Connect with us

Pemerintah

DPR AS Sahkan RUU Imigrasi $70 Miliar, Kemenangan Besar Republik untuk Penegakan Hukum Imigrasi

Published

on

WASHINGTON – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) telah memberikan persetujuan akhir pada rancangan undang-undang (RUU) imigrasi yang sangat besar, mengalokasikan dana senilai $70 miliar atau sekitar Rp1.140 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS) untuk penegakan hukum imigrasi. Langkah signifikan ini merupakan kemenangan besar bagi Partai Republik dan kini RUU tersebut siap untuk ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, menjadikannya undang-undang yang berlaku hingga sisa masa jabatannya.

Pengesahan RUU ini menandai puncak dari serangkaian upaya Partai Republik untuk memperkuat perbatasan dan penegakan imigrasi di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan imigrasi negara tersebut. Dana jumbo ini bertujuan untuk membiayai berbagai aspek operasional penegakan imigrasi, mulai dari penambahan personel patroli perbatasan, peningkatan fasilitas detensi, hingga pengadaan teknologi pengawasan canggih. Ini adalah respons langsung terhadap janji-janji kampanye Presiden Trump yang berulang kali menyerukan kebijakan “batasan kuat” dan “Amerika Pertama”.

Fokus Utama dan Latar Belakang RUU Imigrasi

RUU imigrasi senilai $70 miliar ini, sering disebut sebagai “megabill” oleh para pengamat, dirancang untuk menyediakan pendanaan berkelanjutan bagi berbagai lembaga federal yang terlibat dalam penegakan imigrasi. Anggaran tersebut diharapkan akan dialokasikan untuk:

  • Perekrutan dan pelatihan ribuan agen Patroli Perbatasan baru.
  • Pembangunan dan peningkatan infrastruktur fisik di sepanjang perbatasan selatan, termasuk potensi perluasan dinding perbatasan.
  • Peningkatan kapasitas fasilitas detensi imigran.
  • Pengembangan dan implementasi teknologi pengawasan perbatasan, seperti drone, sensor, dan sistem identifikasi biometrik.
  • Penambahan hakim imigrasi dan staf pendukung untuk mempercepat proses deportasi dan mengurangi tumpukan kasus di pengadilan imigrasi.
  • Pendanaan untuk operasi penegakan hukum di dalam negeri yang menargetkan imigran tanpa dokumen.

Latar belakang pengesahan RUU ini tidak terlepas dari perdebatan panjang dan sering kali memanas di Kongres mengenai masalah imigrasi. Selama bertahun-tahun, isu imigrasi telah menjadi salah satu topik paling polarisasi dalam politik AS, dengan perbedaan tajam antara Partai Republik yang cenderung mendukung penegakan hukum yang lebih ketat dan Partai Demokrat yang sering menyerukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk jalur kewarganegaraan dan perlindungan bagi imigran tanpa dokumen. RUU ini merefleksikan prioritas Partai Republik untuk keamanan perbatasan sebagai inti dari kebijakan imigrasi yang mereka usung.

Reaksi Politik dan Kontroversi yang Menyertai

Pengesahan RUU ini disambut dengan pujian dari sebagian besar anggota Partai Republik, yang melihatnya sebagai pemenuhan janji kepada para pemilih mereka untuk mengamankan perbatasan. Mereka berpendapat bahwa dana sebesar ini sangat penting untuk mengatasi krisis di perbatasan dan menegakkan kedaulatan negara. Sejarah kebijakan imigrasi AS menunjukkan bahwa penegakan hukum selalu menjadi pilar penting, meskipun intensitas dan metodenya kerap berubah seiring pemerintahan.

Namun, Partai Demokrat dan berbagai organisasi hak asasi manusia menyuarakan keprihatinan serius. Mereka mengkritik RUU ini karena dianggap terlalu fokus pada penegakan hukum yang keras tanpa menawarkan solusi komprehensif untuk akar masalah imigrasi. Beberapa poin kontroversi yang diangkat meliputi:

  • Kekhawatiran tentang potensi pelanggaran hak asasi manusia di fasilitas detensi yang diperluas.
  • Biaya yang sangat besar, yang dipertanyakan efektivitasnya dalam jangka panjang.
  • Kurangnya jalur hukum yang memadai bagi pencari suaka dan imigran lainnya.
  • Potensi dampak negatif terhadap komunitas imigran yang sudah ada di AS.

