Pemerintah
Kemenkop Segera Tempatkan 30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih, Pelatihan Bela Negara Jadi Sorotan Utama
Kemenkop Siap Tempatkan 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Merah Putih Bulan Depan
Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) siap menempatkan 30.000 calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia mulai bulan Agustus mendatang. Penempatan massal ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah memperkuat ekonomi kerakyatan di tingkat desa, namun juga membawa sorotan khusus pada syarat pelatihan bela negara yang harus dilalui oleh para calon manajer tersebut, disusul dengan pembekalan manajerial intensif.
Program ambisius ini diharapkan mampu merevitalisasi peran koperasi sebagai pilar ekonomi di pedesaan, mendorong kemandirian, dan menciptakan ekosistem bisnis yang lebih terstruktur. Setelah melewati serangkaian persiapan, termasuk seleksi ketat dan pelatihan komprehensif, puluhan ribu manajer ini akan langsung terjun mengelola dan mengembangkan koperasi-koperasi di berbagai wilayah.
Ambisi Besar di Balik Penempatan Ribuan Manajer Koperasi
Skala penempatan 30.000 manajer ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Koperasi Desa Merah Putih dirancang sebagai motor penggerak ekonomi lokal, yang tidak hanya berfokus pada kegiatan simpan pinjam, tetapi juga pada pengembangan sektor riil, seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri kreatif lokal. Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai tambah di tingkat desa, mengurangi angka urbanisasi, serta memperkuat rantai pasok lokal.
Program ini, yang sebelumnya telah diumumkan pada awal tahun sebagai bagian dari strategi besar Kemenkop UKM untuk reformasi total koperasi, bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan klasik yang kerap dihadapi koperasi, mulai dari tata kelola yang kurang profesional hingga keterbatasan akses pasar dan teknologi. Penempatan manajer yang terlatih diharapkan dapat mengisi kekosongan kapasitas manajerial yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama.
Mendalami Konsep Bela Negara dalam Pelatihan Manajer Koperasi
Salah satu aspek unik dan paling disoroti dari program ini adalah diwajibkannya pelatihan bela negara bagi para calon manajer. Kemenkop UKM menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya pembentukan karakter dan integritas. Konsep bela negara dalam konteks manajer koperasi diartikan sebagai penanaman nilai-nilai nasionalisme, kedisiplinan, semangat gotong royong, serta komitmen untuk membangun ekonomi bangsa dari akar rumput. Ini juga diharapkan dapat membekali mereka dengan mental tangguh dalam menghadapi tantangan lapangan dan menjaga keberlangsungan koperasi dari potensi praktik merugikan.
Meski demikian, integrasi pelatihan bela negara ini memicu diskusi luas di kalangan pengamat ekonomi dan praktisi koperasi. Sebagian melihatnya sebagai inovasi positif untuk menanamkan etos kerja dan moralitas yang kuat, sementara yang lain mempertanyakan relevansinya secara langsung dengan kompetensi manajerial bisnis. Kritik muncul mengenai potensi penggeseran fokus dari aspek teknis bisnis ke aspek ideologis, serta efektivitasnya dalam jangka panjang tanpa didukung oleh sistem pengawasan yang kuat. Kemenkop UKM perlu memastikan bahwa porsi dan materi bela negara benar-benar terintegrasi secara proporsional dengan kebutuhan manajerial.
Fokus Pelatihan Manajerial dan Tantangan Implementasi
Selain bela negara, para calon manajer juga dibekali dengan pelatihan manajerial yang komprehensif. Pelatihan ini mencakup berbagai aspek penting dalam pengelolaan koperasi modern, antara lain:
- Manajemen Keuangan: Pencatatan, perencanaan anggaran, akses pembiayaan, dan pengelolaan risiko.
- Pengembangan Bisnis: Strategi pemasaran, inovasi produk, digitalisasi, dan perluasan jaringan pasar.
- Tata Kelola Koperasi: Prinsip-prinsip good corporate governance, transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi anggota.
