Connect with us

Internasional

Kisah Viral Pasien Kanker di Beijing Temukan Teman Berbual Melalui Aplikasi Pesan Antar

Published

on

Kisah Haru: Pasien Kanker di Beijing Temukan Teman Berbual Via Aplikasi Pesan Antar

Pasien kanker yang tengah berjuang melawan kesendirian di Beijing, Tiongkok, menjadi sorotan publik setelah viral karena membuat pesanan tak lazim: seorang "teman berbual" melalui sebuah platform pengiriman makanan. Kisah yang menyentuh hati ini, sebagaimana dilaporkan oleh South China Morning Post, menyoroti realitas pahit kesepian di tengah penyakit kronis dan bagaimana teknologi, secara tak terduga, bisa menjadi jembatan bagi koneksi manusiawi.

Awal Mula Kisah Menyentuh Hati

Kisah ini bermula ketika seorang pasien kanker yang tidak disebutkan namanya merasakan beban berat kesendirian selama menjalani perawatan. Dalam keputusasaan mencari seseorang untuk diajak bicara, pasien tersebut memutuskan untuk menggunakan fitur komentar atau permintaan khusus di aplikasi pengiriman makanan. Bukan untuk memesan hidangan, melainkan untuk secara spesifik meminta seorang "rider" atau pengantar yang bersedia menemaninya berbual dan mendengarkan keluh kesahnya.

Respons dari salah seorang pengantar makanan melampaui ekspektasi. Alih-alih hanya mengantar pesanan dan pergi, rider tersebut dengan sukarela meluangkan waktu untuk mendengarkan dan berbincang dengan pasien, memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan. Interaksi sederhana namun penuh makna ini kemudian dibagikan di media sosial dan dengan cepat menyebar, menarik perhatian jutaan pengguna internet di seluruh dunia. Kisah ini memicu diskusi luas tentang empati dan peran tak terduga individu dalam memberikan dukungan.

Lebih dari Sekadar Pengiriman Makanan

Fenomena ini mengungkap sisi lain dari platform pengiriman makanan yang biasanya identik dengan kecepatan dan efisiensi. Fungsi dasarnya sebagai jembatan antara penyedia layanan dan konsumen kini meluas menjadi medium untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional yang mendalam. Para rider, yang kerap dipandang hanya sebagai kurir, tanpa disadari menjadi agen penting dalam memberikan sentuhan manusiawi di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.

Kisah ini menjadi cerminan bahwa dalam masyarakat yang semakin terhubung secara digital, kesepian tetap menjadi isu krusial. Terutama bagi individu yang menghadapi tantangan kesehatan serius seperti kanker, dukungan sosial dan interaksi manusia menjadi pilar penting dalam proses penyembuhan, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental.

  • Platform pengiriman makanan menunjukkan potensi tak terduga dalam menyediakan dukungan emosional.
  • Rider dapat berperan lebih dari sekadar pengantar, menjadi pendengar setia dan penyedia dukungan moral.
  • Kisah ini menyoroti kebutuhan mendalam akan koneksi manusiawi di era digital yang terkadang paradoks.

Dampak dan Resonansi Publik

Setelah kisahnya viral, gelombang simpati dan dukungan membanjiri media sosial di Tiongkok dan di luar negeri. Banyak warganet mengungkapkan rasa haru dan mengapresiasi kebaikan hati sang rider. Diskusi luas pun muncul mengenai pentingnya empati, peran komunitas dalam mendukung pasien, serta potensi aplikasi digital untuk dimanfaatkan dalam cara-cara yang lebih humanis. Kisah ini juga mendorong beberapa platform untuk mempertimbangkan fitur atau layanan yang lebih berorientasi pada dukungan sosial, menggeser fokus dari sekadar transaksi menjadi interaksi personal.

Fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai belahan dunia, individu mencari cara-cara kreatif untuk mengatasi kesepian, mulai dari komunitas daring hingga layanan pendampingan berbayar. Namun, insiden di Beijing ini menonjol karena menggunakan saluran yang sama sekali tidak terduga, mengubah persepsi publik tentang apa yang bisa ditawarkan oleh sebuah aplikasi pengiriman makanan.

