Hukum & Kriminal
Kisah Pilu Marie-Thérèse: Janda Prancis 85 Tahun Dideportasi di Tengah Kebijakan Imigrasi Trump
Janda Prancis 85 Tahun Ungkap Trauma Detensi ICE Pasca-Deportasi Era Trump
Dalam wawancara pertamanya sejak dideportasi, Marie-Thérèse Ross-Mahé, seorang janda asal Prancis berusia 85 tahun dari seorang veteran Angkatan Darat AS, dengan pilu menceritakan pengalaman mengerikannya di pusat detensi Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE). Kisah Ross-Mahé menyoroti dampak kebijakan imigrasi yang diperketat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang kerap kali tidak memandang usia atau latar belakang individu yang menjadi targetnya.
Ross-Mahé, yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Amerika Serikat setelah menikahi seorang G.I. Amerika, kini terpaksa kembali ke Prancis setelah proses deportasi yang mengejutkan. Pengalamannya, yang diwarnai kebingungan dan ketakutan, membuka mata publik tentang bagaimana penegakan hukum imigrasi yang tanpa kompromi dapat memisahkan keluarga dan mengusik kehidupan lansia yang rentan.
Terjebak dalam Jaring Kebijakan “Zero Tolerance”
Penangkapan dan detensi Marie-Thérèse Ross-Mahé terjadi di tengah periode penegakan imigrasi yang agresif di Amerika Serikat. Pemerintahan Trump secara konsisten menerapkan kebijakan yang dikenal sebagai “zero tolerance” terhadap imigrasi ilegal, yang menyebabkan peningkatan tajam dalam penangkapan, detensi, dan deportasi, bahkan bagi individu yang telah lama tinggal di AS tanpa catatan kriminal serius. Kasus Ross-Mahé, seorang lansia dengan riwayat panjang di negara tersebut, memicu perdebatan sengit tentang diskresi dan kemanusiaan dalam sistem imigrasi.
Sumber-sumber yang dekat dengan kasusnya, yang tidak disebutkan namanya demi privasi, mengungkapkan bahwa status imigrasi Ross-Mahé mungkin telah menjadi abu-abu setelah suaminya meninggal dunia. Meskipun telah menikah dengan warga negara AS, proses untuk mendapatkan status kewarganegaraan atau tempat tinggal permanen bisa menjadi rumit, terutama jika ada celah atau ketidakpahaman dalam prosedur hukum. Pihak imigrasi di bawah pemerintahan sebelumnya seringkali menggunakan diskresi untuk kasus-kasus seperti ini, namun kebijakan di era Trump sangat membatasi ruang diskresi tersebut, mendorong penegakan hukum yang lebih kaku.
Kondisi di Pusat Detensi ICE: Sebuah Kesaksian Lansia
Ross-Mahé menceritakan pengalamannya di dalam fasilitas detensi ICE sebagai periode yang penuh kesulitan. Sebagai wanita berusia 85 tahun, ia menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan lingkungan yang dirancang untuk menahan individu dewasa yang lebih muda dan seringkali lebih bugar. Beberapa poin penting yang ia bagikan meliputi:
- Akses Terbatas: Sulitnya mendapatkan akses ke bantuan hukum yang memadai atau komunikasi dengan anggota keluarga dan pendukung.
- Kondisi Fisik: Lingkungan yang keras, termasuk tempat tidur yang tidak nyaman, suhu dingin, dan kurangnya privasi, memperburuk kondisi kesehatannya sebagai lansia.
- Isolasi: Perasaan terisolasi dan kebingungan akibat hambatan bahasa dan kurangnya informasi yang jelas tentang kasusnya.
- Dampak Psikologis: Stres dan kecemasan yang mendalam akibat ketidakpastian masa depan dan perlakuan yang dirasakannya tidak manusiawi.