- Manajemen Sumber Daya Manusia: Pembinaan anggota dan pengembangan kapasitas internal.
Meski demikian, implementasi program sebesar ini bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan kualitas pelatihan yang seragam dan relevan dengan kondisi geografis serta karakteristik ekonomi yang beragam di setiap desa. Tantangan lainnya meliputi kemampuan adaptasi manajer dengan budaya lokal, menghindari potensi konflik kepentingan, serta memastikan keberlanjutan pendanaan operasional koperasi tanpa bergantung sepenuhnya pada stimulus pemerintah. Keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh kemandirian dan inovasi yang mampu diciptakan oleh para manajer di lapangan. Baca Juga: Kemenkop Ajak Pelaku UMKM Manfaatkan Digitalisasi untuk Daya Saing
Dampak Potensial dan Harapan untuk Ekonomi Pedesaan
Jika berhasil diimplementasikan dengan baik, penempatan 30.000 manajer ini berpotensi besar membawa dampak positif signifikan. Koperasi-koperasi di desa diharapkan dapat bertransformasi menjadi entitas bisnis yang profesional, mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan anggota, dan menjadi sentra ekonomi yang tangguh. Selain itu, program ini juga dapat mempercepat proses digitalisasi di sektor UMKM dan koperasi di pedesaan, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal.
Namun, harapan besar ini juga dibarengi dengan kebutuhan akan evaluasi dan monitoring yang berkelanjutan. Kemenkop UKM perlu menyiapkan mekanisme umpan balik yang efektif, sistem pendampingan pasca-penempatan, serta program pengembangan kapasitas berkelanjutan bagi para manajer. Dengan demikian, investasi besar ini tidak hanya menciptakan efek sesaat, melainkan fondasi kokoh bagi pembangunan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan dan berdaya saing di masa depan.
Pemerintah
Wakil PM Phiphat Akan Temui Pebisnis Songkhla Bahas Pencegahan Banjir Hat Yai
Wakil Perdana Menteri Phiphat Ratchakitprakarn dijadwalkan melakukan kunjungan penting ke Songkhla pada hari Jumat mendatang. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk bertemu dengan para pemimpin bisnis lokal dan mendiskusikan langkah-langkah konkret guna mencegah terulangnya banjir dahsyat yang melanda Hat Yai akhir tahun lalu. Kekhawatiran ini meningkat tajam seiring mendekatnya musim hujan, yang secara historis sering membawa bencana bagi wilayah tersebut.
Kunjungan Wakil PM Phiphat menjadi sinyal kuat dari komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah banjir yang telah berulang kali menghantam Hat Yai, salah satu pusat ekonomi penting di Thailand Selatan. Para pebisnis di wilayah tersebut menyuarakan kecemasan mendalam mereka terhadap potensi kerugian ekonomi jika skenario banjir tahun lalu kembali terjadi.
Dampak Ekonomi Banjir Hat Yai Tahun Lalu
Banjir yang melanda Hat Yai pada akhir tahun lalu meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan dan kerugian ekonomi yang besar. Banyak usaha terpaksa tutup, pasokan barang terhenti, dan aktivitas perdagangan lumpuh total selama beberapa waktu. Kota ini, yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan dan pariwisata, menderita pukulan telak yang memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Para pelaku usaha mengalami:
- Kerugian stok barang yang tidak bisa diselamatkan
- Kerusakan infrastruktur properti dan peralatan bisnis
- Penurunan drastis penjualan dan pendapatan
- Biaya perbaikan dan pemulihan yang membebani
- Disrupsi rantai pasok lokal dan regional
Pengalaman pahit tersebut kini menjadi bayang-bayang menakutkan bagi mereka jelang musim hujan yang akan datang. Mereka berharap kunjungan Wakil PM Phiphat dapat menghasilkan solusi jangka pendek dan panjang yang lebih efektif.