Mencari Makna di Tengah Kesepian

Kisah pasien kanker di Beijing ini memberikan pelajaran berharga tentang kerentanan manusia dan kekuatan koneksi. Banyak studi saat ini menunjukkan dampak signifikan kesepian terhadap kesehatan fisik dan mental, terutama pada pasien dengan penyakit kronis. Sebuah artikel yang pernah kami ulas sebelumnya, "Mengenal Dampak Kesepian pada Kesehatan Mental dan Fisik", telah membahas secara mendalam bagaimana isolasi sosial dapat memperburuk kondisi kesehatan. Kisah viral ini menjadi ilustrasi nyata dari temuan tersebut, sekaligus menawarkan secercah harapan bahwa empati masih bisa ditemukan di tempat-tempat yang tak terduga.

Implikasi Sosial dan Peran Teknologi

Insiden ini memicu refleksi lebih jauh tentang peran teknologi dalam kehidupan kita. Aplikasi yang dirancang untuk efisiensi dan konsumsi cepat kini menunjukkan kapasitasnya untuk memfasilitasi interaksi yang lebih mendalam dan bermakna. Ini bukan hanya tentang layanan baru, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat berevolusi untuk melayani kebutuhan manusiawi yang paling fundamental: kebutuhan untuk didengar, dipahami, dan tidak merasa sendiri. Ke depan, bisa jadi kita akan melihat lebih banyak inovasi yang menggabungkan layanan praktis dengan dimensi dukungan emosional dan sosial, membentuk lanskap layanan yang lebih humanis dan adaptif terhadap kompleksitas kebutuhan masyarakat modern.

Internasional

Desakan Pengembalian Berlian Koh-i-Noor ke India Menguat: Simbol Luka Kolonialisme Abadi

Published

on

Desakan Pengembalian Berlian Koh-i-Noor ke India Menguat: Simbol Luka Kolonialisme Abadi

Seruan untuk mengembalikan berlian legendaris Koh-i-Noor ke India kembali mengemuka, memicu perdebatan panjang mengenai warisan kolonialisme dan keadilan historis. Kali ini, desakan datang dari sejumlah tokoh di panggung internasional, yang menyuarakan agar Kerajaan Inggris mengembalikan permata berharga itu kepada negara asalnya, India, yang diyakini diambil saat era penjajahan.

Berlian Koh-i-Noor, yang kini menjadi bagian dari permata mahkota Kerajaan Inggris, bukan hanya sekadar batu mulia. Ia adalah simbol kekuasaan, penaklukan, dan luka mendalam dari masa lalu kolonial. Permintaan pengembalian ini bukan hal baru, namun kembali mendapatkan momentum seiring dengan meningkatnya kesadaran global tentang restitusi artefak budaya yang dijarah selama era penjajahan. Isu ini kembali mencuat setelah sejumlah akademisi dan aktivis di New York menyuarakan keprihatinan mereka, mendesak Raja Charles III untuk mempertimbangkan pengembalian berlian yang penuh sejarah dan kontroversi ini.

Sejarah Kelam Berlian Koh-i-Noor: Simbol Kekuasaan dan Penaklukan

Koh-i-Noor, yang berarti 'Gunung Cahaya' dalam bahasa Persia, adalah salah satu berlian potong terbesar di dunia, dengan berat 105,6 karat. Sejarahnya yang membentang lebih dari 800 tahun dipenuhi intrik, peperangan, dan pertumpahan darah, menjadikannya salah satu permata paling terkenal sekaligus paling kontroversial di dunia. Berikut adalah poin-poin penting perjalanan Koh-i-Noor:

  • Asal Mula India: Berlian ini ditemukan di tambang Golconda, Andhra Pradesh, India, pada abad ke-13 atau 14. Ia menjadi milik berbagai dinasti penguasa India, termasuk Dinasti Kakatiya dan Kesultanan Delhi.
  • Perjalanan Melalui Imperium: Dari Kesultanan Delhi, Koh-i-Noor jatuh ke tangan Mughal, lalu ke Persia (Nader Shah) setelah penaklukan Delhi pada 1739. Kemudian berpindah tangan ke Afghanistan (Durrani Empire) sebelum akhirnya kembali ke India di bawah Kekaisaran Sikh (Maharaja Ranjit Singh) pada awal abad ke-19.
  • Akuisisi oleh Inggris: Pada tahun 1849, setelah Perang Anglo-Sikh Kedua, British East India Company mencaplok Punjab. Dalam perjanjian damai yang dikenal sebagai Perjanjian Lahore, Maharaja Duleep Singh yang saat itu masih anak-anak, dipaksa menyerahkan Koh-i-Noor kepada Ratu Victoria. Banyak sejarawan dan aktivis menganggap penyerahan ini sebagai tindakan pemaksaan dan bukan hadiah sukarela, mengingat kondisi politik dan militer saat itu.
  • Bagian dari Permata Mahkota Inggris: Sejak saat itu, Koh-i-Noor tetap berada di tangan monarki Inggris dan menjadi bagian integral dari permata mahkota kerajaan. Ia telah dihias pada mahkota beberapa ratu Inggris, termasuk Ratu Alexandra, Ratu Mary, dan yang terakhir, Ratu Elizabeth, Bunda Suri.

Mengapa Koh-i-Noor Menjadi Pusat Kontroversi?

Kontroversi seputar Koh-i-Noor lebih dari sekadar klaim kepemilikan. Ia mencerminkan perdebatan yang lebih luas tentang keadilan historis dan dampak abadi kolonialisme. Beberapa alasan mengapa berlian ini terus menjadi sorotan adalah:

  • Simbol Penjarahan Kolonial: Bagi banyak orang India dan aktivis antikolonial, Koh-i-Noor adalah lambang nyata dari kekayaan yang dijarah oleh penjajah Inggris. Keberadaannya di London dianggap sebagai pengingat pahit akan eksploitasi dan dominasi masa lalu.
  • Klaim Berulang dari India: Pemerintah India telah berulang kali meminta pengembalian berlian ini sejak kemerdekaan pada tahun 1947. Namun, pemerintah Inggris secara konsisten menolak, dengan alasan bahwa Koh-i-Noor diperoleh secara sah berdasarkan perjanjian.
  • Makna Budaya dan Nasional: Berlian ini memiliki nilai budaya dan nasional yang sangat besar bagi India, dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan historisnya. Pengembaliannya akan dipandang sebagai pemulihan martabat dan pengakuan atas sejarah yang terampas.
  • Legenda 'Terkutuk': Ada kepercayaan populer bahwa berlian Koh-i-Noor membawa kutukan bagi pemilik laki-laki, membawa kemalangan atau kematian. Konon, hanya wanita atau dewa yang bisa memakainya tanpa celaka. Meskipun ini hanyalah legenda, ia menambah aura misteri dan daya tarik seputar permata tersebut.

Desakan Global dan Preseden Pengembalian Artefak Kolonial

Desakan pengembalian Koh-i-Noor adalah bagian dari tren global yang lebih besar. Banyak negara bekas jajahan kini menuntut pengembalian artefak budaya mereka yang disimpan di museum-museum Barat. Contoh terkenal termasuk desakan Nigeria untuk pengembalian Benin Bronzes dari berbagai museum Eropa dan tuntutan Yunani atas Parthenon Marbles dari British Museum. (Baca juga: Perdebatan Sengit Mengelilingi Pengembalian Benin Bronzes: Studi Kasus Restitusi Artefak Kolonial)

Sejumlah institusi, seperti Museum Horniman di London, telah mulai mengambil langkah untuk mengembalikan artefak kepada negara asalnya, menandakan pergeseran dalam sikap global. Tekanan moral dan etika untuk mengakui dan memperbaiki ketidakadilan historis semakin kuat. Bagi banyak pihak, mempertahankan artefak seperti Koh-i-Noor tanpa pengakuan yang layak atas cara perolehannya adalah bentuk lanjutan dari ketidakadilan.

Apa Langkah Selanjutnya?

Masa depan Koh-i-Noor tetap menjadi subjek perdebatan yang kompleks. Meskipun seruan semakin nyaring, Kerajaan Inggris dan pemerintahannya belum menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi permintaan pengembalian tersebut. Namun, seiring dengan perubahan lanskap politik dan kesadaran sosial global, tekanan terhadap institusi-institusi yang menyimpan artefak hasil kolonialisme diperkirakan akan terus meningkat.

