Pendidikan
Mendiktisaintek Izinkan Kampus Dirikan Unit Gizi: Wadah Praktik Mahasiswa & Peningkatan Kualitas SDM
JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengumumkan kebijakan progresif yang memungkinkan perguruan tinggi untuk mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas penyedia makanan, tetapi juga berfungsi sebagai ‘teaching factory’ atau sarana praktik langsung yang vital bagi pengembangan kompetensi mahasiswa di berbagai bidang terkait.
Pernyataan Menteri Brian ini menandai langkah strategis pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya melalui jalur pendidikan tinggi. Dengan adanya SPPG, kampus memiliki kesempatan untuk mengintegrasikan teori dengan praktik nyata, sebuah jembatan penting yang kerap menjadi tantangan dalam sistem pendidikan. Kebijakan ini juga selaras dengan visi pemerintah untuk menciptakan lulusan yang siap kerja dan berdaya saing global.
Fasilitas SPPG ini akan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari Ilmu Gizi, Teknologi Pangan, Tata Boga, Kesehatan Masyarakat, hingga Manajemen Bisnis. Mereka dapat secara langsung terlibat dalam seluruh proses, mulai dari perencanaan menu bergizi, pengadaan bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga manajemen keuangan dan pemasaran. Ini akan memberikan pengalaman komprehensif yang tidak dapat diperoleh hanya dari ruang kelas.
Membangun Kompetensi Praktis dan Kreativitas Mahasiswa
Penerapan SPPG sebagai ‘teaching factory’ membawa sejumlah manfaat signifikan bagi pengembangan mahasiswa. Pengalaman langsung ini krusial untuk mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan industri. Beberapa poin penting dari manfaat ini meliputi:
- Pengalaman Langsung: Mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan teoritis tentang gizi, keamanan pangan, dan manajemen operasional dalam lingkungan nyata.
- Pengembangan Keterampilan Interpersonal: Melibatkan kerja tim, komunikasi dengan pemasok dan konsumen, serta penyelesaian masalah di lapangan.
- Stimulasi Kreativitas dan Inovasi: Mendorong mahasiswa untuk mengembangkan menu sehat dan inovatif, teknik pengolahan pangan yang efisien, serta strategi pemasaran yang efektif.
- Kesiapan Industri: Mempersiapkan lulusan dengan pengalaman kerja yang relevan, meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja setelah lulus.
- Jejaring Industri: Berpotensi membuka peluang magang atau kerja sama dengan industri pangan dan katering.
- Pengembangan Jiwa Kewirausahaan: Memberikan platform untuk menguji ide bisnis di bidang kuliner dan layanan gizi, berpotensi menciptakan wirausaha baru.
Menteri Brian Yuliarto menekankan bahwa fasilitas ini diharapkan dapat menjadi pusat inovasi yang terus mengembangkan praktik terbaik dalam pemenuhan gizi, sekaligus menjadi contoh bagi lembaga lain.
Dampak Luas SPPG: Dari Kesehatan Kampus hingga Inovasi Nasional
Manfaat SPPG tidak hanya terbatas pada pengembangan kompetensi mahasiswa. Keberadaannya juga memiliki dampak yang lebih luas, baik bagi lingkungan kampus maupun kontribusi terhadap isu-isu gizi nasional. Diantaranya adalah:
- Peningkatan Kesehatan Civitas Akademika: SPPG dapat menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi seluruh warga kampus, termasuk mahasiswa, dosen, dan staf, yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan produktivitas.
- Penelitian dan Pengembangan: Menjadi basis data dan lokasi penelitian ilmiah mengenai pola makan, preferensi gizi, dan efektivitas intervensi gizi, yang dapat memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
- Dukungan Program Gizi Nasional: Secara tidak langsung, inisiatif ini mendukung program pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi, seperti stunting atau obesitas, dengan mempromosikan pola makan sehat sejak dini.
- Pemberdayaan Komunitas Lokal: SPPG dapat menjalin kerja sama dengan petani lokal atau UMKM untuk pengadaan bahan baku, sehingga turut memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar.
- Pusat Edukasi Gizi: Kampus bisa memanfaatkan SPPG sebagai sarana edukasi dan penyuluhan gizi bagi masyarakat umum, meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan gizi seimbang.
