Pendidikan
TRC PPA Desak DPRD Samarinda Usut Tuntas Dugaan Kecurangan SPMB, Kawal Hak Pendidikan Siswa
TRC PPA Desak DPRD Samarinda Usut Tuntas Dugaan Kecurangan SPMB, Kawal Hak Pendidikan Siswa
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur, bersama dengan TRC PPA Samarinda, secara resmi menyerahkan sejumlah bukti terkait dugaan carut-marut dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2024/2025 kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda. Kedatangan mereka ini merupakan respons atas banyaknya aduan dari masyarakat mengenai sistem yang dinilai tidak transparan dan berpotensi merampas hak pendidikan calon siswa di sekolah negeri.
Ketua TRC PPA Kalimantan Timur, Rina Zainun, menjelaskan bahwa timnya telah menerima laporan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan oleh sistem SPMB tahun ini. “Kami membawa puluhan bukti aduan dari orang tua dan calon siswa yang merasa menjadi korban ketidakadilan. Banyak di antara mereka adalah siswa berprestasi yang seharusnya memiliki kesempatan lebih besar untuk diterima di sekolah negeri,” ujar Rina saat ditemui di gedung DPRD. Ia menambahkan, dugaan kecurangan ini tidak hanya menciptakan ketidakpastian, tetapi juga secara langsung mengancam masa depan pendidikan anak-anak di Samarinda.
Menyelamatkan Hak Pendidikan Ratusan Siswa
TRC PPA menyoroti bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut hak dasar konstitusional setiap anak untuk memperoleh pendidikan. Ribuan calon siswa yang gagal diterima di sekolah negeri, meski telah memenuhi syarat dan berada dalam zona yang ditentukan, kini menghadapi pilihan sulit. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga dengan ekonomi terbatas, sehingga opsi untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta seringkali menjadi beban yang tidak terjangkau.
“Jika tidak ada intervensi serius, ratusan calon siswa ini berpotensi kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal. Ini adalah pelanggaran hak yang sangat serius dan tidak bisa kita biarkan terjadi begitu saja,” tegas perwakilan TRC PPA Samarinda, yang juga ikut mendampingi. Mereka mendesak DPRD untuk segera membentuk tim khusus atau panitia kerja guna menindaklanjuti aduan ini secara komprehensif. Masalah SPMB yang selalu muncul setiap tahunnya seperti menjadi “tradisi” yang perlu diakhiri dengan evaluasi menyeluruh.
Bukti-Bukti Konkret Diserahkan ke Parlemen
Bukti yang diserahkan TRC PPA kepada DPRD meliputi berbagai dokumen, mulai dari tangkapan layar sistem pendaftaran yang diduga bermasalah, kesaksian tertulis orang tua dan siswa, hingga data komparatif hasil seleksi yang menunjukkan anomali. TRC PPA menduga adanya manipulasi data atau celah dalam sistem yang memungkinkan praktik tidak jujur terjadi. Beberapa aduan menyoroti isu seperti perubahan data secara tiba-tiba, calon siswa yang memenuhi syarat namun tidak lolos, hingga dugaan pungutan liar.
“Kami tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga membawa bukti-bukti yang cukup kuat untuk mendukung dugaan kami. Kami berharap DPRD dapat menggunakan bukti ini sebagai dasar untuk melakukan penyelidikan mendalam dan tidak sekadar menindaklanjuti secara superfisial,” tambah Rina. Penyerahan bukti ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari laporan-laporan sebelumnya yang mungkin belum mendapatkan perhatian maksimal dari pihak berwenang.
Desakan untuk Transparansi dan Akuntabilitas
TRC PPA menuntut beberapa hal krusial dari DPRD Kota Samarinda:
- Investigasi Menyeluruh: Meminta DPRD melakukan penyelidikan independen terhadap seluruh proses SPMB tahun ini.
- Audit Sistem: Mendesak audit terhadap sistem pendaftaran daring yang digunakan, termasuk server dan database, untuk mencari celah atau indikasi manipulasi.