Kekhawatiran Pebisnis Jelang Musim Hujan
Musim hujan di Thailand, khususnya di wilayah selatan, seringkali membawa curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang. Hat Yai, dengan topografi dataran rendahnya dan sistem drainase yang kadang kewalahan, menjadi sangat rentan. Para pebisnis mengutarakan bahwa selain dampak langsung, ketidakpastian akan banjir juga menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Mereka mendesak pemerintah untuk:
- Memperkuat sistem peringatan dini banjir yang lebih akurat dan tepat waktu
- Meningkatkan kapasitas saluran air dan bendungan di sekitar Hat Yai
- Mengimplementasikan kebijakan tata ruang yang mempertimbangkan risiko banjir
- Menyediakan skema bantuan dan kompensasi yang lebih cepat dan transparan
Pertemuan pada hari Jumat ini diharapkan menjadi forum penting di mana kekhawatiran ini dapat disampaikan langsung kepada pejabat tinggi pemerintah, sekaligus mencari titik temu untuk kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
Strategi Pencegahan: Apa yang Akan Dibahas?
Diskusi antara Wakil PM Phiphat dan para pemimpin bisnis kemungkinan besar akan mencakup berbagai strategi pencegahan yang komprehensif. Pemerintah kemungkinan akan menggarisbawahi upaya mereka dalam memperkuat infrastruktur pengelolaan air, seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul, dan peningkatan kapasitas pompa air. Selain itu, aspek koordinasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat dalam program mitigasi bencana juga akan menjadi fokus.
Pemerintah juga berpotensi meninjau kembali proyek-proyek pencegahan banjir yang telah berjalan, mengevaluasi efektivitasnya, dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan atau investasi tambahan. Wakil PM Phiphat diharapkan membawa proposal konkret yang dapat meredakan kekhawatiran dan memberikan kepastian bagi masyarakat serta dunia usaha.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah berulang ini, yang tidak hanya mengancam jiwa dan harta benda, tetapi juga stabilitas ekonomi regional.
Harapan untuk Solusi Jangka Panjang
Pebisnis Hat Yai dan warga berharap kunjungan Wakil PM Phiphat bukan hanya sekadar pertemuan seremonial, melainkan pemicu lahirnya solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Mereka menginginkan program pencegahan banjir yang terintegrasi, melibatkan teknologi modern, dan didukung oleh alokasi anggaran yang memadai.
Keberhasilan pemerintah dalam mengatasi ancaman banjir ini tidak hanya akan melindungi properti dan mata pencarian, tetapi juga akan membangun kembali kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola krisis. Semua mata tertuju pada Songkhla hari Jumat ini, menanti hasil dari diskusi krusial yang dapat menentukan masa depan Hat Yai di musim hujan yang akan datang. Informasi lebih lanjut mengenai upaya pencegahan bencana di Thailand dapat diakses melalui portal berita dan situs resmi lembaga terkait. Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand terus memperbarui informasi terkait.
Pemerintah
Di Balik Anthem Y.M.C.A. Donald Trump: Kisah Rumit dengan Village People
Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kerap menghiasi akhir setiap kampanyenya dengan irama ikonik lagu ‘Y.M.C.A.’ dari grup disko legendaris The Village People. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat kisah yang lebih kompleks dan penuh nuansa, terutama terkait klaim Trump mengenai dukungan dari sang vokalis utama, Victor Willis.
Melalui unggahan di media sosial, Trump pernah menyatakan bahwa Victor Willis telah mendukungnya “sejak awal” (right from the beginning). Pernyataan ini sontak memicu perdebatan luas, mengingat hubungan Trump dengan The Village People, khususnya perihal penggunaan lagu ‘Y.M.C.A.’, yang sebenarnya jauh dari kata sederhana atau tanpa gejolak. Klaim tersebut memicu pertanyaan serius tentang otentisitas dukungan dan bagaimana figur publik menafsirkan persetujuan dari seniman.