Senator dari Partai Demokrat berpendapat bahwa pendekatan “penegakan hukum saja” ini gagal mengatasi kompleksitas masalah imigrasi dan dapat memperburuk ketegangan sosial. Mereka menyerukan perlunya reformasi imigrasi yang lebih menyeluruh, yang mencakup perlindungan bagi “Dreamers” (imigran muda yang dibawa ke AS saat kecil) dan penanganan penyebab migrasi dari negara-negara asal.

Dampak Potensial dan Masa Depan Kebijakan Imigrasi

Dengan RUU ini kini menunggu tanda tangan Presiden Trump, implikasinya diperkirakan akan sangat luas. Ini akan memberikan kekuasaan dan sumber daya finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada administrasi untuk menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih agresif. Langkah ini secara tidak langsung mengulang kembali fokus administrasi terhadap isu perbatasan, yang juga sempat memicu kebuntuan anggaran yang menyebabkan penutupan sebagian pemerintahan sebelumnya.

Bagi imigran dan komunitas imigran di AS, pengesahan RUU ini kemungkinan akan berarti peningkatan pengawasan, penangkapan, dan deportasi. Di sisi lain, para pendukung berargumen bahwa penegakan yang lebih ketat akan membawa ketertiban dan keamanan yang lebih besar. Keputusan akhir Presiden Trump untuk menandatangani RUU ini akan mengukuhkan warisan kebijakannya di bidang imigrasi dan membentuk arah kebijakan AS di masa mendatang, setidaknya hingga akhir masa jabatannya.

Para pengamat politik akan terus memantau bagaimana implementasi RUU ini akan berlangsung dan apakah janji-janji akan keamanan perbatasan yang lebih baik dapat dipenuhi tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Ini juga akan menjadi poin penting dalam kampanye politik mendatang, mengingat imigrasi tetap menjadi isu panas yang resonan di kalangan pemilih AS.

Pemerintah

Pemerintah Siapkan Digitalisasi Penyaluran Bansos Berbasis AI, Luhut: Jamin Akurasi Data dan Tepat Sasaran

Published

on

Pemerintah Siapkan Digitalisasi Penyaluran Bansos Berbasis AI, Luhut: Jamin Akurasi Data dan Tepat Sasaran

Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengumumkan langkah revolusioner pemerintah dalam mendigitalisasi penyaluran bantuan sosial (bansos) dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem identitas digital tunggal. Inisiatif ambisius ini dirancang untuk memastikan setiap bantuan yang disalurkan dapat tepat sasaran, efisien, dan bebas dari praktik penyelewengan yang kerap menjadi sorotan publik. Rencana ini menandai era baru dalam upaya pemerintah memberikan perlindungan sosial secara lebih akuntabel dan transparan.

Membedah Masalah Klasik Penyaluran Bansos

Isu ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran bansos telah menjadi permasalahan pelik yang berulang kali menghantui program-program kesejahteraan sosial di Indonesia. Data ganda, penerima yang tidak sesuai kriteria, hingga praktik birokrasi yang rumit seringkali memicu keluhan dari masyarakat dan menjadi topik hangat dalam berbagai pemberitaan sebelumnya. Fenomena ini tidak hanya merugikan negara dari segi anggaran, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap efektivitas program bantuan pemerintah. Banyak pihak menyoroti perlunya sistem yang lebih robust dan transparan untuk mengatasi celah-celah tersebut, yang pada akhirnya memicu gagasan tentang digitalisasi menyeluruh.

Permasalahan ini bukan hanya soal teknis, melainkan juga terkait dengan integritas data dan koordinasi antarlembaga. Verifikasi manual yang memakan waktu dan rentan manipulasi menjadi salah satu akar masalah. Dengan jumlah penduduk dan cakupan wilayah yang luas, Indonesia membutuhkan solusi inovatif yang dapat menyederhanakan proses sekaligus meningkatkan akurasi data penerima manfaat secara signifikan.

