Pemerintah
Pemerintah Indonesia Siapkan Jaminan Sosial untuk Petani, Pedagang, dan Pekerja Rumah Tangga
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia tengah menggodok proposal krusial yang bertujuan memperluas cakupan jaminan sosial bagi kelompok pekerja yang selama ini rentan dan minim perlindungan. Inisiatif strategis ini secara spesifik menargetkan petani, pedagang kaki lima, dan pekerja rumah tangga, yang akan diintegrasikan ke dalam sistem perlindungan sosial yang lebih komprehensif.
Proposal ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memastikan keadilan sosial dan memberikan fondasi keamanan bagi sektor tenaga kerja informal yang masif, namun seringkali terabaikan. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Inisiatif Penting untuk Pekerja Rentan
Wacana perluasan jaminan sosial ini muncul sebagai respons atas kebutuhan mendesak jutaan pekerja di sektor informal. Para petani, yang hidupnya sangat bergantung pada fluktuasi cuaca dan harga pasar; pedagang kaki lima, yang menghadapi ketidakpastian pendapatan harian; serta pekerja rumah tangga, yang rentan terhadap eksploitasi dan minimnya kontrak kerja formal, kini berpotensi mendapatkan akses ke jaringan pengaman sosial yang vital. Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan bahwa proposal ini akan diajukan ke kabinet, menandai babak baru dalam upaya perlindungan tenaga kerja.
Perluasan ini bukan sekadar penambahan jumlah peserta, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara negara melihat dan melindungi warganya yang bekerja di luar sektor formal. Ini adalah pengakuan atas kontribusi besar mereka terhadap perekonomian dan pengakuan atas hak-hak dasar mereka untuk hidup layak dan aman. Kebijakan ini akan merujuk pada perluasan cakupan di bawah undang-undang atau regulasi yang relevan, kemungkinan besar memanfaatkan kerangka BPJS Ketenagakerjaan yang sudah ada, dengan penyesuaian untuk mengakomodasi karakteristik unik dari pekerja informal.
Mencakup Jutaan Tenaga Kerja Informal
Jumlah pekerja di tiga sektor ini sangatlah besar. Berdasarkan data statistik, jutaan individu menggantungkan hidupnya dari pertanian, berdagang di pinggir jalan, atau menyediakan jasa rumah tangga. Tanpa jaring pengaman sosial, mereka sangat rentan terhadap berbagai risiko seperti kecelakaan kerja, sakit, kematian, hingga hari tua tanpa penghasilan. Inklusi mereka dalam sistem jaminan sosial akan memberikan:
- Perlindungan Kecelakaan Kerja: Memberikan santunan dan biaya pengobatan jika terjadi insiden saat bekerja.
- Jaminan Kematian: Memberikan santunan kepada ahli waris jika pekerja meninggal dunia.
- Akses Layanan Kesehatan: Potensi integrasi dengan BPJS Kesehatan untuk layanan medis.
- Persiapan Hari Tua: Meskipun detailnya masih akan dirumuskan, ini membuka jalan untuk program pensiun atau hari tua yang lebih terstruktur.
Langkah ini juga sejalan dengan agenda global untuk mewujudkan pekerjaan layak bagi semua, khususnya kelompok yang paling rentan. Pemerintah sebelumnya telah menunjukkan komitmen serupa melalui program-program seperti subsidi iuran bagi pekerja tertentu, dan perluasan ini menjadi kelanjutan dari visi tersebut.
Tantangan dalam Implementasi Perluasan Jaminan Sosial
Meski niatnya mulia, implementasi proposal ini tidak akan luput dari tantangan yang signifikan. Beberapa isu krusial yang harus diatasi meliputi:
- Data dan Registrasi: Mengidentifikasi dan mendaftarkan jutaan pekerja informal yang tersebar luas, seringkali tanpa identitas formal atau riwayat pekerjaan yang jelas, merupakan pekerjaan rumah besar. Diperlukan sinergi data antarlembaga dan pendekatan yang inovatif.
