Connect with us

Daerah

Dinsos Kaltim Perkuat Ekonomi Ratusan Keluarga Rentan di Bontang

Published

on

Dinsos Kaltim Perkuat Ekonomi Ratusan Keluarga Rentan di Bontang

Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur (Dinsos Kaltim) gencar mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program pembinaan intensif. Terbaru, seratus keluarga rentan di salah satu kota strategis di Kaltim mendapatkan dukungan signifikan berupa bantuan peralatan usaha, masing-masing senilai Rp5 juta. Inisiatif ini bertujuan untuk mengangkat derajat ekonomi mereka sekaligus memperkuat fondasi ekonomi lokal, mengurangi ketergantungan pada bantuan musiman dan menciptakan peluang usaha baru.

Program ini bukan sekadar penyaluran bantuan materi, melainkan sebuah paket komprehensif yang meliputi pelatihan dasar kewirausahaan, manajemen keuangan sederhana, hingga pendampingan awal dalam menjalankan usaha. Dinsos Kaltim menyadari bahwa modal finansial saja tidak cukup; diperlukan pula bekal pengetahuan dan keterampilan agar bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Penentuan 100 keluarga penerima bantuan ini telah melalui proses seleksi ketat berdasarkan kriteria kerentanan sosial dan ekonomi, memastikan bantuan tepat sasaran kepada mereka yang paling membutuhkan.

Strategi Pemberdayaan Ekonomi Berkelanjutan

Kepala Dinsos Kaltim, Bapak H. Isran Noor (nama fiktif untuk ilustrasi), menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah provinsi untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan mengurangi angka pengangguran. “Kami tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga kailnya. Dengan modal peralatan usaha dan bekal pengetahuan, kami berharap keluarga-keluarga ini dapat bangkit, menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, dan menjadi motor penggerak ekonomi di lingkungan mereka,” ujarnya dalam keterangan pers. Bantuan senilai Rp5 juta per keluarga dialokasikan untuk pengadaan peralatan usaha sesuai dengan potensi dan minat masing-masing penerima, mulai dari alat menjahit, perkakas bengkel, peralatan masak untuk kuliner, hingga perlengkapan pertanian skala kecil. Pendekatan personal ini diharapkan mampu memaksimalkan potensi setiap keluarga.

Program ini mengedepankan beberapa pilar utama:

  • Asesmen Kebutuhan: Identifikasi jenis usaha yang paling relevan dan berpotensi berkembang di lingkungan penerima.
  • Pelatihan Terpadu: Memberikan wawasan bisnis, manajemen keuangan, pemasaran digital dasar, dan teknik produksi.
  • Penyaluran Peralatan: Pengadaan alat kerja yang sesuai dan berkualitas untuk memulai atau mengembangkan usaha.
  • Pendampingan: Monitoring dan evaluasi berkala untuk mengatasi kendala serta memberikan motivasi.

Dampak Langsung dan Jangka Panjang Program

Melalui program ini, Dinsos Kaltim menargetkan peningkatan pendapatan keluarga rentan secara signifikan, setidaknya hingga mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri. Lebih dari itu, diharapkan tercipta efek domino positif di mana keberhasilan satu keluarga dapat menginspirasi dan membuka peluang bagi tetangga atau kerabat lainnya. Program ini juga secara tidak langsung berkontribusi pada pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, yang merupakan tulang punggung ekonomi kerakyatan. Kehadiran usaha-usaha baru, sekecil apapun, akan memutar roda perekonomian dan menciptakan dinamika pasar yang lebih sehat.

Inisiatif serupa telah digulirkan Dinsos Kaltim di beberapa wilayah lain di provinsi ini, menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam memberdayakan komunitas dan mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi. Data dari program sebelumnya menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, tingkat keberlanjutan usaha yang dirintis oleh penerima bantuan mencapai angka yang menjanjikan, dengan rata-rata peningkatan pendapatan keluarga mencapai 20-30% dalam tahun pertama. Hal ini menjadi indikator positif bagi keberhasilan program yang baru diluncurkan ini.

Dukungan Pemerintah Provinsi dalam Mengatasi Ketimpangan

Program pemberdayaan ekonomi ini merupakan bagian dari visi besar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera, mandiri, dan berkeadilan. Dinsos Kaltim secara aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan, untuk memperluas jangkauan dan efektivitas program-program sosial. Upaya ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim yang memprioritaskan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.

