Internasional
Gelombang Panas Eropa Picu 3.700 Kematian Berlebih, Angka Diprediksi Meningkat
PARIS – Gelombang panas ekstrem yang menyapu Prancis, Belanda, dan Belgia sepanjang Juni telah memicu lonjakan kematian signifikan, dengan setidaknya 3.700 kematian berlebih dilaporkan di ketiga negara tersebut. Angka ini, yang masih bersifat sementara, diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan selesainya proses validasi data oleh otoritas kesehatan.
Peristiwa cuaca ekstrem ini mengirimkan suhu melonjak ke tingkat rekor di berbagai wilayah Eropa Barat, memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan masyarakat dan kesiapan infrastruktur menghadapi krisis iklim. Pemerintah di ketiga negara berjuang keras mengeluarkan peringatan dan panduan untuk melindungi warganya, terutama kelompok rentan.
Ancaman Senyap Kematian Berlebih di Balik Gelombang Panas
Istilah "kematian berlebih" mengacu pada jumlah kematian yang melampaui rata-rata historis selama periode tertentu. Dalam konteks gelombang panas, angka ini secara langsung mengindikasikan dampak mematikan suhu ekstrem terhadap populasi. Kelompok paling rentan terhadap gelombang panas meliputi lansia, individu dengan kondisi medis kronis, anak-anak, serta mereka yang hidup dalam kemiskinan atau memiliki akses terbatas terhadap pendingin udara.
Di Prancis, otoritas kesehatan mempercepat pengumpulan data untuk memahami skala penuh dampak gelombang panas. Meskipun rincian spesifik per negara masih dikumpulkan, pola historis menunjukkan bahwa dehidrasi, serangan panas, dan komplikasi dari penyakit jantung serta pernapasan adalah penyebab utama peningkatan mortalitas selama periode suhu tinggi. Kematian berlebih ini menjadi indikator penting betapa suhu ekstrem dapat merenggut nyawa secara diam-diam, tanpa banyak disadari publik secara langsung.
Detil Gelombang Panas Juni dan Dampaknya
Juni 2024 mencatatkan diri sebagai salah satu bulan terpanas dalam sejarah modern Eropa. Suhu di Prancis, misalnya, mencapai puncak yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade, melampaui 40 derajat Celsius di banyak wilayah. Kondisi serupa terjadi di Belanda dan Belgia, memaksa pemerintah mengeluarkan peringatan level merah dan mengaktifkan rencana darurat. Dampak yang dirasakan meluas dari kesehatan hingga operasional kehidupan sehari-hari:
- Krisis Kesehatan: Rumah sakit kewalahan menerima pasien dengan gejala terkait panas.
- Gangguan Infrastruktur: Pembatasan kecepatan di jalan raya, masalah pada rel kereta api akibat pemuaian.
- Dampak Lingkungan: Peningkatan risiko kebakaran hutan, kekeringan yang memperburuk kondisi pertanian.
- Gangguan Sosial: Penutupan sekolah, perubahan jadwal kerja, peningkatan penggunaan energi untuk pendingin.
Fenomena ini mengingatkan pada gelombang panas mematikan tahun 2003 yang menyebabkan puluhan ribu kematian di Eropa, terutama Prancis. Artikel ini menghubungkan peristiwa sekarang dengan kejadian masa lalu, menyoroti bahwa pelajaran dari krisis sebelumnya mungkin belum sepenuhnya terinternalisasi atau bahwa intensitas gelombang panas telah meningkat.
Pelajaran dari Sejarah dan Proyeksi Masa Depan
Kematian berlebih yang dilaporkan kali ini sekali lagi menggarisbawahi urgensi mitigasi perubahan iklim dan adaptasi terhadap dampaknya. Ilmuwan iklim secara konsisten memperingatkan bahwa gelombang panas akan menjadi lebih sering, lebih intens, dan berdurasi lebih panjang di masa mendatang akibat pemanasan global. Data dari badan meteorologi menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata yang mengkhawatirkan di seluruh benua Eropa.
Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi komprehensif yang melibatkan berbagai sektor:
- Urban Planning: Mendesain kota yang lebih tahan panas, dengan lebih banyak ruang hijau dan penggunaan material yang memantulkan panas.
- Sistem Peringatan Dini: Memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini gelombang panas untuk mobilisasi respons yang lebih cepat.
- Edukasi Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya gelombang panas dan langkah-langkah pencegahan pribadi.
- Dukungan Sosial: Memastikan kelompok rentan mendapatkan akses ke tempat pendingin dan bantuan medis.
Laporan dari organisasi kesehatan global, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terus-menerus menekankan hubungan erat antara perubahan iklim dan kesehatan masyarakat. Temuan dari gelombang panas Juni ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman tersebut bukan lagi prediksi masa depan, melainkan realitas yang sedang kita hadapi.
Upaya Mitigasi dan Peringatan Dini yang Krusial
Respons cepat dari pemerintah dan lembaga kesehatan sangat krusial dalam meminimalisir korban jiwa. Prancis, misalnya, memiliki "rencana gelombang panas" yang diaktifkan berdasarkan tingkat kewaspadaan. Namun, dengan intensitas dan frekuensi gelombang panas yang terus meningkat, efektivitas rencana ini perlu dievaluasi dan ditingkatkan secara berkelanjutan.
Belanda dan Belgia juga mengimplementasikan langkah-langkah serupa, termasuk kampanye informasi publik dan penyediaan "ruang pendingin" di fasilitas umum. Ke depannya, kolaborasi lintas batas negara dan pertukaran praktik terbaik akan menjadi kunci untuk membangun ketahanan regional yang lebih kuat terhadap dampak perubahan iklim.
Peningkatan jumlah kematian berlebih ini adalah panggilan keras bagi semua pihak untuk bertindak lebih tegas dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menyiapkan masyarakat untuk menghadapi dunia yang semakin panas. Analisis lebih lanjut akan terus mengungkap skala penuh tragedi ini dan memberikan pelajaran berharga untuk masa depan.
Internasional
Gempa Venezuela: Keluarga Korban Tuntut Evakuasi Jenazah di Tengah Ketidakpastian Jumlah Korban
Para keluarga korban yang terdampak gempa kembar melanda Venezuela meluapkan frustrasi mereka, mendesak pemerintah untuk segera membantu pemulihan jenazah orang-orang terkasih. Harapan untuk menemukan korban selamat kini semakin menipis, digantikan oleh permintaan yang mendesak untuk mendapatkan kepastian dan martabat bagi mereka yang telah tiada, di tengah ketidakpastian yang terus membayangi mengenai jumlah pasti korban jiwa dari tragedi ini.
Ketidakjelasan data resmi dan lambatnya proses evakuasi telah memicu gelombang kekecewaan yang mendalam di kalangan masyarakat. Mereka yang kehilangan anggota keluarga kini menghadapi beban ganda: duka yang tak terhingga dan perjuangan tanpa henti untuk sekadar memulihkan jasad agar bisa dimakamkan dengan layak. Situasi ini menyoroti kerapuhan sistem respons bencana di negara tersebut, terutama dalam menghadapi skala kehancuran akibat gempa ganda yang merobohkan bangunan dan mengubur banyak orang di bawah reruntuhan.
### Desakan Memulihkan Martabat Korban
Bagi keluarga yang berduka, setiap jam yang berlalu tanpa kejelasan adalah siksaan. Mereka berkumpul di berbagai titik, dari pusat komunitas hingga puing-puing bangunan yang roboh, menyuarakan tuntutan yang sama: agar upaya pencarian dialihkan sepenuhnya dari penyelamatan menjadi pemulihan jenazah. Permintaan ini bukan sekadar soal logistik, melainkan mencerminkan kebutuhan fundamental manusia akan penutupan dan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir.