Peran Kecerdasan Buatan dan Identitas Digital Tunggal

Rencana digitalisasi bansos berbasis AI ini berpusat pada dua pilar utama: kecerdasan buatan dan identitas digital tunggal. Sistem identitas digital tunggal (digital single ID) akan berfungsi sebagai gerbang utama untuk memverifikasi dan mengidentifikasi penerima bansos secara unik. ID ini akan mengintegrasikan berbagai data kependudukan dan sosial dari berbagai sumber, menciptakan profil penerima yang komprehensif dan minim risiko duplikasi atau pemalsuan.

Sementara itu, teknologi AI akan memainkan peran krusial dalam menganalisis data besar (big data) yang terkumpul. AI akan digunakan untuk:

  • Deteksi Anomali: Mengidentifikasi pola-pola yang mencurigakan atau potensi kecurangan dalam data penerima.
  • Verifikasi Otomatis: Membandingkan data calon penerima dengan kriteria kelayakan secara otomatis dan cepat.
  • Prediksi Kebutuhan: Membantu pemerintah memprediksi kebutuhan bantuan di berbagai daerah, sehingga alokasi dapat dilakukan lebih proaktif.
  • Penyaringan Data Ganda: Secara otomatis membersihkan data ganda atau penerima yang sudah tidak memenuhi syarat.

Integrasi kedua teknologi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem penyaluran bansos yang jauh lebih cerdas, responsif, dan akurat, mengurangi intervensi manusia yang rentan kesalahan dan potensi korupsi.

Potensi Manfaat dan Tantangan Implementasi

Adopsi teknologi canggih dalam penyaluran bansos membawa potensi manfaat yang sangat besar, di antaranya:

  • Peningkatan Akurasi dan Efisiensi: Memastikan bantuan sampai ke tangan yang benar, mengurangi kebocoran anggaran.
  • Transparansi dan Akuntabilitas: Seluruh proses dapat dilacak secara digital, meningkatkan kepercayaan publik.
  • Pengurangan Birokrasi: Proses pengajuan dan verifikasi menjadi lebih cepat dan sederhana.
  • Respons Cepat Terhadap Krisis: Pemerintah dapat menyalurkan bantuan darurat dengan lebih tanggap saat terjadi bencana.
  • Basis Data Terintegrasi: Menciptakan data sosial yang lebih kuat untuk kebijakan pemerintah lainnya.

Namun, implementasi proyek sebesar ini juga tidak lepas dari tantangan signifikan:

  • Kesenjangan Digital: Tidak semua masyarakat, terutama di daerah terpencil, memiliki akses atau literasi digital yang memadai.
  • Isu Privasi Data dan Keamanan Siber: Perlindungan data pribadi penerima bansos harus menjadi prioritas utama.
  • Infrastruktur Teknologi: Membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur jaringan dan perangkat keras di seluruh Indonesia.
  • Perubahan Budaya dan Resistensi: Perlu edukasi dan sosialisasi masif untuk mengubah kebiasaan lama dan mengatasi resistensi.
  • Verifikasi Data Awal: Proses awal pembersihan dan integrasi data yang ada saat ini akan menjadi tugas yang sangat kompleks dan krusial.

Langkah Strategis Pemerintah Menuju Digitalisasi

Inisiatif digitalisasi bansos ini sejalan dengan visi pemerintah yang lebih luas untuk mewujudkan pemerintahan berbasis elektronik (e-government) dan program Satu Data Indonesia. Luhut Pandjaitan, sebagai salah satu motor penggerak transformasi digital di Indonesia, telah berulang kali menekankan pentingnya adopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan publik. Proyek ini bukan hanya tentang bansos, melainkan bagian dari upaya menyeluruh untuk modernisasi tata kelola pemerintahan.

Pemerintah diharapkan akan menyiapkan regulasi pendukung, melakukan pelatihan bagi aparat di lapangan, dan meluncurkan program sosialisasi intensif untuk memastikan transisi berjalan lancar. Kolaborasi antara Kementerian/Lembaga terkait, seperti Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Badan Pusat Statistik, akan menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini.

