Pendidikan
Prestasi Gemilang SMAN 3 Merauke: Juara LCC Empat Pilar MPR RI, Siap Wakili Papua Selatan di Kancah Nasional
SMAN 3 Merauke Wakili Papua Selatan di LCC Empat Pilar MPR Tingkat Nasional
Tim cerdas cermat dari SMA Negeri 3 Merauke berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar juara pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Papua Selatan. Kemenangan ini secara otomatis mengukuhkan mereka sebagai wakil resmi provinsi termuda di Indonesia tersebut untuk berkompetisi di kancah nasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari dedikasi dan persiapan matang yang telah mereka jalani selama kurang lebih dua bulan terakhir, menunjukkan komitmen tinggi terhadap pemahaman nilai-nilai kebangsaan.
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI merupakan ajang bergengsi yang bertujuan untuk menanamkan dan membumikan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda. Partisipasi dan kemenangan SMAN 3 Merauke ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebangsaan tetap menyala di kalangan pelajar, bahkan di daerah perbatasan timur Indonesia.
Keberhasilan Gemilang dan Proses Persiapan Intensif
Perjalanan SMAN 3 Merauke menuju podium juara bukanlah hal yang mudah. Mereka harus bersaing ketat dengan perwakilan sekolah-sekolah terbaik dari berbagai kabupaten di Papua Selatan. Namun, dengan semangat juang yang tinggi dan bimbingan guru-guru yang berdedikasi, tim SMAN 3 Merauke mampu menunjukkan performa terbaiknya.
Proses persiapan selama dua bulan menjadi kunci utama kesuksesan ini. Para siswa dan guru pembimbing menghabiskan waktu berjam-jam untuk:
- Mempelajari secara mendalam materi Empat Pilar MPR RI, meliputi sejarah, filosofi, dan implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Melakukan simulasi lomba secara rutin, mengasah kecepatan berpikir, ketepatan jawaban, dan strategi kompetisi.
- Membangun kerja sama tim yang solid dan saling mendukung, sebuah aspek krusial dalam lomba cerdas cermat.
- Mengikuti pelatihan tambahan untuk meningkatkan kemampuan retorika dan presentasi, yang seringkali menjadi bagian dari penilaian.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi SMAN 3 Merauke, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Papua Selatan. Ini menunjukkan potensi besar sumber daya manusia di wilayah tersebut, yang mampu bersaing dan berprestasi di tingkat regional maupun nasional.
Mengenal Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI
LCC Empat Pilar MPR RI adalah program rutin Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) yang diselenggarakan setiap tahun. Tujuannya sangat fundamental, yaitu untuk:
- Menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.
- Memperkuat pemahaman terhadap UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara.
- Meneguhkan komitmen terhadap NKRI sebagai bentuk negara yang final.
- Menginternalisasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sosial.
Kompetisi ini menjadi sarana efektif untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan berwawasan luas. Keterlibatan aktif sekolah-sekolah dari seluruh penjuru negeri, termasuk dari daerah-daerah terpencil dan perbatasan, menunjukkan komitmen nasional dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur bangsa.
Ajang serupa telah melahirkan banyak talenta muda yang kemudian menjadi agen perubahan di lingkungannya. Berita-berita terkait program sosialisasi Empat Pilar MPR RI seringkali menyoroti bagaimana kompetisi ini menjadi platform penting bagi siswa untuk tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berinteraksi dan belajar dari teman-teman dari daerah lain, memperkaya perspektif kebangsaan mereka.
Menatap Panggung Nasional: Harapan dan Tantangan
Sebagai wakil Papua Selatan, SMAN 3 Merauke kini mengemban harapan besar untuk mengharumkan nama provinsi di tingkat nasional. Kompetisi di Jakarta nanti tentu akan jauh lebih sengit, mempertemukan juara-juara provinsi dari seluruh Indonesia. Namun, semangat dan mental juara yang telah terbentuk diharapkan mampu menjadi modal utama.
Beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi tim antara lain:
- Persaingan dengan tim-tim dari provinsi lain yang memiliki persiapan tak kalah matang dan mungkin dengan pengalaman yang lebih banyak.
- Tekanan mental untuk tampil maksimal di panggung nasional.
- Adaptasi dengan lingkungan dan format lomba yang mungkin sedikit berbeda di tingkat nasional.
Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat diharapkan terus memberikan dukungan penuh, baik moril maupun materiel, agar tim SMAN 3 Merauke dapat mempersiapkan diri secara optimal. Ini termasuk fasilitasi pelatihan lanjutan, dukungan psikologis, serta memastikan kebutuhan logistik selama di Jakarta terpenuhi. Keberhasilan di tingkat nasional tidak hanya akan mengangkat nama SMAN 3 Merauke dan Papua Selatan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berprestasi dan menginternalisasi nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.
Dengan persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, SMAN 3 Merauke optimis mampu memberikan penampilan terbaik dan membawa pulang kebanggaan bagi Papua Selatan dari ajang LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional.
Pendidikan
Polemik Teknologi: Kota New York Larang Penggunaan AI untuk Siswa SD hingga SMP
Polemik Teknologi: Kota New York Resmi Larang Penggunaan AI untuk Siswa SD hingga SMP
Langkah signifikan diambil dalam ranah pendidikan, di mana otoritas Kota New York mengumumkan larangan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi siswa sekolah umum dari taman kanak-kanak (TK) hingga kelas delapan. Keputusan ini, yang dikonfirmasi oleh sumber yang dekat dengan permasalahan tersebut kepada Agence France-Presse (AFP) pada Rabu, menyusul laporan media Amerika Serikat dan menimbulkan gelombang perdebatan mengenai peran AI dalam lingkungan belajar.
Kebijakan ini secara efektif melarang siswa setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk memanfaatkan alat AI generatif seperti ChatGPT dalam tugas-tugas akademik. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran yang berkembang di kalangan pendidik dan pembuat kebijakan tentang potensi dampak AI terhadap integritas akademik, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan kesetaraan akses terhadap teknologi.
Mengapa Larangan Ini Diberlakukan?
Munculnya alat AI generatif seperti ChatGPT dari OpenAI telah merevolusi cara informasi diproses dan dihasilkan. Meskipun potensi manfaatnya besar, dalam konteks pendidikan, teknologi ini juga menimbulkan serangkaian tantangan dan kekhawatiran mendalam:
- Integritas Akademik: Kekhawatiran utama adalah penggunaan AI untuk menyontek atau menghasilkan esai, laporan, dan tugas lainnya tanpa upaya orisinal dari siswa. Hal ini berpotensi merusak proses belajar dan evaluasi yang jujur.
- Pengembangan Keterampilan Esensial: Proses menulis, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan meneliti adalah fondasi pendidikan. Ada ketakutan bahwa ketergantungan pada AI dapat menghambat pengembangan keterampilan-keterampilan penting ini pada usia formatif.
- Kesenjangan Digital dan Akses: Meskipun teknologi AI semakin mudah diakses, masih ada kesenjangan dalam kemampuan siswa untuk mengakses dan menggunakan alat-alat ini secara efektif, yang berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan.
- Kualitas dan Akurasi Informasi: Alat AI, meskipun canggih, terkadang dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau bias, yang dapat menyesatkan siswa jika tidak ada pengawasan yang memadai.
Langkah Kota New York ini bisa dilihat sebagai upaya proaktif untuk melindungi fondasi pendidikan tradisional sambil menunggu kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk integrasi AI yang bertanggung jawab.
Polemik dan Implikasi Lebih Luas
Keputusan melarang AI di sekolah dasar dan menengah di New York tidak terlepas dari pro dan kontra. Di satu sisi, para pendukung larangan berpendapat bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk mempertahankan standar akademik dan memastikan siswa mengembangkan keterampilan dasar yang kuat sebelum terpapar alat canggih. Mereka khawatir AI akan menjadi jalan pintas yang menghambat kreativitas dan pemikiran mandiri.
Di sisi lain, kritikus berpendapat bahwa melarang AI justru menghambat siswa untuk belajar beradaptasi dengan teknologi yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan mereka. Mereka percaya bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan literasi AI, mengajari mereka cara menggunakan alat ini secara etis dan efektif, bukan sekadar melarangnya. Ada argumen kuat bahwa AI, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat bantu belajar yang ampuh, membantu personalisasi pembelajaran dan meningkatkan efisiensi.