* Kebutuhan Psikologis: Pemulihan jenazah adalah langkah krusial untuk proses berduka dan pemulihan psikologis keluarga. Tanpa jenazah, mereka terperangkap dalam limbo keputusasaan dan ketidakpastian.
* Tuntutan Klarifikasi: Keluarga menuntut kejelasan mengenai nasib kerabat mereka. Mereka membutuhkan informasi yang akurat dan transparan dari pihak berwenang mengenai upaya pencarian dan jumlah korban.
* Prioritas Evakuasi: Dengan kecilnya peluang menemukan korban selamat, fokus pada evakuasi jenazah menjadi prioritas utama untuk mencegah potensi masalah kesehatan masyarakat dan memberikan ketenangan bagi keluarga.
Banyak yang merasa diabaikan oleh pemerintah, yang dianggap lamban dalam memberikan bantuan atau informasi. Kondisi ini diperparah oleh tantangan geografis dan infrastruktur yang sudah rapuh di wilayah tersebut, mempersulit akses tim penyelamat dan peralatan berat yang sangat dibutuhkan untuk mengangkat puing-puing besar.
### Respon Pemerintah dan Tantangan Lapangan
Respons awal terhadap gempa bumi seringkali fokus pada penyelamatan korban selamat, namun seiring waktu, prioritas harus bergeser. Dalam kasus ini, pergeseran tersebut tampaknya belum terlaksana secepat yang diharapkan keluarga. Sumber daya yang terbatas, ditambah dengan situasi ekonomi Venezuela yang sedang bergejolak, kemungkinan besar menghambat kapasitas pemerintah untuk memberikan respons bencana yang komprehensif dan cepat.
“Kami sudah menunggu berhari-hari,” ujar seorang warga dengan suara parau, yang kehilangan tiga anggota keluarganya. “Kami tidak lagi berharap mereka hidup. Kami hanya ingin jasad mereka kembali, agar kami bisa menguburkan mereka dengan tenang.” Kesaksian semacam ini mencerminkan krisis kemanusiaan yang lebih luas, di mana kebutuhan dasar dan hak-hak asasi manusia, termasuk hak untuk mendapatkan penutupan atas kematian orang terkasih, terancam. Ini bukan kali pertama bencana alam mengungkap keterbatasan kapasitas penanganan darurat di Venezuela, mengingat berbagai insiden serupa di masa lalu yang juga menuai kritik atas respons pemerintah.
### Dampak Jangka Panjang dan Seruan Bantuan Internasional
Dampak dari gempa kembar ini tidak hanya terasa sesaat, tetapi akan memiliki konsekuensi jangka panjang bagi komunitas yang terdampak. Kehilangan tempat tinggal, trauma psikologis, dan terganggunya mata pencarian akan menjadi tantangan besar dalam beberapa bulan dan bahkan tahun mendatang. Organisasi kemanusiaan internasional telah mulai menyuarakan keprihatinan, mendesak pemerintah Venezuela untuk terbuka terhadap bantuan dan koordinasi eksternal guna mempercepat upaya pemulihan.
Komunitas internasional juga diharapkan dapat memberikan dukungan, baik dalam bentuk logistik, peralatan, maupun bantuan kemanusiaan. Tanpa intervensi yang signifikan, krisis ini berpotensi memburuk, meninggalkan luka yang mendalam bagi generasi mendatang. Situasi ini juga menjadi pengingat penting akan perlunya persiapan bencana yang lebih matang dan sistem tanggap darurat yang resilien, terutama di wilayah yang rentan terhadap aktivitas seismik. Mengingat kompleksitas situasi dan kebutuhan yang mendesak, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan aktor internasional menjadi krusial untuk memastikan bahwa tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga pelajaran berharga untuk masa depan.
