Pemerintah
Gubernur Kaltim Tekankan Idul Fitri Momentum Pererat Persaudaraan Bangsa
Idul Fitri: Fondasi Persaudaraan dan Harmoni Sosial di Kalimantan Timur
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menegaskan bahwa perayaan Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum krusial untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkokoh fondasi persaudaraan antar sesama. Pernyataan ini disampaikan dalam suasana penuh kekeluargaan, menggarisbawahi esensi dari hari kemenangan yang tak hanya bermakna spiritual tetapi juga sosial.
Pesan yang disampaikan oleh Gubernur Rudy Mas’ud ini memiliki relevansi yang sangat mendalam, terutama di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk. Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadan, menjadi titik balik bagi umat Islam untuk kembali suci, saling memaafkan, dan membuka lembaran baru. Namun, lebih dari itu, esensi silaturahmi melampaui batas-batas personal dan kelompok, mendorong terciptanya harmoni yang lebih luas dalam tatanan masyarakat. Ini adalah panggilan untuk menjembatani perbedaan, membangun pengertian, dan menumbuhkan rasa kebersamaan yang kokoh di Bumi Etam.
Dalam konteks Kalimantan Timur, yang merupakan provinsi dengan keberagaman suku, agama, dan budaya yang kaya, pesan ini menjadi semakin vital. Apalagi dengan statusnya sebagai calon Ibu Kota Nusantara (IKN), Kaltim akan menjadi melting pot bagi berbagai latar belakang masyarakat. Oleh karena itu, komitmen terhadap persaudaraan dan silaturahmi bukan hanya menjadi nilai luhur, tetapi juga prasyarat mutlak bagi terciptanya pembangunan yang berkelanjutan dan masyarakat yang sejahtera.
Pentingnya Silaturahmi dalam Konteks Sosial Masyarakat
Silaturahmi, sebuah konsep yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam dan budaya Indonesia, memiliki dampak positif yang luas bagi kohesi sosial. Ini bukan sekadar kunjungan atau pertemuan biasa, melainkan upaya aktif untuk menjaga dan memperkuat hubungan persaudaraan, kekeluargaan, dan pertemanan. Gubernur Rudy Mas’ud memahami betul bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada persatuan dan solidaritas warganya. Momen Idul Fitri menjadi katalisator alami untuk mengaktifkan kembali dan menguatkan jaringan-jaringan sosial yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan atau perbedaan pandangan.
Beberapa poin penting mengenai dampak silaturahmi:
- Memperkuat Solidaritas Sosial: Mengurangi kesenjangan dan menumbuhkan rasa saling memiliki.
- Mencegah Konflik: Komunikasi yang terbuka dan rasa saling menghargai dapat meredam potensi perselisihan.
- Membangun Empati: Memahami kondisi dan perspektif orang lain, yang esensial untuk masyarakat multikultural.
- Mendorong Kolaborasi: Dasar bagi kerja sama dalam berbagai aspek kehidupan, dari ekonomi hingga sosial.
Pemerintah daerah, di bawah kepemimpinan Rudy Mas’ud, secara konsisten mendorong kegiatan-kegiatan yang memupuk rasa kebersamaan ini. Pesan yang disampaikan saat Idul Fitri merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas dan kerukunan. Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, Gubernur juga kerap menekankan pentingnya menjaga kondusifitas daerah, terutama dalam menghadapi agenda-agenda strategis nasional maupun lokal. Hal ini menunjukkan konsistensi visi kepemimpinan dalam membangun Kaltim yang harmonis.
Peran Pemimpin dalam Membangun Harmoni Kebangsaan
Pernyataan seorang pemimpin daerah seperti Gubernur memiliki bobot moral dan politis yang signifikan. Ketika seorang pemimpin secara eksplisit menyerukan pentingnya persaudaraan dan silaturahmi, hal itu mengirimkan sinyal kuat kepada seluruh elemen masyarakat untuk turut serta. Ini bukan sekadar retorika, melainkan panduan etis yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Gubernur Rudy Mas’ud telah menunjukkan komitmennya untuk menjadi teladan dalam menjaga kerukunan. Dengan menjadikan Idul Fitri sebagai platform untuk pesan persatuan, beliau turut mengukuhkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan penjaga nilai-nilai kebangsaan. Peran ini menjadi semakin krusial di era digital, di mana informasi dapat menyebar dengan cepat dan terkadang memecah belah. Pemimpin harus aktif dalam menyuarakan narasi-narasi yang mempersatukan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan toleran bagi seluruh warganya. Berbagai program dan kebijakan diarahkan untuk memperkuat jalinan kebersamaan, dari tingkat komunitas hingga skala provinsi. Ini termasuk dialog antarumat beragama, festival budaya, dan inisiatif pembangunan yang melibatkan partisipasi multietnis. Upaya-upaya ini selaras dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang menjadi pilar utama persatuan Indonesia.