Klaim Trump yang Membingungkan
Pernyataan Donald Trump di media sosial yang mengklaim dukungan penuh dan awal dari Victor Willis merupakan bagian dari strategi politik untuk menampilkan citra popularitas yang luas. Dengan menyebut Willis mendukungnya “sejak awal”, Trump berupaya mengesankan bahwa penggunaan lagu ‘Y.M.C.A.’ olehnya tidak hanya disetujui, tetapi juga mendapat restu personal dari salah satu ikon budaya pop di baliknya. Ini adalah taktik umum dalam politik, di mana asosiasi dengan tokoh populer diupayakan untuk memperkuat legitimasi dan daya tarik di mata publik.
Namun, narasi yang dibangun Trump ini bertolak belakang dengan berbagai laporan dan pernyataan sebelumnya dari Victor Willis maupun The Village People sebagai grup. Pernyataan Trump ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang etika penggunaan karya seni dalam kampanye politik dan seberapa jauh interpretasi atas dukungan seniman bisa diterima secara publik dan hukum.
Sikap Victor Willis: Antara Apresiasi dan Keengganan Politik
Berlawanan dengan klaim lugas Trump, sikap Victor Willis, pencipta dan vokalis utama ‘Y.M.C.A.’, sebenarnya jauh lebih bernuansa. Ia tidak secara terang-terangan menentang penggunaan lagu tersebut oleh Trump, namun juga tidak memberikan dukungan politik yang eksplisit dan tanpa syarat.
Beberapa poin penting mengenai sikap Victor Willis meliputi:
- Netralitas Politik: Willis sering menyatakan bahwa ia ingin karyanya dinikmati oleh semua orang, terlepas dari afiliasi politik. Ia tidak ingin ‘Y.M.C.A.’ menjadi alat politik partisan.
- Apresiasi Eksposur: Ada kalanya Willis mengakui bahwa penggunaan lagu tersebut oleh Trump memberinya publisitas dan eksposur yang signifikan, yang mungkin berkontribusi pada pendapatan royalti.
- Penolakan Endorsement: Meskipun tidak menentang penggunaan lagu secara langsung, Willis berulang kali menegaskan bahwa penggunaan tersebut tidak boleh diartikan sebagai dukungan politik pribadi atau endorsement terhadap Trump. Ia secara khusus menyoroti perbedaan antara izin penggunaan lagu dan persetujuan ideologi politik.
- Kekhawatiran Merek: Anggota lain dari Village People, serta publik yang lebih luas, sering kali khawatir bahwa asosiasi kuat dengan seorang politikus tertentu dapat merusak citra universal dan non-partisan dari lagu dan grup tersebut.
Kontradiksi antara klaim Trump dan sikap Willis menyoroti kompleksitas hak cipta dan citra publik dalam ranah politik, di mana garis antara apresiasi artistik dan dukungan politik menjadi sangat kabur.
Ketika Politik Merangkul Budaya Pop
Fenomena politikus yang mengadaptasi atau menggunakan elemen budaya populer, termasuk lagu, dalam kampanye mereka bukanlah hal baru. Ini adalah strategi untuk menciptakan resonansi dengan pemilih, memunculkan nostalgia, atau sekadar membangun atmosfer yang diinginkan dalam sebuah acara.
Kasus ‘Y.M.C.A.’ dan Donald Trump menambah daftar panjang polemik antara seniman dan politikus mengenai hak cipta dan interpretasi dukungan. Sebelumnya, banyak musisi dari berbagai genre telah menyuarakan keberatan mereka terhadap penggunaan lagu-lagu mereka dalam kampanye politik yang tidak mereka setujui. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang batas-batas etika dan hukum dalam penggunaan karya intelektual dalam arena politik yang sering kali memecah belah.
Penting bagi politikus untuk menghormati keinginan seniman dan memastikan bahwa setiap penggunaan karya mereka dilakukan dengan persetujuan yang jelas dan tidak disalahartikan sebagai dukungan politik. Sebaliknya, seniman juga sering menghadapi dilema antara menjaga netralitas dan potensi kehilangan royalti atau visibilitas yang datang dari penggunaan yang tidak disetujui.