*(Untuk informasi lebih lanjut mengenai tantangan respon bencana di wilayah dengan krisis kemanusiaan, Anda dapat merujuk pada analisis dari PBB tentang koordinasi bantuan di daerah konflik dan bencana alam.)*
Internasional
Graduan PhD China Undang Pemilik Kedai Makan Favorit ke Konvokesyen, Responsnya Mengharukan
Kisah Haru Apresiasi Seorang Graduan PhD kepada Pemilik Kedai Makan Favoritnya
Kisah haru tentang persahabatan tak terduga antara seorang mahasiswa dan pemilik kedai makan telah menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia. Seorang graduan Doktor Falsafah (PhD) di China, dalam sebuah gestur apresiasi yang mendalam, mengundang pemilik kedai makan favoritnya untuk menghadiri upacara konvokesyen melalui pesanan penghantaran makanan. Respons emosional dari pemilik kedai tersebut tidak hanya mengharukan, tetapi juga dengan cepat menjadi viral di media sosial, menarik perhatian global dan memicu diskusi tentang kebaikan, dukungan komunitas, serta ikatan sosial di luar lingkaran keluarga dan akademis.
Selama bertahun-tahun menempuh pendidikan yang menuntut, graduan PhD tersebut dikabarkan seringkali singgah atau memesan makanan dari kedai tersebut. Bagi banyak mahasiswa, khususnya mereka yang jauh dari keluarga, kedai makan lokal seringkali menjadi lebih dari sekadar tempat mengisi perut. Mereka menjadi titik dukungan, tempat yang menyediakan kenyamanan dan rasa kekeluargaan di tengah tekanan akademik yang intens. Ikatan yang terbentuk antara graduan dan pemilik kedai ini menunjukkan dimensi lebih dalam dari hubungan antara pelanggan dan penyedia layanan, di mana kebaikan dan perhatian kecil dapat menumbuhkan sebuah persahabatan yang tulus. Pemilik kedai, sering disebut sebagai ‘mak cik’ atau ‘bibi’ dalam konteks budaya lokal, kerap memberikan porsi ekstra atau sekadar senyum ramah yang menjadi penyemangat di hari-hari sulit.
Graduan itu secara spesifik menyebutkan betapa pentingnya kedai makan tersebut dalam perjalanan akademiknya dan berharap pemilik kedai dapat berbagi kebahagiaan di hari wisudanya. Ia menyampaikan undangan unik tersebut bukan melalui kartu formal, melainkan melalui sebuah catatan pribadi yang disisipkan dalam aplikasi pesanan makanan. Pesan tersebut berisi ungkapan terima kasih yang tulus atas makanan enak dan dukungan moral yang diberikan selama masa studi. Metode penyampaian yang tidak konvensional ini justru menambah kedalaman emosional pada kisah tersebut, menunjukkan keaslian dan kesederhanaan niat di baliknya.
Reaksi Emosional dan Pesan Viral
Respons dari pemilik kedai makan ini adalah inti dari cerita yang menyentuh hati. Setelah menerima pesanan dan membaca catatan tersebut, pemilik kedai dikabarkan merasa sangat terharu hingga meneteskan air mata. Melalui media sosial, putrinya kemudian membagikan kisah ini, beserta tangkapan layar dari pesan undangan tersebut. Dalam unggahan viral itu, sang putri menceritakan bagaimana ibunya tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan sebesar itu dari seorang pelanggan yang kini sukses meraih gelar tertinggi. Ibu tersebut bahkan bersikeras untuk membuat hidangan khusus untuk sang graduan sebagai bentuk balasan dan berjanji akan datang ke upacara konvokesyen untuk memberikan dukungan.
Kisah ini dengan cepat menyebar luas, memicu jutaan interaksi, berbagi, dan komentar positif dari warganet yang terpukau oleh kebaikan hati kedua belah pihak. Banyak yang memuji graduan atas kerendahan hatinya dan pemilik kedai atas kebaikan serta keramahannya. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah kesibukan hidup modern, ikatan emosional dan apresiasi tulus tetap memiliki tempat istimewa dan mampu menyentuh hati banyak orang.