- Iuran dan Pendanaan: Penentuan besaran iuran yang terjangkau bagi pekerja dengan pendapatan tidak tetap, serta skema subsidi pemerintah yang berkelanjutan, akan menjadi kunci keberhasilan.
- Sosialisasi dan Edukasi: Tingkat pemahaman tentang pentingnya jaminan sosial masih rendah di kalangan pekerja informal. Kampanye masif dan pendekatan komunitas diperlukan untuk meningkatkan kesadaran.
- Pengawasan dan Penegakan: Khususnya untuk pekerja rumah tangga, memastikan pemberi kerja mematuhi kewajiban iuran dan menghormati hak-hak pekerja akan memerlukan mekanisme pengawasan yang kuat.
Kementerian Ketenagakerjaan perlu berkoordinasi erat dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, serikat pekerja, dan asosiasi pengusaha, untuk menyusun strategi implementasi yang efektif dan berkelanjutan.
Dampak Positif Jangka Panjang
Jika berhasil diimplementasikan, perluasan cakupan jaminan sosial ini akan membawa dampak positif yang masif dan berjangka panjang. Selain meningkatkan kualitas hidup individu pekerja, hal ini akan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Pekerja yang merasa aman akan lebih produktif dan inovatif, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini juga akan memperkuat fondasi negara kesejahteraan dan menunjukkan komitmen pemerintah terhadap hak-hak dasar seluruh warganya. Langkah ini melanjutkan upaya konsisten pemerintah dalam memperluas perlindungan sosial, sebagaimana tercermin dari inisiatif BPJS Ketenagakerjaan yang telah berjalan, yang terus beradaptasi untuk mencakup segmen masyarakat yang lebih luas. Melalui kebijakan ini, diharapkan Indonesia dapat bergerak menuju masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan terlindungi dari berbagai gejolak kehidupan.
Pemerintah
Kebijakan Imigrasi Trump: Pencabutan Visa Pencari Suaka Mengancam Ratusan Ribu Individu
Departemen Luar Negeri AS Memulai Peninjauan Massal, Ratusan Ribu Visa Terancam
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memulai peninjauan komprehensif terhadap visa yang dipegang oleh warga negara asing yang juga mengajukan permohonan suaka di negara tersebut. Langkah ini, yang menandai sebuah eskalasi signifikan dalam kebijakan imigrasi administrasi Trump, berpotensi memengaruhi hingga 200.000 pemegang visa dan pencari suaka. Pembatalan visa ini dapat terjadi dalam beberapa gelombang, menciptakan ketidakpastian besar bagi ribuan individu.
Kebijakan kontroversial ini menargetkan mereka yang, meskipun memiliki visa sah untuk masuk ke AS (seperti visa turis atau pelajar), kemudian memutuskan untuk mengajukan suaka setelah tiba di tanah Amerika. Administrasi Trump secara konsisten berargumen bahwa banyak dari permohonan suaka ini merupakan upaya “penyalahgunaan” sistem imigrasi, meskipun para advokat hak asasi manusia dan ahli hukum imigrasi dengan tegas membantah narasi tersebut.
Latar Belakang Kebijakan Drastis dan Tekanan Imigrasi
Langkah peninjauan visa ini bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian integral dari serangkaian kebijakan ketat yang diterapkan oleh administrasi Trump untuk secara drastis mengurangi imigrasi ke Amerika Serikat. Sejak awal masa jabatannya, Presiden Trump telah menjadikan pembatasan imigrasi sebagai salah satu prioritas utamanya, dengan janji-janji seperti pembangunan tembok perbatasan, pemisahan keluarga di perbatasan, dan pembatasan masuk bagi warga dari negara-negara mayoritas Muslim.
Peninjauan visa ini mencerminkan upaya untuk memperketat pintu masuk bagi mereka yang dicurigai tidak memiliki klaim suaka yang kuat atau yang dianggap “memanfaatkan” celah hukum. Pemerintah berargumen bahwa dengan mencabut visa asli mereka, individu-individu ini akan kehilangan hak untuk tinggal secara sah di AS sambil menunggu keputusan suaka mereka, sehingga membuka jalan bagi deportasi.