Pengalaman ini diperparah oleh fakta bahwa ia adalah seorang lansia yang seharusnya menerima pertimbangan khusus. Kisahnya menggema dengan keluhan serupa dari kelompok advokasi hak-hak imigran, yang telah lama menyuarakan kekhawatiran tentang perawatan lansia dan individu rentan di fasilitas detensi ICE. Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak kebijakan imigrasi AS, Anda dapat merujuk ke analisis di situs Human Rights Watch terkait imigrasi.
Dampak Luas Kebijakan Imigrasi yang Keras
Kasus Marie-Thérèse Ross-Mahé bukan insiden tunggal, melainkan cerminan dari dampak yang lebih luas dari kebijakan imigrasi keras yang diterapkan selama periode tersebut. Kebijakan ini tidak hanya menargetkan imigran ilegal yang baru tiba, tetapi juga individu yang telah lama berakar di komunitas Amerika Serikat, termasuk pasangan veteran, pekerja musiman, dan bahkan mereka yang mencari suaka.
Para kritikus berpendapat bahwa pendekatan tanpa kompromi ini seringkali mengabaikan aspek kemanusiaan dan ikatan keluarga yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Hal ini juga menciptakan ketakutan yang meluas di kalangan komunitas imigran, mendorong banyak orang untuk hidup dalam bayang-bayang dan menghindari interaksi dengan pihak berwenang, bahkan untuk masalah-masalah sipil yang sah.
Kisah Ross-Mahé menjadi pengingat yang menyakitkan tentang konsekuensi personal dari kebijakan politik. Ini juga memicu pertanyaan tentang peran negara dalam melindungi warga negara atau penduduk yang rentan, terutama mereka yang telah memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui ikatan keluarga dengan veteran. Saat ini, Ross-Mahé mencoba membangun kembali hidupnya di Prancis, jauh dari rumah yang ia kenal selama berpuluh-puluh tahun di Amerika Serikat, membawa serta luka dan trauma dari pengalaman yang seharusnya tidak dialami seorang janda berusia 85 tahun.
Hukum & Kriminal
Gugatan Warga Transgender Tantang Aturan Toilet Paling Restriktif di Idaho
Warga transgender di Idaho telah melayangkan gugatan hukum federal yang menantang undang-undang toilet baru negara bagian tersebut, yang digadang-gadang sebagai yang paling restriktif di seluruh Amerika Serikat. Aturan kontroversial ini menetapkan sanksi berat, termasuk potensi hukuman penjara hingga lima tahun, bagi individu yang menggunakan fasilitas toilet yang tidak sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Gugatan ini menandai eskalasi signifikan dalam perdebatan nasional mengenai hak-hak transgender dan privasi di ruang publik.
Gugatan tersebut secara eksplisit berupaya memblokir implementasi undang-undang yang baru disahkan, dengan argumen bahwa ia melanggar hak-hak konstitusional warga transgender. Para penggugat, yang didukung oleh kelompok-kelompok advokasi hak sipil, menegaskan bahwa aturan ini tidak hanya diskriminatif tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak aman dan meminggirkan individu transgender dalam masyarakat. Ancaman pidana penjara lima tahun menjadikan undang-undang Idaho ini berdiri sendiri dibandingkan dengan regulasi serupa di negara bagian lain, yang biasanya berfokus pada denda atau pelanggaran ringan.
Undang-Undang Paling Restriktif di Amerika Serikat
Undang-undang Idaho yang baru disahkan ini menuntut individu untuk menggunakan fasilitas toilet atau ruang ganti yang sesuai dengan jenis kelamin yang tertera pada akta kelahiran mereka. Penekanan pada jenis kelamin saat lahir, bukan identitas gender, merupakan inti dari kontroversi ini. Para kritikus berpendapat bahwa ketentuan ini secara fundamental menolak keberadaan identitas transgender dan memaksa individu untuk mengabaikan diri mereka yang sebenarnya, yang dapat mengakibatkan trauma psikologis dan fisik.