- Sanksi Tegas: Menuntut pemberian sanksi tegas kepada oknum atau pihak yang terbukti terlibat dalam praktik kecurangan.
- Revisi Kebijakan: Meminta evaluasi dan revisi kebijakan SPMB agar lebih transparan, akuntabel, dan adil bagi semua calon siswa di masa depan.
“Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik. Tanpa itu, setiap tahun kita akan terus dihadapkan pada masalah yang sama,” kata Rina. Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan kebijakan publik, terutama yang berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda.
Respon dari DPRD dan Langkah Selanjutnya
Perwakilan DPRD Kota Samarinda yang menerima aduan TRC PPA menyatakan apresiasi atas inisiatif dan bukti yang diserahkan. “Kami akan segera mempelajari bukti-bukti ini dan membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti. Hak pendidikan anak-anak adalah prioritas utama kami, dan kami akan memastikan setiap aduan ditangani secara serius,” ujar salah satu anggota DPRD yang hadir. Pihak DPRD berjanji untuk memanggil dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan pihak penyelenggara SPMB, untuk dimintai keterangan dalam waktu dekat.
Langkah selanjutnya kemungkinan besar adalah digelarnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan orang tua siswa, TRC PPA, Dinas Pendidikan, serta pakar pendidikan dan hukum. Diharapkan dari proses ini akan ditemukan solusi konkret untuk menyelesaikan masalah yang ada dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. “Kami berharap proses ini dapat berjalan cepat dan memberikan kepastian hukum serta pendidikan bagi anak-anak kami,” pungkas Rina. Kualitas pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa, dan memastikan akses yang adil adalah fundamental (Sumber Informasi Pendidikan).
Pendidikan
Program Akmil di Sekolah Dasar Tuai Kecaman: Khawatir Matikan Nalar Kritis Siswa
Program Bimbingan Akmil di Sekolah Rakyat: Disiplin atau Indoktrinasi?
Sekitar seribu taruna dari Akademi Militer (Akmil) tingkat I dan II akan secara aktif terlibat dalam program bimbingan keasramaan yang menyasar 178 Sekolah Rakyat (SR) di berbagai daerah. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 3 hingga 8 Agustus 2026 dan akan berfokus pada kegiatan domestik. Namun, rencana intervensi militeristik ini segera memicu kekhawatiran serius dari kalangan pengamat pendidikan dan praktisi anak, yang mempertanyakan relevansi serta dampaknya terhadap perkembangan siswa.
Pihak Akmil akan menerjunkan para tarunanya untuk membimbing siswa SR dalam aspek keasramaan, yang mencakup tata tertib, kerapian, dan kedisiplinan dalam rutinitas sehari-hari. Meskipun program ini diklaim bertujuan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan, banyak pihak melihatnya sebagai langkah mundur dalam dunia pendidikan. Mereka berpendapat bahwa model disiplin militer, yang menekankan kepatuhan hierarkis, tidak sesuai dengan kebutuhan pengembangan anak-anak di usia sekolah dasar.
Nalar Kritis Versus Disiplin Militer: Perspektif Pengamat Pendidikan
Sejumlah pengamat pendidikan menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai dampak program ini terhadap perkembangan kognitif dan psikologis siswa. Mereka menilai, masuknya militer ke lingkungan sekolah berpotensi mematikan nalar kritis anak-anak, sebuah keterampilan fundamental yang esensial untuk masa depan mereka. Pendidikan, menurut mereka, harus lebih dari sekadar baris-berbaris.
- Ancaman terhadap Nalar Kritis: Pendekatan militeristik yang menitikberatkan pada kepatuhan tanpa tanya dapat menghambat kemampuan siswa untuk mempertanyakan, menganalisis, dan membentuk opini independen. Hal ini kontradiktif dengan tujuan pendidikan modern yang mendorong pemikiran bebas.