Refleksi Idul Fitri dan Tantangan Kebangsaan
Idul Fitri seyogyanya menjadi momen refleksi bagi kita semua. Setelah sebulan penuh menahan diri dan melatih kesabaran, umat Islam diharapkan kembali dengan jiwa yang lebih bersih dan hati yang lapang. Semangat ini harus diterjemahkan ke dalam sikap saling menghormati, toleransi, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, tantangan dalam menjaga persaudaraan tidaklah kecil. Berbagai isu, mulai dari polarisasi politik hingga ujaran kebencian, dapat mengancam kerukunan yang telah terbangun. Oleh karena itu, pesan Gubernur Rudy Mas’ud ini bukan hanya relevan saat Idul Fitri, melainkan harus terus digaungkan sepanjang tahun. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk terus memupuk nilai-nilai persatuan dan menghindari perpecahan.
Masyarakat diharapkan dapat mengambil hikmah dari Idul Fitri untuk terus merawat dan memperkuat jalinan persaudaraan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Kalimantan Timur yang lebih maju, harmonis, dan sejahtera, serta berkontribusi pada persatuan bangsa secara keseluruhan. Mari jadikan setiap hari sebagai momentum untuk mempererat silaturahmi, bukan hanya saat hari raya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya pemerintah provinsi dalam menjaga kerukunan, kunjungi situs resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Pemerintah
Pheu Thai Usung Reformasi Komprehensif Dana Jaminan Sosial, Perkuat Hak Pekerja
Partai Pheu Thai, kekuatan politik terkemuka, telah mengumumkan rencana ambisius untuk mereformasi Undang-Undang Jaminan Sosial, menjanjikan perombakan struktural komprehensif terhadap Dana Jaminan Sosial (SSF). Inisiatif ini tidak hanya akan merombak dewan manajemen SSF, tetapi juga memperluas jangkauan manfaat dan secara signifikan meningkatkan hak-hak bagi pekerja yang menjadi peserta. Langkah ini dipandang sebagai upaya fundamental untuk memperkuat jaring pengaman sosial dan memastikan keberlanjutan serta keadilan dalam sistem jaminan sosial nasional.
Visi Perubahan Struktural untuk SSF
Rencana Pheu Thai secara spesifik menargetkan perubahan mendasar pada tata kelola dan operasional SSF. Kritik terhadap sistem yang ada seringkali menyoroti kurangnya transparansi, efisiensi yang dipertanyakan, dan representasi yang tidak memadai dari para pemangku kepentingan, khususnya pekerja. Dengan perombakan dewan manajemen, Pheu Thai berjanji untuk membawa nuansa baru dalam pengambilan keputusan, memastikan bahwa kebijakan SSF lebih responsif terhadap kebutuhan riil peserta dan lebih akuntabel terhadap publik. Perubahan ini diharapkan menciptakan struktur yang lebih modern, adaptif, dan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan demografi dan ekonomi di masa depan. Revitalisasi ini juga mencakup evaluasi ulang mekanisme investasi dana, dengan tujuan untuk memaksimalkan pengembalian investasi sambil menjaga risiko pada tingkat yang dapat diterima, sehingga menjamin solvabilitas dana jangka panjang.
Peningkatan Manfaat dan Penguatan Hak Pekerja
Selain perubahan struktural, inti dari reformasi Pheu Thai adalah komitmen untuk memperluas manfaat jaminan sosial. Meskipun detail spesifik tentang jenis manfaat yang akan diperluas masih menunggu rincian lebih lanjut, harapan publik berpusat pada peningkatan cakupan tunjangan pengangguran, perawatan kesehatan yang lebih komprehensif, dan jaminan hari tua yang lebih memadai. Ini merupakan respons terhadap keluhan pekerja mengenai kecukupan manfaat yang ada, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian ekonomi.
Lebih lanjut, inisiatif ini juga bertujuan untuk memperkuat hak-hak pekerja yang menjadi peserta SSF. Hal ini dapat mencakup:
- Peningkatan partisipasi pekerja dalam proses pengambilan keputusan SSF, melalui representasi yang lebih kuat di dewan manajemen atau mekanisme konsultasi reguler.
- Peningkatan akses terhadap informasi mengenai kondisi keuangan SSF dan kinerja investasinya.