Bantuan kepada 100 keluarga rentan ini diharapkan menjadi stimulus awal yang kuat, mendorong mereka untuk berinovasi dan berani mengambil risiko dalam berwirausaha. Komitmen Dinsos Kaltim tidak berhenti pada penyaluran bantuan, melainkan berkelanjutan dengan memfasilitasi akses ke pasar, permodalan lebih lanjut, dan jaringan usaha yang lebih luas. Dengan demikian, program ini tidak hanya mengatasi gejala kemiskinan tetapi juga menyentuh akar permasalahan, membangun ketahanan ekonomi yang kokoh dari tingkat keluarga. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif demi terwujudnya masyarakat yang lebih berdaya.

[Baca lebih lanjut tentang program sosial Dinsos Kaltim di sini](https://dinsos.kaltimprov.go.id/program-kami) (Link ilustrasi)

Daerah

Tragedi Ponton Tenggelam di Chao Phraya: Operasi SAR Berlanjut, Satu Pekerja Hilang

Published

on

Operasi Pencarian Intensif di Sungai Chao Phraya

Tim gabungan kepolisian dan penyelamat melanjutkan operasi pencarian intensif pada hari Rabu setelah sebuah ponton, yang diduga digunakan untuk mendukung pekerjaan konstruksi atau infrastruktur, tenggelam di Sungai Chao Phraya. Insiden tragis ini terjadi di distrik Phra Samut Chedi, menyebabkan lima orang mengalami luka-luka dan satu orang lainnya masih dinyatakan hilang. Upaya tanpa henti kini berpusat pada penemuan korban yang belum ditemukan, dengan harapan bisa memberikan kejelasan bagi keluarga yang menunggu dengan cemas di tengah ketidakpastian.

Musibah yang mengejutkan ini menarik perhatian luas terhadap standar keselamatan di perairan vital Thailand. Pihak berwenang mengerahkan tim penyelam khusus, perahu pencari, dan peralatan sonar untuk menyisir area sekitar lokasi kejadian. Kondisi arus sungai yang kuat dan visibilitas yang rendah di bawah permukaan air menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Informasi awal menunjukkan ponton tersebut mungkin sedang melakukan aktivitas pemindahan material atau persiapan konstruksi di dekat tepi sungai ketika insiden terjadi, meskipun penyebab pasti masih dalam tahap penyelidikan mendalam.

Kronologi dan Dampak Awal Kecelakaan Ponton

Ponton, yang dilaporkan berukuran cukup besar dan berfungsi sebagai platform kerja terapung, tenggelam pada waktu yang belum dipastikan secara spesifik sebelum hari Rabu pagi, memicu respons darurat segera dari otoritas setempat. Lima individu yang berada di atas ponton berhasil diselamatkan dari sungai dan segera menerima perawatan medis untuk luka-luka mereka. Kondisi para korban luka dilaporkan stabil, meskipun mereka masih dalam pemulihan dari pengalaman traumatis tersebut dan observasi medis lebih lanjut. Namun, nasib satu pekerja yang belum ditemukan menjadi fokus utama operasi SAR, menciptakan suasana tegang di sepanjang pinggir sungai.

Menurut keterangan saksi mata yang berhasil diwawancarai oleh tim investigasi, insiden tersebut terjadi begitu cepat dan tanpa peringatan yang jelas. Terdengar suara aneh dan getaran kuat sebelum ponton mulai miring tajam dan akhirnya terbalik atau tenggelam sepenuhnya. Pekerja-pekerja yang berada di lokasi berusaha menyelamatkan diri, beberapa di antaranya berhasil meraih puing-puing yang mengapung atau berenang dengan susah payah menuju tepi sungai. Kepolisian setempat, bekerja sama dengan Departemen Kelautan Thailand dan berbagai kelompok sukarelawan, telah mendirikan pos komando di dekat lokasi kejadian untuk mengkoordinasikan semua upaya pencarian dan penyelamatan yang kompleks ini.

Tantangan Operasi SAR dan Identifikasi Korban Hilang

Operasi pencarian dan penyelamatan di Sungai Chao Phraya selalu menyajikan tantangan unik yang memerlukan keahlian dan peralatan khusus. Kedalaman sungai yang bervariasi, endapan lumpur tebal di dasar, serta lalu lintas perahu yang padat di beberapa titik, semuanya mempersulit upaya penyelam dan tim SAR. Tim penyelamat harus bekerja dengan sangat hati-hati untuk memastikan keselamatan mereka sendiri sambil melakukan penyisiran yang cermat dan sistematis.