- Tidak Relevan dengan Pendekatan Modern: Pendidikan modern menekankan pada pembelajaran partisipatif, kreativitas, dan pengembangan individual. Model baris-berbaris dan disiplin ketat cenderung berlawanan dengan filosofi ini, yang justru mendorong siswa menjadi pasif dan tidak inisiatif.
- Fokus pada Kesadaran, Bukan Kepatuhan Buta: Seperti yang ditekankan oleh seorang pengamat pendidikan, "Pendidikan itu membangun kesadaran, bukan baris-berbaris." Pernyataan ini menegaskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membentuk individu yang sadar akan hak dan kewajibannya, mampu berpikir kritis, dan bukan sekadar patuh pada perintah tanpa pemahaman.
- Tahap Perkembangan Anak: Anak-anak di tingkat Sekolah Rakyat berada pada fase krusial di mana mereka seharusnya didorong untuk bereksplorasi, berimajinasi, dan mengembangkan empati. Memaksa mereka masuk dalam kerangka disiplin yang kaku justru dapat menekan ekspresi diri dan kreativitas alami mereka.
Kritikus berpendapat bahwa pendidikan karakter seharusnya dibangun melalui dialog, teladan, dan lingkungan yang memfasilitasi perkembangan moral serta etika. Penerapan disiplin secara militeristik berisiko menciptakan ketakutan atau kepatuhan semu, alih-alih menumbuhkan pemahaman dan kesadaran diri yang sesungguhnya.
Meninjau Kembali Peran Militer dalam Ranah Sipil dan Pendidikan Karakter
Debat tentang pendidikan karakter di Indonesia bukanlah hal baru. Berbagai inisiatif telah diluncurkan oleh pemerintah sebelumnya, namun metode implementasinya sering kali menuai pro dan kontra. Keterlibatan Akmil dalam program bimbingan keasramaan ini kembali membuka diskusi luas tentang batas dan relevansi peran militer dalam ranah sipil, khususnya sektor pendidikan. Ini juga mengingatkan kita pada perdebatan serupa tentang program bela negara yang kerap diintegrasikan di berbagai jenjang pendidikan.
Pemerintah dan institusi pendidikan sejatinya memiliki beragam pendekatan yang terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai disiplin dan karakter tanpa harus mengadopsi model militer. Program-program seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), atau bahkan ekstrakurikuler berbasis seni dan olahraga, telah lama terbukti mampu membangun karakter, kepemimpinan, dan kerja sama tim dengan cara yang lebih kontekstual dan sesuai dengan jiwa anak-anak. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman, eksplorasi, dan interaksi sosial yang sehat.
Mengingat urgensi untuk mencetak generasi penerus yang inovatif dan adaptif terhadap tantangan global, penekanan pada pengembangan nalar kritis, kreativitas, dan kemampuan problem-solving menjadi jauh lebih krusial dibandingkan sekadar melatih baris-berbaris. Kebijakan ini berisiko mengirimkan pesan yang salah tentang esensi pendidikan dan prioritas pembangunan sumber daya manusia di negara ini, yang seharusnya berfokus pada pemberdayaan individu untuk berpikir mandiri dan konstruktif.
Pendidikan
Skandal Kekerasan Anak Guncang Sistem Sekolah Prancis, Mendesak Reformasi Perlindungan
Skandal Kekerasan Anak Guncang Sistem Sekolah Prancis, Mendesak Reformasi Perlindungan
Ratusan dugaan kasus kekerasan fisik dan seksual terhadap anak di berbagai institusi pendidikan dan penitipan anak di Prancis telah memicu kekhawatiran serius, mengungkap celah mendalam dalam sistem perlindungan anak negara tersebut. Penyelidikan atas kasus-kasus ini menunjukkan bahwa reformasi komprehensif mutlak diperlukan untuk memastikan lingkungan belajar yang aman bagi setiap anak. Insiden-insiden yang terungkap ini menyoroti urgensi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk bertindak tegas dalam melindungi generasi muda.