Perspektif Hukum dan Etika
Secara hukum, penggunaan lagu dalam acara publik atau kampanye politik seringkali dilindungi oleh lisensi blanket yang dibeli oleh tempat acara atau penyelenggara kampanye dari organisasi hak cipta (seperti ASCAP atau BMI di AS). Lisensi ini memungkinkan penggunaan musik secara umum tanpa memerlukan izin langsung dari setiap artis untuk setiap penampilan. Namun, masalah muncul ketika penggunaan tersebut menyiratkan endorsement politik yang tidak ada.
Secara etika, implikasi dukungan adalah area abu-abu yang sering memicu kontroversi. Ketika seorang politikus menggunakan lagu dan secara eksplisit atau implisit mengklaim dukungan dari penciptanya, ini dapat dianggap sebagai eksploitasi citra seniman tanpa persetujuan mereka. Kasus Donald Trump dan Victor Willis menjadi studi kasus yang menarik dalam memahami dinamika kompleks antara seni, hukum, politik, dan persepsi publik di era modern.
Pemerintah
Sorotan DPR Terkait Biaya Politik dan Gaji Kepala Daerah Pasca Korupsi Bupati Kuansing
JAKARTA – Kasus korupsi yang menjerat Bupati Kuansing oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memantik perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketua Komisi II DPR, Rifqinizamy, secara tegas menyoroti ketidakseimbangan antara biaya politik yang sangat tinggi dengan gaji kepala daerah yang relatif rendah. Ia mengusulkan solusi konkret, yakni alokasi gaji kepala daerah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebagai langkah reformasi yang krusial untuk mencegah praktik korupsi di masa mendatang.
Sorotan ini muncul bukan tanpa alasan. Banyak pihak menilai bahwa disparitas antara modal politik yang harus dikeluarkan dan imbalan yang diterima seorang kepala daerah menciptakan celah signifikan bagi tindakan penyalahgunaan wewenang. Fenomena ini, seperti yang terjadi pada Bupati Kuansing, mengindikasikan adanya masalah struktural yang perlu diatasi secara komprehensif oleh pemerintah dan legislatif.
Korupsi Kepala Daerah: Bayang-bayang Biaya Politik Mahal
Kasus hukum yang menjerat Bupati Kuansing menambah panjang daftar kepala daerah yang tersandung kasus korupsi. Ironisnya, di balik setiap penetapan tersangka, seringkali terkuak motif ekonomi yang berkaitan erat dengan tingginya biaya untuk mencapai posisi tersebut. Rifqinizamy menjelaskan bahwa untuk maju sebagai kepala daerah, seorang calon bisa menghabiskan miliaran hingga puluhan miliar rupiah, sebuah angka yang jauh melampaui kemampuan finansial mayoritas masyarakat biasa.
- Penyebab Tingginya Biaya Politik: Meliputi ongkos kampanye yang masif, mahar politik kepada partai pengusung, biaya sosialisasi, hingga potensi money politics untuk meraih suara.
- Dampak Biaya Politik Tinggi: Mendorong kepala daerah terpilih untuk mencari “pengembalian modal” melalui praktik-praktik ilegal seperti suap, gratifikasi, atau penyalahgunaan anggaran, yang pada akhirnya merugikan negara dan masyarakat. Ini menciptakan lingkaran setan korupsi yang sulit diputus jika akar masalahnya tidak ditangani.
Mendesaknya Reformasi Gaji Kepala Daerah
Di sisi lain, Rifqinizamy juga menggarisbawahi realitas gaji kepala daerah yang dinilai tidak sebanding dengan beban kerja, tanggung jawab, dan risiko yang diemban. Meskipun posisi bupati atau wali kota memegang peranan vital dalam pembangunan daerah dan pelayanan publik, gaji pokok mereka seringkali jauh di bawah ekspektasi publik atau bahkan tidak memadai jika dibandingkan dengan sektor swasta dengan tingkat tanggung jawab yang serupa.