Ini adalah langkah maju dalam mewujudkan kampus sebagai pusat ekosistem yang holistik, tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Tantangan dan Harapan Implementasi
Meski prospeknya cerah, implementasi SPPG sebagai ‘teaching factory’ juga akan menghadapi sejumlah tantangan. Perguruan tinggi perlu memastikan ketersediaan dana investasi awal, sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola fasilitas, standar kualitas yang ketat, serta keberlanjutan operasional. Menteri Brian berharap, sinergi antara pihak universitas, pemerintah, dan sektor swasta dapat mengatasi tantangan ini.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi diharapkan akan mengeluarkan pedoman yang jelas mengenai pendirian dan operasionalisasi SPPG ini, termasuk standar kebersihan, keamanan pangan, dan kurikulum yang terintegrasi. Dengan demikian, setiap SPPG dapat berjalan secara efektif dan memberikan kontribusi maksimal.
Kebijakan ini merupakan refleksi dari komitmen pemerintah untuk terus berinovasi dalam sektor pendidikan tinggi, memastikan bahwa lulusan Indonesia tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dan berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program gizi dan kesehatan masyarakat, Anda bisa mengunjungi situs resmi Kementerian Kesehatan di sini.
Pendidikan
Ombudsman Kaltim Kawal Ketat PPDB, Pastikan Penerimaan Siswa Transparan
Ombudsman Kaltim Kawal Ketat PPDB, Pastikan Penerimaan Siswa Transparan
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah tegas untuk memastikan transparansi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di wilayahnya. Melalui pembukaan posko pengaduan khusus, ORI Kaltim berkomitmen mengawal setiap tahapan PPDB guna mengantisipasi potensi kecurangan dan praktik maladministrasi yang merugikan masyarakat serta kualitas pendidikan.
Mengapa Pengawasan PPDB Penting?
Setiap tahun, proses PPDB kerap diwarnai berbagai tantangan, mulai dari dugaan titipan, manipulasi data, hingga pungutan liar yang memberatkan orang tua siswa. Praktik-praktik tidak transparan ini tidak hanya mencederai prinsip keadilan, tetapi juga menghambat akses pendidikan yang setara bagi semua anak. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa tanpa pengawasan ketat, celah untuk terjadinya pelanggaran semakin terbuka lebar. Kondisi ini mendasari keputusan ORI Kaltim untuk tidak hanya memantau, tetapi juga secara proaktif membuka jalur bagi masyarakat untuk melaporkan indikasi penyimpangan.
Mekanisme Posko Pengaduan Ombudsman
Posko pengaduan yang diinisiasi oleh ORI Kaltim ini menjadi kanal resmi bagi masyarakat untuk menyalurkan keluhan atau laporan terkait kejanggalan selama proses PPDB. Masyarakat bisa melaporkan berbagai bentuk dugaan maladministrasi, seperti:
- Pungutan tidak resmi atau pungutan liar (pungli)
- Diskriminasi dalam penerimaan siswa
- Prosedur yang tidak sesuai standar operasional
- Penundaan berlarut tanpa alasan jelas
- Pelayanan yang tidak patut dari panitia PPDB
- Indikasi penyalahgunaan wewenang
ORI Kaltim menegaskan bahwa setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti dengan serius dan rahasia pelapor akan dijaga. Masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui berbagai kanal, termasuk datang langsung ke kantor ORI Kaltim, telepon, atau email resmi. Tim ORI Kaltim siap melakukan verifikasi lapangan dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan sekolah, untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul.
Peran Ombudsman dalam Tata Kelola Pendidikan
Inisiatif ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh Ombudsman dalam mengawal tata kelola pemerintahan. Sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia, lembaga ini memiliki mandat kuat untuk mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, termasuk di sektor pendidikan. Melalui fungsi pengawasan ini, Ombudsman berupaya mendorong terciptanya good governance dan clean government, di mana pelayanan publik harus bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Aktivitas pengawasan serupa pernah menjadi sorotan dalam laporan kami sebelumnya mengenai pentingnya integritas dalam seleksi aparatur sipil negara, yang menekankan bahwa transparansi adalah kunci utama kepercayaan publik. Pendekatan yang sama kini diterapkan dalam konteks PPDB, mengingat krusialnya sektor pendidikan bagi masa depan bangsa. Informasi lebih lanjut mengenai peran Ombudsman RI bisa diakses melalui situs resmi mereka. Ombudsman RI
Ajakan Partisipasi Masyarakat
Keberhasilan pengawasan PPDB sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. ORI Kaltim mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua dan calon siswa, untuk tidak ragu melaporkan jika menemukan indikasi pelanggaran. Laporan yang valid dan didukung bukti akan menjadi dasar kuat bagi Ombudsman untuk melakukan intervensi dan perbaikan. Dengan bersama-sama mengawal proses ini, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang adil, merata, dan berkualitas bagi generasi penerus di Kalimantan Timur.