Aspek paling memberatkan dari undang-undang ini adalah kriminalisasi pelanggarannya. Berbeda dengan undang-undang “bathroom bill” sebelumnya di negara bagian seperti Carolina Utara yang berfokus pada sanksi sipil atau administratif, Idaho memilih jalur pidana. Ancaman hukuman penjara lima tahun menempatkan individu transgender pada risiko serius untuk menghadapi konsekuensi hukum yang ekstrem hanya karena menggunakan fasilitas publik yang selaras dengan identitas gender mereka. Ini secara efektif menciptakan pelanggaran pidana baru yang secara khusus menargetkan komunitas transgender.
- Mewajibkan penggunaan fasilitas sesuai jenis kelamin lahir.
- Ancaman hukuman penjara hingga lima tahun bagi pelanggar.
- Meluas ke toilet dan ruang ganti di fasilitas publik.
- Memicu kekhawatiran serius tentang diskriminasi dan keamanan.
Argumen di Balik Gugatan dan Dampak pada Komunitas
Para penggugat berpendapat bahwa undang-undang ini melanggar beberapa amendemen Konstitusi Amerika Serikat, termasuk perlindungan terhadap proses hukum yang adil (Due Process Clause) dan perlindungan yang sama di bawah hukum (Equal Protection Clause) dari Amendemen ke-14. Mereka juga menyoroti potensi pelanggaran Amendemen ke-8 yang melarang hukuman yang kejam dan tidak biasa, mengingat beratnya ancaman pidana untuk pelanggaran yang seharusnya tidak dikriminalisasi.
Dari perspektif komunitas transgender, undang-undang ini tidak hanya mengancam kebebasan bergerak dan keamanan, tetapi juga mengirimkan pesan yang sangat merugikan. Ini dapat memicu peningkatan diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan terhadap individu transgender. Banyak yang khawatir bahwa aturan ini akan membuat ruang publik menjadi tidak aman bagi mereka, memaksa mereka untuk membatasi aktivitas sehari-hari atau bahkan menghindari tempat-tempat umum tertentu. Perdebatan serupa pernah muncul dalam konteks legislasi anti-LGBTQ+ sebelumnya, seperti upaya kriminalisasi aktivitas homoseksual di masa lalu, yang menunjukkan pola legislasi yang menargetkan kelompok minoritas.
Preseden dan Perdebatan Nasional
Gugatan di Idaho ini akan menjadi salah satu kasus penting dalam serangkaian panjang pertempuran hukum mengenai hak-hak transgender di Amerika Serikat. Sejak pertengahan 2010-an, beberapa negara bagian telah mencoba untuk memberlakukan undang-undang serupa, yang sering kali disambut dengan tantangan hukum dan boikot ekonomi. Kasus paling terkenal adalah “bathroom bill” di Carolina Utara, HB2, yang akhirnya dibatalkan sebagian karena tekanan publik dan ekonomi. Namun, undang-undang Idaho menaikkan taruhannya dengan menambahkan ancaman pidana yang berat.
Para advokat hak-hak sipil menegaskan bahwa keputusan dalam kasus ini dapat menetapkan preseden signifikan, baik positif maupun negatif, bagi pergerakan hak-hak transgender di seluruh negeri. Jika gugatan ini berhasil memblokir undang-undang tersebut, hal itu dapat menghalangi negara bagian lain untuk mengusulkan legislasi serupa dengan ancaman pidana. Sebaliknya, jika undang-undang ini ditegakkan, hal itu bisa membuka pintu bagi legislasi yang lebih represif di tempat lain, mengikis perlindungan hak asasi manusia bagi individu transgender.
Pengadilan federal kini menghadapi tugas untuk menimbang hak-hak individu, privasi, dan interpretasi konstitusi di tengah lanskap sosial dan politik yang sangat terpolarisasi. Hasil dari gugatan ini akan sangat dinantikan oleh komunitas transgender, advokat hak-hak sipil, dan pembuat kebijakan di seluruh Amerika Serikat, karena akan membentuk masa depan perlakuan hukum terhadap identitas gender di ruang publik.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu-isu hak-hak sipil dan hukum yang berkaitan dengan identitas gender, kunjungi sumber terkemuka seperti American Civil Liberties Union (ACLU).