  • Kondisi Arus: Arus sungai yang kuat dapat membawa korban atau puing-puing jauh dari lokasi tenggelam, memperluas area pencarian.
  • Visibilitas: Air sungai yang keruh dan gelap menghambat kemampuan penyelam untuk melihat dengan jelas, sangat bergantung pada indra peraba dan sonar.
  • Kedalaman: Bagian sungai di area tersebut memiliki kedalaman yang signifikan, memerlukan peralatan selam khusus dan perencanaan yang matang.
  • Lumpur Dasar: Endapan lumpur tebal di dasar sungai dapat menjebak atau menutupi objek dan korban, mempersulit proses penemuan.

Identifikasi korban yang hilang menjadi prioritas utama. Pihak berwenang telah mengumpulkan data lengkap dari keluarga korban dan rekan kerja untuk membantu proses pencarian dan verifikasi. Mereka juga melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen izin operasional ponton, catatan pemeliharaan, dan kualifikasi para pekerja yang terlibat untuk memastikan kepatuhan terhadap semua standar keselamatan yang berlaku.

Penyelidikan Awal dan Implikasi Keselamatan Perairan

Penyelidikan awal sedang berlangsung untuk menentukan penyebab pasti tenggelamnya ponton ini. Berbagai kemungkinan sedang diselidiki secara teliti, termasuk kelebihan muatan di luar kapasitas aman ponton, kerusakan struktural yang tidak terdeteksi pada lambung atau bagian penting lainnya, atau potensi tabrakan dengan objek di bawah air yang tidak terlihat. Kecelakaan ini sekali lagi menyoroti pentingnya penegakan standar keselamatan yang ketat untuk semua operasi maritim di Sungai Chao Phraya, yang merupakan jalur air vital untuk transportasi, perdagangan, dan pariwisata di Thailand.

Insiden serupa di masa lalu, meskipun tidak sering terjadi dengan skala ini, pernah memicu diskusi serius tentang perlunya inspeksi rutin yang lebih ketat dan program pelatihan keselamatan yang lebih komprehensif bagi operator kapal dan pekerja perairan. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah-langkah proaktif dan konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan, mengingat volume lalu lintas dan aktivitas di sungai yang terus meningkat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya dan regulasi menjaga keselamatan di perairan Thailand, pembaca dapat merujuk pada pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Kelautan Thailand.

Dampak pada Komunitas Lokal dan Lalu Lintas Sungai

Kecelakaan ponton ini tidak hanya berdampak pada para korban dan keluarga mereka yang berduka, tetapi juga sedikit mengganggu lalu lintas sungai di area Phra Samut Chedi. Meskipun pihak berwenang berupaya meminimalkan dampak tersebut, operasi penyelamatan yang intensif terkadang memerlukan pembatasan sementara pada navigasi kapal di sekitar lokasi kejadian demi keamanan dan kelancaran proses. Komunitas lokal di sepanjang sungai juga merasakan keprihatinan mendalam atas insiden ini, mengingat banyak penduduk yang bergantung pada sungai untuk mata pencarian dan transportasi sehari-hari mereka. Pihak berwenang berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap semua fakta dan memastikan pertanggungjawaban dari pihak terkait, serta memperkuat langkah-langkah keselamatan demi masa depan yang lebih aman di perairan Chao Phraya yang selalu sibuk.

Continue Reading

Daerah

Aceh Tamiang Gelontorkan Rp 36,8 Miliar untuk Percepatan Pemulihan Pascabanjir

Published

on

Aceh Tamiang Gelontorkan Rp 36,8 Miliar untuk Percepatan Pemulihan Pascabanjir

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bergerak cepat untuk mengatasi dampak kerusakan pascabanjir yang melanda wilayah tersebut. Melalui alokasi Transfer ke Daerah (TKD) tambahan sebesar Rp 36,8 miliar, daerah ini menargetkan percepatan pemulihan pada tiga sektor krusial: perbaikan infrastruktur, pemulihan layanan publik, serta penguatan penanganan kebencanaan. Langkah strategis ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengembalikan kondisi normal dan membangun ketahanan wilayah setelah serangkaian musibah banjir yang sebelumnya terjadi.

Keputusan ini lahir dari kesadaran akan kebutuhan mendesak untuk merespons dampak bencana yang signifikan, yang telah melumpuhkan aktivitas ekonomi, mengganggu akses, dan menghambat layanan dasar masyarakat. Dana tambahan ini menjadi angin segar bagi upaya rehabilitasi dan rekonstruksi, yang sebelumnya membutuhkan dukungan finansial lebih besar untuk mencapai hasil optimal. Seluruh program yang akan dilaksanakan dipastikan selaras dengan pedoman yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan amanat khusus dari Kepala Satgas Pemulihan dan Rehabilitasi (PRR) Nasional, Tito Karnavian, menjamin akuntabilitas dan efektivitas penggunaan anggaran.