Melalui posko pengaduan ini, Ombudsman Kaltim menunjukkan komitmennya dalam menjaga integritas dan akuntabilitas sektor pendidikan. Diharapkan, langkah proaktif ini tidak hanya mencegah kecurangan, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya transparansi dalam setiap aspek pelayanan publik, terutama yang menyangkut hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan.
Pendidikan
Universitas Texas Hapus Patung Cesar Chavez di Kampus Austin Akibat Isu Pelecehan
Universitas Texas Hapus Patung Cesar Chavez di Kampus Setelah Isu Pelecehan Mencuat
Sebuah keputusan yang menarik perhatian publik telah diambil oleh Universitas Texas di Austin, yang secara resmi menghapus patung pemimpin buruh ikonik, Cesar Chavez, dari area kampus. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap gelombang tuduhan pelecehan yang baru-baru ini muncul dan menodai citra sang aktivis. Universitas bergabung dalam daftar panjang institusi pendidikan dan pemerintah kota di seluruh Amerika Serikat yang melakukan re-evaluasi serta penghapusan monumen dan gambar tokoh-tokoh sejarah yang kini diselimuti kontroversi.
Penghapusan patung ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan cerminan dari perdebatan yang lebih besar di masyarakat mengenai bagaimana institusi seharusnya memperlakukan dan merepresentasikan tokoh-tokoh publik yang warisannya kini terpecah belah. Bagi banyak pihak, Cesar Chavez adalah pahlawan tanpa tanda jasa, seorang pelopor dalam perjuangan hak-hak buruh dan kesetaraan bagi pekerja migran. Namun, tuduhan pelecehan yang mencuat, terutama yang datang dari mantan rekan kerja dan anggota keluarganya sendiri, memaksa universitas untuk meninjau kembali keputusan menempatkan patung dirinya di lokasi yang menonjol di kampus.
Latar Belakang Keputusan Universitas dan Kontroversi
Keputusan Universitas Texas untuk menghapus patung Chavez tidak datang tiba-tiba. Diskusi internal telah berlangsung selama beberapa waktu, terutama setelah laporan-laporan mengenai tuduhan pelecehan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh Chavez mulai tersebar luas di media dan forum publik. Tuduhan-tuduhan ini mengklaim bahwa Chavez, di balik citranya sebagai pemimpin karismatik, memiliki sisi gelap yang melibatkan intimidasi, kontrol berlebihan, dan bahkan praktik yang dianggap kultus di dalam organisasi United Farm Workers (UFW) yang ia dirikan.
Patung Cesar Chavez telah berdiri tegak di kampus Austin sebagai simbol penghormatan terhadap dedikasinya pada gerakan hak-hak sipil dan perjuangan untuk keadilan sosial. Namun, dengan munculnya bukti-bukti baru dan kesaksian yang kredibel, tekanan untuk mengambil tindakan menjadi tidak terhindarkan. Pihak universitas menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah pertimbangan mendalam terhadap nilai-nilai yang ingin mereka junjung, termasuk keamanan, rasa hormat, dan integritas bagi seluruh komunitas kampus. Mereka menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman, yang berarti meninjau kembali representasi publik yang mungkin bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.
Gugatan dan Warisan yang Terpecah Belah
Berbagai gugatan dan kesaksian yang muncul beberapa tahun terakhir secara signifikan mengubah persepsi publik terhadap Cesar Chavez. Tuduhan tersebut mencakup:
- Pelecehan Fisik dan Mental: Klaim dari beberapa mantan anggota UFW yang mengatakan mereka mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental di bawah kepemimpinan Chavez.
- Praktik Kontroversial: Penggunaan praktik-praktik yang dipertanyakan, seperti ‘kurungan’ atau ‘pengucilan’ bagi anggota yang tidak sejalan, yang beberapa pihak sebut sebagai taktik manipulatif.