Bagaimana Raja Charles III dan monarki Inggris menyikapi desakan ini akan menjadi ujian penting bagi komitmen mereka terhadap nilai-nilai keadilan dan rekonsiliasi di era pasca-kolonial. Berlian Koh-i-Noor, dengan sejarahnya yang sarat konflik, akan terus bersinar sebagai pengingat akan masa lalu yang belum terselesaikan dan panggilan untuk keadilan yang tak lekang oleh waktu.

Continue Reading

Internasional

Birokrasi Memilukan: Pria India Bawa Tulang Kakak ke Bank Buktikan Kematian

Published

on

Tindakan Putus Asa Demi Keadilan Administratif

Kisah pilu dari India Timur kembali mengguncang publik, menyoroti betapa rumit dan tidak manusiawinya sistem birokrasi di negara tersebut. Seorang pria di Balangir, Odisha, baru-baru ini dilaporkan terpaksa membawa tulang belulang kakak perempuannya ke sebuah bank. Tindakan ekstrem ini ia lakukan semata-mata untuk membuktikan bahwa kakaknya benar-benar telah meninggal dunia, sebuah bukti yang dibutuhkan bank untuk menyelesaikan urusan administrasi terkait almarhumah.

Insiden ini mencerminkan puncak frustrasi yang dialami banyak warga biasa ketika berhadapan dengan sistem pemerintahan dan lembaga keuangan yang kaku. Pria tersebut, yang identitasnya tidak disebutkan secara rinci, menjelaskan bahwa upaya berulang kali untuk membuktikan kematian kakaknya melalui dokumen resmi selalu menemui jalan buntu. Tanpa bukti yang ‘memadai’ menurut standar bank, ia tidak dapat mengakses dana atau menyelesaikan rekening almarhumah, sehingga mendorongnya pada tindakan yang memilukan tersebut.

Beban Birokrasi yang Menjerat Warga

Kasus ini membuka mata terhadap tantangan signifikan yang dihadapi masyarakat, terutama mereka yang kurang beruntung atau tidak terliterasi secara digital, dalam mengakses layanan publik dan menyelesaikan masalah administrasi. Di India, proses mendapatkan sertifikat kematian yang diakui secara universal oleh semua lembaga seringkali menjadi labirin yang penuh hambatan, mulai dari prosedur yang berbelit, kurangnya koordinasi antar departemen, hingga dugaan praktik korupsi.

Bagi keluarga yang berduka, beban emosional sudah cukup berat. Namun, sistem yang ada seringkali menambah derita dengan menuntut mereka melewati rintangan birokrasi yang melelahkan. Persyaratan dokumen yang tidak jelas, permintaan bukti tambahan yang tidak standar, serta penundaan yang tidak wajar, semuanya berkontribusi pada situasi di mana warga merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan tindakan yang dianggap ekstrem.

Refleksi Kasus Serupa dan Desakan Perubahan

Insiden di Balangir ini bukanlah yang pertama. Sejarah mencatat beberapa kasus serupa di berbagai wilayah India, di mana individu melakukan tindakan di luar nalar demi mendapatkan hak atau menyelesaikan urusan administrasi yang seharusnya mudah. Beberapa tahun lalu, laporan media internasional juga sempat menyoroti kisah warga yang harus membawa jenazah kerabat mereka ke kantor pemerintah karena kesulitan mendapatkan ambulans atau biaya transportasi, menunjukkan bahwa masalah sistemik ini telah berlangsung lama.

  • Ketiadaan Akses: Banyak warga di daerah terpencil atau miskin kesulitan mengakses fasilitas dan informasi yang diperlukan untuk mengurus dokumen penting.
  • Literasi Digital Rendah: Meskipun ada upaya digitalisasi, masih banyak penduduk yang belum terbiasa dengan sistem daring, menambah kesulitan dalam pengajuan atau verifikasi.
  • Kurangnya Sensitivitas: Petugas layanan seringkali kurang menunjukkan empati terhadap kondisi warga yang berduka, memperburuk pengalaman mereka.
  • Kesenjangan Kebijakan: Terdapat ketidakselarasan antara kebijakan pusat dan implementasi di tingkat daerah, menciptakan celah yang menyulitkan warga.

