Pendidikan
Mendiktisaintek Izinkan Kampus Dirikan Unit Gizi: Wadah Praktik Mahasiswa & Peningkatan Kualitas SDM
JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengumumkan kebijakan progresif yang memungkinkan perguruan tinggi untuk mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas penyedia makanan, tetapi juga berfungsi sebagai ‘teaching factory’ atau sarana praktik langsung yang vital bagi pengembangan kompetensi mahasiswa di berbagai bidang terkait.
Pernyataan Menteri Brian ini menandai langkah strategis pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya melalui jalur pendidikan tinggi. Dengan adanya SPPG, kampus memiliki kesempatan untuk mengintegrasikan teori dengan praktik nyata, sebuah jembatan penting yang kerap menjadi tantangan dalam sistem pendidikan. Kebijakan ini juga selaras dengan visi pemerintah untuk menciptakan lulusan yang siap kerja dan berdaya saing global.
Fasilitas SPPG ini akan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari Ilmu Gizi, Teknologi Pangan, Tata Boga, Kesehatan Masyarakat, hingga Manajemen Bisnis. Mereka dapat secara langsung terlibat dalam seluruh proses, mulai dari perencanaan menu bergizi, pengadaan bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga manajemen keuangan dan pemasaran. Ini akan memberikan pengalaman komprehensif yang tidak dapat diperoleh hanya dari ruang kelas.
Membangun Kompetensi Praktis dan Kreativitas Mahasiswa
Penerapan SPPG sebagai ‘teaching factory’ membawa sejumlah manfaat signifikan bagi pengembangan mahasiswa. Pengalaman langsung ini krusial untuk mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan industri. Beberapa poin penting dari manfaat ini meliputi:
- Pengalaman Langsung: Mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan teoritis tentang gizi, keamanan pangan, dan manajemen operasional dalam lingkungan nyata.
- Pengembangan Keterampilan Interpersonal: Melibatkan kerja tim, komunikasi dengan pemasok dan konsumen, serta penyelesaian masalah di lapangan.
- Stimulasi Kreativitas dan Inovasi: Mendorong mahasiswa untuk mengembangkan menu sehat dan inovatif, teknik pengolahan pangan yang efisien, serta strategi pemasaran yang efektif.
- Kesiapan Industri: Mempersiapkan lulusan dengan pengalaman kerja yang relevan, meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja setelah lulus.
- Jejaring Industri: Berpotensi membuka peluang magang atau kerja sama dengan industri pangan dan katering.
- Pengembangan Jiwa Kewirausahaan: Memberikan platform untuk menguji ide bisnis di bidang kuliner dan layanan gizi, berpotensi menciptakan wirausaha baru.
Menteri Brian Yuliarto menekankan bahwa fasilitas ini diharapkan dapat menjadi pusat inovasi yang terus mengembangkan praktik terbaik dalam pemenuhan gizi, sekaligus menjadi contoh bagi lembaga lain.
Dampak Luas SPPG: Dari Kesehatan Kampus hingga Inovasi Nasional
Manfaat SPPG tidak hanya terbatas pada pengembangan kompetensi mahasiswa. Keberadaannya juga memiliki dampak yang lebih luas, baik bagi lingkungan kampus maupun kontribusi terhadap isu-isu gizi nasional. Diantaranya adalah:
- Peningkatan Kesehatan Civitas Akademika: SPPG dapat menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi seluruh warga kampus, termasuk mahasiswa, dosen, dan staf, yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan produktivitas.
- Penelitian dan Pengembangan: Menjadi basis data dan lokasi penelitian ilmiah mengenai pola makan, preferensi gizi, dan efektivitas intervensi gizi, yang dapat memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
- Dukungan Program Gizi Nasional: Secara tidak langsung, inisiatif ini mendukung program pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi, seperti stunting atau obesitas, dengan mempromosikan pola makan sehat sejak dini.
- Pemberdayaan Komunitas Lokal: SPPG dapat menjalin kerja sama dengan petani lokal atau UMKM untuk pengadaan bahan baku, sehingga turut memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar.
- Pusat Edukasi Gizi: Kampus bisa memanfaatkan SPPG sebagai sarana edukasi dan penyuluhan gizi bagi masyarakat umum, meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan gizi seimbang.