Skala permasalahan yang muncul mengejutkan banyak pihak. Lebih dari seratus laporan mengenai kekerasan fisik dan pelecehan seksual telah diterima oleh pihak berwenang, melibatkan pelaku dari berbagai latar belakang, mulai dari staf pengajar hingga pengelola tempat penitipan anak. Kasus-kasus ini, yang terjadi di berbagai wilayah Prancis, menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan internal, mekanisme pelaporan, serta respons yang diberikan terhadap indikasi awal kekerasan. Para pakar perlindungan anak dan organisasi hak asasi manusia secara kolektif menyerukan peninjauan ulang sistematis terhadap kebijakan dan praktik yang berlaku, dengan tujuan utama untuk memperkuat lapisan keamanan bagi anak-anak di lingkungan pendidikan.
Celah Sistemik dalam Perlindungan Anak Prancis
Penyelidikan mendalam mengungkap beberapa kelemahan struktural yang berkontribusi pada kerentanan anak-anak di sekolah dan tempat penitipan anak. Salah satu masalah utama adalah kurangnya pelatihan yang memadai bagi staf mengenai identifikasi tanda-tanda kekerasan dan prosedur pelaporan yang efektif. Banyak institusi juga belum memiliki protokol yang jelas atau mekanisme pengawasan independen yang kuat untuk mencegah atau menanggapi dugaan kekerasan secara cepat dan tepat. Kondisi ini diperparah oleh budaya diam atau enggan melaporkan yang terkadang terbentuk di dalam lingkungan institusi, baik karena ketidaktahuan, rasa takut akan dampak, atau kurangnya kepercayaan terhadap sistem yang ada. Kasus-kasus ini menegaskan bahwa kebijakan yang ada seringkali tidak memadai dalam praktik, meninggalkan anak-anak dalam posisi rentan.
- Kurangnya Pelatihan Staf: Banyak pengajar dan pengasuh belum menerima pelatihan khusus tentang cara mendeteksi, mencegah, dan melaporkan kekerasan pada anak.
- Mekanisme Pelaporan yang Lemah: Prosedur pelaporan seringkali tidak transparan atau tidak diakses dengan mudah, menghambat korban atau saksi untuk bersuara.
- Pengawasan Internal yang Insufisien: Institusi pendidikan kurang memiliki sistem pengawasan internal yang ketat dan independen untuk memantau perilaku staf.
- Kurangnya Akuntabilitas: Pelaku seringkali tidak menghadapi konsekuensi hukum atau profesional yang setimpal, membiarkan pola kekerasan terus berulang.
- Dukungan Korban yang Terbatas: Akses terhadap dukungan psikologis dan hukum bagi korban seringkali tidak memadai atau sulit dijangkau.
Dampak Psikologis dan Sosial Korban
Kekerasan, baik fisik maupun seksual, meninggalkan luka mendalam pada anak-anak. Dampak psikologisnya dapat bertahan seumur hidup, meliputi trauma, kecemasan, depresi, masalah kepercayaan, hingga kesulitan dalam membentuk hubungan sosial di masa depan. Di tingkat sosial, skandal ini merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi tempat aman dan nurturing bagi anak-anak. Orang tua kini dihadapkan pada kekhawatiran yang meningkat saat menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah atau tempat penitipan. Penting bagi pemerintah untuk tidak hanya fokus pada penindakan pelaku, tetapi juga pada rehabilitasi dan dukungan jangka panjang bagi para korban, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Mendesak Reformasi Komprehensif dan Akuntabilitas
Menyikapi krisis ini, berbagai pihak menyerukan reformasi yang mencakup beberapa aspek krusial. Pemerintah Prancis, melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan, diharapkan dapat bekerja sama untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan perlindungan anak yang lebih ketat. Hal ini mencakup pemeriksaan latar belakang yang lebih menyeluruh bagi semua staf yang berinteraksi dengan anak-anak, program pelatihan wajib yang komprehensif tentang perlindungan anak, serta pembentukan lembaga pengawas independen dengan wewenang untuk menyelidiki dugaan kekerasan. Selain itu, perlu ada penekanan pada peningkatan kesadaran di kalangan anak-anak dan orang tua mengenai hak-hak mereka serta cara melaporkan insiden kekerasan.
