Pemerintah
Bea Cukai Thailand Perketat Pengawasan Impor Limbah Elektronik Ilegal Melalui Kontainer Logam Bekas
THEOPINIONNEWS – Departemen Bea Cukai Thailand secara signifikan meningkatkan upaya penegakan hukumnya terhadap impor limbah elektronik (e-waste) ilegal. Kini, setiap kontainer yang dideklarasikan sebagai logam bekas akan menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh. Langkah tegas ini diambil untuk mengatasi dampak serius pencemaran lingkungan dan ancaman terhadap mata pencarian masyarakat lokal, khususnya di provinsi-provinsi bagian timur negara tersebut. Kebijakan baru ini menandai peningkatan signifikan dalam respons pemerintah terhadap perdagangan ilegal yang terus-menerus merugikan.
Selama bertahun-tahun, Thailand telah menjadi salah satu tujuan utama bagi limbah elektronik dari berbagai belahan dunia. Praktik ilegal ini seringkali menyamarkan e-waste sebagai barang daur ulang yang sah, seperti potongan logam atau sisa besi, untuk menghindari pengawasan ketat. Namun, di balik deklarasi dokumen yang terlihat tidak berbahaya, kerap tersimpan komponen elektronik berbahaya yang mengandung timbal, merkuri, kadmium, dan bahan kimia toksik lainnya. Bahan-bahan ini menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Ancaman Limbah Elektronik Ilegal bagi Thailand
Dampak lingkungan dari pembuangan dan pemrosesan e-waste yang tidak tepat sangat merusak. Tanah dan air terkontaminasi oleh logam berat dan bahan kimia berbahaya, udara tercemar oleh pembakaran ilegal, dan ekosistem lokal terganggu secara fundamental. Masyarakat yang tinggal di dekat lokasi pembuangan atau fasilitas daur ulang ilegal menghadapi risiko kesehatan serius, termasuk gangguan pernapasan, masalah neurologis, cacat lahir, dan peningkatan risiko kanker. Ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan masyarakat yang mendalam.
Selain dampak lingkungan dan kesehatan, masuknya e-waste ilegal juga merusak perekonomian lokal. Industri daur ulang yang sah, yang berinvestasi dalam teknologi bersih dan mematuhi standar lingkungan serta keselamatan kerja, harus bersaing dengan praktik ilegal yang jauh lebih murah karena tidak menanggung biaya kepatuhan. Kompetisi yang tidak adil ini mengancam keberlanjutan bisnis legal dan menggerus mata pencarian ribuan pekerja daur ulang formal yang mematuhi peraturan pemerintah.
Strategi Penegakan Hukum yang Diperketat
Dalam strategi terbarunya, Bea Cukai Thailand tidak lagi hanya mengandalkan deklarasi dokumen dari importir. Setiap kontainer yang menyatakan berisi logam bekas kini wajib melewati inspeksi fisik yang ketat dan menyeluruh di pelabuhan masuk. Prosedur ini melibatkan pembongkaran sebagian atau seluruh isi kontainer untuk memastikan tidak ada barang ilegal yang diselundupkan di dalamnya. Inspeksi fisik ini dirancang untuk mendeteksi penyamaran e-waste yang cerdik di antara tumpukan logam bekas yang sah.
Peningkatan pengawasan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah Thailand untuk memenuhi standar lingkungan internasional dan melindungi warga negaranya dari dampak perdagangan ilegal. Upaya ini juga merupakan kelanjutan dan eskalasi dari berbagai inisiatif pemerintah sebelumnya, menunjukkan determinasi yang lebih besar setelah pengalaman pahit pencemaran di provinsi-provinsi timur. Sebelumnya, upaya penegakan hukum mungkin terkendala oleh kurangnya sumber daya atau celah dalam regulasi, namun kini fokusnya adalah pada pencegahan yang lebih proaktif dan ketat di titik masuk.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya global untuk mengatasi masalah e-waste lintas batas. Banyak negara berjuang untuk mengendalikan ekspor limbah berbahaya, dan negara-negara importir seperti Thailand, kini berjuang untuk melindungi perbatasan mereka. Sanksi berat menanti para pelanggar, termasuk penyitaan barang, denda substansial, dan tuntutan pidana, yang diharapkan dapat memberikan efek jera yang kuat.
Dampak Jangka Panjang dan Perlunya Kolaborasi Global
Pemeriksaan ketat yang dilakukan Departemen Bea Cukai Thailand diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah e-waste secara instan, tetapi juga membentuk preseden penting bagi perdagangan internasional yang lebih bertanggung jawab. Kebijakan ini akan mengirimkan pesan kuat kepada para pelaku kejahatan lingkungan bahwa Thailand bukan lagi tempat yang aman untuk membuang limbah mereka. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang negara untuk mengatasi krisis lingkungan yang kompleks ini.