Ini adalah langkah maju dalam mewujudkan kampus sebagai pusat ekosistem yang holistik, tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Tantangan dan Harapan Implementasi
Meski prospeknya cerah, implementasi SPPG sebagai ‘teaching factory’ juga akan menghadapi sejumlah tantangan. Perguruan tinggi perlu memastikan ketersediaan dana investasi awal, sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola fasilitas, standar kualitas yang ketat, serta keberlanjutan operasional. Menteri Brian berharap, sinergi antara pihak universitas, pemerintah, dan sektor swasta dapat mengatasi tantangan ini.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi diharapkan akan mengeluarkan pedoman yang jelas mengenai pendirian dan operasionalisasi SPPG ini, termasuk standar kebersihan, keamanan pangan, dan kurikulum yang terintegrasi. Dengan demikian, setiap SPPG dapat berjalan secara efektif dan memberikan kontribusi maksimal.
Kebijakan ini merupakan refleksi dari komitmen pemerintah untuk terus berinovasi dalam sektor pendidikan tinggi, memastikan bahwa lulusan Indonesia tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dan berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program gizi dan kesehatan masyarakat, Anda bisa mengunjungi situs resmi Kementerian Kesehatan di sini.
Pendidikan
MNC Peduli Gagas Pendekatan Inovatif Literasi Anak Melalui Aktivitas Menyenangkan
Pendekatan Inovatif MNC Peduli Dorong Minat Literasi Anak
Dalam upaya berkelanjutan meningkatkan kualitas pendidikan dan minat baca generasi muda, MNC Peduli secara proaktif menggelar serangkaian kegiatan literasi yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Bekerja sama dengan Rumah Baca Empat Jagoan, inisiatif ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap membaca sejak dini, sebuah fondasi krusial bagi perkembangan kognitif dan sosial anak.
Amila Fitrina, Founder Sekolah Empat Jagoan, menegaskan bahwa metode pendekatan literasi kepada anak harus dilakukan dengan cara yang menghibur dan menarik. Pernyataan ini bukan sekadar rekomendasi, melainkan sebuah strategi pedagogis yang fundamental. Anak-anak, dengan karakteristik alami mereka yang gemar bermain dan bereksplorasi, akan jauh lebih mudah menerima dan menyerap informasi ketika proses pembelajaran tidak terasa seperti sebuah beban, melainkan petualangan yang menggairahkan.
Mengapa Pendekatan Menyenangkan Kunci Keberhasilan Literasi Anak?
Penekanan pada aspek “menyenangkan” dalam kegiatan literasi bukan tanpa alasan kuat. Model pembelajaran tradisional yang seringkali kaku dan didominasi oleh hafalan dapat mematikan minat alami anak untuk belajar. Sebaliknya, pendekatan yang kreatif dan partisipatif terbukti efektif dalam memicu rasa ingin tahu, mendorong eksplorasi, dan membangun koneksi emosional positif dengan materi pelajaran, terutama buku.
Kegiatan yang dirancang oleh MNC Peduli bersama Rumah Baca Empat Jagoan berupaya untuk menciptakan lingkungan di mana membaca adalah sebuah kebahagiaan, bukan kewajiban. Ini melibatkan berbagai aktivitas seperti mendongeng interaktif, permainan edukatif yang melibatkan huruf dan kata, lokakarya menulis cerita pendek, hingga seni dan kerajinan tangan yang terinspirasi dari buku. Semua ini dirancang untuk:
- Meningkatkan motivasi intrinsik anak untuk membaca dan belajar.
- Membangun persepsi positif bahwa belajar literasi adalah aktivitas yang seru dan bermanfaat.
- Mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak melalui cerita dan ekspresi.
- Memperkuat ikatan emosional anak dengan buku sebagai teman setia.
- Mengurangi tekanan dan kecemasan yang sering muncul dalam proses belajar konvensional.
Transformasi pengalaman belajar ini sangat penting. Ketika anak merasa senang, otak mereka lebih terbuka untuk menerima informasi baru, memprosesnya dengan lebih baik, dan menyimpannya dalam memori jangka panjang. Hal ini selaras dengan berbagai riset pendidikan yang menunjukkan bahwa keterlibatan emosional positif secara signifikan meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Peran Rumah Baca dan Tantangan Literasi Nasional
Kerja sama dengan Rumah Baca Empat Jagoan menunjukkan pemahaman mendalam MNC Peduli akan pentingnya ekosistem pendukung literasi. Rumah baca atau pusat komunitas semacam ini berperan vital sebagai jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan dunia buku, terutama di daerah yang mungkin memiliki akses terbatas ke perpustakaan atau fasilitas pendidikan lainnya. Mereka menyediakan ruang aman dan inspiratif bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan membaca dan menulis mereka di luar lingkungan sekolah formal.