- Mekanisme pengaduan yang lebih efektif dan transparan untuk peserta yang merasa hak-haknya tidak terpenuhi.
- Peluang untuk memilih manfaat yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu, memberikan fleksibilitas lebih bagi peserta.
Penguatan hak-hak ini diharapkan memberdayakan pekerja, memberi mereka suara yang lebih besar dalam pengelolaan dana yang mereka kontribusikan, dan memastikan bahwa sistem jaminan sosial benar-benar melayani kepentingannya.
Tantangan dan Harapan Implementasi
Meskipun visi Pheu Thai terdengar menjanjikan, implementasi reformasi skala besar semacam ini tidak akan tanpa tantangan. Partai perlu membangun konsensus politik yang kuat, mengingat perubahan pada Undang-Undang Jaminan Sosial dapat memicu perdebatan sengit dari berbagai pihak, termasuk serikat pekerja, asosiasi pengusaha, dan kelompok masyarakat sipil. Selain itu, aspek finansial dari perluasan manfaat juga memerlukan perencanaan yang cermat untuk memastikan keberlanjutan fiskal SSF tanpa membebani kontributor secara berlebihan. Langkah ini mengingatkan pada berbagai seruan untuk modernisasi sistem jaminan sosial yang telah bergema selama bertahun-tahun, termasuk analisis mendalam yang pernah kami publikasikan mengenai [Nama Artikel Lama Relevan] beberapa waktu lalu. Reformasi ini diharapkan menjadi jawaban konkret atas tantangan-tantangan tersebut.
Pemerintah
Tragedi Lebanon: Indonesia Dorong Evaluasi Menyeluruh Keamanan Pasukan Perdamaian PBB
JAKARTA – Pemerintah Indonesia secara tegas mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar dan prosedur keamanan bagi seluruh pasukan penjaga perdamaian dunia. Desakan ini muncul menyusul insiden tragis gugurnya tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon. Ketiga prajurit pahlawan bangsa tersebut adalah Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, serta Kopda Anumerta Farizal Rhomadon, yang gugur saat menjalankan tugas mulia menjaga perdamaian di tanah konflik.
Tragedi yang Mengguncang Misi Perdamaian
Insiden memilukan ini telah membawa duka mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya keluarga besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketiga prajurit terbaik bangsa ini mengemban amanah berat sebagai bagian dari Kontingen Garuda dalam misi UNIFIL, sebuah misi yang bertujuan menjaga stabilitas dan perdamaian di wilayah perbatasan Lebanon dan Israel. Gugurnya mereka tidak hanya menimbulkan kepedihan, tetapi juga memicu pertanyaan krusial mengenai tingkat perlindungan dan keamanan yang diberikan kepada pasukan penjaga perdamaian di lapangan. Pemerintah Indonesia, melalui berbagai saluran diplomasi, telah menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban seraya menekankan pentingnya akuntabilitas dan peningkatan standar keamanan. Presiden Joko Widodo juga telah memerintahkan jajaran terkait untuk memastikan penanganan terbaik bagi jenazah dan memberikan dukungan penuh kepada keluarga yang ditinggalkan.
Desakan Kuat Indonesia untuk Evaluasi Keamanan Global
Sebagai salah satu kontributor pasukan perdamaian terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan dan suara yang kuat dalam isu keamanan personel PBB. Oleh karena itu, Indonesia tidak hanya berhenti pada penyampaian duka cita, tetapi juga mendorong PBB untuk melakukan langkah-langkah konkret:
- Evaluasi Komprehensif: Indonesia mendesak PBB untuk meninjau ulang seluruh protokol dan prosedur keamanan yang berlaku bagi pasukan perdamaian di semua wilayah misi. Evaluasi ini harus mencakup penilaian risiko yang lebih akurat, peningkatan kapasitas intelijen, dan penyediaan peralatan pelindung yang lebih memadai.
- Peningkatan Pelatihan: Pentingnya pelatihan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika konflik di lapangan menjadi sorotan. Pelatihan harus mencakup skenario ancaman terbaru dan teknik respons cepat.
- Akuntabilitas: Indonesia menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam investigasi setiap insiden yang melibatkan pasukan perdamaian, guna memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya tragedi serupa.
- Dukungan Psikologis: Selain perlindungan fisik, dukungan psikologis dan mental bagi pasukan yang bertugas di daerah konflik juga harus menjadi prioritas.
Desakan ini bukanlah yang pertama. Insiden ini kembali mengingatkan kita pada tantangan keamanan yang telah lama dihadapi pasukan perdamaian, sebagaimana pernah diulas dalam artikel kami sebelumnya tentang ‘Dilema Perlindungan di Garis Depan: Mengapa Pasukan Perdamaian Sering Menjadi Sasaran’.
