Daerah
PSEL Kaltim: Langkah Strategis Kalimantan Timur Menuju Energi Terbarukan dan Pengelolaan Sampah Modern
SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) secara serius dan terukur mempercepat realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Inisiatif strategis ini digadang sebagai jawaban komprehensif terhadap tantangan menumpuknya limbah domestik di kawasan aglomerasi, sekaligus pilar utama dalam mendukung transisi menuju kemandirian energi terbarukan di jantung Nusantara. Pemprov Kaltim aktif mematangkan berbagai aspek proyek PSEL, menunjukkan komitmen nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Urgensi PSEL: Mengatasi Krisis Sampah di Wilayah Aglomerasi
Laju urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur, khususnya di kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan, telah menyebabkan peningkatan volume sampah yang signifikan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada kini menghadapi tekanan kapasitas yang luar biasa, memunculkan masalah lingkungan serius mulai dari pencemaran tanah dan air hingga emisi gas metana yang berkontribusi pada perubahan iklim. Kondisi ini menuntut sebuah solusi radikal dan terintegrasi.
- Overload TPA: Sebagian besar TPA di Kaltim sudah mendekati atau bahkan melebihi kapasitas desainnya, mengancam daya dukung lingkungan.
- Ancaman Kesehatan Publik: Tumpukan sampah menjadi sarang penyakit dan mengurangi kualitas hidup masyarakat sekitar.
- Dampak Lingkungan: Emisi gas rumah kaca dari pembusukan sampah di TPA merupakan kontributor signifikan terhadap jejak karbon provinsi.
- Kebutuhan Infrastruktur Modern: PSEL diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara drastis, memperpanjang usia TPA, atau bahkan menggantikannya.
Proyek PSEL hadir sebagai harapan baru. Dengan teknologi yang mampu mengubah sampah menjadi sumber energi, Kaltim tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari masalah yang selama ini membebani.
PSEL Bukan Sekadar Pengolah Sampah: Jembatan Menuju Energi Bersih
Klasifikasi PSEL sebagai bagian dari energi terbarukan memang seringkali menjadi perdebatan, terutama terkait dengan emisi yang dihasilkan. Namun, dari perspektif manajemen limbah, PSEL menawarkan keuntungan ganda: mengatasi masalah sampah sekaligus menyumbang pada bauran energi nasional. Bagi Kaltim, PSEL adalah bagian integral dari visi pembangunan hijau, terutama dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung konsep kota hutan dan net-zero emission.
Pemprov Kaltim melihat PSEL sebagai komponen penting dalam strategi energi yang lebih luas. Melalui proyek ini, daerah tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menunjukkan komitmennya terhadap praktik ekonomi sirkular. Energi listrik yang dihasilkan PSEL dapat disalurkan ke jaringan listrik lokal, mendukung kebutuhan energi industri dan rumah tangga.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan dukungan kuat terhadap proyek PSEL melalui berbagai regulasi, salah satunya adalah Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Ini menunjukkan bahwa PSEL adalah prioritas nasional dalam penanganan sampah dan energi.
Progres dan Tantangan Implementasi PSEL Kaltim
Proses ‘mematangkan proyek’ PSEL di Kaltim melibatkan serangkaian studi kelayakan komprehensif, mulai dari aspek teknis, finansial, lingkungan, hingga sosial. Pemerintah Provinsi Kaltim secara aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, investor potensial, dan masyarakat lokal, untuk memastikan keberlanjutan proyek.
Beberapa poin penting dalam progres proyek ini meliputi:
- Studi Kelayakan: Menganalisis potensi volume sampah, pemilihan teknologi yang sesuai, dan estimasi biaya investasi.
- Pemilihan Lokasi: Menentukan lokasi yang strategis, memiliki akses infrastruktur memadai, dan meminimalkan dampak sosial.
- Model Investasi: Menjajaki skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau model investasi lainnya untuk menarik mitra swasta.
- Regulasi dan Perizinan: Memastikan semua izin dan regulasi terpenuhi sesuai standar nasional dan internasional.
Namun, implementasi proyek PSEL tidak lepas dari tantangan signifikan. Biaya investasi yang tinggi, kebutuhan akan teknologi canggih yang berkelanjutan, serta isu penerimaan publik menjadi perhatian utama. Kaltim belajar dari pengalaman proyek PSEL di daerah lain yang menghadapi kendala serupa. Oleh karena itu, pendekatan yang transparan dan partisipatif menjadi kunci sukses.