Inisiatif ini melanjutkan jejak komitmen MNC Peduli yang sebelumnya juga aktif dalam program peningkatan kualitas pendidikan di daerah terpencil dan penyediaan fasilitas belajar. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor swasta dapat berkontribusi signifikan dalam mengatasi tantangan literasi di Indonesia. Data PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam meningkatkan kompetensi literasi siswanya. Oleh karena itu, setiap upaya dari berbagai pihak, termasuk organisasi nirlaba dan komunitas lokal, menjadi sangat berarti.
Membangun Pondasi Literasi Berkelanjutan untuk Masa Depan
Program literasi yang menyenangkan ini bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Dengan menanamkan kecintaan membaca sejak dini, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang kritis, kreatif, dan memiliki kemampuan analitis yang kuat. Kemampuan literasi yang mumpuni juga merupakan prasyarat mutlak untuk dapat bersaing di era informasi dan digital yang semakin kompleks.
Lebih jauh, pendekatan ini juga membekali anak-anak dengan keterampilan adaptif yang diperlukan untuk terus belajar sepanjang hidup mereka. Ini termasuk kemampuan untuk mencari informasi, mengevaluasi sumber, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks yang berbeda. Program seperti yang diinisiasi MNC Peduli dan Rumah Baca Empat Jagoan ini menjadi model ideal bagaimana pendidikan literasi harus dijalankan: menyeluruh, melibatkan komunitas, dan selalu berorientasi pada pengalaman positif anak. Harapannya, inisiatif semacam ini dapat direplikasi di lebih banyak tempat, menjangkau lebih banyak anak, dan secara kolektif mengangkat standar literasi nasional ke tingkat yang lebih tinggi. Ini adalah langkah nyata menuju masyarakat yang lebih cerdas dan berbudaya literasi.
Pendidikan
Pemkab Penajam Paser Utara Siapkan Rp4,3 Miliar dari APBD 2026 untuk Ringankan Biaya Pendidikan
Komitmen PPU Tingkatkan Akses Pendidikan Melalui APBD 2026
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur, menunjukkan komitmen kuatnya terhadap sektor pendidikan dengan menyiapkan dana sebesar Rp4,3 miliar. Alokasi signifikan ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026, secara khusus ditujukan untuk meringankan beban biaya pendidikan bagi peserta didik baru yang akan menempuh jalur pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027 atau sepanjang tahun anggaran 2026. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi jaring pengaman finansial bagi keluarga, memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas tanpa terkendala masalah biaya.
Langkah strategis Pemkab PPU ini tidak hanya sekadar pemberian bantuan finansial, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk pembangunan sumber daya manusia di wilayah tersebut. Dalam konteks pembangunan nasional, khususnya dengan posisi Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), peningkatan kualitas pendidikan menjadi krusial. Ketersediaan dana ini diharapkan dapat mengurangi angka putus sekolah dan mendorong lebih banyak siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan mendukung kebutuhan tenaga kerja terampil di masa depan.
Prioritas Anggaran untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusif
Alokasi anggaran sebesar Rp4,3 miliar untuk keringanan biaya pendidikan ini mencerminkan prioritas Pemkab PPU dalam memastikan pendidikan yang inklusif dan merata. Dana ini diproyeksikan akan menyasar berbagai komponen biaya yang seringkali menjadi hambatan bagi keluarga, terutama dari kalangan kurang mampu, untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Meski rincian spesifik mengenai skema penyaluran dan jenis bantuan masih dalam tahap finalisasi, umumnya bantuan semacam ini dapat mencakup:
- Biaya pendaftaran dan uang pangkal sekolah.
- Pembelian seragam sekolah dan perlengkapan belajar.
- Dukungan untuk biaya operasional pendidikan lainnya.