Di kancah global, respon terhadap AI di pendidikan bervariasi. Beberapa distrik sekolah di AS dan negara lain juga telah menerapkan larangan serupa, sementara yang lain memilih pendekatan yang lebih terintegrasi, mengembangkan pedoman penggunaan AI yang etis dan produktif. Organisasi seperti UNESCO bahkan telah mengeluarkan panduan untuk AI generatif dalam pendidikan dan penelitian, menekankan pentingnya pengembangan keterampilan dan kerangka kerja etis.
Tantangan Penerapan dan Masa Depan AI di Pendidikan
Menerapkan larangan AI di lingkungan sekolah bukanlah tugas yang mudah. Tantangan-tantangan besar meliputi:
- Deteksi: Mengidentifikasi konten yang dihasilkan AI bisa sangat sulit, terutama dengan kemajuan pesat dalam teknologi. Alat pendeteksi AI seringkali tidak sempurna dan dapat menghasilkan positif palsu atau negatif palsu.
- Pendidikan dan Penegakan: Diperlukan edukasi yang jelas bagi siswa, guru, dan orang tua tentang aturan dan alasan di balik larangan tersebut. Penegakan yang konsisten dan adil akan menjadi kunci.
- Akses di Luar Sekolah: Siswa masih dapat mengakses dan menggunakan AI di rumah atau di perangkat pribadi mereka, membuat larangan sekolah menjadi kurang efektif di luar lingkungan kelas.
Keputusan Kota New York ini kemungkinan besar hanya merupakan babak awal dalam dialog yang lebih luas tentang masa depan pendidikan di era kecerdasan buatan. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi AI, lembaga pendidikan di seluruh dunia akan terus bergulat dengan pertanyaan fundamental: Bagaimana kita dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk meningkatkan pembelajaran sambil secara bersamaan menjaga nilai-nilai inti pendidikan? Masa depan mungkin terletak pada pengembangan kurikulum yang mengajarkan siswa tidak hanya apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana belajar dan bagaimana berinteraksi secara bertanggung jawab dengan teknologi canggih.
Pendidikan
Museum Komunitas Baru Abadikan Warisan Eddie Conway dan Black Panthers untuk Sejarah Akurat
Pengantar: Era Baru Narasi Sejarah Komunitas
Sebuah museum komunitas inovatif telah resmi dibuka, didedikasikan untuk menghormati warisan mendalam dari aktivis Eddie Conway dan perjuangan Black Panthers. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi tempat perayaan dan ingatan, tetapi juga platform krusial untuk menyajikan narasi sejarah yang akurat mengenai perlawanan dan pembebasan, khususnya bagi komunitas kulit hitam, pribumi, dan Latino. Pendirian museum ini menandai langkah penting dalam upaya mereklamasi dan mendefinisikan ulang sejarah dari perspektif yang sering terpinggirkan.
Dominique Conway, salah satu tokoh di balik proyek ini, menekankan urgensi dari kebutuhan akan institusi semacam itu. “Kita membutuhkan arsip rakyat kita sendiri. Kita membutuhkan ruang kita sendiri di mana kita tidak hanya merayakan dan mengingat, tetapi kita menceritakan sejarah yang akurat tentang perlawanan, tentang pembebasan kulit hitam secara khusus, tetapi tidak terbatas pada itu, pengalaman masyarakat adat, pengalaman masyarakat Latino,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi misi inti museum: menjadi penjaga kebenaran sejarah yang komprehensif dan inklusif.
Misi di Balik Arsip Rakyat: Meluruskan Sejarah yang Terlupakan
Ide “arsip rakyat” bukan sekadar konsep, melainkan filosofi yang mendasari keberadaan museum ini. Ini adalah pengakuan bahwa sejarah yang dominan sering kali ditulis oleh para pemenang, meninggalkan banyak kisah perlawanan dan keberanian dari kelompok marginal. Museum ini berupaya mengisi kekosongan tersebut, menawarkan pandangan otentik yang diperoleh dari sumber primer dan perspektif komunitas langsung. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses ke narasi yang jujur dan multifaset.
Beberapa poin penting dari misi arsip rakyat ini meliputi:
- Penyajian Sejarah Akurat: Menghadirkan fakta dan konteks yang sering diabaikan atau disalahartikan dalam narasi arus utama.
- Pemberdayaan Komunitas: Memberikan ruang bagi komunitas untuk memiliki dan mengontrol kisah mereka sendiri.
- Inklusivitas Narasi: Meluaskan cakupan sejarah tidak hanya pada pembebasan kulit hitam, tetapi juga pengalaman masyarakat adat dan Latino, mengakui interkoneksi perjuangan mereka.