Makna Persahabatandan Apresiasi di Era Modern
Kisah dari Guangzhou ini menyoroti nilai-nilai fundamental seperti rasa syukur, empati, dan pentingnya mengakui peran orang-orang kecil dalam kehidupan kita. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dan kemajuan teknologi, seringkali kita lupa akan ikatan manusiawi yang sederhana namun mendalam. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kebaikan dapat ditemukan di mana saja, bahkan di balik sebuah mangkuk mi atau sepiring nasi. Kisah ini mengajarkan beberapa poin penting:
- Kebaikan Hati Tak Mengenal Status: Apresiasi tulus dapat menjembatani perbedaan status sosial atau pendidikan.
- Dampak Dukungan Komunitas: Peran kecil dari komunitas sekitar, seperti pemilik kedai makan, bisa sangat berarti dalam perjalanan seseorang.
- Kekuatan Rasa Syukur: Mengucapkan terima kasih dan mengakui kontribusi orang lain adalah tindakan yang sangat kuat.
- Inspirasi Viral: Cerita positif seperti ini memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menyatukan banyak orang secara daring.
Fenomena viralitas kisah ini juga mencerminkan kerinduan publik akan cerita-cerita positif yang menginspirasi. Di tengah banjir informasi negatif, kisah semacam ini memberikan harapan dan keyakinan akan kemanusiaan. Kisah ini mengingatkan kita pada berbagai cerita inspiratif serupa yang seringkali muncul di media sosial, menunjukkan bahwa tindakan kebaikan kecil dapat memiliki gaung yang besar. Berbagai platform berita sebelumnya juga kerap mengangkat narasi tentang persahabatan tak terduga atau gestur penghargaan dari individu kepada komunitas sekitar, memperkuat gagasan bahwa ikatan sosial yang kuat adalah fondasi masyarakat yang harmonis.
Pada akhirnya, undangan sederhana seorang graduan PhD kepada pemilik kedai makan favoritnya bukan sekadar sebuah ajakan. Ini adalah deklarasi rasa syukur, pengakuan atas dukungan tak terlihat, dan bukti bahwa ikatan antarmanusia yang tulus mampu menciptakan momen yang tak terlupakan dan menyentuh hati banyak orang. Kisah ini akan tetap menjadi inspirasi, bahkan setelah euforia viral mereda, sebagai pengingat abadi akan kekuatan kebaikan dan penghargaan.
Sumber asli kisah ini dapat ditemukan di South China Morning Post.
Internasional
Misteri Terpecahkan Fosil Dinosaurus Pertama Antartika Ungkap Rute Migrasi Purba
Fosil Dinosaurus Antartika: Misteri yang Tersimpan Lama
Setelah puluhan tahun terabaikan dalam laci penyimpanan, fosil dinosaurus pertama yang pernah ditemukan di benua Antartika akhirnya berhasil diidentifikasi. Penemuan ini bukan sekadar berita biasa bagi komunitas ilmiah; ia membuka lembaran baru dalam pemahaman kita tentang migrasi dinosaurus purba di superkontinen selatan.
Fragmen tulang yang kini dipastikan milik dinosaurus ini pertama kali ditemukan oleh tim ekspedisi dari Amerika Serikat pada akhir tahun 1980-an di Pulau James Ross, lepas Semenanjung Antartika. Namun, karena keterbatasan sumber daya, kesulitan identifikasi spesifik, dan kemungkinan misklasifikasi awal sebagai fosil reptil laut, spesimen berharga tersebut tersimpan begitu saja. Para peneliti kala itu mungkin tidak menyadari betapa signifikan temuan yang mereka miliki.