Kasus ini mengingatkan kita pada skandal serupa yang pernah mengguncang institusi di berbagai negara, termasuk di Eropa, yang menunjukkan tantangan universal dalam menjaga keamanan anak-anak di lingkungan institusional. Pembelajaran dari insiden sebelumnya harus menjadi pijakan untuk membangun sistem yang lebih resilien dan responsif. Pemerintah Prancis telah mengakui kebutuhan untuk memperkuat sistem perlindungan anak, sebagaimana tercermin dalam upaya legislatif sebelumnya. (Baca lebih lanjut mengenai upaya perlindungan anak di Prancis: Gouvernement.fr).
Pembelajaran dari Krisis: Mencegah Terulangnya Tragedi
Tragedi ini harus menjadi katalisator bagi perubahan fundamental. Bukan hanya tentang menindak pelaku, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem yang secara proaktif mencegah kekerasan. Ini berarti melibatkan semua pihak: pemerintah, institusi pendidikan, orang tua, dan masyarakat sipil. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan Prancis dapat membangun sistem perlindungan anak yang benar-benar efektif, yang menjamin setiap anak dapat belajar, bermain, dan tumbuh kembang dalam lingkungan yang aman dan bebas dari rasa takut. Masa depan anak-anak Prancis bergantung pada keseriusan dan kecepatan respons terhadap krisis yang terjadi saat ini.
Pendidikan
MARA Ambil Tindakan Tegas: 4 Pelajar MRSM Johor Dikeluarkan, 2 Digantung Akibat Buli
Tindakan Tegas Terhadap Pelaku Buli di MRSM Johor
Menyusul insiden buli yang mendapat perhatian serius, Majlis Amanah Rakyat (MARA) telah mengambil tindakan disipliner tegas terhadap pelajar Maktab Rendah Sains MARA (MRSM) di Johor. Empat daripada enam pelajar yang terlibat dalam kes buli tersebut telah disingkirkan dari institusi pendidikan berprestij itu, sementara dua lagi dikenakan hukuman gantung persekolahan. Keputusan ini mencerminkan komitmen MARA dalam menegakkan disiplin dan memastikan persekitaran pembelajaran yang selamat serta kondusif bagi semua pelajar.
Insiden ini, yang sebelum ini dilaporkan secara meluas, melibatkan sekumpulan pelajar yang melakukan tindakan buli terhadap junior mereka. Pihak berkuasa sekolah dan MARA bergerak pantas menjalankan siasatan menyeluruh, yang akhirnya membawa kepada pengesahan keterlibatan keenam-enam pelajar tersebut. Tindakan pembuangan dan penggantungan ini menjadi peringatan keras bahawa perilaku buli tidak akan ditoleransi di bawah apa jua keadaan, terutamanya di institusi pendidikan yang memikul tanggungjawab besar dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.
Pentingnya Kebijakan Tanpa Toleransi Terhadap Buli
Keputusan MARA untuk menyingkirkan empat pelajar dan menggantung dua lagi adalah langkah yang krusial dalam memerangi masalah buli yang sering kali membelenggu institusi pendidikan, terutama sekolah berasrama penuh. Kebijakan ‘tanpa toleransi’ terhadap buli bukan sekadar slogan, tetapi memerlukan implementasi yang konsisten dan berani seperti yang ditunjukkan dalam kasus ini. Hal ini penting untuk beberapa alasan:
- Melindungi Korban: Memberikan jaminan keselamatan dan kesejahteraan psikologi kepada mangsa buli, membolehkan mereka belajar dalam persekitaran yang bebas dari ketakutan.
- Pencegahan: Menjadi isyarat jelas kepada pelajar lain mengenai konsekuensi berat yang menanti jika terlibat dalam aktivitas buli, sekaligus mencegah insiden serupa di masa depan.