Keberhasilan jangka panjang dari inisiatif ini sangat bergantung pada keberlanjutan dan konsistensi penegakan hukum, serta peningkatan kesadaran di kalangan importir dan eksportir mengenai dampak buruk e-waste. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga internasional, seperti Interpol dan organisasi lingkungan global, serta negara-negara asal limbah juga krusial untuk melacak dan menghentikan jaringan perdagangan e-waste ilegal di hulu. Pertukaran informasi dan intelijen sangat penting untuk membongkar sindikat transnasional.
Dengan mengatasi masalah e-waste secara proaktif dan komprehensif, Thailand tidak hanya melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakatnya, tetapi juga berkontribusi pada upaya global untuk menciptakan ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam perjuangan melawan pencemaran lingkungan yang terus-menerus mengancam planet ini dan masa depan generasi mendatang.
Pemerintah
PM Prancis Temui Serikat Pekerja di Tengah Kesiapan Protes Besar dan Keamanan Ketat
PM Prancis Ambil Langkah Antisipasi di Tengah Ketegangan Nasional
Perdana Menteri Prancis dijadwalkan bertemu dengan perwakilan serikat pekerja pada hari Rabu ini, dalam upaya mitigasi yang krusial di tengah meningkatnya ketegangan sosial. Pertemuan ini dilakukan menyusul gelombang kerusuhan yang melanda berbagai wilayah dalam seminggu terakhir, mendorong pemerintah untuk bersiap menghadapi potensi demonstrasi lebih lanjut dengan janji pengerahan personel polisi secara “masif”. Langkah ini menggarisbawahi urgensi bagi pemerintah untuk menyeimbangkan hak berunjuk rasa dengan kebutuhan menjaga ketertiban umum dan keamanan warganya.
Kerusuhan yang terjadi baru-baru ini telah menyebabkan penetapan jam malam di beberapa kota dan penangkapan ratusan individu, menyoroti kerapuhan situasi keamanan dan sosial di negara tersebut. Pengerahan pasukan keamanan yang luar biasa ini menunjukkan tekad pemerintah untuk tidak mentoleransi kekerasan atau vandalisme, namun sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai strategi jangka panjang dalam mengatasi akar permasalahan dari ketidakpuasan publik.
Konflik dan Konteks: Gelombang Kerusuhan yang Berulang
Prancis memiliki sejarah panjang protes dan demonstrasi, yang sering kali diwarnai oleh bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Gelombang kerusuhan terbaru, yang disebut sebagai respons terhadap insiden-insiden spesifik atau kebijakan pemerintah, bukan hanya sekadar ledakan sesaat. Ini adalah manifestasi dari ketidakpuasan yang lebih dalam, yang bisa melibatkan isu-isu sosial, ekonomi, atau bahkan persepsi tentang keadilan.
- Pemicu Kerusuhan: Meskipun detail spesifik pemicu kerusuhan terbaru tidak disebutkan, seringkali insiden yang melibatkan aparat keamanan atau keputusan politik kontroversial dapat dengan cepat memicu reaksi berantai di seluruh negeri.
- Skala Dampak: Penerapan jam malam dan penangkapan massal menunjukkan bahwa kerusuhan tersebut telah mencapai skala yang signifikan, mengganggu kehidupan sehari-hari dan menuntut respons tegas dari pihak berwenang.
- Tuntutan Publik: Serikat pekerja, yang akan bertemu dengan Perdana Menteri, seringkali menjadi corong bagi tuntutan masyarakat. Diskusi mereka dengan pemerintah bisa mencakup isu keamanan, kebebasan berekspresi, atau kondisi sosial yang memicu kemarahan publik.
Situasi ini menghadirkan tantangan ganda bagi Perdana Menteri: meredam gejolak saat ini sambil mencari solusi jangka panjang yang dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan. Kredibilitas pemerintah dalam menangani krisis ini akan menjadi ujian penting bagi stabilitas politik dan sosial Prancis.
Strategi Keamanan dan Dialog: Menjaga Keseimbangan
Pengumuman pengerahan polisi secara “masif” adalah indikasi jelas bahwa pemerintah memprioritaskan penegakan hukum dan pencegahan kekerasan. Ini adalah langkah proaktif yang bertujuan untuk mengirimkan pesan tegas kepada siapa pun yang berniat melakukan tindakan anarkis selama demonstrasi mendatang. Namun, strategi ini juga memiliki risiko.