- Kekerasan dalam Rumah Tangga: Beberapa laporan juga mengindikasikan adanya kekerasan dalam lingkup pribadi Chavez, meskipun ini lebih sulit dibuktikan secara publik.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Cesar Chavez tetap merupakan figur sentral dalam sejarah Amerika Serikat. Gerakan yang dipimpinnya berhasil membawa perubahan signifikan bagi pekerja pertanian, meningkatkan upah, memperbaiki kondisi kerja, dan menginspirasi jutaan orang untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Warisan ini menjadi titik perdebatan: apakah kontribusi positifnya dapat mengesampingkan tuduhan negatif, ataukah sejarah harus ditulis ulang dengan mempertimbangkan seluruh aspek kepribadian dan tindakan seseorang? (Baca lebih lanjut mengenai tuduhan spesifik terhadap Cesar Chavez dalam laporan investigasi Los Angeles Times ini).
Tren Nasional dan Implikasinya
Keputusan Universitas Texas ini tidak berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari tren yang lebih luas di seluruh Amerika Serikat, di mana kota-kota dan institusi pendidikan secara aktif meninjau ulang monumen dan patung yang menggambarkan tokoh-tokoh yang kini dianggap kontroversial. Dari patung pemimpin Konfederasi hingga figur-figur yang terkait dengan praktik perbudakan atau pelecehan, masyarakat Amerika Serikat sedang dalam proses re-evaluasi kolektif terhadap sejarahnya. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sebuah bangsa harus merayakan warisannya tanpa mengabaikan aspek-aspek kelam dari individu-individu yang membentuknya. Perdebatan ini telah memicu diskusi intensif tentang ‘cancel culture’, keadilan restoratif, dan cara terbaik untuk merekonsiliasi masa lalu yang kompleks dengan nilai-nilai kontemporer. Fenomena ini, yang sering kali disebut sebagai ‘war on statues’, bukan hanya tentang patung itu sendiri, tetapi tentang identitas, ingatan kolektif, dan siapa yang memiliki kuasa untuk menceritakan sejarah.
Penghapusan patung Chavez di Universitas Texas secara jelas menunjukkan bahwa institusi-institusi pendidikan, sebagai benteng pengetahuan dan nilai-nilai, merasa memiliki tanggung jawab untuk merefleksikan perubahan pandangan sosial. Ini juga mengirimkan pesan kuat bahwa tuduhan pelecehan tidak dapat diabaikan, bahkan jika pelakunya adalah seorang pahlawan nasional. Ke depan, ini kemungkinan akan mendorong universitas dan lembaga publik lainnya untuk melakukan audit serupa terhadap semua monumen dan nama bangunan yang ada, memastikan bahwa representasi di ruang publik sejalan dengan prinsip-prinsip etika dan moral yang dipegang teguh oleh masyarakat modern.
Pendidikan
Nasib Enam Beradik Tak Sekolah di Kajang Berubah, Banjir Bantuan Jamin Masa Depan
Kisah Enam Beradik Tak Sekolah di Kajang Berubah, Gelombang Bantuan Menjanjikan Masa Depan
Kisah pilu enam beradik yang terpaksa menghentikan pendidikan formal mereka, seperti yang dilaporkan oleh Harian Metro pada Isnin lalu, kini telah mengambil giliran yang menggembirakan. Nasib keluarga ini, yang sebelumnya diselimuti awan kelabu ketidakpastian pendidikan, kini diterangi oleh gelombang perhatian dan bantuan dari berbagai pihak. Respons cepat dan proaktif dari masyarakat serta lembaga menunjukkan kepedulian kolektif untuk memastikan masa depan anak-anak ini tidak lagi terpinggirkan dari hak dasar mereka: pendidikan.
Pemberitaan awal yang mengungkap realitas pahit bahwa anak-anak tersebut tidak lagi bersekolah telah menyentuh hati banyak individu dan organisasi. Kisah ini menjadi katalisator bagi gerakan solidaritas yang bertujuan untuk mengangkat kembali enam beradik ini ke bangku sekolah, memberikan mereka kesempatan yang setara seperti anak-anak lain. Upaya ini bukan hanya sekadar memberikan bantuan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang untuk membimbing mereka menuju kehidupan yang lebih baik melalui akses pendidikan yang berkelanjutan.