Implikasi Kebijakan Terhadap Masyarakat Luas

Bagi masyarakat penerima bansos, sistem baru ini diharapkan dapat menghadirkan kepastian dan kemudahan. Mereka tidak perlu lagi khawatir bantuan tidak sampai, atau harus melalui prosedur berbelit-belit. Dengan adanya identitas digital tunggal, proses verifikasi akan lebih cepat, mengurangi potensi antrean panjang atau pungutan liar. Di sisi lain, bagi pemerintah, ini adalah kesempatan untuk membangun basis data sosial yang lebih akurat, yang tidak hanya bermanfaat untuk bansos, tetapi juga untuk perencanaan pembangunan dan kebijakan publik lainnya.

Digitalisasi penyaluran bansos dengan dukungan AI merupakan langkah maju yang berani dari pemerintah. Jika berhasil diimplementasikan dengan baik, inisiatif ini tidak hanya akan memperbaiki sistem bantuan sosial, tetapi juga menjadi model bagi digitalisasi layanan publik lainnya di masa depan, mewujudkan Indonesia yang lebih transparan dan efisien.

Continue Reading

Pemerintah

Diplomasi Era Prabowo Dimulai: Dubes Negara Sahabat Siap Perkuat Kemitraan Strategis

Published

on

Istana Merdeka, yang menjadi pusat keputusan negara, kembali menjadi saksi dimulainya babak penting dalam perjalanan diplomasi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto, pada Selasa (9/6/2026), secara resmi menerima surat kepercayaan dari sejumlah duta besar negara sahabat. Momen krusial ini bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan simbol kuat dimulainya lembaran baru kerja sama global yang penuh optimisme. Para perwakilan negara asing tersebut secara serentak menyampaikan kesiapan mereka untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia di bawah kepemimpinan baru, mencerminkan harapan besar akan stabilitas dan peluang di era mendatang.

Penyerahan surat kepercayaan adalah ritual formal yang menandai pengakuan resmi seorang kepala negara terhadap kredensial seorang duta besar. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi sinyal awal bagi arah kebijakan luar negeri dan prioritas diplomatik pemerintahan yang baru. Para duta besar, mewakili negara-negara dengan kepentingan beragam di Indonesia, menunjukkan komitmen untuk tidak hanya melanjutkan, tetapi juga meningkatkan intensitas hubungan bilateral dan multilateral. Ini menandakan periode di mana Indonesia diharapkan akan memainkan peran yang semakin sentral dalam dinamika geopolitik dan geoekonomi regional maupun global.

### Membuka Lembaran Baru Diplomasi Indonesia

Menerima surat kepercayaan dari duta besar negara sahabat adalah salah satu tugas pertama seorang kepala negara dalam menegaskan kedaulatannya di panggung internasional. Bagi Presiden Prabowo, momen ini menjadi platform untuk mengukuhkan visi dan misinya terkait kebijakan luar negeri Indonesia. Optimisme yang disampaikan oleh para duta besar mencerminkan kepercayaan komunitas internasional terhadap kepemimpinan yang baru serta potensi besar yang dimiliki Indonesia.

Transisi kepemimpinan sering kali membawa harapan akan pendekatan segar dalam diplomasi. Pemerintahan Prabowo diharapkan dapat membangun di atas fondasi kuat yang telah diletakkan oleh administrasi sebelumnya, sembari memperkenalkan nuansa dan fokus baru yang relevan dengan tantangan global kontemporer. Sebagai contoh, mengingat komitmen Presiden Joko Widodo sebelumnya untuk menarik investasi asing dan mempromosikan infrastruktur berkelanjutan, langkah Prabowo ini diharapkan dapat melanjutkan dan bahkan memperluas jangkauan kerja sama tersebut, dengan penekanan pada:

* Peningkatan investasi: Menarik modal asing untuk sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, digitalisasi, dan hilirisasi sumber daya alam.
* Kerja sama multilateral: Memperkuat peran Indonesia dalam forum-forum global seperti G20, ASEAN, dan PBB untuk isu-isu krusial seperti perubahan iklim dan perdamaian dunia.
* Dialog strategis: Mengintensifkan komunikasi dengan negara-negara kunci untuk menjaga stabilitas regional dan keamanan maritim.
* Pertukaran budaya dan pendidikan: Mempererat hubungan antar masyarakat melalui program beasiswa, pariwisata, dan festival budaya.