Hukum & Kriminal
Mahkamah Agung AS Melemahkan UU Hak Pilih, Kritikus Tuding Manuver Politik Partisan
Mahkamah Agung AS Melemahkan Pilar Utama UU Hak Pilih, Picu Gelombang Kecaman
Putusan terbaru Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) yang secara efektif membongkar sisa-sisa ketentuan krusial dalam Undang-Undang Hak Pilih (Voting Rights Act/VRA) memicu reaksi keras dan kekhawatiran mendalam dari berbagai kalangan. Kritikus dengan lantang menuduh keputusan ini bukan tentang penegakan hukum, melainkan sebuah manuver politik terang-terangan yang bertujuan memberikan keuntungan elektoral bagi Partai Republik, khususnya dalam perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat AS yang sulit mereka menangkan melalui jalur pemilu yang adil.
Keputusan ini, yang datang di tengah lanskap politik yang semakin terpolarisasi, menambah daftar panjang putusan Mahkamah Agung yang mengubah dinamika kekuasaan di Amerika. Bagi banyak pengamat dan aktivis hak sipil, hari ini adalah “hari tragis bagi kebebasan memilih” karena putusan ini mengancam akan merusak fondasi demokrasi inklusif yang telah dibangun susah payah selama beberapa dekade. Para ahli hukum dan aktivis hak sipil menyatakan kekecewaan mereka, menyoroti bagaimana keputusan ini dapat membuka pintu bagi praktik-praktik diskriminatif dalam pemilu di masa depan, yang pernah VRA perjuangkan untuk diatasi.
Mengapa Undang-Undang Hak Pilih Begitu Krusial?
Undang-Undang Hak Pilih tahun 1965 merupakan salah satu tonggak legislatif paling signifikan dalam sejarah hak-hak sipil Amerika. Dikeluarkan pada puncak gerakan hak-hak sipil, VRA dirancang untuk mengatasi diskriminasi rasial yang meluas terhadap pemilih, terutama di negara-negara bagian selatan, melalui berbagai mekanisme. Sebelum VRA, praktik-praktik seperti tes melek huruf, pajak jajak pendapat, dan intimidasi fisik secara efektif menghalangi jutaan warga kulit hitam Amerika untuk menggunakan hak pilih mereka.
Sejak kelahirannya, VRA telah menjadi alat vital untuk melindungi hak suara minoritas dan memastikan akses yang setara ke kotak suara. Namun, undang-undang ini telah menghadapi berbagai tantangan hukum selama bertahun-tahun. Salah satu pukulan telak sebelumnya terjadi pada tahun 2013, ketika putusan Mahkamah Agung dalam kasus *Shelby County v. Holder* menghapus Bagian 4(b) VRA, yang merupakan formula untuk menentukan yurisdiksi mana yang harus mendapatkan “preclearance” (persetujuan awal) dari pemerintah federal sebelum mengubah undang-undang pemilu mereka. Putusan baru ini, menurut para kritikus, adalah upaya lanjutan untuk mengikis relevansi dan kekuatan VRA, memperburuk kerusakan yang sudah terjadi sebelumnya.
- Sejarah Diskriminasi: VRA lahir dari sejarah panjang diskriminasi sistematis terhadap pemilih minoritas di AS.
- Perlindungan Minoritas: Telah melindungi hak pilih kelompok minoritas, memastikan representasi yang lebih adil.
- Ancaman Berkelanjutan: Putusan Mahkamah Agung secara bertahap melemahkan efektivitas VRA, mengancam kemajuan yang telah dicapai.