Peran Vital Indonesia dalam Misi Penjaga Perdamaian PBB
Indonesia memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam partisipasi aktif di berbagai misi perdamaian PBB sejak tahun 1957. Kontingen Garuda, sebutan bagi pasukan perdamaian Indonesia, telah tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk Lebanon, Kongo, Sudan, dan Republik Afrika Tengah. Di Lebanon, Kontingen Garuda tergabung dalam UNIFIL, sebuah misi yang dibentuk pada tahun 1978 untuk mengawasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan membantu pemerintah Lebanon menegakkan kedaulatannya. Kehadiran pasukan Indonesia di UNIFIL tidak hanya sebagai simbol komitmen terhadap perdamaian dunia, tetapi juga sebagai representasi diplomasi damai yang terus digaungkan Indonesia di kancah internasional. Para prajurit Indonesia dikenal karena profesionalisme, dedikasi, dan kemampuan berinteraksi yang baik dengan masyarakat lokal, menjadikannya aset berharga bagi PBB. Namun, di balik keberhasilan dan pengabdian itu, tersimpan risiko besar. Wilayah operasi UNIFIL, yang terletak di perbatasan yang rentan konflik, seringkali menjadi medan yang tidak terduga dan penuh tantangan.
Tantangan dan Masa Depan Pasukan Perdamaian
Misi perdamaian PBB di seluruh dunia menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan beragam, mulai dari serangan kelompok bersenjata non-negara hingga ranjau darat dan improvisasi alat peledak (IED). Lingkungan operasional yang tidak stabil dan perubahan lanskap konflik global menuntut adaptasi berkelanjutan dari PBB dan negara-negara kontributor pasukan. Tragedi gugurnya tiga prajurit Indonesia ini harus menjadi momentum bagi PBB untuk mereformasi secara fundamental cara mereka melindungi personelnya. Peningkatan anggaran untuk keamanan, investasi pada teknologi deteksi dan perlindungan canggih, serta koordinasi yang lebih erat dengan pemerintah tuan rumah adalah langkah-langkah krusial yang perlu diambil.
Meskipun tantangan terus membayangi, komitmen Indonesia terhadap misi perdamaian PBB tidak akan surut. Indonesia akan terus menyuarakan pentingnya perlindungan maksimal bagi para penjaga perdamaian, karena mereka adalah garda terdepan dalam mewujudkan cita-cita perdamaian global. Dengan evaluasi yang jujur dan tindakan konkret, diharapkan misi perdamaian dapat berjalan lebih aman dan efektif di masa depan, tanpa mengorbankan lebih banyak nyawa pahlawan kemanusiaan. Lebih banyak informasi mengenai misi UNIFIL dapat ditemukan di situs resmi PBB: https://unifil.unmissions.org/
Pemerintah
Polemik Dana Pensiun Mantan Anggota Parlemen: Antara Keadilan dan Keberlanjutan Anggaran Negara
Debat Sengit Menyelimuti Masa Depan Dana Pensiun Mantan Anggota Parlemen
Wacana mengenai penghapusan dana pensiun bagi mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan senator telah memicu perdebatan besar di kalangan legislator sendiri, serta menarik perhatian publik secara luas. Berbagai pandangan muncul ke permukaan, mencerminkan kompleksitas isu ini yang melibatkan prinsip keadilan, keberlanjutan anggaran negara jangka panjang, dan citra pejabat publik di mata masyarakat.
Sejumlah anggota parlemen menyatakan dukungannya terhadap peninjauan ulang, bahkan penghapusan, skema pensiun tersebut, berlandaskan kekhawatiran atas beban finansial negara dan persepsi ketidakadilan. Mereka berpendapat bahwa dana pensiun yang signifikan bagi mantan pejabat publik dapat memberatkan anggaran dan menciptakan disparitas dengan kesejahteraan pensiunan dari sektor lain. Di sisi lain, sebagian legislator bersikeras mempertahankan skema pensiun ini, menyoroti aspek penghargaan atas pengabdian, daya tarik untuk menarik individu terbaik ke ranah politik, serta jaminan kesejahteraan pasca-jabatan.
Polemik ini bukanlah hal baru dalam diskursus publik mengenai hak dan fasilitas pejabat negara. Debat serupa seringkali mengemuka terkait reformasi sistem pensiun sektor publik secara umum, termasuk tunjangan dan fasilitas lain bagi para pemangku jabatan. Kali ini, fokusnya secara spesifik tertuju pada dana pensiun legislatif, menjadikannya sorotan tajam di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi dan transparansi anggaran.