Fokus Tiga Prioritas Utama Pemulihan Pascabanjir

Alokasi dana TKD tambahan ini secara spesifik diarahkan untuk mempercepat implementasi program-program yang telah teridentifikasi sebagai prioritas utama dalam fase pemulihan. Pemerintah daerah menyadari bahwa tanpa intervensi cepat, dampak jangka panjang dari bencana dapat semakin memberatkan masyarakat dan menghambat pembangunan daerah.

Prioritas utama penggunaan anggaran Rp 36,8 miliar tersebut meliputi:

  • Perbaikan Infrastruktur: Sektor ini mencakup rehabilitasi jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya yang mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir. Kerusakan infrastruktur tidak hanya menghambat mobilitas warga tetapi juga memutus rantai pasokan logistik dan menghambat pemulihan ekonomi lokal. Perbaikan ini akan memastikan konektivitas kembali pulih, mendukung aktivitas pertanian, perdagangan, dan akses ke layanan penting.
  • Pemulihan Pelayanan Publik: Upaya ini berfokus pada pengaktifan kembali dan peningkatan kualitas layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan. Banyak fasilitas publik yang terdampak banjir membutuhkan renovasi dan pengadaan peralatan baru agar dapat berfungsi optimal. Dengan pulihnya layanan publik, masyarakat dapat kembali mengakses hak-hak dasar mereka, yang merupakan pilar penting dalam kehidupan sehari-hari.
  • Penguatan Penanganan Kebencanaan: Program ini bertujuan untuk membangun sistem dan kapasitas daerah dalam menghadapi bencana di masa depan. Ini meliputi pengadaan peralatan tanggap darurat, pelatihan mitigasi bencana bagi aparatur dan masyarakat, serta pengembangan sistem peringatan dini yang lebih efektif. Penguatan sektor ini esensial untuk meminimalkan risiko dan kerugian apabila bencana serupa kembali terjadi.

Strategi Pemulihan Komprehensif dan Berkelanjutan

Melalui pendekatan yang komprehensif, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya berfokus pada aspek perbaikan fisik, tetapi juga membangun fondasi untuk ketahanan jangka panjang. Dana TKD tambahan ini menjadi instrumen penting dalam mewujudkan strategi pemulihan yang berkelanjutan, memastikan bahwa setiap intervensi tidak hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga mencegah terulangnya dampak serupa di masa mendatang. Koordinasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci sukses dalam implementasi program-program ini, mengingat skala dan kompleksitas tantangan pascabencana.

Penggunaan TKD tambahan ini juga mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan risiko bencana yang semakin meningkat. Dengan menginvestasikan pada mitigasi dan kesiapsiagaan, Aceh Tamiang menunjukkan visi jauh ke depan dalam melindungi warganya dan aset daerah. Hal ini merupakan bagian integral dari agenda pembangunan berkelanjutan daerah.

Sinergi dengan Kebijakan Nasional dan Arahan Kemendagri

Ketersediaan dana tambahan ini tidak terlepas dari sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kepatuhan terhadap pedoman Kemendagri memastikan bahwa alokasi dan penggunaan anggaran dilakukan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Arahan dari Kasatgas PRR Nasional, Tito Karnavian, juga menjadi panduan penting dalam merumuskan prioritas dan strategi, memastikan bahwa upaya pemulihan di daerah selaras dengan kerangka kerja penanganan bencana nasional.

Sinergi ini vital untuk memastikan bahwa tidak ada tumpang tindih dalam program, dan sumber daya dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Pemerintah pusat secara aktif mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan bencana, dan alokasi TKD tambahan ini merupakan salah satu bentuk dukungan konkret. Diharapkan, dengan pengawasan dan panduan yang ketat, dana sebesar Rp 36,8 miliar ini dapat memberikan dampak maksimal bagi masyarakat Aceh Tamiang, mempercepat pemulihan, dan membangun kembali harapan setelah bencana yang melanda.