- Pengerahan Polisi Besar-besaran: Meskipun dimaksudkan untuk menjamin keamanan, kehadiran aparat yang sangat banyak terkadang dapat meningkatkan ketegangan dan provokasi, berpotensi mengubah demonstrasi damai menjadi konfrontasi.
- Peran Dialog: Pertemuan dengan serikat pekerja menunjukkan adanya upaya untuk membuka jalur komunikasi. Ini adalah langkah krusial untuk mendengarkan keluhan, membangun kepercayaan, dan mencari titik temu sebelum situasi memburuk. Dialog semacam ini seringkali lebih efektif dalam jangka panjang daripada penegakan hukum semata.
- Pelajaran dari Masa Lalu: Pemerintah Prancis sebelumnya telah menghadapi berbagai gelombang protes besar, termasuk gerakan "Rompi Kuning" dan demonstrasi reformasi pensiun. Pengalaman dari masa lalu seharusnya memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kombinasi antara respons keamanan yang terukur dan inisiatif dialog yang tulus.
Pertemuan Perdana Menteri dengan serikat pekerja akan menjadi penentu penting arah penanganan krisis ini. Hasil dari dialog tersebut dapat meredakan ketegangan atau justru memperparah suasana, tergantung pada seberapa responsif dan akomodatif pemerintah terhadap tuntutan yang diajukan.
Implikasi Lebih Luas dan Tantangan ke Depan
Kondisi saat ini di Prancis bukan hanya masalah internal semata; stabilitas salah satu negara anggota Uni Eropa terbesar ini memiliki implikasi regional dan bahkan internasional. Bagaimana pemerintah menangani krisis ini akan diamati secara ketat oleh negara-negara tetangga dan mitra internasional.
Tantangan yang dihadapi Perdana Menteri adalah kompleks. Ia harus menemukan cara untuk menekan kekerasan dan menjaga ketertiban, sambil tetap menjamin kebebasan berekspresi dan hak berdemonstrasi yang fundamental dalam demokrasi. Kegagalan untuk menyeimbangkan hal ini dapat memperdalam perpecahan di masyarakat dan merusak citra Prancis di mata dunia. Pertemuan yang akan datang bukan hanya tentang keamanan, tetapi juga tentang kepercayaan, legitimasi, dan masa depan kohesi sosial di negara tersebut.
Situasi ini membutuhkan kepemimpinan yang bijaksana dan kemampuan untuk melihat melampaui respons taktis jangka pendek. Mencari solusi yang komprehensif, yang mengakui dan mengatasi akar penyebab ketidakpuasan publik, adalah satu-satunya jalan menuju stabilitas berkelanjutan. Pertemuan Perdana Menteri dengan serikat pekerja adalah langkah awal, namun perjalanan menuju rekonsiliasi sosial kemungkinan besar masih panjang dan berliku.
Pemerintah
Kemensos Integrasikan Bantuan Sosial dan Pemberdayaan Lewat Program Sekolah Rakyat
THEOPINIONNEWS – Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia mengumumkan inisiatif strategis untuk mengintegrasikan program bantuan sosial (bansos) dengan upaya pemberdayaan masyarakat melalui Sekolah Rakyat. Langkah ini menandai pergeseran fokus dari sekadar pemberian bantuan langsung menjadi pendekatan holistik yang bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi dan kualitas hidup penerima manfaat. Program yang digalakkan oleh Menteri Sosial ini menargetkan jangkauan signifikan, yakni 44.000 siswa di berbagai wilayah, dengan harapan menciptakan dampak berkelanjutan dalam peningkatan kesejahteraan.
Integrasi Bansos dan Pemberdayaan: Sebuah Strategi Baru
Inisiatif ini bukan sekadar distribusi bansos, melainkan sebuah desain program yang menggabungkan dukungan finansial dengan pembekalan keterampilan dan pengetahuan. Sekolah Rakyat, sebagai platform utama, akan menjadi wadah bagi para siswa dan wali mereka untuk mengakses pendidikan dasar, pelatihan vokasi, literasi keuangan, serta berbagai program pengembangan diri. Kementerian Sosial melihat bahwa pemberian bantuan tanpa disertai peningkatan kapasitas seringkali hanya menjadi solusi jangka pendek. Oleh karena itu, integrasi ini bertujuan memutus mata rantai ketergantungan dan mendorong penerima manfaat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Menteri Sosial menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dalam menjalankan program ini. “Kami tidak ingin bansos hanya berhenti pada pemberian. Kami ingin setiap rupiah bansos yang dikeluarkan menjadi investasi bagi masa depan yang lebih baik, terutama bagi generasi muda kita,” ujar Menteri Sosial. Pendekatan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mereformasi sistem jaminan sosial, bergerak dari pendekatan karitatif menjadi pembangunan kapasitas sumber daya manusia.