### Prioritas Kemitraan Strategis di Bawah Kepemimpinan Baru

Optimisme yang disampaikan para duta besar tidak datang tanpa alasan. Indonesia, dengan pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta posisi geografisnya yang strategis, selalu menjadi mitra yang menarik bagi banyak negara. Di bawah kepemimpinan Prabowo, fokus pada peningkatan nilai tambah ekonomi domestik melalui hilirisasi dan pengembangan sektor industri maju diperkirakan akan menjadi daya tarik utama bagi mitra-mitra internasional. Hal ini selaras dengan tren global yang semakin menuntut ketahanan rantai pasok dan diversifikasi ekonomi.

Penguatan diplomasi ekonomi akan menjadi salah satu pilar utama. Selain itu, isu-isu keamanan regional, terutama di kawasan Indo-Pasifik, juga akan terus menjadi agenda penting. Kesiapan Indonesia untuk berkolaborasi dalam menjaga stabilitas dan keamanan di perairan strategis akan sangat dihargai oleh mitra-mitra yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Ini berarti adanya potensi peningkatan kerja sama dalam pertahanan, pertukaran informasi intelijen, dan latihan militer bersama yang bersifat defensif dan non-agresif.

### Menyikapi Optimisme: Peluang dan Tantangan Global

Meski optimisme menyelimuti awal babak baru diplomasi ini, perlu diakui bahwa jalan ke depan tidak luput dari tantangan. Dinamika geopolitik global yang kian kompleks, ditambah dengan ketidakpastian ekonomi dunia dan ancaman perubahan iklim, menuntut kebijakan luar negeri yang adaptif dan proaktif. Pemerintahan Prabowo akan dihadapkan pada tugas untuk menerjemahkan janji-janji kemitraan menjadi aksi konkret yang memberikan manfaat nyata bagi rakyat Indonesia.

Para duta besar, setelah menyerahkan surat kepercayaan mereka, kini memiliki mandat penuh untuk bekerja secara efektif di Jakarta. Tugas mereka adalah menjembatani kepentingan nasional negaranya dengan kepentingan Indonesia, mencari titik temu untuk kolaborasi yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, langkah awal yang positif ini harus diikuti dengan kerja keras diplomatik, negosiasi yang cerdas, dan implementasi program-program kerja sama yang terukur. Keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo dalam mengelola hubungan dengan negara-negara sahabat ini akan menjadi indikator penting bagi posisi Indonesia di mata dunia dan kemampuannya untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Untuk memahami lebih lanjut mengenai proses dan signifikansi diplomatik ini, pembaca dapat merujuk pada artikel kami sebelumnya tentang Makna Penyerahan Surat Kepercayaan Duta Besar di Indonesia.

Continue Reading

Pemerintah

Pengelola Bijaya Diraja Tegaskan Pemasyhuran Yang di-Pertuan Besar ke-12 di Melaka Tidak Diiktiraf

Published

on

Pemasyhuran Yang di-Pertuan Besar ke-12 di Melaka Dinyatakan Tidak Sah

Pengelola Bijaya Diraja Datuk Azizi Mohamad Ali dengan tegas menyatakan bahwa istiadat pemasyhuran Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan ke-12 yang berlangsung di sebuah hotel di Alor Gajah, Melaka pada Jumaat lalu adalah tidak sah dan tidak diiktiraf. Penegasan ini muncul menyusul laporan sebelumnya mengenai acara tersebut, yang kini memicu perdebatan serius mengenai kepatuhan terhadap prinsip-prinsip konstitusional, undang-undang, dan adat istiadat yang berlaku di Negeri Sembilan.

Menurut Datuk Azizi Mohamad Ali, keputusan untuk menyatakan ketidaksahan pemasyhuran tersebut didasarkan pada tiga pilar utama yang sangat krusial dalam sistem pemerintahan dan monarki di Negeri Sembilan: Perlembagaan negeri, undang-undang yang berlaku, serta adat istiadat yang telah diwarisi turun-temurun. Pernyataan ini sekaligus menyoroti betapa pentingnya menjaga integritas institusi diraja dan proses suksesi yang telah ditetapkan.