Kaltim juga perlu memastikan bahwa proyek PSEL ini selaras dengan komitmennya terhadap pembangunan IKN Nusantara yang berkelanjutan, sebagaimana yang telah sering digaungkan dalam berbagai forum terkait visi IKN sebagai kota rendah karbon dan hijau.
Dampak Multisektoral dan Harapan Masa Depan
Dampak pembangunan PSEL diharapkan meluas ke berbagai sektor. Secara lingkungan, proyek ini akan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, menekan emisi gas metana, dan mengurangi polusi. Dari sisi ekonomi, PSEL akan menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan menyediakan sumber energi yang stabil. Secara sosial, lingkungan yang bersih akan meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa PSEL hanyalah satu bagian dari solusi pengelolaan sampah yang holistik. Pendekatan reduce, reuse, recycle (3R) harus tetap menjadi prioritas utama. PSEL berfungsi sebagai opsi terakhir untuk sampah yang memang tidak dapat diolah lebih lanjut. Dengan demikian, Kaltim tidak hanya membangun infrastruktur modern, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Pematangan proyek PSEL ini adalah sinyal kuat bahwa Kalimantan Timur serius dalam menghadapi tantangan lingkungan dan energi di era modern. Dengan perencanaan matang dan eksekusi yang cermat, PSEL dapat menjadi mercusuar inovasi dan keberlanjutan bagi wilayah lain di Indonesia.
Daerah
Trauma Berlapis Perempuan Aceh: Pilu Penyintas Tsunami 2004 Hadapi Bencana 2025
Trauma Berlapis Perempuan Aceh: Pilu Penyintas Tsunami 2004 Hadapi Bencana 2025
Enam bulan setelah serangkaian bencana banjir dan longsor hebat melanda Aceh pada November 2025, gema penderitaan masih terasa sangat kuat, terutama di kalangan perempuan penyintas. Sejumlah perempuan di provinsi ujung barat Sumatra ini, yang puluhan tahun lalu selamat dari keganasan tsunami 2004, kini harus kembali menghadapi cobaan berat. Trauma lama yang nyaris terkubur kini muncul ke permukaan, diperparah oleh kehancuran yang ditimbulkan bencana terkini. “Masih trauma kali. Mau hujan, mau air pasang, saya tidak bisa tidur,” ungkap seorang perempuan dengan nada lirih, menggambarkan betapa rapuhnya ketenangan yang coba mereka bangun kembali.
Bencana banjir dan longsor pada akhir tahun 2025 lalu menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah, merendam ribuan rumah, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Air bah menerjang tanpa ampun, membawa serta lumpur dan puing-puing yang meluluhlantakkan desa-desa. Bagi banyak perempuan di Aceh, musibah ini bukan sekadar kehilangan materi, melainkan juga pemicu rasa sakit, kehilangan, dan ketidakpastian yang pernah mereka alami dua dekade lalu. Ketidakmampuan untuk tidur nyenyak setiap kali hujan deras mengguyur atau air laut pasang adalah cerminan nyata dari luka psikologis yang belum sembuh total dan kini kembali menganga.
Bayang-bayang Bencana Ganda yang Menghantui
Kisah pilu perempuan-perempuan Aceh ini menggarisbawahi dampak kompleks dan berlapis dari bencana alam. Pada tahun 2004, tsunami memorakporandakan sebagian besar wilayah pesisir Aceh, menelan korban jiwa ratusan ribu orang, dan meninggalkan jejak trauma mendalam. Proses pemulihan fisik dan mental pasca-tsunami berlangsung sangat panjang dan penuh tantangan. Banyak perempuan kehilangan suami, anak, orang tua, serta seluruh harta benda mereka. Mereka membangun kembali hidup dari nol, dengan keberanian dan ketangguhan luar biasa. Namun, memori pahit itu tidak pernah benar-benar hilang.
Kini, hantaman banjir dan longsor 2025 seolah menjadi pengulangan skenario buruk. Suara gemuruh air, genangan lumpur, dan pemandangan puing-puing memicu kilas balik mengerikan. Psikolog dan aktivis kemanusiaan di lapangan melaporkan peningkatan kasus gangguan kecemasan, depresi, dan sindrom stres pascatrauma (PTSD) di kalangan perempuan yang menjadi penyintas ganda. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ketiadaan rasa aman kembali merenggut kedamaian hati masyarakat, terutama kaum perempuan yang sering kali menjadi garda terdepan dalam menjaga keluarga.