Kasus-kasus ini berfungsi sebagai pengingat pahit akan perlunya reformasi mendalam dalam sistem administrasi publik India. Ini menuntut bukan hanya penyederhanaan prosedur, tetapi juga peningkatan empati dan efisiensi di semua tingkatan layanan.

Solusi dan Harapan Perbaikan Sistem

Pemerintah India telah berupaya melakukan digitalisasi layanan dan menyederhanakan proses. Namun, insiden seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terutama dalam menjangkau masyarakat paling rentan.

Penyelesaian masalah ini memerlukan pendekatan multi-aspek:

  1. Penyederhanaan Proses: Mengurangi persyaratan dokumen dan birokrasi yang tidak perlu.
  2. Pelatihan Staf: Memberikan pelatihan sensitivitas dan efisiensi kepada petugas layanan publik.
  3. Peningkatan Akses: Membangun lebih banyak pusat layanan di daerah terpencil dan meningkatkan literasi digital.
  4. Pengawasan Ketat: Memperkuat mekanisme pengawasan untuk mencegah praktik korupsi dan penundaan yang tidak wajar.

Tragedi di Balangir ini harus menjadi lonceng peringatan bagi pihak berwenang untuk lebih serius dalam mengatasi beban birokrasi yang memilukan. Setiap warga negara berhak mendapatkan layanan yang efisien, transparan, dan manusiawi, terutama dalam momen-momen sulit seperti kehilangan orang terkasih. Ini adalah panggilan untuk membangun sistem yang tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga pada kemanusiaan dan martabat warganya.

Continue Reading

Internasional

Komite PBB Desak Israel Cabut Aturan Hukuman Mati Kontroversial bagi Warga Palestina

Published

on

Komite PBB Minta Israel Cabut UU Hukuman Mati Warga Palestina

Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial (CERD) secara tegas mengecam undang-undang baru Israel yang memberikan kewenangan bagi pengadilan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada warga Palestina. Komite ini mendesak pemerintah Israel untuk segera mencabut aturan kontroversial tersebut, menegaskan bahwa penerapan undang-undang semacam itu berpotensi melanggar prinsip-prinsip dasar non-diskriminasi dan hukum hak asasi manusia internasional. Seruan ini menambah daftar panjang kritik internasional terhadap kebijakan Israel yang dianggap diskriminatif dan memperparah ketegangan di kawasan.

Komite yang beranggotakan para ahli independen ini menyuarakan kekhawatiran mendalamnya atas implikasi hukum dan moral dari undang-undang tersebut. Mereka menekankan bahwa aturan ini bukan hanya tidak proporsional, tetapi juga secara eksplisit menargetkan satu kelompok etnis, menciptakan sistem hukum yang berbeda dan tidak setara. Para pakar PBB mengingatkan Israel tentang kewajibannya di bawah Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (ICERD), yang secara tegas melarang diskriminasi rasial dalam bentuk apa pun, termasuk dalam penerapan keadilan pidana.

Seruan Mendesak dari Komite PBB

Dalam pernyataan resminya, CERD menyoroti beberapa poin krusial yang mendasari kecamannya terhadap undang-undang hukuman mati Israel:

  • Potensi Diskriminasi Rasial: Undang-undang tersebut dinilai memiliki kecenderungan kuat untuk diterapkan secara diskriminatif terhadap warga Palestina, menciptakan standar ganda dalam sistem peradilan.
  • Pelanggaran Hukum Internasional: Penerapan hukuman mati yang diskriminatif bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia universal, termasuk hak untuk hidup dan hak atas perlakuan yang sama di mata hukum.
  • Kewajiban Internasional Israel: Sebagai negara pihak pada ICERD, Israel memiliki kewajiban hukum untuk memastikan bahwa tidak ada undang-undang, kebijakan, atau praktik yang menimbulkan atau melanggengkan diskriminasi rasial.
  • Eskalasi Ketegangan: Aturan semacam itu dapat memperburuk ketegangan yang sudah ada antara warga Israel dan Palestina, menghambat upaya menuju perdamaian dan keadilan.