Keputusan untuk mengalokasikan anggaran di APBD 2026 ini menunjukkan perencanaan yang matang dan berkelanjutan dari pemerintah daerah. Dengan mengacu pada APBD tahun berikutnya, pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk menyusun mekanisme penyaluran yang transparan dan tepat sasaran, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam menekan disparitas pendidikan antar wilayah, di mana peran pemerintah daerah sangat vital dalam menyelenggarakan program-program yang adaptif terhadap kebutuhan lokal.
Dampak Positif dan Tantangan Implementasi
Harapan besar menyertai implementasi program keringanan biaya pendidikan ini. Secara langsung, bantuan ini diprediksi akan meringankan beban finansial ribuan keluarga di PPU, sehingga anak-anak mereka dapat fokus belajar tanpa kekhawatiran biaya. Jangka panjangnya, program ini dapat meningkatkan partisipasi sekolah, mengurangi tingkat putus sekolah, dan secara kumulatif, menaikkan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah. Peningkatan akses pendidikan ini krusial untuk menghasilkan generasi muda yang kompeten dan berdaya saing, seiring dengan pesatnya perkembangan wilayah Kalimantan Timur sebagai sentra ekonomi baru.
Namun, implementasi program sebesar ini tentu tidak lepas dari tantangan. Akurasi data calon penerima manfaat menjadi kunci utama agar bantuan tepat sasaran. Verifikasi yang ketat perlu dilakukan untuk memastikan bahwa dana tersebut benar-benar dinikmati oleh mereka yang paling membutuhkan. Selain itu, transparansi dalam penyaluran dan pertanggungjawaban penggunaan anggaran juga harus menjadi perhatian serius Pemkab PPU. Pengalaman dari program-program bantuan pendidikan sebelumnya, baik di PPU maupun daerah lain, dapat menjadi referensi berharga dalam menyempurnakan mekanisme penyaluran ini. Alokasi APBD yang strategis untuk sektor pendidikan merupakan langkah progresif yang terus didorong di berbagai daerah.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari berbagai upaya pemerintah daerah dalam mendukung pendidikan. Meskipun spesifikasinya dapat berbeda setiap tahun, komitmen untuk mengalokasikan sebagian APBD guna menopang biaya pendidikan selalu menjadi agenda penting. Hal ini mengukuhkan peran pemerintah daerah sebagai garda terdepan dalam mewujudkan cita-cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, yang juga menjadi landasan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan berbagai bantuan pendidikan di tingkat nasional.
Antisipasi Perkembangan Mendatang di Sektor Pendidikan PPU
Dengan adanya IKN yang terus berkembang, Penajam Paser Utara akan menjadi daerah penyangga strategis yang membutuhkan kualitas sumber daya manusia unggul. Investasi dalam pendidikan melalui APBD 2026 ini merupakan persiapan penting untuk menghadapi dinamika tersebut. Ke depan, diharapkan Pemkab PPU tidak hanya berhenti pada keringanan biaya, tetapi juga terus mengembangkan program-program inovatif lainnya, seperti peningkatan kualitas guru, fasilitas belajar mengajar, serta kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri dan era digital. Sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan masyarakat sipil akan menjadi penentu keberhasilan jangka panjang dari setiap inisiatif pendidikan. Keberlanjutan program ini dan evaluasi berkala akan memastikan dampak positif yang maksimal bagi seluruh masyarakat PPU.
Pendidikan
Fenomena Miris: Banyak SDN Sepi Peminat, Masa Depan Pendidikan Dasar Terancam?
Pemandangan miris tengah menghantui dunia pendidikan dasar di Tanah Air. Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) dikabarkan hanya mampu menjaring lima hingga nol murid baru dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius akan masa depan institusi pendidikan yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa, sekaligus memicu pertanyaan besar: Apakah ini pertanda penurunan jumlah anak-anak usia sekolah, ataukah kualitas SDN yang semakin tertinggal sehingga kalah bersaing dengan sekolah swasta?