Meningkatkan Kemandirian dan Kualitas Hidup Keluarga
Target 44.000 siswa menunjukkan skala ambisius program ini. Para siswa yang menjadi fokus utama tidak hanya akan menerima dukungan pendidikan, tetapi keluarga mereka juga akan terlibat dalam sesi pemberdayaan. Ini bisa mencakup pelatihan kewirausahaan mikro, bimbingan pertanian berkelanjutan, atau keterampilan menjahit dan kerajinan tangan, disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing daerah. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan langsung untuk menciptakan sumber pendapatan baru atau meningkatkan pendapatan yang sudah ada.
Program Sekolah Rakyat ini juga diharapkan mampu meningkatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dengan memastikan mereka tetap bersekolah dan mendapatkan bekal yang cukup, Kemensos berupaya mencegah putus sekolah dan mempersiapkan generasi muda yang lebih kompeten untuk menghadapi tantangan masa depan. Ini merupakan langkah krusial dalam investasi jangka panjang terhadap pembangunan kualitas sumber daya manusia nasional.
Tantangan dan Harapan Implementasi Program
Meskipun memiliki tujuan mulia, implementasi program integrasi bansos dan pemberdayaan ini tidak lepas dari tantangan. Akurasi data penerima manfaat, kualitas modul pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, serta efektivitas monitoring dan evaluasi menjadi kunci keberhasilan. Kementerian Sosial perlu memastikan koordinasi yang kuat dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil untuk mencapai target yang ditetapkan. Informasi lebih lanjut mengenai program Kemensos dapat diakses melalui situs resmi.
Program ini juga menjadi refleksi dari diskusi panjang mengenai efektivitas jaring pengaman sosial di Indonesia. Berbagai artikel lama sering menyoroti dilema antara pemberian bantuan langsung yang instan dengan kebutuhan akan program pemberdayaan jangka panjang. Inisiatif Kemensos ini menawarkan sebuah solusi konkret yang menggabungkan keduanya, menjawab kritik dan harapan publik. Apabila berhasil, program ini berpotensi menjadi model nasional untuk skema bantuan sosial yang lebih transformatif dan berkelanjutan.
Dengan fokus pada peningkatan kapasitas individu dan keluarga, Kemensos berharap dapat mengurangi angka kemiskinan secara struktural, bukan hanya simtomatik. Investasi pada pendidikan dan keterampilan melalui Sekolah Rakyat adalah jembatan menuju kemandirian, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Kementerian Sosial juga membuka peluang bagi pihak swasta dan masyarakat untuk turut serta dalam mendukung keberlanjutan program ini.
Pemerintah
Analisis Golkar: Arah Pemerintahan Prabowo-Gibran Dinilai Tepat, Berfokus pada Rakyat
Analisis Golkar: Arah Pemerintahan Prabowo-Gibran Dinilai Tepat, Berfokus pada Rakyat
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, melontarkan pandangan optimistis terkait arah pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendatang. Sarmuji secara spesifik menyoroti apa yang ia sebut sebagai "pergeseran paradigma pembangunan" di bawah kepemimpinan baru, dengan menempatkan rakyat sebagai pusat segala upaya pembangunan. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi tinggi publik terhadap program kerja dan visi kabinet yang akan datang, sekaligus menegaskan posisi Golkar sebagai bagian integral dari koalisi pendukung.
Sebagai salah satu partai politik utama dalam koalisi pendukung, penilaian Golkar tentu bukan sekadar observasi netral, melainkan sebuah bentuk legitimasi dan dukungan politik. Klaim mengenai fokus pada rakyat ini menjadi narasi sentral yang hendak dibangun oleh Golkar untuk mengilustrasikan komitmen pemerintahan terpilih terhadap kesejahteraan masyarakat luas.
Pandangan Golkar tentang Arah Pembangunan
Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran akan bergerak dalam koridor yang tepat, terutama dalam hal pembangunan. Menurutnya, fokus utama bukan lagi sekadar pertumbuhan ekonomi makro, melainkan bagaimana pertumbuhan tersebut benar-benar berdampak positif dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Ini mengimplikasikan adanya penekanan kuat pada program-program yang bersifat inklusif dan merata.