Keadilan Sosial versus Keberlanjutan Fiskal: Inti Perdebatan
Permasalahan dana pensiun mantan anggota parlemen sejatinya mengemukakan dua poros argumen utama. Pertama, isu keadilan sosial. Masyarakat seringkali mempertanyakan kewajaran pemberian pensiun istimewa kepada para legislator, sementara banyak warga negara lain harus berjuang keras dengan jaminan hari tua yang minim. Persepsi bahwa politisi menikmati privilese finansial pasca-jabatan, terlepas dari kinerja atau kontribusi mereka, dapat mengikis kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.
Kedua, dimensi keberlanjutan fiskal. Dana pensiun, terutama yang bersumber dari anggaran negara, memerlukan alokasi finansial yang tidak sedikit setiap tahunnya. Dengan jumlah mantan anggota parlemen yang terus bertambah seiring pergantian periode legislatif, beban ini dapat menjadi semakin besar. Kekhawatiran akan tekanan terhadap APBN, terutama di tengah prioritas pengeluaran untuk pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat, menjadi argumen kuat bagi para pendukung reformasi atau penghapusan.
- Pendukung Penghapusan/Reformasi: Menekankan beban anggaran, disparitas dengan pensiunan sektor lain, dan perlunya menghilangkan citra privilese. Mereka melihat ini sebagai langkah krusial untuk meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam penggunaan dana publik.
- Penentang Penghapusan/Pembela Skema Pensiun: Berargumen bahwa pensiun adalah bentuk apresiasi atas pengabdian, alat untuk menarik calon legislator berkualitas, dan jaminan keamanan finansial yang memungkinkan mereka bekerja tanpa kekhawatiran setelah masa jabatan berakhir. Mereka juga dapat menyoroti risiko diskriminasi jika hanya pensiun legislatif yang dihilangkan sementara pensiun pejabat negara lainnya dipertahankan.
Mencari Titik Tengah: Opsi Reformasi yang Progresif
Melihat kompleksitas dan sensitivitas isu ini, mencari solusi yang komprehensif dan berimbang menjadi sebuah keharusan. Penghapusan total mungkin terkesan radikal bagi sebagian pihak, namun mempertahankan status quo juga rentan terhadap kritik dan potensi masalah keberlanjutan di masa depan. Beberapa opsi reformasi yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Sistem Kontribusi Berbasis Kinerja atau Masa Jabatan: Mengubah skema pensiun menjadi sistem yang lebih bergantung pada kontribusi langsung dari legislator selama menjabat, atau mengaitkannya dengan durasi dan efektivitas masa pengabdian mereka.
- Pemberlakuan Means-Testing: Meninjau kembali kelayakan penerima pensiun berdasarkan kondisi finansial mereka. Mantan anggota parlemen yang sudah memiliki sumber penghasilan signifikan atau kekayaan besar mungkin tidak lagi memerlukan pensiun dari negara.
- Penyelarasan dengan Skema Pensiun Sektor Publik Lain: Menyelaraskan besaran dan syarat pensiun anggota parlemen dengan skema yang berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pejabat negara lainnya, untuk mengurangi disparitas.
- Transisi Bertahap: Menerapkan perubahan ini secara bertahap, misalnya dengan memberlakukan aturan baru hanya untuk anggota parlemen yang baru terpilih di masa depan, sementara tetap menghormati hak-hak pensiun anggota lama yang sudah terakuisisi.
- Transparansi dan Akuntabilitas: Meningkatkan transparansi mengenai total anggaran yang dialokasikan untuk dana pensiun ini, serta mekanisme pengelolaannya, agar publik dapat memantau dan memberikan masukan.
Debat ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan lembaga legislatif untuk menunjukkan komitmennya terhadap tata kelola pemerintahan yang baik, akuntabilitas, dan keadilan sosial. Solusi yang ditemukan harus mampu menjawab kekhawatiran publik tanpa mereduksi esensi penghargaan terhadap pengabdian para wakil rakyat. Masa depan dana pensiun ini akan sangat bergantung pada kemampuan legislator untuk mencapai konsensus yang tidak hanya berkelanjutan secara finansial, tetapi juga adil dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
-
Daerah4 minggu agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 minggu agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Olahraga4 minggu agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah1 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal1 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 minggu agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Internasional1 bulan agoKetegangan Selat Hormuz Meruncing, Ekonomi Asia Terancam Gejolak
-
Olahraga3 minggu agoDampak Kata-kata Pembakar Semangat Calvin Verdonk Angkat Lille Taklukkan Rennes