Anjloknya angka pendaftar ini bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan fenomena yang tersebar di berbagai daerah. Bahkan, beberapa orang tua dan pemerhati pendidikan sampai berujar, "Kayak les privat saja," merujuk pada minimnya jumlah siswa yang membuat suasana belajar tak ubahnya bimbingan belajar pribadi. Situasi ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat SDN seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dua Sisi Mata Uang: Demografi Versus Kualitas
Penurunan jumlah murid di SDN dapat dianalisis dari dua sudut pandang utama yang saling berkaitan: perubahan demografi dan persepsi kualitas pendidikan. Dari sisi demografi, data menunjukkan adanya tren penurunan angka kelahiran di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri secara berkala merilis angka Total Fertility Rate (TFR) yang cenderung menurun, menandakan bahwa pasangan usia produktif kini cenderung memiliki anak lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini secara langsung memengaruhi ketersediaan 'bahan baku' siswa untuk jenjang pendidikan dasar.
Namun, faktor demografi saja belum cukup menjelaskan sepenuhnya fenomena ini. Kualitas dan daya saing SDN juga menjadi sorotan tajam. Banyak orang tua kini semakin kritis dan selektif dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka. Mereka membandingkan fasilitas, kurikulum, metode pengajaran, hingga reputasi guru antara sekolah negeri dan swasta. Keluhan tentang kurangnya inovasi dalam pembelajaran, fasilitas yang terbatas, serta beban kurikulum yang kadang terasa monoton, seringkali menjadi alasan kuat bagi orang tua untuk mencari alternatif.
Migrasi Orang Tua ke Sekolah Swasta: Mengapa Demikian?
Kecenderungan orang tua memilih sekolah swasta bukan tanpa alasan. Berbagai sekolah swasta, khususnya di perkotaan, menawarkan beragam keunggulan yang sulit ditandingi oleh mayoritas SDN. Fasilitas yang lebih modern, seperti laboratorium komputer, perpustakaan digital, hingga sarana olahraga yang lengkap, seringkali menjadi daya tarik utama. Kurikulum yang lebih inovatif, program bilingual, serta beragam pilihan ekstrakurikuler yang mengembangkan minat dan bakat siswa secara holistik, juga menjadi pertimbangan penting.
Selain itu, ukuran kelas yang lebih kecil di sekolah swasta seringkali dianggap menjamin perhatian guru yang lebih personal kepada setiap siswa. Reputasi sekolah swasta yang kerap kali diidentifikasi dengan kualitas pengajaran yang tinggi dan lingkungan belajar yang kondusif juga turut mendorong keputusan orang tua. Investasi pendidikan kini dipandang sebagai prioritas utama, terutama bagi keluarga kelas menengah yang terus bertumbuh. Mereka rela mengeluarkan biaya lebih demi pendidikan yang dianggap lebih baik.
- Fasilitas yang lebih modern dan lengkap
- Kurikulum yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman
- Ukuran kelas yang lebih kecil, memungkinkan perhatian personal guru
- Reputasi dan akreditasi yang unggul
- Program ekstrakurikuler yang beragam dan mendukung pengembangan minat siswa
Dampak Jangka Panjang dan Tantangan bagi Pemerintah
Fenomena sepinya peminat di SDN membawa dampak jangka panjang yang serius bagi ekosistem pendidikan nasional. Jika dibiarkan berlarut-larut, aset-aset negara berupa gedung sekolah dan fasilitas akan mubazir. Lebih jauh lagi, penutupan SDN yang kekurangan murid bisa mengurangi akses pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil atau padat penduduk miskin yang sangat bergantung pada keberadaan sekolah negeri. Ini tentu bertentangan dengan semangat pemerataan pendidikan yang selama ini diusung.
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, menghadapi tantangan besar untuk mengatasi masalah ini. Evaluasi komprehensif terhadap kurikulum, peningkatan kualitas guru, modernisasi fasilitas, serta inovasi dalam metode pembelajaran di SDN menjadi keniscayaan. Program-program seperti Asesmen Nasional dan Program Guru Penggerak adalah langkah awal yang patut diapresiasi, namun perlu dipercepat dan diperluas implementasinya. Artikel sebelumnya yang membahas pentingnya adaptasi kurikulum untuk masa depan menegaskan urgensi perubahan ini.
Masa depan pendidikan dasar di Indonesia bergantung pada bagaimana negara merespons fenomena ini. Bukan hanya soal menambah jumlah murid, tetapi lebih fundamental, bagaimana SDN dapat kembali menjadi pilihan utama orang tua karena kualitas dan relevansinya. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi jitu agar SDN tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing dan unggul di era yang terus berubah.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah5 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga5 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Pemerintah5 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