Beberapa kebijakan serupa yang telah diterapkan sebelumnya oleh administrasi Trump termasuk:
- Kebijakan ‘Remain in Mexico’ (Protokol Perlindungan Migran) yang mengharuskan pencari suaka menunggu di Meksiko.
- Pembatasan jumlah pengungsi yang diterima setiap tahun.
- Peningkatan penegakan hukum di perbatasan dan di dalam negeri.
Siapa yang Terdampak dan Mekanisme Peninjauan
Fokus utama peninjauan ini adalah individu yang masuk ke AS dengan visa non-imigran (misalnya B-1/B-2 untuk turis, F-1 untuk pelajar, atau H-1B untuk pekerja profesional) dan kemudian mengajukan permohonan suaka. Status visa awal mereka memberikan mereka izin sementara untuk berada di AS, tetapi proses suaka dapat memakan waktu bertahun-tahun, selama itu mereka biasanya diizinkan untuk tinggal.
Departemen Luar Negeri akan meninjau setiap kasus secara individual, meskipun dengan volume yang sangat besar. Jika visa seseorang dicabut, mereka mungkin kehilangan hak untuk bekerja, hak untuk memperbarui status mereka, dan bahkan berisiko dideportasi segera, terlepas dari status permohonan suaka mereka yang masih berlangsung. Proses ini dapat menciptakan kekacauan hukum dan logistik bagi para pencari suaka yang telah membangun kehidupan sementara di AS.
Implikasi Hukum, Kemanusiaan, dan Potensi Tantangan
Kebijakan ini memunculkan kekhawatiran serius dari segi hukum dan kemanusiaan. Para kritikus berpendapat bahwa mencabut visa seseorang sementara permohonan suaka mereka masih tertunda dapat melanggar prinsip non-refoulement, yang melarang negara mengembalikan seseorang ke negara di mana mereka kemungkinan besar menghadapi penganiayaan. Prinsip ini adalah landasan hukum suaka internasional dan telah menjadi bagian dari hukum AS.
Organisasi hak asasi manusia dan kelompok advokasi imigran secara luas mengutuk langkah ini, menyebutnya sebagai tindakan kejam yang menargetkan individu yang rentan mencari perlindungan. Mereka memproyeksikan bahwa langkah ini akan menyebabkan pemisahan keluarga lebih lanjut, penderitaan yang tidak perlu, dan potensi pengembalian paksa ke kondisi berbahaya. Tantangan hukum terhadap kebijakan ini kemungkinan besar akan segera diajukan oleh kelompok-kelompok advokasi.
Sebagai contoh, kebijakan serupa di masa lalu seringkali menghadapi perlawanan keras dari pengadilan federal, yang kerap menganggap kebijakan tersebut melampaui wewenang eksekutif atau melanggar hak-hak konstitusional. Sebuah artikel dari The New York Times secara rinci membahas bagaimana administrasi Trump berulang kali berusaha membatasi akses ke suaka dan menghadapi serangkaian tuntutan hukum. Baca lebih lanjut tentang kebijakan suaka Trump di sini.
Reaksi dan Masa Depan Kebijakan Imigrasi
Reaksi terhadap kebijakan ini terpecah belah sesuai garis politik. Pendukung administrasi Trump melihatnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menegakkan kedaulatan perbatasan dan mencegah apa yang mereka anggap sebagai penyalahgunaan sistem. Sebaliknya, oposisi politik dan masyarakat sipil mengecam keras langkah ini sebagai tidak manusiawi dan melanggar nilai-nilai dasar Amerika.