Kritik Tajam: Putusan Ini Adalah Perebutan Kekuasaan Politik
Kritik utama terhadap putusan ini berpusat pada argumen bahwa Mahkamah Agung telah melampaui perannya sebagai penafsir hukum dan justru bertindak sebagai pemain politik. “Jangan salah: Putusan ini bukan tentang hukum, ini tentang kekuasaan, dan memberikan lebih banyak kursi Dewan Perwakilan Rakyat AS kepada Partai Republik yang tidak dapat mereka menangkan di kotak suara,” demikian pernyataan seorang kritikus terkemuka, mencerminkan sentimen banyak pihak yang frustrasi.
Para penentang putusan ini berpendapat bahwa dengan melemahkan VRA, Mahkamah Agung secara tidak langsung memfasilitasi praktik-praktik yang dapat menyulitkan partisipasi pemilih, terutama dari komunitas minoritas dan demografi yang cenderung memilih Partai Demokrat. Ini termasuk potensi untuk:
* Pengurangan Jumlah Tempat Pemungutan Suara: Membuat proses pemungutan suara lebih sulit di daerah-daerah tertentu.
* Pengetatan Persyaratan Identitas Pemilih: Mencegah pemilih yang sah tanpa bentuk identitas tertentu untuk memberikan suara.
* Gerrymandering yang Lebih Agresif: Pembentukan distrik pemilihan yang tidak adil untuk keuntungan satu partai, tanpa pengawasan federal yang memadai.
Putusan ini berpotensi memiliki implikasi jangka panjang yang serius terhadap integritas pemilu di AS. Dengan mengurangi mekanisme perlindungan, negara bagian dan lokal mungkin merasa lebih leluasa untuk menerapkan kebijakan pemilu yang dapat menekan partisipasi pemilih dari kelompok tertentu, mengubah peta politik secara fundamental. Informasi lebih lanjut mengenai Undang-Undang Hak Pilih dapat diakses melalui situs resmi Departemen Kehakiman AS.
Masa Depan Hak Pilih di Amerika Serikat
Keputusan ini menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada Kongres dan para aktivis untuk menemukan cara baru dalam melindungi hak pilih. Diskusi tentang reformasi pemilu federal, termasuk undang-undang baru yang dapat memperkuat perlindungan pemilih, kemungkinan akan semakin intensif. Namun, dengan pembagian partisan yang mendalam di Kongres, prospek untuk tindakan legislatif yang komprehensif tetap tidak pasti.
Putusan Mahkamah Agung ini bukan hanya sekadar keputusan hukum; ia adalah sebuah pernyataan tentang arah masa depan demokrasi Amerika, menimbulkan pertanyaan kritis tentang keadilan elektoral dan representasi. Perdebatan sengit tentang hak pilih dan peran pengadilan dalam membentuk politik nasional dipastikan akan terus berlanjut, dengan dampak yang mungkin terasa pada setiap siklus pemilu mendatang.
Hukum & Kriminal
Setelah Sebulan Buron, Tiga Suspek Utama Pembunuhan Pria di Tangkak Akhirnya Ditangkap
Setelah Sebulan Buron, Tiga Suspek Utama Pembunuhan Pria di Tangkak Akhirnya Ditangkap
Setelah lebih dari sebulan menjadi buruan intensif aparat kepolisian, tiga lelaki yang diyakini sebagai suspek utama dalam kasus pembunuhan seorang pria di Bukit Kangkar akhirnya berhasil dibekuk. Insiden tragis yang menggemparkan masyarakat pertengahan bulan lalu ini, di mana korban ditemukan tewas ditetak di khalayak ramai, kini menemui titik terang setelah penangkapan signifikan yang dilakukan kepolisian.
Ketiga suspek berhasil diamankan di wilayah Melaka pada hari Rabu kemarin, menandai sebuah terobosan krusial dalam penyelidikan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Penangkapan ini mengakhiri masa buronan panjang dan membuka babak baru dalam upaya penegakan hukum untuk mengungkap motif serta semua pihak yang terlibat dalam kejahatan keji tersebut.