- Menjaga Reputasi Institusi: Mengembalikan kepercayaan masyarakat dan ibu bapa terhadap institusi pendidikan, menunjukkan bahwa mereka serius dalam menjaga etika dan disiplin pelajar.
- Membentuk Karakter: Menanamkan nilai-nilai hormat-menghormati, empati, dan tanggung jawab sosial di kalangan pelajar.
Dampak Jangka Panjang bagi Korban dan Pelaku
Insiden buli meninggalkan kesan mendalam bukan sahaja kepada mangsa, tetapi juga kepada pelaku. Bagi mangsa, pengalaman buli boleh menyebabkan trauma psikologi jangka panjang, seperti kebimbangan, kemurungan, masalah tidur, dan bahkan kecenderungan untuk mengasingkan diri. Mereka mungkin mengalami penurunan prestasi akademik dan kehilangan minat terhadap aktiviti sosial.
Sementara itu, bagi pelaku buli, tindakan disipliner seperti pembuangan sekolah akan memberi dampak besar terhadap masa depan pendidikan dan karier mereka. Rekod disipliner ini akan mengikuti mereka, menyukarkan proses kemasukan ke institusi pendidikan lain atau mendapatkan pekerjaan kelak. Lebih dari itu, kegagalan untuk mengatasi perilaku agresif pada usia muda dapat menyebabkan masalah perilaku yang lebih serius di kemudian hari.
Keputusan MARA ini, meskipun keras, berupaya mengirimkan pesan bahwa tanggung jawab sosial dan moral adalah bagian integral dari pendidikan. Setiap pelajar diharapkan memahami batas-batas tingkah laku yang diterima dan konsekuensi jika melanggarnya. Artikel ini adalah kelanjutan dari laporan kami sebelumnya mengenai insiden buli di MRSM Johor, yang kini telah menemui titik terang melalui tindakan tegas dari pihak berkuasa.
Mencegah Buli: Peran Bersama Sekolah, Orang Tua, dan Komunitas
Fenomena buli bukanlah masalah yang dapat diselesaikan oleh institusi pendidikan semata. Ia memerlukan pendekatan holistik dan kolaborasi aktif dari pelbagai pihak, termasuk:
- Pihak Sekolah: Memperkasa unit kaunseling, menyediakan saluran aduan yang selamat dan sulit, melaksanakan program kesedaran anti-buli secara berkala, dan melatih staf untuk mengesan serta menangani kes buli dengan berkesan.
- Ibu Bapa/Penjaga: Memainkan peran proaktif dalam memantau perilaku anak-anak, mengajar mereka tentang empati dan hormat-menghormati, serta membina komunikasi terbuka agar anak-anak berasa selesa untuk berkongsi masalah mereka.
- Komuniti: Meningkatkan kesedaran awam tentang bahaya buli dan menyediakan sokongan kepada mangsa serta keluarga mereka. Ini termasuk melaporkan insiden buli kepada pihak berkuasa yang relevan.
- Pihak Berkuasa (MARA/KPM): Menyemak dan mengukuhkan dasar-dasar anti-buli, memastikan pelaksanaan yang seragam di semua institusi di bawah seliaan mereka, serta menyediakan sumber daya yang mencukupi untuk program pencegahan.
Sebagai sebuah badan berkanun yang bertanggungjawab untuk pendidikan bumiputera, MARA memiliki peran penting dalam memastikan MRSM menjadi model institusi yang bebas buli. Tindakan disipliner terkini di MRSM Johor ini harus dilihat sebagai langkah awal, bukan akhir, dalam upaya berterusan untuk membasmi buli dari akarnya.
Kesimpulannya, keputusan tegas MARA terhadap pelaku buli di MRSM Johor adalah satu langkah ke hadapan yang signifikan dalam membina persekitaran pendidikan yang selamat, beretika, dan berintegriti. Ia menggarisbawahi kepentingan ketelusan, ketegasan, dan komitmen berterusan dari semua pihak untuk memerangi buli demi kesejahteraan pelajar dan masa depan negara.
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