Masa depan bagi sekitar 200.000 pemegang visa ini masih sangat tidak pasti. Gelombang pembatalan dapat memicu kekacauan di pengadilan imigrasi, menciptakan backlog kasus yang lebih besar, dan menempatkan ribuan orang dalam limbo hukum dan eksistensial. Kebijakan ini tidak hanya akan mengubah lanskap imigrasi AS, tetapi juga akan terus memicu perdebatan sengit tentang identitas dan nilai-nilai negara tersebut.
Pemerintah
Singapura Jamin Dukungan Finansial Komprehensif: Setiap Anak Terima S$70.000 Hingga Dewasa
SINGAPURA – Pemerintah Singapura menegaskan komitmennya terhadap masa depan generasi muda dengan mengalokasikan dukungan finansial komprehensif bagi setiap anak. Secara kumulatif, setiap anak di negara kota ini diperkirakan akan menerima bantuan pemerintah senilai hampir S$70.000 (sekitar RM227.500) sepanjang periode pertumbuhan mereka, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memberikan dukungan keuangan berkelanjutan tanpa memandang urutan kelahiran anak dalam keluarga.
Angka S$70.000 ini bukanlah pembayaran tunggal, melainkan total akumulasi dari berbagai skema bantuan yang diberikan pemerintah mulai dari kelahiran hingga anak mencapai usia dewasa. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan holistik Singapura dalam berinvestasi pada sumber daya manusia (SDM) dan memastikan setiap warga negara memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang, sekaligus meringankan beban finansial keluarga dalam membesarkan anak.
Komponen Bantuan dan Bentuk Dukungan
Dukungan finansial yang mencapai S$70.000 per anak ini terwujud melalui serangkaian program dan subsidi yang saling terkait. Program-program ini dirancang untuk menyokong keluarga di berbagai tahapan kehidupan anak. Beberapa komponen utamanya meliputi:
- Hibah Tunai Kelahiran (Baby Bonus Cash Gift): Dana langsung yang diberikan kepada orang tua setelah kelahiran anak, membantu menutupi biaya awal.
- Akun Pengembangan Anak (Child Development Account – CDA): Sebuah akun khusus yang menerima kontribusi pemerintah (dollar-for-dollar matching) untuk biaya kesehatan, pendidikan prasekolah, dan perawatan anak. Dana di CDA dapat digunakan untuk berbagai layanan esensial.
- Subsidi Perawatan Anak dan Prasekolah: Mengurangi biaya bulanan untuk penitipan anak dan pendidikan anak usia dini, memastikan aksesibilitas bagi semua lapisan masyarakat.
- Subsidi Pendidikan: Melalui sistem pendidikan yang sangat disubsidi, pemerintah menanggung sebagian besar biaya sekolah dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, menjadikan pendidikan berkualitas terjangkau.
- Dukungan Kesehatan: Subsidi untuk perawatan medis, imunisasi, dan skrining kesehatan rutin, memastikan kesehatan anak terjaga sejak dini.
- Cuti Orang Tua dan Hibah Perumahan: Dukungan tidak langsung berupa cuti berbayar bagi orang tua baru dan hibah perumahan yang memprioritaskan keluarga dengan anak, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membesarkan keluarga.
Berbagai bentuk bantuan ini merupakan upaya pemerintah untuk membangun jaring pengaman sosial yang kuat, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi keluarga, mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencapai potensi penuhnya.
Investasi Jangka Panjang untuk Generasi Mendatang
Kebijakan pro-anak Singapura ini tidak hanya sekadar memberikan bantuan finansial, melainkan juga merupakan sebuah investasi strategis jangka panjang bagi masa depan negara. Dengan tingkat kelahiran yang terus menurun dan populasi yang menua, pemerintah menyadari pentingnya mendorong pertumbuhan keluarga dan memastikan keberlanjutan angkatan kerja serta kapasitas inovasi. Dukungan berkelanjutan ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran finansial yang seringkali menjadi penghalang bagi pasangan untuk memiliki lebih banyak anak.