Komite PBB tersebut mendesak Israel tidak hanya untuk mencabut undang-undang ini tetapi juga untuk meninjau kembali semua undang-undang dan kebijakan yang mungkin secara langsung atau tidak langsung menyebabkan diskriminasi terhadap warga Palestina. Mereka menekankan pentingnya menjamin keadilan yang setara dan proses hukum yang adil bagi semua individu, tanpa memandang ras atau asal-usul etnis mereka.

Latar Belakang dan Kontroversi Undang-Undang Israel

Undang-undang hukuman mati yang baru ini memungkinkan pengadilan militer Israel untuk menjatuhkan hukuman mati dengan mayoritas sederhana, bukan suara bulat seperti yang lazim diterapkan dalam kasus-kasus serius lainnya. Regulasi ini, yang didorong oleh faksi-faksi sayap kanan dalam koalisi pemerintahan Israel, secara luas dipahami sebagai respons terhadap aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh warga Palestina dan bertujuan untuk meningkatkan apa yang disebut sebagai ‘daya gentar’. Namun, kritikus berpendapat bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menghukum warga Palestina secara lebih keras, memperdalam jurang ketidaksetaraan dalam sistem hukum.

Meski Israel memiliki undang-undang hukuman mati untuk kejahatan luar biasa, penerapannya sangat jarang terjadi. Kasus terakhir eksekusi yang diketahui adalah pada tahun 1962 terhadap Adolf Eichmann, penjahat perang Nazi. Hal ini membuat undang-undang baru ini menjadi lebih simbolis dalam konteks politik Israel, namun sangat signifikan dalam dampaknya terhadap hak-hak warga Palestina. Banyak pihak menilai langkah ini sebagai upaya politis untuk menenangkan elemen-elemen garis keras dalam pemerintahan, alih-alih sebagai solusi efektif terhadap masalah keamanan yang kompleks.

Implikasi Hukum Internasional dan Hak Asasi Manusia

Kecaman dari CERD ini bukan yang pertama kali diterima Israel dari badan-badan internasional terkait perlakuannya terhadap warga Palestina. Berbagai laporan dari organisasi hak asasi manusia, seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, serta resolusi PBB sebelumnya, telah berulang kali menyoroti dugaan pelanggaran hukum internasional, termasuk kejahatan perang dan apartheid, di wilayah pendudukan Palestina. Undang-undang hukuman mati ini menambah daftar panjang keprihatinan tersebut, memperkuat argumen bahwa Israel secara sistematis melanggar hak-hak dasar warga Palestina.

Para ahli hukum internasional menegaskan bahwa meskipun negara memiliki kedaulatan untuk membuat undang-undang, kedaulatan tersebut terikat oleh hukum internasional, terutama dalam hal hak asasi manusia. Hukuman mati, apalagi yang diterapkan secara diskriminatif, dianggap sebagai bentuk hukuman kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat yang melanggar berbagai konvensi internasional. Oleh karena itu, tekanan global diharapkan terus meningkat terhadap Israel untuk mematuhi standar hukum internasional dan menjamin perlakuan yang adil dan non-diskriminatif bagi semua individu di bawah yurisdiksinya.

Reaksi dan Harapan Global

Langkah Komite PBB ini mengirimkan pesan yang jelas kepada komunitas internasional tentang pentingnya mengawasi dan menekan negara-negara yang kebijakannya berpotensi melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional. Meskipun Israel secara konsisten menolak kritik internasional, seringkali dengan alasan keamanan nasional, seruan dari badan-badan PBB seperti CERD memiliki bobot moral dan diplomatik yang signifikan. Diharapkan tekanan ini dapat mendorong dialog dan perubahan kebijakan yang lebih sesuai dengan standar hak asasi manusia universal. Komunitas internasional menantikan tanggapan konkret dari pemerintah Israel, bukan hanya penolakan, demi terciptanya keadilan dan penghormatan hak asasi manusia di wilayah tersebut.

Continue Reading

Trending