- Pendidikan dan Refleksi: Menjadi pusat pembelajaran yang mendorong dialog kritis dan refleksi mendalam tentang keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Warisan Black Panthers dan Relevansinya Kini
Black Panther Party, didirikan pada tahun 1966 oleh Huey P. Newton dan Bobby Seale, adalah organisasi yang kompleks dan sering disalahpahami. Mereka dikenal karena program-program layanan komunitasnya, seperti sarapan gratis untuk anak-anak, klinik kesehatan, dan patroli warga untuk melawan kebrutalan polisi. Namun, citra mereka juga sering diasosiasikan dengan retorika revolusioner dan konflik bersenjata. Eddie Conway sendiri adalah seorang mantan anggota Black Panthers yang menghabiskan puluhan tahun di penjara atas tuduhan yang banyak dipertanyakan, sebelum akhirnya dibebaskan.
Pengabdian museum ini untuk menghormati warisan Conway dan Black Panthers sangat relevan di tengah perdebatan kontemporer mengenai ras, keadilan, dan sistem kepolisian. Ini adalah pengingat bahwa perjuangan untuk hak-hak sipil dan kesetaraan adalah proses yang berkelanjutan, dan bahwa pemahaman yang akurat tentang masa lalu sangat penting untuk membentuk masa depan yang lebih adil. (Baca juga: Pentingnya Arsip Komunitas dalam Mendokumentasikan Sejarah Marginal)
Membangun Jembatan Antar Perjuangan
Salah satu aspek paling signifikan dari visi museum ini adalah ambisinya untuk menyertakan pengalaman masyarakat adat dan Latino. Ini menegaskan bahwa perjuangan untuk pembebasan bukanlah fenomena yang terisolasi, melainkan jaringan perlawanan yang saling terkait terhadap penindasan dan ketidakadilan sistemik. Dengan menyatukan kisah-kisah ini, museum tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang sejarah, tetapi juga membangun jembatan solidaritas antar komunitas yang berbeda.
Inisiatif ini datang pada saat yang krusial, di mana banyak pihak menyerukan dekolonisasi kurikulum sejarah dan pengakuan yang lebih besar terhadap kontribusi serta penderitaan kelompok minoritas. Museum ini berfungsi sebagai model bagaimana institusi budaya dapat secara aktif berpartisipasi dalam proses penyembuhan sosial dan keadilan historis, mengubah narasi dari yang didominasi menjadi yang inklusif dan otentik. Melalui pameran, program pendidikan, dan arsip digital, museum ini diharapkan dapat menjadi sumber daya yang tak ternilai bagi para sarjana, aktivis, dan masyarakat umum yang mencari pemahaman lebih dalam tentang sejarah perlawanan di Amerika dan seluruh dunia.
Pendidikan
Debsirin Nonthaburi Siapkan Dukungan Psikologis Jangka Panjang Pasca Insiden Penembakan
Debsirin Nonthaburi Siapkan Dukungan Psikologis Jangka Panjang Pasca Insiden Penembakan
Sekolah Debsirin Nonthaburi mengambil langkah proaktif yang signifikan dengan menyiapkan dukungan psikologis komprehensif bagi seluruh komunitas sekolahnya. Inisiatif ini digulirkan menyusul insiden penembakan tragis yang terjadi pada 7 Agustus lalu, yang menyisakan trauma mendalam. Pihak sekolah berkomitmen untuk menyediakan bantuan pemulihan selama satu tahun penuh setelah kembali menggelar kegiatan belajar-mengajar tatap muka pada Selasa pekan ini.
Keputusan sekolah untuk memperpanjang durasi dukungan psikologis hingga satu tahun mencerminkan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas pemulihan trauma. Tragedi kekerasan semacam ini tidak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga dampak emosional dan psikologis yang seringkali membutuhkan waktu lama untuk pulih. Lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi zona aman bagi tumbuh kembang anak, kini harus menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan rasa aman dan ketenangan di antara siswa, guru, dan staf.