Luka Lama yang Kembali Terbuka
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukanlah garis finis, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan dukungan sistematis. Ketika bencana baru datang, ia tidak hanya menciptakan kerusakan baru, tetapi juga membuka kembali luka lama. Gejala trauma yang muncul di antaranya adalah:
- Kesulitan tidur dan mimpi buruk.
- Kecemasan berlebihan saat cuaca buruk atau air pasang.
- Fobia terhadap air atau suara hujan deras.
- Perasaan tidak berdaya dan putus asa.
- Kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
- Masalah kesehatan fisik yang diperparah oleh stres.
Bagi perempuan di Aceh, beban ini seringkali berlipat ganda. Mereka tidak hanya harus mengatasi trauma pribadi, tetapi juga bertanggung jawab atas pemulihan keluarga, merawat anak-anak, dan mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar di tengah ketidakpastian. Kekuatan mereka memang luar biasa, tetapi ada batasnya. Komunitas internasional dan pemerintah daerah perlu memahami dimensi trauma ganda ini dan menyusun strategi penanganan yang holistik dan berkelanjutan. Untuk memahami lebih dalam dampak psikologis jangka panjang dari tragedi serupa, Anda bisa membaca laporan mengenai pemulihan pasca-tsunami 2004 di Aceh.
Perjuangan dan Kebutuhan Mendesak
Melihat kondisi ini, kebutuhan akan dukungan psikososial dan layanan kesehatan mental menjadi sangat mendesak. Program-program pemulihan pascabencana tidak cukup hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mengintegrasikan komponen kesehatan mental yang kuat, terutama untuk kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Edukasi mengenai trauma, mekanisme koping yang sehat, serta akses mudah ke konseling dan terapi adalah kunci. Selain itu, penguatan kapasitas komunitas lokal untuk merespons bencana dan membangun ketahanan diri juga sangat penting agar dampak trauma berulang dapat diminimalisir.
Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat perlu bekerja sama secara sinergis untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi para penyintas. Ini termasuk memastikan ketersediaan tempat tinggal yang layak dan aman, akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta dukungan mata pencarian agar mereka dapat kembali mandiri. Dengan demikian, perempuan-perempuan Aceh tidak hanya akan pulih secara fisik, tetapi juga secara mental, mengukuhkan kembali harapan untuk masa depan yang lebih tenang dan tanpa bayang-bayang trauma berkepanjangan.
Daerah
Duka Mendalam Keluarga Amirul Hafiz: Anak Terluka Psikis, Balu Ungkap Keinginan Mengakhiri Hidup
Kematian penghantar barang Amirul Hafiz Omar dalam kemalangan tragis di Jalan Raya Barat pada Maret lalu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam yang tak tersembuhkan bagi keluarganya. Insiden ini, seperti yang dilaporkan sebelumnya, telah mengubah total lanskap kehidupan balunya serta ketiga anaknya yang masih kecil, memaksa mereka berjuang keras melanjutkan hidup di tengah badai duka dan keterbatasan finansial. Namun, dampak terberat tragedi ini kini mulai terlihat jelas pada kondisi psikologis anak-anak, dengan salah seorang di antaranya bahkan menyatakan keinginan fatal untuk mengakhiri hidup.
### Duka yang Tak Berkesudahan bagi Keluarga Amirul Hafiz
Sejak kepergian Amirul Hafiz, balunya telah menjadi tulang punggung tunggal bagi ketiga buah hati mereka yang masih dalam usia rentan. Beban ekonomi dan emosional yang ditanggung sangatlah berat. Kehilangan sosok ayah dan pencari nafkah utama secara mendadak menciptakan jurang kehampaan yang sulit diisi, baik secara materi maupun spiritual. Keluarga ini kini menghadapi tantangan finansial yang serius, berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah absennya pendapatan tetap yang dulu dibawa oleh Amirul Hafiz.
Keterpurukan ini bukan hanya sekadar kesulitan materi, melainkan juga meresap jauh ke dalam sanubari setiap anggota keluarga. Setiap hari menjadi pengingat akan kepergian yang tak terhindarkan, memicu rentetan emosi kompleks yang silih berganti. Balu Amirul Hafiz berusaha tegar, namun ia pun merasakan betapa beratnya memikul tanggung jawab ganda, sembari bergulat dengan dukanya sendiri dan trauma anak-anaknya.
