menjadi titik fokus persaingan kekuatan besar, dengan Rusia dan negara-negara NATO seperti Norwegia memiliki klaim dan kepentingan yang tumpang tindih. Kehadiran kapal riset, meskipun mungkin untuk tujuan ilmiah, sering kali diawasi dengan kecurigaan karena potensi penggunaannya untuk tujuan ganda, seperti pemetaan dasar laut atau pengumpulan data yang relevan dengan pertahanan.

Langkah Norwegia ini juga memperkuat upaya global yang lebih luas untuk menekan Rusia secara finansial. Sejak awal konflik di Ukraina, sejumlah besar aset Rusia telah dibekukan atau disita. Tujuannya adalah untuk menghambat kemampuan Moskow dalam mendanai perang dan memberikan tekanan ekonomi yang signifikan.

  • Tekanan Ekonomi: Penyitaan ini menambah tekanan ekonomi yang telah diterapkan melalui sanksi, menargetkan sektor-sektor kunci ekonomi Rusia, individu oligarki, dan entitas negara.
  • Dasar Hukum yang Diperkuat: Menunjukkan bahwa negara-negara Barat semakin berani dalam menggunakan mekanisme hukum internasional untuk mengimplementasikan sanksi, meskipun sering kali memicu tantangan hukum dan diplomatik.
  • Nilai Simbolis Tinggi: Menyita kapal riset memiliki nilai simbolis yang kuat, menandakan bahwa bahkan aset-aset yang tampaknya non-militer tidak luput dari perhatian dalam konteks konflik global saat ini.

Peristiwa ini dapat pula dilihat sebagai kelanjutan dari serangkaian tindakan yang lebih luas terhadap aset Rusia. Misalnya, Uni Eropa dan Amerika Serikat telah membahas secara ekstensif bagaimana menggunakan aset Rusia yang dibekukan untuk membiayai rekonstruksi Ukraina, sebuah usulan yang penuh dengan kompleksitas hukum dan politik. Penyitaan di Norwegia ini menunjukkan implementasi parsial dari strategi tersebut, meskipun dalam skala yang lebih kecil, dan secara konsisten selaras dengan kebijakan agresif terhadap aset Rusia yang telah menjadi fokus utama pemerintahan Barat sejak invasi.

Dasar Hukum Internasional dan Kontroversi Klaim ‘Pembajakan’

Inti dari kontroversi ini terletak pada perbedaan penafsiran hukum internasional yang mendasar. Norwegia berargumen bahwa mereka bertindak di bawah yurisdiksi yang sah, didukung oleh perintah pengadilan yang berlaku secara internasional. Perintah semacam itu biasanya dikeluarkan oleh pengadilan yang kompeten setelah melalui proses hukum yang ketat, seringkali terkait dengan pelanggaran kontrak, hutang yang belum dibayar, atau sebagai bagian dari rezim sanksi yang diakui secara luas. Mekanisme ini memberikan legitimasi pada tindakan penyitaan di mata hukum internasional.

Di sisi lain, Rusia menolak keras legitimasi tindakan Norwegia, melabelinya sebagai ‘pembajakan’. Klaim ini mencerminkan sudut pandang Moskow bahwa penyitaan aset-aset negara mereka merupakan pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional, terutama jika mereka tidak mengakui dasar hukum perintah pengadilan tersebut. Tuduhan ‘pembajakan’ sendiri merupakan istilah yang sangat serius dalam hukum maritim internasional, biasanya merujuk pada tindakan perampasan kapal secara ilegal di laut lepas untuk keuntungan pribadi atau politik. Dengan menggunakan istilah ini, Rusia berusaha untuk menempatkan Norwegia dalam posisi yang secara moral dan hukum tercela dan memicu debat internasional.

Kritikus internasional mungkin juga mempertanyakan luasnya penerapan perintah pengadilan semacam ini, terutama ketika menyangkut aset negara yang seringkali menikmati kekebalan tertentu. Namun, banyak negara berpendapat bahwa kekebalan ini dapat dicabut dalam konteks pelanggaran hukum internasional yang berat atau sebagai bagian dari sanksi yang diberlakukan secara multilateral, khususnya setelah agresi bersenjata. Sumber yang relevan mengenai sanksi Uni Eropa terhadap Rusia dapat memberikan konteks lebih lanjut mengenai kerangka hukum yang mendasari tindakan ini.

Situasi ini menimbulkan tantangan hukum yang signifikan bagi kedua belah pihak dan berpotensi memicu eskalasi diplomatik. Sejarah menunjukkan bahwa sengketa semacam ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun, dengan implikasi yang luas terhadap hubungan bilateral dan stabilitas regional. Dalam konteks ketegangan global saat ini, insiden di Arktik ini menjadi pengingat akan rumitnya penegakan hukum internasional di tengah konflik kepentingan geopolitik dan upaya berkelanjutan untuk menekan agresi.

Upaya global untuk mengidentifikasi dan membekukan aset Rusia telah menjadi elemen kunci dalam strategi Barat untuk menekan Moskow. Dari pembekuan cadangan devisa hingga penyitaan yacht mewah, setiap tindakan ini dirancang untuk mengirimkan pesan yang jelas dan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Penyitaan kapal riset di Norwegia hanyalah salah satu babak dalam saga panjang ini, namun ini menyoroti kompleksitas dan konsekuensi nyata dari konflik yang sedang berlangsung.

Continue Reading

Trending