Klaim pergeseran paradigma ini menggarisbawahi beberapa poin penting yang diyakini Golkar akan menjadi ciri khas pemerintahan mendatang:
- Prioritas Kesejahteraan Rakyat: Kebijakan pembangunan akan didesain untuk secara langsung mengatasi masalah kemiskinan, ketimpangan, dan akses terhadap layanan dasar.
- Pemerataan Pembangunan: Upaya tidak hanya terpusat di kota-kota besar atau wilayah tertentu, namun menjangkau seluruh pelosok negeri, termasuk daerah terpencil.
- Partisipasi Masyarakat: Rakyat tidak hanya sebagai objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif terlibat dalam perencanaan dan implementasi program.
- Kebijakan Pro-Rakyat: Fokus pada program-program seperti bantuan sosial, pendidikan gratis, dan layanan kesehatan yang terjangkau.
Sarmuji berharap, dengan paradigma baru ini, setiap program dan kebijakan pemerintah akan selalu berorientasi pada peningkatan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat, bukan hanya angka-angka statistik ekonomi semata. Penekanan ini sejalan dengan janji-janji kampanye yang mengedepankan program kerakyatan.
Fokus Baru atau Kontinuitas Kebijakan?
Pernyataan Sekjen Golkar tentang "pergeseran paradigma" memantik pertanyaan krusial: apakah ini benar-benar sebuah pendekatan yang revolusioner, ataukah lebih pada penekanan ulang dari arah kebijakan yang sudah ada? Hampir setiap pemerintahan di Indonesia, dari era Orde Baru hingga era Reformasi, selalu mendeklarasikan rakyat sebagai prioritas pembangunan. Namun, implementasi dan hasil di lapangan kerap menjadi tolok ukur utama.
Pemerintahan sebelumnya, di bawah Presiden Joko Widodo, juga telah menggalakkan pembangunan infrastruktur yang masif dengan argumentasi untuk pemerataan ekonomi dan peningkatan konektivitas demi kesejahteraan rakyat. Selain itu, program-program sosial seperti PKH dan BPJS Kesehatan juga menunjukkan komitmen pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, "pergeseran paradigma" yang disebut Sarmuji mungkin lebih tepat diartikan sebagai:
- Peningkatan Intensitas: Peningkatan skala dan cakupan program pro-rakyat yang sudah ada.
- Re-fokus Anggaran: Alokasi anggaran yang lebih besar dan prioritas yang lebih jelas untuk sektor-sektor yang langsung menyentuh kehidupan rakyat.
- Pendekatan Berbeda: Mungkin ada metodologi baru dalam mendekati masalah sosial dan ekonomi yang lebih partisipatif atau inovatif.
Kritisi kebijakan akan menanti bagaimana klaim ini diterjemahkan dalam bentuk kebijakan konkret, regulasi, dan alokasi anggaran yang transparan. Keberlanjutan dari program-program pembangunan infrastruktur yang telah berjalan dengan harmonisasi program sosial juga akan menjadi perhatian utama.
Tantangan dan Harapan Implementasi
Menggeser fokus pembangunan ke rakyat bukanlah tugas mudah. Tantangan besar akan dihadapi, mulai dari masalah pendanaan, birokrasi, hingga resistensi dari kepentingan tertentu. Implementasi janji-janji seperti program makan siang dan susu gratis, misalnya, membutuhkan anggaran besar dan sistem distribusi yang efisien serta akuntabel.
Publik berharap bahwa "pergeseran paradigma" ini akan membawa dampak nyata, bukan sekadar retorika politik. Keberhasilan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam dua tahun pertama kepemimpinan mereka akan sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu merealisasikan janji-janji kerakyatan tersebut dan menunjukkan hasil yang terukur. Pemantauan oleh masyarakat sipil dan media akan menjadi krusial untuk memastikan akuntabilitas.
Sebagai bagian dari koalisi, Partai Golkar memiliki peran strategis dalam mengawal implementasi visi ini, baik melalui dukungan di parlemen maupun di eksekutif. Tantangan ekonomi yang akan dihadapi pemerintahan baru, seperti inflasi, stabilitas harga pangan, dan penciptaan lapangan kerja, akan menjadi ujian nyata bagi klaim "rakyat sebagai pusat pembangunan" ini.
Pernyataan Sarmuji ini sekaligus menjadi sinyal awal bagaimana narasi pembangunan pemerintahan baru akan dikomunikasikan kepada publik, menekankan empati dan keberpihakan kepada masyarakat sebagai fondasi utama.
-
Daerah6 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi8 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah8 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Daerah7 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Hukum & Kriminal5 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
-
Olahraga8 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Hukum & Kriminal8 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah6 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