### Rasa Bersalah dan Keinginan Fatal Anak-anak
Yang paling memilukan adalah dampak psikologis pada anak-anak. Salah satu dari mereka, yang masih sangat muda, mulai menunjukkan gejala trauma berat. “Dia asyik menyalahkan diri sendiri,” ungkap balu Amirul Hafiz dengan nada getir, “dia kata lebih rela mati.” Pernyataan ini menjadi alarm keras akan kondisi mental sang anak yang sudah mencapai titik kritis. Anak tersebut merasa bersalah atas peristiwa yang terjadi, sebuah reaksi umum pada anak-anak yang kehilangan orang tua secara traumatis, di mana mereka sering kali mencari penyebab dan terkadang menyalahkan diri sendiri, sekalipun tidak ada dasar logisnya.
Perasaan kehilangan dan ketidakberdayaan ini bisa memicu pemikiran fatalistik pada anak-anak yang belum memiliki mekanisme koping yang matang. Pernyataan ingin mati bukan sekadar ungkapan kesedihan biasa; ini adalah indikasi jelas bahwa anak tersebut sedang mengalami penderitaan emosional yang luar biasa, mungkin depresi, dan membutuhkan intervensi profesional segera. Tanpa penanganan yang tepat, trauma ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap perkembangan psikologis dan emosional mereka.
### Mencari Dukungan dan Harapan di Tengah Kegelapan
Kisah keluarga Amirul Hafiz menyoroti urgensi dukungan komprehensif bagi korban kecelakaan maut, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Dukungan ini tidak hanya terbatas pada bantuan finansial, tetapi juga mencakup pendampingan psikologis dan emosional yang berkelanjutan. Masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah memiliki peran krusial dalam menyediakan jaringan pengaman bagi keluarga-keluarga yang menghadapi krisis serupa. Mengabaikan aspek kesehatan mental anak-anak yang berduka dapat menciptakan masalah sosial yang lebih besar di masa depan.
Penting bagi keluarga ini, dan keluarga lain dengan pengalaman serupa, untuk mencari bantuan profesional. Terapi dan konseling dapat membantu anak-anak memproses duka mereka, memahami emosi yang kompleks, dan mengembangkan strategi koping yang sehat. Kementerian Kesehatan Malaysia juga menyediakan berbagai sumber daya dan program dukungan kesehatan mental yang dapat diakses oleh masyarakat. Informasi lebih lanjut mengenai layanan kesehatan mental dapat ditemukan di situs resmi Kementerian Kesehatan Malaysia.
Harapan untuk bangkit memang berat, namun bukan tidak mungkin. Dengan empati dari lingkungan sekitar, bantuan profesional, dan ketahanan keluarga, balu Amirul Hafiz serta anak-anaknya memiliki peluang untuk secara bertahap menyembuhkan luka dan membangun kembali kehidupan mereka. Kisah ini adalah pengingat pahit bahwa di balik setiap berita kecelakaan, ada nyawa-nyawa yang berubah selamanya, dan banyak di antaranya membutuhkan uluran tangan kita untuk sekadar bisa melanjutkan nafas.
Daerah
Aksi Heroik Tuan Nurhan di Kuantan: Viral Bantu Ambulans Bawa Pasien, Inspirasi Keselamatan Jalan Raya
Pujian dan apresiasi mengalir deras untuk Tuan Nurhan, seorang warga Kuantan, setelah aksi sigapnya membantu ambulans yang membawa pasien vital melintas di tengah kepadatan lalu lintas menjadi viral di media sosial. Tindakan tanpa pamrih ini tidak hanya memudahkan perjalanan tim medis, tetapi juga menginspirasi ribuan pengguna jalan lainnya untuk lebih peka terhadap hak prioritas kendaraan darurat.
Pada insiden yang terjadi baru-baru ini, Tuan Nurhan, dengan cepat mengambil inisiatif untuk mengawal dan membuka jalan bagi sebuah ambulans yang tampaknya kesulitan menembus arus kendaraan. Ia terlihat bergerak di depan ambulans, memberikan isyarat kepada pengemudi lain untuk memberi ruang, memastikan ambulans dapat melaju tanpa hambatan yang berarti. Keberanian dan kecepatan reaksinya mendapat sorotan luas, menjadi contoh nyata bagaimana satu individu dapat membuat perbedaan signifikan dalam situasi kritis.