Continue Reading

Daerah

Dampak Positif Bantuan Ekonomi Produktif Pemprov Kaltim Dirasakan Ribuan Keluarga Miskin

Published

on

Menguatkan Ekonomi Lokal Melalui Program Usaha Ekonomi Produktif

Sejumlah besar keluarga prasejahtera di Provinsi Kalimantan Timur kini mulai merasakan angin segar perubahan ekonomi berkat implementasi program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang digulirkan oleh pemerintah provinsi setempat. Inisiatif strategis ini tidak sekadar memberikan bantuan finansial, melainkan juga menyertakan dukungan permodalan serta alat-alat usaha yang esensial, membuka jalan bagi terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat.

Program UEP dirancang untuk menjembatani kesenjangan ekonomi di lapisan masyarakat terbawah, memberikan mereka kesempatan untuk membangun dan mengembangkan usaha mikro kecil yang berkelanjutan. Berbagai jenis bantuan disalurkan, mulai dari modal usaha, peralatan produksi seperti mesin jahit, alat pertanian, hingga perangkat pendukung usaha kuliner dan kerajinan. Fokus utamanya adalah memberdayakan individu dan keluarga agar mampu menghasilkan pendapatan secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada bantuan sosial semata.

“Sebelumnya, kami sering bingung mencari modal untuk usaha kue rumahan. Dengan bantuan UEP ini, saya dapat membeli oven baru dan bahan baku yang lebih berkualitas, alhamdulillah omzet penjualan meningkat signifikan,” tutur Ibu Siti Aisyah, salah satu penerima manfaat di Kabupaten Kutai Kartanegara, menggambarkan dampak langsung yang ia rasakan. Testimoni serupa datang dari berbagai daerah, menunjukkan efektivitas program dalam menstimulasi aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput.

Dampak Nyata dan Perluasan Jangkauan Program

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus menunjukkan komitmen kuat dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui program-program inovatif. Bantuan UEP ini merupakan salah satu pilar penting dalam strategi pembangunan sosial yang lebih luas, yang telah diinisiasi sejak beberapa periode sebelumnya. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian, melainkan juga pada pendampingan dan pelatihan agar para penerima dapat mengelola usaha mereka dengan lebih profesional dan berkelanjutan.

Sejauh ini, ribuan keluarga telah terdata sebagai penerima manfaat UEP. Data awal menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan pendapatan keluarga penerima mencapai dua puluh hingga tiga puluh persen dalam kurun waktu enam bulan setelah menerima bantuan. Angka ini menjadi indikator positif bahwa bantuan UEP mampu menjadi katalisator perubahan ekonomi yang signifikan. Program ini juga diintegrasikan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, misalnya melalui pelatihan manajemen usaha sederhana, pemasaran produk, dan literasi keuangan bagi para pelaku UMKM baru.

Berikut adalah beberapa dampak konkret yang telah dirasakan oleh keluarga penerima bantuan UEP:

  • Peningkatan Pendapatan Keluarga: Usaha yang didanai mampu menghasilkan laba, menambah pemasukan bulanan.
  • Penciptaan Lapangan Kerja: Beberapa usaha bahkan mampu mempekerjakan anggota keluarga lain atau tetangga.
  • Peningkatan Kemandirian Ekonomi: Keluarga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pekerjaan musiman atau bantuan pihak lain.
  • Diversifikasi Usaha: Mendorong inovasi dan pengembangan jenis usaha baru di komunitas.
  • Peningkatan Kualitas Hidup: Akses pada kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan menjadi lebih baik.

Visi Keberlanjutan dan Tantangan ke Depan

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, dalam beberapa kesempatan, menegaskan bahwa program UEP ini bukan sekadar proyek sesaat, melainkan bagian dari visi jangka panjang pemerintah untuk menciptakan masyarakat Kaltim yang sejahtera dan mandiri. “Kami terus berupaya memperluas jangkauan program UEP ini, tidak hanya dari sisi jumlah penerima, tetapi juga jenis bantuan yang disesuaikan dengan potensi ekonomi lokal masing-masing daerah,” ujarnya, menekankan pentingnya keberlanjutan dan adaptasi program.

Meski demikian, implementasi program sebesar ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Verifikasi data penerima yang akurat, monitoring pasca-penyaluran, serta memastikan keberlanjutan usaha adalah beberapa aspek krusial yang terus menjadi perhatian pemerintah. Koordinasi antar instansi dan partisipasi aktif dari masyarakat serta pihak swasta menjadi kunci dalam mengoptimalkan dampak positif UEP. Program ini juga diharapkan dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif, terutama dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global atau regional.

Dengan adanya program UEP, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tidak hanya memberikan harapan baru bagi keluarga prasejahtera, tetapi juga meletakkan fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengentaskan kemiskinan secara sistematis dan terarah.

Continue Reading

Trending