Latar Belakang Insiden Tragis dan Dampaknya
Insiden penembakan pada 7 Agustus mengguncang seluruh komunitas pendidikan, khususnya di lingkungan Debsirin Nonthaburi. Meskipun detail spesifik kejadian tersebut telah menjadi perhatian publik dan penegak hukum pada waktu itu, fokus kini beralih kepada upaya pemulihan pasca-tragedi. Berbagai laporan awal menggambarkan kepanikan dan ketakutan yang melanda saat kejadian, meninggalkan jejak kekhawatiran yang mendalam.
Dampak psikologis dari kejadian semacam ini sangat beragam. Siswa dapat mengalami:
- Kecemasan berlebihan: Terutama saat kembali ke lingkungan sekolah atau mendengar suara keras.
- Gangguan tidur: Mimpi buruk atau kesulitan tidur.
- Perubahan perilaku: Menjadi lebih menarik diri, agresif, atau menunjukkan regresi.
- Kesulitan konsentrasi: Memengaruhi kemampuan belajar dan partisipasi di kelas.
- Gejala stres pasca-trauma (PTSD): Meskipun ini membutuhkan diagnosis profesional, gejala awal bisa muncul.
Tidak hanya siswa, para guru dan staf juga merasakan tekanan psikologis berat. Mereka tidak hanya harus mengelola emosi pribadi, tetapi juga bertanggung jawab memastikan keamanan dan kesejahteraan anak didik, yang menambah beban mental mereka.
Rencana Dukungan Psikologis Komprehensif
Debsirin Nonthaburi telah merancang sebuah program dukungan yang berlapis untuk menangani berbagai tingkat trauma dan kebutuhan. Rencana ini mencakup:
- Konseling Individu dan Kelompok: Penyediaan konselor terlatih yang siap memberikan sesi konseling secara pribadi atau dalam kelompok kecil. Ini memungkinkan siswa dan staf untuk memproses emosi mereka dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
- Pelatihan Guru dan Staf: Guru diberikan pelatihan khusus untuk mengidentifikasi tanda-tanda trauma pada siswa dan cara meresponsnya dengan empati dan tepat. Mereka juga dibekali strategi untuk menciptakan ruang kelas yang lebih kondusif dan suportif.
- Aktivitas Terapi dan Relaksasi: Menyelenggarakan kegiatan seperti terapi seni, terapi bermain, atau sesi mindfulness untuk membantu siswa mengekspresikan diri dan mengurangi stres.
- Kerja Sama dengan Ahli Eksternal: Melibatkan psikolog atau lembaga kesehatan mental profesional dari luar untuk kasus-kasus yang memerlukan intervensi lebih lanjut atau keahlian spesifik.
- Edukasi Orang Tua: Menyediakan informasi dan panduan bagi orang tua mengenai cara mendukung anak mereka di rumah, mengakui pentingnya pendekatan holistik antara sekolah dan keluarga.
Pendekatan jangka panjang selama setahun penuh ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam memastikan pemulihan yang berkelanjutan, bukan hanya respons singkat pasca-insiden.
Pentingnya Pemulihan Jangka Panjang
Pemulihan dari trauma, terutama pada anak-anak dan remaja, bukanlah proses instan. Studi menunjukkan bahwa efek trauma dapat muncul berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kejadian. Oleh karena itu, dukungan jangka panjang yang terstruktur sangat krusial. Program ini tidak hanya berupaya mengatasi gejala yang muncul, tetapi juga membangun resiliensi atau ketahanan mental pada individu.
Dengan adanya program ini, Debsirin Nonthaburi berharap dapat menciptakan kembali lingkungan belajar yang positif dan aman, tempat siswa merasa didukung untuk kembali fokus pada pendidikan mereka. Inisiatif seperti ini juga berfungsi sebagai model bagi institusi pendidikan lain dalam menghadapi krisis serupa, menyoroti pentingnya prioritas kesehatan mental sebagai bagian integral dari keselamatan dan kesejahteraan siswa.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun komitmen sekolah patut diapresiasi, implementasi program dukungan psikologis jangka panjang tentu tidak tanpa tantangan. Sumber daya, ketersediaan tenaga ahli, serta stigma terkait kesehatan mental bisa menjadi hambatan. Namun demikian, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, membuka jalan bagi dukungan yang lebih luas dari masyarakat dan pemerintah.
Melalui program ini, Debsirin Nonthaburi tidak hanya berupaya menyembuhkan luka akibat tragedi, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk kesejahteraan psikologis seluruh komunitasnya. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam mengakui bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang menciptakan individu yang sehat secara mental dan emosional.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