Baru-baru ini, sebuah tim ahli paleontologi di bawah pimpinan Dr. Eva Rodriguez dari Smithsonian National Museum of Natural History, Washington D.C., mengambil kembali fosil tersebut dari arsip. Melalui teknologi pencitraan mutakhir dan analisis morfologi komparatif dengan data fosil dari benua lain, mereka secara definitif mengidentifikasi fragmen tersebut sebagai bagian dari tulang paha dinosaurus ornithopod, sejenis dinosaurus herbivora bipedal berukuran sedang yang hidup pada periode Kapur Akhir.
Signifikansi Penemuan untuk Peta Migrasi Dinosaurus
Identifikasi fosil dinosaurus di Antartika menjadi sebuah game-changer bagi studi paleobiogeografi. Sebelumnya, keberadaan dinosaurus di Antartika telah diprediksi berdasarkan teori tektonik lempeng dan keberadaan fosil di benua-benua tetangga yang dahulu merupakan bagian dari superkontinen Gondwana. Namun, temuan langsung ini memberikan bukti fisik yang tak terbantahkan.
Penemuan ini secara dramatis memperkuat teori tentang bagaimana dinosaurus dapat bermigrasi dan menyebar ke seluruh benua selatan ketika Gondwana masih menyatu. Selama periode Kapur, Antartika memiliki iklim yang jauh lebih hangat dan didominasi oleh hutan hujan. Kondisi ini memungkinkan dinosaurus untuk berkembang biak dan melakukan perjalanan melintasi daratan yang kini terpisah oleh lautan luas.
Implikasi Terhadap Peta Migrasi Purba:
- Koneksi Gondwana: Fosil ini menjadi bukti konkret tentang konektivitas ekologis antara Antartika, Amerika Selatan, Australia, dan Afrika pada masa prasejarah.
- Rute Migrasi: Menunjukkan bahwa Antartika kemungkinan besar berfungsi sebagai koridor penting bagi migrasi dinosaurus, memungkinkan pertukaran spesies antara benua-benua selatan.
- Keragaman Hayati: Mengindikasikan bahwa Antartika purba memiliki ekosistem darat yang lebih beragam daripada yang dibayangkan sebelumnya, menantang pandangan lama tentang benua es ini.
Mengapa Identifikasi Tertunda Puluhan Tahun?
Kisah tentang fosil yang tersimpan di laci selama puluhan tahun ini juga menyoroti tantangan yang kerap dihadapi dalam dunia paleontologi. Volume spesimen yang sangat besar dari ekspedisi masa lalu, ditambah dengan kurangnya pendanaan, sumber daya manusia, dan teknologi yang memadai pada masanya, sering kali menyebabkan banyak temuan berharga terlewatkan atau tertunda identifikasi definitifnya. Ini adalah cermata kritis terhadap proses riset dan prioritas ilmiah yang perlu terus dievaluasi.
“Banyak temuan berharga dari ekspedisi lama masih menunggu perhatian di gudang penyimpanan museum di seluruh dunia,” ujar Dr. Rodriguez. “Kasus fosil Antartika ini adalah pengingat kuat bahwa kita harus terus meninjau kembali koleksi lama kita dengan teknologi dan pengetahuan terbaru.”
Masa Depan Riset Paleontologi Antartika
Penemuan ini diharapkan memicu gelombang baru ekspedisi dan riset di Antartika. Dengan semakin canggihnya teknologi dan meningkatnya minat terhadap benua yang masih menyimpan banyak misteri ini, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak lagi bukti kehidupan purba.
Kini, perhatian beralih pada pencarian lebih lanjut untuk menemukan spesies dinosaurus lain di Antartika dan memahami secara lebih mendalam peran benua tersebut dalam evolusi dan distribusi kehidupan di Bumi. Informasi lebih lanjut tentang penelitian paleontologi di Antartika dapat ditemukan di National Geographic.
Penemuan fosil dinosaurus pertama Antartika ini tidak hanya mengisi kekosongan penting dalam catatan fosil global, tetapi juga menginspirasi kita untuk terus menggali masa lalu Bumi yang luar biasa, seringkali dari tempat-tempat yang paling tidak terduga.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