Pesan Ibu yang Menginspirasi Setiap Langkah
Dalam wawancara singkat yang beredar, Tuan Nurhan mengungkapkan bahwa tindakannya didasari oleh prinsip hidup yang ditanamkan oleh ibunya, Rozita Mohd Gazali, 49 tahun. “Saya berpegang dengan pesanan emak, sentiasa mudahkan urusan orang lain dan itu yang cuba saya lakukan semalam tanpa terfikir apa dilakukan itu akan mendapat perhatian ramai,” ujarnya merendah. Pesan sederhana namun mendalam ini menjadi fondasi bagi kepribadian Tuan Nurhan yang peduli terhadap sesama. Semangat untuk selalu ‘mempermudah urusan orang lain’ menjadi cerminan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat dan patut diteladani.
Kisah ini tidak hanya menyoroti kebaikan hati individu, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menanamkan nilai-nilai moral dan empati sejak dini. Didikan orang tua yang mengajarkan kepedulian sosial terbukti dapat membentuk karakter yang responsif terhadap kebutuhan lingkungan sekitar, terutama dalam keadaan darurat.
Pentingnya Prioritas Ambulans dan Kesadaran Pengemudi
Insiden seperti yang dilakukan Tuan Nurhan ini secara tidak langsung mengangkat kembali diskusi tentang pentingnya kesadaran dan tanggung jawab pengemudi dalam memberi prioritas kepada kendaraan darurat. Setiap detik sangat berharga ketika ambulans sedang dalam perjalanan membawa pasien yang membutuhkan pertolongan medis segera. Keterlambatan sekecil apa pun bisa memiliki konsekuensi fatal.
Aturan lalu lintas secara jelas telah menetapkan hak prioritas bagi kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan polisi, terutama saat mereka membunyikan sirene atau menyalakan lampu isyarat khusus. Namun, di lapangan, masih sering ditemukan kasus di mana pengemudi lain gagal atau lambat dalam merespons, seringkali karena kurangnya pemahaman atau perhatian terhadap situasi sekitar.
Kasus serupa yang melibatkan partisipasi warga membantu kendaraan darurat bukan hal baru di Malaysia. Beberapa tahun lalu, publik juga dihebohkan dengan video pengendara motor yang mengawal pemadam kebakaran, menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih kental di tengah masyarakat kita. Kejadian ini harus menjadi pengingat kolektif bagi semua pengguna jalan untuk memahami dan mematuhi aturan prioritas demi keselamatan bersama.
Berikut beberapa panduan penting saat menghadapi kendaraan darurat di jalan:
- Tetap Tenang dan Perhatikan: Segera setelah mendengar sirene atau melihat lampu isyarat, perhatikan arah datangnya kendaraan darurat.
- Beri Ruang Aman: Bergeraklah ke sisi kiri atau kanan jalan yang paling aman dan memungkinkan, berhenti jika perlu, untuk memberikan jalur yang jelas.
- Hindari Pengereman Mendadak: Lakukan pergerakan secara bertahap dan aman untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan di belakang Anda.
- Jangan Mengikuti Terlalu Dekat: Setelah kendaraan darurat melintas, jangan mencoba mengikutinya untuk menghindari kemacetan. Beri jarak yang aman.
- Pahami Situasi: Jika Anda berada di persimpangan lampu merah, prioritaskan kendaraan darurat bahkan jika itu berarti melanggar lampu lalu lintas untuk sementara waktu (lakukan dengan hati-hati dan aman).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai peraturan lalu lintas dan prioritas kendaraan darurat, Anda dapat merujuk pada undang-undang jalan raya setempat, seperti yang diatur oleh Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ) Malaysia.
Reaksi Publik dan Apresiasi
Video aksi Tuan Nurhan yang tersebar luas di berbagai platform media sosial segera memicu gelombang komentar positif dan ucapan terima kasih dari warganet. Banyak yang memuji kepeduliannya dan menyebutnya sebagai ‘wira jalan raya’ atau ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Kisah ini menjadi angin segar di tengah berbagai berita negatif, mengingatkan kita bahwa masih banyak individu berhati mulia di sekitar kita yang siap membantu tanpa pamrih.
Semoga aksi Tuan Nurhan ini dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kesadaran dan etika berlalu lintas di jalan raya, mendorong setiap individu untuk lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap keselamatan bersama.
-
Daerah2 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah3 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah3 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi3 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Olahraga3 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Pemerintah3 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Hukum & Kriminal3 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