Pelanggaran Terhadap Perlembagaan dan Undang-Undang Negeri

Penolakan terhadap pemasyhuran ini bukan tanpa dasar kuat. Dalam konteks Negeri Sembilan, proses pemilihan dan pemasyhuran Yang di-Pertuan Besar memiliki prosedur yang sangat spesifik dan diatur secara ketat oleh Perlembagaan dan undang-undang negeri. Proses ini melibatkan peranan penting Undang Luak dan Majlis Raja-Raja, memastikan bahwa suksesi dilakukan secara sah dan diakui oleh seluruh pihak berwenang serta rakyat.

Datuk Azizi Mohamad Ali menjelaskan bahwa setiap tindakan yang berkaitan dengan kedudukan Yang di-Pertuan Besar harus mematuhi kerangka hukum yang ada. Pemasyhuran yang dilakukan di luar yurisdiksi Negeri Sembilan, seperti yang terjadi di Melaka, secara inheren menimbulkan pertanyaan serius tentang legitimasinya. Ini bukan sekadar isu geografis, melainkan representasi dari ketiadaan pengakuan formal dari badan-badan berwenang Negeri Sembilan yang sah.

* Kepatuhan Konstitusional: Pemilihan Yang di-Pertuan Besar diatur oleh Perlembagaan Negeri Sembilan, yang menetapkan prosedur dan syarat-syarat khusus.
* Dasar Hukum: Undang-undang Negeri Sembilan mengatur secara rinci proses pelantikan dan pengesahan seorang pemerintah negeri.
* Yurisdiksi: Acara pemasyhuran di luar Negeri Sembilan tanpa izin atau pengakuan resmi dianggap melanggar prinsip kedaulatan dan hukum negeri.

Ancaman Terhadap Adat Istiadat Yang Terpelihara

Selain aspek hukum dan konstitusional, adat istiadat memainkan peranan yang tak kalah penting dalam sistem monarki Negeri Sembilan. Negeri Sembilan dikenal dengan sistem adat perpatih yang unik, di mana Yang di-Pertuan Besar dipilih melalui proses yang melibatkan Undang Yang Empat (Undang Luak Johol, Jelebu, Rembau dan Sungai Ujong) serta peranan buapak dan lembago adat lainnya. Adat ini bukan sekadar tradisi, melainkan fondasi sosial dan politik yang mengikat masyarakat dan institusi diraja.

Menurut Pengelola Bijaya Diraja, pemasyhuran yang dilakukan tanpa melalui saluran adat istiadat yang telah ditetapkan adalah upaya yang mencederai maruah institusi diraja dan tradisi yang telah dipegang teguh selama berabad-abad. Tindakan semacam ini dapat menimbulkan kekeliruan dan keresahan di kalangan rakyat serta memecah-belah perpaduan yang selama ini terpelihara.

Implikasi dan Peringatan Keras

Penegasan oleh Datuk Azizi Mohamad Ali ini berfungsi sebagai peringatan keras kepada pihak-pihak yang terlibat dalam istiadat tidak sah tersebut. Implikasi dari tindakan ini sangat luas, tidak hanya berdampak pada individu yang diproklamirkan, tetapi juga berpotensi menciptakan ketidakstabilan dalam struktur pemerintahan negeri dan memicu sengketa hukum yang rumit.

Sebagai entitas yang bertanggung jawab atas pengelolaan hal ehwal diraja, Pengelola Bijaya Diraja menegaskan kembali komitmen untuk menjaga kemuliaan institusi Yang di-Pertuan Besar serta memastikan bahwa setiap proses suksesi dijalankan sesuai dengan hukum dan adat yang berlaku. Semua pihak diharapkan untuk menghormati Perlembagaan dan adat istiadat Negeri Sembilan demi kelangsungan keamanan dan kesejahteraan negeri.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai sistem monarki dan adat perpatih di Negeri Sembilan, Anda bisa merujuk pada artikel terkait di Laman Rasmi Istiadat dan Protokol Malaysia.

Continue Reading

Trending