Gelombang Perhatian dan Solidaritas Masyarakat
Begitu berita tentang enam beradik ini tersebar luas, berbagai lapisan masyarakat, dari individu perseorangan hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan agensi kerajaan, segera tampil menghulurkan tangan. Respons yang cepat ini mencerminkan betapa isu pendidikan anak-anak, terutama mereka yang kurang beruntung, masih menjadi perhatian utama di negara ini. Donasi mengalir dalam bentuk finansial, material, hingga penawaran bimbingan dan dukungan moral. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat “Malaysia Madani” atau nilai-nilai kepedulian sosial masih kental di tengah masyarakat.
Bantuan yang telah dan sedang disalurkan meliputi berbagai aspek krusial untuk memastikan anak-anak ini dapat kembali ke jalur pendidikan dengan nyaman dan percaya diri. Beberapa bentuk bantuan utama tersebut antara lain:
- Bantuan kewangan untuk menampung yuran sekolah, pembelian seragam, dan keperluan persekolahan lain.
- Penyediaan alat tulis, buku teks, dan perangkat belajar-mengajar yang esensial.
- Dukungan dari lembaga swadaya masyarakat untuk memfasilitasi proses pendaftaran sekolah dan pendampingan pasca-kembali ke sekolah.
- Perhatian dan intervensi dari pihak berkuasa pendidikan dan kebajikan untuk memastikan keberlanjutan bantuan dan pemantauan kondisi keluarga.
Jaminan Masa Depan yang Lebih Baik
Kembalinya enam beradik ini ke sekolah bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah gerbang menuju masa depan yang lebih cerah. Pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka peluang baru. Dengan akses terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan, mereka kini memiliki harapan untuk mengembangkan potensi diri dan berkontribusi positif bagi masyarakat di kemudian hari. Kisah ini juga menjadi pengingat penting akan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan, sebuah hak yang harus dijamin oleh semua pihak, baik keluarga, komunitas, maupun pemerintah.
Keberhasilan kasus ini dalam menarik perhatian dan mendapatkan bantuan masif juga dapat menjadi model inspirasi. Ini menunjukkan bahwa melalui kekuatan kolektif, kita dapat mengatasi tantangan kesenjangan pendidikan yang masih ada di berbagai pelosok negara. Artikel Harian Metro yang pertama kali mengangkat kisah ini berperan vital sebagai media penyampai informasi yang menggerakkan hati nurani publik, membuktikan peran krusial jurnalisme investigatif dalam membawa perubahan sosial yang positif.
Tantangan dan Harapan Berkelanjutan
Meskipun kasus enam beradik ini telah menemukan ‘sinar harapan’, tantangan yang lebih besar tetap menanti. Masih banyak anak-anak lain di Malaysia yang mungkin menghadapi situasi serupa, terpinggir dari bangku sekolah karena berbagai alasan, mulai dari kemiskinan ekstrem, masalah keluarga, hingga kurangnya akses di daerah pedalaman. Oleh karena itu, kisah ini harus menjadi pemicu untuk meninjau kembali kebijakan dan program yang ada, serta memperkuat jejaring bantuan sosial.
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat, memiliki peran sentral dalam mengidentifikasi dan menangani kasus-kasus serupa secara proaktif. Kolaborasi yang erat dengan LSM, sektor swasta, dan masyarakat lokal adalah kunci untuk menciptakan sistem pendukung yang komprehensif. Pemantauan berkelanjutan terhadap enam beradik ini, serta pembinaan bagi keluarga mereka, juga penting untuk memastikan bahwa mereka tidak lagi jatuh ke dalam situasi yang sama di masa depan. Kita berharap, kisah ini bukan hanya berakhir sebagai berita inspiratif, melainkan menjadi tonggak awal bagi upaya sistematis untuk memastikan tidak ada lagi anak yang terpaksa putus sekolah di negara ini.
Untuk informasi lebih lanjut tentang inisiatif pendidikan anak di Malaysia, Anda dapat mengunjungi laman rasmi Kementerian Pendidikan Malaysia atau portal berita yang fokus pada isu sosial seperti MalaysiaKini yang sering meliput isu-isu serupa.
-
Daerah2 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah3 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah3 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Olahraga3 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Pemerintah3 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Hukum & Kriminal3 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