Kronologi Penangkapan dan Buronan Panjang
Kasus pembunuhan sadis yang terjadi di hadapan sebuah restoran di kawasan Bukit Kangkar, Tangkak, pertengahan bulan lalu, telah menarik perhatian publik secara luas. Korban, seorang pria yang identitasnya masih dirahasiakan oleh pihak berwenang untuk kepentingan penyelidikan, ditemukan tewas mengenaskan dengan luka tetak parah. Insiden yang terjadi di siang bolong dan disaksikan oleh beberapa orang tersebut menyisakan trauma mendalam bagi warga sekitar serta menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan publik.
Menyusul kejadian tersebut, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) dari Kepolisian Daerah Tangkak segera membentuk tim khusus untuk memburu para pelaku. Penyelidikan awal menghadapi tantangan signifikan, termasuk minimnya saksi mata yang berani memberikan keterangan detail serta kesulitan dalam mengidentifikasi secara pasti para suspek yang melarikan diri dengan cepat pasca insiden. Selama lebih dari empat minggu, polisi bekerja tanpa henti, mengumpulkan petunjuk, menganalisis rekaman CCTV dari area sekitar, dan melakukan interogasi terhadap individu-individu yang memiliki kaitan dengan korban atau area kejadian.
Upaya pencarian meluas hingga lintas negara bagian. Sumber internal kepolisian menyebutkan bahwa tim gabungan dari berbagai unit dikerahkan untuk melacak jejak para suspek yang dipercaya telah bersembunyi di luar Tangkak. Koordinasi erat dengan kepolisian di negara bagian tetangga, termasuk Melaka, menjadi kunci keberhasilan operasi ini. Informasi intelijen yang terkumpul secara bertahap membuahkan hasil, mengarahkan tim investigasi ke lokasi persembunyian para suspek di Melaka.
Langkah Selanjutnya dalam Penyelidikan
Penangkapan ketiga suspek di Melaka pada hari Rabu kemarin merupakan puncak dari kerja keras polisi. Ketiganya langsung dibawa ke kantor polisi Tangkak untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Sesuai prosedur hukum yang berlaku, mereka akan ditahan untuk mempermudah jalannya penyelidikan dan pendalaman kasus. Pihak kepolisian diperkirakan akan mengajukan permohonan perintah penahanan (remand) kepada pengadilan untuk memastikan para suspek tidak dapat melarikan diri atau menghilangkan barang bukti.
Meskipun penangkapan ini adalah langkah maju yang signifikan, pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih jauh dari kata selesai. Beberapa aspek krusial masih perlu didalami, termasuk motif pasti di balik pembunuhan keji ini. Apakah ini terkait dengan perselisihan pribadi, konflik antar kelompok, atau masalah lainnya, masih menjadi fokus utama penyelidik.
- Pendalaman Motif: Tim penyelidik akan menginterogasi para suspek secara intensif untuk menggali informasi mengenai alasan mereka melakukan tindak kejahatan ini.
- Barang Bukti: Pencarian dan pengumpulan barang bukti tambahan, termasuk senjata yang digunakan dalam serangan, akan terus dilakukan.
- Keterlibatan Lain: Polisi juga tidak menutup kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam perencanaan atau pelaksanaan pembunuhan tersebut.
- Dasar Hukum: Ketiga suspek kemungkinan besar akan didakwa di bawah Pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk kasus pembunuhan, yang membawa ancaman hukuman berat, termasuk pidana mati atau penjara seumur hidup.
Kepala Kepolisian Daerah Tangkak, dalam keterangan singkatnya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat atas dedikasi dan kerja keras mereka. Beliau juga berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan informasi berharga, meskipun banyak yang disampaikan secara anonim karena kekhawatiran akan keselamatan. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang. Informasi lebih lanjut akan disampaikan kepada publik seiring dengan perkembangan penyelidikan.
-
Daerah3 minggu agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah2 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah2 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Pemerintah2 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Olahraga2 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah2 bulan agoBPJS Kesehatan Sediakan Layanan Kesehatan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
-
Hukum & Kriminal2 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 minggu agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