- Perbandingan Gaji vs. Tanggung Jawab: Gaji kepala daerah, termasuk bupati, gubernur, dan wali kota, diatur oleh peraturan pemerintah. Namun, nominalnya seringkali dianggap tidak cukup untuk menopang kebutuhan hidup dan tuntutan sosial yang melekat pada jabatan tersebut, apalagi jika harus menutupi utang politik dari biaya kampanye.
- Potensi Penyalahgunaan Wewenang: Kesenjangan antara gaji resmi dan kebutuhan hidup, ditambah tekanan untuk mengembalikan modal politik, dapat menjadi pemicu utama bagi kepala daerah untuk melakukan korupsi demi memenuhi kebutuhan pribadi atau kelompok. Reformasi gaji diharapkan dapat mengurangi godaan tersebut.
Usulan Alokasi Gaji dari Pendapatan Asli Daerah (PAD): Solusi Inovatif?
Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Komisi II DPR mengusulkan sebuah pendekatan baru: mengalokasikan gaji kepala daerah dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ide ini didasarkan pada logika bahwa kepala daerah adalah pemimpin yang bertanggung jawab langsung atas pengelolaan dan peningkatan PAD di wilayahnya. Dengan mengaitkan gaji pada kinerja PAD, diharapkan ada insentif lebih bagi kepala daerah untuk fokus mengembangkan potensi ekonomi daerah.
- Mekanisme Usulan PAD untuk Gaji: Jika gaji bersumber dari PAD, maka secara langsung akan mendorong kepala daerah untuk lebih giat berinovasi dalam menggali potensi ekonomi lokal, meningkatkan pelayanan publik yang berujung pada peningkatan pajak dan retribusi daerah, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.
- Tantangan Implementasi dan Akuntabilitas: Meskipun inovatif, usulan ini tentu memiliki tantangan. Diperlukan formulasi yang cermat agar tidak menimbulkan praktik manipulasi data PAD atau peningkatan PAD yang tidak berkelanjutan. Transparansi dan akuntabilitas dalam pelaporan PAD serta mekanisme penggajian harus diperketat untuk menghindari celah korupsi baru. Pengawasan ketat dari publik dan lembaga terkait, termasuk KPK, akan menjadi kunci keberhasilan implementasi.
Kasus yang menimpa Bupati Kuansing mestinya menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengevaluasi secara mendalam sistem politik dan penggajian pejabat publik di Indonesia. Reformasi menyeluruh, mulai dari regulasi biaya politik hingga penyesuaian gaji yang rasional dan akuntabel, adalah keniscayaan demi mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih dan berintegritas. Tanpa perubahan fundamental, praktik korupsi kepala daerah akan terus berulang, merusak kepercayaan publik dan menghambat pembangunan nasional.
Referensi: KPK: Siaran Pers & Berita Terkini Penanganan Korupsi
-
Daerah3 bulan agoSoal Penertiban Dishub Samarinda, Berita Media Online Indcyber Menuduh dan Mengandung Fitnah..?
-
Daerah4 bulan agoBupati Bandung Tegaskan Larangan Keras Penggunaan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran ASN 2026
-
Pemerintah4 bulan agoDPR RI Desak Tangsel Integrasikan Layanan Perizinan dan Pembiayaan UMKM
-
Teknologi4 bulan agoWaspada Penipuan Top Up Free Fire Jelang THR, Kenali Ciri Platform Palsu dan Cara Aman Transaksi
-
Pemerintah4 bulan agoAnalisis Kritis Setahun Kepemimpinan Siska di Kendari: Menakar Janji dan Realisasi
-
Hukum & Kriminal4 bulan agoFBI Geledah Kediaman dan Kantor Kepala LAUSD Alberto Carvalho, Selidiki Kontrak Teknologi $6 Juta
-
Olahraga4 bulan agoAnalisis Mendalam: Layakkah Joao Pedro Disandingkan dengan Haaland dan Mbappe?
-
Pemerintah3 bulan agoTuduhan Pelecehan Seksual Mantan Staf Guncang Kampanye Gubernur Eric Swalwell di California