Pendekatan ini juga bertujuan untuk memperkuat mobilitas sosial. Dengan memberikan akses yang setara terhadap pendidikan dan layanan kesehatan berkualitas, pemerintah berupaya memutus siklus kemiskinan antar generasi dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Setiap anak Singapura dipandang sebagai aset nasional yang berharga, dan investasi dalam perkembangan mereka adalah kunci untuk menjaga daya saing global dan stabilitas sosial Singapura.
Menghubungkan Kebijakan Lalu dan Keberlanjutan
Angka kumulatif S$70.000 ini merupakan akumulasi dari berbagai skema dukungan keluarga yang telah lama menjadi pilar kebijakan sosial Singapura, yang terus diperbarui dan diperkuat dalam setiap anggaran negara. Ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari komitmen pemerintah yang berkesinambungan untuk mendukung keluarga dan kelahiran. Sebagai contoh, program Baby Bonus Scheme dan Child Development Account (CDA) yang sudah berjalan puluhan tahun menjadi bukti konkret dari investasi jangka panjang ini. Setiap pengumuman anggaran baru seringkali memperkenalkan peningkatan atau perluasan skema-skema ini, menandakan adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Meskipun demikian, keberlanjutan dukungan finansial sebesar ini menuntut pengelolaan fiskal yang prudent dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Pemerintah Singapura secara konsisten menekankan pentingnya menyeimbangkan pengeluaran sosial dengan pendapatan negara agar program-program penting seperti ini dapat terus berjalan dalam jangka panjang. Diskusi publik tentang bagaimana pemerintah akan mendanai peningkatan pengeluaran sosial di tengah tantangan demografi dan ekonomi global menjadi relevan, menunjukkan bahwa komitmen ini bukan tanpa tantangan.
Secara keseluruhan, paket dukungan finansial S$70.000 per anak adalah manifestasi dari visi Singapura untuk menjadi negara yang ramah keluarga, di mana setiap anak diberikan kesempatan terbaik untuk tumbuh dan berkembang. Ini adalah janji investasi dalam sumber daya manusia paling berharga—generasi penerus negara.
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Ekspor: Ratusan Kapal Harian Dipantau Lewat Integrasi Data Lintas Kementerian
Pemerintah Indonesia secara agresif memperkuat sistem pengawasan aktivitas ekspor nasional melalui integrasi data lintas kementerian. Langkah ini dilakukan mengingat setiap harinya, setidaknya 100 kapal berlayar membawa berbagai produk menuju pasar internasional. Volume pergerakan yang masif ini sebelumnya menjadi tantangan besar dalam memantau secara komprehensif, sehingga rentan terhadap praktik tidak terpantau yang merugikan negara.
Inisiatif terbaru ini melibatkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea Cukai) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam sebuah ekosistem data terpadu. Sistem ini dirancang untuk menciptakan visibilitas penuh terhadap setiap kapal ekspor, mulai dari asal barang, jenis komoditas, hingga destinasi akhir. Tujuannya adalah memastikan setiap transaksi ekspor berjalan sesuai regulasi, memberikan kontribusi optimal bagi penerimaan negara, dan sekaligus menekan potensi penyelundupan serta praktik ilegal lainnya yang selama ini luput dari pengawasan. Integrasi ini menjadi krusial untuk mencegah kebocoran potensi pendapatan negara dan menjamin kepatuhan seluruh pelaku usaha pada aturan yang berlaku.
Urgensi Integrasi Data dalam Pengawasan Ekspor
Selama ini, pemantauan aktivitas ekspor yang fragmentasi menjadi celah bagi berbagai penyimpangan. Dengan ratusan kapal yang berangkat setiap hari, data yang tidak terhubung antarinstansi membuat pemerintah kesulitan untuk mendapatkan gambaran utuh. Kondisi ini bukan hanya menciptakan risiko fiskal, tetapi juga menghambat kemampuan pemerintah dalam menganalisis tren perdagangan, merumuskan kebijakan yang responsif, serta memastikan produk ekspor Indonesia memenuhi standar internasional.
Integrasi data antara Bea Cukai dan ESDM menjadi sangat strategis. Bea Cukai memiliki mandat dalam pengawasan keluar masuk barang dan pemungutan bea, sementara ESDM berperan penting dalam komoditas energi dan mineral yang seringkali menjadi tulang punggung ekspor nasional. Dengan menyatukan informasi dari kedua entitas ini, pemerintah kini mampu melakukan:
- Verifikasi Dokumen Lintas Sektor: Memastikan konsistensi antara dokumen ekspor dari Bea Cukai dengan izin atau kuota yang dikeluarkan oleh ESDM, terutama untuk komoditas seperti batu bara, nikel, atau minyak sawit.
- Pelacakan Real-time: Memungkinkan pemantauan pergerakan kapal dan muatan secara lebih akurat, mengurangi risiko pengalihan rute atau perubahan kargo ilegal di tengah jalan.
- Analisis Risiko yang Lebih Akurat: Mengidentifikasi pola-pola mencurigakan atau anomali dalam data ekspor yang dapat mengindikasikan pelanggaran.
Manfaat Jangka Panjang untuk Ekonomi Nasional
Optimalisasi pengawasan ekspor melalui sistem terintegrasi ini diharapkan membawa sejumlah manfaat signifikan bagi perekonomian nasional dalam jangka panjang. Langkah ini bukan hanya tentang penindakan, tetapi juga tentang pembangunan ekosistem perdagangan yang lebih sehat dan transparan. Dampak positif yang diantisipasi meliputi:
- Peningkatan Penerimaan Negara: Dengan meminimalkan praktik *under-invoicing* dan penyelundupan, potensi penerimaan negara dari sektor ekspor dapat dimaksimalkan.
- Peningkatan Transparansi dan Akuntabilitas: Membangun kepercayaan investor dan mitra dagang internasional terhadap kredibilitas sistem perdagangan Indonesia.
- Data Akurat untuk Kebijakan: Menyediakan data yang lebih solid dan *real-time* bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan ekspor yang adaptif dan pro-pertumbuhan, serta mitigasi risiko fluktuasi harga komoditas global.
- Pencegahan Kerusakan Lingkungan: Khusus untuk komoditas mineral dan energi, pengawasan terintegrasi dapat memastikan praktik penambangan dan ekspor yang bertanggung jawab sesuai standar lingkungan.
- Peningkatan Reputasi Perdagangan: Indonesia akan semakin dikenal sebagai negara dengan tata kelola perdagangan yang baik, menarik lebih banyak investasi dan kemitraan.
Tantangan Implementasi dan Harapan ke Depan
Meski menjanjikan, implementasi sistem pengawasan terintegrasi ini bukan tanpa tantangan. Standardisasi format data dari berbagai sumber, interoperabilitas sistem teknologi informasi, serta kebutuhan akan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di instansi terkait menjadi beberapa aspek krusial yang harus terus diatasi. Keamanan siber juga menjadi prioritas utama untuk melindungi data sensitif yang terintegrasi.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari komitmen pemerintah dalam upaya digitalisasi birokrasi dan peningkatan efisiensi pelayanan publik, sebagaimana seringkali ditekankan dalam berbagai kesempatan. Ini juga selaras dengan arahan untuk menciptakan iklim investasi dan perdagangan yang lebih kondusif dan kompetitif di era digital. Pemerintah menegaskan bahwa sistem ini akan terus dikembangkan dan disempurnakan untuk menghadapi dinamika perdagangan global yang kian kompleks. Informasi lebih lanjut mengenai regulasi ekspor dapat diakses melalui portal resmi pemerintah, seperti situs Bea Cukai Indonesia [Bea Cukai]. Inisiatif ini menandai babak baru dalam upaya Indonesia mengoptimalkan potensi ekspornya sambil memastikan kepatuhan dan keberlanjutan.
-
Daerah5 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Teknologi6 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Daerah6 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah6 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Hukum & Kriminal6 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga6 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah5 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoNadiem Makarim Alih Status Tahanan Rumah Mulai 2026: Putusan Kontroversial Majelis Hakim
